Wednesday, August 29, 2012

Hadits Arba'in (16)

Hadits Ke Enam Belas

Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: (Ya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam ) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Dia menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda: Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhari)

Kandungan Hadist:
1. Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik
2. Larangan marah.
3. Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.
Perintah Rasulullah untuk tidak marah mengandung 2 penafsiran, yaitu:

Maksudnya tahanlah marah, yaitu ketika ada sesuatu yang membuat marah maka berusahalah untuk tidak melampiaskan kemarahannya.

Menghindarkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan kemarahan.
Terapi Ketika Menghadapi Kemarahan Ada beberapa cara untuk terhindar dari melampiaskan kemarahan, di antaranya:
Duduk, jika ketika marah dia dalam keadaan berdiri.
Mengucapkan kata-kata yang baik.
Berwudhu.

Tuesday, August 28, 2012

Rumi: Tiada Sedikit pun Mencukupi tanpa Kehendak Allah

Telah panjang-lebar kita berbicara,
 tetapi sungguh penyiapan diri kita
untuk menempuh jalan yang membentang di depan
tidaklah cukup: tiada sedikit pun mencukupi
tanpa kehendak Allah!

Tanpa kehendak Allah dan mereka yang dipilih-Nya,
siapa pun diri kita,
lembaran kita tetaplah hitam.

Yaa Allah,
kelimpahan-Mu memenuhi setiap kebutuhan,
tidaklah diizinkan untuk menyebutkan
sesuatu pun di sisi-Mu.

Alangkah berlimpahnya, Alangkah berlimpahnya
petunjuk yang telah Kau anugerahkan;
selama ini telah Engkau tutupi
begitu banyak aib dan cacat-cela kami.

Karena setitik pengetahuan
yang telah Engkau berikan sebelum kami disini—
sampai kini rindu kami bersatu dengan lautan-Mu.

Setitik pengetahuan yang berada di dalam jiwa kami ini:
bebaskan dia dari syahwat dan kungkungan tanah-liat ini.

Sebelum tanah-liat ini menghirupnya-habis,
sebelum angin ini menyapunya.

Sungguhpun, ketika dia tertiup jauh,
Engkau dapat meraihnya kembali, dan memulihkannya.

Setitik air yang telah menguap di udara
atau tertumpah ke tanah—kapankah dia keluar
dari perbendaharaan-Mu,
wahai yang Maha-Menguasai.

Jika dia telah beranjak memasuki ketiadaan—
atau seratus ketiadaan—segera dia bergegas kembali
jika Engkau memanggilnya.

Ratusan ribu pihak telah saling membunuh satu sama lain:
Seruanmu membangkitkan kembali mereka dari ketiadaan.

Yaa Rabb,
karavan demi karavan melesat terus-menerus
dari ketiadaan menuju keberadaan.

Setiap malam,
semua pemikiran dan pemahaman menjadi kosong,
mencebur ke Laut yang dalam;

Lalu, ketika fajar merekah,
mereka yang Ilahiah itu menyembulkan kepala dari Laut,
bagaikan ikan.

Ketika musim gugur tiba,
tak-terhitung cabang-ranting dan dedaunan membusuk
ke dalam lautan Kematian.

Sementara di taman,
burung gagak bergaun hitam-pekat,
bagaikan pelayat yang meratapi gugurnya tanam-tanaman.

Lalu, dari Sang Penguasa datang perintah kepada ketiadaan:
“Kembalikan apa yang telah engkau telan!

Wahai Kematian yang hitam,
kembalikanlah tanaman, bunga-bunga, dedaunan
dan rerumputan yang telah engkau telan!”

Wahai saudaraku,
kumpulkanlah kecerdasanmu dan pertimbangkanlah:
dari saat ke saat, terus-menerus beredar musim gugur
dan musim semi di dalam dirimu.

Pandanglah taman qalb:
hijau dan berembun dan segar,
penuh kuntum mawar, cemara dan melati;

Ranting-dahan tersembunyi lebatnya dedaunan,
padang yang luas dan istana yang tinggi,
tersembunyi oleh lebatnya bunga-bunga.

Kata-kata ini bersumber dari Akal Sejati,
bagaikan wanginya bunga-bunga, cemara dan bakung itu.

Apakah engkau bisa mencium wanginya mawar,
sementara kuntumnya tiada?

