Thursday, January 23, 2014

Sufi Road : Futuhal Ghaib (7)

Syeikh Abdul Qadir Jilani

Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan kerananya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memerhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bahagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).

Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperolehi sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan peribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, kerana Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemahuanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, kerana tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, iaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat - yang pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemahuan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak peribadi kepada kehendak Allah. Kerana itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang bererti: berubah). Bagi peribadi-peribadi ini, menggabungkan kehendak peribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sedar dan berlindung kepada Tuhan, kerana tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, kerana mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyedarkan mereka.
Selengkapnya...

Wednesday, January 15, 2014

Dalil Syar’i Maulid Nabi



Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid,
haramkah hukumnya? Umat Islam merayakan Maulid,
bid’ahkah merayakannya?

Memaparkan legalitas syari’at perayaan Maulid Nabi menjadi sedemikian penting meng­ingat kini semakin banyaknya tuduhan, ”... yang ditujukan pada umat Islam yang me­rayakan Maulid sebagai pe­laku bid’ah tercela, bahkan hing­ga me­masukkan mereka sebagai ahli ne­raka yang ke­kal di dalam neraka selama-lamanya,” demikian di antara yang disampaikan Ustadz Muhammad Ahmad Vad’aq, penulis buku Bahas Cerdas & Kupas Tuntas – Dalil Syar’i Maulid Nabi, da­lam pengan­tar karyanya tersebut.

Mereka, yang sesung­guhnya me­rupakan golongan minoritas itu, tak per­nah mau mendengar dalil orang lain, se­lalu menyikapi segala per­bedaan de­ngan hitam-putih, be­nar-salah, surga-neraka, hing­ga dalam hal ini, mereka sam­pai mengeluarkan fatwa mengha­ram­kan seluruh hi­dangan Maulid, bah­kan dise­butkan, ke­haramannya lebih haram dari memakan hewan babi.

Na’udzubillah, kami berlin­dung ke­pa­da Allah, dari pejuang nafsu yang se­lalu me­rasa benar sendiri,” tulis Ustadz Muhammad.

”Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid, haramkah hukumnya? Umat Islam merayakan Maulid, bid’ahkah me­rayakannya?” Dua kalimat tanya ini ter­tulis besar di bawah judul karya Ustadz Muhammad. Memang, bagi kebanyakan orang, mungkin dua hal itu yang sering menggelayut dalam pikiran mereka, dan ke­tika mereka keliru dalam menyimpul­kan, maka tuduhan demi tuduhan tak berdasarlah yang mereka lontarkan.

Demi memaparkan penjelasan atas masalah ini secara cerdas dan mengu­pas­nya secara tuntas, Ustadz Muham­mad membagi pembahasan di buku ini menjadi tiga pokok pembahasan.

Pertama, penjelasan makna tark, yaitu tentang perbuatan yang tidak di­kerjakan oleh Nabi. Pembahasan ini un­tuk menjawab kalimat tanya pertama di atas, Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid, haramkah hukumnya?

Kedua, penjelasan makna bid’ah dan kaitannya dengan Maulid Nabi SAW. Pembahasan yang kedua ini ditujukan untuk menjelaskan pada pembaca ter­hadap kalimat tanya yang kedua, umat Islam merayakan Maulid, bid’ahkah me­rayakannya?

Bukan hanya dalam masalah Maulid, dua pembahasan di atas, seyogyanya menjadi dasar bagi setiap muslim untuk memahami setiap permasalahan syariat, agar umat tidak mudah menuding se­sama saudaranya yang lain.

Pembahasan yang terakhir, yaitu pem­bahasan yang ketiga, Ustadz Mu­ham­mad mengurai dalil-dalil syar’i yang melatarbelakangi diselenggarakannya Maulid Nabi itu sendiri. Setelah mema­hami dasar-dasar yang tepat dalam me­nilai sebuah amaliyah, bagian yang ter­akhir ini secara khusus akan semakin membuka pandangan bagi insan muslim atas hujjah-hujjah syar’iyyah dalam peringatan Maulid Nabi SAW.

Sebagai pelengkap pembahasan, Ustadz Muhammad menyertakan secara utuh terjemah dari kitab Husn al-Maq­shad fi ’Amal al-Maulid, karya Imam Su­yuthi, yang memaparkan secara khusus perihal dasar-dasar argumentasi keaga­maan di balik penyelenggaraan Maulid Nabi SAW.

Kaidah Ibn Taimiyah

Law kana khairan lasabaquna ilayh. Maknanya, kalau perkara itu baik pasti para salaf telah melakukannya. Kaidah yang dirumuskan Ibn Taimiyah ini men­jadi salah satu dasar utama bagi orang-orang yang menolak amaliyah Maulid Nabi. Bahkan, orang-orang itu hendak menilai (baca: menyele­saikan) semua urusan agama ini hanya dengan kaidah tersebut.

”Sayangnya, dengan kaidah ini orang-orang bodoh itu semakin mem­beku. Mereka semakin sulit diajak ber­diskusi, semakin menikmati fatwa-fatwa yang tidak populer, sampai akhirnya tum­buh suburlah para penyesat umat, yang berpendapat dengan tanpa men­dengar dalil orang. Bahkan, kaidah yang mereka buat ini mereka tempatkan pada tempat yang lebih utama dari dalil-dalil syar’i,” tulis Ustadz Muhammad lagi menjelaskan perihal kaidah tersebut.

Padahal, apapun yang dikuatkan de­ngan dalil-dalil syar’i itu baik adanya, bukan bid’ah, karena Allah SWT ber­fir­man, “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” – QS. Al-Hajj: 77

Al-Hafizh Ibnu Hajar dan kalangan yang sependapat menilai, Nabi SAW mengingatkan keutamaan merayakan Maulid melalui kesimpulan umum yang diambil dari hadits tentang puasa Asyura. Hadits ini menegaskan legalitas puasa peringatan tahunan sebagai wu­jud syukur kepada Allah SWT atas nik­mat selamatnya Nabi Musa.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dari puasa mengingat hari kelahiran adalah sebagai wujud rasa syukur. Setiap tindakan yang bisa me­wujudkan rasa syukur secara syari’at di­anjurkan, karena syukur adalah sebab hukum. Dan semua ibadah dalam hal ini, yang hukumnya sama seperti puasa meng­ingat hari kelahiran menurut ke­sepakatan ulama, sepertinya sudah men­­jadi kesepakatan tertulis di antara mereka, atau diqiyaskan seperti itu me­nurut sebagian lainnya. Terkait dengan hal-hal mubah, selain ibadah yang mengungkapkan rasa senang, asal hu­kumnya boleh-boleh saja, tidak ada dalil yang melarang demikian.

Ibnu Taimiyah menilai, salaf tidak pernah merayakan Maulid. Andai hal itu baik tentu mereka sudah terlebih dulu melakukannya sebelum kita. Jadi, me­nurut mereka Maulid hukumnya adalah bid’ah.

Imam Suyuthi menanggapi, tidak ada pernyata­an salaf yang mencegah dan menganjurkan perayaan Maulid, mereka bersikap abstain sementara ha­dits di atas adalah dalil kuat. Berdasar­kan ijma’, hadits lebih dikedepankan dari sikap abstain dan tidak adanya riwayat yang termasuk dalam istilah istishhab pada masalah itu. Istishhab adalah pem­berlakuan hukum terhadap suatu per­kara di masa selanjutnya atas dasar bah­wa hukum itu telah berlaku sebelumnya.

Antara Inkar dan Ijtihad

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan sesuatu kemudian berijti­had dan benar, ia mendapat dua pa­hala, namun ketika memutuskan se­suatu kemudian berijtihad dan salah, ia mendapat satu pahala.”

Hadits di atas secara tegas menyata­kan orang yang salah dalam berijtihad bukan berarti melakukan amalan bid’ah ataupun sesat karena Allah SWT tidak mem­beri pahala bid’ah, bahkan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.

Ada beberapa kemungkinan bagi kalangan yang menyesatkan kelompok lain dalam masalah peringatan Maulid ini.

Pertama, mereka tak mengetahui kaidah di atas. Kedua, mereka pura-pura tidak tahu adanya argumentasi pihak yang berseberangan, yang disebab­kan adanya faktor dan tujuan pribadi. Ketiga, mereka mengira masalah ini dan masa­lah-masalah serupa lainnya bukan ma­salah ijtihad, tapi sesuatu yang sudah jelas, sehingga dengan mudah ia me­nyesatkan orang lain yang berpaling atau menen­tang masalah ini.

Dengan alasan apapun, siapapun yang meng­anjurkan perayaan Maulid, tidak bisa dan tidak laik dituduh menen­tang ajaran-ajaran yang telah jelas. Per­hatikan siapakah mereka yang dituduh seperti itu; mereka adalah para imam ter­percaya, seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Hafizh As-Suyuthi; lalu perhatikan siapa Anda, para pengingkar anjuran pe­ra­yaan Maulid itu, yang gemar mem­bawa pandangan sembrono sampai me­nyatakan bahwa para imam besar itu ti­dak boleh diikuti karena pendapatnya keliru.

Anda, yang tidak sependapat de­ngan anjuran merayakan Maulid, meng­anggap mereka keliru? Baik. Perta­nya­annya, apakah para imam terpercaya itu keliru dengan menyalahi pengamalan agama yang nashnya jelas dan tegas, ataukah mereka keliru dalam masalah-masalah ijtihad?

Jika para imam tersebut keliru de­ngan menyalahi ajaran-ajaran agama yang sudah jelas hukumnya, berarti ke­salahan tersebut adalah sikap pembang­kangan. Allah SWT berfirman mengenai orang-orang yang berbuat demikian, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan ber­selisih sesudah datang keterang­an yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” – QS. Ali ‘Imran [3]: 105

Apakah ini laik bagi imam-imam se­perti Ibnu Hajar dan As-Suyuthi? Jika mereka keliru dalam masalah-masalah ijtihad, toh Nabi SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan sesuatu kemudian berijtihad dan benar, ia mendapat dua pa­hala, namun ketika memutuskan se­suatu kemudian berijtihad dan salah, ia mendapat satu pahala.”

Dan Allah SWT tidak memberi pa­hala untuk bid’ah.

Ijtihad Bukan Kebenaran Absolut

Anda tidak bisa membid’ahkan dan menyata­kan Ibnu Hajar sesat dan ber­buat bid’ah, meski menurut Anda hal itu salah. Boleh jadi, justru Anda yang sa­lah. Jika Anda, atau ulama panutan Anda, berpen­dapat bahwa perayaan Maulid itu keliru, lalu merayakannya, itu baru berarti Anda melakukan bid’ah dan Anda sesat. Sementara bagi yang tidak sependapat dengan Anda, tidak seperti itu.

Disebutkan, Imam Ahmad bin Han­bal dan para pengikutnya berdoa, “Ya Allah aku memohon kepada­mu dengan perantara Nabi-Mu, ampunilah aku.”

Ia melakukan sesuatu yang menu­rutnya baik, dan mendapat dua pahala jika benar, atau satu pahala jika salah. Lain halnya kalau yang berdoa itu adalah Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wah­hab, Al-Albani, atau para pengikut­nya, yang berpandangan doa dengan ber­tawassul adalah suatu hal yang bid’ah dan sesat. Kalau mereka berdoa de­ngan ucapan itu, mereka menang­gung dosa dan hukumannya. Hal sena­da berlaku dalam semua masalah ijtihad yang diperdebatkan, baik yang dianjur­kan atau dilarang.

Dalam masalah-masalah ijtihad, muj­tahid tidak harus puas dengan dalil-dalil pihak yang berseberang­an, tapi masing-masing kubu harus puas dengan adanya kemungkinan, bahwa salah satu di an­tara kedua pihak adalah salah, seperti yang Rasulullah SAW sampaikan dalam sebuah wasiat yang beliau sampaikan pada seorang komandan pasukan, “Ka­rena kau tidak tahu apakah putusanmu sesuai hukum Allah terhadap mereka itu ataukah tidak.”

Hadits ini secara tegas menyatakan, seorang mujtahid tidak bisa memastikan dirinya pasti benar dan kalangan yang tidak sependapat pasti salah.

Maulid di Mata para Hafizh Kita, yang tinggal di Nusantara, mung­kin hanya mengenal sedikit kitab Maulid. Padahal kitab Maulid karya para ulama itu jumlahnya sangat banyak, lantaran per­hatian khusus mereka terhadap mo­men­tum agung tersebut. Sebagiannya disusun oleh para hafizh, orang-orang yang dalam hidupnya ”tenggelam” dalam bahtera hadits Rasulullah SAW. Di ba­wah ini nama sebagian di antara mereka itu.

Al-Hafizh Muhammad bin Abubakar Al-Qisi Asy-Syafi’i, lebih populer sebagai Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (777-842), seorang imam besar, ahli hadits dan sejarah dengan kekuatan hafalan yang gemilang, menulis kitab Maulid Al-Lafzhu ar-Raiq fi Maulid Khairi al-Khalaiq.

Al-Hafizh Abubakar bin Abdurrahim Al-Mashri, imam yang sangat tersohor di kalangan para imam ahli hadits, lebih dikenal dengan Al-’Iraqi (725-707), san­daran para ulama dalam masalah yang pelik dan rumit, menulis kitab Maulid Al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani.

Al-Hafizh As-Sakhawi, Muhammad bin Abdurrah­man Al-Qahiri As-Sakhawi (831-902). Imam Syaukani memujinya, “Aku tak pernah melihat seorang hafizh generasi akhir yang melebihi As-Sakha­wi dalam kekuatan hafalannya.” Ia me­nulis kitab Maulid Nabi SAW sebagai­mana yang di kutip oleh pengarang kitab Kasyf azh-Zhunun.

Al-Hafizh Mula Ali Al-Qari (1014) pengarang kitab syarh Al-Misykah. Ia juga menulis kitab Maulid berjudul Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabi.

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ismail bin Umar bin Katsir, seorang mufassir tersohor, ia juga menulis kitab Maulid yang baru-baru ini dicetak dan ditahqiq oleh Dr. Shalahuddin.

Al-Hafizh Ibnu Ad-Daiba’i Wajihuddin ibnu Abdurrahman Asy-Syaibani Al-Yamani (866-944), seorang yang sangat populer di zamannya. Kitab maulidnya sangat dikenal di penjuru dunia termasuk di Indonesia, yaitu yang biasa disebut Maulid Ad-Diba’.

