Tuesday, March 6, 2012

Al Hikam : Apabila Cahaya Yakin Telah Bersinar

Sebagaimana dimaklumi, bahwa bersahabat dengan orang-orang baik dalam agama di mana kita dapat menjadi orang baik pula, karena persahabatan itu
berarti pada hakikatnya kita bersahabat dengan Allah s.w.t. Demikian pula melihat Wali Allah, pada hakikatnya kita melihat Allah, sebab Wali-waliNya itu tidak ada sesuatu dalam hati mereka terikat dan bergantung kepada selain Alah. Dengan demikian, maka bercahayalah hati kita dengan cahaya yakin terhadap ajaran agama, dan segala tuntunan-tuntunannya. Dan bagaimanakah akibat daripada cahaya yakin dalam hati apabila telahbersinar cahaya tersebut?

Dalam hal ini, yang Mulia Al-Imam Ibnu Athaillah Askandary telah menerangkan hal keadaan tersebut dalam rumusan Kalam Hikmahnya sebagai berikut:

"Jikalau cahaya yakin telah bersinar buat anda, pastilah anda melihat akhirat lebih dekat kepada anda dari anda berjalan kepada akhirat itu. Dan pastilah (pula) anda melihat kebaikan-kebaikan dunia di mana sungguh telah kelihatan perubahan kehancuran atas kebaikan-kebaikan tersebut."

Kalam Hikmah ini keterangannya sebagai berikut : "Ilmu yang tidak didesak-desak oleh waham tidak dicampuri oleh keraguan dan tidak disertai oleh kehancuran. Jadi arti yakin ialah ilmu (pengetahuan) yang telah mantap sedemikian rupa sehingga kita tidak ragu-ragu lagi dan tiak pula dicampuri oleh hal-hal yang tiak bersifat kepastian.

Ilmu yang tersebut itu ialah ilmu mengenai ketuhanan Allah s.w.t. baik tentang DzatNya maupun tentang sifat-sifatNya. Demikian juga ilmu yang berupa wahyu yang telah disampaikanNya kepada Rasul-rasulNya melalui Malaikat dan kitab-kitab suciNya. Ilmu itu apabila cahaya bathin telah bersinar sedemikian rupa, maka ia akan membawa efek-efek kebajikan lahiriah dan bathiniah.

Efek-efek kebajikan pada lahiriah, maksudnya kelihatan berbekas cahaya itu atas tindak-tanduk anggota-angota tubuhnya yang lain. Pada waktu itu timbullah kegemarannya kepada akhirat dan telah kurang perhatiannya kepada dunia yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kerohanian dan keagamaan.

Terdoronglah hatinya kepada Allah dan rindullah perasaanya untuk dapat melihat hakikat jombangnya Allah, disamping hatinya pula tenang dan tenteram dangan merendah di bawah keagungan dan kebesarannya Allah s.w.t. Bersegeralah dia menuntut keridhaanNya dan mencapai segala sesuatu yang dicintaiNya. Lidahnya bergerak menyebut Allah, hatinya penuh dengan berfikir pada kebesaran dan keagunganNya . Demikian juga rohnya haus untuk mendekat dengan Allah, di samping mabuk karena minum 'air cinta kasihNya'. Pada waktu itulah dia tenggelam dalam melihat bagaimana dekatnya dia dengan Allah s.w.t. Inilah tanda-tanda apabila cahaya yakin dalam hati telah bersinar sedemikian rupa, sehingga mengakibatkan negeri akhirat dengan segala
ihwalnya lebih dekat kepada perasaanya, padahal akhirat itu masih jauh sebab
dia dalam perjalanan. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah dengan kitab
suci Al-Quran:

"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang. Dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolongnya." (Al_An'am:134)

Dan untuk pengertian itulah penyair ahli Tasawuf telah bersyair sebagai berikut:

"Janganlah anda rela memberikan cinta kepada selain Allah
Tetapi jadilah selamnya dimabuk rindu nestapa
Anda melihat sesuatu yang ghaib terang dan nyata
Anda beruntung sebab berhubung bertemu rasa"

Demikianlah apabila hati dan perasaan telah dipenuhi dengan cahaya yakin, yang berarti itulah cahaya iman.

kalaulah demikian maka kerinduan dan cinta itu mengakibatkan segala sesuatu yang jauh dalam kenyataan adalah dekat dalam perasaaan. Negeri akhirat adalah jauh, sebab harus menempuh sisa hidup, transisi kubur sebagai alam barzakh dan berkumpulnya manusia di hari kiamat. Teatapi hati para Wali
Allah menganggap semuanya itu adalah dekat dan selalu terlihat dalam ruang
matanya.

Demikian juga dunia sebagai ciptaan Allah di mana didalam dunia kita lihat secara lahir adanya keindahan yang bersifat alami atau keindahan yang dibuat oleh tangan manusia. Tetapi terhadap para Auliya' Allah tiada melihat lahiriahnya tetapi melihat hakikatnya. Mereka melihat bahwa dunia tidak akan kekal . Mereka melihat kegelapan dan kekacauan penuh berleluasa di mana-mana. Mereka melihat bahwa semuanya itu hanya membosankan mereka. Itulah yang menyebabkan ghairah hati dalam dada, mundur teratur melihat kerendahan-kerendahannya.

Sabda Rasulullah s.a.w.: " Bahwasanya cahaya iman apabila telah masuk ke dalam hati terbukalah dada seseorang dan lapanglah dadanya itu. Ditanyakan kepada Nabi, Wahai Rasulullah! Adakah sebagian dari tanda-tandanya untuk itu yang dapat dikenal? Nabi menjawab: Ada. (Tandanya ialah); renggang hatinya dari dunia sebagai kampung tempat tipuan, dan kembali hatinya condong kepada negeri yang kekal dan bersiap-siap untuk (bekalan) mati sebelum datangnya."

Kesimpulan :

Yakin apabila telah mantap dalam hati, maka hati akan melihat segala-galanya untuk kepentingan agama dan akhirat, dan segala hijab antara hatinya dan antara kepentingan agama dan akhirat akan hancur berantakan. Pada waktu itu terang benderanglah jalan yang dituju dan sampailah ia kepada tujuan utama yang hakiki. Ke arah itulah tujuan para Nabi dan para Rasul dan sekalian hamba-hamba Allah yang shaleh.

Ya Allah! Engkau kurniakanlah kepada kami hakikat yakin dan kemantapan makrifat kepadaMu. Engkau sinarkanlah yakin itu dalam hati kami sehingga tertunjuklah segala anggota badaniah kami lahir dan bathin menuju kepadaMu, ya Allah!.

Walhamdu lillaahi Rabbil-'alamin.
______________________________________________________________________
Prof. Dr. K.H. Muhibbudin Waly dalam HAKIKAT HIKMAH TAUHID DAN TASAWUF (AL-HIKAM),
Selengkapnya...

