Saturday, April 16, 2011

Sufi Road : Hakikat Manusia Dalam Matsnawi Rumi

Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos,
pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.
Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.
Kalau bukan karena mengharap dan menginginkan tubuh,
betapa pekebun itu akan menanam pohon.
Jadi sekalipun tampaknya pohon itulah yang melahirkan buah
(Tapi) pada hakikatnya (justru) pohon itulah yang lahir dari buah."
(The Mastnawi 4:30)

Maulana Jalaluddin Rumi al-Balkhi adalah seorang arif besar. Beliau lebih dikenal dengan Maulawi Rumi, dan merupakan sastrawan Persia abad ke tujuh Hijriah. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Matsnawi, yang isinya membahas tentang banyak hal. Dalam buku Menapak Jalan Spiritual, Murtadha Muthahhari mengatakan, "Matsnawi merupakan samudra filsafat dan irfan, yang sarat dan penuh dengan berbagai hal yang pelik yang bersifat spiritual, sosial dan irfan."

Pembahasan tentang hakikat manusia adalah salah satu bahasan khusus yang dibahas oleh Rumi dalam Matsnawinya. Memahami hakikat manusia sangatlah sulit bagi sebagian dari kita. Padahal itu merupakan hakikat dirinya. Imam Khomeini pernah mengatakan "Menjadi ulama itu gampang tapi menjadi manusia itu amatlah sulit." Dengan mengetahui esensi manusia akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan Tuhan.

Allah mengungkapkan tanda keagungan dan kekuaasaan-Nya melalui alam dan dalam diri manusia. Sehingga kalau kita mengetahuinya dengan baik maka hidup kita pun akan baik. Allah berfirman : "Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu." (QS. Al-Ankabut : 53)Manusia adalah makhluk yang unik. Hingga kini fisiknya saja masih diteliti dan masih banyak rahasia yang belum terpecahkan. Telebih lagi dari sisi jiwanya. Yang merupakan inti dari segala hal. Dalam hadis banyak disebutkan tentang keutamaan ma'rifatun nafs ini (pengetahuan tentang hakikat diri). Misalnya, Imam Ali berkata, "Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka dia telah mencapai puncak setiap makrifah dan ilmu.", "Janganlah kalian bodoh dengan tidak mengetahui hakikat diri kalian, karena kalau kalian bodoh dengan itu berarti kalian bodoh dengan segala hal.", "Cukuplah pengetahuan seseorang itu kalau mengetahui hakikat dirinya dan cukuplah kebodohannya kalau tidak tahu akan hakikat dirinya."

Maulawi Rumi adalah termasuk orang yang mengetahui hakikat dirinya, sehingga dia mencapai puncak makrifat dan keyakinan. Sebagaimana yang diutarakan dalam bait-bait syairnya. Dalam bait pertama dia mengatakan : "Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos."

Dari segi fisiknya, manusia adalah bagian dari makrokosmos, karena kita hidup di alam. Kita membutuhkan makan, kita membutuhkan air, kita perlu sayuran, kita pun perlu untuk makan daging. Apakah kebutuhan kita akan semua itu secara fitri dan tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun ? Atau makanan hanyalah sebagai penunjang saja agar kita bisa bertahan hidup ? Dan alam diciptakan sebagai penunjang dalam hidup manusia ?

Rumi mengatakan bahwa dalam hakikatnya manusia, (bukan fisiknya) adalah makrokosmos. Kita adalah alam lain yang lebih besar dari alam ini. Sebagaimana perkataannya Imam Ali, "Apakah kalian mengira kalian, hanya tubuh kecil ini,padahal kalian adalah alam yang sangat besar."Aneh memang manusia itu lebih banyak meneliti hal-hal diluar dirinya sedangkan hakikat dirinya sendiri tidak pernah diteliti, tidak pernah mencoba meneropong kedalam jiwanya. Selanjutnya Maulawi Rumi menjelaskan lebih jauh dengan sebuah perumpamaan :

"Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah padahal ranting itu tumbuh justru demi buah."

Beliau umpamakan bahwa manusia itu ibarat buah, dan buah merupakan hasil akhir dan harapan petani penanam buah. Sedangkan alam ibarat ranting, ranting tercipta demi buah, ranting hanyalah sebagai wasilah untuk tumbuhnya buah. Jadi yang paling penting itu adalah buahnya bukan ranting atau pun pohon.

Sebagaimana sering disebutkan dalam Al-Quran bahwa alam diciptakan merupakan tanda dari kasih sayang Allah akan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Jadi inti dari itu semua adalah alam diciptakan untuk manusia, yang harus dijadikan sebagai perantara untuk mencapai ridha Allah.

Tapi sayang berapa banyak dari manusia ini yang menjadikan alam, materi, kekayaan sebagai tujuan bukannya sebagai perantara penghantar kepada Tuhan.

Dan akibat dari itu adalah penyimpangan dan keserakahan untuk mendapatkan kekayaan dengan menggunakan segala cara. Kita terkadang melebihi binatang untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita banyak melakukan penyelewengan dalam menggunakan alam. Yang semestinya kita gunakan untuk kemajuan kemanusiaan kita malah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan demi menguasai alam. Sebagaimana Allah berfirman, "Apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan darinya (tidak berterima kasih) tapi apabila ia tertimpa kejahatan, ia (berdoa) dengan doa yang panjang."

Tubuh kita hanyalah perantara, karena kita hidup di alam fisik, alam yang senantiasa bebenturan dengan materi, Rumi melanjutkan : "Kalau bukan mengharap dan menginginkan tubuh betapa pekebun itu akan menanam pohon."

Pohon hanya sebagai perantara sang petani untuk mendapatkan buah, karena buah tidak mungkin ada tanpa adanya pohon. Begitu juga hakikat manusia itu tidak akan bercahaya tanpa melalui perantara tubuh kasar ini, tubuh harus mengikuti ruh, dan harus seiring dengan ruh,jangan sampai tubuh dan tuntutannya (hawa nafsu) yang mengendalikan.