Dunia Islam menyematkan gelar “al-hafizh” kepada para ulama ahli hadits yang memiliki hafalan lebih dari seratus ribu hadits (pendapat lain menyebut ang­ka tiga ratus ribu hadits) baik matan (re­daksi) maupun sanad (mata rantai peri­wayatan)-nya. Mereka adalah para ha­fizh yang lebih mema­hami hadits dari para pengingkar Maulid.

Tidakkah kita bisa berbaik sangka se­dikit pun, apalagi kepada para ulama seperti mereka? Bahkan seringkali vonis bid’ah, kafir, dan syirik terlontarkan ke­pada mereka, hanya dengan bermodal­kan dalil kullu bid’atin dhalalah, tanpa mau mendengar pendapat para ulama yang lebih alim dan lebih wara’. Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenar­an dan mengikutinya.

Memahami Tark

Maksud tark yang menjadi tujuan pe­nulisan risalah singkat ini, adalah suatu amalan yang ditinggalkan dan tidak dilaku­kan Nabi SAW, atau ditinggalkan oleh salafush shalih, tanpa adanya ha­dits atau atsar yang melarang amalan yang diting­galkan tersebut, yang menun­jukkan per­buatan tersebut haram atau makruh.

Ulama kalangan mutaakhir sering mengguna­kan dalil tark untuk meng­haramkan atau mencela berbagai hal, bah­kan sebagian kalangan terlalu ber­lebihan menggunakan dalil ini. Ibnu Taimiyah memakai dan menjadikan ini sebagai sandaran dalam menghukumi berbagai hal, seperti yang akan dibahas berikutnya.

Ketahuilah, ketika Nabi SAW me­ning­galkan (tidak mengerjakan) sesuatu amalan, ada beberapa kemungkinan amalan tersebut tidak dilarang, yaitu karena beberapa sebab berikut ini:

Pertama, karena beliau tidak biasa terhadap sesuatu itu. Contohnya, suatu ketika Nabi SAW diberi biawak bakar. Beliau menjulurkan tangan. Kemudian ada yang berkata, “Itu biawak.” Maka beliau pun tak jadi memungutnya.

Kemudian ada yang bertanya, “Apa­kah itu haram?”

Nabi SAW menjawab, “Tidak, hanya saja hewan ini tidak terdapat di kawasan kaumku, aku pun merasa jijik.”

Hadits ini tertera dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ini me­nunjukkan dua hal, yaitu bahwa mening­galkan sesuatu bagi Nabi SAW, meski se­telah beliau hampir melakukannya, tidaklah menunjukkan sesuatu tersebut haram, dan bahwa jijik terhadap sesuatu bukan berarti mengharamkan sesuatu itu.

Kedua, karena beliau lupa. Contoh­nya, Nabi SAW pernah lupa dalam sha­lat, meninggalkan salah satu bagian shalat kemudian beliau ditanya, “Apakah terjadi sesuatu dalam shalat?”

Nabi SAW menjawab, “Aku hanya manusia biasa, aku lupa seperti halnya kalian. Jika aku lupa, ingatkan.”

Ketiga, karena beliau khawatir amal­an tersebut diwajibkan terhadap umat. Contohnya, Nabi SAW meninggalkan shalat Tarawih saat para sahabat telah berkumpul untuk shalat bersama beliau.

Keempat, karena tidak terpikirkan dan tidak terlintas di benak beliau. Con­tohnya, pada mulanya Nabi SAW khut­bah shalat Jum’at di atas kayu kurma. Tak terpikirkan oleh beliau untuk mem­buat mimbar sebagai tempat berkhut­bah. Saat ada yang mengusulkan pem­buatan mimbar, beliau setuju dan meng­akui hal itu, karena khutbah di atas mim­bar lebih mengena untuk pendengaran hadirin. Para sahabat juga mengusulkan untuk membuatkan tempat duduk dari tanah untuk Nabi SAW, agar dikenali utus­an asing yang datang menemui be­liau. Beliau menyetujui usulan itu, karena sebelumnya sama sekali tidak terpikir­kan untuk itu.

Kelima, karena sesuatu itu sudah ter­masuk dalam penjelasan umum ayat-ayat Al-Qur‘an atau hadits. Contohnya, Nabi SAW meninggal­kan shalat Dhuha dan banyak sekali amalan-amalan lain yang dianjurkan, karena sudah termasuk dalam penjelasan umum firman Allah SWT: “Dan perbuatlah kebajikan, supa­ya kalian mendapat kemenangan.” – QS. Al-Hajj: 77

Keenam, karena beliau khawatir se­suatu itu mengubah hati para sahabat atau sebagian sahabat. Contohnya, sab­da Nabi SAW kepada Aisyah, “Andai saja kaummu tidak baru saja masuk Islam, tentu aku robohkan Ka’bah ke­mudian aku bangun lagi sesuai pondasi Ibrahim, karena kaum Quraisy memper­kecil bangunannya.”

Hadits ini tertera dalam dua kitab hadits shahih utama, Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Secara tegas dije­laskan, Nabi SAW tidak merobohkan Ka’bah dan mengembalikannya ke po­sisi semula, semata dilakukan untuk menjaga hati para sahabat di Makkah yang baru masuk Islam. Tindakan ini memungkinkan adanya alasan lain yang bisa diketahui dengan cara mencermati kitab-kitab hadits.

Meninggalkan, Bukan Melarang

Larangan adalah sesuatu yang ha­ram, yang memang harus ditinggalkan. Ma­salah larangan adalah satu hal, dan masalah tark adalah satu hal lainnya lagi. Tidak ada satu pun hadits atau atsar yang secara tegas menyatakan bahwa sesuatu yang tidak dikerjakan Nabi SAW serta merta menjadi sesuatu yang haram.

Dijelaskan dalam Ar-Radd al-Muh­kam al-Matîn, tentang meninggalkan se­suatu tidak menunjukkan sesuatu terse­but dilarang. Berikut ini penjelasannya:

“Meninggalkan suatu amalan saja tan­pa disertai nash lain yang menunjuk­kan bahwa hal tersebut terlarang, bukan­lah hujjah yang melarang sesuatu ter­sebut, meskipun pada akhirnya memang meninggalkan sesuatu tersebut ternyata disyari’atkan. Ada dua hal yang perlu di­perhatikan dari kasus semacam ini: Per­tama, sesuatu yang ditinggalkan terse­but dilarang, namun pelarangan ini bu­kan karena sesuatu tersebut ditinggal­kan. Kedua, ada dalil lain yang menun­jukkan sesuatu tersebut dilarang.

Imam Abu Sa’id bin Lubb juga me­nyebutkan kaidah ini. Ia menyampaikan bantahan terhadap kalangan yang me­makruhkan berdoa seusai shalat, yang selalu berhujjah bahwa merutinkan hal tersebut, tidak pernah dilakukan kalang­an salaf. Dengan asumsi penukilan ini benar, meninggalkan sesuatu justru me­nunjukkan amalan tersebut boleh dan tidak berdosa dilakukan, bukan berarti amalan tersebut haram atau makruh, terlebih bagi amalan yang secara garis besar ada landasan hukumnya dalam syari’at, seperti doa.

Nabi SAW tidak pernah puasa sebulan penuh selain puasa Ramadhan. Ini juga tidak menunjukkan bahwa mak­ruh hukumnya puasa sunnah sebulan penuh.”

Demikian teks-teks yang secara te­gas menunjukkan bahwa meninggalkan sesuatu amalan bukan berarti amalan tersebut makruh, apalagi haram.

Sebagian kalangan yang bersikap berlebihan, mereka mengingkari kaidah ini dan tidak mengakui­nya sebagai salah satu bagian dari ilmu ushul. Ini menun­juk­kan, pengingkaran terhadap dalil ini semata disebabkan kebodohan dan akal tidak sehat.

Adapun mengenai larangan dalam syari’at, berikut kami jelaskan dalil-dalil larangan:

Pertama; yang menunjukkan peng­haraman ada tiga. Satu, larangan. Con­toh, “Jangan mendekati zina, jangan me­makan harta di antara sesamamu de­ngan cara bathil.” Dua, pengharaman. Contoh, “Diharamkan bagimu bangkai,” dan seterusnya. Tiga, celaan atau an­caman siksa atas suatu perbuatan. Con­toh, “Barangsiapa menipu, ia bukan go­longan kami.”

Dan meninggalkan suatu amalan ti­dak terma­suk dalam tiga kategori ini. De­ngan demikian mening­galkan sesuatu tidak menunjukkan larangan.

Kedua; Allah SWT berfirman, “Apa yang disampaikan Rasul kepadamu, terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggal­kanlah.” – QS. Al-Hasyr [59]: 7

Allah SWT tidak menyatakan, “Apa yang ia tinggalkan, tinggalkanlah.” De­ngan demikian, mening­galkan sesuatu tidak menunjukkan sesuatu tersebut di­larang.

Ketiga; Nabi SAW bersabda, “Apa yang aku perintahkan, kerjakan semam­pu­mu, dan apa yang aku larang, jauhi­lah.”

Nabi SAW (saja) tidak menyatakan, “Apa yang aku tinggalkan, jauhilah.” Lalu bagaimana bisa sampai ada yang meng­a­takan bahwa meninggalkan sesuatu sebagai larangan atas sesuatu tersebut?

Keempat; para pakar ushul men­defi­nisikan, sunnah adalah perkataan, per­buatan, dan persetujuan Nabi SAW. Me­reka tidak mendefinisikan, sunnah ada­lah sesuatu yang ditinggalkan Nabi SAW, karena meninggalkan sesuatu bu­kanlah dalil.

Kelima; seperti disebutkan sebelum­nya, hukum adalah khithab Allah SWT. Para pakar ushul menyebutkan, hukum ber­dasarkan Al-Qur‘an, sunnah, ijma’, atau qiyas. Dan meninggalkan sesuatu amalan bukan bagian dari dasar-dasar hukum tersebut, dengan begitu ia bukan suatu dalil.

Keenam; seperti disebutkan sebelum­nya, meninggalkan sesuatu memiliki be­berapa kemungkin­an selain larangan, dan kaidah ushul menyebutkan: jika ter­dapat kemungkinan dalam suatu dalil, da­lil tersebut tidak bisa dijadikan pijakan. Juga sudah disampaikan sebelumnya, tidak ada nash yang menunjukkan bah­wa Nabi SAW meninggalkan sesuatu se­bagai dalil bahwa sesuatu tersebut ha­ram. Hujjah ini saja sudah cukup menun­jukkan bahwa dalil tark tidak bisa di­jadi­kan pijakan.

Ketujuh; meninggalkan sesuatu ada­lah hukum asal, karena meninggalkan sesuatu berarti tidak adanya perbuatan. Tidak adanya sesuatu adalah hukum asal, sementara mengerjakan suatu amal­an adalah sesuatu yang terjadi tanpa diduga. Hukum asal sama sekali tidak menunjukkan apapun, tidak secara bahasa ataupun menurut syari’at. De­ngan demikian meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan larangan.

Pengertian Bid’ah

Definisi bid’ah pertama kali dijelas­kan oleh Imam Syafi’i berdasarkan ri­wayat Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469).

Disebutkan, bahwa semua hal baru itu ada dua macam: Pertama; sesuatu yang dibuat-buat dan berseberangan de­ngan Al-Qur‘an, sunnah, atsar, atau ijma’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua; kebaikan yang diciptakan dan belum ada sebelumnya serta tidak diperdebatkan. Inilah bid’ah yang tidak tercela.

Umar bin Khaththab RA berkata ten­tang qiyam Ramadhan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini; maksud­nya shalat Ta­rawih bersifat baru, dan tidak ada sebe­lumnya, karena seperti itu berarti tidak menyalahi (dalil-dalil yang ada).”

Kemudian Asy-Syafi’i menjelaskan maksud “bid’ah” dalam perkataan Umar bin Khaththab di atas.

Apa pengertian bid’ah? Yaitu se­suatu yang diciptakan dan belum ada sebelumnya. Ini makna umum bid’ah men­cakup apa saja yang tidak ada di masa Nabi SAW, dan baru ada setelah masa beliau, baik ada dalilnya ataupun tidak. Inilah makna etimologi bid’ah yang paling tepat. Untuk itu bid’ah harus dibagi menjadi dua bagian:

Pertama; sesuatu yang diciptakan dan menya­lahi Al-Qur‘an, sunnah, atsar atau ijma’. Inilah bid’ah yang sesat kare­na berseberangan dengan dalil-dalil syar’i.

Kedua; kebaikan yang diciptakan dan tidak diperdebatkan oleh siapapun. Inilah bid’ah yang tidak tercela, karena menurut syari’at baik adanya. Karena me­nurut syari’at baik, berarti bid’ah ter­sebut juga baik, lantaran tidak menyalahi dalil-dalil yang ada.

Selanjutnya Asy-Syafi’i menjelaskan alasan kenapa Umar bin Khaththab RA memuji dan menganjurkan amal tersebut (qiyam Ramadhan secara berjama’ah), meski ia sebut sebagai bid’ah, alasannya adalah karena tidak berseberangan de­ngan Al-Qur‘an, sunnah, atsar atau ijma’.

Imam Syafi’i RA menyatakan, “Ke­baik­an yang diciptakan dan tidak diper­debatkan oleh siapapun adalah bid’ah yang tidak tercela.” Pernyataan Asy-Syafi’i ini juga ber­san­dar pada perkataan Umar RA, serta per­setujuan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Zaid bin Tsabit RA bahwa pengum­pulan Al-Qur‘an dalam satu kitab dianjur­kan meski tidak pernah dilakukan Rasul­ullah SAW, karena hal tersebut baik ada­nya.

Umar bin Khaththab berkata, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Zaid bin Tsabit, “Menurutku, engkau ha­rus mengumpulkan Al-Qur`an (dalam satu kitab).’

Abu Bakar berkata kepada Umar, “Bagaimana saya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW?”

Umar berkata, “Demi Allah itu baik.”

Abu Bakar berkata, “Umar terus mem­pertim­bangkan hal itu kepadaku hingga Allah melapangkan dadaku.” (HR Al-Bukhari nomor 4402)

Pada mulanya Abu Bakar berdalih mengumpul­kan Al-Qur‘an dalam satu kitab tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW, sementara Umar bin Khaththab berdalih meski tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW tapi langkah tersebut baik, dan karena baik berarti dianjurkan. Abu Bakar selanjutnya mengulang ja­wab­an Umar saat Zaid bin Tsabit berkata kepadanya, “Bagaimana kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah itu baik.”

