Showing posts with label Sastra Sufistik. Show all posts
Showing posts with label Sastra Sufistik. Show all posts

Tuesday, April 3, 2012

Imam Syafi'i : Jadilah Faqih dan Sufi

Oleh Bahrus Shofa

Sultan al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Malik al-`Adil Abu Bakar bin Ayyub daripada Dinasti Ayyubi yang memerintah Mesir satu ketika dahulu telah membangun sebuah kubah indah menaungi makam Sulthanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu.

Atas kubah tersebut dibangun suatu lambang berbentuk kapal atau bahtera dan bulan sebagai isyarat bahawa di bawah kubah tersebut bersemadinya "Bahrul `Ulum" [Lautan Ilmu Pengetahuan], Sulthanul A-immah, Imam al-Muthallibi, Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu. Keluasan ilmu dan wawasan Imam asy-Syafie diibaratkan seperti lautan yang tidak bertepi. Sebahagian ulama tatkala menziarahi makam Imam besar ini telah mendendangkan syair yang berbunyi:-

Telah kudatangi kuburnya asy-Syafi`i untuk kuziarahi
Kudapati bahtera padanya tanpa samudera di sisi
Maka kukatakan: Maha Tinggi Allah, inilah isyarat menunjuki
Bahawasanya samudera telah ditelan oleh kuburnya Syafi`i


Imam besar ini telah menghabiskan umur beliau di dunia dengan sebaik-baiknya, penuh kesalihan dan manfaat bagi sekalian umat Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam. Umur beliau yang berkat itu juga ditutup dengan khatimah yang baik, hari Jumaat akhir bulan haram, Rajab. Diceritakan bahawa Imam az-Za'faarani radhiyaAllahu `anhu memberitakan yang beliau mendengar Imam Ahmad radhiyaAllahu `anhu berkata:

"Aku telah bermimpi seakan-akan Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam wafat dan banyak orang melayat jenazah Rasulullah. Maka tatkala pagi harinya, kami dapati bahawa Imam asy-Syafie yang telah wafat pada hari tersebut."

Imam asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu adalah seorang imam dalam berbagai lapangan ilmu - ilmu Islam dan beliau juga adalah seorang yang berjalan atas landasan tasawwuf dalam kehidupan sehariannya. Bahkan, beliau berpesan agar seseorang itu menjadikan dirinya orang yang faqih lagi sufi dan bukan hanya faqih dan hanya sufi semata-mata.

Ini adalah karana faqih yang tidak berjalan atas landasan tasawwuf, maka hatinya akan menjadi keras akibat penyakit-penyakit hati yang bersarang dalamnya, manakala sufi yang tidak mempedulikan ilmu fiqh, akan menjadi seorang yang jahil akan hukum-hukum dan ketentuan agamanya. Perkara ini dinyatakan oleh Imam asy-Syafi`i, antaranya, dalam bait-bait syair yang beliau gubah. Bait-bait ini termaktub dalam diwannya yang masyhur. Namun perlu diberi perhatian bahwa dalam sesetengah cetakan "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" dan yang dalam bentuk e-book, bait-bait ini telah digugurkan oleh mereka-mereka yang anti kepada sufi dan tasawwuf sebagaimana yang telah mereka lakukan dalam karangan panutan mereka sendiri, Ibnu Taimiyyah, dalam himpunan fatwanya. Berbalik kepada "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" maka pada halaman 47, Imam asy-Syafi`i radhiyaAllahu `anhu bersyair dengan katanya:-



Faqih lagi sufi, Engkau jadikan dirimu
Kedua-duanya sekali, Jangan hanya salah satu
Demi Allah, Sungguh - sungguh aku menasihatimu
Faqih semata tiada merasa takwa, kerna hatinya membatu
Manakala semata sufi itu jahil, Kurang faham, tiada ilmu
Justru bagaimana si jahil, menjadi baik sholih lagi bermutu ?


Oleh itu, janganlah meremeh-remehkan ilmu fiqh dengan mengganggapnya tidak penting karana itu adalah kulit saja. Berusaha menjadikan diri kita orang yang faqih dan sufi sebagaimana nasihat dan pesanan Imam kita asy-Syafi`i tersebut. Insya-Allah, kita memperolehi keselamatan dan laba di akhirat nanti.

Jangan jadi sesetengah manusia zaman ini,
Dengan thoriqat dia menisbah diri
Saban hari berkhayal dirinya wali
Namun lalai syariat Ilahi
Majlis ilmu ia jauhi
Para ulama tiada ia hampiri
Rasa dirinya sudah mencukupi
Lagi pula guru thoriqatnya wali
Kalau pun sungguh bagai yang dirasai
Maka yang wali itu si gurunya tadi
Sang Guru wali
Ilmunya penuh amalnya selari
Memadaikah bagi si murid hanya dengan bangga diri

Sumber: Bahrus Shofa

Diwan Imam Syafi'i

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa.Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i - Beirut, page. 42]


ini adalah salah satu contoh diwan dari Imam syafi'i yang bermakna sangat dalam. banyak dari kita yang tidak mengetahui mutiara kata dari imam besar ini. Beliau lebih terkenal sebagai Imam Mazhab dan ahli fiqih, tapi sesungguhnya beliau juga adalah seorang sufi dan ahli tasawuf, akan tetapi tidak banyak yang menggambarkan sosok sufinya.
berikut adalah mutiara kata dari Imam Syafi'i, semoga kita bisa mendapatkan pencerahan dan hikmah dari kata-kata beliau.. Amien


1) MENERIMA TAKDIR ALLAH
l. Biarlah hari-hari itu berlalu Kerjakan yang engkau sukai Apabila takdir sudah menentukan Maka berlapang dadalahkau
2. Janganlah engkau gelisah Terhadap musibah-musibah malam hari Karena tiada satu pun musibah itu Yang kekalabadi
3. Kuatkanlah dirimu Menghadapi cobaan-cobaan hidup Surah hati dan setia Hendaklah menjadi pekertimu
4. Meski bagai buih lautanKeaibanmu di kalangan orang lainNamun rahasia pribadimuHendaklah selalu tersimpan
5. Tutuplah rahasiamuDengan kemurahan hatiKarena konon semua keaiban Dapat ditutup dengan kemurahan hati
6. Jangan engkau tampakkan kelemahan pada lawanmuKarena kuatnya mental lawan Merupakan bahaya bagimu
7. Jangan engkau harapkan Kemurahan orang yang kikir Sebab orang yang sedang kehausan Tak akan mendapatkan airdalam api
8. Sebuah keterlambatan Tak akan mengurangi rizkimu Dan rizkimu pun tak akan bertambah Dengan kepayahanbadanmu
9. Tiada kesusahan yang kekal Tiada kegembiraan yang abadi Tiada kefakiran yang lama Tiada kemakmuran yanglestari
10. Apabila sikap hatimu Selalu rela dengan apa yang ada Maka tak ada perbedaan bagimu Antara dirimu sendiri danpara hartawan
11. Apabila ajal datang padamu Maka tak sejengkal bumi Tidak pula sebidang langit Yang dapat melindungimu
12. Bumi Allah amatlah luas Namun suatu saat Apabila takdir sudah datang Angkasapun menjadi sempit
13. Biarlah hari-hari itu Tidak setia setiap saat Sebab obat apa pun juga Tak akan menangkal ajal

2)NILAI DOA
l4. Apakah engkau meremehkan Suatu doa kepada Allah Apakah engkau tahuYang dihasilkan oleh doa15. Ibarat panah di malam hariIa tidak akan meleset Namun ia punya batasDan setiap batas ada saatnya selesai

(3)PEDIHNYA UJIAN HIDUP
16. Banyak orang berbicara tentang hal ihwal wanitaKonon mcncintui wanita adalah ujian hidup yang pedih
17. Mencintai wanita Bukanlah cobaan hidup yang pedih Tetapi dekatnya orang yang tidak disukai Itulah cobaan hidupyang pedih


(4) SASTERAWAN
18 Aku terlambat Diantara orang-orang yang dungu yang tidak tahu hak-hak sastrawan sampai kepala ditukarnyadengan ekor
19. Manusia dapat disatukanNamun akalnya tetap berbedaBaik dalam masalah sastera Maupun dalam masalah hitungan
20. Tak ubahnya emas Ibriz Semuanya berwarna kuning Namun tidak semua emas Punya nilai yang sama
21. Dan kayu-kayu cendana Bila tidak semerbak baunya Tak dapat dibedakan orang Mana yang cendana mana yangkayu bakar

(5) NASIB UNTUNG
22. Singa yang buas Mati kelaparan di hutan Dan daging-daging domba dimakan anjing
23. Hamba sahaya yang hina Terkadang tidur di atas sutera Sedang bangsawan mulya Tidur di atas debu

(6) GEJALA UBANAN DAN AMAL SALIH
24. Padamlah semangat dirikuKarena rambutmu sudah berubanMalam-malamku pun menlaJi gelap Mestupun hmtang-hintang bercahaya
25. Burung hantu yang manaBersarang di atas kepalakuYang memakasaku hegituWaktu gagak hitamku terbang
26. Engkau datang kepadaku Saat umurku sudah menua Karena tempat bernaungmu Hanyalah rumah-rumah tua
27. Apakah sejahtera hidupku Setelah rambut cambangkuDiliputi uban-uban putih Dan semir menghitam tidak berguna lagi
28. Bila kulit orang sudah menguning Dan rambut rambutnya sudah memutih.Hari-hari yang indah Kian keruh pula jadinya
29. Tinggalkanlah olehmu Perbuatan-perbuatan yang buruk Karena manusia yang hertakwa Tidak holehmengerjakannya
30. Tunaikanlah zakat kedudukanmu karena zakat ini tak ubahnya seperti zakat harta Apabila sudah cukup nisahnya
3l. Berhuat baiklah kepada orang merdeka Maka engkau dapat menguasainya karena sehaik-haiknya dagangan orangmulya Adalah pekerjaannya
32. Jangan hejalan di atas humi Dengan sombong dan congkak Karenaa tiada lama lagi engkau masuk ke bumi juga
33. Siapa yang ingin mencicipi dunia Akulah rasa dunia itu Pahit rerta getirnya Telah herkumpul dalam diriku
34. Dunia yang kulihat Adalah tipu daya dan kebatilan Tak ubahnya sebuah fatamorgana yang tampak di tengah sahara
35. Dunia hanyalah bangkai yang berbau Yang dimakan anjing -anjing Anjing-anjing itu hanya ingin Menarik-narik dan merobeknya
36. Apabila engkau menghindarinya Maka dirimu akan selamat Apabila engkau ikut menariknya berarti engkauberebutan dengan anjing
37. Beruntungnlah orang-orang Yang rumahnya terang menyala Dan tertutup pintu-pintunya Dan raput pulakelambunya.


(7) MURAH HATI DAN BUDI BAIK
38. Apabila orang hina mencaciku Derajatku justru meningkat Dan segala keaiban yang kuterima Aku pula pangkalsebabnya
39. Seandainya jiwaku Tidak lebih mulya dari diriku Niscaya aku sudah menguasainya Dari orang hina yangmelawannya
40. Andaikan aku berusahi Untuk kepentinganku puia Engkau akan melihatku Pelan-pelan terhadap yang kucari
41. Namun aku berusaha Vntuk kepentingan kawanku Sebab aib rasanya seorang kenyang perutnya Sedang kawannyadalam kehparan
42. Orang yang bodoh pun memberitalui Dengan segala cara yang buruk
43 Ia semakin dunguSedang aku semakin bijaksanaIbarat kayu cendanaSemakin terbakar semakin harum baunya45.Apabila engkaumelayaninyaEngkau telah menyenangkannyaApabila engkau membiarkanIa akan mati busuk

Untuk edisi lengkap silahkan melihat di link berikut:
http://www.scribd.com/doc/8743839/Diwan-Imam-Syafii-INDONESIA

Friday, March 2, 2012

Mutiara Kata Sheikh Muslihuddin Sa’di

Sheikh Muslihuddin Sa’di bertutur:

Aku tidak mampu mengucapkan terima kasih kepada Sahabatku
Karena aku tidak tahu kata pujian yang pantas untuk-Nya

Setiap rambut di tubuhku adalah pemberian dari-Nya
Bagaimana caranya aku berterimakasih untuk setiap rambut yang dianugerahkan oleh-Nya?

Puji bagi Tuhan Sang Pemberi
Yang menciptakan manusia dari ketiadaan
Siapakah yang mampu menggambarkan kemurahan-Nya?
Karena pujian untuk-Nya terbenam dalam keagungan-Nya

Sang Pencipta menciptakan seorang manusia dari tanah liat
Lalu meniupkan ruh, kebijaksanaan, akal dan hati

Sejak masa kanak-kanak hingga batas usia senja
Lihatlah bahwa Dia memberimu rezki, dari jalan yang tidak disangka-sangka!

Ketika Tuhan menciptakanmu dalam keadaan suci, maka tetaplah suci
Karena sungguh merupakan azab jika engkau pergi ke tanah kubur dalam keadaan bernoda

Senantiasalah engkau bersihkan debu sifat kotor dari cermin hati
Karena ia tidak akan mengkilap saat kerusakan melahap

Bukankah pada awalnya engkau adalah air dari benih manusia?
Jika engkau manusia, usirlah kesombongan dari kepalamu

Saat engkau berupaya mencari arti kehidupan
Janganlah percaya pada kekuatan tanganmu sendiri

Wahai penyembah diri! Mengapa engkau tidak memandang Tuhan
Yang memberikan kekuatan pada lengan?
Ketika dengan usahamu itu sesuatu terjadi
Ketahuilah, sesungguhnya semua itu terjadi karena kehendak Tuhan
Bukan oleh upayamu sendiri
Tak seorang pun yang memiliki daya dan kekuatan
Maka panjatkanlah puji kepada Tuhan Yang Maha Agung

Engkau tidak akan mampu berdiri dengan kekuatanmu sendiri
Di tempat yang tersembunyi, pertolongan datang seketika

Wahai tuan! Engkau juga adalah seorang anak kecil di jalan Tuhan
Karena kebencian, engkau menjadi lupa pada dosa

Seorang lelaki memalingkan kepala dari ibunya
Hati si ibu yang sedih menyala seperti api
Ketika dia menjadi tak berdaya karena kesedihannya,
Dia membawa sebuah buaian ke hadapan lelaki muda itu
Ia berkata, “Wahai orang yang lemah dalam cinta
dan lupa akan masa kecil!
Bukankah dulu saat kecil engkau menangis tak berdaya
Saat malam hari, aku tetap terjaga karena tangismu
Tidak, saat engkau berada dalam buaian ini, engkau tidak memiliki kekuatan seperti sekarang
Bahkan engkau tak memiliki kekuatan untuk mengusir seekor lalat dari dirimu sendiri

Engkau selalu merasa kesal dengan lalat
Hari ini menjadi seorang pemimpin dan sangat berkuasa
Suatu saat engkau akan kembali dalam keadaan seperti itu, di dasar kuburan
Ketika engkau tak mampu untuk mengusir seekor semut pun dari tubuhmu

Sekali lagi bagaimana mungkin mata dapat memancarkan cahaya
Ketika cacing kuburan melahap otaknya?