Kalau kita pandang sekilas nampaknya kita bagian dari alam, kita tidak bisa lepas dari alam, tapi kalau kita teliti dan mencoba menganalisis lebih jauh rahasia-rahasia alam maka akan nampak dan akan kita ketahui bahwa alam diciptakan untuk kita, alam berasal dari kita, alam sebagai pemandu dan pengingat kita akan keagungan dan kebesaran sang pencipta, sepertinya pohon tumbuh untuk melahirkan buah padahal pohon asalnya dari buah. "Jadi sekalipun pohon itu tampaknya yang melahirkan buah (tetapi) pada hakikatnya justru pohon itulah yang lahir dari buah."

Maulawi belum menerangkan secara rinci akan hakikat manusia, dia baru menerangkan bahwa kita adalah alam yang lain (makrokosmos lain) dan bukannya bagian dari alam, karena alam yang ini diciptakan demi cintanya Allah pada manusia sebagai bukti, pengantar dan pengingat akan kebesaran-Nya.

Hakikat manusia dalam kaca mata Rumi adalah debu, debu yang mengepul ketika kuda lewat, debu yang mengecap sepatu kuda ketika kaki kuda menginjaknya.

Debu yang diinjak kaki sang kuda akan mengecap kaki kuda karena tidak mungkin jika debu diinjak kaki kuda menimbulkan tanda dan cap yang lain, bukan kaki kuda. Manusia seharusnya menjadi khalifah di alam dan bukannya perusak alam. Manusia seharusnya merupakan Tajalli (Manisfestasi) dari keagungan sifat-sifatNya. Manusia seharusnya menjadi khalifah dan duta kebesaran-Nya. Adakah manusia yang seperti itu ?

Jelas ada karena hakikat manusia yang sebenarnya adalah mereka, mereka yang sudah mencapai maqam kedekatan kepada-Nya, merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga bumi, menjaga kelestarian alam dan penghuninya, merekalah yang senantiasa mengingatkan kita kepada Pencipta alam yaitu Allah, merekalah para Nabi, para Imam dan para aulia Allah.

Kita harus menjadi debu di kaki-Nya. Karena seharusnya setiap individu adalah menjadi debu di kaki-Nya. Agar kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri seperti para wali Allah, supaya kita menjadi mahkota diatas kepala raja, keagungan di atas keagungan.

"…Setiap individu adalah debu, Hanya telapak kaki kuda itu menjadi cap kaki-Nya di atas debu, jadilah debu di kaki-Nya demi cap kaki kuda itu agar engkau dapat menjadi Laksana mahkota di atas kepala raja."

Namun bagaimanakah caranya untuk mengetahui hakikat diri ini, setelah kita mengetahui bahwa kita adalah makrokosmos dan alam sebagai wasilah kemudian hakikat kita adalah debu di kaki-Nya ? Dan bagaimanakah agar supaya hakikat diri ini senantiasa ada dan terpatri kuat dalam jiwa? Sehingga kita bisa menjadi mahkota di atas kepala raja ?

Karena mungkin saja banyak yang mengetahui hakikat diri tapi sayang hanya sekedar isapan jempol belaka, karena makrifat ini memiliki standar dan ciri tersendiri yang akan selalu tampak dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari, kita hanya terbiasa melihat bulan yang ada di air. Kita terpaku dan terpana dengan melihat indahnya rembulan yang ada di air padahal hakikat bulan ada di langit.

Maulawi Rumi dalam perkataannya yang lain, menerangkan tentang cara untuk mencapai makrifah diri ini, dia mengatakan bahwa untuk mencapai makrifah ini adalah dengan cara Taskiyatun nafs, membersihkan diri dari debu keegoisan, mensucikan diri dari lumpur kemaksiatan dan mengosongkan diri dari selain-Nya.

Senantiasa menghiasi diri dengan mengingat-Nya.menerangi jiwa dengan selalu berbuat baik, dan menanamkan asma-NYA dalam jiwa agar tidak gelap.

Sehingga dengan jelas akan terlihat jalan dan tidak pernah tersandung, jalannya akan senantiasa lurus dan tidak pernah bengkok karena selalu dalam sinaran-Nya.

Hanya dengan mengosongkan diri dari selain-Nya dan menghiasi jiwa dengan keagungan-Nya kita bisa tahu siapa diri ktia, apa hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita harus senantiasa berkontemplasi agar tahu hakikat diri kita dengan pasti. Rumi bertutur :

"Oh sucikanlah seluruh jiwamu dari debu keegoisan bebaskanlah dirimu dari sifat mementingkan diri sendiri sehingga kau lihat sendiri hakikat dirimu bersih tanpa noda, lihatlah dalam lubuk hatimu pengetahuan para nabi tanpa buku, tanpa perantara, tanpa guru."

Itulah sosok Maulawi Rumi, Wali Allah yang telah mengetahui dirinya, telah mengosongkan dirinya dari selain-Nya, telah sampai kepada kedudukan debu di kaki-Nya. Sehingga dengan lancar dan gamblang menggambarkan kepada kita cara mengetahui dan menjadi debu di kaki-Nya. Kita sebagai manusia yang tidak mengetahui kebutuhan jasadi saja harus kembali merenungi perkataan sang maulawi, agar kita seperti dia, menjadi debu di kaki-Nya.

Akhirnya Maulawi mengungkapkan kekesalannya dengan mengungkapkan sebuah cerita, yaitu dia merasa kesal karena tidak pernah bertemu dengan manusia.

Dia hanya selalu bertemu dengan hantu dan hewan-hewan yang menakutkan. Dia ingin sekali bertemu dengan manusia. Dan ingin selalu mencarinya, walau pun butuh waktu yang lama. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan syairnya :

"Kemarin sang tuan jalan-jalan keliling kota, dan lentera di tangannya. Ia berkata, "aku bosan dengan hantu dan hewan, aku rindu bertemu manusia, hatiku jenuh melihat sahabat patah semangat. Aku ingin melihat singa Tuhan rastam putra zal, mereka berkata : "kami telah mencarinya dalam waktu yang panjang ia tak ditemukan ia Menjawab, "Sesuatu yang tak ditemukan itulah yang senantiasa aku cari."