Jawaban dari kedua khalifah Rasul­ullah SAW tersebut adalah tanggapan bagi siapapun, yang saat ini mengingkari berbagai kebaikan yang dibuat, dan tidak ada sebelumnya, dengan dalih tidak per­nah dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebab menurut nash kitabul­lah, kebaikan itu diperintahkan untuk di­lakukan, dan diberi janji keberuntungan. Allah SWT berfirman, “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat ke­menangan.” – QS Al-Hajj: 77

Kita diperintahkan untuk menyeru pada kebaikan, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang me­nyeru kepada kebajikan, menyuruh ke­pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang berun­tung.” – QS. Ali ‘Imran [3] 104

Karenanya, menurut penjelasan Asy-Syafi’i, bid’ah yang tidak tercela ada­lah setiap kebaikan yang tidak menyalahi dalil-dalil syar’i.

Gebyah Uyah Masalah Bid’ah

Pendapat yang menyatakan bahwa bid’ah ada yang hasanah dan ada yang dhalalah sesungguhnya tidak bersebe­rangan dengan pendapat yang menyata­kan tidak ada bid’ah hasanah dalam syari’at. Sebab, yang dimaksud hadits ter­sebut dalam pandangan mereka, bah­wa amal yang menyalahi dalil-dalil syar’i tidak bisa dianggap baik. Demikian yang dinyatakan secara tegas oleh Ibnu Taimiyah.

Pernyataan Ibnu Taimiyah dinukil di sini bukan untuk lebih mengedepankan pendapatnya atas pendapat lainnya, tapi untuk menjelaskan bahwa kalangan yang tidak sependapat dengan Ibnu Taimiyah, misalnya dalam hal peringat­an Maulid, bukanlah ahli bid’ah berda­sar­kan kaidah-kaidah yang ia sebutkan sen­diri dalam Al-Fatawa (10/370), bah­wa menjaga keumuman sabda Rasul­ullah SAW, “Setiap bid’ah itu sesat” hu­kumnya wajib, sementara suatu amalan yang disebut bid’ah dan terbukti baik ber­dasarkan dalil-dalil syar’i, berarti ada dua kemungkinan pasti:

Kemungkinan pertama, amalan ter­sebut bukan bid’ah dalam agama, meski dari sisi bahasa disebut bid’ah, seperti perkataan Umar bin Khaththab RA, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Kemungkinan kedua, bersifat per­nyataan umum, namun dikhususkan ka­rena adanya pengecua­lian yang kuat, seperti yang berlaku pada masalah-ma­salah lain berdasarkan tuntutan pernya­taan umum, sama seperti kata-kata umum lain yang terdapat dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas (pada kemungkinan kedua) secara tegas menyatakan, adanya pengecualian yang lebih kuat memunculkan adanya kekhu­susan dari perkataan umum dalam sab­da Nabi SAW, “Setiap bid’ah itu sesat,” dan menjadikan contoh kasus yang di­kecualikan menjadi tidak sesat, karena tidak termasuk dalam keumuman kata-kata tersebut.

Yang dimaksud “menjaga keumum­an” dalam hal ini adalah seperti yang ditegaskan Ibnu Taimiyah sendiri (pada kemungkinan kedua tersebut), “Seperti yang berlaku bagi masalah-masalah lain berdasarkan tuntutan pernyataan umum.” Maksudnya, selain masalah-masalah yang dikhususkan oleh dalil yang lebih kuat dari pernyataan umum tersebut. Dengan kata lain, hadits tersebut bersifat khusus (yaitu pada bid’ah yang termasuk dhalalah).

Karena itu Ibnu Taimiyah sendiri me­nyatakan (27/152), kalangan yang men­jadikan hadits tersebut tetap bersifat umum, dan kalangan lain yang meng­khu­suskannya, bermuara pada satu ke­simpulan yang sama, seperti yang ia se­butkan dalam Al-Fatawa; bid’ah hasanah – bagi yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi‘ah – pasti dianjurkan oleh seorang ahlul ilmi yang menjadi panutan, di samping ada dalil yang menganjurkan.

Seperti itu juga kalangan yang me­nyatakan bid’ah semuanya tercela. Bid’ah menurut kalangan ini adalah se­suatu yang tidak ada dalil syar’inya. Ka­rena itu kedua pendapat tersebut (yang mengklasifikasi bid’ah maupun yang menggeneralisir bid’ah), bermuara pada satu titik yang sama. Pendapat pertama, mendefinisikan bid’ah sebagai sesuatu yang dibuat-buat sepeninggal Nabi SAW. Dengan demiki­an bid’ah menurut pendapat pertama ini, harus dibagi menjadi bid’ah yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan dalil. Se­mentara pendapat kedua, menilai bid’ah adalah sesuatu yang tidak sesuai de­ngan dalil. Bid’ah menurut pendapat ke­dua, tidak terbagi menjadi dua, tapi ha­nya satu, yang tak lain adalah bid’ah je­nis kedua (bid’ah dhalalah) menurut pendapat pertama. Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimi­yah sendiri, dapat disimpulkan bahwa kalangan yang menilai bid’ah sebagai “se­suatu yang dibuat sepeninggal Ra­sulullah SAW, dan masa salaf tanpa kla­sifikasi atau batasan apapun” berarti ber­seberangan dengan kedua pendapat di atas sekaligus.

Dalil syar’i yang menguatkan baiknya suatu amalan, yang secara bahasa di­sebut bid’ah atau mengkhususkan kata-kata umum sabda Rasulullah SAW, “Setiap bid’ah itu sesat” bisa jadi berupa nash dan bisa jadi melalui istinbath, se­perti yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha` ash-Shirath al-Mustaqim (1/587), bahwa suatu hal yang terbukti baik, bukanlah suatu bid’ah. Di bagian lain ia menyatakan, suatu hal yang ter­bukti baik berarti mengkhususkan per­nyataan umum (dalam hadits tersebut). Yang mengkhususkan adalah dalil-dalil syar’i yang bersumber dari Al-Qur`an, sun­nah, dan ijma’ baik dalam bentuk nash ataupun melalui istinbath.

Sikap Semena-mena

Kekeliruan dalam ijtihad bukanlah bid’ah, karena perbedaan pendapat di ka­langan ahlul ilmi dalam ijtihad, tidak membuat salah satu dari dua kubu se­bagai ahli bid’ah, bahkan bagi yang sa­lah sekalipun, sebab Rasulullah SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan se­suatu kemudian ia berijtihad dan ijtihadnya benar, ia mendapat dua pa­hala. Namun ketika ia memutuskan se­suatu lalu berijtihad dan ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala.”

Allah SWT tidak memberi pahala untuk bid’ah, bahkan bid’ah membuat pelakunya sesat dan berada di neraka, “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap ke­sesatan itu (tempatnya) di neraka.”

Disebutkan dalam Musawwadah Alu Taimiyah, diriwayatkan dari Imam Ahmad, ia berkata, “Kebenaran di sisi Allah SWT hanya satu, ahli ijtihad harus berijtihad, namun tidak boleh berkata kepada pihak yang tidak sependapat, ‘Kamu salah’.”

Disebutkan dalam Hilyat al-Awliya‘, diriwayatkan dari Imam Malik, “Khalifah Ar-Rasyid mengusulkan padaku untuk menggantung kitab Al-Muwaththa‘ di Ka’bah, dan menginstruksikan agar di­terapkan oleh semua kaum muslimin. Lalu aku mengatakan, ‘Jangan, karena para sahabat Rasulullah SAW sendiri berbeda pendapat dalam masalah-ma­salah furu’, mereka juga sudah berpen­car di berbagai daerah, masing-masing (dari mereka) benar’.”

Rasulullah SAW menjelaskan, muj­ta­hid tidak bisa memastikan dirinya pasti benar dalam mengetahui maksud Allah SWT. Rasulullah SAW menyampaikan wasiat kepada salah seorang komandan pasukan, “Jika kau mengepung pendu­duk suatu benteng, lalu mereka ingin agar kamu menghukumi mereka berda­sarkan hukum Allah, jangan hukumi me­reka (dengan mengatasnamakan) ber­dasarkan hukum Allah, tapi hukumi me­reka berdasarkan hukummu (dengan menggali hukum Allah yang kamu ke­tahui), karena kau tidak tahu apakah putusanmu terhadap mereka sesuai hu­kum Allah ataukah tidak.” (HR Muslim nomor 1731). Orang yang tidak bisa me­mastikan dirinya benar, bagaimana bisa memastikan orang lain yang tidak se­pendapat dengan dirinya itu salah?

Disebutkan dalam risalah Imam Syafi’i (Ar-Risalah, hal: 497), saat mem­bahas hadits ijtihad di atas, Imam Syafi’i ditanya, “Apa makna benar dan salah?”

Aku (Asy-Syafi’i) menjawab, “Sama seperti makna menghadap kiblat. Arah kiblat dicari-cari oleh orang yang berada jauh dari Ka’bah. Mengarah ke kiblat itu sendiri, bagi yang berada jauh dari Ka’bah, ada yang benar dan ada juga yang salah.”

Si penanya berkata, “Menurutmu bagaimana, apakah ijtihad bisa dikata­kan benar dengan selain pengertian ter­sebut?”

Asy-Syafi’i menjawab, “Ya, hanya saja ijtihad berlaku untuk masalah-ma­salah yang dalilnya tidak diketahui. Ke­tika yang bersangkutan mengamalkan­nya (berda­sarkan ijtihad dengan segala persyarat­an­nya), artinya ia benar dalam hal meng­amalkan sesuatu yang dibe­bankan. Se­cara lahir ia benar, dan yang mengetahui sisi batin hanya Allah se­mata.”

Karena itu Ibnu Taimiyah menyata­kan, masalah-masalah yang diperdebat­kan oleh salaf dan para imam tersebut, masing-masing mengakui ijtihad kalang­an lain. Untuk itu bagi kalangan yang mengikuti pendapat Asy-Syafi’i, tidak boleh menyalah­kan kalangan lain yang mengikuti pendapat Malik, bagi yang mengikuti pendapat Ahmad, tidak boleh menyalahkan kalangan lain yang meng­ikuti pendapat Syafi’i, dan seterusnya. (Majmu’ al-Fatawa, 20/292)

Dengan demikian, siapapun yang me­nyalahkan kalangan yang tidak se­pendapat – meski berpedoman pada da­lil-dalil yang dikemukakan oleh sebagian imam – berarti menyalahi metode ter­sebut, di samping berlaku semena-mena terhadap kalangan yang tidak sepen­dapat.

Wujud Rasa Syukur Berkumpul bersama dalam Maulid untuk bersyukur kepada Allah SWT, atas petunjuk pada salah satu sunnah Ra­sulullah SAW yang diamalkan dan dipuji oleh para sahabat, seperti disebutkan dalam Shahih Muslim dari Mu’awiyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW datang menghampiri para sahabat yang tengah berkumpul, beliau bertanya, “Untuk apa kalian duduk berkumpul?”

Para sahabat menjawab, “Untuk mengingat dan memuji Allah, karena telah memberi kami petunjuk menuju Islam, dan menganugerahkan Islam kepada kami.”

Rasulullah SAW bertanya, “Demi Allah, hanya itu alasan kalian duduk berkumpul?”

Para sahabat menjawab, “Demi, Allah hanya itu alasan kami duduk ber­kumpul.”

Rasulullah SAW melanjutkan, “Aku meminta kalian bersumpah bukannya aku meragukan kalian, Jibril baru saja datang menghampiriku, dan memberi­tahukan bahwa Allah membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat’.”

Berkumpul untuk memuji Allah SWT atas nikmat dan karunia Islam yang diberikan adalah sunnah, termasuk berkumpul untuk bersyukur kepada Allah SWT, karena nikmat kelahiran junjungan kita Muhammad SAW, karena beliau menyeru kita menuju Islam. Inilah wujud nyata kitab Allah SWT seperti yang disampaikan Aisyah kepada orang yang menanyakan seperti apa akhlak Rasul­ullah SAW, “Bukankah kau membaca Al-Qur`an?”

Si penanya menjawab, “Ya, betul.”

Aisyah berkata, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim, hadits nomor 746)

Di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar menye­but­kan sejumlah ibadah sebagai wujud rasa syukur seperti yang telah dijelaskan sebelumnya: tilawah, memberi makan, sedekah, menyenandungkan syair-syair pujian untuk Nabi SAW, dan syair-syair tentang zuhud.

Adab Memperingati Maulid

Memperingati hari lahir manusia ter­mulia yang dimuliakan oleh yang Maha­mulia, adalah bentuk ungkapan rasa cinta yang mendalam dari lubuk hati para pencinta Nabi SAW. Syiar kecintaan ini menjadi­kan orang yang lalai dapat meng­ingat, mengenang, serta meneladani kem­bali akhlak beliau.

Majelis Maulid juga ajang umat Islam dalam mengekspresikan kegembiraan dan rasa suka cita atas anugerah besar yang Allah limpahkan kepada mereka.

Allah SWT berfirman, “Isa putera Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan Kami turun­kan­lah kiranya kepada Kami suatu hi­dangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami, yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah Kami, dan Engkaulah Pemberi rezki yang paling Utama’.” – QS Al-Maidah: 114

Sudah barang tentu rasa gembira dan suka cita atas datangnya manusia mulia, juru selamat dunia akhirat pada se­luruh umat, lebih layak untuk diraya­kan dari pada sekadar turunnya hidang­an dari langit. Manusia manapun tahu Rasulullah SAW lebih mulia dari semua ciptaan Allah SWT.

Namun perlu diingat, agar peringatan peringat­an itu tetap tidak keluar dari bim­bingan para ulama, sehingga kita semua ber­oleh hasil maksimal dan peneladan­an yang benar, serta jauh dari segala ke­munkaran, juga untuk menutup celah ko­mentar orang yang anti perayaan Mau­lid. Janganlah niat baik kita terkon­ta­minasi oleh ketidaktahuan cara peng­ung­kapan rasa cinta dan suka cita itu sendiri.

Di antara beberapa hal yang harus kita perhati­kan, kita jauhi, dan jangan sampai terulang lagi pada tahun-tahun yang akan datang, adalah:

Pertama, ikhthilath, yaitu perbauran laki laki dan wanita dalam satu majelis, apalagi wanita melantunkan Al-Qur’an, atau membaca saritilawah di tengah ke­ru­munan laki-laki, itu semua dilarang oleh agama.

