Monday, February 18, 2013

Kumpulan Hizib Syazili (3) Hizib Lutfi

Berikut sy lampirkan Hizib Al Fath dah Syeik abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini.









Qasidah Tawasul "Ibadallah rijalallah"

Berikut adalah Qasidah Ibadalllah dan terjemahnya. Qasidah ini sangat populer dikalangan ahlisunah karena juga merupakan tawasul dalam memohon pertolongan Allah melalui para kekasihNya.



Wahai hamba-hamba Allah (para awliyaullah), wahai para pejuang Allah
Berilah kami pertolongan karena Allah
Jadilah engkau penolong kami dalam segala ibadah kepada Allah
Semoga kami beruntung dengan karunia Allah



Wahai para wali Qutub, wahai para wali Anjab
Wahai para pemimpin kami dan para kekasih Allah
Kalian semua wahai ahli-ahli ibadah
Datanglah dan tolonglah kami karena Allah



Kami memohon, memohon kepada kalian
Untuk mendapatkan kedekatan kepada rahmat Allah
Kami harapkan kalian Dalam persoalan (masalah), kami bermaksud kepada kalian,
Maka mantaplah tekad kalian untuk menolong kami karena Allah



Wahai Tuhanku, dengan pangkat para pembesarku,
Buktikanlah semua keinginan-keinginan itu,
Semoga datang semua yang menggembirakanku Dan menjadi suci (tenang) waktu (kehidupan kami) untuk Allah



Dengan terbukanya bukti pada pandangan kami
Terangkatnya jarak pemisah antara aku dengan Engkau
Terhapusnya cara (tanpa menggambarkan, tanpa menempatkan) Berkat cahaya Dzat-Mu ya Allah



Semoga Rahmat Allah Tuhan kami,
Dilimpahkan atas Nabi yang datang kepada kami dengan hidayah petunjuk
Dan kepada orang yang telah menunjukkan kebenaran agama
Yang memberikan pertolongan kepada makhluk nanti di Sisi Allah

Sejauh Mana Rindu Kita Berjumpa Dengan Nabi SAW

Jika cintamu kepada Rasulullah SAW seperti cintamu kepada air dingin itu, engkau akan bermimpi bertemu Rasulullah SAW.”

 Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar At-Tijani (1150 H/1737 M) adalah imam besaar yang diyakini sebagai seorang wali quthb. Sejak usia tujuh tahun Syaikh At-Tijani telah hafal Al-Qur’an. Kemudian pada usia dua puluh tahun ia telah mendalami berbagai ca­bang ilmu; baik ilmu ushul, ilmu furu’, mau­pun ilmu adab. Menginjak usia tiga puluh satu tahun, Syaikh At-Tijani mendalami ilmu tasawuf dan terjun dalam dunia sufi sampai memasuki usia empat puluh enam tahun. Ia membersihkan jiwa, tenggelam dalam mengamalkan amalan thariqah dibarengi kunjungan kepada para wali besar di berbagai belahan daerah, se­perti Tunisia, Mesir, Makkah, Madinah, Fez (Maroko), dan Abu Samghun. Kun­jungan kepada wali-wali besar itu dalam upaya silaturahim dan menapaki hik­mah-hikmah kewalian secara lebih luas.

Pada saat itu para wali besar telah melihat dan mengakui bahwa Syaikh At-Tijani adalah wali besar, bahkan lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Ungkap­an kesaksian demikian karena di dunia sufi diakui bahwa derajat kewalian hanya bisa di­ketahui oleh sesama wali, yang haki­katnya berasal dari Allah SWT. Derajat wali, semata karena Allah, anugerah dari Allah, tidak bisa diketahui kecuali atas kehendak Allah.

Proses panjang Syaikh At-Tijani me­napaki hikmah-hikmah kewalian melalui perja­lanan panjang mengunjungi para awliya’ besar, berakhir di sebuah padang sahara bernama Abu Samghun di wila­yah Alja­zair. Syaikh At-Tijani meng­un­jungi dae­rah Abu Samghun pada tahun 1196 H/1782 M. Di tempat inilah ia men­capai anu­gerah al-fath al-akbar (pembu­kaan be­sar) dari Allah.

Pada saat al-fath al-akbar ini Syaikh At-Tijani mengaku berjumpa dengan Ra­sulullah SAW secara yaqzhah, sadar la­hir dan bathin. Pada saat itu ia mendapat talqin (pengajaran) tentang wirid-wirid dari Rasulullah SAW berupa istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali. Empat tahun kemudian, pada tahun 1200 H/1786 M, wirid itu disempurnakan lagi oleh Rasulullah SAW dengan baca­an dzikir Hailalah (La ilaha illallah) 100 kali. Wirid-wirid yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW melalui perjumpa­an secara yaqzhah inilah yang menjadi awal mula berdirinya Thariqah At-Tija­niyah.

Penggalan kisah perjalanan ruhani Syaikh At-Tijani di atas hingga bertemu dengan Rasulullah SAW dalam keadaan sadar lahir bathin adalah anugerah Ilahi­yah hasil dari perjalanan panjang yang tidak setiap orang dapat melakukannya, kecuali mereka yang terpilih sebagai ke­kasih-kekasih Allah.

Bertemu dengan Rasulullah SAW se­perti yang dialami oleh Syaikh At-Tijani hanyalah satu dari berjuta lembar­an riwayat yang mencatatkan perjumpa­an terindah antara sang kekasih dengan tumpuan hatinya, antara perindu dengan kekasih tercintanya, dan antara umat yang teramat sayang dan rindu kepada nabinya, insan termulia, manusia pilihan, kekasih Tuhan semesta alam, habibuna Muhammad Rasulullah SAW.

Diriwayatkan, seorang waliyullah diberikan kecintaan lebih kepada Allah. Wali itu bernama Syaikh Balwas. Di­nama­kan “Syaikh Balwas” karena kele­bihan cintanya itu kepada Allah. Ia melakukan hijrah ke sebuah gua, yang akhirnya ia dicerca dan dibenci oleh keluarganya, saudaranya, lingkung­annya. Mirip yang dialami oleh Nabi Ayub AS.

Rindunya kepada Rasulullah SAW berapi-api hingga suatu ketika Allah mengilhamkan bacaan shalawat kepada­nya, yang ternyata kelebihannya luar biasa bagi yang mengamalkannya. Syaikh Balwas merenungkan ayat Allah tentang kejadian manusia yang dium­pamakan seekor burung kepada Nabi Ibrahim AS. Burung tersebut dipotong men­jadi beberapa bagian, kemudian di­hidupkan kembali.

“Ya Allah, semua orang adalah faqir (tidak punya). Nabi Khidhir juga faqir. Hanya Engkaulah Yang Mahakaya. Maka aku ingin bertemu dengan Rasul­ullah SAW secara yaqzhah,” ujar Syaikh Balwas suatu ketika.

Maka seluruh apa yang dimilikinya di­berikan kepada orang lain. Termasuk istri­nya, diserahkan kepada pihak kesul­tanan.

“Dan aku ini budak siapa pun,” kata Syaikh Balwas. Maka setiap ada yang meminta bantuannya karena Allah, ia me­nyerahkan dirinya untuk membantu­nya. Perilaku ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidhir AS.

Kemudian, datanglah Rasulullah SAW menjumpai Syaikh Balwas dalam keadaan sadar. Beliau memberikan bacaan shalawat kepadanya. Rasulullah SAW memerintahkan kepada Syaikh Balwas untuk membacanya sebanyak 20.000 kali.

Berkata Syaikh Balwas, “Aku menger­jakannya dalam sehari semalam.” Lalu datanglah seseorang membawa­kan uang 20.000 dinar kepadanya.

Syaikh Balwas hidup pada masa Syaikh Samman Al-Madani. Ia adalah orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wali Allah. Kisah ini termasyhur di kalangan pengikut Tha­riqah Idrisiyah.

Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani, dalam kitabnya Afdhal ash-Shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat, menukil riwayat dari Syaikh Ahmad Al-Mubarak dalam kitab Al-Ibriz, meriwayatkan ihwal gurunya, Syaikh Al-Ghawts Abdul Aziz Ad-Dab­bagh, yang menceritakan bahwa Nabi Khidhir AS memberinya satu wiridan, pada masa awal perjalanan kewalian­nya, untuk diamalkan setiap hari dengan membacanya sebanyak 7000 kali. Wirid­an itu berupa doa yang berbunyi, “Ya Allah, ya Tuhanku, dengan kedudukan peng­hulu kami, Nabi Muhammad bin Abdullah, kumpulkanlah aku bersama Nabi Muhammad di dunia sebelum di akhirat.”

