Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
Termasuk perilaku yang harus dilakukan murid, hendaknya berusaha menipu daya bisikan-bisikan nafsunya,
memperbaiki akhlaknya, menghilangkan kelalaian (ghaflah) dengan Allah dan hatinya dengan cara selalu membiasakan berdzikir (mengingatNya). Ini bisa dilakukan dengan cara memperbanyak bacaan al-Qur’an dan shalat. Maka seorang murid yang benar-benar jujur tidak akan berpaling darinya, sebab al-Qur’an merupakan dzikir yang sempurna, dan demikian pula shalat.
Maka tugas utama seorang murid adalah membersihkan bagian lahir dan batin dari sifat-sifat yang menghalanginya untuk masuk ke hadirat Allah Azza wa-Jalla, seperti marah, tinggi hati, takabur, bangga dengan dirinya dan lain-lain. Apabila seorang murid telah membersihkan dirinya dari sifat-sifat tercela seperti itu, maka ia patut untuk membaca al-Qur’an, bermunajat dan berhadapan dengan Tuhannya, berhenti di depan-Nya untuk shalat dan lain-lain. Inilah yang dilakukan para salaf saleh.
BERDZIKIR KEPADA ALLAH MENYINARKAN HATI
SAYA pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata:
“Para guru tarekat sufi sudah tidak mampu lagi menemukan obat yang lebih cepat menyinarkan hati sang murid selain melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla. Maka orang yang selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan pasir, sementara orang yang melakukan ibadah tapi tidak selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga dengan sabun. Orang ini sekalipun berusaha memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan sabun, tapi ia butuh waktu yang cukup lama dan itu pun tidak bisa mengkilap seperti tembaga yang digosok dengan pasir atau debu.”
Diantara perilaku seorang murid apabila ia tinggal di zawiyah (pemondokan) atau di tengah keramaian pasar hendaknya yang dijadikan modal utama adalah sanggup bersabar dengan penuh lapang dada dan memaafkan semua orang yang datang kepadanya dengan membawa apa yang tidak disuka. Ia juga harus sanggup menerima dengan senang hati, rela dan pasrah terhadap apa yang dibawa orang-orang yang tinggal di pemondokan atau mereka yang tinggal di tengah keramaian pasar. Kalau tidak, maka dengan cara bersabar. Kalau tidak sanggup bersabar atas tindakan kasar saudara-saudaranya dan masyarakat sekitarnya maka tidak pantas masuk ke dalam tarekat kaum sufi, dan sebaiknya keluar menuju ke kalangan orang-orang awam dan meninggalkan tarekat kaum sufi.
Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi bercerita:
AbuYazid al-Bisthami tidak mau tinggal di suatu tempat kecuali bila orang-orang yang ada di sekitarnya mengingkari, selalu menyakiti dan meremehkannya. Ini dia lakukan untuk melatih diri (nafsu)nya. Ketika orang-orang di sekitarnya sudah mulai menghormati dan banyak berterima kasih kepadanya, dia akan segera rneninggalkan mereka. Barangkali ini dilakukan pada tahap awal dia masuk ke kalangan kaum Sufi.
Apabila seorang murid di negerinya tidak menemukan seorang guru yang bisa mendidiknya maka hendaknya pindah ke orang yang sudah dianggap bisa memberikan petunjuk kepada para murid pada saat itu, sekalipun jarak antara dia dengan tempat guru tersebut memerlukan waktu setahun atau lebih (barangkali perjalanan kaki; Pent.). Terutama apabila ia diuji dengan mencintai harta, perempuan atau jabatan, maka ia harus hijrah meninggalkan tempat tersebut untuk menyelamatkan diri dari bencana tersebut. Sebab segala sesuatu yang dijadikan sarana untuk mendapatkan sesuatu yang wajib maka sarana tersebut akan menjadi wajib.
APAKAH SEORANG MURID HARUS MENJADIKAN GURU LAIN SETELAH GURU PERTAMANYA WAFAT?
DIANTARA kewajiban seorang murid apabila gurunya telah wafat maka ia harus menjadikan guru lain yang menggantikan posisi guru pertamanya dalam mendidik dan merawat apa yang telah dilakukan oleh guru pertamanya. Sebab tarekat tidak akan bisa kokoh.
Ketika Syekh Muhammad as-Surawi, guru dari guruku, Syekh Muhammad asy-Syanawi wafat, dimana gurunya telah mengizinkan untuk men-talqin dan membina para murid, maka Muhammad asy-Syanawi berkumpul dengan Tuan Guru Ali al-Murshifi dan menerima bimbingan dzikir darinya, dimana Tuan Guru Ali al-Murshifi mengatakan kepadanya: “Engkau —syukur alhamduliLlah— telah sampai pada tingkatan para tokoh sufi, maka engkau tidak perlu untuk di-talqin dzikir.” Lalu ia menjawab, “Saya tidak ingin diam sesaat tanpa bimbingan seorang guru, sekalipun saya termasuk orang yang telah mendapatkan bimbingan dzikir darinya dan mendapatkan izin untuk membimbing para murid.”
Kemudian sang guru berkata, ‘Wahai anakku, engkau akan mendapatkan bimbingan dzikir lagi dari gurunya gurumu, agar engkau dan gurumu sama-sama murid dari Tuan Guru Ali.”
Kasus seperti ini hanya boleh terjadi pada orang-orang yang benar-benar jujur dalam tarekat. Adapun orang yang bukan kelompok orang-orang yang benar-benar jujur maka dirinya tidak akan mengizinkan untuk mendapatkan bimbingan dzikir dari guru lain setelah mereka mendapatkan izin untuk membimbing dzikir dan membina para murid. Hal itu dianggap sebagai tanda-tanda tidak mendapatkan pertolongan, dan merupakan tanda pertama kali bahwa gurunya telah berkhianat dalam memberi izin. Sebab orang fakir sufi yang secara sah telah memberi izin maka ia tidak punya ambisi, dimana ia sudah membina dan mendidik para murid, sementara ia menganggap dirinya bukan dari bagian mereka.