Sumber : Majalah Syi'ar terbitan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Sufi Road : Qasidah Qul Yaa Adzhim



Qul YA 'AZEEM 'ANTAL'AZEEM
Katakan : Wahai Yang Maha Agung, Engkaulah Yang Maha Agung;

Qad hammanaa haammun 'azeem
Kami telah terkena oleh masalah yang sangat berat

Wa kullu haammin hammanaa
dan setiap hal yang menjadi perhatian kami yang kami khawatirkan,

ya huunuu Bi'SMIKA YA AZEEM
menjadi mudah dengan menyebutkan Nama Mu Wahai Yang Maha Agung,

ANTA'L-QADEEM, QADEEMUN FI'ILAZAL,
Engkaulah Yang Maha Awal, Wahai Yang Maha Awal

Antal LATEEF, Lateefun lam tazal
Engkaulah Yang Maha Lembut, Tanpa Berkesudahan Maha Lembut

'Anna azil maa qad nazzal
Angkatlah dari kami apa yang telah menimpa kami;

Min faadihi'l-khatbi'sh-shadeed
Dari kesukaran gawat dan rumit

HAYYUN QADEEM QADEEMUN WAAJIDUU
Wahai Yang Maha Hidup Maha Awal dan Maha Royal dalam Memberi;

BAQI GHANEE GHANIYYUN MAJIDUU
Maha Kekal, Maha Kaya Sangat Kaya dan Maha Anggun

ADLUN ILLAH ILLAHUN WAHIDUU
Yang Maha Adil Allah, Yang Maha Esa Allah

Barrun RA'UF Ra'ufun bil'abeed
Yang Maha Baik Maha Lembut, Maha Lembut kepada abdi Nya

Wa lil -Nabiy salli YA SALAAM
Dan Salam bagi Nabi Wahai Yang Maha Selamat(Salam)

Minna salaatun ma'salaam
Dari kami kirimkan pujian dan salam;

Yawmul 'ljazaa 'mnaahna salaam
Karuniakan kepada kami keselamatan pada Hari Pengadilan,

Miimma nakhaafu YA MAJEED
Dari segala hal yang kami takut Wahai Yang Maha Anggun

Wa 'l'aali wa 's-saahbi' l' usuud;
Dan singa dari Family dan Shahabat,

Saadu bihi biidan wa suud
Menjadi ahli melalui Dia tak dipandang apakah putih atau hitam

La Siyyama maahi 'lhushuud;
Khususnya seorang yang melibas habis seluruh bala tentara yang besar;

Saifu'l'iLLAH 'ibnu 'lwaleed
Pedang ALLAH, putera Al Waleed

Sufi Road : Martabat Wali

Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam
Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat. Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

Menurut sebuah Hadits yang telah dikeluarkan oleh Hadhrat Abu Na’im dan Hadhrat Ibnu ‘Asakir yang meriwayatkan daripada Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ada 300 orang dari kalangan manusia ini yang hati mereka itu seperti hati Nabi Adam ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 7 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 40 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 5 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Jibril ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 3 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Mikail ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada seorang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Israfil ‘Alaihissalam. Apabila wafat yang seorang ini, maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 3 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 3 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 5 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 5 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 7 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 7 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 40 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 40 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari golongan yang 300 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 300 orang itu, maka Allah menggantikannya dengan melantik salah seorang dari kalangan orang ramai. Maka dengan Para Wali yang tersebut itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan, diturunkan hujan, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan dihalang bala dari menimpa ummat manusia ini.” Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud telah ditanya, “Bagaimana dikatakan bahawa dengan Para Wali itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan?” Beliau menjawab, “Kerana Para Wali itu memohon kepada Allah supaya Allah meramaikan bilangan manusia, maka manusia pun menjadi bertambah ramai. Mereka itu berdoa kepada Allah agar orang-orang yang zalim dan tidak berbelas kasihan dibinasakan, maka mereka itupun dihancurkan. Mereka memohon supaya diturunkan hujan, maka diturunkanlah hujan. Mereka memohon agar disuburkan bumi, maka suburlah bumi. Mereka itu berdoa, maka dengan doa mereka itu dijauhkan berbagai rupa bala.”

Bilangan Para Wali tidak dapat ditentukan jumlahnya yang sebenar karana mereka adalah Ahli-Ahli Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya Dialah yang tahu berapakah jumlah bilangan yang sebenar Para AuliyaNya. Namun bilangan mereka yang khusus dari kalangan Para Wali itu adalah tetap sepertimana yang ada dinyatakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Na’im Rahmatullah ‘alaih bermafhum,
“Orang-orang yang terbaik dari kalangan Ummatku pada setiap kurun itu
ialah seramai lima ratus orang.”


Mereka adalah orang-orang yang ‘Arif tentang Allah serta tekun membuat kebaikan dan menjauhkan maksiat dan nafsu syahwat. Ingatan mereka hanya tetap kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Muslim dan At-Tirmizi Rahmatullah ‘alaihima bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang mafhumnya,

“Telah memperoleh kemenangan golongan Al-Mufarridun.” Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah orang- orang yang sangat suka menghabiskan masa untuk berzikir mengingati Allah. Zikir itu tidak memberatkan mereka, maka mereka itu akan datang di Hari Qiyamat dalam keadaan ringan.”

Sebuah Hadits ada menyatakan yang mafhumnya,

“Satu golongan dari Ummat Islam ini sentiasa dapat menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka itu sehinggalah datang ketentuan urusan Allah Ta’ala.”

Dalam sebuah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Hadhrat An-Nasa’I dan Hadhrat Ibnu Hibban Rahmatullah ‘alaihima, bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

Sesungguhnya ada hamba-hamba dari kalangan Hamba Allah yang dipandang tinggi dan sangat mulia oleh Para Nabi dan Syuhada.” Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Mudah- mudahan kami juga kasihkan mereka. Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah kaum yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain dengan Nur Allah tanpa memandang kepada harta kekayaan dan keturunan. Wajah-wajah mereka adalah bercahaya dan mereka itu adalah berada di atas limpahan Cahaya Allah. Mereka tidak akan berasa takut walaupun manusia lainnya berasa takut dan mereka tidak akan berasa dukacita bila manusia lain berdukacita.”

Hadhrat Mujaddidul Millat Maulana Ashraf ‘Ali Thanwi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa, istilah-istilah Tasawwuf terbahagi kepada dua jenis
Yang pertama ialah apa yang bertakluk dengan maksud, iaitu apa yang terkandung di dalam Syari’at, yang mana hakikat segala istilah yang digunakan dalam Tasawwuf adalah untuk merujuk kepada Syari’at.
Yang kedua ialah, istilah-istilah yangdigunakan untuk perkara-perkara tambahan. Ianya digunakan untuk menyatakan perkara-perkara yang di luar Syari’at, sebagai contohnya Tajdid Imtsal, Tauhid Wujudi, Shughal, Rabitah dan sebagainya.