Syaikh Abdul Aziz kemudian menda­wamkan wirid ini sebagaimana dianjur­kan oleh Nabi Khidhir AS hingga ia ber­temu dengan Nabi SAW dalam keadaan sadar. Dalam pertemuan itu, Syaikh Abdul Aziz menanyakan kepada Nabi SAW ber­bagai permasalahan. Kemudian Nabi pun menjawab berbagai permasalahan yang diajukan tersebut dengan jawaban yang tidak satu pun bertentangan de­ngan penjelasan yang disebutkan oleh para imam, padahal Syaikh Abdul Aziz adalah orang yang ummi, tidak dapat membaca ataupun menulis.

Selain itu, Syaikh Yusuf An-Nabhani mengisahkan juga perjumpaannya de­ngan Syaikh Mahmud Al-Kurdi di makam Nabi SAW. Syaikh Kurdi menyatakan, dirinya selalu berjumpa dengan Nabi SAW dan berdialog dengan beliau. Per­nah juga Syaikh Kurdi datang ke makam Nabi SAW dan dikatakan kepadanya bahwa beliau SAW sedang berkunjung kepada pamannya, Hamzah bin Abdul Muththallib. Syaikh Kurdi juga mencerita­kan berbagai hal yang dialaminya ber­sama Rasulullah SAW selama itu. “Dan aku meyakini hal itu dan membenarkan apa yang diceritakannya itu, karena be­liau termasuk salah satu ulama shadi­qin,” kata Syaikh Yusuf menegaskan.

Dalam kitab yang sama, Syaikh Yusuf juga menukilkan riwayat dari Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami, menghi­kayatkan dari Syaikh Ibnu Abi Jumrah, Syaikh Al-Bazi, Syaikh Al-Yafi, dan yang lainnya dari kalangan tabi‘in dan juga generasi sesudah mereka, bahwa mere­ka telah bertemu Nabi SAW dalam mim­pi dan kemudian bertemu dengan beliau dalam keadaan sadar. Mereka bertanya kepada Nabi SAW tentang perkara-per­kara yang ghaib dan beliau pun menja­wabnya. Dan apa yang terjadi kemudian adalah seperti apa yang dikhabarkan oleh Nabi SAW.

Syaikh Ibnu Abi Jumrah mengata­kan, “Hal tersebut adalah bagian dari karamah awliya’, sehingga orang-orang yang mengingkarinya mestilah terjatuh ke dalam jurang pengingkaran terhadap karamah para awliya.”

Mungkinkah Bertemu Nabi?
Dapatkan seseorang bertemu, ber­bin­cang, bahkan berdialog dengan Nabi SAW, yang sudah wafat berabad-abad yang lalu, dalam keadaan sadar? Ma­salah ini memang menimbulkan perbe­da­an pendapat di kalangan umat Islam. Karena ada banyak aspek yang jawab­nya pun akan beragam pula berdasar­kan aspek yang dimaksudkan dan di­tanyakan.

Apakah pertanyaan itu menyangkut aspek syari’at dan tetapnya kemungkin­an melihat Nabi SAW dengan dalil-dalil syari’at? Apakah pertanyaan itu berkait­an dengan makna melihat dan kapan ter­jadinya? Dan siapakah yang layak meli­hat Nabi SAW jika hal itu termasuk mung­kin menurut syari’at?

Sesungguhnya permasalahan ten­tang melihat Nabi SAW secara nyata dan sadar telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim.

Dalam Shahih Al-Bukhari, diriwayat­kan dari Abu Hurairah RA bahwa Ra­sulullah SAW bersabda, “Barang siapa melihatku dalam mimpi, niscaya ia akan melihatku dalam keadaan sadar. Karena setan tidak akan dapat menyerupaiku.”

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath al-Bary menukilkan bahwa hadits ini diriwayatkan dengan tiga lafazh yang berbeda, yakni: pertama dengan lafazh “niscaya akan melihatku dalam keadaan sadar”, kedua dengan lafazh “maka se­akan-akan ia telah melihatku dalam ke­adaan sadar”, dan ketiga dengan lafazh “maka sungguh ia telah melihatku”.

Berkenaan dengan hadits ini, para ulama berbeda pendapat dalam menen­tukan lafazh yang paling kuat di antara ketiga riwayat tersebut, meskipun mere­ka tidak berbeda pendapat dalam kesha­hihannya. Perbedaan pendapat juga ter­jadi dalam menentukan makna dari ke­tiganya, terutama pada riwayat yang me­nyatakan, “Barang siapa melihatku da­lam mimpi, niscaya ia akan melihatku da­lam keadaan sadar.”

Untuk mengetahui apakah mungkin bertemu Nabi SAW dalam keadaan sa­dar, menurut pandangan syari’at tidaklah dapat disimpulkan berdasarkan hadits ini. Melainkan berdasarkan hadits-hadits lain yang kedudukannya mendekati mutawatir (derajat tertinggi keshahihan hadits). Yakni, antara lain, hadits-hadits yang menjelaskan mungkinnya melihat arwah yang tidak lagi berada pada jasad duniawinya. Hal itu telah dialami oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam ri­wayat yang menjelaskan ihwal peristiwa Isra dan Mi‘raj.

Nabi SAW dipertemukan oleh Allah de­ngan arwah para nabi sebelumnya, yang menyerupai bentuk jasad mereka se­masa di dunia, sebagaimana dijelas­kan dalam hadits-hadits yang shahih.

Dari riwayat tentang peristiwa Isra dan Mi‘raj yang dialami oleh Rasulullah SAW, dapat dipahami adanya kemung­kin­an melihat arwah menurut syari’at yang menjadi pembahasan kita kali ini, dengan tidak memandang kepada siapa yang mengalami peristiwa tersebut, yakni Rasulullah SAW. Hal itu tidak lain adalah mukjizat Nabi SAW.

Kalangan ulama Ahlussunnah wal Ja­ma’ah dalam masalah karamah aw­liya’ berpandangan bahwa segala se­suatu yang sah untuk menjadi mukjizat bagi Nabi SAW, sah pula untuk menjadi karamah bagi wali, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kekhususannya bagi Nabi SAW.

Pandangan ini telah dijelaskan oleh para imam, di antaranya adalah Imam Nawawi dalam Syarh Muslim. Demikian itu karena karamah dan mukjizat, kedua­nya adalah sama-sama perkara yang di luar adat kebiasaan manusia yang da­tang dari Allah SWT. Perbedaan kedua­nya tidak terletak pada kemungkinan ter­jadinya, melainkan pada kedudukan muk­jizat sebagai bukti nyata yang tidak dapat diingkari kebenarannya dan se­bagai bukti kebenaran kenabian. Ada­pun karamah tidaklah demikian, melain­kan sebagai karunia dan kemuliaan yang Allah berikan bagi siapa pun yang dike­hendaki-Nya dari para kekasih Allah.

Karamah-karamah tersebut banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW, dengan tidak adanya batasan tertentu, selain bahwa hal itu mungkin terjadinya dengan kudrat Allah SWT dengan bentuk yang berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi yang dialami oleh masing-masing pelakunya. Seperti pertemuan dan dialog antara Mar­yam dan Jibril AS, pemindahan is­tana Bilqis dalam sekejap mata oleh salah seorang pengikut Nabi Sulaiman AS yang dikaruniai ilmu dari Al-Kitab, dan sebagainya.

Berdasarkan riwayat yang menetap­kan bertemunya Nabi SAW dengan ar­wah para nabi dalam peristiwa Isra dan Mi‘raj, sebagai mukjizat bagi beliau, da­pat dikatakan, sah pula bahwa arwah da­pat dilihat oleh wali siapa pun dengan ja­lan di luar adat kebiasaan manusia, se­bagai penghormatan dan kemuliaan dari Allah SWT. Karena bertemu dan melihat arwah tidaklah termasuk khushushiyah (sesuatu yang dikhususkan) bagi Nabi SAW semata, sehingga hal itu berlaku dalam konteks umum.

Pendapat yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang sah untuk menjadi mukjizat bagi Nabi SAW, sah pula untuk men­jadi karamah bagi wali, ini bersan­dar­kan pada dasar-dasar yang kuat. Yakni bahwa pembahasan dalam masa­lah terjadinya perkara apa pun membu­tuh­kan dua dalil, yaitu al-imkan ‘aqlan (mungkin terjadinya secara akal) dan ats-tsubut naqlan (ketetapan berda­sar­kan nash-nash syari’at).