Sumber: Sufinews.com
Selengkapnya...
Sufi Road
Jalan orang-orang sufi.. Pecinta menuju makrifatullah Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Thursday, May 23, 2013
Menyebuhkan Nafsu
Saturday, May 18, 2013
Sunan Bonang dengan Santrinya
Kisah Hikmah untuk memahami syukur nikmat dari Allah
Sebagai seorang wali, Sunan Bonang selalu mengembara untuk menyebarkan agama. Sering kali ia berjalan sendirian, menempuh hutan belantara, mendaki gunung yang tinggi, menuruni jurang yang curam dan mendatangi dusun terpencil di kaki bukit berhutan lebat.
Pada suatu hari ia melakukan perjalanan bersama seorang santrinya. Mereka membawa bekal nasi bungkus yang dibeli di warung pada sebuah desa di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah selesai shalat Dzuhur, di tepi sebuah telaga yang bening, kedua orang guru dan murid itu beristirahat pada suatu tempat yang lapang dalam naungan daun-daun sebatang pohon beringin yang rimbun.
Mereka membuka nasi bungkus masing-masing, lalu memakannya dengan lahap karena perut sudah keroncongan. Tentu saja diawali membaca basmalah dan doa syukur kepada Tuhan.
Rupanya, karena nikmatnya, santri Sunan Bonang sampai tidak sadar di pinggir mulutnya ada beberapa butir nasi yang menempel. Ketika selesai makan butir-butir tersebut masih disitu. Sunan Bonang sebagai guru lantas menegur, "Hai, santri. Jorok kamu."
"Mengapa guru?" tanya santri heran.
"Orang Islam tidak boleh jorok. Kebersihan adalah sebagian dari iman."
"Apa saya jorok?"
"Itu, di tepi bibirmu banyak butir nasi tertinggal," jawab Sunan Bonang sambil menuding dengan telunjuknya.
Maka, dengan kemalu-maluan ia segera mengusap bibirnya dan membuang nasi itu ke tanah. Tiba-tiba Sunan Bonang menghardik :
"Hai santri. Bodoh kamu! Mengapa kau buang begitu saja sisa-sisa nasi itu?"
Santri tersebut makin tidak paham. Ia pun berdalih, "Bukankah Guru mengatakan jorok kepada saya karena ada butir-butir nasi di mulut saya? Maka saya buanglah nasi itu. Apa harus saya makan?"
"Tidak, bukan kau makan. Memang ada hadits Nabi yang mengatakan beliau menganjurkan agar makanan yang tersisa di ujung-ujung jari pun harus dihabiskan, kalau perlu menjilatnya. Tapi maksudnya bukan harfiah begitu. Beliau bermaksud agar kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan, meskipun cuma sedikit."
"Berarti tindakan saya membuang sisa nasi di mulut saya tadi tidak salah?"
"Tidak."
"Jadi mengapa Guru mengatakan saya bodoh dan marah kepada saya?"
"Karena kamu memang bodoh."
"Maksud Guru?"
"Kau boleh membuang sisa nasi itu, tetapi harus dengan niat. Yaitu, karena nasi tersebut tidak mungkin kau manfaatkan lagi, maka buanglah dengan niat agar bisa dimakan oleh mahluk-mahluk Allah yang lain, seperti semut,dan sebangsanya. Sebab kalau kamu tidak dengan niat begitu, berarti kamu membuat mubazir rezeki Allah, kurnia Allah. Dan orang-orang yang suka berbuat mubazir adalah saudaranya setan. Termasuk jika kamu membuang makanan basi ke tempat sampah, berniatlah agar dimakan anjing atau babi. Mereka juga mahluk Allah yang perlu disayangi. Meskipun mereka hukumnya najis "Mughaladzah", tidak berarti boleh disakiti atau dianiaya. Mereka juga harus diperhatikan nasibnya."
Sumber: 30 Kisah Teladan, Pengarang : KH Abdurrahman Arroisi.
Selengkapnya...
Akal, Nafs Dan Hawa
Mutiara Hikmah Kitab : Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn
Allah Ta’âlâ berfirman kepada orang-orang yang memiliki hati, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.” (QS Qaf, 50:37)Dan ketika menyebut nafs Allah Ta’âlâ berfirman, “Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS Yusuf, 12:53)
Allah berfirman kepada Musa as, “Salahkanlah nafs-mu, karena yang paling layak untuk disalahkan adalah nafs. Ketika bermunajat kepada-Ku, bermunajatlah dengan lisan yang shidq dan hati yang takut.”
Ketahuilah, setiap kali hati memiliki sesuatu yang baik, maka nafs pun memiliki hal serupa yang dapat mengaburkan. Sebagaimana Allah memberi hati keinginan (irâdah), maka Allah juga memberi nafs angan-angan kosong (tamanniy). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan cinta (mahabbah), maka Allah memberi nafs hawa nafsu (hawâ). Sebagaimana Allah memberi hati harapan (rojâ`), maka Allah memberi nafs ketamakan (thoma’). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan takut (khauf), maka Allah memberi nafs perasaan putus asa (qunûth). Perhatikan dan renungkan kata-kataku ini.
Salah satu contoh yang dapat memberikan gambaran jelas kepadamu adalah keadaan orang yang terlilit hutang. Kamu seringkali melihat orang yang tidak mau melunasi hutangnya. Namun ketika memperoleh harta, ia justru menyedekahkannya, dan tidak berusaha melunasi hutangnya. Itulah contoh perbuatan baik yang timbul dari nafs. Sebab, di antara sekian banyak jenis nafs, ada nafs yang suka melakukan murûah dan merasakan kenikmatan ketika memberi.