Kedua, menjauhkan majelis yang mu­lia ini dari pencera­mah yang memba­wakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), karena itu akan menjadi celah bagi para pembenci Maulid untuk menyerang kita, dan yang terpenting itu dilarang oleh sang Shahibul Maulid, dengan sabda­nya, “Barang siapa berbohong atasku (me­malsukan hadits-ku), persiapkanlah tempatnya di neraka.” Sesungguhnya kita pun tidak butuh dengan hadits-hadits itu, sekedar untuk memper­kuat hujjah dan dalil penguat tentang Maulid, karena banyak ayat dan hadits shahih sebagai dalil yang benar terkait legalitas peraya­an Maulid.

Ketiga, larut dalam tawa yang tidak terkontrol, dengan bahasa yang tidak layak diungkapkan pada majelis Nabi SAW tercinta dan termulia, karena beliau juga melarang hal-hal tersebut.

Keempat, hendaknya pembicaraan kita tidak keluar dari mahabbah pada Nabi Muhammad SAW, rahmat, penela­danan dan segala yang terkait pada ke­sempurnaan akhlaq beliau, serta penje­lasan pada orang awam tentang dalil pe­ringatan Maulid, agar mereka memaha­mi dengan jelas apa yang mereka laku­kan. Inilah yang dilakukan para ulama di berbagai belahan dunia seperti di Mak­kah, Madi­nah, Maroko, Yaman, dan lain­nya. Semoga Allah memberikan berkah pada kita lantaran mereka.

Kelima, menjauhkan acara ini dari kepentingan-kepenting­an sesaat, pribadi maupun golongan, yang bertuju­an meng­galang massa, membeli dan membodohi ulama yang mempunyai banyak peng­ikut dengan harga yang murah, dalam arti­an berapa pun uang itu sangat­lah ke­cil dibandingkan kesucian acara itu sen­diri, toh akhirnya mereka pun tak mau meneri­ma syariat yang dibawa oleh Nabi SAW.

Keenam, jangan pernah memberi tem­pat untuk para pembicara yang tidak sopan, baik dalam tutur bahasa atau pe­nampilan, apalagi membahas hal-hal ca­bul dan mesum dalam majelis yang ber­kah itu, apapun alasan mereka sungguh ini melukai hati Rasulullah SAW.

Renungan Maulid

Menyambut bulan Maulid tahun ini, buku karya Ustadz Muhammad Ahmad Vad’aq ini diterbitkan. Penulisnya me­nyuguhkan isinya dengan metode pem­bahasan yang sedemikian rupa, dengan harapan pembaca dapat memahami perihal perayaan Maulid ini secara utuh. Di bagian belakang sampul buku ter­sebut, penulis juga menyertakan sinop­sis yang cukup menggugah pembaca­nya. Sinopsis itu bak rekaman sejarah Maulid dari zaman ke zaman yang ke­mudian diperas hingga menjadi satu ha­laman. Meski terkesan padat untuk ukur­an sebuah sinopsis buku, namun kalimat demi kalimat yang dituturkan terasa sangat mengena. Mengingat sedemikian dalamnya pe­san yang ingin disampaikan dalam si­nopsis buku yang tertera dalam sampul be­lakang buku itu, berikut ini kami tuang­kan secara utuh isinya. Api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala seribu tahun padam se­ketika. Pilar-pilar kokoh istana kisra Persia pun tumbang berjatuhan. Dan ba­nyak lagi. Wal­hasil, alam bergemuruh, me­nyambut kelahiran Nabi SAW sede­mi­kian rupa.

Puluhan tahun kemudian, ada saha­bat bertanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin. “Itu­lah hari kelahiran­ku dan hari aku diutus,” jawab beliau. Itulah cara be­liau mem­peringati hari lahirnya. Beliau mensyukurinya dengan berpuasa, bah­kan di setiap pekan.

Waktu berputar. Sumber-sumber se­jarah mencatat beberapa versi terkait pihak yang awal mula merayakan Maulid secara terbuka, pasca-era Nabi. Salah satu sumber mu’tamad, At-Tarikh karya Ibnu Katsir, menyebut nama Al-Muzhaf­far Abu Sa’id Kaukabri (wafat 630 H). Kala itu, kisah hidup Nabi diperdengar­kan, keluhuran akhlaq beliau disebut-se­but, shalawat bergema silih-berganti, ha­dirin dijamu layaknya tamu yang mesti di­hormati. Meski hanya setahun sekali, inilah salah satu cara umat yang ingin mensyukuri kelahiran sang rahmatan lil ’alamin. Di hati pecinta, sungguh ini ke­nikmatan tiada tara.

Terlepas dari berbagai versi sejarah itu, gagasan mengumpul­kan orang da­lam sebuah majelis Maulid nyatanya di­sambut baik oleh ulama, para pewaris an­biya’, seperti halnya shalat Tarawih berjama’ah yang digagas Umar bin Khath­thab RA, yang terus dilestarikan orang dari zaman ke zaman, di belahan bumi Islam timur dan barat.

Sebut saja Ibnu Hajar (penyusun kitab syarah Shahih Al-Bukhari) atau An-Nawawi (penyusun kitab syarah Shahih Muslim), dua dari sekian banyak ulama yang telah men­jelas­kan pada umat huj­jah-hujjah syar’i amaliyah Maulid Nabi. Mereka bukan sembarang tokoh, dua kitab syarah mereka itu menjadi rujukan terpenting untuk mema­hami hadits-ha­dits shahih Rasulullah SAW. Belum lagi As-Suyuthi (penyusun kitab tafsir Qur’an Al-Jalalain, bersama Al-Mahalli, dan se­kitar 500 karya berbobot lain­nya), yang sampai menyusun kitab khusus berisi perkara penting ini: Husn al-Maqshad fi ’Amal al-Maulid.

Waktu terus berputar. Hingga datang satu kaum yang merasa paling murni tau­hid­nya, dan benar mutlak pendapat­nya menghukumi Maulid dengan ter­gesa-gesa. Hemat mereka, Maulid itu tak bersumber dari agama, termasuk amal­an bid’ah, tradisi paham yang sesat, me­nyerupai kebiasa­an orang kafir, dalil-da­lilnya dipaksakan, jamuan yang dihi­dang­kan haram, memuji-muji Nabi di da­lamnya menjurus syirik, dan kelak para pelaku ”bid’ah” ini menjadi ahli neraka. Semua itu utamanya bermodalkan dalil, ”Tiap yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu ada di neraka” dan rumusan Ibn Tai­miyah, ”Sekiranya suatu amalan itu baik, niscaya salaf lebih dulu meng­amal­kannya.”

Benarkah demikian? Sesederhana, sedangkal, dan sekaku itukah agama yang agung ini menilai amaliyah umat­nya, hingga menempatkan kaum mus­lim­in sejak dulu bagai sekumpulan orang-orang sesat dan para ulamanya bak orang-orang bodoh yang tak paham hadits Nabi SAW atau para pembang­kang atas syariat yang beliau gariskan?

Selamat menyimak isi buku ini. Hati manusia tidaklah lebih panas dari api abadi Majusi atau sekeras pilar istana Persi. Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam me­mahami kebenaran dan dalam mengi­kutinya.

Sumber : Majalah Al Kisah
Selengkapnya...

Sunday, December 8, 2013

Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani Des-2013

Assalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Insya Allah Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q) akan kembali mengunjungi Indonesia pada tanggal 23 Desember 2013-1 Januari 2014.
Berikut ini adalah Jadwal Tentatif Kunjungan beliau.

SENIN, 23 DES 2013
Pkl. 16-21
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Jl.Limo No.7 Rt.03/05, Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jaksel

SELASA, 24 DES 2013
Pkl.13-15
Radio Talk Show
di Radio Silaturahim AM 720 KHz,
Jl. Masjid Silaturahim No.36, Kalimanggis, Cibubur

Pkl.20-23
Dzikir dan Shuhba di Rumah Bapak Muchtony,
Jl. Puri Kencana No.39 Cipete Selatan

RABU, 25 DES 2013
Pkl.20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama Habib Alwi Ba-Alawy
di Masjid Raya Perumnas Teluk Jambe, desa Sukaluyu, Karawang

KAMIS, 26 DES 2013
Pkl. 20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama K.H. Amir Hamzah, para Kyai dan Ulama di Pesantren Daarul Ishlah,
Jl.Buncit Raya No. 5 RT.05/05, Kalibata Pulo, Jakarta Selatan

JUMAT, 27 DES 2013
(pagi) Berangkat ke Cirebon
Pkl. 14-15 Kunjungan ke Pesantren Kempek, Gempol, Cirebon

Pkl.21-23
Kunjungan ke Majelis Asaqofa, Plered, Cirebon

SABTU, 28 DES 2013
Pkl.11.-12.30: Kunjungan Pesantren As-Sidqu

Pkl.21-23
Tabligh Akbar dan Cirebon Berdzikir bersama Habib Syech, para Kyai dan Ulama di Alun-Alun Masjid Agung At-Taqwa

MINGGU, 29 DES 2013
Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati, Kunjungan ke Pesantren Buntet dan kembali ke Jakarta

SENIN, 30 DES 2013
Pkl.20-23 Dzikir dan Shuhba
di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jl.Budi Kemuliaan No.23, Jakarta Pusat

SELASA, 31 DES 2013
Pkl.21-24 Mawlid Nabi (s) bersama Habib Hasan bin Ja’far Assegaf dan Majelis Taklim Nurul Musthofa di Jl.Bangka Raya RABU, 1 JAN 2014
Berangkat ke Singapura

KETERANGAN
Informasi: Humas (0819-1000-0065)
Donasi: Melly (0816-115-3215), atau
Utje Mustari (0812-1043-096-57)
BCA No. 336 000 6335 atas nama Melza
Bank Mandiri No.126.000.405.3459 atas nama Yayasan Haqqani Indonesia http://naqsybandi.com/
Selengkapnya...

Wednesday, October 30, 2013

Sholawat ash-Shighah at-Tajridiyyah

Assalamualaikum, 
Berikut sy tuliskan sholawat ash-Shighah at-Tajridiyyah yang didapat dari bahrushofa sebagai berikut:
Syaikhul Azhar, al-'Alim al-'Allaamah Dr.`Abdul Halim Mahmud rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul "ar-Rasul shallaAllahu `alaihi wa sallam" pada halaman 175 menukilkan sebuah shighah sholawat yang beliau terima dari Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi asy-Syablanji asy-Syadzili rahimahullah.

Menurut beliau, Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi telah memperolehi shighah shalawat ini dalam satu mimpi yang berkah. Dr. `Abdul Halim Mahmud telah menamakan shighah shalawat ini sebagai "ash-Shighah at-Tajridiyyah" karana sholawat ini tidak dilafazkan melainkan semata-mata untuk beribadah dengan mengajukan permohonan agar Allah SWT melimpahkan sholawat, salam dan barakah ke atas hambaNya, Sayyidina wa Mawlana Muhammad SAW, sebanyak bilangan makhlukNya, sesuai dengan keridhaanNya, seberat `arasyNya dan kalimahNya.
Jumlah pada shighah ini merupakan kiasan yang bertepatan dengan tasbih yang diajarkan oleh Junjungan Nabi SAW, yaitu "SubhanAllahi wa bi hamdihi, `adada khalqihi, wa ridha-a nafsihi, wa zinata `arsyihi, wa midada kalimaatihi." Mudah-mudahan dengan mengamalkan sholawat ini, kita dapat meraih keredhaan Allah SWT dan syafaat Junjungan Nabi SAW.

Sumber: http://bahrusshofa.blogspot.com Selengkapnya...

Wednesday, October 2, 2013

Madrasah Hadhramaut : Penyakit Hasad

Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengan­nya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh ca­haya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.

Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!

Segala puji milik Allah, Yang mensucikan hati orang-orang yang tulus dalam meraih kesucian, Yang menolong ham­ba-hamba-Nya di dalam mensucikan hati mereka di jalan ketulusan pencarian terhadap-Nya. Milik-Nya segala puji atas segala yang telah dikaruniakan-Nya, mi­lik-Nya segala puji atas segala yang te­ngah dikaruniakan-Nya, dan milik-Nya se­gala puji hingga Allah ridha, dan milik-Nya segala puji setelah ridha.

Ya Allah, limpahkanlah karunia dan ke­sejahteraan senantiasa atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemilik hati yang paling suci di antara makhluk, dan atas ahli baytnya, shabat-shahabarnya, para tabi‘in, tabi’ut tabi‘in, dan para pengikut mereka, hingga hari Kiamat.

Pada pelajaran yang lalu telah di­bahas ihwal menolehkan pandangan ke­pada hati dengan maksud untuk mensuci­kannya dari kotoran-kotoran, yang me­nempel padanya dari maksiat dan pe­nyakit-penyakit hati.

Telah lalu penjelasan tentang bagai­mana mengobati hati dari penyakit som­bong (al-kibr), yang menjadi tanda dari ke­bodohan pelakunya, demikian pula ten­tang bagaimana mengobati kegelapan pe­nyakit riya’, yang merupakan bentuk pe­remehan hati terhadap keagungan Allah SWT, dan penolehan hati, karena kebodohan, kepada cinta kedudukan di sisi manusia. Imam Al-Haddad berkata, “Riya’ adalah tanda kebodohan pelaku­nya. Mengapa?”

Beliau berkata, “Karena ia telah memalingkan ibadahnya kepada Allah kepada makhluk, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan madharat bagi dirinya.”

Selanjutnya kita akan membicarakan bagaimana melepaskan diri dari hasad, penyakit ketiga dari induk segala penyakit dan maksiat hati.

Bila kembali mengingat pelajaran yang lalu, kalian akan tahu bahwa som­bong akan melahirkan penolehan pan­dangan kepada manusia, karena pada kondisi ini seseorang membanding-ban­dingkan dirinya dengan orang lain. Ia me­mandang dirinya lebih mulia dan lebih uta­ma dari orang lain. Pandangan ini muncul dari sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi riya’, ingin dipandang oleh orang lain. Ia mencari dan menuntut pandangan orang lain kepada dirinya, menuntut orang lain memuliakannya dan meng­agung­­kannya. Ia cinta terhadap keduduk­an di antara manusia.

Keadaan semacam ini, bila terus tum­buh berkembang di dalam diri pelakunya, se­lanjutnya akan berubah menjadi pe­nya­kit yang ketiga, yakni hasad.

Hasad, yang merupakan maksiat di an­tara maksiat-maksiat hati, adalah pe­rasaan berat dalam memandang nikmat atau karunia yang ada di sisi makhluk. Engkau merasa berat bila melihat orang lain memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik nikmat duniawi maupun nikmat ukhrawi. Dari mana datangnya perasaan berat semacam ini? Perasaan itu datang ka­rena engkau sibuk untuk meraih dan men­dapatkan kedudukan di antara ma­nusia.