Mungkin terjadinya secara akal, yak­ni tidak termasuk mustahil secara akal, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ter­gam­bar oleh akal wujudnya, seperti per­nyataan bahwa benda bergerak dan diam pada satu waktu yang bersamaan, tempat yang sama, dan arah yang sama pula. Dan mukjizat para nabi dan kara­mah para awliya’ termasuk perkara yang jaiz, mungkin terjadinya, menurut akal. Karena perkara yang mustahil secara akal, mustahil pula terjadinya meski se­kadar dalam khayalan.

Menghidupkan orang yang sudah mati, sebagaimana terjadi pada Nabi Isa AS, misalnya, telah dijelaskan secara pasti dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjuk­kan penetapan terjadinya peristiwa itu me­nurut nash syari’at, yang mana meng­hidupkan orang yang sudah mati terma­suk mukjizat yang paling agung. Akan tetapi, tidak adanya riwayat yang me­nyebutkan terjadinya hal itu bagi selain Nabi Isa AS tidaklah menunjukkan bah­wa hal itu mustahil terjadinya pada selain Nabi Isa AS.

Di sana terdapat perbedaan antara apa yang mungkin terjadi dan apa yang belum terjadi berdasarkan ketetapan nash-nash syari’at. Tidak ada riwayat shahih yang menetapkan bahwa Nabi SAW menghidupkan orang yang mati padahal beliau lebih dekat dan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah diban­ding Nabi Isa AS. Namun Imam Syafi‘i berkata, “Tidaklah seorang nabi diberi mukjizat oleh Allah SWT kecuali Nabi SAW diberi mukjizat sejenisnya yang lebih agung darinya.”

Ketika Imam Syafi‘i ditanya perihal Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, ia menjawab, “Tangisan pilu batang kurma lebih agung dalam masalah ini.” Karena menghidup­kan yang sudah mati berarti mengem­balikan kehidupan bagi sesuatu yang su­dah pernah hidup sebelumnya. Sedang­kan tangisan pilu batang kurma berarti memberikan kehidupan yang serupa de­ngan kehidupan manusia bagi sesuatu yang tidak memiliki kehidupan seperti manusia.

Para ulama menyatakan, hal itu me­rupakan mukjizat Nabi SAW, dan setiap karamah para wali adalah mukjizat Nabi SAW, karena mereka menerima kara­mah tersebut dengan sebab ittiba (meng­ikuti jalan) Rasulullah SAW sehing­ga semua karamah yang dika­runiakan Allah kepada para wali tidak lain adalah mukjizat-mukjizat beliau SAW.

Dari sini dapat diketahui dengan jelas bahwa mukjizat membutuhkan al-imka­nul ‘aqliy (mungkin terjadinya secara akal) dan ats-tsubut an-naqliy (ketetapan ber­dasarkan nash-nash syari’at). Demi­kian pula halnya dengan karamah. Ha­nya saja perbedaan keduanya adalah bah­wa yang pertama adalah pengakuan Nabi SAW, sedangkan yang kedua bu­kan pengakuan Nabi SAW. Perbedaan­nya juga bahwa iman kepada setiap muk­jizat wajib hukumnya pada dzatnya; adapun karamah para wali, wajib iman kepadanya secara umum, bukan kepada tiap-tiap karamah yang terjadi pada ma­sing-masing setiap wali, kecuali terha­dap karamah-karamah yang telah dite­tapkan dalam Al-Qur’an dan hadits-ha­dits Nabi SAW.

Adapun berkaitan dengan masalah ber­temu Nabi SAW dalam keadaan sa­dar, dapat dikatakan bahwa hal itu ter­masuk mumkin syar‘an wa ‘aqlan (mung­kin atau boleh terjadinya secara syari’at dan akal).

Mungkin secara akal telah diuraikan di atas. Adapun menurut syariat, dasar­nya adalah kaidah: segala sesuatu yang sah untuk menjadi mukjizat bagi Nabi SAW, sah pula untuk menjadi karamah bagi wali. Dan nash syari’at yang diri­wayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahih­nya telah menetapkan bagi siapa pun yang bertemu Nabi SAW dalam mimpi akan bertemu dengan beliau dalam ke­adaan sadar.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dalam bab at-Ta‘bir, Nabi SAW bersabda, “Barang siapa me­lihatku dalam mimpi, niscaya ia akan me­lihatku dalam keadaan sadar. Karena setan tidak akan dapat menyerupaiku.” Kemudian Imam Al-Bukhari menyebut­kan pula secara langsung riwayat lain dari Anas RA, Nabi SAW bersabda, “Barang siapa melihatku dalam mimpi, sungguh dia telah melihatku, karena se­sungguhnya setan tidak dapat menye­rupai diriku. Dan mimpi seorang mukmin adalah bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”

Selanjutnya, sebagian ulama menje­laskan bahwa lafazh hadits ini menggu­nakan kata “fasayarani”. Huruf sin yang me­nunjukkan arti “akan” bila dimasuk­kan dalam fi`il mudhari`(kata kerja ben­tuk kedua yang menunjukkan makna kini dan akan datang), dalam kaidah bahasa Arab, digunakan untuk menunjukkan jarak waktu yang dekat. Berbeda dengan kata sawfa, yang bermakna “niscaya akan”, digunakan untuk masa yang jauh. Dan Nabi SAW tidak berkata-kata dari hawa nafsunya, melainkan berasal dari wahyu yang datangnya dari Allah SWT. Itulah sebabnya, ucapan yang keluar dari lisan beliau adalah ucapan yang paling kuat, yang tidak ada kerancuan padanya atau sesuatu yang mendatang­kan keraguan.

Bila yang dimaksud “melihat” dalam hadits tersebut adalah melihat kelak pada hari Kiamat, niscaya beliau berkata “sawfa yarani” (niscaya akan). Sedang­kan ulama sepakat bahwa semua orang mukmin akan bertemu dengan Nabi SAW pada hari Kiamat. Lalu di mana perbedaan dan keistimewaan bagi orang yang mimpi bertemu Nabi di dunia, atau apakah hanya orang yang bertemu Nabi dalam mimpi yang akan bertemu beliau kelak pada hari Kiamat?

Sayyid Muhammad Al-Maliki menga­takan, “Adapun bagi pihak yang mentak­wilkannya dengan melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar di akhirat, jawaban para ulama terhadap mereka: sesung­guhnya di akhirat, setiap orang yang ber­iman akan melihat Baginda SAW, sama saja yang pernah bermimpi berjumpa dengan beliau di dunia maupun yang tidak pernah bermimpi berjumpa dengan Nabi SAW, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadist shahih yang lain. Hal ini menyebabkan, tidak ada peng­khususan antara mereka yang pernah melihat Nabi di dalam mimpi ataupun tidak. Sedangkan hadits tersebut men­ce­ritakan ihwal pengkhususan terhadap mereka yang pernah bermimpi bertemu Nabi dari mereka yang tidak pernah bermimpi berjumpa Nabi, yaitu, ‘ia akan melihatku dalam keadaan sadar’.”

Selain itu, Imam As-Suyuthi, dalam kitab Tanwir Al-Halk fi Imkan Ra’yah An-Nabiy fi Al-Yaqzhah wa Al-Malak, me­nukilkan penjelasan Imam Abu Muham­mad bin Abi Jumrah, ia berkata dalam ta’liq-nya (komentar) terhadap hadits riwayat Al-Bukhari, “Hadits ini menunjuk­kan bahwa barang siapa yang bertemu Nabi SAW dalam mimpi, nis­caya orang tersebut akan bertemu Nabi SAW dalam keadaan sadar. Dan apakah hal ini ber­laku umum pada masa Nabi hi­dup dan sesudah beliau wafat, ataukah hanya pada masa hidup beliau? Kemu­dian apakah hal itu berlaku bagi setiap orang yang melihat Nabi dalam mimpi, atau khusus bagi mereka yang memiliki ke­mampuan tertentu dan mengikuti sun­nah beliau SAW?

Lafazh hadits ini menunjukkan ke­umumannya; dan barang siapa menya­ta­kan kekhususan dengan tanpa adanya dalil yang mengkhususkannya dari Nabi SAW, orang tersebut telah berlaku sem­brono.

Namun sebagian orang benar-benar tidak meyakini keumuman hadits ini. Ia berkata dengan apa yang ada dalam pikirannya, ‘Bagaimana mungkin sese­orang yang sudah meninggalkan dunia dapat dilihat oleh orang yang masih hidup di alam nyata?’