Engkau seperti orang buta yang tidak melihat jalan
Dan tidak tahu jika ada sumur di jalan itu
Engkau adalah seorang yang diberi penglihatan, jika engkau benar-benar bersyukur
Namun jika tidak, maka engkau adalah orang buta

Guru tidak memberikan padamu pengetahuan dan kebijaksanaan
Tuhan menciptakan sifat-sifat ini dalam dirimu
Jika Dia tidak memberimu hati yang mendengarkan kebenaran
Maka kebenaran akan tampak di matamu sebagai inti kebohongan

Lihatlah satu jarimu yang memiliki sekian banyak tulang sendi
Tuhan, dengan penciptaan-Nya telah menjadikan satu
Maka adalah kegilaan dan kedunguan
Ketika engkau menempatkan jarimu di atas firman-Nya (mencoba untuk mengingkari kehendak-Nya)

Perhatikanlah, Dia menyusun otot-otot
dan membuat persendian dari sekian banyak tulang
Untuk menciptakan gerakan
Karena tanpa putaran pergelangan lutut dan kaki
Tidaklah mungkin menggerakkan kaki dari tempatnya
Karenanya, manusia tidak sulit untuk bersujud
Tulang sendi pada tulang punggung tidak terdiri dari satu bagian
Tuhan telah menata dua ratus tulang sendi yang berhubungan satu sama lain
Dia telah menyempurnakan mahluk sepertimu
Maha Besar Tuhan! Ia menciptakan tulang sendi dari tanah liat

Wahai mahluk yang sempurna! Pembuluh-pembuluh darah dalam tubuhmu
Laksana suatu daratan yang di dalamnya terdapat tiga ratus enam puluh aliran sungai

Dalam penglihatan mata kepala, dalam pikiran, keputusan, dan kebijaksanaanmu
Tangan dan kaki adalah untuk hati, dan hati untuk kebijaksanaan

Hewan-hewan dengan bentuk yang tidak sempurna, adalah mahluk yang rendah
Engkau seperti Alif, tegak berdiri di atas kakimu
Hewan-hewan, kepalanya merendah ketika hendak makan
Sedang engkau, dikaruniai tangan untuk membawa makanan ke mulutmu

Tidak pantas bagimu merendahkan kepala pada siapapun
Kecuali dalam ketaatan kepada Tuhan
Dengan keindahaan-Nya, Tuhan memberimu pengetahuan. Lihatlah!
Dia tidak menciptakan dirimu seperti hewan, dengan kepala di rumput
Tapi dalam keadaan sempurna
Janganlah engkau menjadi terlena, ambillah jalan hidup yang baik

Jalan lurus itu lebih utama, bukan sosok yang tegap
Karena orang kafir sama seperti kita dalam bentuk lahiriah
Tuhanlah yang memberimu mata, mulut dan telinga
Jika engkau orang bijak maka janganlah menentang-Nya

Kuakui bahwa engkau dapat mengalahkan musuh dengan kekuatan
Namun jangan sampai engkau berperang dengan Sang Kekasih (Tuhan), walau karena kebodohanmu

Orang yang memiliki sifat bijaksana dan ihklas dalam melaksanakan kewajiban
Akan memperoleh pertolongan Tuhan dengan rasa syukur

Tuhan memberikan lidah untuk bersyukur dan mengucapkan pujian
Orang yang bersyukur tak akan menggunakan lidah untuk memfitnah

Telinga adalah indera penting untuk mendengarkan Al-Quran dan nasehat
Maka janganlah engkau mendengarkan fitnah dan kebohongan

Manusia dianugerahi dua mata untuk melihat (keagungan) ciptaan Tuhan
Maka tundukkanlah matamu dari aib saudara dan sahabatmu

Untukmu diciptakan bulan yang bersinar di malam hari
Dan Matahari yang gilang-gemilang di waktu siang
Untuk kepentinganmu, angin barat yang bagaikan pengurus rumah tangga raja
Bekerja tak henti-hentinya agar terbentang hamparan keindahan musim semi

Jika angin, salju, awan, dan hujan
Juga guntur yang menggelegar, serta halilintar yang bagaikan pedang
Semuanya adalah para pekerja dan pembawa titah Tuhan
Mereka merawat benih yang engkau tanam di dalam tahah

Jika engkau merasa haus, janganlah mengeluh
Karena si pembawa air akan membawakan awan berisi air di punggungnya

Dari tanah Dia ciptakan warna, wewangian, dan makanan
Hiburan bagi mata, otak dan langit-langit mulut

Dia mengeluarkan madu dari lebah, dan makanan surga dari langit
Dia memberimu buah kurma muda dari pohon, dan pohon dari benih

Semua tukang kebun (manusia) mengolah kerja tangan itu (kekuasaan Tuhan)
Dengan takjub mereka berkata, “Tak seorang pun dapat menciptakan pohon kurma!”

Matahari, bulan dan bintang, semuanya untukmu
Mereka adalah cahaya di langit-langit rumahmu

Dia membawakan untukmu sekuntum bunga mawar di antara duri-duri
Emas dari tambang, dan daun hijau dari dahan kering

Dia melukiskan mata dan alis, dengan tangan-Nya sendiri
Karena tidak ada yang dapat membuat semua itu selain diri-Nya

Dia sangat kuat dan menyayangi yang lemah
Merawatmu dengan kemurahan-Nya
Pantaslah untuk memanjatkan pujian sepenuh jiwa, setiap detik dan setiap desah nafas
Syukur kepada-Nya bukanlah semata-mata diucapkan di lidah

Oh Tuhan! Hatiku berdarah, dan mataku terluka
Saat kulihat karunia-Mu lebih besar dari rasa syukurku

******

Wahai sheikh, sungguh kata-katamu begitu menghujam ke dalam relung jiwa kami.

Semoga cinta dan kasih sayang Allah selalu menyertaimu. amin

*********

:: Sheikh Muslihuddin Sa’di adalah seorang penyair sufi kelahiran Shiraz, Persia (1200-1291M) yang menulis literatur klasik berjudul Bustan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para penyair barat berjudul “The Orchard” dan buku lainnya Gulistan “The Rose Garden”. Karyanya mengandung ajaran-ajaran dan kisah-kisah cinta, agama, kebijaksanaan, anekdot-anekdot dan aspek kehidupan lainnya.

Friday, January 13, 2012

Kearifan Rumi: Kisah Penanam Duri

Dunia Islam pernah melahirkan Jalaludin Ar-Rumi, atau orang-orang barat sering menyebutnya Jalaludin Rumi. Beliau adalah seorang pujangga sufi yang hidup di kota Konya, yaitu daerah Turki sekarang ini. Ajaran-ajaran beliau tentang cinta kasih dan keluhuran budi sampai kini terus dipelajari. Kaum muslim banyak berhutang budi atas kontribusinya memperkenalkan tasawuf dan spiritualisme Islam kepada barat. Orang-orang di Eropa dan Amerika banyak belajar nilai-nilai Islam dari karya-karya Rumi.

Sebagai seorang pujangga sufi beliau banyak menulis puisi-puisi dan kisah-kisah yang bermuatan spiritual. Salah satu karyanya adalah Matsnawi-i-Ma’nawi, yang berisi ribuan bait syair yang sangat indah dalam bahasa Persia. Matsnawi, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “Al Quran dalam bahasa Persia” karena keindahan bahasa dan kedalaman dimensi spiritual yang termuat di dalamnya, menjadi sebuah karya yang paling banyak diterjemahkan sepanjang masa. Di dalamnya banyak termuat kisah-kisah penuh mutiara hikmah. Saya kutip salah satunya.


Jalaludin Rumi berkisah tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh. Ia suka menanam duri di pinggir jalan. Setiap hari kerjanya menanam duri. Lama kelamaan, pohon duri yang ia tanam menjadi besar. Awalnya orang-orang yang lewat jalan itu tidak merasa terganggu oleh duri-duri. Mereka baru mulai protes setelah duri itu mulai bercabangdan mempersempit jalan yang dilalui mereka. Hamper setiap orang pernah tertusuk duri itu. Yang menarik lagi, bukan orang lain saja yang terkena tusukan duri. Si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri tanaman yang ia pelihara.

Petugas kota Konya lalu datang menegur orang itu dan memintanya agar menyingkirkan tanaman berduri dari jalan. Si penanam enggan untuk menebang tanamannya. Tapi setelah banyak orang yang protes, akhirnya ia berjanji untuk menebang tanaman itu keesokan harinya. Tapi ternyata pada hari berikutnya, ia menunda pekerjaannya. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga akhirnya orang itu sudah menjadi sangat tua dan tanaman berduri itu sudah menjadi pohon yang sangat kokoh. Orang tua itu sudah tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam.

Dalam bahasa sederhana, Rumi menasehati kita, “kalian, wahai orang-orang yang malang, adalah penanam duri. Tanaman berduri itu adalah kebiasaan dan sifat buruk kalian, perilaku tercela yang selalu kalian pelihara dan sirami. Karena perilaku buruk itu, banyak sudah yang menjadi korban. Dan korban yang paling menderita adalah kalian sendiri. Karena itu, jangan menunda untuk menebang duri itu. Ambillah kapak dan tebang duri-duri itu sekarang, agar orang bisa melanjutkan perjalanan tanpa terganggu olehmu.”

Ingatlah rumpun berduri itu setiap kebiasaan burukmu
Berulang kali tusukannya menyobekkan kakimu

Berulangkali kamu terluka oleh akhlakmu yang keji
Kamu tak punya perasaan, bebal dan keras hati

Jika terhadap luka yang kamu torehkan pada orang
Yang semua dari watakmu yang garang

Kamu tak peduli, paling tidak pedulikan lukamu sendiri
Kamu menjadi bencana bagi semua orang dan diri sendiri

Ambillah kapak dan tebas layaknya lelaki
Runtuhkan benteng Khaibar, laksana Ali
(Matsnawi, hal 1240-1246).

Tuesday, January 10, 2012

Manazilus-Sa'irin, Karya Tasawuf yang Bercorak Sastra

Oleh Makmun Nawawi*

Al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan rohani.

Tasawuf dan sastra mempunyai hubungan yang sangat mesra karena kedekatan antara pengalaman sufistik dengan pengalaman estetis seorang seniman. Ilmu tasawuf juga menjelaskan perihal wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Di sisi lain, ketika seorang sufi 'mabuk' dalam luapan spiritual, maka sastralah yang menjadi medium bagi para sufi untuk mengutarakan isi hatinya dan pemikiran-pemikiran tasawufnya.

Puisi sebagai salah satu genre sastra menjadi perangkat yang paling laris digunakan oleh sufi untuk menumpahkan segenap gelegak jiwanya, pengalaman spiritualnya, dan konsep tasawufnya. Mulai dari Rabi'ah al-Adawiyah, Dzun-Nun al-Mishri, Sumnun bin Hasan Basri, Abu Yazid al-Bustami, Saqiq al-Balkhi, Sari as-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar asy-Syibli, Abul Hasan an-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, Abul Qasim as-Sayyani, Ahmad al-Ghazali, dan lain-lain.

Prof Abdul Hadi WM malah mencatat bahwa pada abad ke-10, Ja'far al-Khuldi (wafat 939 M) menghimpun syair-syair sufi Arab sejak abad ke-8 hingga abad ke-10 M. Di dalam antologinya, beliau berjaya menghimpun ribuan puisi karya 130 penyair sufi. Sayang sekali naskah asli buku Ja'far al-Khuldi itu sudah hilang dan belum lagi dijumpai hingga kini. Hanya sebagian kecil puisi-puisi tersebut dapat dijumpai dalam naskah buku penulis sufi yang lain.

Banyaknya bilangan penyair sufi yang sajak-sajaknya dihimpun oleh Ja'far al-Khuldi menunjukkan bahwa perkembangan kesusastraan sufi sangat marak sejak abad ke-8 hingga pada abad-abad selanjutnya.

Kesusastraan sufi Arab juga mencapai puncak perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis prolifik dan pemikir tasawuf terkemuka, seperti Ibnu Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibnu Atha'ilah as-Sakandari, Ibnul Farid, Ibnu Tufail, Qusyairi, Imam al-Ghazali, Najamuddin Dayah, dan lain-lain. Pada masa itu, tasawuf juga berkembang dengan suburnya di sebagian besar negeri Islam.

Dan, kesusastraan sufi bertambah subur perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis sufi Parsi terkemuka, seperti Sana'i, Abu Sa'id al-Khayr, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin 'Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin 'Iraqi, Nasir Khusraw, Sa'di, Suhrawardi, Mahmud ash-Shabistari, Maghribi, Jami, Karim al-Jili, dan salah satu tokoh dalam deretan ini adalah Syekh Abu Isma'il Abdullah al-Ansari al-Harawi (wafat 481 H/1088 M), yang tak lain adalah penulis kitab Manazilus-Sa'irin, sebuah karya tasawuf yang bercorak sastra. Lebih tepatnya, bagaimana penulis menggunakan puisi sebagai medium untuk mengeksplorasi konsepnya.

Di berbagai pesantren tradisional kita juga dikaji karya tasawuf yang bergaya seperti ini, yaitu kitab Kifayatul-Atqiya wa Minhajul-Ashfia, sebuah karya komentar (syarah) terhadap kitab berwarna puitis: Hidayatul-Adzkiya ila Thariqil-Auliya karya Syekh Zainuddin bin Ali al-Ma'bari al-Malibari. Selain itu, tentu saja kitab al-Hikam karya Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari, yang disajikan dengan ujaran-ujaran pendek dan menyentuh setiap penikmatnya, yang lebih dekat pada gaya prosa.

Kegemaran dan minat al-Harawi yang besar terhadap sastra ini sebetulnya bukan hanya melalui karya Manazilus-Sa'irin, melainkan juga dalam karyanya yang lain, yaitu Munajat (Doa). Sementara, melalui kitab Manazilus-Sa'irin (Maqam para Penempuh Jalan Ruhani) ini, al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan ruhani. Manzilah-manzilah itu dibagi dalam 10 bagian dan dari setiap bagian itu juga dibagi dalam 10 tema sehingga genaplah menjadi 100 manzilah.

Dengan demikian, hal ini merupakan satu kemajuan dari apa yang sudah dirumuskan oleh pendahulunya, Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi (wafat 378 H/988 M), yang disebut oleh Dr Abdul Halim Mahmud sebagai seorang sejarawan sufi terbesar dalam sejarah klasik dan modern, ath-Thusi dengan al-Luma'-nya hanya menyebut tujuh maqam atau manzilah. Atau bahkan dengan tokoh belakangan al-Qusyairi (wafat 465 H/1073 M) sekalipun yang hanya menampilkan 49 maqam.