Perkara ini merupakan sesuatu yang halus di kalangan Para Sufi yang mulia, yang mana bagi menyembunyikan rahsia mereka dari pengetahuan umum, maka mereka pun menggunakan berbagai istilah. Jikalau tidak, tentulah ianya akan bercanggah dengan Al-Quran dan Hadits, maka wujudlah perkataan-perkataan yang baharu. Sebahagian ‘Ulama yang tidak mengerti dengan penggunaan istilah mereka telah membantah ke atas mereka, yang mana pada hakikatnya memang perkara itu tidak berlaku secara Waqi’, bahkan ianya hanya berlaku pada sudut kefahaman seseorang.

Hadhrat Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Kashful Mahjub bahawa, menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abdullah Muhammad Bin ‘Ali Al-Hakim Al-Tirmizi Rahmatullah ‘alaih, ada terdapat sebanyak empat ribu Wali yang sentiasa hidup di dunia ini dan tidak dapat diketahui oleh orang ramai kerana mereka dilindungi dan disembunyikan oleh Allah Ta’ala, dan mereka tidak mengenal antara satu dengan yang lain.

Beliau menyatakan lagi bahwa terdapat tiga ratus orang yang bergelar Akhyar, empat puluh orang yang bergelar Abdal, tujuh orang yang bergelar Abrar, empat orang yang bergelar Awtad, tiga orang yang bergelar Nuqaba dan seorang yang bergelar Qutub dan Ghauts. Mereka yang termasuk dalam golongan tersebut itu adalah mengenali diri mereka antara satu sama lain.

Adapun pembahagian jenis-jenis Wali dinyatakan seperti berikut seperti yang
telah dinyatakan di dalam kitab-kitab.

1. Wali Abdal
2. Wali Abrar
3. Wali Akhyar
4. Wali Aqtab
5. Wali Autad
6. Wali ‘Imad
7. Wali Ghauts
8. Wali Mufradan
9. Wali Maktuman
10. Wali Nujaba
11. Wali Nuqaba
12. Wali Qutub

1. ABDAL

Terdapat empat puluh orang Wali Abdal kesemuanya. Dua puluh dua orang dari mereka berada di Negara Syam yakni Damsyik, Syria dan lapan belas dari mereka berada di Negara Iraq. Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih bahawa sekali Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah ditanyakan orang tentang Ahli Syam yakni Para Abdal. Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah berkata bahawa dia telah mendengar Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahawa,

Wali Abdal berada di Negeri Syam dan mereka berjumlah empat puluh orang kesemuanya. Apabila seorang daripada mereka mati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikan tempatnya dengan seorang yang lain. Dengan menerusi keberkatan mereka maka diturunkan hujan dan membantu mereka menghadapi musuh-musuh dan menjauhkan azab bagi para penduduk Syam.”

2. ABRAR
Kebanyakan Ulama mengatakan bahawa Wali Abdal adalah Wali Abrar.

3. AKHYAR
Terdapat lima ratus orang Wali Akhyar kesemuanya dan adakalanya meningkat sehingga tujuh ratus orang. Kedudukan mereka ada di merata tempat di atas muka bumi ini. Terdapat Hussain pada nama mereka.

4. AQTAB
Terdapat 2 jenis Wali Aqtab:
1.AQTAB MU‘AIYINAH
-Terdapat satu Qutub Al-‘Alam yang dikenali juga sebagai Qutub Akbar atau Qutub Al-Irshad atau Qutub Al- Aqtab atau sebagai Qutub Al-Madar. Namanya di Alam Ghaib ialah ‘Abdullah dan memiliki dua orang pembantu. Di bawahnya terdapat dua belas orang Wali Qutub. Tujuh orang dari Wali Qutub tersebut menduduki tujuh benua dan dinamakan mereka sebagai Qutub Aqlim dan lima orang dari Wali Qutub tersebut tinggal di Negara Yaman. Mereka dinamakan sebagai Qutub Wilayat.

2.AQTAB GHAIR MU‘AIYINAH - Terdapat di setiap bandar atau kariah, seorang Qutub yang akan mendoakan kesejahteraan dan memohon dijauhkan dari segala bala dan musibah.

5. AUTAD
Tedapat 4 orang kesemuanya dan mereka menduduki empat penjuru alam.

6. ‘IMAD
Terdapat 4 orang kesemuanya dan mereka juga menduduki empat penjuru alam dan
bernama Muhammad.

7. GHAUTS

Hanya seorang sahaja Ghauts pada setiap zaman dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia juga adalah Qutub Al-Aqtab dan sebahagian Ulama mengatakan tidak. Beliau tinggal di Mekah dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia tidak tinggal di Mekah.

8. MUFRADAN
Seseorang Wali Ghauts yang menuju kepada maqam Qutub Al-Aqtab akan terlebih dahulu melalui kedudukan Wali Fard atau dikenali sebagai Mufradan atau Mufarridan.

9. MAKTUMAN
Mereka adalah Auliya yang tersembunyi dan tidak diketahui keadaan mereka.

10. NUJABA
Mereka berjumlah 70 orang kesemuanya dan tinggal di Negara Mesir serta terdapat
Hassan pada nama mereka.

11. NUQABA
Mereka berjumlah tiga ratus orang kesemuanya dan mereka tinggal di Negara
Maghribi (Maroko) dan mereka bernama ‘Ali.

12. QUTUB
Terdapat 2 jenis Wali Qutub
1. QUTUB AL-IRSHAD -Yang pertama adalah mereka yang memberi khidmat petunjuk, memperbaiki hati, mentarbiyah nafsu, membimbing kepada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan makbul di sisiNya. Mereka dikenali sebagai Ahli Irshad. Dari kalangan mereka ini yang paling sempurna dan terbaik di zaman masing-masing dan memiliki limpahan Faidhz yang sempurna, maka mereka digelar sebagai Qutub Al-Irshad. Mereka adalah Naib Para Anbiya yang hakiki. Hati-hati manusia bercahaya dan diberkati kerana mereka dan syarat bagi memperolehi keberkatan tersebut dari mereka adalah dengan meletakkan I’tiqad serta kepercayaan yang penuh terhadap mereka. Keupayaan mereka seumpama Nubuwwat.