Apabila kedudukanmu di antara ma­nusia adalah karena ilmu yang engkau miliki, engkau akan merasa berat bila memandang orang lain yang lebih alim dan berilmu dari dirimu, karena engkau ta­kut orang-orang akan menolehkan pan­dangan mereka kepadanya, bukan ke­pada dirimu. Sehingga penyakit yang ada di dalam hatimu itu sampai kepada batas­an bahwa engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat yang Allah berikan kepada selain dirimu. Mengapa? Karena engkau tidak menginginkan orang-orang memandang kepada orang yang menda­pat karunia itu. Engkau hanya ingin agar orang-orang memandang kepadamu.

Atau, apabila kedudukan yang eng­kau harapkan di antara manusia adalah dengan sebab kekayaan yang engkau mi­liki, atau kemampuan untuk meng-goal-kan proyek-proyek yang mendatangkan pundi-pundi kekayaan, engkau akan me­rasa berat bila di hadapanmu terdapat orang lain yang juga memiliki kemampu­an seperti itu, karena engkau takut hal itu akan membuat pandangan orang-orang tertuju kepadanya, bukan kepada dirimu.

Pada ilmu, kedudukan, pangkat, ja­batan, dan pada apa pun itu, penuhnya hati oleh kegelapan cinta terhadap kedu­dukan di sisi manusia akan melahirkan se­telahnya penyakit yang ketiga ini, yakni hasad, perasaan berat melihat nikmat yang ada di sisi makhluk.

Bila kami katakan bahwa kesombong­an (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepan­dir­an, sesungguhnya hasad adalah pe­rmusuhan (mu‘adah) terhadap Allah se­cara terang-terangan. Naudzu billah!!!

Apakah seseorang dapat menerima bahwa dirinya menjadi musuh bagi Tu­han, Yang Maha Pemilik segala kemulia­an? Hasad adalah permusuhan terhadap Allah SWT secara terang-terangan, ka­rena orang yang hasud seolah-olah ia menentang Allah SWT.

“Kenapa Engkau memberi si Fulan?”

Di saat engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat pada seseorang, seolah-olah engkau menentang terhadap Yang memberinya nikmat itu, Allah SWT. Inilah bahaya hasad. Engkau akan se­nantiasa hidup dengan kegelapan hati, yang hatimu merasa berat untuk melihat kebaikan di sisi manusia, dan menentang Allah SWT dalam memberikan karunia-Nya kepada sekalian makhluk-Nya.

Hasad memiliki beberapa macam. Pertama, hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy). Yakni berharap hilangnya nikmat dari orang lain meskipun nikmat itu tidak di­harapkan menjadi miliknya.

Seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain yang ada di hadapan­nya sekalipun nikmat itu tidak akan men­jadi miliknya. Misalkan, seseorang sukses dalam meng-goal-kan suatu transaksi bis­nis, engkau berharap agar orang itu men­dapat kerugian, sekalipun dirimu ti­dak dapat melakukan suatu transaksi pun.

“Atasku dan atas musuh-musuhku,” seperti yang dikatakan orang-orang.

Ini hasad Iblis. Dia merasa berat me­lihat kedudukan yang tinggi dari Allah SWT berada pada ayah kita, Nabi Adam AS. Hasad semacam ini kemudian mem­bawa Iblis kepada me­nen­­tang Tuhan, Yang Maha Pemilik se­gala ke­muliaan, dengan menolak untuk ber­sujud kepada Nabi Adam AS. Setelah itu, sebagai ganti dari semestinya ia kem­bali dan bertaubat kepada Allah SWT serta menyesali ke­salahannya, yang, bila saja dia bertaubat, niscaya Allah akan meng­hapuskan dosanya, karena sung­guh Allah mahaluas karunia-Nya, kepada Allah justru Iblis mengancam Adam AS dan anak-cucunya. Iblis berkata, “Dia (iblis) berkata, ‘Terang­kanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diri­ku? Sesung­guhnya jika Engkau mem­beri tangguh ke­padaku sampai hari Kia­mat, niscaya be­nar-benar akan aku se­­sat­kan keturunan­nya, kecuali se­bahagi­an kecil." (QS Al-Isra: 62).

Apakah perbuatan Iblis terhadap anak-cucu Adam akan mengembalikan kedudukannya? Apakah dengan itu Iblis akan mendapatkan kembali kedudukan yang telah hilang darinya? Tidak!! Sekali-kali tidak akan pernah kedudukannya itu kembali kepadanya. Disebabkan karena teramat gelap dan hitam pekatnya hasad yang ada di dalam hatinya, Iblis berpaling dari seharusnya memikirkan bagaimana mendapatkan ganti dari kerugian yang di­alaminya, dan bagaimana meraih kembali kedudukan yang telah hilang dari dirinya, kepada bagaimana mendatangkan ma­dharat terhadap orang lain yang menda­patkan karunia dan kedudukan dari Allah SWT dan bagaimana melenyapkan karu­nia yang diraih oleh selain dirinya.

Inilah yang terburuk dan paling hina dari macam-macam hasad.

Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena dia ber­hadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya.

Setelah menjelaskan hakikat hasad dan macam pertama dari macam-macam hasad, yakni hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy), pengasuh melanjutkan penjelas­annya tentang macam-macam hasad se­lanjutnya dan bahaya darinya.

Kedua, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Seseorang ber­harap hilangnya nikmat dari orang lain yang berada di hadapanya dan dia ber­harap agar nikmat itu beralih kepada diri­nya. Dia berharap, si Fulan merugi dalam usahanya, agar dirinyalah yang kemudian mendapat keuntungan yang besar. Dia berharap, si Fulan jatuh kedudukannya, agar dialah yang nantinya mendapatkan dan menggantikan kedudukannya.

Seseorang yang memiliki sifat hasad semacam ini berharap hilangnya nikmat dari orang lain agar dirinya yang menda­patkannya. Sifat semacam ini adalah sifat yang buruk dan sesuatu yang dapat me­ngotori hati — wal-‘iyadzu billah, semoga Allah menjauhkan kita dan kalian semua daripadanya. Akan tetapi sifat hasad yang kedua ini lebih rendah keburukannya dari yang sebelumnya.

Ketiga, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar dia mendapat­kannya, namun, jika tidak men­dapat­kan­nya, dia tetap rela bila nikmat itu dimiliki orang lain.

Seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain yang ada di hadap­annya dan mengharapkan untuk menda­patkan nikmat itu. Akan tetapi jika tidak ada jalan untuk menggapainya agar men­jadi miliknya, dia merelakan nikmat itu menjadi milik orang lain tersebut.

Jenis hasad semacam ini pun buruk, akan tetapi kadar keburukannya lebih ringan dari dua macam hasad sebelum­nya.

Keempat, ghibthah. Sesuatu yang tidak dinilai buruk, tapi merasakan berat terhadap nikmat yang ada pada orang lain.

“Mengapa Fulan mendapatkan ini dan itu? Akan tetapi aku tidak berharap agar si Fulan rugi. Aku hanya berharap agar aku pun mendapatkan seperti yang didapatkan oleh si Fulan.”

Inilah ghibthah. Hasad seorang muk­min adalah ghibthah. Seorang mukmin tidak hasad kepada sesamanya, tetapi ia ghibthah.

Apa makna ghibthah kepada orang lain? Maknanya, ia berharap agar men­dapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain, tetapi tidak mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain.

Untuk macam yang keempat ini, ti­dak­lah mengapa dimiliki seorang muk­min. Engkau melihat seseorang memiliki suatu kebajikan, misalkan ia telah hafal Al-Qur’an. Engkau merasa berat karena engkau belum hafal, maka engkau pun ber­harap agar segera dapat hafal Al-Qur’an, tapi engkau tidak merasa berat terhadap saudaramu yang telah lebih dahulu hafal Al-Qur’an. Perasaan berat itu selanjutnya memotivasimu untuk menghafal Al-Qur’an sehingga engkau mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Engkau tidak berharap agar nikmat itu hilang dari saudaramu. Ini termasuk bab at-tanafus (saling berlomba). Allah SWT berfirman, "...dan untuk yang demi­kian itu, hendaknya orang berlomba-lom­ba." QS. Al-Muthaffifin: 26.

Ghibthah adalah sesuatu yang terpuji, karena ini kembali kepada sifat asal manusia, yakni harapan untuk menang, harapan untuk beridentitas, dan harapan untuk maju.

Bila datang ghibthah ke dalam hati­mu, tidaklah mengapa. Yang bermasalah adalah pada tiga macam yang pertama, yakni seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain.

Bahaya di Dunia

Adapun bahaya dan akibat yang di­timbulkan oleh sifat hasud sangatlah be­sar. Dan tidak hanya terbatas di dunia, te­tapi juga di akhirat.

Mengenai bahaya dan akibat sifat ha­sud di dunia, pertama, orang yang hasud akan senantiasa berada dalam duka dan kesedihan.

Orang yang hasud selalu berada da­lam duka selama hidupnya. Karena sese­orang yang di hatinya terpenuhi oleh ge­lapnya sifat hasad tidak pernah suka me­lihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dia tidak pernah suka bila se­seorang terlihat harmonis bersama ke­luarganya sehingga berusaha untuk me­nebarkan fitnah, tidak suka bila sese­orang mendapatkan nikmat dari kebaikan dunia, tidak suka bila seseorang menda­patkan nikmat berupa ilmu atau kebaikan apa pun.

Selamanya, ketika melihat orang lain mendapat kebaikan, dia akan merasa be­rat karenanya, sehingga ia pun berharap agar nikmat itu hilang. Orang semacam ini hidupnya miskin. Dia dalam kesedihan sepanjang hidupnya karena karunia Allah tidak pernah terputus selamanya kepada makhluk-Nya. Maka, sepanjang dia me­lihat karunia dan nikmat Allah di sisi makh­luk-Nya, sepanjang itu pula dia se­nantiasa berduka dan bersedih hati sam­pai akhir umurnya.

Bila saja tidak ada akibat buruk di­karenakan sifat hasad selain hal ini, nis­caya cukuplah sebagai bukti dari buruk­nya sifat hasad. Yang satu ini adalah bah­wa orang yang hasud selamanya berse­dih di dunia.

Kedua, orang yang hasud tidak me­miliki kawan. Karena hubungannya de­ngan manusia lainnya sebatas fatamor­gana. Orang yang hasud, sekalipun se­olah-olah mencurahkan cinta kepada se­sama, pasti akan datang saat-saat ketika tampak darinya sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia seorang yang hasud terhadap sesamanya sehingga orang-orang pun akan menjauh darinya. Orang yang hasud tidak memiliki kawan. Dia akan hidup terkucilkan sekalipun dia berusaha untuk menutupinya.

Ketiga, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketulusan dan kelapangan hati. Ini berlaku di dunia sebelum akhirat. Orang yang hasud tidak akan merasakan makna ketulusan dalam hubungannya de­ngan makhluk lainnya. Setiap kali me­lihat seseorang mendapatkan sesuatu dari nikmat yang Allah berikan, hatinya merasa berat karenanya. Dia pun gundah dan susah karenanya, di saat orang yang menyambut gembira terhadap datangnya kebaikan pada orang lain merasakan mak­na ketulusan, karena hubungan yang dibangun bersama sesamanya adalah hubungan yang didasarkan atas cinta terhadap kebaikan bagi sesamanya. Keempat, seorang yang hasud tidak akan mungkin menjadi dai yang meng­ajak kepada jalan menuju Allah SWT. Orang yang hasud tidak akan mung­kin mengabdi kepada Islam. Meskipun ber­usaha untuk melakukan perbuatan yang menggambarkan khidmah terhadap Islam, dia tidak akan dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebajikan kepada se­genap makhluk. Karena dasar dalam ber­dakwah kepada Allah adalah bahwa engkau menyampaikan cahaya iman ke­pada orang lain. Apa maknanya? Maknanya, engkau me­nyampaikan kebaikan kepada me­reka. Apa makna menyampaikan kebaik­an kepada mereka? Maknanya, engkau men­jadi sebab bagi kebahagiaan me­reka. Dan jika di dalam hati terdapat ha­sad, niscaya akan terasa berat terhadap adanya kebaikan di sisi makhluk. Lalu bagaimana engkau dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka? Syaikh Muhammad As-Sinqithi men­ceritakan satu kisah nyata yang lucu tapi juga ironis. Beliau menceritakan bahwa seorang nonmuslim nonpribumi tinggal di kota Damaskus. Bertahun-tahun lamanya ia berjualan minyak tanah. Setelah lebih dari dua puluh tahun berada di Damas­kus, ia merasa saatnya kembali ke ne­geri­nya. Lalu ia pun mendatangi sese­orang yang terlihat ahli ibadah. Ia datang kepada orang itu dan berkata, “Wahai Tuan, sekarang ini usiaku 60 tahun. Se­lama aku tinggal di negeri kalian, negeri Islam, aku telah tertarik kepada Islam. Apakah, jika aku masuk ke dalam Islam, Allah akan mengampuniku atas segala yang telah aku perbuat selama ini?”

Orang itu berkata kepadanya, “Enam puluh tahun engkau bergelimang dalam kemaksiatan, dosa, dan berbagai kenis­ta­an... lalu begitu saja ingin lepas dari se­mua itu dan engkau ingin masuk ke dalam surga? Sulit... hal itu tidak akan mungkin... tidak ada jalan keselamatan bagimu!”

Sampai di situ selesailah perma­sa­lahannya, dan orang itu pun memper­ca­yai­nya. Ia pun kembali ke rumahnya da­lam keadaan bersedih dan diliputi duka.

Namun, setelah enam bulan berlalu, hasrat dan keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk menetapi jalan kebaikan membawanya untuk datang kepada Syaikh Muhammad As-Sinqithi, yang menceritakan kisah itu.

Nonmuslim itu berkata kepada Syaikh Sinqithi, “Apakah mungkin aku masuk Islam?”

“Baiklah, sekarang ucapkan dua kali­mah syahadat!”

“Apakah engkau yakin bahwa itu mung­kin untukku?”

“Engkau rela Islam sebagai agama­mu dan yakin terhadapnya?”

“Ya”

“Sekarang, ucapkanlah dua kalimah syahadat dan jangan ragu.”

Nonmuslim itu pun bersyahadat dan me­nangis setelahnya.