Pendapat semacam ini mengandung dua hal yang sangat berbahaya, yaitu: pertama, tidak mempercayai ucapan Nabi SAW, yang tidaklah mengucapkan sesuat dari keinginanya; dan yang ke­dua, bodoh terhadap kekuasaan Yang Maha­kuasa dan menganggapnya lemah.…”

Imam As-Suyuthi berkata, “Ungkap­an Imam Ibnu Abi Jumrah bahwa ‘Lafazh hadits ini menunjukkan keumumannya’ tidak khusus bagi mereka yang memiliki kemampuan tertentu dan mengikuti sunnah beliau SAW, maksudnya adalah kepastian melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar setelah melihat beliau dalam mimpi, meskipun hanya sekali, sebagai bukti dari janji beliau SAW yang tidak akan mungkin diingkari. Dan bagi orang awam, hal itu banyak terjadi pada saat-saat menjelang kematian, yaitu pada saat hadirnya sakratul maut. Yang mana ruhnya tidak akan keluar dari jasadnya sebelum melihat Nabi SAW sebagai perwujudan dari janji beliau SAW.

Adapun bagi selain orang-orang awam, melihat dan bertemu Nabi SAW dapat terjadi sepanjang hidup mereka, baik itu sering ataupun jarang, tergan­tung dari kesungguhan dan pemeliha­ra­an mereka terhadap sunnah Nabi SAW. Dan melanggar sunnah Nabi SAW merupakan penghalang yang besar untuk dapat melihat dan bertemu dengan beliau SAW.”

Sejauh Mana Cinta Kita
Itulah sebabnya, bagi yang mengha­rapkan mendapat anugerah besar dapat mimpi dan bertemu Nabi SAW, penting bagi kita untuk merenungi kisah berikut, sebagai muhasabah sejauh mana ke­cintaan kita kepada Rasulullah SAW dan seberapa besar pula tekad dan kesung­guhan kita dalam menjalankan sunnah-sunnah beliau SAW.

Pada suatu ketika seorang murid ber­jalan menuju rumah gurunya. Tam­pak di wajahnya ia sedang mengingin­kan sesuatu. Ketika sampai di rumah sang guru, dia duduk bersimpuh dengan sangat ber­adab di hadapan sang guru, yang tak bergerak sedikit pun. Kemudian dengan wajah dan suara yang berwibawa, bertanyalah sang guru kepada muridnya, “Apakah yang mem­buatmu datang kepadaku di tengah ma­lam begini?”

“Wahai Guru, sudah lama aku ingin melihat nabiku SAW walau hanya lewat mimpi, tetapi keinginanku belum terkabul juga,” jawab sang murid dengan nada sungguh-sungguh.

“Oh… itu rupanya yang kau inginkan. Tunggu sebentar.”

Sang guru mengeluarkan pena, ke­mudian menuliskan sesuatu untuk mu­ridnya. “Ini…, bacalah setiap hari se­banyak seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan nabimu.”

Pulanglah murid membawa catatan dari sang guru, dengan penuh harapan ia akan bertemu dengan Rasulullah SAW. Tetapi setelah beberapa minggu kembalilah murid itu ke rumah gurunya, memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak berpengaruh apa-apa.

Kemudian sang guru memberikan bacaan baru untuk dicobanya lagi. Sayangnya, beberapa minggu sete­lah itu muridnya kembali lagi memberi­tahukan kejadian yang sama. Setelah berdiam beberapa saat, ber­katalah sang guru, “Nanti malam engkau datang ke rumahku, kuundang makan ma­lam.” Sang murid heran. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Ingin bertemu Nabi, tetapi kok diundang makan malam?” Sebagai murid yang taat, ia meme­nuhi undangan makan malam sang guru. Datanglah ia ke rumah gurunya untuk me­nikmati hidangan malamnya.

Tenyata sang guru hanya menghi­dang­kan ikan asin dan segera memerin­tahkan muridnya untuk menghabiskan­nya. “Makan, makanlah semua, dan ja­ngan biarkan tersisa sedikit pun.” Sang murid pun menghabiskan selu­ruh ikan asin yang ada. Setelah itu ia merasa kehausan, ka­rena memang ikan asin membuat orang haus. Tetapi ketika ingin meneguk air yang ada di depan matanya, sang guru mela­rangnya. “Kau tidak boleh meminum air itu hing­ga esok pagi, dan malam ini kau akan tidur di rumahku!” kata sang guru. Dengan penuh keheranan, ia menu­ruti perintah sang guru. Ketika malam semakin larut, sang murid merasa susah tertidur, karena ke­hausan. Ia membolak-balikkan badan­nya, hingga akhirnya tertidur juga karena kelelahan.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu gurunya membawakan satu ember air dingin lalu mengguyurkan ke badannya. Lalu terjagalah ia karena mimpi itu, se­akan-akan benar-benar terjadi pada diri­nya. Kemudian ia mendapati gurunya te­lah berdiri di hadapannya dan berkata, “Apa yang kau impikan?” “Guru, aku tidak bermimpi tentang Nabi SAW. Aku bermimpi, guru mem­bawa air dingin lalu mengguyurkan ke badanku.” Tersenyumlah sang guru karena ja­waban muridnya. Kemudian dengan bi­jaksana ia berkata, “Jika cintamu kepada Rasulullah SAW seperti cintamu kepada air dingin itu, engkau akan bermimpi ber­temu Rasulullah SAW.” Menangislah si murid, ia menyadari bahwa di dalam dirinya belum ada rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Ia masih le­bih mencintai dunia daripada Nabi SAW. Ia menyadari bahwa selama itu ia ma­sih sering meninggalkan sunnah-sun­nahnya, bahkan ia pun merasa masih sering me­nyakiti hati umat Rasulullah SAW.

Sumber : majalah-alkisah.com

Wednesday, January 23, 2013

MR : Sehelai Rambut Rasulullah SAW

www.majelisrasulullah.org

عَنْ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبِيدَةَ، عِنْدَنَا، مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَصَبْنَاهُ، مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ، أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
(صحيح البخاري)

Dari Ibn Siiriin (ra) berkata, kukatakan pada Ubaidah (ra) aku memiliki sehelai Rambut Nabi SAW, kudapatkan dari Anas (ra) atau dari keluarga Anas (ra), maka ia berkata (Ubaidah ra): Jika kumiliki sehelai Rambut beliau SAW lebih kusukai dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Melimpahkan kemuliaan dan rahmatNya di setiap waktu kepada hamba-hambaNya yang beriman atau yang tidak beriman, kepada hamba-hambaNya yang shalih ataupun yang tidak, bahkan kepada semua makhluk yang di muka bumi selain manusia seperti hewan dan tumbuhan, atau makhluk-makhluk yang tidak bergerak seperti bebatuan, atau debu dan lainnya, sehingga kesemua makhluk yang berada di langit dan di bumi mengagungkan nama Yang Maha Luhur dan Mulia, maka janganlah kita menganggap benda-benda mati yang ada di muka bumi ini hanya sekedar benda mati yang tidak bergerak, akan tetapi kesemuanya berdzikir, memuji dan mengagungkan nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
( الإسراء : 44 )

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. ( QS.Al Israa: 44 )

Dan hal tersebut, telah ditemukan oleh para Ilmuwan di zaman ini yang mengatakan bahwa semua benda memilki suara, baik itu adalah benda hidup atau pun benda mati seperti hewan, tumbuhan atau bebatuan dan lainnya, kesemuanya memiliki frekuensi suara masing-masing, dan kesemuanya memilki suara namun sebagian suara tersebut tidak difahami dan tidak terdengar oleh manusia, yang mana suara-suara tersebut adalah pujian terhadap keagungan nama Allah, kesemua benda atau sesuatu yang tidak terdengar oleh kita frekuensi suaranya termasuk sel tubuh kita, sesungguhnya kesemuanya itu selalu memanggil dan menyeru namaNya di setiap waktu dan kejap, sehingga tidak pernah terlepas dari dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala. Akan tetapi banyak dari manusia yang kenyataannya mereka adalah makhluk hidup, justru mereka lalai dan lupa kepada Allah dikarenakan hati mereka yang mati, sehingga lebih mati dari benda-benda yang mati, karena benda-benda mati sebenarnya hidup dan senantiasa berdzikir dan memuji keagungan nama Allah subhanahu wata’ala. Maka selayaknyalah kehidupan di dunia yang sementara ini tidak dilewatkan dalam kelalaian dari mengingat Allah subhanahu wata’ala, serta berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan dunia ini, sebagaimana di dalamnya terdapat anugerah dan musibah yang pasti akan dihadapi oleh manusia. Tidak ada kehidupan tanpa anugerah atau permasalahan, sehingga Allah subhanahu wata’ala menciptakan siang dan malam sebagai pelajaran kepada manusia bahwa kehidupan di dunia ini akan selalu terdapat perubahan dalam setiap waktu dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu merubah segala sesuatu.