2.QUTUB AT-TAKWIN - Kemudian ada golongan yang kedua iaitu mereka yang berkhidmat mengislahkan manusia dan mentadbir urusan keagamaan dan sebagai penghindar bala dan musibah yang mana dengan kehendak Batin mereka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperbetulkan urusan-urusan tersebut. Mereka digelar sebagai Ahli Takwin. Dari kalangan mereka itu yang paling tinggi dan kuat kedudukannya dan menjadi penghukum atau penyembuh bagi mereka yang lain, maka mereka itu digelar sebagai Qutub At-Takwin. Hal kehidupan mereka sepertimana kehidupan Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjalankan urusan pentadbiran. Hadhrat Khidhr ‘Alaihissalam menduduki maqam seperti ini. Dengan kedudukan mereka yang tinggi maka terzahirlah perkara-perkara yang ajaib dan perkara ini adalah lazim. Keadaan mereka tidak seperti Ahli Irshad kerana pada Ahli Irshad tidaklah semestinya berlaku perkara-perkara yang menyalahi adat. Ahli Irshad memiliki Karamat dalam bentuk yang berbeza di mana orang- orang awam tidak dapat memahaminya, bahkan ianya adalah urusan yang berupa Zauq dan perasaan Syauq. Seseorang yang berhajat dan berkhidmat dengan mereka ini dalam suatu jangkamasa yang panjang akan beroleh faedah yang besar dan adalah mereka ini mengetahui keadaan tersebut.

Perkataan Qutub pada pengertian bahasa ‘Arab bererti penghulu kaum manakala menurut istilah Ahli Tasawwuf dan Tariqat, Qutub bererti Penghulu bagi Para Auliya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berada pada tingkatan yang teratas dari kebanyakan Para Wali serta terhimpun padanya kesempurnaan Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan Haqiqat. Para Qutub menjadi tempat rujukan dan petunjuk bagi Para Wali yang lain.

Mereka membantu menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri Para Wali dan orang-orang yang menuju kepada Kewalian. Kedudukan mereka sangat tinggi dan tidak mudah dicapai melainkan dengan Rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka ada di tiap pelosok muka bumi dan tidak seorang pun yang mengenali mereka kecuali bagi orang-orang yang benar-benar ikhlas ingin mengenali mereka dan mengambil istifadah ruhaniah yakni faedah keruhanian dari mereka

Di dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya dinyatakan bahawa Wali Qutub diberi gelaran ‘Abdullah dan tingkatan Wali sesudahnya adalah Wali Aimmah yang berjumlah dua orang saja. Seorang diberikan nama ‘Abdur Rabb dan seorang lagi bernama ‘Abdul Malik. Dua orang Wali inilah yang nantinya akan menggantikan Wali Qutub ketika dia wafat meninggalkan Dunia. Di bawah keduanya terdapat Wali Autad yang berjumlah empat orang dan mempunyai tugas yang berlainan pada kawasan yang berlainan. Seorang di Timur, seorang di Barat, seorang di Utara dan seorang di Selatan. Wali Autad adakalanya terdiri dari kalangan kaum perempuan.

Tingkatan selanjutnya di bawah mereka adalah Wali Abdal dan mereka berjumlah tujuh orang dan ditugaskan menjaga tujuh iklim benua di Dunia. Kemudian ada tingkatan Wali Nuqaba iaitu Wali Pengganti sebanyak dua belas orang di setiap peredaran masa dan jumlah mereka tidak akan pernah bertambah mahupun berkurang sesuai dengan jumlah Buruj Falak yang berjumlah dua belas. Kemudian terdapat juga di bawah mereka tingkatan Wali Nujaba yang berjumlah lapan orang dan tingkatan yang terakhir sekali adalah tingkatan Hawariyun. Wallahu A’lam.
Menurut Hadhrat Syeikh Muhammad Hisham Kabbani Quddisallahu Sirruhu
terdapat lima tingkatan Qutub yang tertinggi yaitu:

1. Qutub
2. Qutub Al-Bilad
3. Qutub Al-Mutasarrif
4. Qutub Al-Irshad
5. Qutub Al-Aqtab

Menurut beliau,Qutu b adalah seseorang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan keupayaan menerusi Hakikat Muhammadiyah untuk menghuraikan ilmu pengetahuan tentang hakikat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum kewujudannya sehinggalah diutuskan ke Dunia. Qutub juga menghuraikan cabang- cabang ilmu pengetahuan yang baru menerusi hati Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Bilad adalah bertanggungjawab untuk mentadbir urusan di Dunia dan memastikannya berjalan lancar.

Dia mengetahui tentang keperluan jasmani setiap bangsa manusia dan bukan manusia. Qutub Al-Mutasarrif diberikan kemuliaan untuk mengarahkan Malaikat kepada manusia atau makhluk yang berlainan dan dia bertanggungjawab untuk berkhidmat kepada makhluk sehinggakan kepada ulat di dalam batu. Segala kemuliaan ini diperolehinya menerusi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Irshad pula bertanggungjawab untuk memberikan nasihat dan petunjuk kepada seratus dua puluh empat ribu Para Wali manakala Qutub Al-Aqtab pula bertanggungjawab mengawasi kesemua Wali Aqtab

Di atas sekelian Wali Qutub dan Aqtab adalahGhaut s dan Rohaniahnya adalah yang paling dekat dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada zamannya. Ghauts ada pada setiap zaman dan dia diibaratkan seperti suatu terusan yang akan membawa sesiapa sahaja yang dikehendakinya kepada Hakikat Muhammadiyah dan Hakikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadhrat Khwajah Khwajagan Ghautsul Tsaqilain Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari mereka sepertimana Hadhrat Qutubul Aqtab Ghautsul A’zam Syeikh ‘Abdul Qadir Al- Jailani Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Ghautsul Aqtab Khwajah ‘Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan begitu juga Hadhrat Imam Rabbani Ghauts As- Samdani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih. Mereka datang silih berganti pada setiap zaman sama ada mereka diketahui ataupun tidak diketahui. Para Wali Qutub, Aqtab dan Ghauts menghasilkan limpahan ilmu kerohanian terus dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menerusi hati ke hati. Mereka diberikan pengetahuan tentang segala perkara dan kejadian yang berlaku di atas muka bumi yang berkaitan dengan angin ribut, gempa bumi dan hujan yang lebat.