Sufi Road : Futuhal Ghaib (5)

Syeikh Abdul Qadir Jilani

Apabila iman kamu masih lemah lalu kamu berjanji, maka hendaklah kamu menepati janji itu. Jika tidak, maka keimananmu itu akan berkurang dan kepercayaanmu semakin hilang. Tetapi, jika iman kamu itu telah kuat dan tertanam kokoh di dalam hati sanubarimu lalu kamu banyak menerima firman Allah di bawah ini:

Dan Raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku." Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seoarng yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". (QS, 12:54)
Maka kamupun akan menjadi orang pilihan Tuhan, lalu kehendak, nafsu dan perbuatanmu sendiri akan hilang, kamu terus menjadi dekat dengan Tuhan yang kedekatan-Nya itu tidak terlihat olehmu dan kamu terus tenggelam di hadirat Ilahi.

Maka jadilah kamu seperti bak yang bocor, tidak ada air yang dapat tinggal di dalam bak itu, dan jadilah kamu seperti tong kosong yang berlubang. Dengan demikian, hati kamu hanya dopenuhi oleh Allah, tidak ada yang lain di dalam hatimu itu, kecuali Dia dan kamu bersih dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga Allah meridhai kamu, kamu dijanjikan akan mendapatkan rahmat, nikmat dan ampunan-Nya dan kamu merasa senang kepada-Nya.

Kemudian kamu akan diberi suatu janji, dan apabila kamu merasa puas dengan janji itu dan tampak tanda keinginanmu kepadanya, maka janji itu akan ditukar dengan janji yang lebih tinggi lagi, kamu akan diberi perasaan cukup diri (self sufficiency), pintu ilmu akan dibukakan untuk kamu, kamu akan disinari dengan pengetahuan untuk memahami rahasia-rahasianya ke-Tuhan-an dan kamu akan merasakan bertambahnya keadaan kerohanianmu.

Selanjutnya kamu akan menerima pangkat kerohanian yang tinggi, kamu akan diberi rahasia-rahasia ke-Tuhan-an, dadamu menjadi lapang, lidahmu berkata lantang, ilmumu tinggi dan kamu cinta kepada Allah. Kamu akan dikasihi oleh semua orang, semua manusia, jin dan makhluk-makhluk lainnya di dunia ini dan di akhirat. Apabila kamu telah menjadi kekasih Allah, maka semua makhlukpun akan mengasihimu, lantaran semua makhluk itu takluk kepada Allah, kasih mereka masuk ke dalam kasih Allah, sebagaimana halnya benci mereka masuk ke dalam benci Allah.

Kamupun dinaikkan ke pangkat ini, di mana kamu tidak lagi mempunyai kehendak kepada yang lain selain Allah.

Setelah ini kamu akan diberi kehendak kepada sesuatu lalu kehendak itu akan dilepaskan dari kamu dan kamupun terhindar darinya. Kamu tidak akan diberi perkara-perkara yang kamu kehndaki di dunia ini, dan di akhirat kelak kamu akan diberi gantinay, kamu akan lebih didekatkan kepada Allah SWT dan segala sesuatu yang kamu khendaki itu akan menyejukkan matamu di surga.

Jika kamu tidak meminta sesuatu, tidak berharap atau berangan-angan untuk mendapatkannya di masa hidupmu di dunia ini - tempat sementara dan tempat ujian - dan kamu hidup di dunia ini semata-mata hanya ingin mencapai keridhaan Tuhan yang menjadikan langit dan bumi serta semesta alam, maka di dunia ini kamu akan dikarunia apa-apa yang seimbangdengannya dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, sedangkan di akhirat nanti Dia akan menambahakan yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya di sisi Allah terdapat ganjaran yang besar dan kekal. Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya menurut ketentuan dan ketetapan-Nya.
Selengkapnya...

Monday, March 5, 2012

Qasedah Sholatulloh Hi Taqsya



صَـلاَ ةُ اللهِ تـَغْــــشَا كُـــــمْ حــَـــبـِـيـْـبِــي
وَ اَلـِــــكُــمُ وَ يـَغْــــشَا كُـــــمْ سَــــلاَ مُ
Limpahan Shalawat Allah selalu meliputi kalian (Wahai Nabi SAW dan para pencintanya dan pembelanya SAW)
dan atas keluarga kalian dan salam sejahtera selalu melimpah pada kalian.

;عَــلَى قَــدْرِ الْـجَـــمَـالِ مَــعَ الْـــكَــمَـالِ
;وَمـَــا طَـرِ بَ الْــمُـحِــــبُّـوْ نَ وَهَـــامُ

Sebanyak kadar segala keindahan dan kesempurnaan,
dan sebanyak gejolak kerinduan dan kasih para pecinta Nabi SAW.


لـِغـَـيْـرِ جَـــمَـا لـِـكُـــمْ نَــظَـرِ يْ حَـــرَ امُ
وَ غَــيْـرِ كَــلا َ مِــكُـمْ عِــــنـْدِ يْ كَــلا َمِ
Untuk selain memandang keindahan kalian, telah kuharamkan pandanganku,
dan selain pembicaraan kalian dihadapanku umpama lantai tempat pijakan kaki (yaitu sangat hina).

وَ عُــمْرٌ تَـسْـرِ يْ مِـنْـكُــمْ بـَـعْــضَ يـَـــوْ مٍ
وَ سَـــا عَـةُ غَــــيْرِ كُـــمْ عَــامٌ فَــعَـامُ
Dan usiaku terlewatkan bersama kalian seakan beberapa hari (terasa sangat singkat),
dan sesaat tanpa kalian bagaikan bertahun-tahun.

وَصَـبـْرِ يْ عَــنْـكُـــمُ شَـيْءٌ مُـحَــــالٌ
وَ مـَـا لِـيْ قَــاتِـلٌ إِ لاَّ الـْـفِـــطَـامُ
Dan sabar dari merindukan kalian adalah hal yang mustahil,
dan tak ada (yang kutakutkan) sebagai pembunuh, selain perpisahan dengan kalian.

إِ ذَا عَــا يـَـنْـتُـــكُــمْ ذَا لَـتْ هُـمُــوْ مِــيْ
وَ إِ نْ غِــبْـــتُـمْ دَ نَـى مِـنـِّـي الـْحِـــمَـامُ
Apabila aku melihat kalian maka hilanglah kesedihanku,
dan apabila kalian tiada maka telah dekatlah padaku kematian.

اَوَ دُّ بِــأَنْ أَ كُـــوْ نَ لَــــكُــمْ جَـــلِـيـْـــسًا
وَ تـُنْـصَـبُ لـِي بِـرَ بـْعِـــكُــمُ خِــيَـامُ
Aku sangat berhasrat untuk selalu menjadi pendamping kalian, dan dibuatkan kemah di halaman rumah kalian,(ungkapan hati dari besarnya hasrat untuk selalu tidak berpisah, apabila tidak mendapat tempat tinggal di rumah mereka, maka cukuplah di halaman rumah mereka).

بــَدَاهُ بـِالـْـوِ صَــالِ مَــرِ يـْضَ هَجْـــرٍ
يـَـهِــيـْــمُ بِــكُــمْ إِذَا سَــجَـعَ الْـحَـــمَـمُ
Maka mulialah (mendekat padaku) dengan menyambung (pertemuan) setelah pedihnya perpisahan, (denganku)yang selalu mendambakan kalian setiap kali burung-burung merpati saling bersenandung(maksudnya tidak pernah ada berakhir).