Syaikh Sinqithi pun bertanya kepada­nya, “Apa yang membuatmu menangis?”

“Aku pergi kepada seorang syaikh se­belum ini, atau seorang yang rupanya se­perti seorang syaikh, tapi ia berkata ke­padaku, ‘Tidak mungkin ada jalan se­lamat untukmu...’.” “Siapa dia?”

“Si Fulan di daerah anu...”

Syaikh Sinqithi pun mengunjungi orang yang ditunjukkan oleh nonmuslim tadi.

Setelah bertemu, ia bertanya kepada­nya, “Apakah benar beberapa bulan yang lalu ada seorang kelana yang datang ke­padamu dan menyatakan bahwa ia hen­dak masuk Islam lalu engkau katakan kepadanya, ‘Sudahlah, tak ada guna­nya... engkau sudah 60 tahun....’

Orang itu menjawab, “Benar.”

“Bagaimana mungkin engkau me­lakukan hal seperti itu?”

“Allah adalah Tempat meminta perto­longan. Orang ini sudah 60 tahun meng­habiskan umurnya dalam keharaman, ber­senang-senang dengan perempuan dan segala yang dia inginkan dari dunia, lalu nanti dia akan masuk surga bersama kita?! Ini musykil... Dia akan masuk surga bersama kita?!”

Hikmah dari kisah ini, di dalam kisah ini terdapat tiga masalah, akan tetapi se­muanya kembali kepada satu masalah, yakni hasad.

Masalah pertama, dia (“ahli ibadah” itu) tidak menginginkan adanya nikmat bagi orang lain.

Masalah kedua, dia meyakini bahwa dirinya masuk surga. Ini adalah musibah yang kedua. Ujub telah mewariskan ke­sombongan di dalam hatinya (...dia ma­suk surga bersama kita?!).

Apakah engkau dapat menjamin bah­wa engkau pasti masuk surga?

Masalah yang ketiga adalah sesuatu yang paling dalam. Sesungguhnya dia me­rasa dirinya rugi bahwa dirinya ter­halang dari maksiat. “Bagaimana mung­kin orang ini tenggelam dalam maksiat sedangkan aku tidak?” Karenanya dia ma­rah, mengapa orang lain melakukan mak­siat sedangkan dirinya tidak.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain sebabnya adalah hasad.

Kelima, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketaatan kepada Allah SWT.

Bila seseorang terhalang dari ketulus­an dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan per­nah merasakan nikmatnya ketaatan se­lama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mung­kin orang yang hasud merasakan nik­matnya dekat dengan Allah, karena ia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya. “Wahai Tu­hanku, kenapa Engkau memberi ini dan itu kepada Fulan dan Fulan?!”

Orang yang hasud menghadapi Allah dengan apa-apa yang tidak disukai-Nya ada di dalam hati hamba-hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Ini semua ada­lah akibat dan bahayanya sifat hasud.

Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis?

Setelah pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di dunia, selanjutnya pengasuh menjelaskan ba­ha­ya hasad kelak setelah pelakunya menjumpai Allah SWT di akhirat.

Di akhirat, hasad akan menghangus­kan segala kebajikan. Hasad adalah se­bab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ke­tahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis? Itulah sebabnya, orang yang hasud akan terusir dari rahmat Allah SWT.

Hasad juga adalah sebab masuknya pelakunya ke dalam neraka. Hasad akan men­jadi permulaan hilangnya iman se­se­orang bila pelakunya tidak menyadari­nya – wal ‘iyadzu billah. Bagaimana hasad dapat menjadi se­bab tercerabutnya iman dari pelakunya? Karena orang yang hasud senantiasa me­­nentang dan menentang Allah SWT. “Ya Rabb, mengapa Engkau karuniakan ke­pada Fulan?!” “Mengapa Engkau mu­dah­kan fulan?!” “Mengapa?!” “Mengapa?!!!”

Terhadap Tuhannya, ia menyimpan rasa dalam benaknya, “Ya Rabb, sung­guh aku tidak rela dengan apa yang Eng­kau putuskan!” Kondisi ini bila berke­lan­jutan di dalam dirinya, lalu apakah yang tersisa dari imannya? Imannya akan hi­lang dan tercerabut dari asalnya.

Wahai murid, peniti jalan menuju Allah SWT, masuklah ke dalam hatimu dan periksalah. Terkadang hasad ter­sembunyi pada nafsu di dalam hati. Be­rapa kali engkau merasa bahwa dirimu marah terhadap seseorang melampaui batas dalam ucapan yang engkau lon­tarkan kepadanya hanya karena hal se­pele yang tidak perlu berkata keras dan tidak pula berteriak karenanya.

Periksalah, mungkin di dalam hatimu engkau merasakan sesuatu yang berat dari orang yang engkau marahi itu? Eng­kau hasad terhadapnya pada satu hal sehingga muncul masalah paling kecil na­mun membuatmu berdiri dan melontar­kan kata-kata yang tidak patut kepadanya.

Para ulama hati mengatakan, “Paling buruknya macam-macam hasad adalah ha­sadnya para ulama, para penuntut ilmu, para dai, dan para salikin, peniti ja­lan menuju Allah SWT. Mengapa demi­ki­an? Karena, semestinya merekalah yang mempergunakan bekal pensucian hati.”

Apabila seorang penuntut ilmu, misal­nya, hasad terhadap penuntut ilmu lain­nya, niscaya ia akan menanti-nanti kapan penuntut ilmu yang dihasadinya itu me­lakukan suatu kesalahan. Dan bila ia telah melakukan kesalahan, dia akan menye­rang­nya dengan serangan yang dahsyat ter­hadapnya. Karena serangan yang di­lakukan itu sesungguhnya bukanlah di­tujukan terhadap kesalahan yang ringan itu sendiri, melainkan untuk membinasa­kan semua yang datang dan berasal dari sisi penuntut ilmu, orang alim, dai, atau salik, yang dihasadinya itu.

Mengapa demikian? Karena perma­salahan yang sesungguhnya adalah per­masalahan hasad, bukan permasalahan kritik terhadap kesalahan. Demikian pula halnya dalam perda­gangan, jual-beli, dan perniagaan. “Tidak, tidak, tidakk!!.... Aku tidak mungkin per­caya kepada si Fulan selama-lamanya!” Mengapa? Pada hari ketika engkau menurunkan barang dagangan ke pasar, orang-orang tidak menemukan masalah apa pun dari si Fulan dalam perniaga­an­nya? Apakah ada kemunngkinan tidak sa­darnya mereka terhadap masalah si Fulan itu karena lupa? Sesungguhnya yang menyebabkan datangnya kemung­kinan, mengapa engkau langsung meng­anggapnya tidak amanah atau keji dalam perniagaannya, adalah karena engkau dan si Fulan berada pada satu profesi sebagai pedagang. Bila persaingan telah berlangsung, hasad pun muncul dan datang.

Bila ada seorang petani dan ada pe­tani lain selain dalam satu usaha agro­bisnis, misalnya, lalu petani yang kedua melakukan kesalahan dalam salah satu prosedur bercocok tanam yang semesti­nya hingga memberi pengaruh terhadap panen yang dihasilkan, petani yang per­tama akan berkata, “Tidak, jangan kalian percaya kepada si Fulan untuk melaku­kan tugas-tugas ini dan itu, dia telah melakukan ini dan itu....”

Siapa yang melakukan kecaman dan serangan terhadap petani itu? Yang me­lakukannya tidak lain adalah petani se­pertinya, pada profesi yang sama. Me­ngapa? Karena petani tersebut merasa berat untuk melihat petani lainnya lebih unggul dan lebih sukses darinya.

Bagaimana mengobati hasad?

Pertama, benci terhadap sifat hasad itu sendiri. Engkau benci sifat ini berada pada dirimu. Akui bahwa sifat hasad ada da­lam dirimu dan engkau membenci ke­beradaanya di dalam dirimu. Biarkan Allah melihat hatimu dan mendapati ke­bencianmu terhadap hasad di dalamnya. Kebencianmu untuk hasad terhadap orang lain.

Kedua, mendoakan orang yang eng­kau merasa berat melihat adanya karunia padanya.

Engkau melihat seseorang yang Allah berikan karunia kepadanya berupa nik­mat lahir atau bathin lalu hatimu merasa berat melihat nikmat itu ada padanya, maka ucapkanlah, “Ya Allah, tambahkan­lah nikmat-Mu baginya dan berikan ke­ber­kahan untuknya di dalamnya.... Ya, Allah, berikan taufiq untuknya agar dapat mempergunakan karunia-Mu dengan se­baik-baiknya.... Ya Allah, bahagiakanlah dia dengan karunia-Mu di dunia dan akhi­rat.... Ya Allah, muliakanlah dia dan mulia­kan dzuriyahnya dengan tambahan karu­nia dari sisi-Mu....”

Sebagian ulama berkata, “Ya Rabbi, Eng­kau perintahkan aku untuk mendoa­kan sedangkan hatiku tiada rela. Mungkin lidahku dapat berkata-kata, tapi hatiku se­sungguhnya tak menghendakinya. Aku tertawa dan mengkhianati Tuhanku. Aku tiada mampu melakukannya. Aku berkata ‘Ya Rabbi, tambahkan karuniamu kepada­nya’ sedang hatiku berkata ‘Jangan per­nah Engkau tambahkan baginya’.”

Meskipun hal seperti ini terjadi pada­mu, tetap lakukanlah. Jika engkau ucap­kan ‘Ya Rabb, tambahkanlah karunia-Mu untuknya’ dan hatimu berkata ‘Jangan, ya Rabb. Jangan pernah Engkau tam­bah­kan karunia-Mu untuknya’, ucapkanlah, ‘Ya Rabb, aku berlepas diri dari apa yang ada di hati ini kepada-Mu. Dan yang lidah­ku mampu untuk mengucapkannya, to­long­lah aku atas apa yang aku tiada kua­sa terhadapnya (untuk menggerakkan hatiku sebagaimana aku mampu meng­gerakkan lisanku untuk mendoakan ke­baikan). Aku ber-tawajjuh (menghadap­kan diri dan jiwa) kepada-Mu pada apa-apa yang membuat-Mu ridha dengan apa-apa yang aku mampu melakukannya, maka tolonglah aku pada apa-apa yang aku tiada mampu memperbuatnya.’ Semoga Allah memuliakanmu.

Ini adalah termasuk obat yang muja­rab untuk mengobati hasad yang ada di dalam hati. Engkau mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat nik­mat berada di sisinya, dan memohonkan untuknya agar Allah SWT menambahkan karunia yang sudah diberikan dengan karunia yang lebih besar lagi.

Bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya. Beberapa waktu yang lalu, pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di akhirat dan sebagian pen­jelasan tentang bagaimana mengo­bati penyakit hasad. Selanjutnya penga­suh melanjutkan ihwal bagaimana meng­obati hati dari penyakit hasad, sebagai pelajaran terakhir dari pelajaran kese­belas, tentang penyakit hasad.

Cara yang ketiga untuk mengobati penyakit hasad adalah menceritakan orang yang engkau hasadi di saat ke­ti­dakhadirannya dengan pujian.

Engkau ceritakan orang yang eng­kau merasa berat melihat karunia Allah ber­ada di sisinya dengan pujian. Cerita­kan orang yang engkau hasadi di saat ke­tidak­hadirannya dengan pujian terha­dap ke­baikan-kebaikan yang dimilikinya ke­pada orang-orang lain. Adapun jika di ha­dapannya engkau puji sedangkan di bela­kangnya engkau cela, yang demiki­an itu adalah kemunafikan dan mencari muka.

Pujilah di saat ketidakhadirannya ke­pada orang-orang dengan pujian yang baik dan kukuhkan buah dari kebaikan-kebaikannya itu di hati manusia.

Tahukah engkau, di mana wujud pengobatan terhadap hasad dari per­buatan ini?

Ini adalah paling idealnya pengobat­an langsung terhadap masalah hasad pada nafsu. Mengapa engkau hasad? Eng­kau ingin bersenang-senang? Eng­kau menginginkan kedudukan di sisi ma­nusia? Engkau ingin bersenang-senang dengan kedudukan? Bila engkau memuji ke­mampuan dan keahlian orang yang ber­­saing denganmu dalam ilmu, perda­gang­an, industri, teknik, atau bidang apa pun itu, di saat ketiadakhadirannya dan men­ceritakannya kepada orang-orang lain, apa yang sesungguhnya engkau laku­­kan di sini? Engkau tengah menguat­kan dan meneguhkan kedudukan yang akan men­jadi milik orang yang engkau ha­sadi itu di hati manusia dengan sebab karunia yang telah Allah berikan kepadanya.

Bila demikian halnya, apa yang se­dang engkau lakukan? Sesungguhnya engkau tengah membasmi penyakit yang ada dalam hatimu dari asalnya.

Mengapa engkau merasa berat me­lihat nikmat pada seseorang, mengapa engkau hasad terhadapnya? Karena engkau melihat bahwa nikmat itu akan menjadi sebab bertambahnya keduduk­an orang itu, yang akan menyaingi ke­du­dukanmu di sisi manusia. Dan bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya eng­kau te­lah menghinakan nafsumu dengan se­gala apa yang dapat menghinakan­nya. Dengan demikian, engkau telah mem­bu­nuh permasalahan yang sesung­guhnya dari dalam dirimu dan engkau membas­mi­nya sampai ke akar-akarnya.

“Siapa yang dapat melakukan itu?! Ini teramat berat!!”

Apakah engkau ingin dekat dengan Allah? Apakah engkau ingin menjadi se­orang peniti jalan menuju Allah SWT? Ten­tu tidak akan pernah mudah untuk ber­diri dan berada di tempat orang-orang yang meniti jalan menuju Allah.

Untuk pertama kali, engkau akan ke­luar dari majelis ini dengan semangat yang berkobar-kobar setelah mende­ngar­kan penjelasan ini.

“Ya Allah, aku merasa berat terhadap nikmat-Mu yang ada di sisi Fulan. Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu untuk­nya dan berkahilah dia padanya....”

Esok hari, engkau duduk bersama ka­wan-kawanmu, katakanlah, “Masya Allah, Fulan luar biasa. Aku yakin, keahli­an yang luar biasa di bidang ini akan mem­berikan manfaat dan mendatang­kan kebaikan yang besar. Dan aku akan menyambut gembira atas keberhasilan­nya.”