Orang yang nafs-nya seperti ini merasakan kenikmatan dalam memberi sebagaimana orang jahat merasakan kenikmatan ketika menolak permohonan pertolongan. Demikian pula halnya dengan mereka yang mengerjakan sunah, tapi meninggalkan yang wajib. Misalnya: orang yang mengerjakan ibadah haji berulang kali dengan uang halal dan haram serta mengabaikan ketakwaan dalam urusan-urusannya yang lain. Di antara mereka ada yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, tapi meremehkan salat. Hasan Al-Bashri rhm berkata, “Ada seseorang berkata,’ Aku telah haji, aku telah haji.’ Kamu telah menunaikan ibadah haji, oleh karena itu sambunglah tali silaturahmi, bantulah orang yang sedang kesusahan, dan berbuat baiklah kepada tetangga.”
Contoh lain adalah orang-orang yang mencari harta haram kemudian membelanjakannya dalam kebaikan. Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, semua perbuatan ini digerakkan oleh nafs, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan hati.
Allah menjadikan “perbuatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan” untuk nafs dan “perbuatan yang dikerjakan secara wajar” untuk hati. Jika kamu melihat perilaku, atau pencarian ilmu dan ibadah dikerjakan dengan tenang (thuma’ninah), maka ketahuilah bahwa perbuatan itu muncul dari hati dan pelakunya adalah orang berakal. Tetapi, jika kamu melihat seseorang yang perilaku, cara menuntut ilmu dan ibadahnya tidak dilakukan dengan tenang, pelakunya emosional dan bodoh, maka ketahuilah bahwa kegiatan itu digerakkan oleh nafs dan hawâ. Sebab, hawâ merusak dan menggoncangkan akal. Di mana pun berada, hawâ akan selalu merusak.
Demikianlah sifat hawâ. Jika hawâ berinteraksi dengan akal, hawâ akan merendahkan dan menggoyahkannya. Jika berinteraksi dengan agama, hawâ akan mengotori dan merusaknya. Sehingga kamu dapat melihat bahwa orang yang agamanya dan cara ber-sulûk-nya baik bila dikuasai oleh hawâ, urusannya menjadi kacau, keadaannya menjadi buruk dan dibenci masyarakat. Begitulah sifat kebatilan, ia akan merusak kebenaran, jika keduanya bercampur. Jika hawâ mampu merusak orang yang berakal dan beragama, lalu bagaimana menurutmu jika hawâ merasuki para pecinta dunia yang jiwanya lemah? Bagaimana keadaan mereka nanti?
Segala hal yang dirusak oleh hawâ dapat diperbaiki oleh akal, karena hawâ mempunyai tingkat setaraf dengan akal. Hawâ akan merendahkan dan menjerumuskan manusia, sebaliknya akal akan memuliakan dan meninggikannya. Sungguh besar perbedaan keduanya!
Kamu lihat orang yang dipengaruhi hawâ tampak seperti orang buta, tidak tahu jalan (menuju Allah). Hawâ menghambatnya dari mencari sesuatu yang memiliki hakikat, membuatnya tidak memikirkan akibat perbuatan yang ia lakukan, membuatnya suka bertengkar dan bermusuhan, membuang-buang umur dalam mencintai dan membanding-bandingkan keutamaan para imam.
Lain halnya dengan orang-orang yang berakal, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, menyempurnakan semua amal mereka dengan niat-niat yang baik, memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, berusaha keras untuk berbuat kebajikan, dan menyesali perbuatan baik yang tidak dapat mereka kerjakan.
(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)
Catatan:Hawâ adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawâ. Oleh karena itu, jauhilah hawâ dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawâ akan menodai agama dan murûah-mu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu dapati bahwa hawâ-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawâ merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawâ bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu dan akan hilang akal sehatnya.
Murûah: usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk oleh masyarakat.
Selengkapnya...
Saturday, May 11, 2013
Mencium Tangan Orang Yang Dihormati
Banyak orang yang mudah mengatakan bahwa sesuatu itu bid‘ah, tak ada dasarnya, dan sebagainya, tanpa memeriksanya dengan seksama.
Di antaranya dalam masalah mencium tangan.
Banyak hadits yang menyebutkan masalah mencium tangan. Di antaranya dari Sayyidina Jabir disebutkan bahwa Sayyidina Umar mencium tangan Rasulullah. Demikian diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibn Al-Muqri Al-Ashbihani. Sedangkan dalam riwayat dari Ummu Aban binti Al-Wari‘ bin Zari‘ dari kakeknya, Zari‘, disebutkan bahwa kakeknya itu, yang suatu ketika berada dalam rombongan Abdul Qais, mengatakan, “Ketika datang ke Madinah, kami segera beranjak dari kendaraan-kendaraan kami lalu mencium tangan dan kaki Nabi SAW.” Hadits ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dalam At-Tarikh Al-Kabir. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Ath-Thabarani, dan Ahmad.
Ibnu Jad‘an meriwayatkan bahwa Tsabit bertanya kepada Anas, “Apakah engkau pernah memegang Nabi SAW dengan tanganmu?”
Anas menjawab, “Ya.”
Maka Tsabit pun mencium tangannya.
Di dalam kitab Fath Al-Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, disebutkan bahwa Abu Lubabah, Ka‘ab bin Malik, dan dua orang sahabat Ka‘ab mencium tangan Nabi SAW setelah Allah menerima taubat mereka.