حَـــدِ يـْثُ غَــــرَ ا مِـهِ فِـــيْــكُـــمْ قَـــدِ يـْـمٌ
وَ مَـلـْـبَـسُـهُ مِــنَ الْـحُـــبِّ الــسِّــــقَـامُ
Kabar tentang ia (diriku) tergila-gila pada kalian telah lama terdengar,
dan pakaian (yang menutupiku) dari kecintaan adalah kesusahan.

فَـــأَنــْـتُـمْ فِي اْلأُ صُـوْ لِ أَجَــــلُّ أَصْـــلٍ
إِ ذَا شِــئْـتُـمْ تَـحَـــصَّـلَ لِي الْـمَــرَ امُ
Dan kalian dari segala sumber (kemuliaan) adalah sumber yang sangat kuat,
apabila kalian menghendaki, maka akan tercapailah untukku segala keinginan.

بـِكُـــمْ صَـعْبُ اْلـلأُ مُـوْ رِ يـَعـُـوْ دُ سَــــهْـلا ً
فَــبِا ْلإِ حْــــسَـانِ جُــوْ دُو ا يـَا كِــرَ امُ
Sebab kalianlah segala permasalahan berbalik menjadi kemudahan,
maka Demi Yang Maha Memiliki Kebaikan, bermurah hatilah wahai orang-orang yang mulia.

فـَــلَـيْـسَ سِــوَ ا كُـــمُـوْ لـِلْـجُــوْ دِ أَهْـــــلا ً
>فَـكَــيْـفَ نَــذِ يــْدُ صُــوْ حِــيـْكُـــمُ يــُضَـامُ
Maka tiadalah selain kalian orang yang lebih bermurah hati.
Selengkapnya...

Tawasul Al-Habib Abdurahman Asegaf

Assalamualaikum
Berikut adalah TAwasul dari Al Habib Abdurahman Assegaf Bukit Duri Jakarta.
Tawasul ini sangat bagus dibaca oleh kita dalam meminta wasilah melalui para Wali, Anbia dan Malaikat...
Semoga Allah terus melimpahkan Keberkahan kepada Beliau dan kita yang mengamalkan tawasul ini.. Amien

توسل الحبيب عبد الرحمن بن أحمد السقاف
نفعنا الله به وبعلومه فى الدارين - آمين


إِلَهِى بِجاَهِ الأَنْبِياَءِ وَالمَلاَئِكَةِ
وَبِالأَوْلِياَءِ جُدْ لَناَ بِالإِجاَبَةِ
Wahai Tuhanku, dengan keagungan para nabi dan malaikat
Juga dengan keagungan para wali, sayangi kami dengan senantiasa memenuhi permohonan kami
إِلَهِى تَوَسَّلْناَ بِقُرْآَنِكَ الكَرِيْمِ
تُنَوِّرْ بَصِيْرَتِى وَسَمْعِى وَمُقْلَتِى
Wahai Tuhan kami, kami bertawasul dengan Qur’an yang mulia
Agar ia bisa menerangi jiwaku, juga menerangi pendengaranku dan lisanku
وَتُلْهِمُنِى رُشْدِى وَتَرْزُقْنِى عِلْمَ
اليَقِيْنِ تُوَفِّقْنِى لِحُسْنِ العِباَدَةِ
Agar ia bisa memberikan ilham kepadaku akan kecerdasan dan memberiku ilmu yaqin
Dan juga bisa memberiku taufiq (kemampuan taat) untuk dapat beribadah dengan baik
بِأَسْماَئِكَ الحُسْنَى تَجُوْدُ بِتَوْبَةٍ
نَصُوْحٍ تَغْفِرُ لىِ ذُنُوْبِى وَزَلَّتِى
Dengan nama-namaMu yang sangat baik, Engkau pasti menerima akan taubat
Yang baik, ampunilah aku segala dosa-dosaku dan semua kehilafanku
وَتَنْظُرْنِى فىِ كُلِّ حاَلٍ وَلَمْحَةٍ
تُنَجِّى بِهاَ مِنْ هَوْلِ يَوْمِ القِياَمَةِ
Engkau mengawasi ku di setiap keadaan dan setiap detik waktu
Dengan nama-namaMu Engkau selamatkan aku dari kerusuhan hari qiyamah
وَبِالمُصْطَفَى الرَّسُوْلِ تَشْرَحُ لىِ صَدْرِى
تُيَسِّرُ لىِ أَمْرِى وَتَكْشِفُ كُرْبَتِى
Dengan Nabi terpilih yang menjadi Rasul, lapangkanlah buatku akan jiwaku
Mudahkanlah buatku semua urusanku, serta lepaskanlah semua keresahanku
وَبِالأَنْبِياَءِ وَالمَلاَئِكَةِ الكِراَمِ
تُحَقِّقْ بِالتَّقْوَى وَإِدْراَكِ غاَيَتِى
Dengan keberkahan serta kemuliaan para nabi dan malaikat yang mulia
Nyatakan kami mendapatkan ketaqwaan dan dapat mencapai harapanku
بِهِمْ وَبِالإَوْلِياَءِ تُلْحِقُنِى بِهِمْ
وَذُرِّيَتِى وَشِيْعَتِى وَعَشِيْرَتِى
Berkat mereka dan para wali izinkan aku agar bisa bersama mereka selalu
Juga bias berkumpul bersama keturunanku, kumpulanku dan kawan-kawanku
وَتَصْرِفُ عَنِّى كُلَّ شَرٍّ بِحَقِّهِمْ
وَشَرًّا لِذِى شَرٍّ مِنْ إِنْسٍ وَجِنَّةِ
Jauhkan dariku segala keburukan, berkat kemuliaan mereka
Segala keburukan yang berbuat jahat, baik dari manusia ataupun jin
بِفَضْلِكَ بَشِّرْنِى بِحُسْنِ الخَواَتِمِ
وَبِالرَّحْمَةِ ادْخِلْنِى بِداَرِ الإِقاَمَةِ
Dengan keutamaanMu kruniakan kebahagiaan kepadaku dengan baik akhir hayatku
Dengan kasih saying masukkan aku ke dalam tempat tinggal yang abadi (sorga)
عَلَيْهِمْ مِنَ المَوْلىَ صَلاَةٌ وَتَسْلِيْمٌ
وَرِضْواَنُ انِ سْتَجِبْ إِلَهِى مُناَجاَتِى
Untuk mereka dari Allah SWT semoga kasih sayang dan keselamatan dilimpahkan
Juga keridloan dari Allah, kabulkanlah wahai Tuhanku atas semua permohonan munajatku..amien


Untuk dalam bahasa Arab full dibawah ini.


Sumber:
basaudan.wordpress.com
arbabulhija.blogspot.com
Selengkapnya...

Friday, March 2, 2012

Lima Jenis Kegilaan

Oleh: Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen

Terdapat berbagai jenis kegilaan di dunia ini. Kita akan membahas lima jenis kegilaan yang paling umum.

* Gila yang berasal dari akal pikiran
* Gila akan wanita,
* Gila akan uang,
* Gila akan mabuk-mabukan,
* Gila akan kebijaksanaan.