Mereka selalunya dari keturunan yang mulia Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu menerusi Hassani dan Hussaini. Meskipun jika seseorang yang dikurniakan Qutub atau Aqtab atau Ghauts tidak mempunyai pertalian keturunan Hassani mahupun Hussaini, mereka adalah orang-orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala hendak meninggikannya sepertimana Hadhrat Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang mendapat pengiktirafan sebagai Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meskipun beliau adalah seorang A’jam yang datang berhijrah dari Parsi dan memeluk Islam setelah bertemu dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun kerana ketinggian Iman dan amalannya yang Ikhlas, beliau telah diisytiharkan sebagai Ahlul Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Adapun kedudukan yang lebih tinggi dari yang tersebut di atas, adalah Sultanul Auliya dan ia merupakan kedudukan yang tertinggi bagi seseorang

Wali Allah. Mereka diberikan kewajipan untuk memenuhi keperluan hati dan ruhani manusia. Mereka membawa raja-raja di Dunia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sultanul Auliya merupakan Khalifah Allah yang sebenar di atas muka bumi pada zamannya dan dia merupakan wakil Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara seratus dua puluh empat ribu Para Wali yang lain adalah sebagai mewakili kesemua seratus dua puluh empat ribu Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Wallahu A’lam.

Walaubagaimanapun, satu perkara yang perlu sentiasa dipegang oleh sekelian Ahli Tariqat bahawasanya Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Khatamun Nabiyyin yang bererti Penutup Sekelian Nabi. Ini bermaksud, sesudah Hadhrat Baginda Nabi MuhammadRasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak akan ada lagi sebarang Nabi atau Rasul yang baru akan muncul dengan membawa sebarang Syari’at yang baru sehinggalah ke Hari Qiyamat yang mana inilah merupakan ‘Aqidah sekelian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah disepakati.

Jika ada yang mendakwa dirinya sebagai Nabi atau Rasul atau mendakwa membawa suatu Syari’at yang baru untuk ummat manusia dan ianya bercanggah dengan Syari’at yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka adalah diyakini bahawa ianya tertolak, manakala orang yang mengeluarkan dakwaan tersebut adalah sesat dan jika dia mengajak manusia lain maka adalah dia itu sesat lagi menyesatkan, dan adalah mereka itu Dajjal-Dajjal kecil yang sememangnya ditakdirkan wujud sesudah kewafatan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di kalangan Ummat sepertimana Musailamah Al-Kazzab dan ini merupakan suatui ujian atas keimanan dan I’tiqad di kalangan Ummat Islam.

Adapun Hadhrat Baginda Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang akan muncul menjelangnya Hari Qiyamat bukanlah Nabi yang baru kerana Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam telah pun dihantar 600 tahun sebelum kelahiran Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pada usia 33 tahun telah diangkat ke langit. Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam tidak akan membawa sebarang Syari’at yang baharu, sebaliknya beliau akan turun sebagai seorang Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaksanakan Syari’at Islam dengan Haq.
Wallahu A'lam Wa 'Ilmuhu Akmal Wa Atam

Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

Sufi Road : Wilayat dan Qutbaniyyat

Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

WILAYAT berarti maqam kewalian dan ia merupakan maqam yang khas di kalangan

Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang beriman. Seseorang yang telah mengamalkan Syari‘at Islam dengan sempurna dan menuruti Tariqat yang dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menuruti segala Adab dan Sunnahnya, Makrifat dan mengenal Zat Allah dengan Sifat-SifatNya, Nama- NamaNya serta Perbuatan-PerbuatanNya dengan keyakinan yang sempurna serta telah mencapai Haqiqat dalam kefahamannya tentang wajibnya kewujudan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hakikat Kenabian Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, hakikat Agama, hakikat kewujudan diri, dan segala hakikat kewujudan makhluk dan alam semesta, dia pasti akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala angkatkan ke darjat Para WaliNya.

Wali adalah seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul dengan keimanan yang sempurna dan dia sentiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan membantunya dalam setiap urusan. Allah mengasihinya dan dia mengasihi Allah. Di dalam hatinya tidak ada rasa takut terhadap makhluk dan tidak ada rasa kesusahan hati baginya.

Perkataan Auliya adalah lafaz jamak bagi Wali yang bererti Para Wali dan memberikan makna Para Kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Para Wali adalah mereka yang menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pelindung dansentiasa menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalahAl-Wa l iy yang bererti Yang Maha Melindungi dan Dialah jugaAl-Wal i yang bererti Yang Maha Memerintah dan Menguasai Segala Urusan. Perkataan Wali dari sudut timbangan wazan dalam bahasa ‘Arab boleh membawa makna Isim Fa’il yang bermaksud katanama pelaku dan ianya juga boleh membawa makna Isim Maf’ul yang bermaksud katanama bagi sesuatu yang kena dari perlakuan tersebut.

Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Fa’il, maka Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa menjaga ketaatannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menolak semua perkara yang selain dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerana itulah, maka Wali adalah seorang yang mendapat pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Maf’ul, maka perkataan Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jestru, seorang Wali itu jika dilihat dari sudut hamba, maka dia sentiasa taat menjaga hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melaksanakan segala yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika dilihat dari sudut Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka dia sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dia boleh melakukan ketaatan kepadaNya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Quran pada Surah
Yunus ayat 62 – 64 bagi menerangkan keadaan Para WaliNya yang bermaksud,

“Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan di Akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimah janji-janji Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Para Wali sentiasa mendapat perlindungan khusus dari Allah dan di kalangan mereka ada yang mencapai berbagai tahap dan tingkatan kesucian. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa menyucikan dan mensucikan diri dengan Istighfar, Taubat, Zikrullah dan Selawat serta pembacaan Al-Quran.
Di dalam kitab Risalah Qusyairiyah ada dinyatakan ciri-ciri untuk mengenal
pasti bahawa seseorang itu adalah Wali Allah dan ianya menerusi tiga perkara, iaitu:
1) Mereka selalu menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
2) Mereka selalu bermunajat, meminta dan memohon kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
3) Mereka menjadikan maksud dan tujuan mereka satu iaitu Allah SubhanahuWa Ta’ala.