Dalam sebuah keterangan, Shuhaib mengatakan, “Aku melihat Ali mencium tangan dan kaki Al-Abbas.” Demikian disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Ibnu Katsir dalam kitabnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dalam keterangan mengenai penaklukan Baitul Maqdis oleh Umar bin Al-Khaththab, mengatakan, “Ketika sampai di Syam, Umar disambut oleh Abu Ubaidah dan para pembesar, seperti Khalid bin Al-Walid. Abu Ubaidah dan Umar berjalan saling mendekat. Abu Ubaidah ingin mencium tangan Umar sedangkan Umar ingin mencium kaki Abu Ubaidah. Abu Ubaidah menolak, maka Umar pun menolak.”
Para tokoh ulama dari berbagai madzhab pun menjelaskan bolehnya mencium tangan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya, Fath Al-Bari, menyebutkan bahwa Al-Imam An-Nawawi mengatakan, “Mencium tangan seseorang karena kezuhudannya, keshalihannya, ilmunya, kemuliaannya, atau alasan-alasan keagamaan lainnya, adalah sesuatu yang tidak makruh, bahkan disunnahkan. Tetapi jika mencium tangan seseorang karena memandang kekayaannya, kekuasaannya, atau kedudukannya di kalangan ahli dunia, itu perbuatan yang sangat dibenci.”
Al-Allamah Al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya mengatakan, “Dan disunnahkan mencium tangan karena alasan keshalihan dan alasan-alasaan keagamaan lainnya, seperti ilmu dan kezuhudan. Tetapi perbuatan mencium tangan itu dibenci apabila karena kekayaan dan alasan-alasan keduniaan yang lain, seperti kekuasaan atau kedudukan.”
Bukan hanya para ulama Madzhab Syafi‘i yang berpendapat demikian. Para ulama dari madzhab-madzhab lain juga menegaskan hal yang sama. Ibnu ‘Abidin, salah seorang pemuka Madzhab Hanafi, mengatakan dalam Hasyiyah-nya, “Tak apa-apa mencium tangan seorang alim yang wara‘ untuk mendapatkan keberkahan, dan ada pula yang mengatakan bahwa itu sunnah.” Al-Allamah Ath-Thahawi, pemuka Madzhab Hanafi, pun mengatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil (karena keadilannya, bukan karena kekuasaannya) adalah dibolehkan.” Kemudian ia mengatakan, “Kesimpulan dari apa yang kami sebutkan adalah bahwa mencium tangan itu sesuatu yang dibolehkan.”
Az-Zaila‘i dalam kitabnya, Tabyin Al-Haqaiq, mengatakan, “Dalam Al-Jami‘ Ash-Shaghir dikatakan: Asy-Syaikh Al-Imam As-Sarkhasi dan sebagian ulama mutaakhirin membolehkan mencium tangan seorang alim atau seorang yang wara‘ dengan maksud mendapatkan keberkahan.” Sedangkan Ats-Tsauri mengatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil adalah sunnah.”
Al-Allamah As-Sifaraini, tokoh ulama Madzhab Hanbali, mengatakan dalam kitabnya, Ghidza’ Al-Albab, bahwa Al-Marwadzi menyebutkan, “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal) mengenai mencium tangan. Beliau menjawab, ‘Jika itu dilakukan karena alasan agama, tidak apa-apa. Tetapi bila karena alasan dunia, tidak dibolehkan.”
As-Sifaraini juga mengatakan, “Al-Hafizh Ibn Al-Jauzi menjelaskan, ‘Sepatutnya seorang penuntut ilmu sangat tawadhu’ kepada seorang alim dan merendahkan diri kepadanya, dan di antara ketawadhu’an itu adalah mencium tangan. Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin `Iyadh mencium Al-Husain bin Ali Al-Ja`fi; salah satu dari keduanya mencium tangannya dan yang lain mencium kakinya.”
Dari hadits-hadits dan keterangan-keterangan para ulama di atas dapat disimpulkan, mencium tangan karena alasan-alasan agama adalah dibolehkan, sedangkan mencium tangan karena alasan dunia tidak dibolehkan.
Sumber: Majalah Al Kisah
Selengkapnya...
Monday, April 22, 2013
Madrasah Hadhramaut: Taubat
Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.
Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah SWT setelah munculnya al-baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.
Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kembali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ketiganya terpenuhi dan tercakup, terwujudlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.
‘Ilm
‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang kelak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui kematian, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang telah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.
Sang hamba mengetahui bahwa hidup yang teramat singkat ini akan berujung pada satu masa ketika ia akan berdiri seorang diri di hadapan Raja dari segala raja, Yang akan menanyainya seorang diri dengan tanpa ada seorang pembela pun dan tidak pula seorang perantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang diajukan. Maharaja itu akan berkata kepadanya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah engkau di hari ini, di waktu ini... engkau menutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makhluk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedangkan engkau terang-terangan mempertunjukkan kepada-Ku satu perbuatan yang tidak Aku ridhai. Di manakah engkau taruh pandangan-Ku saat itu? Hamba-Ku, mengapa engkau jadikan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”
Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibumu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun berkembang dengan karunia itu, lalu engkau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”
Saat-saat kelak kita dimintai pertanggungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.
Seorang hamba pun mengetahui bahwa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidaklah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan tidak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Di saat memperhatikan semua penjelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk dapat memahami makna-makna mulahaqah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (meneladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).
Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.
Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang berkumpul di sekitarnya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari semua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya masing-masing.
Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya kedudukan seorang hamba di sisi Allah, Dia, bahkan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang tidak pernah durhaka kepada-Nya, sebagai pendampingnya setiap saat.
Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir hayatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir mengawasi).” — QS Qaf (50): 18.
Seorang hamba adalah pemilik kedudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua perbuatannya akan dicatat, dihitung, kemudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentukan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurkaan, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.
Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sampainya ruh ke ujung kerongkongan. Tidak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada waktu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Semuanya datang dengan tiba-tiba dan sekejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahukan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.
Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keadaan menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”
Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”
“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.
Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi dengan raut muka yang tidak lagi menunjukkan kegembiraan.
Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”
Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”
Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”
Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?
Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke dalam surga atau neraka?” Setelah kekhawatirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di dalam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikirannya selama itu tentang surga dan neraka. Yakni makna hubungan seorang hamba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedurhakaan ini dan itu, makna bahwa Allah menutupi semua keburukannya dari pandangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan semua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.
Semua perasaan itu melahirkan penyesalan terhadap semua keteledoran, kedurhakaan, dan keberanian yang selama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut penyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.
Hal
Hal dalam konteks ini adalah penyesalan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf memegang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meskipun seandainya akan dimaafkan!”
Penyesalan semacam ini akan menimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hatinya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melakukannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”
Fi‘l
Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penyesalan dan ilmu itu akan membuahkan keteguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.
Adapun apabila kesalahan atau maksiat itu berkaitan dengan hak-hak manusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada perkara keempat yang harus dilakukan, yakni mengembalikan hak-hak itu kepada pemiliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pemiliknya.
Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum terhitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.
Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?
Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demikian berarti ia telah menunaikan kewajibannya dalam taubat. Allah akan memuliakannya dengan memberinya anugerah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu kepada mereka, Allah akan memuliakannya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.
Lembaran-lembaran Dosa
Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.
Pertama, lembaran dosa yang pelakunya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosanya seluruhnya.
Kedua, lembaran dosa yang pelakunya tidak akan diampuni. Yakni dosa syirik akbar, syirik besar. Syirik akbar adalah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidaklah takut kalian akan berbuat syirik (akbar) setelahku, akan tetapi yang aku takutkan adalah akan dibukakannya dunia atas kalian.”
Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat seseorang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak itu.
Dosa Besar dan Kecil
Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian sahabat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain mengatakan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”
Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa besar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun termasuk dosa besar, dan semua perbuatan keji termasuk dosa besar.
Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat tergolong dosa besar.” Dan meremehkan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.
Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menuntut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun kepada-Nya.
Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada beberapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.
Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.
Itulah taubat.
Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kedekatannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna sebelumnya.
Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku supaya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”
Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah memberimu taubat agar engkau bertaubat.”
Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini senantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkatan yang dikatakan ulama sebagai tingkatan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.
Sumber :www.majalah-alkisah.com
Selengkapnya...
Tawasin (6): Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Keabadian /Kekeliruan Pemahaman)
[: Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan dengan wacana publiktentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...]
1.
Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Allah merahmatinya, berkata: "Tidak ada misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,shalawat dan salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad merasakan Zatnya-Zat."
2.
Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan kepada Muhammad: "Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun tidakmenengok. Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak celingukan, tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)
3.
Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak kembali ke kemampuan awalnya.
4.
Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia kembali ke kemampuannya.
5.
Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia, dan kepada Engkau semata aku mengabdikan diriku." Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balikhati." Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau dipuji."
6.
Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang seperti Iblis.
7.
Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam pengasingan khusyuknya.
8.
Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak
9.
Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia menjawab: "Tidak,kepada yang selain Engkau." Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku jatuh menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan mengazabku!"
10.
"Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi, apalah Adam dibandingkan dengan-Mu, dan siapalah aku -- Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"
11.
Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan berkata: "Tidak ada jalan bagiku kepada yang lain selain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia berfirman kepadanya: "Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu saja kilasan pandang di antara kita, itu cukup membuatku sombong dan takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu, dan "aku lebih baik daripadanya" (QS.7: 12), sebab aku lebih lama mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua jenis makhluk (Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!" "Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan keduanya mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau, ataupun tidakbersujud, niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku. Karena Engkau menciptakan aku dari api, dan api kembali ke 'api', menuruti keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang adanya milik-Mu."
12.
"Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa jarak dan kedekatan itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku. Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!" "Terpujilah Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau, bagi sang pemuja setia ini, yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!"
13.
Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya: "Hai Iblis, apa yang mencegahmu dari bersujud?" Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah pernyataan ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan, jika aku bersujud, aku akan menjadi sepertimu. Karena kau hanya perlu dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau langsung menengok. Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali untuk menyujudkan diriku kepada Adam, aku tidak bersujud, karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku."
14.
Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis pun menjawab: "Itu sebuah ujian, bukannya perintah." Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar kemenduaan dari penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku tidak bergantung atasnya, bahkantidak berubah. Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya, dan itu tidak berubah kendatipun pribadinya berubah."
15.
Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?" "Hai Musa, pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku mengingat (Dia) dan Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan ingatanku adalah ingatan-Nya.Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat, kami berdua berlainan satu sama lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang, ingatanku lebih agung,sebab aku mengabdi kepada-Nya secara mutlak demi keberuntunganku, bahkan sekarang aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."
16.
"Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku atau menahanku,baik demi kerugian ataupun keuntungan. Dia mengasingkanku, membuatku mabuk- kepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga aku tidak dapat berpadu dengan para ruh suci. Dia menjauhkanku dari yang lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya)supaya Dia Sendiri saja. Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku. Dia mengagumiku,sebab Dia membuangku. Dia membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia mempertunjukkan kekurangan nilaiku disebabkan aku memuji Keagungan-Nya. Dia menyederhanakanku dengan sehelai kain ihram disebabkan kehajianku [hijya]. Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'- ku atas-Nya dalam zikir. Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku. Dan, Dia memencilkanku disebabkan Dia mencegah hasratku."
17.
"Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam memperhatikan titah-Nya,bukannya aku menolak takdir. Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku. Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini."
18.
"Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada pribadi atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam 'cinta'!"
19.
Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)spiritualnya 'Azazyl () [sebutan Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu misi (lainnya) di bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat, menunjukinya tentang amalan yang baik.Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang perbuatan yang jahat."
20.
"Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali dengan (mengenali) yang sebaliknya. Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya, malaikat mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata simbolis, "Jika kau beramal, kau akan mandapat pahala." Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya, niscaya tidakdapat mengenali kebaikan."
21.
Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun tentang kehormatan Sang Pemurah." Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya kehilangan gelar kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada Rasul (Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku."
22.
Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku."
23.
Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)," maka ia tidak melihat sesuatu pun selain dirinya. Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak bahwa kau (Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak mengetahui bahwa sembarang rakyatnya dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.
24.
Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka kenalilah pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)! Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!"
25.
Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis diancam dengan api dan tidakmencabut pernyataannya. Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara (rasul). kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS. 10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa Allah pun menentang Jibril dalam Keagungan-Nya? Dia berfirman: "Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"
26.
Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong, tanpa aku mencabut pernyataan tegasku!
27.
Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl ().'Ain'-nya () menunjukkan keluasan ikhtiarnya,'zay'-nya () adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),'alif'-nya () sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,'zay'-nya () yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,'ya'-nya () langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan 'lam'-nya () ketegarannya dalam kesakitannya.
28.
Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!" Ia menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!" Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau menyebutku nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata, wahai Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku. Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada Adam, padahal Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari api? Dua hal yang berlawanan tidak dapat diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama, juga memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas, serta aktivitas yang lebih sempurna."
29.
Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya: "Pilihan adalah milik-Ku,bukannya milikmu." Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik- Mu. Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq. Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as), Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu. Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang Maha Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku niscaya taat. Aku tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripada aku."
30.
Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku, anugerahilah aku, wahai Penguasaku,demi aku sendiri. Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran prinsip,tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang berhasrat menulis ikrarku ini, atau membacanya, akan mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid!
31.
Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),dibebastugaskan dari kesucian purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya, sebab ia tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.
32.
Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya. Ia mendapatkan dirinya antara api tempat peristirahatannya dan cahaya posisi ketinggiannya.
33.
Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis) terazab kehausan di tempat yang (airnya) berlimpah-ruah. Ia menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan ke-'buta'-annya adalah kesia- siaan -- itulah ia adanya!
34.
Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan sempit di kesempitannya yang teramat sangat. Kau telah menunjukkan khayalan itu kepadamu dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan, kau akan menderita serta penuh kegelisahan.
35.
Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis, dan para 'arifin tidakmemiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis).Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih dekat daripada mereka kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada perjanjian, serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.
36.
Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Allah), sedangkan Iblis menolak (bersujud) karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.
37.
Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan pikirannya kesasar, sehingga ia berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap di balik tabir,tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan mengusung kutukan di atas pundaknya hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti.
Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana
Selengkapnya...
Tawasin (5): Thasin Al Nuqtah (Titik)
1.
Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang
Titik „AzaliyAda yang lebih
halus dari itu, yakni penyebutan tentang
Titik „Azaliy
yang berupa Asal, dan yang (keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga habis sirna dirinya.
2.
Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena tidakmengetahui aku, malah menyebutku
bid‟ah.
Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis, serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan, juga demikian terhadaplingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.
3.
Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang Pemangku Ilham.
4.
Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah pengaruh nafsu.
5.
Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan perhatiannya beralih dariku.
6.
“Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun.
Pada hari itu hanya Tuhan penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang perbuatan
yang didahulukannya dan yang dilalaikannya.” (QS. 75: 11
-13)
7.
Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri pada sang pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya tersesat.
8.
Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan
(baqa‟).
Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.
9.
Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung dalam penerbangannya.
10.
Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya:
“Pangkaslah sayapmu
dengan gunting penyirnaan-diri
(fana‟).
Kalau tidak, kau tidak dapat mengikuti aku.”
11.
Ia
berkata kepadaku: “Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku.”
Aku katakan
kepadanya: “Hati
-hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia
sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Maka, seketika itu ia jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.
12.
Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:
Aku
„melihat‟
Tuhanku dengan mata hatiku,
aku menyapa: “Siapakah Engkau?”
Dia menjawab:
“Kau!”
Namun, bagi-Mu,
„di mana‟
tidak memiliki tempat. Dan, tidak ada
„di mana‟
ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak punya bayangan tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal mengetahui
„di mana‟
adanya Engkau. Engkau adalah Sesuatu yang meliputi setiap
„di mana‟,
mengatasi
„titik‟
yang tak di mana-mana. Jadi,
„di mana‟
Engkau adanya?
13.
Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.
14.
Ia begitu dekat” saat kenaikannya
(mi‟raj)
–
“ia tampak kembali” saat kemuncakannya
(transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak kembali.Ia menanggalkan hatinya
„di sana‟, dan begitu dekat kepada
-Nya. Ia sirna
(fana‟)
ketika
„melihat‟
Allah, kendati demikian ia tidak sampai tuntas sirna
(fana‟
ul-
fana‟).
Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia tampak dan sekaligus tak-tampak?
15.
Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban. Dengan kesaksian Allah, ia
„menyaksikan‟
Allah. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya.
“Hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.” (QS. 53: 11)
16.
Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat. Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya danmemilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan menjenguknya untuk membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas pelana.
17.
Ada sebuah jarak dari “satu rentangan busur”,
dan ketika ia kembali, ia pun mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya
–
merasa dilihat, ia rendahkan dirinya.Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam keterpesonaan. Dan,karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani, dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.
18.
“Sahabatmu tidak tersesat,” (QS. 53: 2)
ia tidak lemah atau bertambah sedih. Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu
„Saat‟
dari sejatinya masa.
19.
“Sahabatmu tidak tersesat” dalam tafakurnya mengenai Kami.
Ia tidak menyeberang dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan Kami. Ia tidakmenyimpang di taman zikir dalam tafakurnya mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam pengembaraan di alam fikir.
20.