Sebagaimana perubahan yang terjadi pada jasad manusia, dimana setiap sel-sel di tubuh manusia tumbuh dan berkembang dalam setiap detiknya. Manusia tidak akan mampu mengatur perubahan dalam tubuhnya, tidak mampu mengatur detak jantung, tidak mampu mengatur pertumbuhan sel-sel di dalam tubuhnya, tidak mampu mengatur setiap nafas dan lainnya, namun Allah subhanahu wata’ala dengan mudah mampu mengatur hal-hal tersebut. Maka dalam setiap nafasnya manusia selalu berada dalam asuhan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala, sehingga Allah memberikan pengajaran kepada manusia dengan adanya alam dan segala yang ada di dalamnya serta sifat-sifatnya seperti air, tanah, api, udara, cahaya, kegelapan, serta sifat-sifat makhluk lain yang Allah ciptakan seperti malaikat, syaitan, binatang dan tumbuhan, Allah jadikan sifat-sifat tersebut ada dalam hati setiap manusia. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi :

مَا وَسِعَنِيْ أَرْضِيْ وَلَا سَمَائِيْ وَلَكِنْ وَسِعَنِيْ قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ

“ Tidak dapat menampung-Ku (rahasia keluhuran Allah) bumi-Ku atau langit-Ku, akan tetapi mampu menampung-Ku hati hamba-Ku yang beriman”

Maka sanubari seorang yang beriman lebih luas dan kuat dari seluruh alam semesta, karena mampu menampung keluhuran dan cahaya keagungan Allah subhanahu wata’ala, yang mana tidak mampu ditampung oleh alam semesta, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
( الحشر : 21 )

“Jika Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. ( QS. Al Hasyr : 21 )

Gunung akan hancur jika diturunkan kepadanya Al qur’an karena takut pada kewibawaan Allah subhanahu wata’ala, namun sanubari manusia yang beriman mampu menerima dan menampung kewibawaan Allah, kecintaan dan kasih sayang Allah, dan segala sifat keluhuran Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Sempurna dan Maha memilki segala kesempurnaan, Maha Memiliki segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, akan tetapi waspadalah jangan sampai sanubari kita terbawa ke dalam sifat-sifat yang tidak baik dari mahkluk yang Allah ciptakan. Sebagaimana dalam setiap hati manusia terdapat sifat-sifat dari segala makhluk, seperti sifat pemarah, dimana sifat ini dikiaskan sebagai sifat seekor anjing, dan hawa nafsu atau syahwat dikiaskan sebagai sifat dari seekor babi, yang mana hewan-hewan tersebut dihukumi sebagai hewan yang najis, akan tetapi tidak satu pun dari hewan tersebut yang memprotes kepada Allah karena telah diciptakan sebagai hewan yang najis, padahal hewan-hewan tersebut senantiasa berdzikir dan mengagungkan nama Allah subhanahu wata’ala. Tentunya hewan tidak lebih baik dari kita sebagai manusia, akan tetapi justru kita sering lalai dari mengingat Allah dan barangkali di dalam hati kita sering memprotes akan ketentuan-ketentuan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Kelak di akhirat manusia akan muncul dalam wujud yang sesuai dengan keadaan sanubarinya hari-hari yang terlewatkan dalam kehidupannya di dunia, apakah muncul dalam bentuk hewan ataukah muncul dalam bentuk manusia yang bercahaya?!. Maka perhatikanlah waktu dan hari-hari yang kita lewatkan dalam kehidupan kita, apakah terlewatkan dalam keluhuran atau dalam kehinaan?!. Maka jadikanlah panutan kita adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling ramah terhadap semua makhluk Allah subhanahu wata’ala, dimana segala tuntunan dari perbuatan dan perkataannya adalah bimbingan dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

“Tuhanku telah mendidikku dan Dia mendidikku dengan sebaik baik-baik pendidikan”.

Allah subhanahu wata’ala telah membimbing dan mengajari nabi Muhammad adab bahkan terhadap butiran tanah yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menginjakkan kaki diatasnya untuk berjalan perlahan-lahan dan tidak menghentakkan kaki di bumi, sebagaimana firmanNya subhanahu wata’ala :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
( الفرقان : 63 )

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. ( QS. Al Furqan : 63 )

Saat ini banyak ummat Islam di dunia yang dibuat murka akan perbuatan orang-orang yang menghina dan melecehkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya kita semua mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi jangan kita jadikan emosi kita ummat islam dikendalikan oleh mereka orang-orang yang tidak menyukai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka dengan mudah dapat membuat ummat Islam marah atau tenang sesuai keinginan mereka, yang semestinya merekalah yang kita seru kepada kemuliaan bukan justru kita yang dikendalikan oleh mereka, dan hal itu pun (penghinaan terhadap nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala, dan hal tersebut juga telah terjadi 14 abad yang silam di masa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dalam menghadapi hal ini, kita jadikan nama beliau shallallahu ‘alaihi wasalam semakin menjadi harum dan indah dengan mengenalkan budi pekerti luhur beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada keluarga, kerabat dan teman-teman kita.
Jangan sampai kita yang semasa di dunia seakan-akan adalah orang yang paling mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, justru lebih menghinakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang-orang yang tampaknya telah menghina nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena kita terpancing emosi dan kemarahan yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran disekitarnya. Dan hal ini kelak akan terungkap di hari kiamat, di saat kita dihisab oleh Allah dan disaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh Allah apakah ummat beliau melakukan perbuatan-perbuatan tersebut (kerusakan dan kehancuran yang disebabkan kemarahan akan hinaan terhadap nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), maka nabi Muhammad harus membenarkan setiap pertanyaan Allah akan perbuatan yang telah dilakukan ummatnya ketika di dunia.
Maka perbuatan dosa tersebut kelak di hari kiamat akan mempermalukan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Maka kendalikanlah emosi dalam menghadapi peristiwa tersebut, dengan berfikir yang manakah perbuatan yang membawa manfaat atau keburukan. Dan hal tersebut Allah subhanahu wata’ala izinkan untuk terjadi?, karena ummat Islam banyak yang telah melupakan nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga kejadian tersebut membuat mereka ingin lebih mengetahui nabi mereka, betulkah nabi mereka seperti yang orang-orang tuduhkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dengan itu mereka akan lebih mempelajari sirah dan akhlak-akhlak nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga orang-orang yang di luar Islam pun akan tertarik perhatian mereka untuk mengetahui apakah betul demikian sosok nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka pun akan mencari tahu dan mempelajari tentang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana dengan hal tersebut mereka akan mengenal dan mengetahui bahwa seorang (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) yang dihina dan dilecehkan itu adalah sosok manusia yang paling baik, manusia yang paling ramah dan berlemah lembut kepada semua orang baik yang seagama dengannya atau pun orang yang berbeda agama dengannya, bahkan terhadap musuh-musuhnya sekalipun. Dan bulan Dzulqa’dah ini mengingatkan kita pada perjanjian Hudaibiyah yang terjadi di bulan Dzulqa’dah tahun 6H, dimana ketika itu 1500 muslimin menuju ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah, namun dihalangi oleh orang kafir quraisy, padahal kaum muslimin disaat itu tidak ada yang membawa senjata apapun atau peralatan perang yang lainnya, karena mereka hanya ingin melakukan ibadah Umrah dan Haji, namun kuffar quraisy tetap tidak memberi izin untuk masuk ke Makkah, sehingga mereka membuat perjanjian yang menguntungkan fihak quraisy, yang mana diantara perjanjian tersebut adalah jika kaum muslimin yang di Makkah akan berangkat ke Madinah maka harus dengan seizin para pembesar quraisy, akan tetapi penduduk Madinah yang ingin ke Makkah dan masuk pada agama quraisy maka tidak boleh dihalangi dan dilarang. Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut adalah kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin akan tindakan kuffar quraisy terhadap mereka dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut yang sangat menyakitkan kaum muslimin, sehingga 2 tahun setelahnya terjadilah fath Makkah di tahun 8 H, dan jumlah muslimin di saat itu adalah 10.000, sehingga dengan jumlah yang besar tersebut kaum kuffar quraisy tidak lagi mampu untuk menghalangi mereka ketika memasuki kota Makkah, dan ketika itu mereka juga tidak membawa senjata apa pun. Kemudian 2 tahun setelah kejadian Fath Makkah yaitu tahun 10 H Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan haji wada’ (haji perpisahan) bersama 120.000 kaum muslimin. Demikian pesat perkembangan Islam sebab budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Adapun riwayat yang tadi kita baca menunjukkan kemuliaan cinta para sahabat terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana sayyidina Ubaidah merasa sangat cemburu terhadap Ibn Sirin yang memilki dan menyimpan sehelai rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga baginya jika memilki sehelai rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu lebih ia cintai dari dunia dan seisinya, sebab kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani dalam Fath Al Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Ibn Sirin adalah putra Sirin yang ia adalah pembantu sayyidina Anas bin Malik Ra, dan sayyidina Anas bin Malik adalah pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana Rasulullah jadikan sebagai anak angkat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tahallul di saat Haji Wada’ maka tidak sehelai pun dari rambut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang terjatuh ke bumi, akan tetapi helaian rambut-rambut beliau terjatuh di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah mengabulkan seluruh hajat kita, menghapus seluruh dosa-dosa kita, menjauhkan kita dari segala musibah dan permasalahan, serta mempermudah kita dalam mencapai keluhuran, kemuliaan, kebahagiaan di dunia dan akhirat.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Jadwal Maulid Akbar Tahun 1434H/2013M