Pada sebuah persimpangan jalan di dekat taman, berdiri sebuah pohon yang teduh. Lima orang dengan lima jenis kegilaan duduk bersama di bawah pohon tersebut. Mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Bagi orang yang berlalu-lalang, lima orang ini terlihat sama, tetapi terdapat alasan yang berbeda atas kegilaan mereka.

Manusia yang sakit jiwa mengambil semua serpihan kertas dan lembaran daun kering yang ada di tanah dan meletakkannya di sekitar tangannya sembari mengoceh, “Kau pergi ke sini, kau pergi ke sana.”

Dia yang terobsesi oleh wanita mengambil semua serpihan kertas dan mengira bahwa kertas itu adalah surat cinta. Dia berkomat-kamit, “Kekasihku menulis ini, kekasihku menulis itu. Kekasihku berkata, ‘Aku akan datang kepadamu!’”

Dia yang terobsesi oleh uang mengambil semua serpihan kertas, melihatnya, membolak-baliknya, dan mengomel kepada dirinya sendiri, “Bank ini, bank itu. Rekening ini, rekening itu. Simpananku.”

Dia yang gila karena mabuk berdiri dan berjalan sempoyongan di jalan, menabrak orang lain dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya, dia terjatuh tak sadarkan diri di jalan, dan maling merampok pakaiannya. Ketika dia sadar kembali dia begitu malu, sehingga dia kembali ke rumah, bertengkar dengan istrinya, dan menyalahkan keluarganya atas kesalahannya.

Tetapi dia yang terobsesi oleh kebijaksanaan mengambil sebuah daun kering yang telah mati dan tersenyum dengan sedih. “Sungguh indah ketika engkau masih bersatu dengan batangmu. Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah. Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan bagi tanah.” Dia tertawa dan menangis, tetapi bukan dari dalam dirinya.

Manusia yang terobsesi dengan kebijaksanaan tertawa karena penjelasannya sendiri. Dia berkata, “Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan, aku mencari-Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan kegilaanku. Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini. Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku. Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku. Berikanlah aku obat rahmat, cinta dan kebijaksanaan-Mu dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku. Aku adalah budak-Mu di dunia ini.” Hatinya terbuka, dan dia berserah diri kepada Tuhan.

Empat orang lainnya tidak menyadari hal ini. Mereka berbicara akan apa yang ada di dalam diri mereka. Tetapi bagi dunia, kelima orang ini terlihat gila.

Anakku, pahamilah keadaan ini. Jangan mengikuti apa yang dunia lakukan. Jika engkau melihat seseorang yang benar-benar mengerti akan dirinya, kehilangan dirinya dalam meraih kebijaksanaan, dan mati dalam Tuhan, engkau sebaiknya menghormatinya dan belajar kebijaksanaan dan kata-kata baik darinya. Hal itu akan menjadikan engkau mulia.

Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen

*********

Edisi Inggris “Five Common Types of Insanity” Oleh M. R. Bawa Muhaiyaddeen. Diterjemahkan oleh Dimas Tandayu.
Selengkapnya...

Mutiara Kata Sheikh Muslihuddin Sa’di

Sheikh Muslihuddin Sa’di bertutur:

Aku tidak mampu mengucapkan terima kasih kepada Sahabatku
Karena aku tidak tahu kata pujian yang pantas untuk-Nya

Setiap rambut di tubuhku adalah pemberian dari-Nya
Bagaimana caranya aku berterimakasih untuk setiap rambut yang dianugerahkan oleh-Nya?

Puji bagi Tuhan Sang Pemberi
Yang menciptakan manusia dari ketiadaan
Siapakah yang mampu menggambarkan kemurahan-Nya?
Karena pujian untuk-Nya terbenam dalam keagungan-Nya

Sang Pencipta menciptakan seorang manusia dari tanah liat
Lalu meniupkan ruh, kebijaksanaan, akal dan hati

Sejak masa kanak-kanak hingga batas usia senja
Lihatlah bahwa Dia memberimu rezki, dari jalan yang tidak disangka-sangka!

Ketika Tuhan menciptakanmu dalam keadaan suci, maka tetaplah suci
Karena sungguh merupakan azab jika engkau pergi ke tanah kubur dalam keadaan bernoda

Senantiasalah engkau bersihkan debu sifat kotor dari cermin hati
Karena ia tidak akan mengkilap saat kerusakan melahap

Bukankah pada awalnya engkau adalah air dari benih manusia?
Jika engkau manusia, usirlah kesombongan dari kepalamu

Saat engkau berupaya mencari arti kehidupan
Janganlah percaya pada kekuatan tanganmu sendiri

Wahai penyembah diri! Mengapa engkau tidak memandang Tuhan
Yang memberikan kekuatan pada lengan?
Ketika dengan usahamu itu sesuatu terjadi
Ketahuilah, sesungguhnya semua itu terjadi karena kehendak Tuhan
Bukan oleh upayamu sendiri
Tak seorang pun yang memiliki daya dan kekuatan
Maka panjatkanlah puji kepada Tuhan Yang Maha Agung

Engkau tidak akan mampu berdiri dengan kekuatanmu sendiri
Di tempat yang tersembunyi, pertolongan datang seketika

Wahai tuan! Engkau juga adalah seorang anak kecil di jalan Tuhan
Karena kebencian, engkau menjadi lupa pada dosa

Seorang lelaki memalingkan kepala dari ibunya
Hati si ibu yang sedih menyala seperti api
Ketika dia menjadi tak berdaya karena kesedihannya,
Dia membawa sebuah buaian ke hadapan lelaki muda itu
Ia berkata, “Wahai orang yang lemah dalam cinta
dan lupa akan masa kecil!
Bukankah dulu saat kecil engkau menangis tak berdaya
Saat malam hari, aku tetap terjaga karena tangismu
Tidak, saat engkau berada dalam buaian ini, engkau tidak memiliki kekuatan seperti sekarang
Bahkan engkau tak memiliki kekuatan untuk mengusir seekor lalat dari dirimu sendiri

Engkau selalu merasa kesal dengan lalat
Hari ini menjadi seorang pemimpin dan sangat berkuasa
Suatu saat engkau akan kembali dalam keadaan seperti itu, di dasar kuburan
Ketika engkau tak mampu untuk mengusir seekor semut pun dari tubuhmu

Sekali lagi bagaimana mungkin mata dapat memancarkan cahaya
Ketika cacing kuburan melahap otaknya?