Sampai batas ini, mungkin masih mu­dah bagi hati untuk menerimannya. Akan tetapi, setelah dua atau tiga hari, dan orang-orang mulai menceritakan dan me­muji-muji orang yang engkau puji dan ce­ri­takan itu di hadapan mereka, mulai naf­sumu menjadi terasa sempit mende­ngarnya. Mereka memujinya lagi, lagi, dan lagi, dan engkau katakan, “Benar, be­nar demikianlah dia adanya!” Na­mun, se­kali lagi, dengan marah eng­kau berkata, “Kami tahu bahwa dia istimewa!!”

Mengapa itu bisa terjadi? Karena de­ngan sebab semakin banyaknya orang-orang memuji dan menceritakan kebaik­an orang itu, urat lehermu terasa semakin sempit dan mencekik.

Makna dari penjelasan ini adalah bah­wa ini semua adalah proses yang pan­jang, karena di sini engkau tengah me­lawan nafsumu pada apa-apa yang di­sukainya. Engkau tengah membasmi pe­nyakit ini dari dalam hatimu dari dasar hati, yakni mengobati penyakit hasad.

Keempat, memikirkan bagaimana mem­bantu orang yang engkau hasad ter­hadapnya. Engkau merasa berat melihat nikmat yang telah Allah berikan kepada sesorang. Bila engkau dapat membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya, ini pun akan dapat meng­obati penyakit ha­sad yang ada di dalam hatimu lebih dah­syat dan lebih hebat lagi. Bila ini dapat engkau lakukan, nis­caya Allah akan me­mandang hatimu. Ini­lah yang diharapkan dan buah darinya.

Apabila Allah memandang hatimu dan melihat bahwa engkau berinteraksi de­ngan-Nya dengan interaksi seperti demiki­an itu, niscaya Allah akan bertajalli atas di­ri­mu dengan nur-Nya. Dan bila Allah te­lah bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya, Allah akan memberimu kesuci­an yang eng­kau tidak upayakan sebe­lumnya. De­ngan se­bab itu hatimu akan membuat ma­nusia men­jadi tenteram dan hatimu akan men­jadi sebab turun­nya ke­baikan bagi manu­sia dari sisi Allah SWT, selanjutnya engkau akan merasa rindu untuk melihat adanya nikmat dan ka­runia bagi manusia lainnya. Menga­pa? Karena engkau meli­hat tajalliyat (pancaran-pancaran kemaha­kuasaan yang berupa rahmat dan kasih sa­yang) Yang Maha Pemberi nikmat, Allah SWT....

Wahai murid, pahamilah makna ini dan sadarilah. Apabila engkau obati jiwamu dengan apa yang telah kami se­butkan dalam pelajaran ini dan dengan apa-apa yang telah diuraikan oleh para ulama tentang mengobati hati, engkau akan melihat adanya pancaran sinar di dalam hatimu. Apa pancaran sinar itu? Yakni nur dan cahaya kebahagiaan de­ngan melihat nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya yang lain.

Makna dari ini adalah bahwa engkau menyaksikan tajalliyat Allah SWT. Eng­kau melihat seseorang yang dikaruniai nikmat oleh Allah SWT.

Apa yang engkau saksikan? Gam­baran yang engkau saksikan adalah se­orang manusia dan nikmat yang da­tang kepadanya, adapun hakikatnya sesung­guhnya engkau menyaksikan tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi nikmat) atas hamba-Nya. Maka engkau telah berpindah dari ke­gelapan hasad kepada nur penyaksian terhadap tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im. Kemudian tajalli Allah de­ngan asma-Nya Al-Mun‘im ini membuat hatimu terpenuhi dengan nur asma Allah Al-Mun‘im.

Bila hatimu telah terpenuhi dengan ta­jalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im, eng­kau pun akan bertajalli atas dirimu sen­­diri denga asma-Nya al-Mun‘im. Maka pada saat itu Allah bertajalli atasmu de­ngan nikmat wushul (sampai) kepada-Nya, yang untuk sampai kepada yang de­mikian itulah aku meniti jalan ini, mengu­raikan penjelasan ini, dan menghadiri ma­jelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran ini.

Setelah kita membicarakan, pada tiga pelajaran yang lalu, perihal induk dari se­gala penyakit hati, apakah masih tersisa se­suatu dari al-kibr (kesom­bong­an) da­lam dirimu yang belum engkau benci. Be­nar, kita butuh waktu untuk melakukan mujahadah agar kita terlepas darinya dan memohon perlindungan Allah darinya. Dari riya’ (menolehkan padangan kepada kedudukan di sisi manusia), dan dari ha­sad (merasa berat melihat nikmat pada seseorang). Kita akan berupaya untuk melepaskan diri dari penyakit-penyakit itu.

Setelah pelajaran ini, tugas telah me­nunggu di hadapanmu yang harus eng­kau kerjakan. Yakni melepaskan diri dari penyakit al-kibr dengan merenung­kan ke­adaanmu dan segala kekurangan­mu. Kita melepaskan diri dari al-kibr de­ngan men­dahului orang lain untuk meng­ucap­kan salam kepadanya, bersih-ber­sih ru­mah, membersihkan kamar mandi mas­jid, dan lain-lain.

Kita melepaskan diri dari riya’ de­ngan me­rasakan keagungan Allah SWT sam­pai kita tidak mencari dan merindu­kan kedudukan di sisi makhluk, mem­ben­ci lin­tasan riya’ yang datang, dan memperba­nyak dzikir La ilaha illallah.

Dan kita melepaskan diri dari hasad de­­ngan membencinya dan mengakui ada­­nya hasad di dalam hati kita, men­doa­­kan orang yang mendapatkan nikmat di hadapan kita, mengakui adanya pera­saan berat di dalam hati kita di saat me­lihat orang lain mendapatkan nikmat, me­muji mereka di belakang mereka, dan de­ngan membantu orang itu pada nik­mat yang ada padanya agar semakin bertam­bah kebaikan padanya.

Dari tiga penyakit atau tiga maksiat ini bercabang darinya berbagai macam penyakit di dalam hati, karena penyakit-penyakit hati teramat banyak jenis dan bentuknya – wal ‘iyadzu billah. Akan tetapi barang siapa perhatiannya tercu­rah untuk mensucikan hatinya dari tiga penyakit ini, berarti ia mengobati hatinya dari penyakit-penyakit yang lainnya, yang bercabang dari ketiganya. Karena seolah ia mengo­bati sumber penyakit­nya.

Apabila engkau peduli dengan se­mua itu dan rela terhadap berlalunya hari demi hari, waktu demi waktu, kesung­guh­an, pi­kiran, segenap upaya, agar eng­kau terle­pas dari ketiga induk pe­nyakit itu, niscaya nur-nur kesucian akan memancar dan ber­kemilau di dalam hatimu.

Kita memohon kepada Allah SWT, se­­moga Dia mengaruniai kita kesempur­naan kesucian lahir dan bathin. Ya Bathin, ya Zhahir... sucikanlah lahir dan bathin kami, dan jadikanlah kami ke dalam go­longan orang-orang yang sha­lih. Ya Allah, selamatkanlah kami dari ke­gelapan ha­sad. Ya Allah, karuniakanlah di dalam hati kami cinta terhadap kebaik­an bagi ham­ba-hamba-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang paling berman­faat bagi makhluk-Mu yang lain dan pa­ling dekat kepada-Mu....

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com
Selengkapnya...

Rumi: Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu
kisah hidupku,tetapi
gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku.

Kucoba utarakan sesuatu,
tetapi pikiranku rawan dan remuk,
laksana kaca.

Bahkan kapal paling megah bisa karam
dalam gelombang-badai Laut Cinta
apalagi biduk rapuhku,
remuk berkeping-keping:
tinggalkan ku sendiri, hanyut,
hanya berpegangan ke sepotong papan.

Kecil dan tak berdaya
timbul tenggelam dalam terpaan ombak,
sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada.

Ketika menurutku aku ada,
kudapati diriku tak berharga.

Saat ku tiada,
kudapati nilai-nilai sejati diriku.

Seturut pasang-surut akalku,
tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi;
karenanya tak kuragukan sedikit pun
adanya Hari Kebangkitan.

Ketika telah lelah,
ku berburu cinta di alam dunia ini,
akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri:
dan aku merdeka.

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1419.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, dalam Rumi: Hidden Music, HarperCollins Publishers Ltd, 2001 http://ngrumi.blogspot.com/
Selengkapnya...

Friday, September 20, 2013

Selamat Jalan Habib

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Bunga itu mekar dan gugur. Bintang berpendar dan nantinya hancur. Bumi, mentari, bimasakti, bahkan semesta ini akan tiba hari kala mereka mati. Hidup seorang manusia jika dibandingkan pada itu semua, tak lebih dari satu kedipan mata (QS ar-Rahman, 55: 26).

Dalam serba fana ini, manusia lahir, tertawa, menitikkan air mata, berjuang, terluka, merasa bahagia, menyesak duka, membenci dan mencinta. Kesemuanya itu sungguh singkat.

Dan akhirnya, dia jatuh pada tidur panjang dan dalam yang disebut dengan kematian. Dan kematian bukanlah suatu kesimpulan. Ia hanya sebuah perpindahan. Pintu memasuki hidup di atas hidup.

Hidup yang sesaat namun teramat beresiko ini, pasti akan ada akhirnya. Dan kita nanti akan hidup selama-lamanya; tidak satu abad, tidak pula dua abad; akan tetapi berabad-abad lamanya dan tidak akan ada ujungnya. Kapan? Nanti saat kita semua memulainya melalui pintu kematian.

Kematian adalah akhir kehidupan dunia, namun awal bagi kehidupan akhirat. Bagaimana keadaan kita di akhirat, adalah bagaimana keadaan kita saat di dunia.

Jika sejarah dunia tertulis dengan tinta kebaikan, maka kebaikan itu akan terekam dalam lembar yang sangat indah. Namun jika lembaran dunia banyak memoles keburukan amal, maka akan sangat legam dan hitamlah kehidupan akhiratnya. Na’udzubiLlah.

Sahabatku tercinta, masih membekas duka mendalam di hati imaniyah kita; guru kita yang shaleh, ad-Da’i ila Allah wa Rasuulih, al-Mujahid fi sabilih, telah berpulang ke Haribaan-Nya; al-Habib Munzhir bin Fuad al-Musawa (40).

Peristiwa wafatnya beliau yang terlalu pagi ini dan tentu dengan semua hamba Allah yang mendiami planet bumi-Nya ini yang telah berpulang lebih awal, seharusnya menjadi nasehat berharga buat kita yang masih hidup. Rasul berpesan melalui Amar bin Yasir r.a, “Kafaa bil mauti maw’izhotan, cukuplah kematian menjadi nasehat dan peringatan.”

Jika hari ini kita mendoakan beliau yang telah wafat. Boleh jadi, besok giliran kita yang akan didoakan. Karena kita semua pasti akan seperti beliau.

Bukankah, semua makhluk yang bernyawa sudah divonis mati oleh Allah. Kullu nafsin dzaa iqatul maut, [QS. Ali Imran [3] ; 19] demikian Allah Azza wa Jalla tegaskan.

Berarti saat ini sebenarnya kita sedang menantikan vonis kematian. Kita sejatinya sedang mengantri menuju gerbang kematian.

Karena kita sudah divonis mati oleh Allah, menjadi tidak penting di mana kita mati dan kapan kita mati; tapi lebih dari segalanya, menjawab dan mempersiapkan diri dalam kondisi apa kita mati. Teramat besar harapan kita, kelak saat kita dipanggil untuk segera pulang ke hariabaan-Nya,

Wafatnya kita seperti beliau, wafat dalam keadaan terbaik; membawa iman, dalam keadaan sedang menikmati lezatnya taat di jalan Allah, berserah diri dalam Islam, bersih-suci lahir dan batin, dan dalam keadaan lisan kita berakhir dengan kalimat tauhid; Laa ilaaha illa Allah! Wafat dalam keadaan husnul khootimah.

“Ya Allah, perkenankan kepada kami bertaubat sebelum kami wafat, kami dapat rahmat-Mu di detik-detik kematian kami, dan kami pun dapat ampunan-Mu setelah kami wafat. Ringankan semua kami menghadapi goncangan sakaratul maut. Kelak jadikan kubur kami, terkhusus kubur dari guru kami al-Habib Munzhir bin Fuad al-Musawa, sebagai miniatur surga-Mu, catat nama beliau sebagai penghuni surga-Mu. Dan kelak Engkau pertemukan kami di taman indah surga-Mu. Aamiin!”

Sumber : Republika.co.id
Selengkapnya...

Sunday, September 15, 2013

Monday, September 9, 2013

Abuya K.H. Saifuddin Amsir : Di Balik Senandung Maulid

Yang jadi tujuan utamanya tetap maknanya. Senandung hanyalah bagian sekunder yang menyebabkan bacaan itu jadi terasa lebih bermakna.

Umat menyambut datangnya bulan Maulid, yang penuh suka cita, dengan perayaan Maulid Nabi SAW di sana-sini. Dalam majelis Maulid yang mereka gelar, dibacakanlah kitab-kitab Maulid de­ngan suara-suara nan syahdu dan senan­dung yang acap menggetarkan hati.

Ada apa di balik senandung kitab-ki­tab Maulid itu, yang oleh sementara pihak justru dipandang salah, khususnya terkait dengan status keshahihan berita-berita yang dibawa dalam senandung-senan­dung Maulid tersebut?

Abuya K.H. Saifuddin Amsir, salah seorang ulama kebanggaan kota Jakarta saat ini, salah seorang rais syuriyah NU, sekaligus pengasuh rubrik Kitab Kuning di majalah kesayangan kita ini, berkenan untuk menyampaikan paparannya terkait hal tersebut. Berikut sebagian yang di­sampaikannya kepada para pembaca se­tia alKisah.

Makna sebagai Tujuan

Sesungguhnya masalah senandung hanyalah bagian yang diposisikan urgensi­nya pada daerah psikologis. Jadi kalau bacaan itu yang sudah disusun begitu baik, sangat puitis, dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam puisi, yang disebut nazham, kan menjadi datar bila tidak di­se­nandungkan? Jadi, yang jadi tujuan uta­manya tetap maknanya. Senandung ha­nyalah bagian sekunder yang menye­babkan bacaan itu jadi terasa lebih ber­makna, agar penyampaiannya diharap­kan lebih mengena atau lebih terasa. Dalam banyak hal, senandung pada bacaan-bacaan tertentu, yang memiliki se­macam dorongan yang lebih dari baca­an yang tidak bersenandung, bagi kaum sufi atau bahkan sebagian dari mereka yang tidak terlalu memiliki dasar dalam wawasan kesufian, nyatanya memang amat mempengaruhi orang, misalnya ka­rena gaya-gaya bersenandung seperti yang ada di tengah-tengah masyarakat kita.