Assalamualaikum,
berikut adalah jadwal maulid dari beberapa majelis taklim. mohon koreksi sekiranya ada yang berbeda.
wassalam.

1. Maulid Bersama Majelis Rosulloh Saw Di Silang Monas
Kamis , 24 Januari 2013
Mulai jam : 07 Pagi s.d Selesai
Tempat : Monas Jakarta Pusat

===============================================

2. MAULID AGUNG DI MASJID AL ABIDIN
KAMIS MALAM JUM’AT, 24 JANUARI 2013
PUKUL 19.00 WIB
DI MASJID AL ABIDIN PONDOK BAMBU JAKARTA TIMUR

====================================================

3. MAULID NABI SAW & HAUL ALHABIB ABAS BIN ABUBAKAR ALAYDRUS
HARI / TGL : KAMIS / 24 JAN 2013 JAM 12.00-SELESAI
TEMPAT : KRAMAT RAWA BOKOR ,KALIDERES BANDARA

====================================================

4. MAULID NABI SAW DI ALHABIB ALI BIN SAHIL
HARI / TGL ; KAMIS / 24 JAN 2013 JAM 08.00 – SELESAI
TEMPAT : JL K.S TUBUN BELAKANG HOTEL IBIS SLIPI

======================================================

5. MAULID AGUNG NABI MUHAMMAD SAW
Jum’at, 25 Januari 2013 - Jam : 20.00 WIB
Masjid Jami’ Haqqul Yaqiin
Jl. Gotong Royong, Larangan Indah, Larangan-Ciledug, Tangerang

====================================================

6. Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid Agung Kota Batam Sabtu, 26 Januari 2013
Bada Isya jam 19.00
Penceramah : Habib Muhammad Luthfi bin Yahya habib-luthfi-yahya1

======================================================

7.Maulid Nabi Muhammad saw Di WAN SYEICHON
Sabtu Malam Minggu, 2 Pebruari 2013 pukul 19.00 WIB
dikediaman Al Habib Syechon bin Musthofa Albahr Gg. Nangka Bintara Bekasi.

======================================================

8. MAULID DI Maqam Kramat Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad ( Habib Kuncung )
Minggu, 3 Februari 2013
pukul 15.00 WIB
di Maqam Kramat Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad Kalibata Jakarta Selatan hbi kuncung

===================================================

9. MAULID NABI MUHAMMAD SAW DI EMPANG KERAMAT BOGOR
Selasa, 5 Februari 2013
pukul 18.00 WIB
di Masjid Kramat Empang Bogor.
Haul Al Imam Abdullah bin Muhsin Alatthas Kramat Empang bogor Rabu 6 februari 2013 jam 08.00 pagi
masjid empang bogor

==================================================

10.Ziarah bersama ke Maqam Al Habib Ali Al Habsyi Kwitang
Rabu, 6 Februari 2013
pukul 18.00 satWIB
habib ali alhabsy kwitang dan habib ali bungur

==================================================

11.Maulid Nabi Muhammad saw habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang
Kamis , o7 pebruari 2013
Bada asyar ( Tempat islamic Center Kwitang)

=============================================

12. Maulid Nabi Muhammad saw di Pondok Pesantren Al Haromain Asy Syarifain Pondok Rangoon Cipayung Jakarta Timur
Kamis, 7 Februari 2013
pukul 08.00 WIB
di Pondok Pesantren Al Haromain Asy Syarifain Pondok Rangoon Cipayung Jakarta Timur HABIB HAMID AL KAFF

====================================================

13. Maulid Nabi Muhammad saw di Majlis Talim Al Afaf Habib Ali bin abdurahman assegaf Jumat, 8 Pebruari 2013
waktu : Sholat Subuh berjamaah
Tempat: Majlis talim al afaf Tebet Barat
HABIB ALI ASSEGAF, HABIB RIZIQ DAN HABIB MUHSIN ALATHOS

================================================

14. Maulid Nabi Muhammad saw Alhawi Condet
Sabtu, 9 Pebruari 2013
Jam : 09 pagi – 12 00
Tempat : Condet dekat PGC cililtan alhawi1

===================================================

15. Ziarah bersama dan Maulid Nabi Muhammad saw di Masjid Keramat luar batang Al habib Husein bin Abu bakar Al Idrus
Minggu, 10 Februari 2013
pukul 08.00 WIB
Tempat : Masjid luar batang Penjaringan jakarta utara

================================================

16. Ziarah bersama dan Maulid Nabi Muhammad saw di Masjid keramat Kampung Bandan
Minggu, 10 Pebruari 2013
Waktu : BadaDzhuhur
Tempat : Masjid Keramat kampung Bandan Ancol
facebook-import-Ekspedisi-Marunda-IV-Jakarta-Heritage-Trails-13

===============================================

17. Maulid Nabi Muhammad saw Di Habib Husein bin Ali Al athos
Senin, 11 Pebruari 2013
Bada Maghrib ( Tempat gang buluh Condet )
PARA HABAIB DAN HABIB ALI BUNGUR JAKARTA

==============================================

18.Maulid Nabi Muhammad saw di Majlis Talim Habib salim bin zindan
Senin, 11 Pebruari 2012
Waktu : Ba’da Ashar (150.30 – 17.30 WIB)
Tempat : Majlis Ta’lim dan Waqaf
habib Salim bin Ahmad bin Jindan
Jl. Otista Raya No. 117 Jakarta-Timur

=================================================

19. MAULID AGUNG KEDIAMAN AL HABIB AHMAD BIN SHOLEH AL ATTHOS, BEKASI.
Senin, 11 februari 2013
ba’da maghrib.
Jl. RA. Kartini Gg.mawar 6. (depan rumah sakit bhakti kartini) Margahayu bekasi timur.

===================================================

20. Maulid Nabi Muhammad saw di Majlis Habib Salim bin Thoha Al Haddad Ps. Minggu Jakarta Selatan.
Rabu, 13 Februari 2013 pukul 08.00 WIB
Majlis Habib Salim bin Thoha Al Haddad Ps. Minggu Jakarta Selatan

=========================================

21. Maulid Nabi Muhammad saw di Majlis Syamsis Syumus
Sabtu, 16 Februari 2013
pukul 15.00 WIB
HABIB MUSTAFA BIN ABDULLOH ALAYDRUS

==========================================

22. Maulid Nabi Muhammad saw dan Haul di Habib Umar bin hud Al athos
Minggu, 17 Februari 2013
pukul 10.00 WIB Haul Habib Umar bin Hud Alatthas Cipayung Bogor
HABIB UMAR BIN HUD AL ATHOS CIPAYUNG BOGOR

================================================

23. Maulid Agung Di Pon-Pes Alfachriyah ciledug
Ahad 24 Februari 2013
jam 08.00 s,d 12.00
Larangan Ciledug Tangerang

===================================================

Sumber: http://sachrony.wordpress.com

Saturday, January 5, 2013

Riyadhus Shalihin : Banyaknya Jalan Kebaikan

1. Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW : “Amal apakah yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya : “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Memerdekakan budak ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya .” Saya bertanya : “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana ?” Beliau menjawab : “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.” Saya bertanya lagi : “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu ?” Beliau menjawab : “ Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu .” (HR.Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (SUBHANALLAH) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (ALHAMDULILLAH) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (LAA ILAHA ILLALLAH) adalah sedekah, setiap ucapan takbir ( ALLAHU AKBAR) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar (yang dibenci) adalah sedekah, dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam salat Dhuha telah mencakup semuanya .” (HR.Muslim) 3. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Diperlihatkan kepadaku amal-amal perbuatan umatku, yang baik maupun yang jelek. Aku mendapatkan dalam kelompok amal perbuatan yang baik, di antaranya menghilangkan gangguan dari jalan, dan aku mendapatkan dalam kelompok amal perbuatan yang jelek, di antaranya, ingus yang dibiarkan di masjid tanpa ditutupi atau dibuang .” (HR.Muslim)

4. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata: “Orang-orang protes kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi bersabda: “Bukankah Tuhan telah menjadikan sesuatu bagimu untuk sedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih, tahmid, adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan, melarang berbuat kemungkaran, dan bersetubuh (dengan istrinya) adalah sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia mengikuti syahwatnya?” Rasulullah bersabda: “Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia menempatkan syahwatnya itu pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim)

5. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata: “Nabi SAW bersabda: ‘Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan, walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ramah.’” (HR. Muslim)

6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari terbitnya matahari (sebagai pernyataan syukur kepada Allah untuk keselamatan tulangtulangnya). Dan macam sedekah itu banyak sekali, di antaranya berlaku adil di antara dua orang (yang sedang bertengkar), membantu teman ketika hendak menaiki tunggangannya atau memuatkan barang temannya ke punggungnya, ucapan yang baik, setiap langkah untuk melakukan shalat, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan, adalah sedekah.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya setiap anak cucu Adam diciptakan sebanyak 360 ruas tulang. Maka siapa saja mengagungkan Allah (membaca takbir), memuji Allah membaca hamdalah (alhamdulillah), membaca tahlil (laa ilaaha illallaah), membaca tasbih (subhanallah), membaca istighfar (astaghfirullah), menyingkirkan batu dari jalanan, menyingkirkan duri atau tulang dari jalan umum, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, hingga genap tiga ratus enam puluh kali, berarti pada sore hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka.’” (HR Muslim)

8. Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Siapa saja yang pergi ke masjid di pagi hari maupun sore hari, Allah menyediakan hidangan surga baginya sepanjang pagi maupun sore.” (HR Bukhari dan Muslim)

9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’ (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Kali tertentu ada seorang laki-laki yang berjalan. Di tengah perjalannya ia kehausan, ia menemukan sebuah sumur maka iapun turun ke dalamnya dan meminumnya. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan, lantas orang itu berkata: ‘Anjing ini benar-benar kehausan sebagaimana diriku.’ Kemudian ia turun lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh, kemudian ia menggigit sepatunya dan naik ke atas lalu ia memberinya minum. Allah memuji perbuatan orang itu karena menolong anjing dan Allah mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperolah pahala?” Beliau menjawab: “Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa itu mendapatkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim) Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan : "Allah memuji perbuatan orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya ke dalam surga." Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang lain disebutkan : "Kali tertentu ada seekor anjing yang berputar-putar di sekeliling sumur, ia hampir mati karena kehausan, ada seorang penjahat dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Melihat yang demikian, ia melepaskan sepatunya dan mengambil air untuk diminurnkan pada anjing itu. Karena perbuatannya itu, diampunilah dosa-dosa penjahat itu."

12. Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda: "Kulihat ada seseorang yang bersenang-senang di dalam surga disebabkan ia memotong dahan yang berada di tengan jalan karena mengganggu kaum muslimin yang lewat. (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain : "Ada seseorang yang berjalan dan ia terganggu sebuah dahan yang menghalanginya, kemudian ia berkata: ‘Demi Allah saya akan menyingkirkan dahan ini dari jalan, agar tidak mengganggu kaum muslimin yang lewat.’ Karena perbuatannya itu, ia dimasukkan surga." Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: "Ada seseorang yang berjalan dan menemukan dahan yang berduri di jalan, kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan mengampuni dosa-dosanya."

13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang berwudhu dengan sempurna, kemudian menunaikan salat Jumat dan mendengarkan serta memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa-dosa yang dikerjakannya antara hari itu sampai hari Jumat berikutnya, ditambah tiga hari berikutnya. Dan siapa saja yang mempermainkan batu sewaktu ada khutbah maka sia-sialah Jumatnya.’” (HR. Muslim)

14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah.SAW bersabda: ‘Jika orang muslim atau mukmin itu berwudhu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, karena dipergunakan berjalan pada jalan yang tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa.’” (HR. Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda : "Salat lima waktu, antara salat Jumat yang satu ke salat Jumat berikutnya, dan puasa pada bulan Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya, menjadi penebus atas dosa-dosa yang dilakukan, selama dosa-dosa besar dijauhinya." (HR. Muslim)

16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW bertanya: "Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat mengangkat derajat (di surga)?” Para sahabat menjawab: "Tentu saja, Ya Rasulullah." "Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu salat setelah selesai salat. Itulah yang harus kalian utamakan." (HR. Muslim)

17. Dari Abu Musa Al-Asy'ari ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Siapa saja yang selalu menjaga salat Subuh dan salat Ashar niscaya ia masuk surga." (HR. Rukhari dan Muslim) 18. Dari Abu Musa Al-Asy'ari ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat." (HR. Bukhari)

19. Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

20. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya." (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: "Seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, binatang, maupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat."

21. Dari Jabir ra., ia berkata: “Orang-orang Bani Salimah ingin berpindah rumah dekat dengan masjid, kemudian kabar itu terdengar Rasulullah SAW maka beliau bersabda kepada mereka: "Aku mendengar bahwa kalian ingin pindah tempat yang dekat dengan masjid." Mereka menjawab: "Benar wahai Rasulullah, kami ingin pindah dekat dengan masjid." Beliau bersabda: "Wahai Bani Salimah tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat." (HR. Muslim) Dalam riwayat lain dikatakan : "Setiap langkah itu mengangkat satu derajat."

22. Dari Abul Mundzir Ubay bin Ka'ab ra., ia berkata: "Ada seseorang yang sepanjang pengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang lebih jauh tempatnya dari masjid dan ia tidak pernah tertinggal salat di masjid. Ada seseorang yang menyarankan: "Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu naiki pada waktu gelap dan pada waktu panas, niscaya kamu tidak begitu lelah." la menjawab: "Saya tidak suka bila rumah saya dekat dengan masjid. Sesungguhnya saya menginginkan agar perjalanan saya, baik sewaktu pergi ke masjid maupun pulang ke rumah, itu selalu dicatat." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Allah telah mengumpulkan semua catatan itu bagi kamu." (HR. Muslim) Dalam riwayat lain dikatakan: "Bagimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."

23. Dari Abu Muhammad Abdullah bin 'Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Ada empat puluh perbuatan, dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing untuk diperas susunya. Dan siapa saja yang mengerjakan salah satu di antara empat puluh itu hanya mengharapkan pahala dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikannya, niscaya Allah akan memasukkan surga karena amalnya.” (HR. Bukhari)

24. Dari 'Adiy bin Hatim ra., ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Takutlah kamu sekalian terhadap api neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma." (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Salah seorang di antara kalian nanti akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal antara dia dengan Tuhannya tidak ada penerjemah, kemudian ia melihat ke kanan tiada terlihat kecuali amal yang pernah dilakukannya, kemudian ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali api tepat di depan mukanya, maka takutlah kalian terhadap api itu walaupun hanya bersedekah dengaan separuh biji kurma. Siapa saja yang tidak mampu, maka cukup dengan kata-kata yang baik."

25. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah ridha terhadap seseorang, yang apabila makan makanan, ia memuji kepada-Nya." (HR. Bukhari)

26. Dari Abu Musa ra. dari Nabi SAW beliau bersabda: "Setiap orang Islam itu wajib bersedekah." Salah seorang sahabat bertanya: "Bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa ?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia berbuat dengan kedua tangannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan dapat pula untuk di sedekahkan!" Ia bertanya: "Bagaimana seandainya ia tidak mampu untuk berbuat seperti itu?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia membantu orang yang sangat membutuhkan bantuannya!" Ia bertanya Iagi: "Bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan?” Beliau menjawab: "Hendaknya ia menyuruh orang untuk berbuat baik!" Ia bertanya lagi: "Bagaimana seandainya ia juga tidak

Rumi: Bahkan Isa putra Maryam pun Menyingkir

Inilah kisah tentang Isa putra Maryam,
ketika dia menghindar dari orang-orang dungu,
menjauh, hendak mengungsi,
ke puncak sebuah gunung.