Apakah bisa engkau memandang busanya anggur,
sementara anggurnya tiada?

Wewangian itu adalah panduan
yang membimbingmu berjalan:
itu akan membawamu ke Jannah dan Kautsar.

Wewangian adalah obat untuk mata yang buta;
dia adalah pemantik cahaya:
mata Jakub terbuka oleh suatu wewangian.

Bau-busuk menggelapkan mata;
wanginya Jusuf menyembuhkannya.

Engkau bukanlah seorang Jusuf;
karenanya, jadilah seperti Jakub:
bersikaplah bagaikan beliau,
akrabilah linangan air-mata dan kesedihan mendalam.

Dengarlah nasehat dari Hakim Sana’i ini,
agar terasa kesegaran di raga rentamu:
“Kehinaan memerlukan sebuah wajah bagaikan mawar;
jika tidak engkau miliki wajah seperti itu,
janganlah engkau beredar kesana-kemari sambil marah.

Akhlak rendah adalah kehinaan dalam wajah yang buruk,
kepiluan adalah sakit-mata di mata yang buta.”

Pada kehadiran Jusuf jangan biarkan dirimu menyombong
dan berlagak seakan dirimu cantik:
tiada lain yang perlu engkau tawarkan kecuali permohonan
dan rintihan seorang Jakub.

Makna dari kematian,
sebagaimana disampaikan oleh sang burung beo,
adalah memohon dengan merendahkan diri:
matikanlah dirimu-sendiri dalam permohonan ampun
dan kefakiran jiwamu,

Sehingga hembusan Isa dapat menghidupkanmu-kembali,
dan membuatmu cantik dan dirahmati,
sebagaimana sejatinya dirimu.

Bagaimanakah sebongkah batu
dapat tertutupi oleh limpahan kehijauan musim Semi?
Jadilah tanah, sehingga dapat engkau mekarkan
beragam bunga aneka warna.

Telah bertahun-tahun engkau bagaikan batu yang tajam—
cobalah sesuatu yang segar:
serahkanlah dirimu, jadilah seperti tanah!

Sumber:
Rumi: Matsnavi, I: 1877 – 1912.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Monday, August 27, 2012

Hakikat Zuhud

Mutiara Ihya ulumuddin

Yang dimaksud dengan hakikatnya zuhud adalah menolak sesuatu serta mengandalkan yang lain. Maka barangsiapa yang meninggalkan kelebihan dunia serta menolaknya dan mengharapkan akhirat maka ia juga zuhud di dunia.

Sedangkan derajat zuhud yang tertinggi adalah jika ia tidak menginginkan segala sesuatu selain Allah SWT bahkan akhirat. Zuhud haruslah disertai pengetahuan bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia. Amalan yang timbul dari suatu keadaan ialah sebagai pelengkap dari suatu keinginan terhadap akhirat. Sedangkan segala amalnya bagaikan pembayaran harga dengan memelihara harta serta anggota tubuh dari segala yang. bertentangan dengan jualan ini. Sedangkan keutamaan zuhud ditunjukkan oleh ayat sebagai berikut:

Allah SWT. telah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bwni sebagaiperhiasan baginya agar Kami dapat menguji mereka siapa yang terbaik perbuatannya di antara mereka". (QS. Al-Kahfi: 7)

Allah SWT. telah berfirman, "Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan tersebut baginya, serta barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, maka akan Kami berikan kepada mereka sebagian keuntungan dunia serta tidak akan ada bagktya suatu bagian pun di akhirat". (QS. Asy-Syura: 20)

Rasulullah Saw. telah bersabda, "Barang siapa yang menginginkan di dunia, maka Allah SWT. akan mencerai beraikan pikiran beserta harta bendanya dan sebagian besar kemiskinannya ada di depan matanya, sedangkan dunia tidak datang kepadanya melainkan yang ditetapkan baginya. Sedangkan barang siapa yang keinginannya adalah akhirat, maka Allah SWT. akan menyatukan pikiran serta memelihara harta bendanya dan menjadikannya semua kekayaan di dalam hatinya dan dunia pun akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk".

Rasulullah Saw. telah bersabda, "Jikalau engkau telah melihat seseorang yang dikaruniai sifat tenang serta menjauhi dunia, maka dekatilah dia, sebab mereka bagimu akan memberi sebuah hikmah".

Rasulullah Saw. juga telah bersabda, "Jikalau engkau ingin dicintai oleh Allah SWT. maka jauhilah keduniaan, niscaya Allah akan mencintaimu".

Pada saat haritsah berkata kepada Rasulullah Saw., "Aku seorang mukmin yang benar?" Rasulullah Saw. berkata, "Apakah yang engkau ketahui tentang hakikat imanmu? Maka Haritsa menjawab, "Diriku telah menjauhi dunia sehingga batu serta emasnya ialah sama bagiku. Seakan-akan aku telah melihat surga dan neraka dan seakan-akan menyaksikan Arsy Tuhanku".

Maka Rasulullah Saw. telah berkata, "Engkau telah mengetahuinyaj maka tetapkanlah. Inilah salah satu contoh hamba yang diterangi hatinya oleh Allah SWT. dengan iman". Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang penjelasan firman Allah SWT, "Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah SWT. hatinya untuk (menerima) agama Islam, kemudian ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya (sama halnya seorang yang telah membantu hatinya". (QS. Az-Zumar:39),

Didalam Firman yang lain, "Barang siapa yang Allah ingin memberinya sebuah petunjuk niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam". (QS. Al-An'am: 125).

Maka Rasulullah Saw. pun menjawab, "Sesungguhnya cahaya tersebut jikalau masuk ke dalam hati, maka dada pun menjadi lapang dan terbuka".
Ada seseorang yang telah berkata, "Ya Rasulullah, apakah keadaan tersebut ada tandanya?"
Maka beliau menjawab, "Ya, dengan menjauhi sebuah negeri yang terdapat tipu daya (dunia) serta kembali ke negeri yang kekal (akhirat) dan akan siap untuk menghadapi kematian yang akan tiba".
Jabirra. telah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. Berkhutbah kepada kami seraya berkata, "Barang siapa dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah tanpa dicampuri dengan yang lainnya, maka ia pun akan masuk surga".
Lalu Ali ra. juga telah bersabda, "Ayah dan ibuku yang akan menjadi tebusanmu, ya Rasulullah, apa yang tidak bercampur dengannya, coba terangkan ia kepada kami". Maka Rasulullah Saw. berkata, "Cinta dunia dengan mencari serta dengan mengikutinya. Orang-orang yang mengatakan perkataan Nabi-nabi serta mengamalkan perbuatan orang-orang yang sombong. Maka barang siapa yang datang membawa kalimat "Laa ilaha illallah " tanpa dicampuri sesuatupun dari ini, maka wajiblah surga baginya". Di dalam suatu kabar telah disebutkan, "Kedermawanan itu termasuk serta keyakinan serta tidak masuk mereka orang yang yakin, sedangkan kekikirannya termasuk keraguan serta tidak masuk surga siapa yang ragu".

Diantara tiga macam derajat zuhud
Yang pertama, memaksakan zuhud terhadap dunia serta memerangi nafsunya di dalam usaha meninggalkannya walaupun disukainya. Ini ialah orang yang memaksakan zuhud serta mudah-mudahan berlangsung terus sampai ia mencapai zuhud.

Yang kedua, ia bersifat zuhud terhadap duia dengan suka rela sebab meremehkannya disamping ada yang diharapkannya. Seperti halnya orang yang sedang meninggalkan satu dirham demi dua dirham serta ini tidaklah memberatkannya, akan tetapi ia harus memperhatikan keadaan dirinya. Ini juga telah mengandung sebuah keknrangan. Yang ketiga, zuhud yang paling tinggi, yakni jikalau seseorang bersifat zuhud dengan suka rela serta tidak pernah merasakan zuhudnya, sebab ia tidak menganggap bahwa ia telah meninggalkan sesuatu sebab ia tahu bahwa dunia bukan apa-apa.

Maka, ia bagaikan orang yang sedang meninggalkan tanah yang liat serta mengambil permata. Ia tidak pernah menganggap itu sebagai pengganti, sedangkan dunia sendiri kalau dibandingkan dengan akhirat maka tidak ada artinya.

Telah berkata Abu Zaid ra. kepada Abi Musa Abdurrahman, 'Tentang apa anda berbicara".
Maka ia menjawab, 'Tidak lain tentang zuhud".
Kemudian Abu Zaid berkata, "Zuhud terhadap apa?"
Sedang Abu Musa menjawab, 'Terhadap dunia".
Maka Abu Zaid telah membebaskan tangannya seraya berkata, "Aku sedang mengira bahwa ia berbicara tentang sesuatu bagian dunia, bukan sesuatu yang ia bersikap zuhud terhadapnya".

Seperti orang yang sedang meninggalkan dunia untuk akhirat menurut ahli makrifat serta para pemilik hati yang dipenuhi penyaksian serta mukasyafat ialah bagaikan orang yang sedang dihalangi anjing yang sedang memasuki pintu seorang raja, lalu ia melemparkan sepotong roti kepadanya sehingga melalaikan anjing tersebut serta ia pun masuk pintu dan akan mendapatkan kedudukan di sisi raja hingga ia melaksanakan perintahnya di seluruh kerajaannya. Tidakkah engkau melihat telah mendapat di sisi raja dengan sepotong roti yang sedang dilemparkannya kepada anjing dengan imbalan tersebut?

Setan itu anjing di pintu raja, yakni Allah SWT. Ia mencegah manusia bisa masuk, sedangkan pintu terbuka dan tabir terangkat, sedangkan dunia tendiri bagaikan sepotong roti. Jikalau engkau sedang memakainya, maka kelezatannya hanya bersifat sementara serta akan habis ketika sudah ditelan, lalu tinggal berat di perut besar, lalu menjadi busuk, serta perlu dikeluarkan yang dalam bentuk kotoran. Maka barang siapa yang meninggalkannya hanya untuk memperoleh sebuah kedudukan di sisi seorang raja, bagaimana ia perlu memperhatikannya?

Sebagaimana perbandingan dunia yang bersih dengan akhirat lebih sedikit daripada sepotong roti terhadap raja dunia, sebab tidaklah bisa dibandingkan antara sesuatu yang habis derigan sesuatu yang amat dekat, walaupun sedang berlangsung sejuta tahun bersih dari berbagai kekeruhan. Maka akan menantikan kesudahannya dengan kemusnahan. Jikalau demikain halnya, maka ketahuilah bahwa derajat yang tertinggi ialah jikalau engkau jauhi segala sesuatu selain Allah SWT. demi mengharapkan ridla-Nya. Maka hal tersebut dilakukan dengan mengenal-Nya serta mengenal kedudukan-Nya yang amat tinggi. Maka janganlah mengandalkan makan, minum, nikah, tempat tinggal, serta segala kebutuhanmu, melainkan sekedar yang engkau perlukan saja tidak lebih untuk menegakkan badan serta menghidupi dirimu. Inilah zuhud yang hakiki (mutlak). Wallahu A'lam

Tuesday, July 31, 2012

Tausiyah Habib Ali Al Jufri di monas

Majelis Rasulullah SAW ~ Tausiyah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri (16 Juni 2012)
 

Habib Ali Al Jufri: Kelahiran Manusia Utama SAW

Assalamualaikum
Berikut adalah video dengan teks melayu dari ceramah Habib Ali Al Jufri tentang mawlidul rasul, peristiwa kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. semoga kita bisa mendapat tambahan ilmu dan meningkatkan kecintaan kita kepada Rasulullah Amin.
wassalam.

Sholawat Wasilah

Shalawat itu terdiri atas 20 bait dan dinamakan “Shalawat Wasilah”, yang dikarang oleh Sayid Salim bin Jundan. Adapun fadlilah dan faedahnya antara lain adalah untuk memohon keselamatan dan pertolongan kepada Allah dengan perantara Nabi hingga para Ulama dan para gurunya. Sebab shalawat tersebut antara lain berisi do’a dan permohonan dengan wasilah kepada Nabi dan para keluarga dan Sahabatnya, Hgulafaur Rasyidin, para Ulama dan para Hukama”.
SHALAATULLAH SALAAMULLAAH * ‘ALAA THAAHA HABIIBILLAH 
SHALAATULLAAH SALAAMULLAAH * ‘ALAA YAA SIIN RASUULILLAH
TAWASSALNAA BIBISMILLAAH, * WABIL HAADI RASUULILLAAH
WAKULLI ‘AARIFIN BILLAAH, * WA AHLILLAAHI YAA ALLAAH.

WABISH SHIDDIIQI ABII BAKRI, * KADZAA FAARUUQINAA ‘UMARI
KADZAA ‘UTSMAANA DZIN NUURI, * ‘ALIYYIR RIDLAA WALIYYILLAAH.

WABIL HASANAINI WA – UMMIHIMAA, * WA ANJAALIHIM HUMUL ‘ULAMAA’
KADZAA SAADAATINAL HUKAMAA, * RIJAALILLAAHI YAA ALLAAH.

BANII ‘ALWII SYUMUUSIL HUDAA, * SYUYUUKHIL, WARAANUJUUMIN NADAA
BIHIM NASLAM MIN KULLI ADZAA, * BIQADRILLAAHI YAA ALLAAH.

FAKAM MIN ZANBALIN MAQBUUR, * MINAL AQTHAABI WAL MASYHUUR
WAMAN NAADAA BIHIM MANSHUUR, * BI – IDZNILLAAHI YAA ALLAAH.

BISYAIKHINAA ‘ALIL HABASYI, * WANAJLIHID DAA’IL MUNSYII
WAMAN NAADAA BIDZIL ‘ARSYI, * SYAI – UN LILLAAHI YAA ALLAAH.

YAA SAADATII QAD ZURNAAKUM, * ARTAINAAKUM QASHADNAAKUM
WAMUNNUYU LANAA BISIRRIKUM, * BIFADL LILLAAHI YAA ALLAAH.

FASHALLI ‘ALAA ABIL QAASIM, * WA AALIHI BANII HAASYIM
WA’ITRATIHI DZAWIL AKAARIM, * WA ASH – HAABIHI KHAWAASHSHILLAAH.

FARHAM ‘UBAIDAKADZAN NAADHIM, * MINAL JUNDAANI SUMMII SAALIM
LAM YAZAL FIL KHAIRIL QAA – IM, * BIAMRILLAAHI YAA ALLAAH.

Artinya :
Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Thaha kekasih Allah,
Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap atas Nabi Yasin utusan Allah.

Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”, Dan dengan Nabi yang menunjukkan lagi utusan Allah,
Dan dengan semua orang yang berma’rifat kepada Allah, Serta ahli Allah ya Allah.

Dan dengan orang yang sangat benar, yaitu Abu Bakar Demikian pula kami berwasilah dengan sahabat Faruq kami, yaitu Umar,
Demikian pula dengan Utsman yang mempunyai nur, dan Sahabat Ali Ridla (bin Abi Thalib) kekasih Allah.

Dan dengan Sayidina Hasan Husain serta ibunya, Dan seluruh putra mereka yaitu para Alim Ulama,
Demikian juga kami berwasilah dengan penghulu kami para Hukama, para pemuka Agama Allah ya Allah.

Juga keturunan Sayid Alwi yang merupakan matahari petunjuk, yaitu para guru semua makhluk bagaikan bintang0bintang kebaikan dan keutamaan,
Dengan perantaraan mereka itu maka selamatlah kami dari segala yang menyakitkan, dengan takdir Tuhan ya Allah.

Maka tidak sedikit dimakam Zanbal (Hadlramaut) orang yang dikur, yaitu orang-orang yang menjadi pusaka kaum dan orang yang masyhur,
Adapun orang yang memohon dengan wasilah mereka, maka pasti ditolong; dengan idzin Tuhan ya Allah.

Dengan berkah guru kami Sayid Ali bin Abdurrahman Al-Habasyi, dan puteranya yang meyeru kepada kebaikan sebagai orator,
Dan degan berkah orang yang memohon kepada Tuhan yang memiliki ‘Arasy yaitu suatu makhluk milik Allah ya Tuhan.

Wahai para pemimpinku, sungguh aku telah mengunjungi kau, kami datang kepadamu dan kami bermaksud kepadamu,
Semoga engkau berkenan memberi keni’matan dengan rahasimu, dengan sebab keutamaan Tuhan ya Allah.

Maka limpahkanlah rahmat ya Allah untuk Abil Qasim (Nabi Muhammad), para keluarganya,
Keturunan Sayid Hasyim dan putra-putra Nabi yang Memiliki kemuliaan, beserta sahabat nabi pilihan Allah.

Maka sayangilah hamba-Mu yang membuat nadham ini, yaitu dari keturunan Jundan yang bernama Sayid Salim bin Jundan,
Semoga ia tak habis-habis dalam , Kebaikan, dan melaksanakan perintah Tuha ya Allah.

Sumber: adehumaidi.com/