Ini bukan cerita yang tidak pernah ter­jadi. Kalau di kalangan tertentu, misalnya sebagaimana yang saya dapat dari Habib Abdullah bin Husein Al-Attas Asy-Syami, di masanya, yaitu di masa beliau masih muda, di kala masyayikh (para tuan guru) berkumpul, bahkan dengan cara yang biasa saja sebagaimana cara di kalangan Hadhrami (orang-orang Hadhramaut), ternyata cukup membuat beberapa orang yang hadir di sana sampai pingsan, karena bait-bait yang sedang dibacakan. Di ka­langan mereka, dengan gaya yang datar saja sudah banyak yang sampai kehi­langan kesadaran, tenggelam dalam mak­na-makna kalimat yang tengah di­senandungkan.

Saya juga pernah melihat peman­dang­an serupa saat di Suriah, ketika da­lam sebuah majelis dibacakan qashidah-qashidah. Setelah beberapa bait dibaca, ada orang yang sampai melompat ke te­ngah-tengah dan berputar. Apa yang di­lakukan oleh orang itu bukan sesuatu yang sama dengan apa yang dilakukan pada tarian-tarian tertentu yang terka­dang lebih mengarah pada aspek hiburan religius. Ini lebih tepat dikatakan sema­cam ekstase. Saat itu, sampai-sampai tangan orang tersebut ditarik oleh syaikh dalam majelis itu, untuk menyadarkan ke­tidaksadaran orang tersebut. Jadi, me­reka tenggelam dalam makna-makna yang diungkap pada kalimat-kalimat yang disenandungkan.

Disemarakkan oleh Muhadditsin

Bila ada keraguan terhadap berita-berita yang ada pada sementara isi kitab Maulid, itu memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi yang perlu diingat, be­rita-berita itu juga diceritakan oleh banyak ulama. Hemat saya, keraguan terhadap hal-hal itu mungkin awalnya terinspirasi oleh adanya kitab-kitab Maulid yang di­anggap oleh sebagian ahli hadits lebih ba­nyak memuat cerita yang dibuat-buat, atau kalau dalam ilmu hadits masuk da­lam kategori al-maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Namun demikian, bukan sedikit dari yang dituduh al-maudhu’at itu ternyata menjadi penunjang yang tidak sederhana untuk keperluan yang lebih penting dari se­kadar gambaran berita-berita itu sen­diri. Gambaran-gambaran itu pun belum ten­tu mustahil. Sebagian berita itu mung­kin diceritakan dengan sanad yang di­per­tanyakan, tapi menyatakan gambaran-gambaran itu sebagai sesuatu yang pasti mustahil adalah sebuah kesalahan. Ingat, menyatakan itu sebagai suatu hal yang mustahil juga merupakan klaim, dan itu perlu pembuktian. Bahwa secara sanad itu disebut maudhu’, ya bisa saja.

Sebagai contoh pada kisah Asy-syaffa, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf, yang merasa gusar luar biasa ter­hadap anaknya itu karena sangat si anak (sebelum masuk Islam) terlihat memusuhi Rasulullah. Sang ibu marah-marah kare­na merasa si anak sebenarnya tidak tahu apa-apa terhadap pribadi Rasulullah SAW. ”Saya yang membidani kelahiran Mu­hammad. Sayalah yang menjadi bi­dannya. Saat itu, saya sampai tidak kuat melihat cahaya yang terlalu banyak yang memenuhi ruang dan melihat bintang-bin­tang yang datang mendekat.” Ini kan gam­baran yang sangat spektakuler hing­ga dalam pandangannya ia melihat adanya bintang-bintang yang mendekat di sekitar lokasi kelahiran Rasulullah SAW.

Sekarang kita melihat, misalnya di Sun­da Kelapa ada imam masjid yang berasal dari Madinah, Syaikh Ali Jabir, yang dalam lingkungan masyarakatnya di sana mungkin konotasinya dekat ke Wahabi. Ternyata ia pun ikut menuliskan gambaran ketika Rasulullah SAW terlahir dalam keadaan bersujud. Sejak dulu, ba­nyak yang seperti ini, yaitu ketika sese­orang pun tak kuasa menolak berita-be­rita yang disampaikan oleh begitu banyak ulama dari zaman ke zaman.

Tapi kemudian, memang harus di­seimbangkan antara yang shahih dan yang berlebihan. Yang berlebihan itu pun mesti melihat bahwa semua ini dilakukan tidak berlatar tendensi sedikit pun untuk sebuah kedustaan.

Tak aneh bila Syaikh Nawawi Al-Ban­tani sampai memerlukan diri untuk me­nuliskan syarah kitab Maulid Al-Barzanji berjudul Madarij ash-Shu’ud ila Iktisa’ al-Burud. Orang tahu, di dalam Al-Barzanji terdapat gambaran-gambaran luar biasa yang mungkin dipertanyakan sekarang, tapi betapapun Al-Barzanji sendiri nota­bene seorang muhaddits.

Lihat pula Ad-Diba’i, yang juga dikenal sebagai ulama ahli hadits unggulan. Bah­kan ia mempunyai kitab yang mengoreksi hadits-hadits dha’if, Tamyiz ath-Thayyib min al-Khabits fima Yaduru ’ala Alsinah an-Nas min al-Hadits.

Tampak dalam karyanya itu ia se­orang yang spesialis dalam ilmu hadits. Dalam kajian hadits, ia mengkhatamkan kitab hadits Shahih Al-Bukhari sampai 200 kali. Ini sebuah catatan yang menun­jukkan betapa ia seorang yang sangat spesialis di bidang ini.

Tapi, tak urung, di dalam kitabnya ter­dapat hadits-hadits yang menjadi perta­nyaan dan terus disorot oleh sebagian pi­hak. Itu sebabnya tadi saya katakan, to­koh semacam Syaikh Ali Jabir, yang ka­rena lahir dan besar di Arab Saudi, se­bagai negeri kaum Wahabi, boleh jadi mestinya ia berada pada pihak yang me­nolak berita-berita yang dianggap berle­bihan dalam kelahiran Rasulullah SAW, ternyata tidak demikian. Syaikh Ali Jabir ikut membawakan riwayat ketika Rasul­ullah SAW terlahir dalam keadaan ber­sujud.

Kasus Al-Albani

Yang perlu diperhatikan di sini, berita-berita semacam itu sesungguhnya tidak sepi begitu saja dari riwayat-riwayat yang melatarbelakanginya. Boleh saja semen­tara orang mengkritisinya, tapi selayak­nya hanya sampai pada batas melemah­kan. Kalau sampai pada batas meniada­kan, itu perlu pembuktian lagi. Bukti tidak adanya itu apa?

Oleh sebab itu ahli-ahli hadits yang tidak terlalu ketat dalam periwayatannya ter­hadap berita-berita saat kelahiran Rasulullah SAW tetap meriwayatkannya saat mengisahkan kelahiran Rasulullah SAW. Karena itu, walaupun pada isu-isu ter­sebut mereka sebutkan lemah periwa­yatannya, itu tidak sampai pada tingkat kemustahilan.

Dengan berputarnya roda zaman, ada semacam kemajuan tingkat berpikir di tengah masyarakat. Sayangnya, ke­maju­an itu tidak mendudukkan arti ke­majuan itu pada posisinya yang benar. Orang se­lalu dituntut secara aqidah for­mal, pada hal-hal yang sebenarnya hanya bisa diber­lakukan dalam konteks hukum atau aqi­dah, bukan pada riwayat sema­cam ini. Ka­rena yang semacam ini tidak didudukkan sebagai suatu hukum atau aqidah.

Ulama pun sepakat bahwa hal-hal ini tidak dijadikan sebagai hukum dan tidak masuk dalam wilayah aqidah, yang se­seorang wajib mempercayainya, atau se­seorang yang tidak mempercayainya te­lah kufur. Tidak demikian ulama me­man­dangnya. Jadi memang tidak perlu di­tun­tut sejauh itu, misalnya tentang sa­nadnya, keshahihannya, dan sebagai­nya.

Kalau dituntut seperti itu, jangan-jangan orang-orang itu sendiri yang justru kurang memiliki bekal memadai sebelum menyatakan tuntutannya itu. Perhatikan saja, sekarang ini banyak ”ahli hadits” yang secara serampangan berani me­ngo­reksi hadits Al-Bukhari sebagai se­suatu yang menurutnya boleh jadi me­nanggung ke­tidakshahihan. Kata-kata ”boleh jadi” itu harus disebut, jangan di­klaim ”ini adalah tidak shahih”. Sebab da­lam hadits, jalur-jalur sanad sedemikian banyaknya, bagai­kan samudera yang tak bertepi.

Makanya, orang semacam Al-Albani, yang gemar menjustifikasi hadits ini le­mah, hadits itu palsu, dan sebagainya, ia pun kemudian menjadi orang yang sa­ngat kelimpungan dengan dunia yang ingin ia geluti itu. Dalam kitab-kitabnya sendiri keterangan yang bersumber dari­nya bertabrakan di sana-sini. Satu saat ia menilai suatu hadits itu shahih, pada saat yang lain ia mengatakan itu dhaif, atau sebaliknya. Dan ini bukan di satu-dua tempat, bahkan mencapai jumlah ri­buan, seperti yang direkam oleh seorang ulama Suriah, Sayyid Hasan bin Ali Assegaf, dalam kitabnya, Tanaqudhat Al-Albani, yang secara khusus memaparkan bukti-bukti tertulis dari kitab-kitab Al-Albani sendiri yang menunjukkan inkon­sistensi Al-Albani dalam menilai hadits. Ini yang menyebabkan sering kali para ahli hadits menantang Al-Albani untuk ber­debat secara terbuka dalam ilmu ha­dits, sesuatu yang semua orang tahu bah­wa Al-Albani tidak pernah mau melayani­nya.

Tidak aneh kalau, misalnya, buku-buku karya murid-murid Syaikh Abdullah Al-Harari tidak pernah mau menyebut Al-Albani sebagai ”al-muhaddits”. Mereka menyebutnya ”as-sa’ati” (tukang reparasi jam tangan), karena memang itulah pro­fesi Al-Albani yang sesungguhnya. Mung­kin ini juga semacam luapan ekspresi para penggiat dalam dunia ilmu hadits ter­hadap sikap over Al-Albani saat mengkri­tisi hadits, dengan kesiapan perangkat ke­ilmuan yang amat jauh dari standar pada lazimnya yang ada di kalangan ulama ahli hadits.

Kekuasaan Allah Semata

Terlalu banyak orang yang menjadi pongah ketika baru saja mendengar isti­lah shahih, hasan, dhaif, maudhu’. Dia sen­diri sebenarnya baru pernah mende­ngar istilah itu. Kemudian orang-orang se­macam ini tampak lebih muncul di permu­kaan, dan mudah mempertanyakan, ”Itu shahih nggak, itu dha’if nggak?” Mereka menjadi komunitas yang bahkan menjadi lebih galak (baca: gencar menyerang) dari era sebelumnya. Padahal, setelah itu mereka pun kehabisan bekal untuk men­dalami hal-hal pelik dalam ilmu hadits. Di Masjid Sunda Kelapa, pada kepe­mimpinan Bapak Saiful Hamid, saya me­lihat orang-orang yang rata-rata sebe­lumnya galak dengan perhelatan Maulid di sana-sini tiba-tiba berbalik menjadi ikut serta dan merasakan kenikmatan mem­baca kitab Maulid sesudah beliau yang memimpin itu dan membeli kitab Maulid yang sudah diterjemahkan. Jadi, setelah mendapat wawasan tentang makna-mak­na yang tertulis dalam buku itu, mereka men­jadi kehilangan rasa untuk memper­soalkan ihwal haditsnya, karena hati me­reka akhirnya mengiyakan makna yang ingin dituju dari kitab-kitab Maulid itu.

Kalau dikatakan Nabi lahir dalam ke­adaan bersujud, kenapa ini jadi perta­nya­an besar, padahal banyak bayi yang lahir dalam keadaan sungsang. Kalau ada yang mengisahkan bahwa Rasulullah SAW tidak terlahir lewat rahim, karena itu merupakan makhraj al-baul (tempat ke­luarnya air seni), sekarang pun itu bu­kan persoalan, sebab berapa banyak bayi saat ini yang tak terlahir dari rahim karena operasi caesar. Kalau ada yang menolak berita ini, apakah ada yang bisa membuk­tikan bahwa beliau dilahirkan memang benar-benar keluarnya dari rahim?

Ternyata, untuk dunia medis zaman se­karang, hal itu pun bukan lagi sesuatu yang aneh. Sekarang apanya yang aneh, bahkan sudah cukup lama dunia medis pun dapat memecahkan batu-batu di da­lam ginjal hanya dengan cahaya sinar ter­tentu yang disorot dari luar tubuh sese­orang. Cahaya sinar itu memiliki ukuran-ukuran tertentu dan disorot dari jarak ter­tentu, yang semuanya itu diatur oleh ta­ngan manusia. Bagaimana bisa divonis mustahil bila keistimewaan yang ada dalam berita-berita kelahiran Rasulullah SAW itu tak terlepas dari campur tangan para malaikat Allah SWT?

Kegaduhan pemikiran yang beredar di kalangan ulama sekarang harus di­per­hatikan bahwa ini tidak tepat untuk di­ang­gap sebagai tema-tema kebohongan da­lam penggunaan dalil-dalil syari’at, tetapi bahkan bisa berbalik justru menjadi ka­mu­flase atau pemalsuan yang berdam­pak bahwa suatu ketika Islam bisa men­jadi kehilangan identitasnya, karena me­minggirkan begitu saja pemikiran para ulama sejak dulu hingga sekarang.

Alhamdulillah, di Jakarta, mungkin ka­rena semakin banyak tekanan yang da­tang dari berbagai arah atau gencarnya propaganda lewat berbagai media yang me­mandang dengan penuh ketidak­suka­an terhadap perhelatan-perhelatan Mau­lid, anak-anak muda Jakarta yang sadar atas hal ini mencoba semakin ingin me­nyemarakkan Maulid. Bahkan peralatan sampingannya (hadhrah, marawis, dan lain-lain) menjadi lebih lengkap dari yang dulu-dulu. IY

Sumber : Majalah Al Kisah
Selengkapnya...