Isa putra Maryam bergegas-cepat
mendaki sebuah gunung.
Sedemikian bergegas,
bagaikan dikejar seekor singa

Seseorang mengejarnya, dan menyapanya,
“Salam untukmu.
Tak kulihat sesuatu pun mengejarmu,
mengapa engkau begitu terburu-buru?”

Tetapi Beliau tetap berlari,
sedemikian terburu-buru,
tak mau berhenti untuk menjawab.

Sang penanya bersikeras,
terus dikejarnya Sang Nabi itu.
Lalu, dia bertanya lagi,
kali ini sampai harus berteriak:

“Demi Tuhan,” serunya,
“berhentilah sebentar!”
“Sungguh aku bingung,
apa yang membuatmu melarikan diri?”

“Wahai Nabi nan mulia dan pemurah,
Apa yang membuatmu bergegas-lari?
Tak ada singa mengejarmu.
Tiada pula ancaman atau wabah?”

Sang Nabi menjawab,
“Aku melarikan diri dari seorang yang tolol.
Pergilah! Sedang kukhawatirkan keselamatanku,
janganlah kau tahan aku lagi!”
Orang itu bertanya lagi,
“Tapi, bukankah engkau al-Masih,” [1]
bukankah engkau yang menyembuhkan
orang yang buta dan tuli?”

“Betul,” jawabnya.

Orang itu bertanya lagi,
“Bukankah engkau Sang Raja Spiritual?
Bukankah dalam dirimu tersimpan do'a
dan permohonan dari alam tak-nampak?”

“Bukankah jika kau berdo'a pada sesosok mayat,
dia langsung bangkit dengan trengginas,
bagaikan gesitnya seekor singa menggondol korbannya?”

“Betul,” jawabnya,
“Aku lah orang yang kau maksud.”

Orang itu masih penasaran,
“Wahai tuan yang tampan,
bukankah engkau yang menghidupkan burung dari tanah-liat?” [2]

“Betul,” jawabnya

“Wahai Ruh Murni,
bukankah engkau bisa menjadikan
apa pun yang kau kehendaki,
lalu apa yang engkau takuti?”

“Dengan keajaiban sebanyak itu,
siapa gerangan di ke dua alam
yang tak dengan suka-rela bersedia
menjadi budakmu?”

Isa putra Maryam berkata,
“Demi Allah yang Maha Suci,
yang Menciptakan jasmani,
dan Menciptakan jiwa,
dengan semua keunggulannya. [3]

Demi Dzat Dia yang Suci dan Sifat-sifat-Nya,
yang karenanya baju pelindung al-Jannah
tanggal sampai ke pinggangnya,
disebabkan takjub.

Aku bersaksi, bahwa do'a-do'a-ku itu,
serta asma-Nya yang Teragung, [4]
yang telah kuucapkan kepada mereka
yang buta dan tuli;
sangatlah manjur.

Jika kuucapkan dzikir itu ke sebuah gunung,
akan terbelah dia,
robek jubahnya sampai ke dasar.

Jika kuucapkan itu ke sesosok mayit,
maka hiduplah dia.
Kuucapkan itu kepada ketiadaan,
maka menjadilah dia sesuatu.
Tetapi ketika kulantunkan do'a itu,
ribuan kali, dengan penuh kasih-sayang
ke hati seorang tolol,
tidaklah itu menjadi obat. [5]

Malahan hati itu mengeras bagai batu,
dan tetap membatu;
lalu menjadi seperti pasir,
yang di atasnya tiada satu benih pun bisa tumbuh.”

Dengan heran orang itu bertanya lagi,
“Mengapa pada mujizat-mujizatmu,
do'a dengan asma Allah itu manjur,
sedangkan pada hati seorang tolol
itu tidak berpengaruh?
Bukankah itu suatu penyakit juga,
bahkan suatu musibah?”

Nabi Isa menjawab,
“Dungunya seorang tolol disebabkan
murka Allah yang teramat-sangat.
Musibah biasa seperti kebutaan
tidak bersumber dari murka Allah,
itu hanya ujian dan cobaan-Nya.”

Musibah berupa ujian dan cobaan,
pada akhirnya mengundang Rahmat-Nya.
Tapi kejahilan seorang tolol hanya membawa
pukulan dan luka.

Luka-berparut itu bersumber dari tutupan-Nya, [6]
tiada tangan penolong yang dapat mengobati.

Karenanya, menjauhlah dari orang tolol,
sebagaimana Isa telah menghindar;
persahabatan dengan orang jahil
telah banyak menimbulkan pertumpahan darah.

Udara menguapkan air perlahan-lahan,
orang tolol mencuri agamamu seperti itu.

Orang jahil mengganti kehangatanmu
dan membuatmu menggigil kedinginan.
Dibuatnya engkau dingin bagaikan batu.

Larinya Isa putra Maryam,
bukan karena ketakutan biasa seperti kita,
karena dia terlindungi dari hal-hal semacam itu.
Tetapi demi memberi kita suatu pelajaran. [7]

Walaupun seluruh alam membeku,
takkan itu membuat murung
Matahari yang bersinar terang. [8]

Catatan:
[1] “Ingatlah ketika al-Malaikat berkata: 'Yaa Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kalimah dari-Nya, namanya al-Masih 'Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan diakhirat, dan termasuk yang didekatkan.” (QS [3]: 45)

[2] “Dan sebagai utusan bagi Bani Israil, 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sebuah tanda dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untukmu suatu bentuk burung dari tanah-liat, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan padamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu' … “ (QS [3]: 49)

[3] Karenanya al-Malaikat diminta bersujud (QS [2]: 34)

[4] Asma-Nya yang Teragung (ismul-azham).
Secara umum nama “Allah” dipandang sebagai Nama Tuhan yang terbesar, karena menghimpun 99 asmaul-husna nama-nama Tuhan lainnya yang tak-terhingga. Boleh jadi yang dimaksud disini adalah mengenai ajaran sementara Sufi bahwa Allah mengizinkan sedikit diantara hamba-Nya yang terpilih untuk mengetahui Nama-Nya yang paling agung (dan paling tersembunyi); yang dengan menggunakan asma itu mereka melakukan mujizat (bagi para Nabi) dan karamah (bagi para Wali).

Terkait dengan ini Rumi mengisahkan tentang seorang tolol yang meminta Isa putra Maryam untuk mengajari “asma tersembunyi yang dengan itu engkau menghidupkan orang yang sudah mati” (Matsnavi II: 142). Karena si tolol ini ingin membangkitkan setumpuk tulang yang dilihatnya dalam sebuah gua. Setelah menerima izin Allah, Isa putra Maryam mengucapkan asma itu pada setumpuk tulang tersebut; seekor singa segera bangkit dari situ dan memakan orang tolol tersebut.

Pada catatannya, Nicholson menjelaskan bahwa “asma tersembunyi” itu maksudnya Nama Tuhan yang Teragung (ismu'llahi'l-a'zhamu); secara umum dipahami sebagai “Allah”, dimana “Huwa” (Dia sebagai Dzaat) terliput di dalamnya. Pengetahuan akan asma ini merupakan sumber dari daya yang menghasilkan mujizat dan karamah di kalangan para Nabi dan Wali, dan dapat ditransmisikan kepada mereka yang terpilih.

[5] Nicholson mencatat salah satu ucapan di kalangan Muslim, yang merujuk kepada Nabi Isa, “Walaupun aku dapat melakukan keajaiban menghidupkan orang yang sudah mati, aku tak berdaya menyembuhkan si tolol.”

[6] “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaranmu dan penglihatanmu, dan menutup qalb-mu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu …” (QS [6]: 46)

[7] Pelajaran bagi manusia biasa sering disampaikan-Nya melalui kiprah para Nabi dan Wali yang sepenuhnya berserah-diri kepada-Nya. Dengan keakraban kepada Sang Pencipta dan melimpahnya pengetahuan Ilahiah yang dianugerahkan, para Nabi dan Wali adalah yang paling sering “hadir semata bersama-Nya saja” dalam shalat ataupun khalwat mereka. Justru pelajaran paling dasar ini yang sering terluput. Terpesona pada mujizat atau karamah, pelajaran malah sering terlewat. [8] Isa putra Maryam a.s. Kalimah-Nya (realisasi Sabda-Nya), "yang terkemuka di dunia dan di akhirat," seorang Nabi besar bagi kaum Muslim, yang dianugerahi "Matahari Sejati" dalam diri.

Sumber:
Rumi: Matsnavi III 2570 - 2599
Dari Mathnawi-ye Ma'nawi, terjemahan Ibrahim Gamard dari Bahasa Persia, dengan memeriksa terjemahan pertama ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. --> ngrumi.blogspot.com