Engkau seperti orang buta yang tidak melihat jalan
Dan tidak tahu jika ada sumur di jalan itu
Engkau adalah seorang yang diberi penglihatan, jika engkau benar-benar bersyukur
Namun jika tidak, maka engkau adalah orang buta

Guru tidak memberikan padamu pengetahuan dan kebijaksanaan
Tuhan menciptakan sifat-sifat ini dalam dirimu
Jika Dia tidak memberimu hati yang mendengarkan kebenaran
Maka kebenaran akan tampak di matamu sebagai inti kebohongan

Lihatlah satu jarimu yang memiliki sekian banyak tulang sendi
Tuhan, dengan penciptaan-Nya telah menjadikan satu
Maka adalah kegilaan dan kedunguan
Ketika engkau menempatkan jarimu di atas firman-Nya (mencoba untuk mengingkari kehendak-Nya)

Perhatikanlah, Dia menyusun otot-otot
dan membuat persendian dari sekian banyak tulang
Untuk menciptakan gerakan
Karena tanpa putaran pergelangan lutut dan kaki
Tidaklah mungkin menggerakkan kaki dari tempatnya
Karenanya, manusia tidak sulit untuk bersujud
Tulang sendi pada tulang punggung tidak terdiri dari satu bagian
Tuhan telah menata dua ratus tulang sendi yang berhubungan satu sama lain
Dia telah menyempurnakan mahluk sepertimu
Maha Besar Tuhan! Ia menciptakan tulang sendi dari tanah liat

Wahai mahluk yang sempurna! Pembuluh-pembuluh darah dalam tubuhmu
Laksana suatu daratan yang di dalamnya terdapat tiga ratus enam puluh aliran sungai

Dalam penglihatan mata kepala, dalam pikiran, keputusan, dan kebijaksanaanmu
Tangan dan kaki adalah untuk hati, dan hati untuk kebijaksanaan

Hewan-hewan dengan bentuk yang tidak sempurna, adalah mahluk yang rendah
Engkau seperti Alif, tegak berdiri di atas kakimu
Hewan-hewan, kepalanya merendah ketika hendak makan
Sedang engkau, dikaruniai tangan untuk membawa makanan ke mulutmu

Tidak pantas bagimu merendahkan kepala pada siapapun
Kecuali dalam ketaatan kepada Tuhan
Dengan keindahaan-Nya, Tuhan memberimu pengetahuan. Lihatlah!
Dia tidak menciptakan dirimu seperti hewan, dengan kepala di rumput
Tapi dalam keadaan sempurna
Janganlah engkau menjadi terlena, ambillah jalan hidup yang baik

Jalan lurus itu lebih utama, bukan sosok yang tegap
Karena orang kafir sama seperti kita dalam bentuk lahiriah
Tuhanlah yang memberimu mata, mulut dan telinga
Jika engkau orang bijak maka janganlah menentang-Nya

Kuakui bahwa engkau dapat mengalahkan musuh dengan kekuatan
Namun jangan sampai engkau berperang dengan Sang Kekasih (Tuhan), walau karena kebodohanmu

Orang yang memiliki sifat bijaksana dan ihklas dalam melaksanakan kewajiban
Akan memperoleh pertolongan Tuhan dengan rasa syukur

Tuhan memberikan lidah untuk bersyukur dan mengucapkan pujian
Orang yang bersyukur tak akan menggunakan lidah untuk memfitnah

Telinga adalah indera penting untuk mendengarkan Al-Quran dan nasehat
Maka janganlah engkau mendengarkan fitnah dan kebohongan

Manusia dianugerahi dua mata untuk melihat (keagungan) ciptaan Tuhan
Maka tundukkanlah matamu dari aib saudara dan sahabatmu

Untukmu diciptakan bulan yang bersinar di malam hari
Dan Matahari yang gilang-gemilang di waktu siang
Untuk kepentinganmu, angin barat yang bagaikan pengurus rumah tangga raja
Bekerja tak henti-hentinya agar terbentang hamparan keindahan musim semi

Jika angin, salju, awan, dan hujan
Juga guntur yang menggelegar, serta halilintar yang bagaikan pedang
Semuanya adalah para pekerja dan pembawa titah Tuhan
Mereka merawat benih yang engkau tanam di dalam tahah

Jika engkau merasa haus, janganlah mengeluh
Karena si pembawa air akan membawakan awan berisi air di punggungnya

Dari tanah Dia ciptakan warna, wewangian, dan makanan
Hiburan bagi mata, otak dan langit-langit mulut

Dia mengeluarkan madu dari lebah, dan makanan surga dari langit
Dia memberimu buah kurma muda dari pohon, dan pohon dari benih

Semua tukang kebun (manusia) mengolah kerja tangan itu (kekuasaan Tuhan)
Dengan takjub mereka berkata, “Tak seorang pun dapat menciptakan pohon kurma!”

Matahari, bulan dan bintang, semuanya untukmu
Mereka adalah cahaya di langit-langit rumahmu

Dia membawakan untukmu sekuntum bunga mawar di antara duri-duri
Emas dari tambang, dan daun hijau dari dahan kering

Dia melukiskan mata dan alis, dengan tangan-Nya sendiri
Karena tidak ada yang dapat membuat semua itu selain diri-Nya

Dia sangat kuat dan menyayangi yang lemah
Merawatmu dengan kemurahan-Nya
Pantaslah untuk memanjatkan pujian sepenuh jiwa, setiap detik dan setiap desah nafas
Syukur kepada-Nya bukanlah semata-mata diucapkan di lidah

Oh Tuhan! Hatiku berdarah, dan mataku terluka
Saat kulihat karunia-Mu lebih besar dari rasa syukurku

******

Wahai sheikh, sungguh kata-katamu begitu menghujam ke dalam relung jiwa kami.

Semoga cinta dan kasih sayang Allah selalu menyertaimu. amin

*********

:: Sheikh Muslihuddin Sa’di adalah seorang penyair sufi kelahiran Shiraz, Persia (1200-1291M) yang menulis literatur klasik berjudul Bustan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para penyair barat berjudul “The Orchard” dan buku lainnya Gulistan “The Rose Garden”. Karyanya mengandung ajaran-ajaran dan kisah-kisah cinta, agama, kebijaksanaan, anekdot-anekdot dan aspek kehidupan lainnya.
Selengkapnya...

Berguru kepada Penghuni Alam Lain

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Di antara mereka ber-tajassud kepadaku di bumi,
yang lainnya ber-tajassud di udara.
Di antara mereka ber-tajassud di manapun aku berada,
yang lainnya ber-tajassud di langit.
Mereka mengajariku dan aku pun mengajarinya.
Namun, keberadaanku tidak sama.
Aku tetap di dalam entitasku.
Mereka tidak tetap dalam entitasnya.
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk.
Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna.
(Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyah, Juz 1 h 735)


Kemungkinan orang berguru kepada alam-alam lain adalah mungkin. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadits. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu.
Contohnya, pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk syair seperti dikutip di atas. Masalahnya di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut? Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para sufi.

Secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata ‘alam yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan ‘alamah yang bermakna alamat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).

Dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah). Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali/undifferentiated.

Alam dalam form atau bentuk ini, dalam ilmu filsafat dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal/the first intellect. Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan. Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili/differentiated yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal/the first intellect.

Dari sini, nama Allah sebagai Al-Rahim dimanifestasikan. Pendapat ini juga banyak diakomodasi di dalam kitab-kitab tafsir, terutama dalam menjelaskan perbedaan konteks antara al-Rahman dan al-Rahim dalam ayat pertama dan ketiga dari surah Al-Fatihah: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (al-Rahman al-Rahim).

Orang yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal/undifferentiated menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil/differentiated bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah. Ia sudah menjadi manivestasi (madzhar) nama-nama Allah. Pembahasan lebih rinci konsep insan kamil ini akan dibahas dalam satu artikel tersendiri.