Cukuplah ia mengingat Allah
(zikru‟llah)
dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.
21.
“Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,” (QS. 53: 4)
dari Cahaya ke
„Cahaya‟.
22.
Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan sekadarnya! Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam keghairahanmu. Ketahuilah
–
bahwa kau akan terbang melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan,agar
„melihat‟
Dia yang kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah Suci
(Ka‟bah).
23.
Maka, ia begitu dekatnya kepada Allah, seperti seorang
‟asyiq
yang memasuki
Ma‟syuq.
Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah rintangan yang lebih dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia kembali sebagai
„Abdi.
Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali dengan
bai‟at
sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi, dan kembalinya sebagai ahli tafakur
24.
Jarak di antara keduanya adalah “dua rentangan busur”.
Ia membidik tanda „di mana‟
[„ayna]
dengan panah „di antara‟
[bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.
25.
Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul-
„Addah)
Al-Husain ibn Manshur Al- Hallaj, berkata:
26.
Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk orang yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].
27.
Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.
28.
Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf
„mim‟
( ),
yang merupakan huruf pertanda “apa yang ia pancarkan.”
29.
„Mim‟
(
) yang menandakan “Yang Terakhir”.
30.
„Mim‟
(
) yang juga merupakan untaian “Yang Terawal”.
Rentangan busur pertamanya adalah
„Alam
Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya adalah
„Alam
Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua
„Alam
itu.Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah panah yang Mutlak, panahnya dua rentangan.
31.
Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).
32.
Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang pengertiannya merupakan gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah,bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat tepat.
33.
Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat dalam halusnya perbedaan,lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta,untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan (makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan, karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan, yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalammemperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang arif
(„irfan)
yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat dipahami adanya.
34.
Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya, memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak-
tergugat, yang terawat dalam “Kitab Tersembunyi” (QS. 56: 78),
sebagaimana Dia menyatakannya dalam Kitab (alam)Terbuka,
dalam “Kitab Tertulis” yang menerangkan makna bahasa burung,
ketika Dia mengangkatnya
„ke sana‟.
35.
Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).
36.
Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah tanpa pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu
itu “miliknya” atau “darinya”.
Tapi, apa yang ada padanya cukuplah sebagai “apa yang ada padanya”,
tanpa merasa adanya itu “padanya”,
sebagaimana gurun tanpa air di suatu
“gurun
tanpa air”,
juga sebagaimana pertanda di suatu “pertanda”.
37.
Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan maksudnya,sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan, ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter- lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.
38.
Hukum syari‟at
[syar‟iy]
adalah ciri-khasnya, kebenaran
[haqa‟iq]
adalah gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiapmusafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya. Keinsanan adalah nuraninya,kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah tamansarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.39.
Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku,
syafa‟atnya adalah
permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan duka-citanya adalah kesedihanku.
40.
Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apa-apa kecuali sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya,sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini,semoga rahmat Allah besertamu.
Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana
Selengkapnya...
Saturday, April 20, 2013
Rumi : Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan
Rumi: Matsnawi
Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia,
sang Maha Pengampun, untuk
memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya.
Tetapi takkan sesuatu dikenali
kecuali jika ada lawannya,
dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan.
Maka diangkatnya seorang khalifah,
seorang insan pemilik qalb,
agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya.
Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga,
dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya,
yang berasal dari kegelapan.
Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam:
Yang pertama Adam;
dan lainya Syaithan, sang penghalang jalan
menuju kepada-Nya. [1]
Diantara ke dua kubu ini,
berlangsung pertentangan dan perang;
dan melalui hal-hal itu terjadilah
apa-apa yang harus terjadi.
Demikianlah, pada generasi berikutnya
tampil lah Habil, sedangkan saudaranya Khabil
menentang cahaya murninya. [2]
Lalu , pertentangan ke dua panji itu:
keadilan melawan ke-tidak-murni-an,
memasuki masa kekuasaan Namrud.
Dia menentang dan memusuhi Ibrahim,
dan tentara ke duanya berperang
dan bertempur satu sama lain.
Sampai akhirnya,
Dia berkehendak mengakhiri sengketa itu,
api-Nya menjadi alat penentu diantara mereka.
Lalu dia mengangkat hamba-Nya, sang Api,
menjadi pemutus perkara ini: sehingga persoalan
diantara mereka dapat ditentukan. [3]
Generasi demi generasi berlalu,
sampai pertentangan ke dua kubu itu
memasuki masa Fir'aun dan Musa yang bertakwa.
Pertentangan diantara ke duanya
berlangsung bertahun-tahun.
Terjadi bermacam pelanggaran berat
yang melampaui batas,
dan menyebabkan banyak penderitaan.
Saat itu, Dia menjadikan Air sebagai utusan-Nya,
Laut lah yang menentukan siapa yang benar
diantara mereka yang bersengketa. [4]
Pada masa ketika Mushtafa hadir bertugas,
dia berhadapan dengan Abu Jahl,
pemimpin ke-tidak-adilan.
Di masa kaum Tsamud,
Dia mengutus Suara sebagai abdi-Nya,
gelegar Suara dahsyat mematikan mereka. [5]
Di dalam penghancuran kaum 'Ad,
hamba-Nya yang bertugas adalah Angin, [6]
yang bergemuruh, bergerak naik, dengan cepat.
Ketika Dia mengutus hamba-Nya yang teliti, Bumi,
sebagai utusan kepada Qarun:
dihias-Nya sifat lembut bumi dengan permusuhan.
Saat itu, kelembutan Bumi berubah
menjadi kemurkaan, sehingga
ditelannya Qarun beserta harta-bendanya. [7]
Perhatikanlah fungsi makanan bagi tegaknya tubuhmu,
roti itu ibarat baju zirah yang menahan tombak lapar.