Hal lain yang menjadi daya tarik kitab Manazilus-Sa'irin adalah maqam-maqam yang diperkenalkannya. Penulis merujuk sepenuhnya kepada Alquran, baik dalam tataran konsep maupun term atau istilah yang digunakan. Sehingga, dalam kitab ini bermunculanlah manzilah-manzilah, seperti i'tisham, firar, isyfaq, ikhbat, tabattul, dan seterusnya. Maqam-maqam tersebut belum pernah dimunculkan, setidaknya oleh kedua tokoh tadi, namun istilah-istilah ini jelas-jelas ada di dalam Alquran sekalipun dalam bentuk derivasinya. Dan inilah yang coba diangkat (disistematis-Red) oleh al-Harawi dalam khazanah tasawuf.

Manzilah i'tisham (berpegang teguh), misalnya, merujuk pada ayat "wa'tashimu bi hablillahi jami'a wa la tafarraqu." (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah dan janganlah kamu bercerai-berai). (Ali 'Imran [3]: 103).

Manzilah firar (lari) mengacu pada ayat "fafirru ilallahi inni lakum minhu nadzirun mubin." (Maka segeralah lari atau kembali kepada [menaati] Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu). (Adz-Dzariyat [51]: 50).

Demikian pula dengan maqam ikhbat (ketundukan hati), yang melandaskannya pada serangkaian ayat-ayat di dalam Alquran, baik dalam bentuk kata akhbatu, tukhbitu, atau mukhbitin. Di dalam surah al-Hajj ayat 34, misalnya, Allah berfirman, "wa basysyiril mukhbitin." (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah]).

Yang tidak kalah menariknya juga adalah penggunaan angka "tiga". Bukan hanya dalam pembagian peringkat yang digulirkan oleh al-Harawi dari setiap persinggahan yang didaki oleh para pejalan Ilahi itu, setiap manzilah tersebut selalu dibaginya dalam tiga peringkat (kecuali pada maqam shahwu (kesadaran), tapi juga dalam banyak hal. Maka, kata-kata seperti tsalatsu darajat (tiga peringkat), tsalatsatu asy-ya' (tiga faktor), rutabun tsalatsun (peringkat yang tiga) selalu berkelabatan dalam lembar demi lembar buku ini.

Di samping memiliki cita rasa yang indah, karya yang dituangkan dalam bentuk puisi juga biasanya sedikit kata, namun sarat makna. Hal ini meniscayakan adanya kerumitan pula dalam memahaminya karena satu kata atau bait dari sang penggubah menelorkan banyak makna pada diri pembaca. Maka, di sinilah jasa besar yang sudah disumbangkan oleh para pembuat syarah (karya komentar atau penjelas).

Sebagaimana dalam tradisi penulisan kitab berbahasa Arab yang kerap kali diiringi oleh sejumlah syarah, demikian pula dengan kitab Manazilus-Sa'irin ini. Maka, 'Afifuddin Sulaiman bin Ali at-Tilmitsani menulis kitab berjudul Manazilus-Sa'irin ilal-Haqqil-Mubin dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah merangkai kitab Madarijus-Salikin baina Manazili "Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in".

Melalui karya terakhir inilah agaknya publik di Indonesia bisa menikmati butir-butir pemikiran tasawuf dari seorang Syekh al-Harawi. Dan dari karya syarah ini juga tersimbul keberkahan ilmunya karena dari naskah yang semula hanya berkisar 100-an halaman, bisa menginspirasi Ibnu Qayyim al-Jauziyyah hingga membuahkan karya sebanyak tiga jilid buku besar dengan total halaman 1.500-an lebih. ed: heri ruslan.

Syekh al-Harawi
Mengubah Kesan Mazhab Hambali

Tokoh sufi yang lahir pada 396 H dan wafat pada 481 H/1088 M di Herat ini mempunyai nama lengkap Abu Isma'il Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Ja'far bin Manshur bin Matta al-Anshari al-Harawi. Adalah tokoh Khurasan, keturunan sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. Ia juga seorang pemuka dalam ilmu hadis, tafsir, bahasa, dan tasawuf dari kalangan mazhab Hambali yang penuh semangat.

Kalau ada pandangan bahwa sikap keras, kaku, dan ketat dalam mazhab Hambali tidak bisa berdampingan dengan emosi sufistik, maka melalui sosok Syekh al-Harawi terburailah keyakinan tersebut. Barangkali, inilah sebabnya mengapa Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sangat bersemangat dalam membuat syarah kitab Manazilus-Sa'irin hingga menghabiskan begitu banyak halaman.

Manazilus-Sa'irin ini hanyalah satu saja dari sekian banyak karya yang sudah ditelorkan oleh tokoh yang penjelasannya mengenai hakikat diakui paling lurus dan dapat diterima oleh masyarakat awam maupun para spesialis.

Karya lain yang juga bernilai sastra tinggi adalah Munajat (Doa), yang ditulis dalam prosa berirama bahasa Persia, yang diselang-seling dengan beberapa sajak yang dipergunakannya untuk mencurahkan cintanya, dambanya, dan nasihatnya. Karya yang bahkan dihargai oleh kaum Hindu di India ini menjadi literatur doa andalan di dunia berbahasa Persia.

Bahkan, Seyyed Hussein Nasr, guru besar Studi Islam di Universitas Georgetown, memberi kesaksian bahwa ia masih ingat betul perihal pembacaan beberapa doa ini di radio Teheran pada pagi hari selama bulan Ramadhan.

Kitab Ilalul-Maqamat adalah buku lain dari Syekh al-Harawi yang melukiskan tentang karakteristik kondisi spiritual, ditujukan untuk para murid dan guru tasawuf. Di samping menulis teori-teori tasawuf yang banyak jumlahnya, menerjemahkan karya Abdurrahman as-Sulami, kitab Tabaqatush Shufiyyah, dari bahasa Arab ke Persia, yang dipergunakan di daerahnya.

Syekh al-Harawi juga mewariskan karya berharga lainnya untuk kita, seperti al-Faruq fi Shifaatillahi Subhanahu wa Ta'ala, Dzammul-Kalam wa Ahluhu, Kasyful-Asrar wa 'Uddatul-Abrar (bahasa Persia), atau Sad Maydan, sebuah karya dalam bahasa Persia yang berisi tafsir dari ayat "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran [3]: 31).


Penulis adalah Alumni Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Jakarta, narasumber kajian Islam di 102.8 fm Bekasi. E-mail: noen_yarabb@yahoo.com
Koran Republika

Thursday, November 24, 2011

Rumi : Hikmah Kesengsaraan

Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat- loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan :
merintih terus-menerus tiada henti.

"Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku: Mengapa kini kausiksa aku seperti ini ?"
Sang isteri memukulnya dengan penyendok
"Sekarang," katanya "jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.

Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencianku ;
sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lezat
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup; kesengsaraan bukanlah penghinaan
Ketika engkau masih hijau dan segar, engkau minum air di dalam kebun: air
minum itu demi api ini.

Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada kemurkaan-Nya, tujuannya bahwa dengan
kasih-Nya engkau dapat menderita kesengsaraan.

Kasih-Nya yang mendahului kemurkaan-Nya itu
supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;
Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung membenarkannya, berfirman, "Sekarang
engkau telah tercuci bersih dan keluarlah dari sungai."
Teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan sampai wujud ataupun diri
tak tersisa padamu lagi.

Jika engkau telah terputus dari taman bumi, engkau akan menjadi makanan
dalam mulut dan masuk ke kehidupan.

Jadilah gizi, energi, dan pikiran ! Engkau menjadi air bersusu : Kini
jadilah singa hutan !
Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-sifat Tuhan;
kembalilah kepada Sifat-sifat-Nya !
Engkau menjadi bagian dari awan, matahari dan bintang-bintang ; Engkau 'kan
menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan pikiran.
Kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah, 'bunuhlah
aku, wahai para teman setia', adalah benar.

Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata- kata, 'Lihatlah, karena
dibunuh aku hidup,' adalah benar."

Saturday, November 12, 2011

Sufi Road: Syiir Tanpo Wathon

Syiir Tanpo Wathon, sebuah syair dalam bahasa jawa yang berarti Syair tanpa aturan. Syair ini cukup populer di daerah Jawa Timur sebagai syair dari Gusdur. ada beberapa keterangan tentang pencipta syair ini yaitu oleh Gusdur sendiri dan oleh KH. Muhammad Nizam As-Shofa Pengasuh Pengajian Kitab Tasawuf Jami’ul Ushul Fil Awliya’Ponpes Ahlus Shofa wal Wafa’ – Krian, Jawa Timur.
Syair ini merupakan salah satu bentuk karya sufistik, dengan penyajian bahasa sederhana tapi penuh dengan makna-makna tersirat dan hikmah yang dalam. ini menunjukkan kedalaman keilmuan sang pencipta syiir ini. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi yang melantunkan dan yang menciptakan syiir ini.. amien




أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا * أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا * وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا


ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ


Ngawiti ingsun nglaras syi’iran = (aku memulai menembangkan syi’ir)
Kelawan muji maring Pengeran = (dengan memuji kepada Tuhan)
Kang paring rohmat lan kenikmatan = (yang memberi rahmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan 2X = (siang dan malam nya tanpa terhitung)

Duh bolo konco priyo wanito = (wahai para teman laki laki dan perempuan)
Ojo mung ngaji syareat bloko = (jangan hanya belajar syari’at saja)
Gur pinter ndongeng nulis lan moco = (hanya pandai bicara, menulis dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro 2X = (esok hari bakal sengsara)

Akeh kang apal Qur’an Haditse = (banyak yang hapal Al Qur’an dan Hadits nya)
Seneng ngafirke marang liyane = (senang mengkafirkan kepada orang lain)
Kafire dewe dak digatekke = (kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale 2X = (jika masih kotor hati dan akal nya)

Gampang kabujuk nafsu angkoro = (gampang terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo = (dalam hiasan gemerlapnya dunia)
Iri lan meri sugihe tonggo = (iri dan dengki dengan kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto 2X = (maka hatinya gelap dan nista)

Ayo sedulur jo nglaleake = (ayo saudara jangan sampai melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane = (kewajiban mengaji serta aturannya)
Nggo ngandelake iman tauhide = (untuk mempertebal iman tauhid nya)
Baguse sangu mulyo matine 2X = (bagusnya bekal mulia matinya)

Kang aran sholeh bagus atine = (Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune = (karena mapan lengkap ilmunya)
Laku thoriqot lan ma’rifate = (menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X = (juga hakikat meresap rasanya)

Al Qur’an qodim wahyu minulyo = (Al Qur’an qodim wahyu mulia)
Tanpo tinulis biso diwoco = (tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito = (itulah petuah guru mumpuni)
Den tancepake ing jero dodo 2X = (ditancapkan di dalam dada)

Kumantil ati lan pikiran = (menempel di hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan = (merasuk dalam badan dan seluruh hati)
Mu’jizat Rosul dadi pedoman = (mukjizat Rosul (Al-Qur’an) jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman 2 X = (sebagai sarana jalan masuknya iman)

Kelawan Alloh Kang Moho Suci = (Kepada Allah Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi = (harus mendekatkan diri siang dan malam)
Di tirakati diriyadohi = (diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas)
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X = (dzikir (mengingat Allah) dan suluk jangan sampai lupa)

Uripe ayem rumongso aman = (hidupnya tentram merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman = (mantabnya rasa tandanya beriman)
Sabar narimo najan pas-pasan = (sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X = (semua itu adalah takdir dari Tuhan)

Kelawan konco dulur lan tonggo = (terhadap teman, saudara dan tetangga)
Kang podho rukun ojo dursilo = (yang rukunlah jangan bertengkar)
Iku sunahe Rosul kang mulyo = (itu sunnahnya Rosul yang mulia)
Nabi Muhammad panutan kito 2x = (Nabi Muhammad tauladan kita)

Ayo nglakoni sakabehane = (ayo jalani semuanya)
Allah kang bakal ngangkat drajate = (Allah yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan asor toto dhohire = (Walaupun rendah tampilan dhohir nya)
Ananging mulyo maqom drajate 2X = (namun mulia maqam derajat nya di sisi Allah)

Lamun Palastro ing pungkasane = (ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)
Ora kesasar roh lan sukmane = (tidak tersesat roh dan sukma nya)
Den gadang Alloh swargo manggone = (dirindukan Allah surga tempatnya)
Utuh mayite ugo Ulese 2X = (utuh jasadnya juga kain kafannya)

ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ


Tuesday, November 8, 2011

Rumi : Datanglah Dengan Suka Hati

Setiap pengembara buta, yang berbudi atau jahat,Tuhan memaksanya pergi, dikelilingi rantai, menuju ke Hadapan-Nya.
Semuanya berjalan dengan rasa malas sepanjang jalan ini, kecuali hanya mereka yang diberitahu rahasia-rahasia tindakan Ilahi.
Perintah "Datanglah engkau dengan terpaksa"ditujukan kepada pengikut yang buta;" Datanglah dengan suka hati " diperuntukkan bagi orang yang dibentuk oleh kebenaran.
Adapun yang pertama, seperti seorang bayi, mencintai Jururawat hanya demi susu,yang lainnya mempersembahkan hatinya kepada Tuhan Yang Maha Lembut.
"Bayi" tidak mengetahui kecantikan-Nya: ia tidak menginginkan dari-Nya kecuali susu semata;Pecinta Jururawat yang sesungguhnya tidak mementingkan diri, tulus-ikhlasdalam kesetiaan yang murni.
Apakah pencari Tuhan itu mencintai-Nya demi sesuatu selain-Nya atau tidak,agar selalu dapat bagian dari kebaikan-Nya,
Atau mencintai Tuhan demi Diri-Nya, sia-sia berada di samping-Nya,
agar
tidak dipisahkan dari-Nya.
Dalam kedua hal itu pencarian maupun hasrat itu berasal dari Sumber tadi :hati itu dijadikan tawanan oleh Sang Hati yang sangat mempesona.

Monday, November 7, 2011

Sufi Road: Penggalan Hikmah dari Kitab Thawasin Al Halaj

Berikut adalah beberapa penggalan kata-kata hikmah dari kitab Thawasin : al-Hallaj.

"Tha... Sin...
Kebenaran (Haqq) adalah Cahaya yang memancar dari Yang Ghaib
ia terlihat dan memancar,
dan ia kembali kepada Yang Ghaib,
dan Kebenaran (Haqq) itu melampaui Segala Cahaya,
dan menjadi Cahaya di atas Cahaya
dan terang benderangnya memancar ke seluruh bulan,
titiknya yang Paling Terang menjulang ke angkasa
yang dipenuhi oleh Segala Rahasia..."


Selanjutnya didalam Mansur al-Hallaj menjelaskan tentang Nabi Muhammad dan Nur Muhammad

"Dan tak seorang pun mengetahui atau yang tahu apa yang diketahuinya
tidak pernah di luar 'Mim' Muhammad
tidak ada jalan keluar bagi dia
demikian pula siapa yang bergerak di dalamnya
tidak pernah berada di luar 'Ha' Muhammad
'Ha' mengarah kepada 'Mim' kedua
dan huruf terakhir 'Dal' membawanya kembali
kepada 'Mim' yang pertama..."

(Mim Ha Mim Dal...
Mim Ha Mim Dal...
Mim Ha Mim Dal...)

Thasin 1:14,

"Kebenaran (Haqq) bersama dengannya :
apa yang terbatas dan tidak terbatas pun juga bersamanya
dalam Kejadian pun dialah yang pertama
dan dia jualah yang terakhir dalam rangkaian kerasulan
dia lah Makna Tersembunyi dari Penciptaan
dan dia jualah yang merupakan Makna Terwujud
dari Pengetahuan tentang Esensi Kebenaran (Haqq) itu sendiri..."

Thasin 1:16

"Jika engkau meninggalkannya dan pergi ke daerah-daerah yang jauh darinya,
maka engkau tidak akan menemukan Jalan
dan tidak seorang pun yang akan mendekatimu
Wahai, Jiwa yang Sakit !
Engkau tidak akan menemukan seseorang pun yang akan menyelamatkanmu
Kata Sang Bijak dari Yang Paling Bijak
dunia ini hanya bagaikan padang pasir di hadapannya..."

Thasin 1:13

"Dan Kebenaran (Haqq) tidak membuat Muhammad menciptakan sesuatu
tentang siapa DIA,
siapa DIA : dan di mana DIA,
dan di mana siapa,
dan apa DIA... DIA,
DIA... DIA... "

Wednesday, November 2, 2011

Sastra dan Sufi Menikmati Seratus Cinta Tuhan


KH. Mustofa Bisri - Kyai dan Seniman

“Bagaimana aku bisa menyanyi?
Aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka
Aku tak bisa mengadukan duka pada duka
Mengeluhkan luka pada luka

Senar gitarku putus
Dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi
Dan langitpun seolah muak dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

Ah maaf sayang, aku tak bisa lagi menyanyi
Bersamamu atau sendiri
Entah jika tiba-tiba Nabi Daud datang
Membawa seruling ajaibnya..”


Bait sajak diatas, adalah sesobek luka dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sajak Aku Tak Bisa Lagi Menyanyi. Sajak yang ditulis sebagai tangisan atas berisik burung-burung, mendendangkan apa saja, setelah merasa bebas merdeka (era Reformasi ’98) itu, sebenarnya merupakan kerinduan, dan cinta dari seorang kyai, penyair, dan kesendirian yang merasa asing sepi ditengah gejolak politik, yang membuatnya tak bisa menyanyi lagi.
Tentu bagi seorang hamba, kesendirian adalah saat teristimewa untuk “menyanyi” dengan-Nya. Ada melodi yang tiba-tiba mengalun, bersamaan dengan kesedihan manusiawi, dan tiba saja sang hamba ingat, trenyuh, dan rindu pada Khalik. Kenapa yang melintas Dia? Itulah anugerah bagi para penyair dan sufi. Erat sangat kaitan, antara cinta pada Yang Tak Terbatas, dengan lekuk goresan sajak, yang membuat para pembaca puisi tersebut, tiba saja terseret dalam kerinduan numinous itu.

Apakah memang selalu, bahasa sufistik membahasa dalam sajak? Apakah memang sastra bisa menjadi jalan bagi para penempuh, untuk lebih memperuncing rasa gundah transenden, rasa galau fitrah, sebagai makhluk yang tertitipi cinta Ilahiyah? Lalu bagaimana ketika sisi lain, Islam adalah agama hukum (religion of law), dimana penafsiran para sufi penyair sering menerobos batas fiqhiyah yang oleh para hakim diikat secara kuat dalam tekstualisme kitab suci? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan budayawan dan Romo Yai, pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang tersebut.

Seperti kita tahu, sebagian sufi adalah penyair, dan sebagian penyair adalah sufi. Menurut Pak Yai, kenapa hal ini bisa terjadi?
Yang pertama karena spiritualitas, tasawuf itu kaitannya dengan ruh, jiwa, kalbu. Seni sastra kaitannya dengan dzau’, yang berkaitan dengan kalbu, ruh, dan jiwa. Ada kesamaan sumber disana, karena kebersihan para sufi, sehingga sebetulnya dia tidak njarak bersastra-sastra, tapi otomatis apa yang diucapkan menjadi sastra.

Jadi orang menjadi sastrawan dalam pengertian membuat karya sastra, tentu tidak lepas dari kepribadian si sastrawan itu sendiri.
Sastrawan yang hanya bergelimang dengan daging akan mengeluarkan sastra daging, tapi kalau orang yang bergelimang dengan kalbu, dia akan menciptakan karya yang kalbu.
Kedua, karya sastra itu hasil perenungan. Nah seorang sufi penggaweannya memang merenung. Dia merenungkan kekuasaan Allah, merenungkan sifat-sifat sampai hakikat Allah. Ketika sufi itu dalam keadaan sangat intens dalam perenungan itu, lalu muncullah desakan dari dalam untuk menciptakan karya sastra.
Sebab saya lihat seniman, baik sastra maupun lukis itu ada yang modelnya tidak dipikirkan tapi dia desakan dari dalam, sehingga pelukis seperti Affandi, kalau melukis tidak jam-jaman, menitan saja.
Jadi kayak orang zadab, jret-jret! Kadang pakai tangan, kadang di potlot catnya.
Ada Zawawi Imron, dia hanya menuliskan gejolak hatinya saja. Dan kalau para sufi hampir semuanya begitu, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, itu gejolak hatinya saja yang dikeluarkan. Kerinduannya kepada Allah. Maka kalau kita lihat, Rabi’ah, Hassan Basri, Rumi, itu jalannya keindahan, dan yang direnungkan keindahan paling puncak yaitu Allah. Keindahan yang paling indah, pusat keindahan.

Itu kalau proses sastra sebagai akibat proses batin. Kalau sebaliknya bagaimana Pak Yai. Kalau seorang seniman, ia memang seorang penulis. Apakah memang proses penulisan itu menjadi wahana meditasi, jalan spiritual yang dengan sengaja dia jadikan jalan menuju kesufian?
Ada dua perbedaan ya. Ada orang yang didorong oleh kesufian lalu menciptakan karya sastra, seperti Rabi’ah, Rumi, dsb.
Ada yang penyair-penyair kepingin bersufi-sufi. Karena tertarik dengan dunia sufi, lalu dia sufi. Ada yang dia tidak sufi, tapi ternyata apa yang dia ungkapkan itu sufistik. Seperti kita baca sajak-sajaknya Sutardji Calzoum Bachri, waktu gendeng-gendengnya, sajaknya sangat sufistik.

Padahal saat itu dia minum arak, ya?
Lha iya. Saya tidak tahu apakah dia terpengaruh dengan bongso Abu Nuwas, penyair anggur yang kemabukan dengan Allah itu, metaforanya kemabukan biasa, ya khamr itu (menurut versi Sutardji, red). Jadi gambaran yang paling jelas, mabuk Allah ya dengan mabuk khamr, dimana orang mabuk itu lupa segala macam. Demikian pula mabuk Allah itu lupa segala macam. Dia hilang ingat, karena mabuk Allah. Abu Nuwas disebut penyair anggur karena metaforanya anggur saja, dia dikenal itu. Dimana kemudian belakangan dia menjadi sufi, karena dia mere-nungkan, memikirkan, kontemplasi tentang kemabukan itu dengan mabuk Allah. Lha sama halnya, kalau sastrawan sering bikin sajak sufi, lama-lama dia akan terpengaruh juga. Tapi kan tasawuf itu bukan ilmu, bukan ungkapan, pikiran, tapi laku.

Sehingga ada perbedaan antara orang yang bicara sufi, bicara spiritualitas, dengan orang-orang sufi. Para sufi boleh dikata, karya sastranya, kalau boleh dianggap karya sastra, itu dampak. Ada yang mungkin karena keahliannya dalam teknik perpuisian, dia bisa meniru Rumi, tapi akan tampak dari perilakunya. Kalau perilakunya tidak sufistik, berarti rekaan dalam karyanya, bukan penghayatan. Itu bisa kita rasakan. Misalnya kita baca karya Rabi’ah, ini bukan rekaan, lihat kamus, nggolek kata-kata yang indah, cari sajak yang pas, ya ndak. Tapi memang muncul tulus dari sanubari.

Kalau kaitan antara kesenian dengan tasawuf. Misalnya Sutardji, ia kan secara prinsipil tidak ahli tentang tasawuf, tetapi dari karyanya bisa kita lihat betul-betul mabuk Allah. Artinya, bagaimanapun juga jalan kesenian itu, dalam artian jalan spiritual tanpa melalui sebuah kaidah spiritualitas dalam Islam yang disipliner, juga banyak yang menjebak. Ada para sastrawan yang awalnya mencari diri, Tuhan, eksistensi, tapi mereka akhirnya terjebak pada nihilisme sekular.

Tapi orang seperti Sutardji punya dasar keislaman. Cuma dalam proses pencarian hakikat Allah, melalui liku-liku. Sekarang kalau anda lihat Sutardji, sholatnya tahajudnya, tidak pernah lagi minum-minum. Karena kalau dia ditanya, ngapain minum-minum, ya untuk mabuk. Nah dia berkata, “Saya sekarang ingat dosa saya saja sudah memabukkah, tidak perlu lagi minuman keras“, ha..ha..ha. Nah itu perjalanannya.

Tapi dia dituntut oleh pengertian yang lebih awal bahwa dia seorang muslim mempunyai Gusti Allah, dsb. Ini yang tidak cukup diterima seperti orang awam. Dah, cukup, kenal Gusti Allah itu Pengeran, habis itu sembahyang, selesai.
Dia dituntut oleh dirinya sendiri untuk mencari, sebenarnya apa Gusti Allah itu? Nah pencariannya yang intens itulah menciptakan puisi-puisi yang penuh dengan nuansa sufi. Jadi bukan ndak punya modal apa-apa.

Modalnya itu fitrah ya Pak Yai?
Dia memang dari keluarga muslim, orang Islam. Tapi dalam prosesnya kan macam-macam. Ada yang jadi bajingan dulu baru jadi ustadz, masuk penjara dulu baru jadi da’i, ada berandalan jadi wali. Kalaupun tidak muslim paling tidak dia beragama. Seperti Rendra puisinya sangat religius meskipun dia belum masuk Islam.

Kalau bicara soal puisi cinta, mahabbah. Kami baca beberapa puisi Pak Yai tentang mahabbah. Menurut pengalaman Pak Yai, bagaimana sich agar bisa menulis puisi yang cintanya itu betul-betul sudah melampaui daging, cinta terhadap Gusti Allah?
Jadi Tuhan itu kan memiliki seratus cinta. Satu diantara seratus itu dikasihkan makhluknya, dibagi cintanya itu kepada cintanya anak pada orang tua, cinta istri pada suami, cinta ayam sama kuthuknya, kuda dengan anaknya. Nah cinta kita diawali dengan mencintai ibu kita, istri, saudara, hamba-hamba Allah.
Lalu kita bisa bayangkan bagaimana cintanya Allah yang 99 itu? Satu saja dibagi sekian banyaknya sampai meluap-luap kayak gitu. Nah ini yang kadang tidak disadari kita. Kita yang hanya dibagi satu, seolah memiliki seluruhnya. Seperti orang yang nggegeri I’d jum’at, I’d sabtu, itu pikirannya mengidentifikasikan dirinya dengan Gusti Allah.

Seolah kalau dia ndak senang berarti Gusti Allah ya ndak senang, kalau gregeten berarti Gusti Allah gregeten, ha..ha..ha Nah ini yang ndak dimengerti.
Kalau untuk cinta, harus melalui pengenalan. Tidak kenal lalu cinta, itu namanya cinta Platonis atau al-hubbul ‘udzri, seperti cintanya Imam Busirri kepada Kanjeng Nabi itu hubbul ‘udzri, karena dia tak kenal Kanjeng Nabi sebelumnya. Maka kalau ingin cinta sejati harus pengenalan dulu. Baru setelah kenal, cinta kita bisa sejati. Tidak seperti umumnya orang Islam ini, mencintai Gusti Allah seperti dia mencintai isterinya yang tidak dia kenal, jadi dikawinkan orang tuanya begitu saja.

Cinta tapi ndak kenal. Suatu hari isterinya dibelikan rok span warna merah menyala, seharga satu juta. Sama isterinya dibuat ngelapi sepeda. Kenapa? Kan dia ndak kenal, bahwa isterinya itu paling ndak suka rok span merah menyala.

Maka Nabi kita mengenalkan Allah lewat perilakunya, al-Qur’an, mengenalkan supaya kenal. Terus kemudian orang-orang ini tambah lama kan tambah malas, terbiasa instan, akhirnya terus yang daging-daging saja, yang gampang.

Cintanya ya cinta daging, ibadahnya ibadah daging. Seperti sekarang orang yang menyatakan cinta kepada Allah, itu tidak berani mengatakan seperti Rabi’ah al-‘Adawiyah, “Kalau aku menyembah Mu, memuja Mu karena takut neraka, masukkanlah aku neraka.

Kalau aku memuja Mu karena kepengen surga, haramkan surga bagiku”. Apa berani orang sekarang? Itu cinta yang luar biasa. “Tapi kalau aku mencintai Mu karena aku ingin menatap wajah-Mu, jangan halangi wajah-Mu dariku”. Jadi ini memang cinta luar biasa, tidak ingin surga, takut neraka, tapi karena betul-betul cinta ingin memandang Allah. Sekarang sekadar nulis saja orang ndak berani, kuatir nek temenanan, ha..ha..ha Tapi ia memang gandrung betul. Karena Rabi’ah pengenalannya dengan Allah sudah sangat-sangat pribadi.

Jika bait-bait puisi yang Pak Yai favorit, tentang cinta?
Itu, ya punya Rabi’ah yang sangat berkesan. Uhibbuka hubbain fil hawa wa hubbun liannaka ahlun lidzaaka. Saya mencintai Mu dengan dua cinta. Cinta karena Engkau memang seharusnya dicinta. Cinta karena, saya memang bergairah dengan Mu.

Ada puisi Rabi’ah yang menurut saya sangat luar biasa, dampak dari cintanya kepada Allah sehingga dia mencintai manusia seluruhnya sebagai hamba-hamba Allah. Dia mengatakan, “Ya Allah, nanti kalau di akhirat jadikanlah tubuh saya sedemikian besar, sehingga memenuhi ruang neraka. Agar tidak ada lagi seorang hamba Mu yang bisa dimasukkan kedalam neraka”. Itu luar biasa. Jadi dia ingin menutup neraka dengan badannya, supaya hamba-hamba Allah tidak ada yang masuk neraka. Itu lebih tinggi daripada yang dikatakan Imam Busyiri di Burdah. Ia menyatakan, La’alla rohmata robbihiina yaqshimuha ‘ala hasabil isyaani bil qisam. “Saya mengharap nanti, ketika Tuhan menghendaki rahmat, itu disesuaikan dengan dosa orang. Jadi yang dosanya banyak seperti saya, dapat rahmat banyak.” Itu artinya kan sama saja. Yang dosanya dikit dapat rahmat dikit, yang dosanya gede dapat rahmat gede. Akhirnya semua dapat rahmat. Itu karena jiwa cintanya kepada Allah, sampai mencintai sesama. Orang menyatakan cinta kepada Allah tetapi tidak cinta kepada hamba-Nya, sama saja bohong.

Islam dikenal sebagai agama hukum. Ini yang membuat bahkan di thariqah-pun ada pembatasan mu’tabaroh dan ghairu mu’tabaroh. Dari sini terkesan, pendekatan kaum mutashawwifin sering dianggap menyimpang dari alur hukum tersebut, selayak hukuman atas al-Hallaj dan Siti Jenar. Menurut Pak Yai, kalau ada, sampai dimana sich kesepatakan antara kedua pihak?

Al-taarikh yu’iidu nafsahu, sejarah itu mengulangi diri. Munculnya tasawuf itu karena maraknya kehidupan daging yang luar biasa. Yang bisa kita lihat, munculnya Rabi’ah, Hasan Bashori, Sa’id Abu Sayyid dsb, pada abad pertama ketika Dinasti Umayah begitu hebat. Dari sisi materi mereka hedonis, dari ilmu pengetahuan mereka hanya bicara saja soal hukum, pertentangan, bahtsul masail, segala macam luar biasa majunya. Dari sini muncul kegelisahan, kok hanya ngomong saja, pengetahuan saja, seminar saja, ngamalnya mana? Muncul dan ini kebablasan, sampai ada sufi yang ndak pakai syari’at, menjadi Kejawen itu, lalu muncul lagi ilmu pengetahuan, ini melupakan amal, maka muncul lagi. Sampai abad ke-21 ini disebut abad spiritualitas, muncul lagi sekarang. Karena orang muak dengan kehidupan materialis, muak dengan agama yang daging saja. Maka saya nglukis Dzikir Bersama Inul. Inul kan simbol daging yang paling daging, dan dzikir tidak bisa dengan daging thok. Nah yang orang lupa, ilmu seperti fiqh dsb itu muncul setelah Islam. Jadi Islam begitu hebat pengaruhnya sampai memunculkan banyak ilmu termasuk ilmu fiqh, ‘ardl, tafsir. Ini dampak dari Islam.

Orang yang kemudian ber-fiqh-fiqh, lalu kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun, setiap kelompok membanggakan dirinya sendiri. Yang fiqh membanggakan hebatnya fiqh, yang ahli tasawuf membanggakan tasawufnya meniadakan yang lain. Padahal Islam diatas itu semua. Islam tidak hanya fiqh, tidak hanya tasawuf, ia lebih luas dari itu. Lha Islam sendiri itu tidak ghoyah, tujuan. Islam itu menurut saya masih washilah. Lha tujuannya apa? Tujuannya Allah. Semua washilah, apalagi PPP, PKB, sak piturute, itu sangat washilah, NU-Muhammadiyah washilah. Kalau PPP, PKB itu ghoyah, kita ndak kemana-mana, memandang lain partai bukan orang. Kalau NU-Muhammadiyah kita anggap ghoyah, orang NU memandang Muhammadiyah, ora pati Islam. Kalau Islam kita anggak ghoyah, maka selain Islam tidak kita anggap hamba Allah. Padahal Allah memuliakan manusia itu, walaqad karromna bani aadam, semua, tidak pakai embel-embel.
Nah karena di nash di al-Qur’an, kullu hizbin bima ladaihim farihuun. Kelompok fiqh menganggap yang paling hebat ya fiqh. Yang anehnya, fiqh itu kan hukum, ketika berbicara fiqh dalam kaitan hukum agama, itu fanatik sekali, sehingga ketika kita bicara tentang hukum bernegara dan berbangsa, kita ndak begitu mengerti. Jadi ndak ada konsistensi. Kalau kita fanatik sama hukum, ya dijelaskan segala hal mengenai hukum. Karena memang, orang itu fanatik dan bangsa terhadap miliknya.
Kalau anda fiqh, ya fiqh yang paling pokok, ndak mau ya sudah.

Nah kembali kalau kita lihat, tujuan manusia kan mengenal Allah, ma’rifatullah, apapun itu.
Orang memang kadang lupa. Mengapa kita sholat? Itu dikitabnya sudah dibilang seperti itu, faridlotun. Akan berbeda yang sholatnya begitu, dengan orang yang sholat, “Karena saya ini hamba Allah, saya menyembah Allah”. Nanti ndak usah diapa-apakan akan ada begitu terus, sepanjang abad.
Zaman Harun al-Rasyid pengetahuan begitu hebat, tapi juga muncul tokoh-tokoh sufi yang hebat, sebagai perlawanan terhadap arus.

Muncul da’i besar, Syeh Abdul Qadir al-Jilani, dia memiliki dua belas ilmu. Karena perilakunya yang sufistik, maka dia lebih dikenal seorang sufi, ilmunya kalah. Kyai Hamid Pasuruan, karena kadung terkenal sebagai wali, maka keistimewaannya sebagai sastrawan terlupakan. Sebetulnya sejak awal di pondok, dia adiib, sastrawan, memiliki diwan, puisi berbahasa Arab, tapi kalah dengan kewaliannya tadi. Kebalikannya saya. Saya sebetulnya wali, tapi ketutupan, ha..ha.. ha.

Sumber: Sufinews

Saturday, October 8, 2011

Sufi Road : Syair Habib Ali Al Habsy

Ke arah jalan terpuji kutuntun putra-putriku
Dan siapapun di daerah ini
yang (bersedia) menerima petunjukku

Aku bimbing mereka dengan bimbingan
yang membangkitkan kemauan
Dan cukuplah bagi mereka aku
selalu menjadi pengajak kebaikan
Kejalan kebenaran aku ajak mereka dengan harapan
Agarperkataan, pelajaran, nasihat dan
petunjukku diterima dan diamalkan
Nasihat dan seseorang yang kepada mereka
sangat kasih dan sayang
Nasihat yang menuntun mereka
kejalan kebenaran dan bagi kita
Allah-lah penunjuk jalan kebenaran
Maka terimalah, sambutlah dan dengarkan Kandungan nasihat yang menyedihkan hati

lawan Bertakwalah kepada Allah dan jadikanlah sebagai bekal Karena takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal

Dalam menuntut ilmu yang mulia
curahkanlah perhatianmu
Dengan giat, penuh kesungguhan
dan dengan meninggalkan kebiasaan (buruk)-mu

Di dalam ilmu tersimpan cahaya
dan keindahan yang menghias hati
Dan menuntut ilmu adalah sebaik-baik perbuatan abdi
Dengan ilmu manusia mengetahui hak-hak Tuhannya
Dengannya yang sesat mendapat petunjuk
dan yang (haus) ilmu dipuaskan dahaganya


Jika hendak menghafal apa yang telah kalian pelajari Maka takukanlah dengan rutin dan berulang kali
Janganlah bersahabat dengan mereka yang bertentanganfaham Aku telah saksikan hancurnya seseorang akibat bergaul dengan yang berbeda faham

Persahabatan dengan orang yang jahat
serba diliputi dengan keburukan
menimbulkan akibat yang membahayakan,
kezaliman dan kerusakan

Persahabatan dengan orang baik serba menguntungkan
Keberhasilan dan kejayaan yang didapat tak terhitungkan

Maka kejarlah semua itu, tuntutlah dan raihlah
Karena di dalamnya tersimpan sebaik-baik pilihan
bagi yang mengharap hidayah
Mereka adalah ulama yang arif
Majelis mereka membuat orang sangat bahagia

Dan yang paling menggembirakan hati tetapnya kalian (berpijak pada) Thariqah para leluhurku, keluargaku, dan kakek-kakekku.
Mereka adalah para pendahulu kita
yang telah memusatkan segala usahanya
menuju kepada Allah; mengikuti petunjuk nabi pilihan-Nya
Amal (mereka) bersih dari berbagai penyakit
Dihiasi dengan ilmu, akhlak dan sejumlah besar wirid

Mereka bergegas beramal dengan mencurahkan perhatian
Merekalah para pengabdi Allah dengan ilmu dan kezuhudan

Mereka kaum manusia yang dimuliakan Allah kedudukannya Mereka golongan para qutub dan autad yang mulia.

Diwaktu lampau, masih dizamanku, terdapatpara imam Aku tempuhjalan kebenaran berdasar sanad mereka Sanad yang sambung menyambung secara terinci Sampaipada makhluk yang terpuji dan sebaik-baik pemuji

Jalan petunjuk ke arah kebenaran di dalamnya berisi Rahasia penting yang didapat oleh para pewaris nabi Ayah menerima dari ayahnya dan demikian seterusnya Alangkah mulia mereka, para ayah serta putra-putrinya

Dari ayahku, Muhammad, mufti Hijaz
Kudapat petunjuk untuk menuntut ilmu dan menyampaikannya
Beliau imam yang agung, semoga Allah mensucikan simya
Dakwahnya agung berintikan nasihat dan petunjuknya.
Lewat beliau, Allah memberi hidayah sekelompok manusia
Yang karena kebodohannya,
Menjadi jauh dari Allah dan melanggar perintah-Nya

Dengan lemah lembut beliau berdakwah, mereka pun sungguh-sungguh menerima nasihatnya sehingga tersebarlah dakwah keseluruh penduduk kota dan desa.
Beliau melindungiku dan dengan kasih sayang mendidikku Kuberharap perlindungan tetap diberikan kepada para putra dan cucuku
Dari guruku Al-Quthb
yang kokoh kedudukannya lagi dermawan
telah kuterima petunjuk, penyingkapan rahasia
dan berbagai pemberian
Abii Bakar Al-'Athas pemimpin para wali
Berkat beliau kuraih cita-citaku dan kutaklukkan pendengki

(Ajaran) mereka berdua menjadi landasan tujuan thariqahku Dan siapa pun yang ingin menempuhnya ikutilah cara pendekatanku
Singsingkan lengan bajumu danjangan malas
karena kemalasan dapat menyebabkan tertinggal rombongan
dan tak dapat mendengar ajakan kebaikan

Tidak akan sekali-kali mencapai kemuliaan
Kecuali mereka yang memusatkan
segenap kemauan untuk mendaki puncak pertemuan
Di situ tempat berhenti orang-orang yangpergi menuju Allah
Puncak cita-cita para qutub yang mulia dan wall Allah

Sumber :
Biografi Habib Ali Al Habsy

Friday, September 2, 2011

Gurindam Dua Belas: Sebuah Pertemuan dengan Raja Ali Haji

Ketenaran nama Raja Ali Haji sungguh tidak dapat disangkal. Nama Raja Ali Haji tertulis dalam buku pelajaran sastra, makalah seminar, dan penelitian ilmiah (dalam dan luar negeri). Ketenaran itu dapat dikatakan sebagai suatu berkah atas karya-karya dan perjuangannya dalam mencerdaskan kehidupan lingkungannya.

Tidaklah berlebihan, jika Siti Hawa Haji Salleh menyebut Raja Ali Haji sebagai salah seorang pengarang agong[3] (dalam Azhar, 1996: 86) atau Azhar (1996: 93) menyebutnya pahlawan sastra Melayu. Sebutan itu layak diberikan karena Raja Ali Haji telah menulis sejumlah karya. Sisilah Melayu dan Bugis dan sekalian Raja-rajanya dan Tuhfat al-Nafis, misalnya, memperlihatkan kecermerlangan Raja Ali Haji dalam dunia intelektual. Pcmbaharuan yang dilakukan dalam kedua naskah itu[4] adalah suatu bukti bahwa ia seorang pemikir yang inovatif. Daya kreatifnya yang tajam melahirkan pembaharuan dalam penulisan sejarah pada masa itu. Kegiatannya menulis Kitab Pengetahuan Bahasa dan membantu Hermann von der Wall menulis kamus bahasa Melayu adalah gambaran kesadaran dan kecintaannya pada bahasa Melayu.
Karya Raja Ali Haji sebagiannya telah dikaji oleh filolog. Namun, menurut pengamatan saya, pengkajian karya Raja Ali Haji, khususnya Gurindam Dua Belas (selanjutnya disingkat GDB) belum begitu tampak (barangkali luput dari pengamatan saya).

Pembahasan GDB[5] perlu dilakukan karena jenis sastra itu menduduki posisi penting dalam kepengarangan Raja Ali Haji. Artinya, bagi pembaca di luar daerah Riau atau Malaysia, Raja Ali Haji lebih dikenal melalui GDB. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini, saya ingin membahas GDB. Alasan saya membahasnya, pertama, bahasa GDB lebih mudah difahami dan sama dengan bahasa Indonesia modern, padahal karya itu diciptakan jauh sebelum diikrarkan Sumpah Pemuda 1928. Kedua, jarak waktu penciptaan Gurindam Dua Belas dengan kehidupan kita sekarang lebih kurang 160 tahun. Dalam jarak tersebut, apakah makna GDB masih relevan dengan kehidupan kita di era globalisasi.

Pembahasan karya seorang tokoh yang hidup dalam abad yang berbeda dengan kita adalah sesuatu yang menantang. GDB adalah karya sastra tulis yang batasnya dengan karya sastra lisan amat tipis. "Antara teks tulisan dan lisan tidak ada perbedaan yang tegas. Dalam sastra Melayu, hikayat dan syair dibacakan keras-keras pada pendengar" (Baried dkk., 1994: 59). Dugaan saya, dulunya GDB juga dibacakan sebagai alat pengajaran moral. Fungsi itu menempatkan teks GDB sebagai yang bermakna tunggal. Kalau GDB bermakna tunggal, mungkin tidak begitu cocok lagi dengan kehidupan kita sekarang, meskipun ada anggapan bahwa karya sastra mempunyai makna universal yang tidak dibatasi waktu.

Untuk membuktikan hal itu, melalui tulisan ini saya ingin membahas makna GDB dengan menggunakan pendekatan semiotik jalur Charles Sanders Peirce[6] yang telah dikembangkan oleh Aart Van Zoest. Penggunaan pendekatan itu diharapkan dapat mengungkapkan makna GDB secara jelas.

Dalam GDB terdapat kata-kata yang berpasangan. Kata-kata itu digunakan secara metaforis dan umpamaan. Penggunaan kata seperti itu ada hubungannya dengan sifat gurindam yang terdiri dari dua larik dan sama atau menyerupai kalimat majemuk. Tiap-tiap larik ada kata kuncinya. Kata kunci pada larik pertama berhubungan dengan kata kunci pada larik kedua. Hubungan makna kedua kata itu ada yang bersifat sebab-akibat dan ada Pula yang bersifat pernyataan-penjelasan.

Hanya Raja Ali Haji yang mengetahuinya dengan pasti mengapa gurindamnya dinamai GDB. Sebagai seorang ulama, guru, dan penyair, Raja Ali Haji tidak sembarangan menggunakan nama. Nama itu mempunyai makna tertentu dan ada hubungannya dengan tujuan yang ingin dicapainya. Kata dua belas adalah indeks jumlah pasal dalam GDB. Jumlah pasal itu mungkin ada hubungannya dengan jumlah bulan dalam setahun sehingga kata dua belas dapat berarti ‘bilangan bulan‘. Bilangan bulan berarti ‘kehidupan‘. GDB adalah gurindam tentang kehidupan.

Pasal pertama GDB adalah bagian yang paling menda­sar. Kata agama dan makrifat merupakan kata kunci (larik 1 dan 2). Kata agama berarti ‘aturan‘ atau ‘landasan‘. Kata makrifat berasal dari tasawuf yang berarti ‘mengenal Tuhan dengan hati‘.

Konsep makrifat dalam GDB adalah mengenal: Al­lah, diri, dunia, dan akhirat (larik 3 dan 4). Mengenal Allah adalah melaksanakan suruhan dan perintah-Nya, yaitu ”tidak menyalah” yang berarti “pasrah” (larik 3 dan 4). Mengenal diri disamakan dengan mengenal Tuhan (larik 7 dan 8). Artinya, langkah awal mengenal Tuhan adalah terlebih dahulu mengenal diri sendiri. Manusia adalah bagian alam dan alam adalah tanda keberadaan Tuhan. Kemudian pada larik 9 dan 10 kata dunia disamakan dengan ”barang yang terpedaya”. Dunia berarti “sesuatu yang tak berarti”. Dalam hal ini akhirat dikontraskan dengan dunia. Dunia adalah mudarat (larik 11 dan 12). Mudarat berarti “kerugian”, “tak berguna”. Gambaran tentang dunia adalah sama dengan konsep zuhud dalam tasawuh. Dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, pengembara mengabaikan kehidupan kematerian. Cinta pada materi akan menghambat perjalanan menuju Tuhan. Cinta kepada Tuhan lebih utama. Gambaran masalah itu terdapat pada kutipan pasal 2 berikut.

Barang siapa tiada memegang agama, (1)
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. (2)

Barang siapa mengenal yang empat, (3)
maka ia itulah orang yang makrifat. (4)

Barang siapa mengenal Allah, (5)
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. (6)

Barang siapa mengenal diri, (7)
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri. (8)

Barang siapa mengenal dunia, (9)
tahulah ia barang yang teperdaya. (10)

Barang siapa mengenal akhirat, (11)
tahulah ia dunia mudarat. (12)

Pasal kedua adalah penjabaran larik ketiga pasal pertama, yaitu mengenal yang empat. Mengenal yang empat berarti memahami makna takut. Takut dalam konteks ini berarti ‘takwa‘. Hakekat takwa adalah melaksanakan sem­bahyang, puasa, zakat, dan haji (larik 15 sampai 22). Gambaran tentang takwa terlihat pada kutipan pasal 2 berikut.

Barang siapa mengenal yang tersebut, (13)
tahulah ia makna takut. (14)

Barang siapa meninggalkan sembahyang, (15)
seperti rumah tiada bertiang.(16)

Barang siapa meninggalkan puasa, (17)
tidaklah mendapat dua termasa. (18)

Barang siapa meninggalkan zakat, (19)
tiadalah hartanya beroleh berkat. (20)

Barang siapa meninggalkan haji, (21)
tiadalah ia menyempurnakan janji. (22)

Dalam teks di atas terlihat bahwa orang yang tidak sembahyang diumpamakan dengan rumah tidak bertiang (larik 15 dan 16). Tiang merupakan komponen dasar yang membuat bangun rumah berdiri tegak. Orang yang tidak berpuasa dianggap tidak mendapat dua termasa atau tamasya (larik 17 dan 18). Tamasya berarti ‘kenikmatan‘. Dua tamasya berarti ‘dua kenikmatan‘, yaitu kenikmatan beribadah dan kenikmatan akhirat (pahala). Dalam hal ini terjadi metafora puasa dengan kenikmatan. Puasa sama dengan kenikmatan. Metafora yang sama terdapat pada kata zakat dan berkat (larik 19 dan 20), haji dan janji (larik 21 dan 22). Harta yang tidak dizakatkan tidak akan mendapat berkat. Zakat adalah berkat. Haji adalah rukun Islam yang terakhir. Sebagai salah satu rukun Islam, haji harus dilaksanakan oleh muslim yang telah memenuhi persyaratan. Upaya untuk memenuhi persyaratan itu diibaratkan sebuah janji.

Pasal ketiga sampai pasal keempat adalah berbicara tentang diri manusia. Pasal ketiga khusus membicarakan fungsi indra atau alat tubuh yang lain. Hakekat kehidupan manusia adalah memanfaatkan indra atau anggota tubuh pada fungsinya yang benar. Kalau penggunaannya tidak benar, risiko sudah menunggu. Mata, kuping, lidah, tangan, perut, kelamin, dan kaki, kalau tidak difungsikan dengan benar akan menjadi sumber bencana. Mata disamakan dengan cita-cita atau keinginan (larik 23 dan 24). Dengan mata kita dapat melihat berbagai hal sehingga timbul keinginan. Cita-cita dalam konteks ini berarti ‘keinginan jelek‘. Kuping disamakan dengan kabar (larik 25 dan 26). Sebab melalui kuping kita mendengar­kan bermacam-macam kabar. Dalam hal ini kuping dilihat dari segi fungsinya. Penyamaan alat tubuh dengan fungsinya terlihat juga pada pasangan kata lidah dan faedah (larik 27 dan 28), tangan dan berat dan ringan (larik 29 dan 30). Penyamaan kata perut dengan "fiil tidak senunuh" (larik 31 dan 32), dan kaki dengan rugi (larik 35 dan 36) lebih dititikberatkan pada akibat. Kalau orang makan banyak akan kentut, bertahak dan berak. Artinya, kita disuruh makan secukupnya. Frasa ”anggota tengah” berarti ‘Kemaluan‘ (larik 33 dan 34). ”Anggota tengah” disamakan dengan ”hilang semangat”. Orang yang menggunakan ”anggota tengahnya” secara sembarangan bisa jadi akan mendapat penyakit kelamin yang dapat menyebabkan lemah syahwat. Hal itu terlihat pada kutipan pasal 3 berikut.

Apabila terpelihara mata, (23)
sedikitlah cita-cita. (24)

Apabila terpelihara kuping, (25)
khabar yang jahat tiadalah damping. (26)

Apabila terpelihara lidah, (27)
niscaya dapat daripadanya faedah. (28)

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, (29)
daripada segala berat dan ringan. (30)

Apabila perut terlalu penuh, (31)
keluarlah fi‘il yang tiada senunuh. (32)

Anggota tengah hendaklah ingat, (33)
disitulah banyak orang yang hilang semangat. (34)

Hendaklah peliharakan kaki, (35)
daripada berjalan yang membawa rugi. (36)


Metafora yang menarik ialah terdapat pada pasal keempat. Adapun teksnya sebagai berikut.

Hati itu kerajaan di dalam tubuh, (37)
jika lalim segala anggota pun rubuh. (38)

Apabila dengki sudah bertanah, (39)
datanglah daripadanya beberapa anak panah. (40)

Mengumpat dan memuji bendaklah pikir, (41)
disitulah banyak orang yang tergelincir. (42)

Pekerjaan marah jangan dibela, (43)
nanti hilang akal di kepala. (44)

Jika sedikit pun berbuat bohong, (45)
Boleh diumpamakan mulut itu pekong[7]. (46)

Tanda orang yang amat celaka. (47)
aib dirinya tiada ia sangka. (48)

Bakhil jangan diberi singgah, (49)
itulah perampok yang amat gagah. (50)

Barang siapa yang sudah besar, ( 51)
janganlah kelakuannya membuat kasar. (52)

Barang siapa perkataan kotor, (53)
mulutnya itu umpama ketur[8]. (54)

Di mana tabu salah diri, (55)
jika tidak orang lain yang berperi. (56)

Pekerjaan takbur jangan dirapih[9], (57)
sebelum mati didapat juta sapih[10]. (58)

Hati dimetaforakan dengan raja (larik 37 dan 38). Raja adalah penguasa dalam tubuh. Penguasa dapat berbuat anarkis dan membawa kehancuran bagi tubuh. Hati adalah pengendali semua perilaku manusia. Kata hati dikontraskan dengan lalim. Kontras makna itu sama kontras kata tubuh dan rubuh. Kata hati berkaitan dangan tubuh dan kata lalim berkaitan dengan rubuh. Inti pasal keempat adalah pada larik 37 dan 38. Larik­-larik berikutnya hanya penjabaran dari kedua larik itu. Masalah dengki diumpamakan anak panah yang dapat menusuk diri sendiri (larik 39 dan 40). Kata pikir dikontraskan dengan tergelincir (larik 41 dan 42). Kata pikir berarti ‘aktivitas intelektual‘. Kata tergelincir berarti ‘bahaya yang tidak disangka‘. Kedua kata itu sengaja dipertentangkan untuk mendapatkan efektivitas makna. Mengumpat dan memuji pun harus dipikirkan agar tidak tergelincir. Kata marah disamakan dengan hilang akal (larik 43 dan 44). Hilang akal berarti ‘lupa diri‘ atau ‘gila‘. Perumpamaan yang menarik ialah pada kata bohong ‘dusta‘ dan pekong ‘penyakit kulit‘. Pekong adalah metafora dari mulut. Penyakit kulit berarti ‘menjijikkan‘ atau ‘berbahaya‘. Mulut adalah sama dengan berbahaya. Bohong berarti ‘berbahaya‘. Metafora yang sama dengan itu adalah terdapat pada larik 53 dan 54, yaitu perkataan kotor dan ketur. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah sifatnya. Perkataan kotor dan ketur adalah dua kata yang bermakna sama, yaitu ‘kotor‘. ”Orang yang amat celaka” disamakan dengan ”aib dirinya” (larik 47 dan 48). Celaka dan aib mempunyai makna yang sama, yaitu ‘tidak beruntung‘. Bakhil ‘pelit‘ dimetaforakan dengan perampok ‘pencuri‘ (larik 49 dan 56). Perampok kemudian berarti ‘penjahat‘ dan penjahat adalah ‘musuh‘. Bakhil disamakan dengan musuh karena tidak ada keinginan untuk membantu orang lain. Frasa ”sudah besar” dikontraskan dengan ”kasar” (larik 51 dan 52). ”Sudah besar” berarti ‘dewasa‘, sedangkan kata kasar berarti ‘tidak berbudi‘, ‘tidak sopan‘. Orang dewasa haruslah berbudi. Perbandingan yang mirip dengan larik 51 dan 52 adalah ”salah diri” dengan ”or­ang lain” (larik 55 dan 56) dan takbur dengan sapih (larik 57 dan 58). Kesalahan diri hanya diketahui melalui orang lain. Orang yang takbur akan mendapat penyakit.

Permasalahan yang disampaikan pada pasal kelima dan keenam adalah mengenal orang lain. Lebih jelasnya, marilah kita perhatikan kutipan pasal 5 dan 6 di bawah ini.

pasal 5:

Jika hendak mengenal orang berbangsa, (59)
lihat kepada budi dan bahasa. (60)

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, (61)
sangat memeliharakan yang sia-sia. (62)

Jika hendak mengenal orang mulia, (63)
lihatlah kepada kelakuan dia. (64)

Jika hendak mengenal orang yang berilmu, (65)
bertanya dan belajar tiada jemu. (66)

Jika hendak mengenal orang yang berakal, (67)
di dalam dunia mengambil bekal. (68)

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, (69)
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai. (70)


pasal 6:

Cahari olehmu akan sahabat, (71)
orang boleh dijadikan obat. (72)

Cahari olehmu akan guru, (73)
yang boleh tahukan tiap seteru. (74)

Cahari olehmu akan istri, (75)
yang boleh dimenyerahkan diri. (76)

Cahari olehmu akan kawan, (77)
pilih segala orang yang setiawan. (78)

Cahari olehmu akan abdi, (79)
yang ada baik sedikit budi. (80)


Secara garis besar, isi dua pasal GDB di atas merupa­kan nasihat untuk mengenal dan berkomunikasi dengan orang lain. Pasal kelima menggambarkan ciri pengenal orang yang baik, sedangkan pasal keenam merupakan anjuran untuk menemukan orang yang dapat diajak untuk berkomunikasi. Pada pasal 5 hanya ada tiga orang yang digambarkan cirinya, yaitu orang yang berbudi, orang berbahagia, dan orang yang berilmu. Kata berbangsa dipasangkan dengan kata budi dan bahasa (larik 59 dan 60). Berbangsa berarti ‘berperadaban‘ yang artinya sama dengan budi dan bahasa. Budi dan bahasa berarti ‘sopan‘. Kata itu hampir sama artinya dengan kata mulia, berakal, dan baik perangai masing-masing pada larik 63, 67, dan 69. Penggunaan kata-kata yang bersinonim menunjukan bahwa pengarang adalah orang yang luas pengetahuan bahasanya. ”Orang yang berbahagia” disamakan dengan “memeliharakan yang sia-sia” (larik 61). Frasa “orang yang berbahagia” berarti ‘orang yang tenang dan tidak mempunyai masalah‘. Frasa itu disamakan dengan frasa “memeliharakan yang sia-sia” yang berarti ‘menghargai atau peduli pada hal-­hal kecil‘. Ciri orang berilmu adalah “bertanya dan belajar”. Belajar dan bertanya berarti ‘mencari‘. Orang berilmu adalah orang yang rajin mencari. Kata berakal disamakan dengan bekal (larik 67 dan 68). Berakal berarti ‘berpikir‘. Orang yang berpikir akan mencari bekal hidup. Frasa “baik perangai” dikaitkan dengan “orang ramai” (larik 59 dan 70). Baik perangai berarti ‘baik budi‘. Orang yang baik perangai hanya dapat dilihat dalam hubungannya dengan orang banyak.

Kalau pada pasal kelima digunakan kalimat pengandaian, pada pasal keenam digunakan kalimat perintah. Kalimat perintah bermakna ‘kepastian‘ sebagai kebalikan makna kalimat pengandaian. Pada pasal ini kata sahabat dipadankan dengan obat, kata guru dikontraskan dengan seteru, istri dengan diri, kawan dengan setiawan, dan abdi dengan budi (larik 71 sampai 80). Kata sahabat berarti ‘teman‘ dan kata obat berarti ‘penawar‘. Teman disamakan dengan penawar. Kata guru berarti ‘pengajar‘ dan kata seteru berarti ‘musuh‘. Dalam hal ini guru dianggap penyelamat dari musuh. Kata istri berarti ‘pendamping hidup‘ atau ‘kawan dekat‘. Kata diri berarti ‘pribadi‘. Kawan dekat adalah sama dengan diri pribadi. Kata kawan dan setiawan mempunyai makna yang hampir sama dengan pasangan kata istri dan diri. Pada larik 79 dan 80 kata abdi disamakan dengan budi. Kedua kata itu mempunyai makna yang sama, yaitu ‘sopan‘.

Isi pasal ketujuh dan pasal kedelapan hampir sama dengan isi pasal ketiga dan keempat. Dalam kedua pasal itu dibicarakan permasalahan diri manusia secara umum. Untuk jelasnya, marilah kita perhatikan kutipan pasal 7 dan 8 berikut.

Pasal 7:

Apabila banyak berkata-kata, (81)
di situlah jalan masuk dusta. (82)

Apabila banyak melebih-lebihkan suka, (83)
itulah tanda hampirkan duka. (84)

Apabila kita kurang siasat, (85)
itulah tanda pekerjaan hendak sesat. (86)

Apabila anak tidak dilatih, (87)
jika besar bapaknya letih. (88)

Apabila banyak mencela orang, (89)
itulah tanda dirinya kurang. (90)

Apabila orang yang banyak tidur, (91)
sia-sialah umur. (92)

Apabila menengar akan kabar, (93)
menerimanya itu hendaklah sabar. (94)

Apabila menengar akan aduan, (95)
membicarakanya itu hendaklah cemburuan. (96)

Apabila perkataan yang lemah lembut, (97)
lekaslah segala orang mengikat. (98)

Apabila perkataan yang amat kasar, (99)
lekaslah orang sekalian gusar. (100)

Apabila pekerjaan yang amat benar, (101)
tidak boleh orang berbuat honar. (102)


Pasal 8:

Barang siapa khianat akan dirinya, (103)
apalagi kepada lainnya. (104)
Kepada dirinya ia aniyaya, (105)
orang itu jangan kau percaya. (106)

Lidah yang suka membenarkan dirinya, (107)
daripada yang lain dapat kesalahannya. (108)

Daripada memuji diri hendaklah sabar, (109)
biar daripada orang datangnya kabar. (110)

Orang yang suka menampakkan jasa, (111)
setengah daripada syarik mengaku kuasa. (112)

Kejahatan diri sembunikan, (113)
kebajikan diri diamkan. (114)

Keaiban orang jangan dibuka, (115)
keaiban diri hendaklah sangka. (116)

Yang menarik dalam pasal ketujuh adalah penggunaan pasangan frasa yang bermakna kontras. Pada larik 83 dan 84 digunakan frasa ”melebih-lebihkan suka” dan ”hampirkan duka”. Kata melebih-lebihkan maknanya kontras dengan kata hampirkan. Kata suka berkontras dengan duka. Penggunaan frasa yang sama terlihat pada larik 85 dan 86, yaitu frasa ”kurang siasat” dan ”hendak sesat”. Kedua frasa itu memperlihatkan makna yang kontras. ”Kurang siasat” dapat berarti ‘kurang pikir‘ atau ‘tanpa pikir‘ dan ”hendak sesat” berarti ‘akan sesat‘. Pikir dan sesat dipertentangkan. Selain itu, ada juga frasa yang unsurnya bersifat kontras, yaitu ”mencela orang” dan ”dirinya kurang”. Kata orang dipertentangkan dengan kata dirinya. Kata mencela dipertentangkan dengan kata kurang. Mencela berarti ‘mengejek‘. Orang yang mengejek biasanya menganggap dirinya pandai. Kata mencela mengandung komponen makna ‘pandai‘. Kata kurang berarti ‘bodoh‘. Dalam hal ini pandai dikontraskan dengan bodoh.

Pemanfaatan makna kontras pada pasal ketujuh terlihat pada pasangan kata kabar dan sabar (larik 93 dan 94), kata benar dan honar (larik 101 dan 102). Kabar berarti ‘berita‘ atau ‘informasi‘. Kabar biasanya dibawakan oleh orang atau disiarkan melalui media masa, ltu berarti dalam kabar ada komponen makna ‘aktif‘. Kata sabar berarti ‘terang‘ atau ‘menerima‘. Pada kata sabar terdapat komponen makna ‘pasif‘. Sikap aktif dan pasif dipertentangkan. Kata benar berarti ‘tidak salah‘ atau ‘sesuai sebagaimana adanya‘ dan honar berarti ‘akal busuk‘ atau ‘mengacaukan‘. Dalam hal ini dipertentangkan yang baik dan tidak baik.

Selain frasa dan kata yang bermakna kontras, dalam pasal ketujuh terdapat pasangan kata yang bersinonim, misalnya berkata-kata dan dusta, dilatih dan letih, tidur dan umur, perkataan yang lemah lembut dan orang mengikut, kasar dan gusar. Kata berkata-kata berarti ‘berbual‘ dan bual adalah dusta. Kata dilatih dan letih mempunyai komponen makna yang sama yaitu ‘letih‘. Orang yang berlatih akan letih. Kata tidur berarti ‘istirahat tubuh dan kesadaran‘. Kata umur berarti ‘lama hidup‘ atau ‘usia‘. Kedua kata itu mempunyai komponen makna ‘hidup‘. Orang yang tidur adalah orang yang hidup. Frasa ”perkataan yang lemah lembut” berarti ‘perkataan yang halus‘. Frasa ‘orang yang mengikut‘ berarti ‘orang yang tunduk atau taat‘. Orang yang taat adalah mereka yang berjiwa lembut. Kedua kata itu mempunyai komponen makna ‘halus‘.

Isi pasal kedelapan lebih banyak berkaitan langsung dengan diri manusia. Yang menonjol pada pasal itu adalah penggunaan kata atau frasa yang bermakna kontras. Kata diri dikontraskan dengan kata lainnya (larik 103 dan 104). Makna kedua larik itu adalah keutamaan menjaga diri sendiri dan or­ang lain. Makna kedua larik berkaitan dengan larik 105 dan 106. Dalam larik itu dikontraskan makna frasa “dirinya ia aniyaya” dan ”jangan kau percaya”. Kata aniyaya bermakna ‘menyiksa‘, ‘mengabaikan‘. Kata percaya bermakna ‘yakin‘. Pada keempat larik itu pengarang ingin menyamakan orang yang menganiyaya dirinya dengan orang yang tidak boleh dipercaya. Kontras makna yang menarik ialah pada kata membenarkan dan kesalahannya (larik 107 dan 108). Kedua kata itu baru lengkap maknanya jika dihubungkan dengan kata­-kata sebelumnya. Makna kedua larik itu adalah kebiasaan membenarkan diri dan menyalahkan orang lain. Makna yang hampir sama dengan kedua larik itu adalah yang terdapat pada larik 109 dan 110. Pada larik 109 dan 110 dipertentangkan frasa “hendaklah sabar” dan frasa ”datangnya kabar”. Frasa hendaklah sabar berarti ‘harap menerima‘ dan frasa “datangnya kabar” berarti ‘munculnya berita‘. Artinya, jangan memuji diri sendiri tetapi tunggulah orang lain yang memuji kita. Pada larik 111 dan 112, frasa “menampakkan jasa” disamakan dengan frasa ”mengaku kuasa”. Kata menampakkan mempunyai komponen makna yang sama dengan kata mengaku, yaitu ‘mempertunjukan‘ pada orang lain. Jasa yang ditampakkan adalah sama dengan mengaku kuasa.

Pada larik 113 dan 114 digunakan kata kejahatan dan kebajikan, kata sembunyikan dan diamkan. Kata sembunyikan dan diamkan berarti ‘rahasiakan‘ atau ‘jangan diperlihatkan‘. Kata kebajikan dan kejahatan sebenarnya bermakna kontras. Akan tetapi dalam konteks ini kedua kata itu digunakan dalam makna yang sama. Maksudnya, kalau seseorang memiliki kejahatan dan kebajikan, sebaiknya kedua hal itu dirahasiakan. Tidak perlu diberitahukan kepada orang lain. Makna yang hampir sama dengan kedua larik itu adalah pada larik 115 dan 116. Frasa jangan dibuka dan frasa hendaklah sangka mempunyai makna yang sama, yaitu ‘hendaklah ditutup‘. Keaiban orang adalah sama dengan keaiban diri dan janganlah menyebarkan keaiban diri dan orang lain.

Ada satu perumpamaan yang menarik pada pasal kesembilan, pekerjaan tak baik disamakan dengan setan (larik 117 dan 118). Sesuatu yang tak baik dibandingkan dengan setan. Setan adalah makhluk tidak baik. Pekerjaan dan setan mempunyai sifat tidak baik. Makna kedua larik itu sama dengan makna larik 119 dan 120. Pada kedua larik ini kejahatan disamakan dengan perempuan tua. Perempuan tua kemudian disamakan dengan iblis. Kemudian metafora yang sama terdapat pada larik 121 sampai larik 126. Pada larik 121 hamba raja disamakan dengan setan dan pada larik 122 dan 123 yang muda-muda disamakan dengan setan, dan perkum­pulan laki-laki dan perempuan disamakan dengan setan. Setan berarti ‘sumber bencana‘. Pekerjaan tak baik, perempuan tua, hamba-hamba raja, yang muda-muda, dan perkumpulan laki-­laki dan perempuan dianggap sebagai sumber bencana.

Ada dua hal yang dianggap musuh setan, yaitu orang tua yang hemat dan orang muda yang kuat berguru (larik 129 dan 130). Sikap hemat dan kuat berguru dipertentangkan dengan setan. Sikap hemat adalah lawan sikap boros. Boros adalah pekerjaan tidak baik. Pekerjaan tidak baik adalah setan. Setan adalah bencana. Kata hemat kemudian disamakan dengan sahahat. Orang muda kuat berguru berarti ‘orang muda rajin belajar‘ atau ‘orang muda yang pintar‘. Orang muda yang pintar dikontraskan dengan kata setan. Kontras makna seperti itu terlihat pula pada kata berguru dan seteru. Berguru ‘pintar‘ sebagai sifat orang muda dipertentangkan dengan seteru ‘bermusuhan‘ sebagai sifat setan. Agar makna pasal sembilan lebih jelas, perhatikan kutipan berikut.

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan, (117)
bukanlah manusia yaitulah syaitan. (118)

Kejahatan seorang perempuan tua, (119)
itulah iblis punya penggawa. (120)

Kepada segala hamba-hamba raja, (121)
di situlah syaitan tempatnya manja. (122)

Kebanyakan orang yang muda-muda, (123)
di situlah syaitan tempat berkuda. (124)

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan, (125)
di situlah syaitan punya jamuan. (126)

Adapun orang tua yang hemat, (127)
Syaitan tak suka membuat sahabat. (128)

Jika orang muda kuat berguru, (129)
Dengan syaitan jadi berseteru. (130)


Selanjutnya akan dibahas gurindam pasal kesepuluh. Adapun teksnya sebagai berikut.

Dengan bapa jangan durhaka, (131)
supaya Allah tidak murka. (132)

Dengan ibu hendaklah hormat, (133)
supaya badan dapat selamat. (134)

Dengan anak janganlah lalai, (135)
supaya boleh naik ke tengah balai. (136)

Dengan istri dan gundik jangan alpa, (137)
kemaluan jangan menerpa. (138)

Dengan kawan hendaklah adil, (139)
supaya tanganya jadi kafil[11]. (140)

Semua kalimat pada bagian kesepuluh dimulai dengan kata dengan. Kata dengan diikuti kata ganti orang. Penggunaan kata dengan di awal kalimat dapat menekankan makna kata ganti di belakangnya. Kalimat-kalimat pada bagian ini menandai hubungan tujuan. Penggunaan kata jangan dan hendaklah menandakan bahwa isi kalimat itu harus diperhatikan.

Penggunaan kata-kata yang berpasangan pada pasal kesepuluh cukup menarik. Pada larik 131 dan 132 terdapat kata durhaka ‘dosa‘ dan murka ‘marah‘. Kedua kata itu ada hubungan maknanya dengan kata bapa dan Allah. Allah akan marah jika kita berbuat dosa pada bapak. Penggunaan kata yang serupa dengan di atas terlihat juga pada larik 133 dan 134 (hormat dan selamat), larik 135 dan 136 (lalai dan balai), larik 137 dan 138 (alpa dan menerpa), larik 139 dan 140 (adil dan kafil). Kata hormat berarti ‘sopan‘, ‘berbuat baik‘ dan selamat berarti ‘aman‘. Kata sopan dan aman menggarnbarkan situasi yang menyenangkan. Kata lalai berarti ‘lupa‘ dan kata balai berarti ‘gedung‘. Gedung berarti ‘hadiah‘. Anak yang dididik dengan baik akan mendatangkan hadiah. Kata alpa ‘lupa‘ dikontraskan dengan kata ‘menerpa‘, ‘memukul‘. Kata lupa dan memukul mempunyai komponen makna yang sama, yaitu ‘siksaan‘. Kata adil berarti ‘tidak memihak‘ dan kemudian berarti ‘berbuat baik‘. Kata kafil berarti ‘penjaga‘ atau ‘majikan‘. Kata majikan berarti ‘pemimpin‘. Pemimpin berarti ‘pelindung‘ atau ‘melindungi‘. Berbuat baik adalah sama dengan melindungi.

Pada pasal kesebelas terdapat pasangan kata: berjasa dan sebangsa (larik 141 dan 142), kepala dan cela (larik 143 dan 144), amanat dan hianat (145 dan 146), marah dan hajar (larik 147 dan 148), dimulai dan melalui (larik 149 dan 150), ramai dan perangai (larik 151 dan 152). Kata berjasa berarti ‘berguna‘ dan sebangsa berarti ‘setanah air‘. Setanah air berarti ‘masyarakat kita‘. Artinya kita harus berjasa pada masyarakat kita. Kata kepala berarti ‘ketua‘ atau ‘otak‘. Kata otak berarti ‘berpikir‘. Kata cela berarti ‘jelek‘. Kata berpikir dan jelek dipertentangkan agar makna gurindam itu menjadi efektif. Dengan adanya kata buang, makna larik 144 menjadi ‘berperangai yang baik‘. Orang yang berpikir hendaknya berperangai baik. Pertentangan makna yang sama terdapat pula pada kata amanat dan hianat. Kata amanat berarti ‘sesuatu yang akan disampaikan‘ dan hianat berarti ‘curang‘. Kata marah berarti ‘tidak senang‘ dan kata hajat berarti ‘keinginan‘ atau ‘pikiran‘. Makna gurindam itu harus dibalik, yaitu dahulukan keinginan baru marah. Kemarahan itu mungkin disebabkan oleh sikap orang lain yang tidak mau menerima pikiran kita yang baik. Kata dimulai berarti ‘mendahului‘ dan kata melalui berarti ‘terlambat‘. Ini berarti bahwa datang lebih awal lebih baik daripada datang belakangan. Kata ramai berarti ‘ramah‘ dan perangai berarti ‘ramah‘. Gurindam itu berarti anjuran untuk bersikap ramah. Masalah yang telah diuraikan di atas dapat dilihat kembali pada kutipan pasal sebelas berikut.

Hendaklah berjasa, (141)
kepada yang sebangsa. (142)

Hendaklah jadi kepala, (143)
buang perangai yang cela. (144)

Hendaklah memegang amanat, (145)
buanglah hianat. (146)

Hendaklah marah, (147)
dahulukan hajat. (148)

Hendaklah dimulai, (149)
jangan melalui. (150)

Hendaklah ramai, (151)
murahkan perangai. (152)

Gurindam terakhir adalah pasal kedua belas. Pasal ini berisi masalah raja dan menteri, hukum, orang berilmu, kematian, dan akhirat. Pada gurindam pertama kata menteri disamakan dengan duri (larik 153 dan 154). Kata menteri berarti ‘pejabat tinggi‘, ‘pembantu raja‘. Kata duri berarti ‘pelindung kebun‘. Gurindam itu berarti kalau raja ‘kepala negara‘ bersatu dengan pembantunya, negara akan kuat. Frasa betul hati disamakan dengan frasa sebarang kerja (larik 155 dan 156). Frasa ”betul hati” berarti ‘tunduk‘, ‘tidak kritis‘. Frasa ”sebarang kerja” berarti ‘kerja asal-asalan‘. Artinya, dalam melakukan pekerjaan harus bersikap kritis agar hasilnya baik. Kata hukum dan anayat (larik 157 dan 158) digunakan dalam pengertian yang sama. Hukum berarti ‘aturan‘. Kata aturan berarti ‘pengayoman‘ dan pengayoman berarti ‘bantuan‘. Kata anayat berarti ‘bantuan‘ atau ‘dukungan‘. Kata kasihkan berarti ‘cintai‘ atau ‘cinta‘; kata rahmat berarti ‘karu­nia‘ dan karunia berarti ‘cinta Tuhan‘ (larik 159 dan 160). Kedua kata itu digunakan dalam pengertian yang sama. Artinya, mencintai orang berilmu akan mendapat cinta Tuhan. Pada larik 161 dan 162 ada dua kata yang digunakan dalam pengertian yang sama, yaitu hormat dan mengenal. Kata hormat berarti ‘menghargai‘ dan mengenal berati ‘memahami‘. Mamahami berarti ‘menghargai‘. Kata mati ‘tidak hidup‘ dan bakti ‘berbuat baik‘ (larik 163 dan 164) mempunyai hubungan sebab akibat, yaitu dengan mengingat mati, orang akan berbuat baik. Pada larik terakhir kata nyata ‘tampak‘ dan tidak buta ‘dapat melihat‘ mempunyai makna yang sama. Kata nyata menjelaskan kata akhirat dan kata tidak buta menjelaskan kata hati. Itu berarti bahwa masalah akhirat bersifat abstrak dan hanya dapat dipahami dengan hati yang mendapat cahaya dari Tuhan.

Untuk membuktikan kembali uraian tersebut, marilah kita perhatikan teks pasal kedua belas di bawah ini.

Raja mufakat dengan menteri, (153)
seperti kebun berpagarkan duri. (154)

Betul hati kepada raja, (155)
tanda jadi sebarang kerja. (156)

Hukum adil atas rakyat, (157)
tanda raja beroleh anayat[12]. (158)

Kasihkan orang yang berilmu, (159)
tanda rahmat atas dirimu. (160)

Hormat akan yang pandai, (161)
tanda mengenal kasa dan cindai. (162)

Ingatkan dirinya mati, (163)
itulah asal berbuat bakti. (164)

Akhirat itu terlalu nyata, (165)
kepada hati yang tidak buta. (166)

Pada umumnya kata-kata yang digunakan dalam GDB mudah dipahami maknanya, meskipun masih berstatus sebagai bahasa Melayu. Kata-kata itu telah dipilih dengan cermat sehingga tidak berbeda dengan kosa kata bahasa Indonesia sekarang. Hal itu menyebabkan GDB mudah diterima oleh pembaca sekarang. Pilihan kata kemudian diperkuat oleh susunan kalimat yang tidak memperlihatkan struktur kalimat bahasa Melayu seperti dalam karya sejarah. Pilihan kata dan struktur kalimat memperlihatkan dimensi kebaruan.

Kenyataan itu menunjukkan bahwa Raja Ali Haji telah membuat kosa kata baru dan susunan kalimat baru dalam bahasa Melayu. Di sinilah letak kelebihan puisi daripada karya­-karya yang lain. Puisi menjadi ajang pembaharuan.

Sebagai tanda, pasal-pasal GDB mempunyai kaitan. Intinya adalah pada pasal pertama. Pasal-pasal Lain adalah penjelasan. Dalam pasal pertama terkandung masalah pokok, yaitu agama dan makrifat (larik 1 sampai 4). Makrifat itu adalah mengenal yang empat: Allah, diri sendiri, dunia dan akhirat. Mengenal yang empat adalah esensi takwa (pasal 2). Esensi takwa itu adalah penjabaran dari pasal pertama, khususnya larik 5 dan 6. Pasal ketiga, keempat, ketujuh dan kedelapan adalah penjabaran pasal pertama larik 7 dan 8, yaitu masalah mengenal diri. Pasal kelima, keenam, kesembilan, kesepuluh, kesebelas, dan sebagian pasal kedua belas adalah penjabaran dari pasal pertama larik 9 dan 10, yaitu mengenal dunia. Akan tetapi penjabaran tentang masalah mengenal diri dan mengenal dunia sulit dipisahkan karena keduanya berkaitan. Permasa­lahan manusia dan dunia adalah satu. Esensi permasalahan dunia adalah permasalahan manusia dalam hubungan dengan sesamanya. Permasalahan akhirat hanya terlihat pada larik 163-166. Jalan menuju akhirat akan tercapai jika kita mengenal Allah, diri sendiri, dan dunia. Pintu akhirat adalah kematian. Mengingat kematian akan mengingatkan kita akan ketakwaan. Permasalahan akhirat hanya sedikit disinggung dan itu berarti bahwa akhirat itu akan dicapai dengan mudah kalau kita sudah mengenal Allah, diri sendiri, dan dunia.

Sebenamya untuk apa GDB ditulis oleh Raja Ali Haji. Secara umum GDB ditulis untuk semua pembaca. Tetapi secara khusus GDB ditujukan kepada raja. Indikator yang menunjukkan bahwa GDB ditujukan pada pembaca pada umumnya adalah penggunaan kata barang siapa, jika, apabila. Ketiga kata itu tidak mengacu pada orang-orang tertentu. Penggunaan kata raja dan menteri mengekplisitkan bahwa GDB ditulis untuk penguasa atau pejahat.

Sekarang timbul satu pertanyaan mengapa ada kata agama dan makrifat dalam pasal pertama. Kalau GDB itu hanya sebagai pengajaran moral pada umumnya, pengarang hanya cukup menyebut agama dan takwa saja yang kemudian dijabarkan dengan pengamalan rukun Islam. Kata makrifat dalam konteks ini merupakan indikator bahwa GDB adalah sebuah karya sastra sufi. Konsep sufi dalam GDB cukup sistematis. Pasal pertama adalah inti konsep tasawuf yang dikembangkan Raja Ali Haji. Makrifat dalam GDB bertolak dari agama. Agama dan makrifat dikaitkan karena ada sebagian orang yang bermistik tetapi tidak berbasis pada agama.Untuk mencapai hakekat atau makrifat, orang harus beragama. Agama mengatur cara beribadah.

Isi GDB menggambarkan sebuah tarikat. Tarikat adalah jalan yang berpangkal pada syariat. Menurut Qutbaddin al-Ibadi (dalam Schimmel 1986:101), pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi. Tidak mungkin ada jalan tanpa ada jalan utama sebagai pangkalnya. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat tanpa melaksanakan perintah syariat dengan baik. Jalan[13] itu lebih sempit dan sulit ditempuh. Pengembara harus melalui beberapa maqam (persinggahan) untuk mencapai tauhid sempurna: pengakuan berdasarkan pengalaman bahwa Tuhan itu Satu. Konsep tarikat dalam GDB adalah bertolak dari agama. Dalam koridor agamalah tarikat dilaksanakan. Hanya saja konsep tarikat dalam GDB masih bersifat global.

Konsep tasawuf dalam GDB sama dengan tasawuf Al-Ghazali. Makrifat bagi Al-Ghazali tidak dapat dilepaskan dari fana dan merupakan esensi tasawuf (dalam Simuh 1985:13). Fana adalah leburnya kesadaran pribadi dalam samudra keilahian (Zoetmulder 1991:27). Dalam fana terjadi penghayatan makrifat, yaitu penghayatan langsung tentang Tuhan melalui hati. Makrifat dalam konteks itu berarti ‘penghayatan tentang Tuhan melalui hati‘. Makrifat adalah level tertinggi dalam tasawuf transendentalis.

Akhirnya dapat dikatakan bahwa GDB adalah sebuah sastra sufi. GDB berisi ajaran tasawuf untuk mencapai tauhid sejati. Seseorang dapat mencapai makrifat jika mengenal: Al­lah, diri, dunia, dan akhirat. Pemikiran tasawuf Raja Ali Haji termasuk dalam tasawuf transendentalis. Melalui GDB, pengarang ingin menyampaikan ajaran tasawuf yang bersumber dari ajaran agama yang benar pada pembaca dan penguasa. Para pembaca dan penguasa diharapkan dapat menghayati diri dan hidupnya dalam menuju kehidupan akhirat. Akhirat hanya dapat dipahami oleh orang yang hatinya terbuka pada kebenaran Ilahi.

Pada masa sekarang, ajaran tasawuf dalam GDB dapat berarti ajaran moral sebagai sarana pembebasan manusia dari belenggu nafsu dirinya. Manusia modern pada umumnya terbelenggu oleh kekuasaan dirinya. Mereka lupa bahwa masih ada kekuatan lain, yang maha dahsat, yaitu Tuhan. Ajaran moral ini dapat bermanfaat bagi semua umat manusia yang hidup di abad globalisasi.

GDB ini adalah salah satu karya puisi Raja Ali Haji yang diciptakan dengan sungguh-sungguh yang memperlihat­kan kepeloporan dalam meningkatkan kualitas bahasa Melayu menjadi bahasa modern. Kepeloporan itu merupakan salah satu sumbangan yang bernilai tinggi dalam menumbuh­kembangkan bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Bertolak dari kenyataan itu, kita tidak ragu lagi untuk menyatakan bahwa Raja Ali Haji adalah seorang pejuang dalam bidang Bahasa dan Sastra.

----------------ooOoo--------------------

Daftar Pustaka

Aceh, Abubakar. 1990. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf. Solo: Ramadhani.
Al Azhar. 1996. “Raja Ali Haji: Sebuah Ziarah”. Dalam Karsono H. Saputra (Peny.). 1997. Tradisi Tulis Nusantara. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara.
Alisyahbana, S. Takdir. 1985. Puisi Lama. Jakarta: Dian Rakyat.
Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Fisiologi. Yogyakarta: BPPF Fak. Sastra UGM.
Hooker, Virginia Matheson. 1996. "Revisiting Riau with Knowl­edge: Teaching Texts and Concepts”. Dalam Karsono H. Sapu­tra 1997. Tradisi Tulis Nusantara. Jakarta: Manassa.
Liau Yock Fang. 1991. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Erlangga.
Schimmel, Annemarie. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam. Terj. Sapardi Djoko Damono dkk. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Simuh. 1985. "Antara Tasawuf dan Batiniah". Dalam Pesantren, 3. Jakarta: P3M.
Van Zoest, Aart. 1981. "Interpretasi dan Semiotika". Terj. Okke K.S. Zaimar dan Ida
Sundari Husein. Dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest 1992.
Serba-serbi Semiotika Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
---------------------. 1993. Semiotika: TentangTanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan dengan Terj. Ani Soekowati. Jakarta: Sumber Agung
Zoetmulder, P.J. 1991. Manunggaling Kawulo Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Terj. Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

[1] Naskah tulisan ini dimuat dalam buku “Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia” halaman 405-435, yang diterbitkan atas kerjasama antara Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Riau dan UNRI Press.

[2] Dr. Ahmad Badrun adalah dosen FKIP Universitas Mataram. Ia mendapatkan gelar doktor dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dengan disertasi berjudul "Patu Mbajo: Struktur, Kontek Pertunjukan, Proses Penciptaan, dan Fungsi".

[3] Pengarang agong lainnya adalah Raja Chulan dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.

[4] Lihat Liau Lock Fang 1991: 129-138 dan Hooker 1996:231.

[5] Teks GDB diambil dari Alisyahbana dalam bukunya Puisi Lama. 1985. Jakarta: Dian Rakyat.

[6] Semiotik adalah ilmu tentang tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Menurut Van Zoest (1981: 7-9), tanda dalam hubungannya dengan acuan, dalam konsep Peirce ada 3: ikon (tanda yang terjadi karena hubungan kemiripan), indeks (tanda yang terjadi karena kedekatan eksistensi), dan simbol (tanda yang terjadi karena konvensi). Berfungsinya sebuah tanda terjadi karena bantuan ground. Sebuah tanda kalau dihubungkan dengan acuan atau diinterpretasikan akan melahirkan makna baru. Oleh sebab itu, pemahaman tanda harus dilihat dalam hubungan dengan ground, acuan, dan makna baru. Kemudian Van Zoest (1993: 34-37) menyatakan bahwa kajian semiotik meliputi tiga aspek: semantik (mengkaji hubungan tanda dengan acuannya), sintaksis (mengkaji hubungan tanda dengan tanda lain), dan pragmatik (mengkaji hubungan pengirim dan penerima tanda).

[7] Nama penyakit kulit yang baunya tidak enak.

[8] Tempat ludah.

[9] Didekatkan.

[10] Nama penyakit mati sebagian badan.

[11] Penjaga pemelihara

[12] Bantuan, sokongan.

[13] Istilah jalan (tarikat) dijelaskan juga oleh Aceh (1990:61).

-------------------------------------------------------------------------------
by Ahmad Baharun
www.rajaalihaji.com