Dalam perspektif tasawuf, alam tidak terbatas hanya dalam dua bentuk, yaitu dengan meminjam istilah Muhammad Abduh, ‘alam syahadah dan ‘alam gaib, tapi alam bisa tak berbatas.

Sebab mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat/universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak.

Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, ‘alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan ‘alam jabarut.

Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.

Manusia di alam fana ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam-alam lain. Tentu, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Tingkatan-tingkatan alam lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.

Di setiap tingkatan alam, Al-Haq (Allah) selalu mengindikasikan kehadiran-Nya. Sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Al-Haq. Meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran (al-hadharat), yakni kehadiran Ilahiyyah (al-hadharat al-Ilahiyyah).

Ketunggalan kehadiran Ilahiyyah termanifestasi di dalam apa yang disebut oleh para sufi dengan tauhid al-Dzat, tauhid al-Shifat, dan tauhid al-Af’al. Dalam konteks ini, Ibnu Arabi, salah seorang sufi yang berlatar belakang seorang filsuf, kesulitan membedakan secara skematis antara alam dan Al-Haq.

Karena menurutnya, keseluruhan alam ini tak lain adalah madzhar, atau lokus manifestasi-Nya. Bagi Ibnu Arabi, bukan hal yang mustahil untuk berguru kepada para penghuni alam lain. Bahkan, manusia bisa langsung berkomunikasi dan berguru kepada Al-Haq.

bnu Arabi beralasan, Al-Haq adalah bagian inmanen dalam diri manusia sebagai alam mikrokosmos, bukannya Ia (Allah) transenden seperti banyak digambarkan oleh ulama fikih, Allahu a’lam.

Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.

Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin bisa mengakses sekaligus belajar kepada para penghuninya jika alamnya sendiri tak dipahami dengan baik. Setiap alam akan dibahas dalam artikel-artikel tersendiri.

Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal lebih jauh alam lain tanpa didahului mengenal diri sendiri atau alam di mana kita tinggal. Apalagi, rahasia Tuhan di dalam diri kita sungguh sangat besar.

Sebelum menyingkap hijab-hijab yang ada di alam lain, yang harus disingkap lebih dulu adalah hijab yang ada dalam diri kita. Selanjutnya menyingkap hijab di alam kita, kemudian alam-alam lainnya. Terkait hal ini, pernyataan Rasulullah yang sering dikutip para sufi adalah Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya, ia dapat memahami Tuhannya).

Meskipun para ulama hadits menganggap pernyataan itu bukan hadits (baca hasil penelitian Prof Syuhudi Ismail), kalangan sufi seolah sudah mengonfirmasikan langsung kepada Rasulullah akan keberadaan hadits ini. Hadits ini berulang-ulang dikutip di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan kitab-kitab karya Ibnu Arabi.

Dari hadits ini diketahui bahwa kompleksitas dan rahasia di dalam diri manusia berlapis-lapis. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya adalah bagaimana melakukan upaya sungguh-sungguh untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Kedekatan ini menjadi prasyarat untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Al-Haq. Diperlukan mursyid untuk membimbing kita agar jangan salah alamat dalam mencari dan menemukan objek yang dituju. Seseorang yang mulai memasuki dunia pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.

Kemudian, para murid itu akan menjalani berbagai latihan spiritual (riyadhah) secara konsisten sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk mencapai harapan ini.

Sumber: Republika
Selengkapnya...

Thursday, March 1, 2012

Mengenang KH. Abdullah Faqih "Langitan"

انّا للہ و انّا الیہ راجعون
29 Feb 2012 menjadi hari berduka bagi bangsa ini karena telah ditinggalkan oleh ulama besar KH Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur,
"Wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi kita, bukan hanya NU, tapi juga bangsa Indonesia," Kiprah beliau membesarkan NU dan menanamkan pentingnya rasa kebangsaan ke santri, menjadikannya sebagai sosok kiai yang sangat disegani," ujar Kiai Said Aqil.

Kiai Faqih memimpin Pondok Pesantren Langitan sejak tahun 1971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid. Ia didampingi pamannya, KH Ahmad Marzuki Zahid.

Ponpes Langitan sendiri didirikan 1852 oleh KH Muhammad Nur asal Tayuban, Rembang, Jawa Tengah. Saat dipimpin KH Faqih ponpes lebih terbuka, termasuk mengembangkan ilmu komputer, tetapi tetap mempertahankan salafiyah. Saat ini di Ponpes Langitan ada sekitar 3.000 santri.

Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan, Desa Widang, Tuban. Saat kecil, ia lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi`i Zahid.

Ketika beranjak remaja, Kiai Faqih "nyantri" kepada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Faqih juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, untuk belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayah Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Setelah itu, Kiai Faqih kembali ke Pesantren Langitan yang didirikan pada l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang. Pesantren Langitan yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang (dekat Babat Lamongan) itu dikenal sebagai pesantren ilmu alat.

Para generasi pertama NU pernah belajar di Langitan, di antaranya KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayah KH As`ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq).

Kiai Faqih pernah berguru ke Mbah Abdur Rochim, di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, belajar ke Sayid Alwi bin Abbas Al Maliki, ayah Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki. Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki tercatat lima kali berkunjung ke Ponpes Langitan.

KH Faqih menikah dengan Hj Hunainah dan dikaruniai 10 anak, di antaranya Ubaidillah Faqih, Mujab Faqih, Abdullah Faqih, Abdillah Faqih, dan Maksum Faqih.

Kiai Faqih termasuk salah satu kiai khos atau kiai utama. Syarat kiai khos punya wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau daya spiritual tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran moral yang dipatuhi dan jauh dari keinginan duniawi.

Ia tokoh sederhana, istiqomah, dan alim yang bukan sekadar pandai mengajar. Ia sekaligus menjadi teladan di antaranya selalu shalat berjamaah dan menjaga kebersihan.

Nama KH Faqih dikenal luas saat Pemilihan Presiden 1999. Saat itu ada perbedaan pendapat terkait pencalonan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden yang dipelopori poros tengah. Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama mengadakan pertemuan di Langitan, yang memunculkan Poros Langitan.

Dua hari menjelang Pilpres 1999, KH Hasyim Muzadi menemui Gus Dur untuk menyampaikan pesan Kiai Faqih. Isinya, jika Gus Dur maju dalm pilpres, ulama akan mendoakan, Gus Dur harus menjaga keutuhan di Partai Kebangkitan Bangsa yang mulai retak, serta menjaga hubungan baik kalangan nahdliyin dan pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Menurut Gus Dur (almarhum), KH Faqih termasuk seorang wali. Kewaliannya bukan lewat tariqat atau tasawuf, tapi karena kedalaman ilmu fiqihnya. Gus Dur sangat hormat dan patuh kepada Kiai Faqih.

Sebagai sosok seorang ulama besar, KH Abdullah Faqih dikenal sebagai seorang yang Istiqomah. Bahkan, sebagai seorang ulama besar yang sering menerima tamu berbagai tokoh bangsa, Kiai Faqih tidak pernah meninggalkan untuk mengajar santri.

"Kata Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid-red) beliau ini sosok Kiai yang sangat istiqomah. Bahkan ketika ada tamu-tamu penting yang berkunjung ke Ponpes Langitan, Kiai Faqih tidak pernah meninggalkan rutinitas untuk mengajar santri," kata KH Maman Imanul Haq kerabat dekat Kiai Faqih asal Cirebon, Rabu (1/3/2012).

Karena kekharismatikkannya itu banyak sejumlah partai politik melirik sang kiai. Menurut Maman, Kiai Faqih bukanlah seorang politikus. Sang Kiai hanya ingin memberi ruang bagi pesantren untuk ikut serta dalam menata kebijakan publik.

"Maka beliau mendorong politisi santri untuk mengisi ruang yang kosong itu. Sayangnya, para politisi sering banyak memanfaatkan beliau," katanya.

Sementara, pelajaran yang dapat diambil dari sosok KH Abdullah Faqih adalah sikap Keikhlasan dan kelapangan jiwa. "Dengan sikap itu membuat beliau tetap berwibawa penuh kharisma," tambahnya.



Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.

Meski tetap mempertahankan nilai-nilai salaf, Pesantren Langitan di era Kiai Faqih lebih terbuka. Ia mendirikan pusat pelatihan bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan taman tanak-kanak (TK) dan taman pendidikan Al Quran (TPA). Ada juga badan usaha milik pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel.

Kiai bersahaja itu juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat, di antaranya ia mengirim dai ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa.

Selain itu, Kiai Faqih juga menginstruksikan para santrinya shalat Jumat di kampung-kampung, lalu membuka pengajian umum di pesantren di dekatnya.

Di balik kesederhanaan dan sikap antipublikasi, Kiai Abdullah Faqih juga merupakan sosok teladan yang mementingkan masyarakat luas.

Untuk kepentingan masyarakat itulah, Kiai Faqih pernah meminta Gus Dur mencium tangan pamanda KH Yusuf Hasyim yang saat itu berseberangan dengannya. Gus Dur pun patuh kepada "sang guru".

Tidak jauh dari itu, Kiai Faqih jugalah yang mengajak Gus Dur dan KHA Hasyim Muzadi untuk bersalaman ketika keduanya "bermasalah".

Sikap Kiai Faqih yang sederhana, antipublikasi, dan juga suka damai itu diakui Ketua Umum DPP PKNU H Choirul Anam yang akrab disapa Cak Anam.

"Saya sendiri sempat menjenguk beliau pada hari Ahad (26/2) lalu," kata salah seorang tokoh Ansor NU Jatim yang dikenal sebagai "orang dekat" Kiai Abdullah Faqih itu.

Pada pertemuan terakhir itu, katanya, dirinya sempat bertemu selama lima menit, tetapi dirinya sempat tertegun karena Kiai Abdullah Faqih sempat menangis.

"Almarhum mengatakan kamu ke sini (meminta untuk mendekat). Beliau meminta saya untuk berjuang terus. Saya izinkan kamu, saya ridhoi, kamu berjuang terus, jangan khilaf, ajak bersatu semua kawan," katanya, mengutip pesan almarhum.

Ditanya tentang sosok Kiai Abdullah Faqih, Cak Anam yang juga mantan wartawan itu menilai Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok yang jarang berbicara tentang kedudukan (jabatan) dan "dunia" (uang).

"Beliau selalu mementingkan kejujuran dan moralitas. Kalau mendapat sumbangan dari orang, beliau selalu memilah, menyisihkan, dan akhirnya dikembalikan kepada kepentingan masyarakat," katanya.

Bahkan, kata penulis buku "babon" tentang NU itu, Kiai Abdullah Faqih sering menyumbang kegiatan PKNU dengan uang pribadi.

"Ketika PKNU akan bermuktamar, beliau bertanya apa sudah siap? Beliau pun menyerahkan sumbangan," katanya.

Oleh karena itu, kepergian Kiai Abdullah bukan hanya PKNU yang kehilangan. "Bukan hanya PKNU atau NU yang kehilangan beliau, melainkan bangsa ini kehilangan sosok teladan yang lebih memikirkan orang lain daripada dirinya," katanya.

Rasa kehilangan juga dilontarkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Ia menyatakan wafatnya KH Abdullah Faqih merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.

"Wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi kita, bukan hanya NU, melainkan juga bangsa Indonesia," katanya.

Hal senada juga diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan, Indonesia kehilangan salah satu tokoh penyangga kekuatan spiritual dengan wafatnya KH Abdullah Faqih.

"Kiai Faqih merupakan salah satu penyangga kekuatan spiritual bangsa Indonesia. Saat negara mengalami berbagai krisis, beliau menggerakkan istighatsah dan berbagai wirid atau amalan keagamaan untuk memohon pertolongan Allah," katanya.

Di lingkungan NU, kata Khofifah, Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok kiai sepuh yang menjadi panutan, sedangkan di pentas nasional Kiai Faqih mulai dikenal dan didengar serta diperhatikan berbagai pemikiran kebangsaannya saat awal reformasi.

"Gus Dur sendiri sering menjadikan fatwa Kiai Faqih sebagai referensi gerakan reformasi, misalnya saat mendirikan PKB dan saat mengambil keputusan pencalonan sebagai presiden," katanya.

Semoga Allah memberikan beliau kedudukan yang terbaik di sisiNya.. dan semoga umat bisa mengikuti semua ajaran2 beliau..

==" Dari berbagai Sumber
Selengkapnya...

Tuesday, February 28, 2012

Syareat dan Tarekat itu Menyatu

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh puji syukur kepada Allah (Swt) atas nikmat, rahmat, taufik, dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad (saw), keluarga dan sahabatnya, dan semoga rahmat serta inayah-Nya tercurah kepada Habib Luthfi bin Yahya dan keluarga. Amin. Saya sering mendengar kata syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat; tetapi saya belum begitu paham apa arti semua itu. Tolong Habib jelaskan satu per satu. Bagaimanakah caranya jika saya berbaiat langsung kepada Habib, olehkan melalui surat, atau datang sendiri? Bolehkah seorang santri memiliki dua atau tiga guru tarekat? Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
M. Riyafiy, Pamiritan, BalapulangTegal, Jawa Tengah


Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Syariat, tarekat, dan hakikat itu tidak bisa dipisah-pisahkan. Bertarekat meninggalkan syariat, tidak benar. Karena, tarekat adalah buah syariat. Jadi, kalau bertarekat, tidak terlepas melalui pintunya dahulu, yaitu syariat. Syariatlah yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunaka hukum, dart mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada Allah, malaikat, kltab Allah, Rasul, hari akhir, dan takdir baik dan buruk. Dan syariat pula mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutamaan shalat, juga hubungan antara manusia, seperti jual-bell, pernikahan, dan lainnya.