Tapi ketika Dia menaruh kemurkaan dalam rotimu,
roti akan melekat pada kerongkonganmu,
dan membuatmu tersedak sampai terasa tercekik.
Atau ketika pakaianmu
--yang seharusnya melindungimu dari hawa dingin--
dibuat-Nya dingin, setajam es.
Maka segera kau tanggalkan baju-bulu hangat,
dan beralih berlindung kepada hawa dingin.
Pengetahuanmu belum memadai;
ibarat air, jumlah dan kemurniannya
masih tak mencukupi untuk bersuci:
kau lupakan azab yang menimpa
pada hari ketika awan menaungi. [8]
Di kota dan desa,
kepada setiap rumah dan dinding,
turunlah perintah -Nya: "Jangan beri naungan,
Jangan tepis hujan maupun cahaya matahari;"
sehingga kaum itu semua bergegas
menemui Syu'aib, Sang Utusan,
Sambil menjerit, Kasihanilah kami,
wahai Pangeran! Kami seperti telah mati.
Baca lah kisah selanjutnya dalam Al Qur'an.
Kenanglah bagaimana Dia yang Maha Terampil
mengubah tongkat Musa menjadi seekor ular-naga,
itu saja cukup sebagai contoh bagimu,
seandainya kau cukup cerdas. [9]
Kau miliki perangkat akal,
tapi tak cukup dalam kau merenung:
bagai musim dingin membeku,
tak kunjung mengalir ke musim semi.
Karenanya, sang Maha Perancang,
yang membentuk pikiran berkata,
Wahai hambaku, renungkan lah dalam-dalam.
Dia tak berkata, tempa lah besi yang dingin, [10]
tapi maksudnya, wahai engkau yang sekeras besi,
dedikasikanlah dirimu bagi Dawud. [11]
Jika tubuhmu seperti mati,
cari lah pertolongan Israfil; [12]
jika hatimu membeku,
cari lah kehangatan Ruh al-Quds.
Jika berlama-lama kau kungkung dirimu
dalam selimut pakaian khayalan,
segera kau dapati pikiranmu berubah jahat.
Sehingga Akal Sejati tanggal:
tak didapati persepsi yang sejati
tak pula diperoleh pengalaman kesejatian.
Disini aku harus menahan lisanku,
jika kukatakan yang sebenarnya,
akan banyak penyingkapan yang mempermalukan.
Apakah sebenarnya arti iman?
Maknanya: yang menyebabkan mata-air-sumber mengalir.
Ketika janin keluar dari rahim,
ia disebut rawan. [13]
Filsuf yang sejati itu
orang yang jiwanya telah dimerdekakan
dari kungkungan penjara tubuh,
lalu berkelana (rawan) di taman Kesejatian.
Ke dua hal pokok di atas itu didapat melalui anugerah,
maka perhatikan lah dengan cermat;
Semoga engkau terberkati.
Catatan:
[1] "... Dan syaithan jadikan mereka memandang baik
perbuatan mereka, dan menghalangi mereka dari jalan (Allah) ..."
QS [Al 'Ankabuut [29]: 38)
[2] Ketika ke dua putera Adam a.s, Qabil dan Habil diperintahkan
berkurban, maka kurban Qabil ditolak.
Adiknya, Habil, berkata, "... Sesungguhnya Allah hanya
mengabulkan dari (orang-orang) al-Mutaqiin."
(QS Al Maa-idah [5]: 27)
[3] "Kami berfirman, 'Wahai api, menjadi dinginlah,
dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.'"
(QS Al Anbiyaa [21]: 69)
[4] "... maka Kami tenggelamkan dia serta mereka yang
bersamanya, seluruhnya."
(QS Al Israa [17]: 103)
[5] Kaum Tsamud yang tinggal di daerah Hijr akhirnya
"... dibinasakan oleh suara yang menggelegar di waktu subuh."
(QS Al Hijr [15]: 83)
[6] "Adapun kaum 'Aad, mereka telah dibinasakan oleh
angin yang sangat dingin lagi kencang."
(QS Al Haaqqah [69]: 6)
[7] "Maka Kami benamkan ia beserta rumahnya kedalam bumi.
Maka tiada baginya suatu golonganpun yang menolong dari
adzab Allah, dan tiada pula ia yang dapat membela diri."
(QS Al Qashash [28]: 81)
[8] "Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib),
lalu mereka ditimpa 'adzab, pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguhnya 'adzab itu hari yang agung ('adziim)."
(QS Asy Syu'araa [26]: 189)
[9] "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu
menelan apa yang mereka ada-adakan"
(QS [Asy Syu'ara [26]: 45)
[10] Maksudnya, menghabiskan daya dan waktu dalam pemikiran spekulatif.
[11] Nabi Dawud a.s, Insan Kamil yang bertugas ketika Bani Israil
diboikot habis sehingga tak memiliki kekuatan apa pun;
"Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud, membuat baju besi
untukmu, guna melindungimu dalam peperanganmu.
Maka hendaklah kau bersyukur."
(QS Al Anbiyaa [21]: 80)
Maksudnya, agar orang-orang kuat, cerdik-cendekia atau berkuasa,
tidak sekedar tenggelam asyik dalam pagelaran kecerdasan atau
kekuasaan mereka tapi mendaya-gunakannya untuk mencari
amal-shaleh dalam bimbingan insan kamil, yang yang dihadirkan
hidup pada zaman mereka.
[12] Sang malaikat Pemegang Sangsakala Hari Kiamat.
[13] Yang bergerak, mengalir.
Sumber:
Rumi: Matsnavi VI:2151 - 2189.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Ngrumi.blogspot.com
Selengkapnya...
Kumpulan Hizib Syazili (5) Hizib Al Hujb
Berikut sy lampirkan Hizib Al Hujb dah Syeikh abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini

