Monday, July 18, 2011

Perbedaan Antara Karamah Dan Istidraj

Perlu diketahui bahwa siapa saja yang menginginkan sesuatu dan keinginannya itu dikabulkan oleh Allah, maka itu belum tentu menunjukkan bahwa ia seorang hamba yang mulia di sisi Allah, baik pemberian Allah tersebut sesuai atau berbeda dengan kebiasaan. Akan tetapi pemberian Allah tersebut bisa berarti penghormatan Allah untuk hamba-Nya (karamah) atau tipuan untuknya (istidraj). Dalam Al-Qur'an, istilah istidraj diungkapkan dengan beberapa istilah:

1. Al-istidraj, seperti dinyatakan dalam firman Allah:

Kami (Allah) akan memperdaya mereka secara berangsur-angsur dengan cara yang tidak mereka ketahui. (QS Al-A'raf [7]: 182)
Makna al-istidraj dalam ayat ini adalah Allah mengabulkan semua keinginannya di dunia agar pembangkangan, kesesatan, kebodohan, dan kedurhakaan mereka semakin bertambah, hingga setiap hari semakin jauh dari Allah. Pada praktiknya, menurut logika, mengulang-ulang perbuatan akan menyebabkan pelaku semakin kuat menguasai perbuatan yang diulang-ulangnya. Bila hati seorang hamba condong kepada dunia, kemudian Allah mengabulkan keinginannya, maka ketika itulah ia mencapai apa yang diinginkannya, sehingga akan diperoleh kenikmatan, dan adanya kenikmatan akan semakin menambah kecondongan kepada dunia, lalu kecondongan kepada dunia mengharuskannya untuk semakin keras berusaha untuk mencapai keduniaan. Selamanya, setiap tahapan akan mendorong kepada tahapan selanjutnya, dan setiap tahapan akan semakin menguat secara gradual. Sudah dimaklumi bahwa kesibukan orang terhadap kenikmatan yang menyenangkan ini akan menghalangi diri dari maqam-maqam mukasyafah (tingkat ketersingkapan cahaya) dan derajat ma'rifat, dan sudah tentu akan semakin menjauhkan diri dari Allah, setahap demi setahap hingga mencapai puncak kecondongannya kepada dunia. Inilah yang dinamakan istidraj.

2. Al-makr, seperti dinyatakan dalam firman Allah:

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga-duga? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS Al-A'raf [71: 99)
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Ali'Imran [31:54)
Mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar pula, sedang mereka tidak menyadari. (OS Al-Naml T271:50)

3. Al-kaid (tipu daya), seperti dinyatakan dalam firman Allah,

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (QS Al-Nisa' [4]: 142)

4. Al-imla (memberi tangguh), sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka bahwa masa penangguhan yang Kami berikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya dosa mereka bertambah. (QS Ali 'Imran [3]: 178)

5. Al-ihlak (siksaan), sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:

Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. (QS Al-An'am [6]: 44)
Dan dalam firman Allah tentang Fir'aun,
Dan berlaku angkuhlah Fir'aun dan bala tentaranya di bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukum Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami tenggelamkan mereka ke dalam lautan (QS Al-Qashash [28]: 39-40).
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa tercapainya keinginan seorang hamba tidak menunjukkan kesempurnaan derajat dan keberuntungan mendapat kebaikan.
Perbedaan antara karamah dan istidraj adalah bahwa pemilik karamah tidak begitu senang dengan karamah yang dimilikinya, bahkan karamah itu membuatnya semakin takut kepada Allah, kewaspadaannya terhadap siksa Allah semakin kuat, karena ia takut kalau-kalau hal tersebut merupakan istidraj. Sedangkan pemilik istidraj sangat senang dengan hal-hal luar biasa yang ada pada dirinya dan mengira bahwa karamah itu ada pada dirinya karena ia berhak memilikinya. Karena itu ia memandang rendah orang lain, membanggakan diri sendiri, dan merasa aman dari tipu daya dan siksaan Allah, dan tidak takut kepada siksa Allah. Jika sikap seperti ini muncul pada diri seorang pemilik karamah, berarti yang dimilikinya bukanlah
karamah tetapi istidraj.

Orang-orang yang berpegang pada kebenaran (Al-Muhaqqiqun) mengatakan bahwa ada kesepakatan bahwa keterputusan dari hadirat Allah sebagian besar terjadi dalam kondisi memiliki karamah. Tidak diragukan lagi, golongan Al-Muhaqqiqun takut kepada karamah, seperti rasa takut mereka kepada berbagai macam cobaan. Rasa senang kepada karamah dapat memutuskan jalan kepada Allah. Hal ini dapat dijelaskan dengan beberapa hujjah:
Hujjah pertama: Ketertipuan ini terjadi, ketika seseorang yakin bahwa dirinya berhak memperoleh karamah dan sekiranya ia bukanlah orang yang berhak mendapatkannya maka tidak akan muncul rasa bangga itu bahkan rasa bangganya itu muncul hanya karena karamah wali. Keutamaan karamahnya lebih besar daripada kebahagiaan karena karamah itu sendiri. Kebahagiaan dengan adanya karamah itu melebihi kebahagiaan pada dirinya sendiri. Jelas bahwa kebahagiaan karena adanya karamah tidak akan muncul kecuali dengan adanya keyakinan bahwa dirinyalah pemilik karamah itu dan yang berhak mendapatkannya. Ini adalah kebodohan yang nyata karena para malaikat saja berkata, Tidak ada yang kami ketahui kecuali dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami (QS Al-Baqarah [2]: 32). Dan Allah berfirman, Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya (QS Al-An'am [6]: 91). Ada dalil meyakinkan yang menyatakan bahwa makhluk tidak berhak mendakwakan kebenaran, maka bagaimana mungkin ada orang mengaku berhak mempunyai karamah.

Hujjah kedua: Karamah adalah sesuatu yang senantiasa tergantung pada Allah Swt. Rasa senang karena memiliki karamah adalah senang kepada sesuatu yang bukan haknya. Rasa senang kepada sesuatu yang
bukan haknya merupakan penghalang kebenaran, dan orang yang terhalang dari kebenaran bagaimana mungkin layak untuk senang dan bergembira?

Hujjah ketiga: Orang yang yakin bahwa dirinya berhak memiliki karamah karena merasa amal perbuatannya memiliki pengaruh besar dalam dirinya dan merasa bahwa perbuatannya bernilai atau berpengaruh pada dirinya adalah orang yang bodoh. Kalau saja ia mengenal Tuhan, ia pasti menyadari semua ketaatan makhluk di sisi Allah itu hanya sedikit, semua rasa syukur mereka atas anugerah dan nikmat-Nya itu juga sangat sedikit, dan semua pengetahuan dan ilmu mereka dibandingkan dengan keagungan Allah hanyalah kebingungan dan kebodohan saja.
Ketika Ustaz Abu 'Ali al-Daqaq mengkaji firman Allah yang berbunyi Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Fathir [35]:10), di majelisnya ia berkata, "Pertanda bahwa amalmu dinaikkan oleh Allah adalah jika kamu tidak mengingat-ingatnya. Jika kamu mengingat-ingat amalmu, berarti amalmu ditolak, sebaliknya bila kamu tidak mengingat-ingatnya, berarti amalmu diterima dan dinaikkan oleh Allah Swt."

Hujjah keempat: Pemilik karamah merasa bahwa karamah yang dimilikinya justru untuk memperlihatkan kerendahan hati dan ketundukan di hadapan Allah. Jika ia merasa bangga, tinggi hati, dan sombong disebabkan karamah yang dimilikinya, maka batallah segala sesuatu yang menyebabkannya menerima karamah. Sikap seperti inilah yang membuat pemilik karamah tertolak. Oleh karena itu, setiap kali Rasulullah Saw. menceritakan tentang manaqib (keistimewaan) dan keutamaan dirinya, beliau selalu mengakhirinya dengan kalimat, "Tiada kebanggaan," maksudnya "Aku tidak bangga dengan karamah yang kumiliki ini, yang aku banggakan adalah Zat yang memberi karamah."

Hujjah kelima: Kemunculan hal-hal luar biasa pada iblis dan bal'am begitu menakjubkan, tetapi kemudian Allah berfirman kepada iblis, Ia termasuk golongan kafir, kepada bal'am, Ia seperti anjing, dan kepada ulama Bani Israil, Perumpamaan orang-orang yang memegang Taurat, tetapi tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (QS Al-Jumu'ah [62]: 5), juga firman-Nya kepada Bani Israil, Orang-orang yang telah diberi Al-Kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, di antara mereka kemudian ada yang membangkang (QS Ali 'Imran [3]: 19). Jadi jelaslah bahwa kegelapan dan kesesatan yang menimpa mereka disebabkan karena rasa bangga dengan ilmu dan kezuhudan yang diberikan kepada mereka.

Hujjah keenam: Karamah bukanlah kemuliaan, dan segala sesuatu yang tidak mulia adalah kehinaan. Barangsiapa memuliakan kehinaan berarti ia hina, karena itu Nabi Ibrahim a.s. berkata, "Adapun bagi-Mu, itu tidak berarti apa-apa." Merasa cukup dengan kefakiran adalah fakir, takwa dengan kelemahan adalah lemah, merasa sempurna dengan kekurangan adalah kurang, bahagia dengan semua hal yang diperkenankan dan menerima seluruh kebenaran adalah sikap ikhlas. Fakir adalah ketika seseorang senang dengan kemuliaan yang menjatuhkan derajatnya. Jika seseorang melihat karamah, sesunggu-hnya setiap ia melihat keperkasaan niscaya ia melihat sang pemberi keperkasaan, dan setiap ia melihat ciptaan niscaya ia melihat penciptanya.

Hujjah ketujuh: Bangga terhadap diri dan sifat-sifatnya termasuk sifat-sifat iblis dan Fir'aun. Iblis berkata, Aku lebih baik daripada Adam (QS Al-A'raf [7]: 12) dan Fir'aun berkata, Bukankah kerajaan Mesir ini adalah kepunyaanku (QS Al-Zukhruf [43]: 51). Setiap orang yang mengaku nabi atau tuhan secara dusta, maka ia tidak memiliki tujuan apa-apa, kecuali untuk menghias diri, memperkuat ketamakan dan kebanggaan diri. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda, "Ada tiga hal yang merusak, yang terakhir adalah orang yang membanggakan diri."

Hujjah kedelapan: Allah berfirman, Berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur (QS Al-A'raf [7]: 144). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu apa yang diyakini (ajal) (QS Al-Hijr [15]: 99). Ketika Allah menganugerahkan karunia yang melimpah kepada kita, kita diperintah untuk menyibukkan diri dengan melayani Sang Pemberi, bukan malah bangga dengan karunia yang diberikan-Nya itu.

Hujjah kesembilan: Ketika Nabi Saw. disuruh oleh Allah untuk memilih antara menjadi raja yang nabi atau hamba yang nabi, beliau tidak memilih posisi raja, padahal tidak diragukan bahwa posisi raja yang meliputi daerah Timur dan Barat adalah kemuliaan, bahkan mukjizat. Namun Nabi Saw. meninggalkan singgasana dan memilih penghambaan ('ubudiyah)kepada Allah. Sebab ketika menjadi seorang hamba, kebanggaannya diarahkan kepada tuannya. Tetapi ketika menjadi raja, kebanggaannya diarahkan kepada budaknya. Ketika Nabi Saw. memilih penghambaan, sudah tentu dia menjadikan sunnah sebagai peng-
hormatan seperti yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud, "Aku bersaksi bahwa Muhammmad Saw. adalah hamba dan utusan-Nya." Allah berfirman tentang mi'raj Nabi Saw., Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (QS Al-Isra' [17]: 1)

Hujjah kesepuluh: Mencintai tuan itu tidak ada artinya, mencintai sesuatu demi tuan juga tidak ada artinya. Barangsiapa mencintai, maka ia tidak akan senang dan gembira selain dengan kekasihnya. Kesenangan dan kegembiraan dengan selain Allah menunjukkan bahwa ia tidak mencintai tuannya, tetapi ia hanya mencintai bagian dari nafsunya sendiri dan bagian dari nafsu hanya dituntut oleh nafsu. Orang seperti ini hanya mencintai dirinya sendiri. Sebenarnya ia tidak mencintai tuannya, ia hanya menjadikan tuannya sebagai sarana untuk memperoleh apa yang dicarinya. Berhala besar adalah nafsu, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (QS Al-Furqan [25]: 43). Manusia seperti ini adalah hamba berhala agung hingga para muhaqqiqin mengemukakan bahwa mudarat karena menyembah berhala tidak sebesar mudarat karena menyembah nafsu, rasa takut karena menyembah berhala tidak sebesar rasa takut karena merasa bangga dengan adanya karamah.

Hujjah kesebelas: Allah berfirman, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya (QS Al-Thalaq [65]: 2-3). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak bertakwa dan bertawakkal kepada Allah, maka tidak akan memperoleh apa-apa dari perbuatan dan keadaan mereka itu.

Sumber : KAwan Sejati
Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani

Sufi Road : AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani Rahmatullah‘alaih.

Perjalananya
Beliau menerima Tarbiyah Suluk dari Ruhaniah Syeikh Abu Yazid Al-Bistami karana kelahiran Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani adalah hampir setengah abad sesudah meninggalnya Syeikh Abu Yazid Al-Bistami . Pada setiap tahun sekali telah menjadi kebiasaan bagi Syeikh Abu Yazid Al-Bistami untuk pergi menziarahi Kubur Para Auliya dan orangorang
yang mati Syahid di Daghistan. Ketika beliau tiba di Kharqan, beliau menarik nafas panjang seolah-olah menghirup bau bunga yang wangi.

Ketika Syeikh Abu Yazid Al-Bistami ditanya oleh murid-murid beliau apakah yang dihirupnya dan dari manakah datangnya bau wangi itu?
Beliau menjawab, “Bahwa akan datang di bandar ini kelahiran seorang hamba Allah yang mendapat keharuman dari Allah Ta’ala bernama ‘Ali dan nama Kuniyatnya adalah Abul Hassan yang peringkat Keruhaniannya akan lebih tinggi dariku tiga
kali ganda dan dia akan menghabiskan hayatnya dengan keluarganya dan bertani. Dia akan lahir seratus tahun sesudahku.”

Setelah beberapa tahun kemudian Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun lahir.Setelah sampai usianya dua puluh tahun, setiap hari dia pergi mengunjungi Maqam Syeikh Abu Yazid Al-Bistami setelah menunaikan Solat.

Di Maqam Kubur Syeikh Abu Yazid Al-Bistami beliau berdoa,
“Ya Allah, kurniakanlah kepaaku sebahagian daripada Keruhanian yang Engkau beri kepada Abu Yazid.” Setelah dua belas tahun beliau berbuat demikian,maka pada suatu hari semasa pulang dari Maqam itu, beliau merdengar satu suara dari Maqam itu berkata,
“Abul Hassan, semua Keruhanianku adalah hadiahmu kepaaku.”
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab, “Tuan, saya lahir tiga puluh sembilan tahun Setelah tuan, bagaimana saya menghadiahkan Keruhanian saya
kepada tuan?”
Suara itu berkata lagi,“Aku telah terhalang dalam perjalanan Keruhanianku, maka aku berdoa kepada Allah meminta halangan itu dibuang. aku merdengar suara Ketuhanan berkata, “Berdoalah kepada Nur yang akan meliputi kamu apabila kamu melawat Kharqan kali ini.” Saat aku sampai di Kharqan, aku benar-benar bertemu dengan nur itu yang meliputi dari bumi sampai ke langit. aku berdoa kepadaNya seperti disuruh oleh Allah, maka dari semenjak itu terhapuslah halangan itu.”

Ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pulang setelah peristiwa itu, beliau terasa mendapat kurnia dalam dirinya. Beliau dapat menghabiskan bacaan Al-Quran dalam dua puluh empat jam, padahal beliau tidak bisa membaca sebelum peristiwa
itu. Beliau merupakan seorang Syeikh yang agung dan menerima kedudukan yang terpuji di kalangan sekelian Para Auliya pada zamannya.

Syeikh Abu Sa’id, seorang Ahli Sufi yang masyhur pada ketika itu pernah menziarahinya dan mereka telah banyak bermuzakarah antara satu sama lain tentang berbagai masalah.Pada suatu ketika sedang mereka berbicara karena
keadaan dzauq, Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah memeluk Syeikh SyeikhAbu Sa’id . Setelah kembali ke tempatnya,Syeikh Syeikh Abu Sa’id telah menghabiskan masa malam itu dengan bertafakkur, sambil duduk melutut dan juga dia menjerit dalam keadaan mabuknya.
Pada keesokan harinya, Syeikh Syeikh Abu Sa’id menemui Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan meminta supaya beliau mengambil balik percikan cahaya Keruhanian yang tersinar dalam dirinya itu akibat pelukan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani karana katanya, beliau masih belum mencapai maqam seperti yang dicapai oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan beliau tidak tahan dengan keadaan yang terlalu tinggi itu. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun memeluk beliau sekali lagi dan kembalilah Syeikh Syeikh Abu Sa’id sepertimana biasa.
Ketika Syeikh Syeikh Abu Sa’id hendak pergi, beliau telah berkata kepada Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani ,aku memilih kamu untuk menjadi Khalifahku.”Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani lalu memberitahu Syeikh Abu Sa’id seperti berikut,
“aku akan jadikan kamu seorang yang tinggi karena Allah telah mengurniakan kamu kepaaku setelah aku berdoa kepadaNya memohon Dia memberi kepaaku seorang sahabat yang dapat aku berbincang tentang hal-hal Keruhanian dengannya. Syukurlah, Allah telah mengkabulkan permohonan itu.”

Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih meriwayatkan bahwa beliau mendengar dari Syeikh Hassan Mu’addib yang merupakan seorang juru khidmat bagi Syeikh Syeikh Abu Sa’id bahwa apabila Syeikh Syeikh Abu Sa’id datang menghadirkan diri disamping Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani, dia tidak akan mengucapkan sebarang perkataan tetapi hanya mendengar dan hanya akan
menjawab dengan apa yang telah diucapkan oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah bertanya kepada Syeikh Abu Sa’id , mengapakah beliau sentiasa mendiamkan diri? Syeikh Abu Sa’id Rahmatullah
‘alaih menjawab,“Seorang penerjemah adalah mencukupi untuk satu judul.”
Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih juga telah meriwayatkan bahawa beliau telah mendengar Syeikh Abul-Qasim Qusyairi berkata,
“Apabila aku tiba di Kharqan, kelancaranku mulai keluar dan aku tidak lagi memiliki daya dan upaya untuk menerangkan keadaan diriku di sebabkan amalan yang telah
diberikan oleh pembimbing Keruhanian, dan aku menyangka bahawa aku telah dilucutkan dariKewalianku.”

KERAMAT KEBESARANNYA DANKEBESARAN KERAMATNYA

PADA suatu hari, Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menggali tanah di rumahnya.
Tiba-tiba uang perak keluar. Ditutupnya tempat itu. Digali pula di tempat lain dan di situ keluar pula emas. Ditutupnya lubang itu juga. Pada kali ketiganya keluar pula intan.Lubang itu juga ditutupnya. Digalinya di tempat yang keempat, maka keluar pula berlian. Itu pun ditutupnya.Kemudian Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berdoa, “Ya Allah, walaupun aku dapat seluruh harta Dunia ini dan harta di Akhirat kelak, namun tidak akan aku tukarkan dengan wajahMu.”

Pada suatu hari, seorang Sufi duduk di samping Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-harqani
sambil menunjukkan keramatnya dengan mengeluarkan seekor ikan hidup dari seember air yang diletakkan di hadapan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani . Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani meletakkan tangannya dalam api dapur yang menyala di hadapannya dan mengeluarkan ikan hidup dari dalam api itu. Kemudian,
orang itu meminta Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani melompat dengannya ke dalam api itu dan lihatlah siapa akan hidup setelah masuk kedalam api itu.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,“Menunjukkan keramat itu tidaklah baik. Marilah kita tenggelamkan diri kita dalam lautan Wujud Fana dan timbul semula dengan memakai pakaian Wujud Baqa.” Orang Sufi itu pun diam.

Pada suatu saat, sebelum mulai berjalan menunaikan Haji, beberapa orang telah berjumpa dengan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan bertanya kepadanya apa yang mereka akan mereka lakukan sekiranya ada perampuk menyerang mereka. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,
“Ingatlah aku pada waktu itu.”Dalam perjalanan itu, Kafilah yang mereka sertakan itu
diserang oleh perampok. Semua orang dalam Kafilah itu dirompak oleh perampok kecuali seorang yang ingat pada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
Pada saat orang itu ingat kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani , nampak olehnya Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berada dihadapannya. Orang itu dan barang-barangnya tidak kelihatan oleh perampok itu. Maka dia pun selamat. Setelahkembali, orang-orang bertanya kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani kenapa mereka tidak diselamatkan pada hal mereka berdoa kepada Allah? Sedangkan orang itu hanya meminta pertolongan kepada beliau.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata,
“Kamu semua hanya menyebut Allah di mulut saja, tetapi aku mengingatNya dengan seluruh jiwa ragaku. Olehitu, jika kamu semua mengingatiku, aku akan mengingati
Allah bagi pihak kamu semua dengan seluruh hati dan jiwa, dan permintaan kamu akan dikabulkan. Tetapi jika kamu semua hanya menyebut Allah di bibir saja tanpa terhunjam sepenuhnya dalam hati, maka permohonan kamu tidak akan mendatangkan hasil.”
Seorang Murid Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani meminta kebenaran beliau
hendak pergi ke Iraq untuk belajar Hadits, karena tidak ada guru yang pakar di tempat beliau itu.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata,
“Aku akan ajarkan kepada kamu sebagaimana aku belajar langsung dari Rasulullah.”
Murid itu tidak percaya dengan perkataan beliau itu. Tetapi saat dia tidur, dia melihat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata bhawa apa
yang dikatakan oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu adalah benar. Maka mulailah Murid itu belajar Hadits pada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Dalam pengajarannya, Ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata bahawa Hadits itu telah salah.Murid itu bertanya kenapa Hadits yang demikian itu salah? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,“Nabi sentiasa bersama aku pada saat aku mengajar engkau. Apabila satu Hadits salah dinyatakan, mukanya
berubah tanda tidak setuju. Dari situlah aku tahu sama ada apakah satu Hadits itu betul atau tidak.”
Suatu ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani hadir dan mengambil bahagian
dalam upacara Sama’ iaitu tarian muzik Keruhanian di rumah seorang hamba Allah. Dalam Sama’ itu beliau telah sampai kepada keadaan dzauq mabuk Allah dan memukul tanah dengan kakinya tiga kali. Dinding rumah itu bergoyang dan orang lain merasai seolah-olah dinding itu telah menari bersamanya serta juga tanah di situ. Setelahbeliau sadar semula, beliau ditanya kenapa beliau berbuat
demikian? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,
“Sama’ ialah bagi mereka yang dalam keadaan itu telah dibawa ke tingkat Ruhaniah yang tinggi di mana semua hijab tersingkap dan mereka dapat melihat Alam Malaikat.”
Satu hari, seorang telah datang kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
dan meminta kepada beliau hendak memakai pakaiannya agar dia dapat menjadi seperti Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani juga. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani bertanya,“Bolehkah perempuan yang memakai baju lelaki menjadi lelaki atau orang lelaki memakai baju perempuanmenjadi perempuan?”
Orang itu berkata tidak boleh, lalu Syeikh abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun berkata,
“Jika itu tidak mungkin, bagaimana kamu memakai pakaianku boleh menjadi diriku?”
Seorang ‘Alim telah bertanya kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan meminta beliau memberi ahan kepadanya. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
berkata,“Serulah manusia ke Jalan Allah dan janganlah panggil mereka kepada diri kamu sendiri. Jika seorang‘Alim itu dengki kepada seorang ‘Alim yang lain yang
menjalankan tugas sepertinya juga iaitu mengajak manusia ke Jalan Allah, maka itu berarti dia bukan mengajak manusiake Jalan Allah tetapi adalah kepada dirinya sendiri. Jikatidak, apakah sebabnya dia dengki?”

Pada suatu ketika, Syeikh Abu Sina Rahmatullah‘alaih datang melawat Syeikh Abul Hassan ‘AliAl-Kharqani . Bila sampai ke rumahSyeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
, beliau memanggil tuan rumah itu.Datanglah isteri Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-
Kharqani . Isteri Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani mengatakan Syeikh Abu Sina itu sebagai seorangkafir dan meminta beliau jangan memanggil Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani karena dia telah pergi mencari kayu api ke dalam hutan.
Syeikh Abu Sina pergi mencari Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan dilihatnya seekor singa membawa kayu api Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu. Syeikh Abu Sina menundukkan kepadalanya tanda hormat kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Dalam perbincangan mereka Syeikh Abu Sina bertanya kenapa isteri Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani mengatakanya kafir? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-
Kharqani menjawab bahawa jikalau beliau tidak sabar terhadap isterinya itu, tentulah beliau tidak dapat menguasai singa itu. Pada malam itu mereka pun bicara tentang hal-hal Keruhanian dan Kesufian.
Keesokan harinya tatkala Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani memperbaiki
dinding rumahnya, sekeping besi yang dipegangnya itu terjatuh. Sebelum beliau tunduk mengambil keeping besi yang terjatuh itu, besi itu melayang sendirinya pergi ketangan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
.
Dengan itu kepercayaan Syeikh Abu Sina tentang ketinggian Ruhaniah Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani bertambah teguh dan semua prasangkanya tentang ketinggian Ruhaniah Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu pun hilang dan lenyap.

AJARAN KEUNGGULANNYA DANKEUNGGULAN AJARANNYA

SYEIKH Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah berkata,
“Terdapat dua jalan, satu adalah salah dan satu adalah betul. Jalan yang salah ialah jalan manusia kepada Tuhan dan jalan yang betul ialah jalan Tuhan kepada manusia. Barangsiapa yang berkata bahwa dia telah mencapai Tuhan sebenarnya masih belum mencapainya, akan tetapi apabila seseorang berkata bahawa dia telah dijadikan untuk mencapai Allah, ketahuilah bahawa dia benar-benar telah mencapaiNya.”
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah memberitahu kepada seorang
dari Murid kesayangannya, “Pada pandangan Dunia, Abu Yazid telah mati, tetapi
pada pandanganku dia masih hidup dan mengetahui semua gerak-geriku.”

Antara kata-kata hikmah Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani yang berisi
pengajarannya seperti berikut:
1. “Carilah Rahmat Tuhan karena ianya melampaui azab Neraka dan nikmat Syurga.”
2. “Masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang itu adalah hijab. Bila hijab ini disingkap, engkau bisa lihat semua.”
3. “Menganggap diri sendiri itu seorang Sufi adalah satu anggapan yang besar. Sekurang-kurangnya dia bukanlah sufi.”
4. “Orang yang menunjukkan keramatnya adalah dilemparkan jauh dari Syeikh Allah.”
5. “Apabila seseorang itu betul-betul dengan ikhlas menuju Allah dan mati dalam diri mereka, maka Allah akan ditemui.”
6. “Seorang Muslim itu tidaklah terpuji karana dia berpuasa dan beribadah tetapi dia terpuji karena dalam catatan amalannya dia tidak ada berdosa semasa hidupnya. Apabila peringkat itu tercapai, dia akan takut kepada Allah dan berada dalam sopan santun dan merendahkan diri.”
7. “Barangsiapa dengan kehendak Allah dapat melihat Tuhan, dia tidak nampak yang lain. Orang yang sampai kepada Allah akan lenyaplah dirinya.”
8. “Pahlawan Tariqat itu mati walaupun dia hidup di Duniaini.”
9. “Wahai Salik, janganlah menganggap kamu telahmendapat Nur, sehingga belum kamu mengalami tujuhpuluh tahun apa yang dialami semasa aku beribadah di Khurasan sambil rukuk menghadap Mekkah dan semua harta bumi dan langit diletakkan dihadapan kamu, tetapi meskipun begitu kamu tetap tidak terpengaruh olenya dan terus merendahkan diri kepada Allah karena takut Allah tidak akan menerima ibadatmu.”
10. “Banyak orang bertawaf keliling Ka’abah, tetapi ada jugayang bertawaf keliling langit dan Syurga, namun begitu yang lebih agung dan terpuji ialah mereka yang bertawaf keliling Tauhid.”
11. “Benda-benda mula dicari dalam Dunia dan kemudian didapati, tetapi Allah dijumpai dahulu dan kemudian dicari.”
12. “Ada hamba-hamba Allah itu yang menjadi kekasihNya. Apabila mereka memanggil Nama Allah, semua burungburung
dan binatang-binatang tegak berdiam diri,Malaikat terketar, langit dan bumi akan bercahaya.Demikianlah agungnya menyebut Nama Allah itu oleh mereka hinggakan bumi bergoyang.”
13. “Tidak ada orang yang dapat menempuh jalan menuju Allah itu tanpa pertolonganNya. Dengan kesungguhan dan daya sendiri saja tidak akan berhasil.”
14. “Hiduplah dalam Dunia ini tanpa dosa.”
15. “Sentiasalah berada di samping Allah dan bukan disamping alam, karena seseorang itu sentiasa berdampingan dengan sahabatnya, dan tidak ada sahabat
yang lebih agung dari Allah.”
16. “Setengah daripada sahabat-sahabat Allah itu dapatmembaca apa yang tertulis dalam Taqdir meskipun mereka berada dalam Dunia ini.”
17. “Allah kurniakan rindu dendamNya kepada mereka yang dilimpahiNya Nur.”
18. “Wali Allah itu bukanlah makhluk atau pun insan Dunia ini.”
19. “Orang yang mencapai Allah dalam hidup yang sekarang ini dan tidak menangguhkan perjumpaan dengan Allah itu hingga setelah mati, maka dia itulah sebenarnyakekasih Allah.”
20. “Apabila Allah membawa seseorang itu ke JalanNya,maka dia akan sampai ke lembah Tauhid, tidak ada yang tahu keadaannya kecuali Allah.”
21. “Hati yang rindu kepada Allah itulah hati yang paling baik.”
22. “Apabila sakit, Allah itulah menjadi Tabib.”
23. “Barangsiapa hendakkan Syurga akan terhindar dari RahmatNya. Orang yang sentiasa berkhalwat dan menyingkirkan diri dari segala makhluk dan terus
mematikan dirinya, maka terbukalah hijab yang melindungi pandangannya dengan Tuhan.”
24. “Barangsiapa mencari keduniaan akan diperhambakan oleh Dunia. Tetapi barangsiapa menyingkirkan keduniaan, maka Dunia ini akan menjadi hambanya.”
25. “Jika dalam sesuatu masyarakat itu ada orang yang dikurniakan Allah dengan Nur dan kehampiran denganNya, maka Allah dengan RahmatNya akan mengampunkan dosa yang dilakukan oleh masyarakat itu.”
26. “Orang Darwish tidak menumpukan pandangannya kepada Dunia ini atau Akhirat.”
27. “Hanya orang yang bercita-cita tinggi itu mencapaiTuhan.”
28. “Nama Allah itu hendaklah disebut berulang-ulang setelah mematikan diri.”
29. “Hapuskan dosa dan sembahlah Allah, maka Allah akan ditemui.”
30. “Tiap-tiap orang hendak membawa sesuatu dari Dunia ini ke Akhirat, tetapi tidak ada apa-apa dalam Dunia ini yang bisa mencari jalan ke sana kecuali Fana tidak ada diri.”
31. “Takutlah Allah dan serulah Dia, dan kamu akan ditempatkan dalam keadaan Fana.”
32. “Di antara beribu-ribu orang yang menjalani jalan yang diterangkan oleh Al-Quran itu, ada seorang yang jalannya diikuti oleh Al-Quran itu sendiri, iaitu tiap-tiap
lakuannya bersesuaian dengan apa yang diterangkan oleh Al-Quran.”
33. “Orang Sufi tidak perlu cahaya matahari dan bulan karena Cahaya Allah yang ada padanya itu lebih terang dari segala cahaya.”
34. “Jalan itu akan dipendekkan oleh Allah bagi mereka yang dibimbingNya.”
35. “Makan dan minum Auliya Allah itu ialah mengenang Allah dan membicarakan tentang Allah.”
36. “Tuhan Allah itu menjadi benar-benar cahaya mata hamba-hambaNya.”
37. “Sebahagian kecil daripada Cinta Allah itu turun ke Dunia dan mencari tiap-tiap hati dalam Dunia, dan didapati tidak ada yang upaya memegangnya. Maka kembalilah ia kepada Allah.”
38. “Setelah tiap-tiap seratus tahun, satu jiwa yang sempurna akan lahir ke Dunia.”
39. “Orang yang bertemu dengan Allah itu akan mati dirinya.”
40. “Siapa yang hatinya kasih sayang kepada selain dari Allah,meskipun dia melakukan Ibadat dan bermujahadah sepanjang hidup, namun semua itu tidak akan diterimaAllah dan hatinya itu tetap tinggal mati.”
41. “Hijab yang paling besar antara insan dengan Tuhanialah Hawa Nafsu.”
42. “Kegiatan yang paling besar ialah mengenang Allah. Setelah itu ialah kesucian hidup, bersedekah danbersikap Zuhud.”
43. “Pada segi Keruhanian, duduk bersama di majlis AuliyaAllah itu adalah satu amalan yang terpuji.”
44. “Bersama di majlis Auliya Allah itu adalah satu kurniaanAllah yang besar.”
45. “Kamu melakukan Ibadat yang paling besar jika kamu dapat melarikan diri dari keduniaan.”
46. “Ka’abah yang paling besar itu ialah memandang wajah Allah.”
47. “Apabila sepuluh kali Si Salik itu merasai racun dengan
gembira dan rela, maka pada kali ke sebelas rasa gula akan diberi kepadanya. Di awal perjalanan Si Salik itu akan diuji dan ditapis.Setelah itu akan dikurniakan
kehampiran dengan Allah.”
48. “Kamu akan berjaya mencapai Allah setelah kamu diberiNya kekuatan untuk mencapaiNya dan itu pun dengan kehendakNya .”
49. “Orang yang mengorbankan kemuliaannya karena Allah,maka Allah akan memberinya pakaian KemuliaanNyasendiri.”
50. “Allah akan ditemui apabila Aku dimatikan.”
51. “Orang yang mengatakan dia mendapat Nur dan kemudian menyibarkan kepada orang ramai banyak adalahsebenarnya dia tidak ada Nur itu karena perbuatan
demikian itu adalah hijab juga.”
52. “Teruskan melakukan latihan Ruhaniah itu sehingga latihan Ruhaniah itu sendiri meninggalkan kamu.”
53. “Mematuhi kehendak Ruhaniah itu adalah lebih baik dari melakukan banyak latihan.”
54. Sekiranya setitik saja Rahmat Allah itu jatuh kepada kamu, nescaya kamu tidak akan mau apa-apa lagi dalam Dunia ini, bahkan tidak mau bercakap atau mendengar orang lain.”
55. “Ingat kepada Allah itu lebih tajam daripada tikaman seribu pedang sekali gus.”
56. “Apabila kamu melihat wajah Allah, kamu tidak akan melihat yang lain lagi sepanjang masa.”
57. “Seseorang itu hendaklah berlatih sepenuhnya selama empat puluh tahun dan kemudian bolehlah mengharapkan hasil yang memuaskan. Sepuluh tahun
melakukan latihan Keruhanian itu ialah untuk membetulkan kesalahan lidah, sepuluh tahun lagi untuk mengurangkan gemuk badan, sepuluh tahun untuk membetulkan kesalahan hati dan sepuluh tahun lagi untuk membetulkan segala kejahatan yang lain itu.”
58. “Sedikit ketawa dan banyak tangis, makan dan tidur
59. “Malanglah orang yang hidup dalam Dunia ini tanpa bercakap dengan Allah.”
60. “Jalan Ma’rifatullah itu ialah untuk orang-orang yang suci dan mabuk dalam Allah, karena bercakap dalam dzauq dengan Tuhan itu sangatlah berbahagia.”
61. “Ingat dan kenanglah Allah sentiasa.”
62. “Apabila seseorang itu menyebut Nama Allah, lidahnya terbakar dan tidak dapat menyebut nama itu lagi. Jika terlihat ia menyebutnya, maka sebenarnya memuji Dia.”
63. “Kemarahan api perpisahan dengan Tuhan itu sangatlah panas hingga jika ia terlepas dari hati orang yangmengandungnya, seluruh Dunia ini akan hangus. Tidak
lain kehendak hati orang-orang yang demikian itu ialah hendak mengenang Allah tetapi mereka dapati mereka tidak dapat berbuat demikian.”
64. “Jika hatimu terpaku pada Tuhan, seluruh Dunia tidak akan dapat memudharatkan kamu jika mereka semuanya menjadi musuhmu.”
65. “Melihat Allah beserta dengan dirimu ialah Fana dan melihat Allah saja tanpa dirimu ialah Baqa.”
66. “Bergaullah dengan orang yang hatinya terbakar dalam cinta kepada Allah dan tenggelam dengan rindu dendam kepadaNya.”
67. “Jangan buat kegiatan lain kecuali mengingat nama Allah dan jangan ingat apa-apa kecuali Dia.”
68. “Bersama dengan Allah seketika adalah lebih bernilai daripada beribadat sepanjang hayat karena keduniaan.”
69. “Tiap-tiap makhluk itu adalah hijab dan jarring kepada Salik yang ikhlas. Tidak diketahui bagaimana dan kapanseseorang itu bisa terjerat pada mereka itu.”
70. “Walaupun sekali dalam seumur hidup kamu membuatkan Allah murka, maka wajarlah kamu memohon ampun sepanjang hidup kepadaNya, karena
meskipun Dia ampunkan kamu, namun dalam hati masih terasa yang kamu telah menimbulkan kemurkaan Tuhandan tidak mematuhi Dia.”
71. “Orang yang paling baik dalam menghampirkan diri dan mengabdi kepada Ilahi ialah orang yang buta tidak melihat yang lain kecuali Allah, tuli tidak mendengar
yang lain kecuali Allah dan bisu tidak bercakap kecuali tentang Allah.”
72. “Allah telah mengurniakan sesuatu masalah kepada kita dan setelah mendampingkan kita dengan masalah itu, Dia pun menghilangkannya dari kita. Maka sewajarnyalah kita membuang semua masalah keduniaan dan berdampingan dengan Dia, agar Dia tidak jauhkandiriNya dengan kita.”
73. “Banyak orang yang berjalan-jalan di jalan tetapi mereka mati. Banyak juga yang telah berkubur tetapi mereka masih hidup.”
74. “Orang yang cinta kepada Allah itu ialah orang yang hatinya hancur lebur menjadi abu karena Allah.”
75. “Tinggalkan semua Ibadat dan dosa, dan tenggelamkan dirimu dalam lautan RahmatNya.”
76. “Manusia melihat Allah di Akhirat dengan mataKetuhanan.”
77. “Makin kuat kamu berkhidmat dengan gurumu, makin tinggi naik taraf ruhaniahnya.”
78. “Badan, lidah dan hati tidak ada paaku, hanya Allah saja dalam diriku.”
79. “Banyak orang yang beribadah dan beribadat dalam Dunia ini, tetapi sedikit benar yang membawa hasilnya bersama mereka ke Akhirat.”
80. “Ahli Dunia mendapat apa yang tercatit dalam nasib mereka, tetapi Auliya Allah mendapat apa yang tidak
tercatit dalam nasibnya.”
81. “Di jalan Tuhan, tidak ada yang lain kecuali Tuhan.”
82. “Menangislah dalam Dunia agar kamu ketawa di Akhirat kelak.”
83. “Apabila hamba itu Fana, dia akan diberi pakaian Baqa.”
84. “Dalam peringkat Ruhaniah yang paling tinggi, dahaga terhadap Allah itu sangat kuat dalam diri si hamba hinggakan jika air dari semua sungai diberi kepadanya
tidaklah dapat menghilangkan dahaganya itu bahkan bertambah dahaga lagi. Si hamba seperti ini memutuskan segala perhubungan dengan alam dan tidak pernah
megah dengan keramat yang mengalir keluar tanpa disedarinya daripada dirinya.”
85. “Gelar paling bagus untuk si hamba Allah ialah ‘Abdullah.”
86. “Untuk si Mukmin, tiap-tiap tempat itu adalah Masjid dan tiap-tiap hari itu adalah hari Jumaat.”
87. “Jangan biarkan pengemis pulang dengan tangan kosong dari rumahmu, berilah dia sesuatu walaupun kamu berhutang untuk itu.”
88. “Layanlah tetamu kamu dengan sebaik-baiknya.”
89. “Ada tiga hal keadaan yang terakhir dalam Keruhanian. Pertama kamu anggap diri kamu sebagaimana Tuhan menganggap kamu. Kedua, kamu menjadi kepunyaan Dia dan Dia menjadi kepunyaan kamu. Ketiga, kamu lenyap dan hapus dan Dia saja yang mengisikan kamu.”
90. “Sebelum kamu mati, kamu mestilah berusaha untuk mencapai tiga masalah. Pertama, dalam cintamu kepada Allah kamu menangis sebanyak-banyaknya hingga
airmata darah mengalir dari matamu. Kedua, karena takutkan Allah hinggakan air kencing kamu menjadi berupa darah. Ketiga, berjaga malam hingga kurus kering
badan kamu.”
91. Berdampinglah dengan Allah saja dan janganlah berkeinginan hendak bertemu dengan makhluk, walaupun makhluk itu Khidhr. Adakah kamu jemu berdamping dengan Allah maka kamu hendak berdamping pula dengan makhluk? Sepatutnya engkau hanya rindukan hendak berdampingan dengan Allah saja tiada yang lain.”
92. “Makhluk itu ditakluki oleh waktu atau masa dan Aku ini Tuhan bagi masa itu.”
93. “Apabila aku telah Fana, aku lihat diriku dibalut oleh Wujud Ketuhanan tetapi apabila aku pandang diriku,Fana itu pun terjatuh dari aku.”
94. “Apabila aku melampaui diri sendiri (ego), air tidak boleh melemaskan aku dan api tidak boleh membakar aku. Kemudian selama tiga bulan empat hari aku tidak
makan dan dapat menghadapi semua ujian.”
95. “Kebaikan itu adalah Sifat Allah saja, kita tidak boleh mengatakan kita baik.”
96. “Wahai Salik, jika kamu ingin menjadi pakar keramat,maka mulalah berpuasa tiap-tiap tiga hari sekali. Setelah itu empat belas hari terus-menerus. Setelah itu berpuasa selama empat puluh hari terus-menerus. Setelah itu berpuasa selama empat bulan. Akhirnya berpuasalah selama satu tahun penuh. Maka kamu akan capai satu peringkat di mana kamu akan lihat masalah Ghaib yang memegang sesuatu dengan mulutnya yang rupanya seperti ular. Jika kamu makan benda itu, kamu tidak akan berasa lapar selama-lamanya. Bila aku mula berpuasa, datanglah benda yang berupa ular itu. Aku enggan menerimanya karena itu akan menghalang aku dari mendapat Rahmat Tuhan. Aku berdoa kepada Allah supaya mengurniakan aku apa yang Dia kehendaki terus langsung dan bukan melalui perantara. Tuhan berfirman,
“Setelah ini kamu akan berasa kenyang dan tidak dahagatanpa makan dan minu m apa pun.” Maka aku pun tidak lagi berasa lapar dan dahaga. Aku pun diberi makan
secara Ghaib ini tetapi rasanya manis seperti madu danwangi seperti kasturi. Dunia tidak tahu dari mana aku dapat makan.”
97. “Selagi aku memandang kepada pertolongan yang lain dari Allah, maka selagi itulah aku tidak berjaya dalam Ibadatku. Tetapi bila aku putuskan perhubungan dengan makhluk dan berharap kepada Allah saja, maka aku dapati segala rintangan dalam perjalanan Keruhanianku itu hilang lenyap dengan kurnia Allah dan tanpa dayausaha dari diriku dan hasilnya sangatlah besar dan memuaskan.”
98. “Ketahuilah luas kasih sayang Tuhan itu. Jika dosa seluruh Dunia ini ibandingkan dengannya adalah tidak lebih dari sebutir pasir saja.”
99. “Aku minta jangan ada hendaknya Neraka dan Syurgaagar manusia cinta kepada Allah karena Allah saja.”
100. “Jalan-jalan menuju Allah itu tidak terkira dan tidak terhad. Bolehlah dikatakan banyaknya itu seperti banyaknya makhluk ini. Tiap-tiap orang berjalan di jalan
itu menurut daya upayanya. Aku telah menjalani hampir jalan-jalan itu dan aku dapati ada orang yang berjalan di jalan-jalan tersebut. Tidak ada jalan yang kosong dan tidak ditempuhi orang. Kemudian aku berdoa kepada Allah, “Tunjukilah kepaaku jalan yang tidak ada orang menempuhinya dan tidak ada di jalan itu kecuali Engkau dan aku saja.” Allah tunjukkan kepaaku jalan rindu dendamnya jiwa. Ini barerti barangsiapa hendak berjalan di jalan Cinta Allah ini hendaklah jangan takut susah payah yang akan menimpanya dalam perjalanan itu. Hendaklah patuh sepenuhnya menurut perintahNya dan ingat kurniaNya dan sentiasa bersyukur kepadaNya.”
101. Orang yang dipandang penakut oleh Dunia ini adalah berani pada pandangan Tuhan dan orang yang penakut pada pandangan Tuhan itu ialah orang yang
dipuji dan dipuja oleh Dunia sebagai pahlawan.”
102. “Apa yang aku ceritakan kepada kamu adalah perutusan dari Allah, ianya sangat suci dan Dunia tidak boleh mengatakan itu haknya.”
103. “Apa saja keutamaan Ruhaniah yang aku capai adalah hasil dari memencilkan diri dan menututp mulutku.”
104. “Suara Ketuhanan berkata, “Abul Hassan, patuhlah kepaaku karena Aku hidup tanpa mati. Jika kamu patuh kepaaku, maka Aku akan kurniakan kepadamu
hidup yang kekal. Janganlah hampir kepada masalah yang aku larang.”
105. “Dengan kurnia Allah, diberinya aku peringkat Ruhaniah yang lebih tinggi dari yang dikurniakanNya kepada Abu Yazid.
106. “Aku ini bukan menetap dan bukan pula dalam perjalanan. Peringkat ini lebih rendah dari peringkat yang aku nikmati sekarang iaitu aku telah menetap dalam
Tauhid dan berjalan dalam Allah. Oleh karena Allah telah menghapuskan diri egoku, maka Neraka dan Syurga tidak menjadi persoalan kepaaku. Keadaan aku
sekarang ialah jika semua penghuni Neraka dan Syurga masuk ke dalamnya nescaya mereka semua akan Fana hancur lebur.”
107. “Ya Allah, KurniaMu paaku tidak kekal dan kurniaku padaMu adalah kekal. Karena KurniaMu padaku ialah diri Aku dan kurniaku kepadaMu ialah Engkau. Aku mati tetapi Engkau hidup abadi.”
108. “Ya Allah, aku ingin mencapai peringkat di mana aku tidak ada lagi dan Engkau saja yang ada dalamku.”
109. “Dunia lari dari mereka yang menuntutnya. Engkau Maha Kasih dan suka menghampirkan diriMu kepada mereka yang menuju jalan kepadaMu.”
110. “Oh Tuhan, aku juga yang selalu menyakitkan Kamu, tetapi Kamu sentiasa memberi kurnia yang tidak putusputus kepalaku.”
111. “Ada orang mencari kebahagiaan dengan sikap Zuhud, ada yang dengan berjalan menuju Ka’abah dan ada pula yang mencari kebahagiaan dalam Ibadat.
Jadikanlah aku tidak termasuk dalam golongan mereka itu, tetapi jadikanlah bahagiaku itu dalam Engkau dan Engkau saja.”
112. “Oh Tuhan, bawalah aku kepada AuliyaMu yang tahu menyebut NamaMu sebagaimana ia patut disebut, agar aku dapat berkat dengan mengkhidmati mereka
itu.”
113. “Ya Allah, aku ini hanya hambaMu yang hina. Ibadatku dan Zikirku tidak bernilai padaMu. Terimalah aku yang lemah ini yang tidak ada pergantungan selain
Kamu dan Kamu saja pelindungku.”


Sumber : AR-RISALAH AL-‘ALIYAH
Faqir Maulawi Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi An-Naqshbandi Al-Mujaddidi Al-Uwaisi
‘Ufiya Allahu ‘Anhu Wali Walidaihi



Sunday, July 17, 2011

Sufi Road : Haqiqat Fana


FANA QALB

DALAM Wilayah Sughra, seseorang Murid Salik akan mengalami Istighraq yakni merasa bahwa dirinya seakan akan tenggelam dan Sukr yakni merasa mabuk cintanya terhadap Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam Wilayah ini, hati akan terputus hubungan secara keseluruhan dengan segala sesuatu yang selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala sama ada pada pengetahuan mahupun kecintaan terhadap sesuatu dan hatinya akan lupa secara keseluruhan terhadap sesuatu yang selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kaifiat keadaan ini dinamakan Fana Qalb.

Penyair Sufi bersyair, Key Bud Khud Za Khud Juda Mandah Man Wa Tu Raftah Wa Khuda Mandah "Seseorang yang sudah meninggalkan dirinya ke manakah haluannya?
aku dan dirimu sudah pergi dan yang tinggal hanyalah Allah.
Fana Qalb akan menghasilkan Tajjalliyat Af’aliyah Ilahiyah dalam diri Salik yakni dalam kesadaran dan khalayannya dia akan melihat bahwa segala Af’al tindakan dan perlakuan segala sesuatu yang selain Allah adalah kesan daripada Af’al tindakan dan perlakuan Haq Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keadaan ini akan Ghalabah menguasai dirinya.

Kemudian, segala zat dan sifat Wujud Mumkinat akan dianggapkan olehnya sebagai penzahiran Zat dan Sifat Haq Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, pada waktu itu Salik sedang berdiri di pintu Tauhid Wujudi ataupun masyhur dengan sebutan Wahdatul Wujud yakni menganggap bahwa segala tindakan yang wujud pada Mumkinat itu adalah merupakan ombak dari tindakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Zat yang Wajibul Wujud.

Shah ‘Abdullah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahwa Fana terbagi empat keadaan seperti berikut:
1. Fana Khalaq - Segala pengharapan Murid dan rasa ketakutannya terhadap selain Allah akan menjadi lenyap.
2. Fana Hawa - Hati Murid hanya berkendakkan Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merasa tidak berkehendak kepada segala sesuatu yang selain Allah.
3. Fana Iradah - Segala keinginan dalam hati Murid menjadi tiada, seumpama orang yang mati.
4. Fana Fi’il - Murid mengalami Fana dalam perbuatan dan perlakuan, maka segala penglihatannya, pendengarannya, percakapannya, makan dan minumnya, berjalannya dan berfikirnya dia akan merasakan bahwa segalanya itu adalah merupakan perbuatan dan perlakuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata-mata.

Dalam sebuah Hadits Qudsi ada dinyatakan bahwa apabila seseorang hamba berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi amalan Nawafil sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya sebagai kekasihNya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi pendengarannya yang dia dapat mendengar denganNya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi penglihatannya yang dia dapat melihat denganNya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi tangannya yang dia dapat memegang denganNya dan Allah
Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi kakinya yang dia dapat berjalan denganNya.

HAQIQAT FANA

Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di dalam
kitabnya Ma’arif Laduniyyah pada Makrifat 26 berkenaan Fana dan Latifah sebagai berikut:
“Fana berarti melupakan semua perkara kecuali Allah Ta’ala. Setiap satu dari kelima-lima Latifah dalam Alam Amar terkandung bayangan gambaran dan takluk keasyikan di dalam tubuh badan manusia. Kelima-lima Latifah itu telah diberikan nama sebagai Qalb, Ruh, Sirr, Khafi dan Akhfa. Kebanyakan Aulia Allah tidak dapat membedakannya di antara satu dengan yang lain lalu menggelarkan kesemuanya
sebagai Ruh. Apabila dimaksudkan Ruh, maka kelima-lima hal ini juga turut difahami.
Ruh iaitu suatu Latifah, sudah pun mengenali Allah Ta’ala sebelum ia digabungkan dengan tubuh badan jasmani. Ia memiliki sedikit keinginan, pengetahuan dan cinta
terhadap Allah Ta’ala. Ia telah diberikan tenaga dan kemampuan untuk mencapai ketinggian dan terpuji. Akan tetapi ia tidak akan dapat mencapai kecemerlangan selagi ia tidak bergabung dengan tubuh badan jasmani.
Untuk maju dan cemerlang, ia perlu disatukan dengan tubuh badan. Untuk maksud ini, pada mulanya Ruh telah diberikan takluk keasyikan terhadap tubuh badan.
Kemudian, ia telah diberikan kebenaran untuk menuju ke tubuh badan lalu ia tercampak ke tubuh badan. Dengan keadaannya yang halus dan suci, ia tenggelam ke dalam tubuh badan manusia. Ia menjadi tidak dikenali, tidak dikenali oleh tubuh badan. Ia lupa tentang dirinya. Ia terus menyangka dirinya adalah tubuh badan. Ia kehilangan dirinya di dalam tubuh badan. Karena itulah kebanyakan manusia menyangka diri mereka sebagai hanya tubuh badan. Tidak menyedari tentang kewujudan Ruh, mereka menafikannya.
Allah Ta’ala dengan sifatNya Yang Maha Mengasihani telah menghantar pesanan kepada manusia iaitu Ruh, menerusi Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussolatu Wassalam.Dia mengajak mereka kepada DiriNya. Dia melarang mereka dari bergantung kepada tubuh badan yang gelap ini. Seseorang yang yang telah ditetapkan untuk memperolehi kebaikan yang kekal akan mentaati perintahperintah
Allah dan meninggalkan pergantungannya terhadap tubuh badan. Dia mengucapkan kesejahteraan kepadanya dan ia akan terus kembali ke atas pada tahap ketinggiannya yang sebenar.
Cintanya terhadap asal-usulnya yang pernah dirasakannya sebelum bergabung dengan tubuh badan meningkat secara peringkat demi peringkat. Cintanya
terhadap benda yang bersifat sementara makin berkurangan. Apabila dia melupakan keseluruhan tentang tubuh badan jasmaninya yang gelap, yang mana tiada lagi rasa asyik dan cinta yang tinggal, maka dia sudah mencapai fana tubuh badan.

Selanjutnya, dia perlu melepas satu dari dua langkah asas pada jalan Tasawwuf iaitu Fana dan Baqa. kemudian jika Allah menghendaki dan merahmatinya, dia
akan mencapai peningkatan Ruhaniah lalu terus melupakan tentang dirinya. Apabila ketidak sadaran ini meningkat, dia akan langsung melupakan terus tentang dirinya. Dia tidak akan lagi mengenali sesuatu apapun selain dari Allah Ta’ala.

Seterusnya dia akan mencapai Fana Ruh yang mana seterusnya dia perlu bergerak meneruskan langkahnya yang kedua. Ruh datang ke dunia ini dengan keinginan untuk mencapai Fana yang kedua ini. Ianya tidak akan dapat dicapai tanpa datang ke dunia ini. Jika Latifah Qalb melepasi kedua-dua langkah ini bersama-sama Ruh, ia akan mencapai Fananya sendiri bersama-sama dengan Ruh. Jika Nafs
menyertai Qalb dengan cara ini, ia juga akan disucikan, iaitu ia juga akan mancapai Fananya. Tetapi apabila Nafs telah mencapai tahap Qalb, jika ia tetap berada di situ tanpa berusaha mencapai peningkatan dan melepasi kedua-dua langkah ini, ia tidak akan dapat mencapai tahap ketidaksadaran. Ia tidak akan menjadi Mutmainnah atau jiwa yang tenang.
Seseorang yang telah mencapai Fana Ruh mungkin tidak mencapai Fana Qalb. Ruh ibarat bapa kepada Qalb dan Nafs pula ibarat ibu kepada Qalb. Jika Qalb mempunyai keinginan terhadap Ruh sebagai bapanya dan memalingkan dirinya dari Nafs sebagai ibunya dan jika keinginan ini bertambah kuat dan menarik Qalb ke arah bapanya, maka iabakan mencapai darjatnya. Ianya adalah dengan melepasi
kedua-dua langkah ini. Apabila Qalb dan Ruh mencapai Fana, Nafs tidak semestinya turut mencapai Fana.
Jika Nafs mempunyai keasyikan dan keinginan terhadap anaknya, dan jika keinginan ini semakin bertambah dan membuatkannya semakin dekat dengan anaknya yang telah mencapai darjat bapanya, maka ibunya juga akan menjadi seperti mereka. Keadaan yang sama juga berlaku untuk mencapai Fana pada Latifah Sirr, Khafi dan Akhfa. Segala ingatan dan fikiran yang telah dipadamkan
dan dilenyapkan dari Qalb hatinya menunjukkan kebenaran bahwa Ia telah melupakan segala perkara yang lain selain Allah Ta’ala. Tidak ada daya upaya untuk mengingat sesuatu apa pun bermakna bahwa pengetahuan dan segala sesuatu
telah lenyap. Di dalam Fana, ilmu pengetahuan juga perlu dilenyapkan.”
Masyaikh berkata,
‘Ilm Sufi ‘Ain Zat Haq Bud,
‘Ilm Haq U Khud Sifat Haq Bud.
‘Ilm Haq Dar ‘Ilm Sufi Gum Syawad,
In Sukhn Key Bawar Mardam Syawad.

Ilmu Sufi adalah mata air Ilmu Zat Yang Haq,
Ilmu Haq pada mereka adalah sifat yang Haq.
Ilmu Haq dalam Ilmu Sufi telah lenyap,
Kebenaran perkataan ini ada dalam hati lelaki Sufi.

FANA FI SYEIKH

APABILA Zikir Rabitah ghalib ke atas seorang Murid yakni dirinya sudah tenggelam dengan Zikir Rabitah, maka dia akan melihat wajah Syeikhnya pada segala sesuatu dan keadaan ini dinamakan sebagai Fana Fi Syeikh.
Di dalam kitabHidayatut Talibin bahwa keadaan warid seperti ini juga
berlaku ke atas diri ketika mula-mula melakukan Zikir Rabitah sehinggakan beliau mendapati bahwa dari ‘Arash sehingga ke tanah dipenuhi dengan wajah
Syeikhnya dan beliau melihat bahwa setiap pergerakan maupun diamnya adalah pergerakan dan diam Syeikhnya. Ketahuilah bahwa jalan Rabitah merupakan jalan yang paling dekat dari sekelian jalan. Banyak masalah ajaib dan sulait akan terzahir menerusi jalan ini.

Syaikh Muhammad Ma’sum Rahmatullah ‘alaih telah berkata bahwa,
“Zikir semata-mata tanpa Rabitah dan tanpa Fana Fi Syeikh tidak akan dapat menyampaikan kepada maksud dan Rabitah semata-mata dengan mengamati Adab Suhbah adalah mencukupi.”
Seseorang yang telah tenggelam dalam Fana Fi Syeikh akan sentiasa merasakan bahwa Syeikhnya sentiasa ada dalam dirinya, dalam setiap pergerakan dan perkataannya. Yang diingatnya hanyalah Syeikhnya dan ini hanya akan terhasil dengan sempurna apabila ianya disertai dengan Mahabbah iaitu Cinta dan Kasih Sayang yang terhasil dari Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Fana Fi Syeikh berarti meletakkan segala urusan perjalanan Keruhaniannya pada tangan Syeikhnya dan bersedia menurut segala anjuran, teguran, nasihat dan tunjuk ajar dari Syeikhnya. Fana Fi Syeikh akan membawa seseorang Murid itu ke arah ketaatan
terhadap Syeikh yang dianggap sebagai pemimpin dan pembimbing Ruhani bagi Murid.
Menurut Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih, apabila kelima-lima
Lataif Alam Amar telah disucikan dengan sempurna, Lataif Alam Khalaq juga dengan sendirinya akan disucikan, kemudian dia akan memahami hakikat Daerah Imkan. Untuk mencapai maqam ini, seseorang itu perlulah mancapai Fana Fi Syeikh. Ini akan mengangkat hijabnya terhadap kefahaman tentang Daerah Imkan. Seseorang Murid yang Salik menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala perlu
kembali kepada Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam karena Ruh kita terbit dari Ruh Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Untuk
kembali kepada Ruh Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seseorang Murid itu perlu mengenali Ruh Baginda Nabi Muhammad
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menerusi pimpinan dan bimbingan seorang Syeikh yang akan memberikannya beberapa petunjuk untuk menuju Allah Subhanahu
Wa Ta’ala dan Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syeikh adalah Ulul Amri yang memelihara urusan Keruhanian Murid. Mentaati Syeikh bererti mentaati Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ketaatan kepada Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bererti kita mentaati Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Seseorang Murid yang Fana Fi syeikhnya sempurna, maka Syeikhnya hendaklah membimbingnya kepada Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan
Haqiqat Muhammadiyah sehingga Murid yang Salik itu tenggelam dalam lautan Fana Fi Rasul. Para Masyaikh menyatakan bahwa Fana Fi Syeikh adalah Muqaddimah bagi Fana Fi Rasul dan Fana Fillah. Setelah mencapai Fana Fi Syeikh, Murid perlu menuju Fana Fi Masyaikh terlebih dahulu dan seterusnya Fana Fi Rasul.

FANA FI MASYAIKH

FANA Fi Masyaikh bererti seseorang Murid yang sudah mulai patuh pada Syeikhnya, maka hendaklah dia turut mematuhi sekelian Para Masyaikh dalam Silsilah karana segala limpahan Ruhaniah dan Faidhz adalah datang menerusi pertalian Batin mereka yang kukuh sehinggalah kepada Baginda Nabi
Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Para Masyaikh adalah orang-orang yang menuruti kehidupan Zahir dan Batin Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Mengasihi mereka bererti mengasihi Baginda Nabi
Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam karena Para Masyaikh adalah Para ‘Alim ‘Ulama dan mereka adalah Pewaris Nabi sehingga ke hari Qiyamat.
Para Masyaikh adalah orang-orang yang terdahulu menjalani kehidupan Tariqat Tasawwuf dan jasad mereka telah Fana manakala Ruh mereka kekal Baqa di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka adalah orang yang hidup dan matinya berada atas jalan Allah, berjuang untuk menegakkan Kalimah Allah yang Agung. Fana Fi Masyaikh adalah pintupintu jalan untuk menuju Fana Fi Rasul. Wallahu A’lam, Wa
‘Ilmuhu Atam.
FANA FI RASUL
FANA Fi Rasul bererti seseorang Murid yang tenggelam dalam Haqiqat Muhammadiyah setelah dia menyAdari bahwa Syeikhnya dan Para Masyaikhnya adalah bayangan kepada Ruh Baginda Nabi Muhammad Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana sekelian Ruh Mukmin bersumber darinya. Seseorang Murid akan mengalami rasa Cinta dan Kasih Sayang yang hebat terhadap Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu‘Alaihi Wasallam sehingga dia berusaha membawa kehidupannya selaras dengan kehendak kalimah:
MUHAMMADUR RASULULLAH.
Syeikh hendaklah membimbing Muridnya kepada Amalan Sunnah Nabawiyah yang Zahir mahupun yang Batin. Tiada satupun amalan yang kecil di dalam Sunnah
Nabawiyah bahkan kesemuanya adalah amat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seseorang Mukmin tidak akan mencapai derajat Iman yang sempurna sehinggalah segala Hawa dan Nafsunya tunduk sepenuhnya kepada Agama dan
Sunnah Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga adalah Insan dan manusia biasa seperti kita yang memiliki Hawa dan Nafsu, namun Ruhnya telah disucikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Hawa Nafsunya juga telah ditarbiyah dan disucikan untuk menuruti kemauan Ruh. Ruh Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah terbit dari Ruh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hubungan di antara keduanya amat rapat sehingga segala kecintaan dalam hati Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam hanyalah tertumpu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ruh orang-orang yang beriman dengan Allah adalah terbit dari Ruh Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mereka hendaklah kembali kepada fitrah mereka yang asal iaitu fitrah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjadi sumber petunjuk bagi orang-orang beriman untuk menuju kepada Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hendaklah mencintai Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam lebih daripada apa yang mereka cintai untuk diri mereka, ibu bapa mereka dan kaum keluarga mereka sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31 yang bermaksud,“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka turutilah aku (Muhammad Rasulullah Sallallahu‘Alaihi Wasallam), nescaya Allah akan mencintai kamu dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kamu, dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Untuk mencapai Fana Fi Rasul, Salik perlu menanamkan dalam dirinya tentang kemuliaan, kehebatan dan keagungan Sunnah Nabi Muhammad Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam serta sentiasa beramal dengannya. Kemuliaan Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah terhasil menerusi ketaatan mereka terhadap
Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kecintaan mereka untuk menuruti segala Sunnah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka itulah, Para Masyaikh menyuruh sekalian para pengikut mereka agar sentiasa berpegang teguh dengan amalan Sunnah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada setiap masa dan keadaan. Semoga Allah memberikan kita Taufiq. Amin.

FANA FILLAH

FANA Fillah adalah suatu hal keadaan di mana Murid yang Salik itu merasa kehilangan dirinya dalam menyaksikan Musyahadah Keagungan dan Kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi Tajalli yang dilimpahkan oleh Allah
Subhanahu Wa Ta’ala ke dalam hatinya. Ianya terhasil menerusi Zikir kalimah Ismu Zat dan Nafi Itsbat yang banyak. Pintu hati tidak akan terbuka tanpa Zikir yang
banyak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melimpahkan Tajalli Nama ZatNya bagi memperkenalkan Sifat-SifatNya dan Af’al perlakuan serta tindakanNya. Seseorang Salik yang baru mencapai Fana Fillah akan mengalami Ghalabah atau disebut keadaan Bey Khudi yakni merasakan bahwa dirinya telah hilang, berkeadaan tidak
tentu arah seolah-olah menggelabah dalam perasaannya. Sukar baginya mengungkapkan segala rahsia-rahsia Ketuhanan yang diperlihatkan secara Musyahadah di dalam hatinya. Dia akan merasai tenggelam dalam lautan Rahmat
dan Kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila terhasilnya Kaifiat ketika berzikir maka hendaklah memeliharanya, dan jika Kaifiat tersebut ghaib maka
hendaklah teruskan berzikir sehingga Kaifiat kembali terhasil dan rasa kehadiran menjadi semakin teguh. Apabila Murid mencapai Jazbah Qabuliyat yakni tarikan penerimaan dari Allah Ta’ala, maka dia akan merasakan limpahan Faidhz dan hembusan Rahmaniyah dari Tuhan Yang Maha Pemurah melimpahi dirinya.

Kadang-kadang Faidhz akan terlimpah ke dalam hati secara tiba-tiba dan terhasilnya Warid pada hati, lalu menjadikannya dalam keadaan tidak tentu arah. Maka apabila kaifiat yang sedemikan itu berlaku secara berterusan, seseorang Murid itu hendaklah mengharap dan memohonpenghasilan Fana dan kesenantiasaan merasai kehadiran bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Fana Fillah juga diertikan sebagai Fana Fi Zat yang bermakna seseorang Salik itu tenggelam dalam lautan
kehadiran Zat yang meliputi segala sesuatu. Apabila seseorang itu tenggelam dalam lautan Zat yang menguasai dan meliputi segala sesuatu, maka pandangannya tidak akan melihat sesuatu yang lain selain ZatNya yang Maha Berkuasa dan kekuasaanNya meliputi setiap benda dan segala sesuatu yang ada di langit, di bumi dan apa yang ada di antara langit dan bumi. Sesungguhnya Allah adalah Al-Latif yang Maha Halus dan Dialah Al-Muhit yang kewujudanNya dan kekuasaanNya meliputi segala sesuatu.

Sewaktu seseorang itu sedang tenggelam dalam lautan Fana Fi Zat ini, dia akan mengalami suatu perasaan bahwa dirinya juga bukanlah sutu wujud yang bersifat hakiki bahkan tidak wujud sama sekali. Yang difahami olehnya hanyalah Wujud Allah yang mana kewujudanNya adalah wajib dan Haq, tidak dapat disangkal sama sekali. Dia akan melihat bahwa segala kejadian ciptaan, hal peristiwa dan
keadaan, perbuatan serta tindakan itu hanya dapat berlaku dengan kehendak dan izin dari Allah Tuhan Semesta Alam. Maka dia akan merasai bahwa Wujud Haqiqi hanyalah satu iaitu Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan inilah permulaan
hal Tauhid Wujudi atau digelar Wahdatul Wujud.

Mendawamkan Zikir Ismu Zat yang banyak akan membawa Salik mencapai Fana pada Qalbnya dan dia akan mengalami suatu Jazbah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Qalbnya akan mula memberi tumpuan Tawajjuh kepada limpahan Faidhz dari sisi yang diatas ‘Arash.
Seterusnya dia akan mengalami Jam’iyat dan Hudhur yang mana segala lintasan pada hati dan fikiran menjadi semakin berkurangan dan mungkin lenyap sama sekali. Keadaan ini apabila berterusan akan menghasilkan Warid pada diri Salik yang mana dia akan mengalami perasaan sukar dan tiada terdaya untuk menerima sesuatu Hal dalam hatinya, dengan merasakan ketiadaan wujud pada dirinya. Pada peringkat awal pencapaian Fana, keadaan ini berlaku sekali-sekala bahkan mungkin sebulan sekali. Seseorang yang banyak berzikir mungkin akan sering mengalaminya seperti seminggu sekali atau bahkan mungkin pada setiap hari dan mungkin berkali-kali menerima Warid yang sedemikian dalam sehari. Segalanya ini berlaku dengan
Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Para Masyaikh berkata bahwa,
“Tasawwuf secara keseluruhannya adalah Adab, dan barangsiapa yang biadab dengan tidak memelihara Adab tidak akan dapat mencapai Tuhan.”
Para Akabirin Naqshbandiyah berkata, Man Dhzayya’ar Rabbal Adna,
Lam Yasil Ilar Rabbil A’la. Barangsiapa yang mensia-siakan Pentarbiyah yang rendah (SyeikhMurshid), Dia sekali-kali tidak akan sampai kepada Pentarbiyah Yang Maha Tinggi (Allah Ta’ala).
Fana Fillah bererti melupakan semua masalah kecuali Allah Ta’ala. Apabila dia melupakan keseluruhan tentang tubuh badan jasmaninya yang gelap, yang mana tiada lagi rasa asyik dan cinta yang tinggal, maka dia sudah mencapai fana tubuh badan. Seterusnya, dia perlu melepasi satu daripada dua langkah asas pada jalan Tasawwuf iaitu Fana Qalb. Seterusnya dia akan mencapai Fana Ruh yang mana
seterusnya dia perlu bergerak meneruskan langkahnya yang kedua. Seseorang yang telah mencapai Fana Ruh mungkin tidak mencapai Fana Qalb. Apabila Qalb dan Ruh mencapai Fana, Nafs tidak semestinya turut mencapai Fana. Keadaan
yang sama juga berlaku untuk mencapai Fana pada Latifah Sirr, Khafi dan Akhfa. Segala ingatan dan fikiran yang telah dipadamkan dan dilenyapkan dari Qalb menunjukkan kebenaran bahwa Ia telah melupakan segala perkara yang
lain selain Allah Ta’ala. Tidak ada daya upaya untuk mengingat sesuatu apa pun bermakna bahwa pengetahuan dan segala sesuatu telah lenyap. Di dalam Fana, ilmu pengetahuan juga perlu dilenyapkan.

Sumber : AR-RISALAH AL-‘ALIYAH
Faqir Maulawi Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi An-Naqshbandi Al-Mujaddidi Al-Uwaisi
‘Ufiya Allahu ‘Anhu Wali Walidaihi

Saturday, July 16, 2011

Sufi Road : Awal Kiblat ke Arah Ka'bah

www.majelisrasulullah.org

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى الْكَعْبَةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ }

(صحيح البخاري)


Dan bahwasanya Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis, selama 16 atau 17 bulan (sebagian pendapat mengatakan yang dimaksud 16,5 bulan di Madinah), dan Rasulullah SAW menginginkan shalat menghadap Ka’bah, maka Allah turunkan: KAMI (Aku) TELAH MELIHAT PANDANGANMU (wahai Muhammad SAW) SELALU MENANTI KABAR DARI LANGIT (wahyu). (dst hingga akhir ayat). QS Albaqarah 144) (Shahih Bukhari)

Image Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha mengundang kita kepada keluhuran sepanjang waktu dan saat untuk terus semakin dekat kepada kasih sayang-Nya. Cahaya kerinduan Yang Maha Abadi menanti hamba-hamba yang merindukan-Nya. Cahaya kerinduan Yang Maha Luhur menanti jiwa yang berpijar dengan cinta kepada-Nya. Cahaya kerinduan Yang Maha Indah menanti air mata doa-doa hamba-Nya, semoga aku dan kalian diterangi dengan cahaya kerinduan Allah subhanahu wata’ala, sanubari kita, pemikiran kita, hari-hari kita, seluruh jasad kita, semua panca indera kita dan seluruh kehidupan dan kematian kita berada di dalam cahaya kerinduan Allah subhaanahu wata’ala. Cahaya kerinduan Allah berpijar pada hati semua hamba dengan munculnya Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai simbol cahaya kerinduan Ilahi, sebagai simbol cahaya yang sangat dicintai oleh hamba, yang dengan mencintai beliau maka sempurnalah iman para hamba Allah, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
:

لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ


“Belum sempurna iman salah seorang diantara kalian, hingga aku lebih dicintainya dari ayah ibunya, anaknya, dan seluruh manusia”

Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Belum sempurna iman salah seorang diantara kalian, hingga aku lebih dicintainya dari dirinya sendiri, keluarganya, dan seluruh manusia

Maka dengan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dari kecintaan kepada seluruh makhluk maka jadilah kecintaan kita kepada keluarga, ayah dan bunda, kepada harta dan semua yang kita miliki, kesemuanya berada dalam naungan keridhaan Allah subhanahu wata’ala sehingga tidak melampaui batas dan dijaga oleh Allah, karena telah dinaungi dengan cinta Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ayah bundanya dinaungi oleh cinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, anak-anak dan semua keluarganya dinaungi dengan cinta sayyidina Muhammad, dan hartanya pun dinaungi oleh cinta sayyidina Muhammad.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

( البقرة : 144 )

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” ( QS: Al Baqarah : 144 )

Ayat ini turun di bulan Sya’ban Al Mubaarak, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menginginkan kiblat untuk diarahkan ke Ka’bah tapi beliau selama di Madinah tetap mengarahkan kiblat ke Baitul Maqdis, maka ketika itu turunlah ayat tersebut.
Allah berfirman :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ


Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit”

Kalimat “Kami” bermakna “Aku”, namun kalimat “kami” bermakna untuk memuliakan, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli bahasa bahwa tidak ada satu pun kalimat subjek dari semua bahasa yang pantas untuk Allah subhanahu wata’ala, oleh sebab itu di dalam Al Qur’an terkadang Allah subhanahu wata’ala mengatakan dengan kalimat أنا ( Aku ), terkadang juga mengatakan dengan kalimat نحن ( Kami ), dan terkadang mengatakan dengan kalimat هو (Dia) untuk Dzat-Nya, karena tidak ada ada satu pun kalimat yang layak untuk Dzat Allah subhanahu wata’ala, karena Allah tidak bisa disamakan dengan makhluk. Jika seandainya Allah hanya memakai dhamir (kata ganti) أنا (Aku) untuk Dzat-Nya maka manusia tidak boleh menggunakan kalimat أنا (aku) karena telah digunakan tunggal untuk Allah subhanahu wata’ala maka manusia tidak boleh menyamai Allah. Dan jika Allah hanya menggunakan kalimat نحن (kami) saja untuk dzat-Nya maka kalimat itu tidak boleh juga dipakai oleh manusia, dan jika Allah subhanahu wata’ala hanya menggunakan kalimat هو (dia) saja untuk menyebutkan dzat-Nya maka manusia tidak boleh menggunakan kalimat itu, oleh karena itu Allah subhanahu wata’ala menggunakan ketiga kata ganti tersebut, sesekali Allah menggunakan kalimat أنا , sebagaimana firman-Nya:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا


“ Tiada Tuhan selain Aku ”

Dan terkadang Allah subhanahu wata’ala menggunakan kalimat نحن (kami), sebagaimana firman-Nya:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ


“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit”

Allah mengetahui jwa sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menginginkan kiblat diarahkan ke Ka’bah, maka Allah subhanahu wata’ala menjawabnya :

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا


maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai”.

Allah memberi kebebasan kepada nabi Muhammad untuk memilih kiblat untuk ummatnya, baik itu ke Bait Al Maqdis atau ke Ka’bah, maka nabi Muhammad menghadap dan memilih kiblat ke Ka’bah. Meskipun sebenarnya Allah telah mengetahui bahwa kiblat itu akan diarahkan ke Ka’bah, namun demikian Allah subhanahu wata’ala ingin menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa betapa cintanya Allah subhanahu wata’ala kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai-sampai arah kiblat pun Allah tawarkan kepada nabi Muhammad untuk memilih kiblat yang diridhai dan Allah merestui kiblat yang dipilih oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Kalimat pengagungan dari Allah subhanahu wata’ala kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dimunculkan dalam Al qur’anul Karim adalah sebagai tanda bahwa Allah subhanahu wata’ala sangat mencintai dan memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ciptaan Allah, namun Allah menginginkan hamba-hamba-Nya mencintai dan memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana Allah memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada nabi Adam As, maka bukan berarti nabi Adam As adalah tuhan kedua yang harus di sujudi, namun perintah Allah dengan bersujudnya malaikat kepada nabi Adam AS di saat itu adalah ibadah malaikat adalah merupakan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan bukan ibadah kepada nabi Adam As, akan tetapi hal itu ditolak oleh Iblis.

Maka mereka yang menolak untuk memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhati-hatilah karena bisa wafat dalam keadaan su’ul khatimah, semoga mereka yang belum memahaminya dilimpahi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala. Ayat ini turun di bulan Sya’ban Al Mukarram, dan banyak lagi kejadian-kejadian agung yang terjadi di bulan Sya’ban, firman Allah subhanahu wata’ala :

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

( القمر : 1 )

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan “. ( QS: Al Qamar : 1 )

Dan kejadian yang disebutkan dalam ayat itu pun terjadi pada bulan Sya’ban. Di saat nabi belum hijrah dan ketika beliau memanggil bulan maka bulan itu pun datang, semakin dekat dan semakin besar dan membesar, hingga nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat dengan telunjuknya agar bulan tetap pada tempatnya kemudian terbelah, maka bulan itu pun terbelah menjadi 2, yang satu sisi berada di atas gunung dan satu sisi lainnya berada di atas gunung yang lain, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan bulan itu untuk menyatu dan kembali kepada tempatnya, bulan pun menuruti perintah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang akhirnya menyatu dan kembali kepada tempatnya. Ketika bulan itu terbelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “saksikanlah, saksikanlah”. Namun kuffar quraisy berkata bahwa hal itu adalah perbuatan sihir sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika kafilah-kafilah datang dari tempat-tempat lainnya seperti Persia dan lainnya, setelah ditanya apakah pada suatu malam tertentu bagaimana mereka melihat bulan, maka mereka menjawab bahwa mereka menyaksikan bulan purnama di saat itu terbelah menjadi dua dan mendekat seakan-akan di atas bumi Makkah, mereka yang perjalanannya menempuh 3 bulan lamanya pun melihat di waktu itu bulan terbelah, karena perintah Allah subhanahu wata’ala kepada bulan untuk patuh pada perintah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kejadian itu pun terjadi di bulan Sya’ban. Adapun kejadian lain yang terjadi di bulan Sya’ban adalah adanya rahasia kemuliaan malam Nisfu Sya’ban, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

حم ، وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ، فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

( الدخان : 1-4 )

“Haa miim, demi Kitab (Al Qur'an) yang menjelaskan, pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. ( QS: Ad Dukhaan: 1-4 )

Dimana Allah subhanahu wata’ala ingin memisahkan ketentuan-ketentuan manusia sepanjang tahun berikutnya, hal itu terjadi di malam Nisfu Sya’ban sebagaimana pendapat sebagian ulama’ yang mengatakan demikian dan sebagian yang lain mengatakan bahwa hal itu terjadi di malam Lailatul Qadr. Dan para Imam salafusshalih mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan manusia itu ditentukan pada malam Nisfu Sya’ban, dan InsyaAllah malam Nisfu Sya’ban yang akan datang tanggal 16 Juli 2011 kita akan mengadakan acara akbar di Monas,,dengan membaca surah Yasin 3x dan dzikir يا الله 1000x seperti yang telah dilakukan oleh para imam kita, dan InsyaAllah akan disertai streaming sambutan guru mulia kita Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh . Dan semoga acara itu sukses, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan di bulan Sya’ban juga merupakan bulan dimana telah diturunkan ayat diwajibkannya puasa , sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

( البقرة : 183 )

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. ( QS: Al Baqarah : 183 )

Adapun umat-umat sebelumnya tidaklah berpuasa di bulan Ramadhan, banyak pendapat yang mengatakan bahwa puasa mereka hanya beberapa hari saja dalam setahun, adapula pendapat yang shahih mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyuraa (10 Muharram) namun puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan khusus hanya untuk ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan bulan Ramadhan itu digelari juga dengan bulan seribu sujud, karena mereka yang melakukan shalat tarawih 20 rakaat di setiap malamnya dan jika bulan Ramadhan itu jumlahnya 30 hari maka berarti telah melakukan shalat sunnah malam ( shalat tarawih ) 600 rakaat selama sebulan, dan dalam setiap rakaat itu ada 2 kali sujud, maka berarti dalam sebulan melakukan 1200 kali sujud. Dan jika bulan Ramadhan berjumlah 29 hari maka berarti hanya kurang sedikit dari jumlah itu, oleh sebab itulah bulan Ramadhan disebut dengan bulan 1000 sujud.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ramadhan dihadapan kita, dan bulan Sya’ban telah bersama kita. Dan telah dijelaskan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Quds bahwa di bulan inilah turunnya firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

( الأحزاب : 56 )

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( Al Ahzab : 56 )

Oleh sebab itu bulan Sya’ban digelari bulan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayat untuk bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini turunnya pada bulan Sya’ban, dan arah kiblat pun diberikan pada keinginan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Sya’ban, ayat mengenai kewajiban puasa Ramadhan pun turun di bulan Sya’ban, kejadian terbelahnya bulan pun pada bulan Sya’ban, dan ghazwah (perang) Bani Musthaliq serta Badr As Sughra yang kejadiannya setahun setelah perang Uhud terjadi pula pada bulan Sya’ban.

Diriwayatkan di dalam Shahihul Bukhari bahwa tidak ada satu bulan dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban, dan terkadang Rasulullah berpuasa penuh selama bulan Sya’ban, kecuali hari terakhir bulan Sya’ban karena hari itu adalah hari syak. Dan sebagian ulama’ mengatakan makruh hukumnya berpuasa setelah 15 Sya’ban, namun pendapat sebagian yang lainnya memperbolehkan puasa setelah tanggal 15 Sya’ban, tetapi yang jelas adalah larangan berpuasa di hari terakhir bulan Sya’ban, karena dikhawatirkan telah masuk malam 1 Ramadhan, maka berbeda niatnya berbeda, oleh sebab itu dilarang berpuasa di hari terakhir bulan Sya’ban . Di bulan Sya’ban ini juga disunnahkan memperbanyak shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena bulan ini adalah bulan ulang tahun shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah
Salah seorang hamba Allah bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah menjumpainya di hari pertama bulan Sya’ban, seraya berkata: “Aku mendatangi ummatku yang masih hidup dan merindukanku dihari pertama bulan Sya’ban “, bulan Sya’ban adalah waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi ummatnya yang merindukannya, demikianlah mimpi dari seorang hamba tersebut. Para imam besar dan para shalihin pastilah selalu membuat hadiah untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan masing-masing dari mereka dengan caranya sendiri, ada yang dengan cara membuat shalawat, seperti Al Imam Abdul Qadir Al Jailani yang membuat shalawat untuk sang nabi dan diberi nama Shalawat Al Kubra yang panjangnya 13 halaman, sebagaimana juga sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw dan imam-imam besar lainnya pun membuat shalawat untuk sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Al Imam Abu Hasan As Syadzili ‘alaihi rahmatullah, bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mencium bibirnya , maka Al Imam berkata : “Wahai Rasulullah apa yang membuat engkau mencium bibirku?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Aku tidak mencium bibir seseorang kecuali ia telah bershalawat kepadaku sebanyak 1000 kali di siang hari dan 1000 kali di malam hari.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam…. , dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَقْرَبُكُمْ مِنِّيْ مَنْزِلَةً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ عَلَيَّ صَلاَةً


“Yang paling dekat denganku kelak dihari qiyamat adalah yang paling bershalawat kepadaku.”

Maka perbanyaklah shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas nama cintamu kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan hal itu Allah akan mempermudah kita untuk membuka cinta kehadirat-Nya, Sang Maha berhak dirindukan dari semua yang dirindukan, Allah subhanahu wata’ala . Maka muncullah para imam besar dengan kemuliaan-kemuliaan tuntunan mereka.

Selanjutnya saya akan menjelaskan masalah kredit Islami, dan tempat kreditnya pun dimana saja juga bisa, mungkin kredit motor, mobil atau rumah dan yang lainnya, cara yang sangat mudah adalah dengan cara dimana disaat akad janganlah menandatangani atau menyebut-nyebut persentase bunga, sebagai contoh misalnya harga suatu barang jika dibayar cash adalah 10 juta, dan jika dengan kredit harganya 15 juta, maka jangan sebut-sebut lagi masalah kredit namun cukup dengan mengatakan , misalnya: “saya beli motor ini seharga 15 juta, dengan angsuran pertama sekian, da setiap bulannya saya akan membayar dengan jumlah sekian, dan jika saya terlambat dalam pembayaran maka saya akan membayar denda dengan jumlah sekian”, tanpa harus menyebutkan atau menandatangani persentase bunga, karena jika hal demikian dilakukan maka telah terjebak dalam riba. Dan ada banyak pertanyaan tentang pegadaian, pegadaian itu hukumnya riba, maka jauhilah hal ini karena itu akan mencekik atau mengurangi keberkahan harta kita, maka jauhilah hal-hal yang dapat menyusahkan kita di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya kita berdzikir bersama, setelah itu kita akan melakukan tahlil singkat untuk menantu guru mulia Al kita yang telah wafat, sayyid Abdullah bin Isma’il As Saqqaf, kemudian qasidah penutup dan diakhiri dengan shalat ghaib yang di imami oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas

Friday, July 15, 2011

Sufi Road : Hadit Arba'in (2)

HADITS KEDUA
Arti hadits :
Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata :
Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) seraya berkata, “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata, “ anda benar “. Kami semua
heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul- Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudia dia berkata, “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “

Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda, “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakanakan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata, “
Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,“ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya ". Dia berkata,“
Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda, “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “,
kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) bertanya,“ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. Aku berkata,“ Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui “. Beliau bersabda,“ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

Catatan:
•Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokokpokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
•Hadits ini mengandung makna yang sangatagung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan
makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam )

Kandungan Hadist :
1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia danpenguasa.
2. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak adaseorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat
mengambil manfaat darinya.
3. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
4. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
5. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hamba-sahayanya.
6. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan Membaguskannya selama tidak dibutuhkan.
7. Di dalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
8. Di dalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Adab Nisfu Syakban/Laylat al-Bara'ah

http://naqsybandi.org

Adab Tarekat:

Membaca Surat Yaasiin tiga kali, pertama dengan niat memperoleh umur panjang dalam Iman dan Islam, kedua dengan niat memperoleh perlindungan dari bencana, baik bagi diri sendiri maupun bagi umat Muhammad SAW, dan yang ketiga dengan niat agar memperoleh rezeki tanpa tergantung kepada orang lain, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Setiap kali selesai membaca Yaasiin, dibaca doa berikut:


Allaahumma yaa Dzaal-Manni laa yamannu `alayhi ahad, yaa Dzaal-Jalaali wal-Ikraam yaa Dzaath-Thuuli wal-An`aam. Laa ilaaha illa Anta. Zhaharal-laaji-iin wa Jaarul-mustajiiriin wa Amaanul-khaa-ifiin. Allaahumma in kunta katabtanii `indaka fii ummul-Kitaabi syaqiyan aw mahruuman aw mathruudan aw muqataran `alayya fiir-rizqi famhu-llaahumma bi-fadhlika syaqaawatii wa hurmaanii wa thurdii wa iqtaara rizqii wa tsabitnii `indaka fii ummil-kitaabi sa`iidan wa marzuuqan lil-khayraati fa-innaka qulta wa qawlukal-haqq fii kitaabikal-munzal `alaa lisaani nabiyyikal-mursal yamhullaahu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa `indahu Ummul-Kitaab. Ilaahī bit-tajallii al-a`zhami fii laylatin-nishfi min syahri sya`baanil-mu`azhamil-mukarramillatii yufraqu fiihaa kullu amrinhakiimin wa yubram, an taksyifa `annaa minal-balaa`i maa na`lamu wa maa laa na`lamu wa maa Anta bihi a`lamu innaka Antal A`azzul-Akram. Wa shalla-Allaahu `alaa sayyidinaa Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.


Ya Allah SWT, Pemilik Kemurahan Hati Yang Tak Pernah Lelah. Wahai Pemilik Keagungan, Kehormatan, Kekuatan dan Berkah. Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Pendukung para pengungsi dan Tetangga dari orang-orang yang mencari kedekatan, Pengawal dari orang-orang yang bertaqwa. Ya Allah SWT, jika Engkau telah menulis dalam Kitab-Mu bahwa aku adalah orang yang hina, serba kekurangan, terbuang, dan kikir, maka hapuskanlah wahai Tuhan, melalui Kemurahan-Mu, penderitaanku, kekuranganku, pengusiranku, dan kekikiranku dan tetapkanlah aku dengan-Mu sebagai orang yang bahagia dan terberkati, sebagaimana Engkau telah berfirman—dan firman-Mu adalah benar—dalam Kitab Suci-Mu melalui lidah Rasul-Mu SAW bahwa, “Allah SWT menghapuskan apa yang Dia Kehendaki dan menetapkan, dan di Sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.” [13:39]. Wahai Tuhanku, dengan manifestasi agung dari Malam Pertengahan Bulan yang Mulia ini, Syakban di mana, “Pada Malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,” [44:4] hapuskanlah dari kami, bencana—baik yang kami ketahui maupun yang kami tidak ketahui, dan Engkau Maha Mengetahui—dan sudah tentu, Engkau Maha Perkasa, Yang Maha Dermawan.Semoga Allah SWT memberkati Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabatnya.

Kemudian dibaca Doa Agung dari Sultan al-Awliya (ad-Du`a ul-Maatsuur), jika memungkinkan setelah setiap kali selesai membaca doa di atas, atau jika tidak dibaca terakhir kali setelah tiga pembacaan Surat Yaasiin dan doa di atas.

Khatamul Khwajagan
Salat Tasbih
Salat Syukur dengan Qunuut
Salat Tahajjud
Setelah Isya dilanjutkan dengan Salat Tahajjud 100 rakaat. Pada setiap rakaat dibaca al-Fatihah sekali dan Surat Al-Ikhlash 10 kali, sehingga seluruhnya 1.000 Surat Al-Ikhlash.

Puasa
Dianjurkan untuk berpuasa pada keesokan harinya, dianjurkan pula untuk berkurban kepada Allah SWT sebagai tebusan bagi diri kalian sendiri dan keluarga kalian, (dagingnya) distribusikan kepada orang-orang yang memerlukannya.