Setelah menjalankan syariat dengan balk, kita bertarekat, untuk menuju jalan kepada Allah dengan baik. Jadi, secara sederhana menuju jalan kepada Allah disebut tarekat Bertarekat perlu dlblmbing para mursyid, yang akan mengantar murid darl mengerti dan mengenal Allah sampai nanti "dikenal" Allah (swt), yakni dekat dan disayang oleh Dia (Swt). Amalan utama tarekat adalah berzikir.
Hanya, perlu dipahami, pengertlan tarekat tidak terbatas hal itu. Yang dltuntut oleh tarekat di jalan Allah adalah' perilaku para pengikut tarekat yang mulia. Terutama mem-bersihkan kotoran-kotoran yang ada dl dalam batin dan lahirnya, sehingga secara lahir dan batin kita bersih dalam menuju ke jalan Allah.

Sebagai contoh berwudu. Wudu adalah peraturan syariat, guna menjalankan shalat dan lain-lainnya. Biasanya kita hanya berwudu untuk mendapatkan keutamaan wudu, serta sebagai syarat untuk menjalankan shalat. Sedangkan tarekat menuntut buah wudu. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudu. Dan berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Coba kita aplikasikan dalam kehidupan kita, sosialisasikan untuk kehldupan kita masing-maslng. Kalau sudah sering membersihkan muka, kita harus leblh mengerti serta merendahkan hatl, malu kalau kita berlaku sombong.

Darl hasll wudu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlak, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dart hari ke hari. Itulah buahnya, sehingga kita semakin dekat kepada Allah. Sebab, justru di hadapan Allah, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-Nya semata-mata. Kalau bukan karena pemberian-Nya (Swt), bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.
Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh Allah terhadap junjungan kita Nabi Muhammad (saw) atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji I Rasulullah (saw) dengan tujuan supaya kita lebih dekat | kepada Rasulullah. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan Wngga akhir hayat.

Bertarekat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada para Wali, ulama, guru-guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syareat dan tarekat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan milik kita apalagi melakukan korupsi, misalnya yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudu saja, insyaAllah masalah korupsi itu bisa terberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan suatu yang baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengar kalau informasi itu justru akan memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan pecah belah dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainnya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari Allah.

Mengapa kita harus berwudu ketika akan mendirlkan shalat? Berwudu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya jugamembersihkan kotoran batinlah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudu dan shalat itu secara tarekat.
Bagi para murid yang ingin belajar tarekat, saya anjurkan, mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru yang ingin ditaati muridnya, cobalah didik para murid itu seperti timba yang mendekati sumurnya, bukan sumuryang mendekati timbanya.

Maka akan terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya. Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar hanya pada satu guru. Sebagai contoh mudahnya, kalau air teh dicampur susu lalu dicampur lagi dengan kopi atau lainnya, meskipun halal, apa jadinya? Bagaimana rasanya? Jadi kalau ingin minum teh, minum saja teh tanpa dicampur dengan lainnya. Nikmati minum teh dengan gula, kemudian cari manfaatnya bagi tubuh. Begitu juga kalau ingin minum kopi, susu, atau lainnya. Itu hanya sebagai perumpamaan. Jadi, kalau ingin belajar tarekat, jangan sekadar melihat organisasi itu besar Meski organisasi tarekat itu kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita, sehingga iebih mendekatkan diri kepada Allah, tidak perlu ragu lagl untuk mengikutinya.

Sumber: Al Kisah
Selengkapnya...

Friday, February 24, 2012

Rumi : Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia,
Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit.

Karena benda-benda terinderai itu
letaknya di alam bawah.

Cahaya Tuhan itu bagaikan laut,
sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya.

Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak,
yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata.


Cahaya inderawi, yang kasar dan berat,
tersembunyi pada hitamnya mata.

Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi,
bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian?

Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi,
apalagi apa yang ada dibaliknya,
yang lebih murni dan halus?

Alam-dunia ini bagaikan jerami,
dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak;
ia hanya dapat menyerahkan diri,
tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak.

Kadang ia dibuat merunduk,
kadang menengadah;
kadang bersuara,
kadang utuh, kadang terpecah.

Kadang ia digerakkan ke kiri,
kadang ke kanan;
kadang darinya tumbuh duri,
kadang menyembul mawar.

Perhatikanlah, dibalik pena yang menulis,
tersembunyi Tangan;
di atas kuda yang berderap,
ada Pengendara tak-nampak.

Jika anak-panah melayang,
mestilah ada Busurnya,
walau tak-nampak;
jika tampak diri-diri kita,
mestilah ada Diri yang tersembunyi.

Jangan patahkan anak-panah,
karena ia berasal dari Sang Raja;
tidaklah ia dilepaskan tanpa suatu maksud,
ia berasal dari genggaman jemari Sang Tunggal,
yang paling mengenal sasaran.

Dia bersabda, "... dan bukanlah engkau yang
melempar, ketika engkau melempar ..": [1]
tindakan-Nya mendahului
tindakan-tindakan kita.

Patahkanlah kemarahanmu,
bukannya anak-panah itu:
tatapanmu yang penuh amarah
menganggap susu sebagai darah.

Ciumlah anak-panah itu,
dan persembahkan kepada Sang Raja;
anak-panah berpercik darah,
darahmu sendiri.

Apa yang tampil di alam nampak,
tak-berdaya, terpenjara dan rapuh;
apa yang tak-nampak
begitu perkasa dan agung.

Kita lah hewan buruan,
yang ditunggu jebakan sangat menakutkan;
kita bagai bola dalam permainan polo,
menunggu pukulan tongkat,
dan dimanakah Sang Pemukul?

Dia menyobek,
Dia pula yang merajut:
dimanakah Sang Penjahit?
Dia meruntuhkan,
Dia yang membakar,
dimanakah Sang Pemadam api?

Dalam sekejap Dia dapat mengubah
seorang suci menjadi kufur;
sekejap pula Dia dapat mengubah
penyembah berhala menjadi seorang zahid.

Seorang mukhlish setiap saat dalam bahaya
terjatuh kedalam jebakan,
sampai dirinya sepenuhnya termurnikan.

Karena dia masih berjalan,
dan penyamun tak terhingga jumlahnya;
yang berhasil selamat hanya
mereka yang dijaga-Nya.

Jika belum mati seseorang
dari dirinya sendiri--bagaikan cermin kemilau,
dia tak-lebih dari seorang yang mukhlish:
jika dia belum berhasil menangkap burung,
maka dia masih berburu.

Tapi ketika seorang mukhlish
diubah menjadi mukhlash, [2]
maka dia telah sampai:
dia menang dan selamat.

Cermin tak berubah kembali menjadi besi,
roti tak berubah lagi menjadi biji gandum.

Cairan anggur tak berubah lagi jadi buah;
buah matang tak kembali jadi mentah lagi.

Matanglah,
dan menjauhlah dari kemungkinan berubah
jadi kembali buruk:
jadilah Cahaya,
bagai Burhan-i Muhaqqiq. [3]

Catatan:
[1] QS Al Anfaal [8]: 17.
[2] "(Iblis) berkata: 'Maka bersama dengan ke-Kuasaan Engkau,
akan kusesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba
Engkau yang al-Mukhlashiin." (QS Shaad [38]: 82 - 83).
[3] Penerjemah belum berhasil mengindentifikasi siapa
gerangan tokoh yang Rumi gelari dengan 'Burhan-i Muhaqqiq' ini.

Sumber:
Rumi: Matsnavi II 1294 - 1319.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Selengkapnya...