Hadhrat ‘Abdullah As-Salim Rahmatullah ‘alaih mentakrifkan Wali sebagai,

“Mereka yang dapat dikenal kerana bicara mereka yang baik, tingkah laku yang sopan, merendahkan diri, murah hati, tak suka berselisih, menerima permintaan maaf dari siapa saja yang meminta maaf kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan baik yang elok rupanya mahupun yang buruk.”

Hadhrat Ibnu ‘Arabi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa,

“Seseorang itu disebutkan sebagai Wali apabila dia sudah mencapai tingkatan Ma’rifat, iaitu tingkatan tertinggi dalam tingkatan Tasawwuf Akhlak. Tetapi yang sulitnya Ma’rifat ini tidak dapat diperolehi melalui teori atau manhaj. Ma’rifat adalah pemberian dan anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih berkata bahawa,
“Wali ialah seorang yang sentiasa sabar di bawah suruhan dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Walaubagaimanapun, di kalangan Para Wali dan Auliya, Wilayat merupakan suatu maqam yang umum yang mampu dicapai oleh sekelian Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di sisi Allah terdapat suatu maqam kewalian yang lebih tinggi dan merupakan suatu maqam yang khusus di kalangan Para Wali yang menduduki maqam Wilayat dan ianya merupakan maqam Qutbaniyat. Ianya merupakan suatu kedudukan yang khusus bagi golongan yang khas.

Terdapat berbagai jenis Wali yang datang silih berganti yakni apabila wafatnya salah seorang dari mereka maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat seorang lagi hambanya dikalangan orang-orang yang beriman untuk menggantikan tempat WaliNya yang telah wafat.

Iman merupakan syarat utama kerana sekiranya seseorang itu tidak beriman, bagaimanakah dia hendak mengenali Penciptanya? Walaubagaimanapun, hanya orang-orang beriman yang telah mencapai martabat Iman dan ‘Amal yang sempurna kepada Allah dan Rasul, barulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkatnya sebagai Wali. Seseorang Wali sekali-kali tidak akan dapat mencapai pangkat Nabi dan sesungguhnya setiap Nabi adalah Wali.
Hadhrat Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih pernah bertanya kepada
seorang lelaki,
“Apakah kamu suka bila Allah menjadikanmu seorang Wali?”
Kemudian lelaki itu menjawab,
“Ya, aku suka.”

Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih lalu berkata,

“Janganlah engakau menyenangi perkara dunia dan akhirat tetapi kosongkanlah jiwamu untuk Allah semata dan hadapkan wajahmu kepada Nya supaya Allah menerimamu dan menjadikanmu sebagai WaliNya.”

Hadhrat Syeikh Ahmad Al-Fathani Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di
dalam kitabnya Faridatul Faraid bahwa,

“Mengi’tiqadkan tsabit Karamat bagi Para Auliya pada ketika hidup dan setelah wafat mereka adalah wajib. Karamat atau Karamah ialah sesuatu pekerjaan atau perbuatan atau perlakuan yang menyalahi dan mencarik adat secara nyata dan ianya dikurniakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman lagi beramal soleh. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa mendirikan dan menegakkan segala hak-hak Allah di atas muka bumi.”

Berkata Hadhrat Syeikh Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Ahmad An- Nasafi Rahmatullah ‘alaih di dalam kitabnya ‘Aqaid An-Nasafi menyebutkan bahawa,

“Segala Karamah yakni segala perlakuan yang mulia dan indah yang terbit dari segala Wali itu adalah kebenaran yang Haq. Maka menjadi nyatalah segala Karamah itu atas jalan melawan adat bagi seseorang Wali, seperti melalui perjalanan yang jauh dalam masa yang sedikit, kelihatan hadirnya makanan atau minuman atau pakaian tatkala berkehendak, berjalan di atas air dan pada udara, boleh berkata-kata dengan Jamad yakni segala benda yang bersifat beku dan juga boleh berkata-kata dengan ‘Ajma yakni segala benda yang tidak tahu berkata-kata, dapat menolak sesuatu bala yang dihadapi, dapat memelihara daripada sesuatu yang mendukakan dari kalangan musuh dan seteru serta berbagai-bagai lagi yang selain dari yang telah disebutkan.”

Adapun perkara yang sedemikian itu apabila berlaku ke atas Para Nabi maka ianya disebutkan sebagai Mukjizat dan bagi orang-orang yang beriman, perkara tersebut dinamakan sebagai Karamat. Apabila perkara-perkara yang berbentuk Karamat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala zahirkan di kalangan Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ianya adalah untuk menzahirkan bahawa sesungguhnya dia itu seorang Wali.
Hadhrat Ibnu ‘Ataillah Al-Iskandari Rahmatullah ‘alaih ada menyebut,
“Maha Suci Allah yang telah menutup berbagai rahsia Wali dengan
ternampaknya sifat-sifat manusia biasa.”
Menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abbas Al-Mursi Rahmatullah ‘alaih bahawa,

“Jika Allah bukakan dan perlihatkan rahsia atau Nur Kewalian itu nescaya boleh merosakkan Tauhid Wali itu sendiri. Misalnya Hadhrat Mansur Al-Hallaj Rahmatullah ‘alaih yang pernah mengucapkan:
“Maha Suci Engkau, Maha Suci Aku” adalah ketika Nur Kewaliannya Tajalli
pada dirinya.”

Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

Sunday, April 10, 2011

Sufi Road : Hadrah Basaudan

Hadrah BaSaudan adalah kumpulan zikir, munajat, ibtihal, qasidah dan tawassul yang disusun oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad BaSaudan. Tetapi dikatakan bahawa susunan awalnya adalah daripada Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar lalu dilanjutkan oleh muridnya Syaikh ‘Abdullah BaSaudan dan akhirnya disempurnakan oleh Habib ‘Abdur Rahman al-Masyhur, pengarang “Bughyatul Mustarsyidin”. Oleh itu di sesetengah tempat, hadrah ini dikenali sebagai “Hadrah al-Baar”, sempena syaikh futuh Syaikh ‘Abdulah BaSaudan, Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar

Seluruh ulama Tarim, Hadhramaut sangat mengetahui Hadrah ini memiliki manfaat yang sangat banyak sebagai wasilah memohon daripada Allah akan segala rahmat, pemeliharaan, keselamatan dan kejayaan di dunia dan akhirat. Di Tarim, setiap hari Selasa selalu digelar majlis-majlis pembacaan Hadrah Basaudan di banyak tempat, antaranya di Rubath Tarim, di kediaman al-Mufti al-Habib ‘Abdur Rahman bin Muhammad al-Masyhur, di kubah al-Habib Abu Bakar Basymeleh Zanbal, di madrasah Habib Abdullah bin Syeikh al -Aydrus, dan di masjid- masjid yang lain, bahkan juga di rumah-rumah penduduk. Majlis yang diadakan setiap Selasa di rumah Habib ‘Abdur Rahman al-Masyhur dikepalai oleh al-Habib Ali Masyhur bin Muhammad BinHafiz, kekanda Habib ‘Umar BinHafiz. Kini, majlis-majlis Hadrah BaSaudan mula berkembang ke seluruh dunia Islam. Semoga keberkatannya dapat kita rasai, istimewa pada zaman yang penuh dengan pancaroba dan petaka ini.Imam Hujjatul Islam Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdur Rahman BaSaudan rahimahumUllah jami`an dilahirkan di desa Khuraibeh, wadi Dau`an, Hadhramaut pada tahun 1178H. Nasab beliau bersambung kepada Sayyidina al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi RA, sahabat Junjungan Nabi SAW.

Syaikh Abdullah BaSaudan sejak kecil lagi telah diasuh dengan didikan agama. Sejak usia tersebut lagi beliau telah menghafal al-Quran dan berbagai matan ilmu. Beliau mempunyai ramai guru, di antaranya ialah Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad bin Faris BaQais dan Habib ‘Umar bin Abdur Rahman al-Baar, murid Imam al-Haddad RA, yang menjadi syaikh futuhnya, Habib Ahmad bin ‘Ali Bahar al-Qadimi, Habib Hamid bin ‘Umar Hamid, Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, Habib Husain bin ‘Abdullah bin Sahal, Habib ‘Umar bin Saqqaf as-Saqqaf, Habib Syaikh bin Muhammad bin Hasan al-Jufri, Habib Hasan bin Shaleh al-Bahar al-Jufri, Habib Thahir bin Husain bin Thahir dan Habib ‘Umar bin Zain BinSumaith rahimahumUllahu. Selain Hadhramaut, Syaikh ‘Abdullah BaSaudan turut menimba ilmu daripada ulama al-Haramain, antarnya dengan Habib ‘Ali bin Muhammad al-Baity, Habib Muhsin bin Alwi Muqaibal, Habib Ahmad bin ‘Alwi BaHasan Jamalulail dan Syaikh Muhammad bin Shaleh ar-Rais rahimahUllahu ta`ala jami`an. Syaikh ‘Abdullah BaSaudan juga pernah berkelana ke Mesir dan bermukim di sana untuk belajar dengan para ulamanya.

Ketekunan beliau dalam menuntut ilmu akhirnya menjadikan beliau seorang yang sangat alim (`allaamah) yang menjadi rujukan dan mufti. Bahkan, para ulama Hadhramaut memberikan gelar “Hujjatul Islam” kepada beliau lantaran ketinggian ilmu dan keelokan amal serta pekerti beliau.

Syaikh ‘Abdullah BaSaudan juga mempunyai banyak karya yang bernilai, antaranya:-

Mandzhumah al-Mishbaah fi Ahkaamin Nikah;
Tahshiilul Maqshuud;
‘Uddatul Musaafir wa ‘Umdatul Haaj waz Zaa-ir;
al-Ifshaah bi Ahkaamin Nikaah;
Zaituunatul Liqaah;
al-Futuuhaatul ‘Arsyiyyah;
Mathaaliul Anwaar;
Hadaa-iqul Arwah;
Kasyful Qinaa’;
Dzakhiiratul Ma`aad bi Syarhi Ratibil Haddad;
al-Anwaarul Laami`ah bi Syarhil Risaalatil Jaami`ah;
Simthul ‘Iqyaan;
Syaikh ‘Abdullah BaSaudan rahimahUllah kembali ke rahmatUllah pada tanggal 7 Jumadil Awwal 1266H dan dimakamkan di Kota Khuraibeh. Mudah-mudahan Allah mencucuri rahmat dan kasih-sayangNya kepada beliau … al-Fatihah.

Sumber : Pondok Habib

Sufi Road : Perbedaan Ilmu dan Ma'rifah : Imam Al Gazali

Ma'rifah adalah esensi taqarrub (pendekatan pada Tuhan). Ma'rifah merupakan hasil penyerapan jiwa yang mempengaruhi kondisi jiwa seorang hamba yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh akd-vitas ragawi. Ilmu, diibaratkan seperti melihat api sementara ma'rifah ibarat cahaya yang memancar dari nyala api tersebut.
Ma'rifah secara etimologis adalah pengetahuan tanpa ada keraguan sedikit pun. Dalam terminologi kaum Sufi, ma'rifah disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persoalan Zat Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya.

Jika ditanya, "Apa yang dimaksud dengan ma'rifah Zat dan apa pula maksud dari ma'rifah sifat?" Maka jawabnya: "Ma'rifah Zat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. itu Wujud dalam Keesaan, Tunggal, dengan segala Keagungan yang bersema-yam dalam diri-Nya, dan ddak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Adapun ma'rifah sifat, adalah me-ngetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. Maha-hidup, Maha Mengetahui, Mahaberkuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat dan dengan segala sifat Kemaha-sempurnaan lainnya."
Jika ditanya: "Apa rahasia ma'rifah itu?" Rahasia dan ruhnya adalah ke-tawhid-an. "Yaitu dengan men-sucikan segala sifat; Hidup, Mengetahui, Kuasa, Kehendak, Mendengar, Melihat, berfirman-Nya dari penyerupaan dengan sifat-sifat makhluk. Karena, tidak ada serupa bagi-Nya."

Lalu manakala ditanya, "Apa tanda-tandanya?" Tanda-tandanya adalah hidupnya hati bersama-Nya. Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Dawud As, "Mengertikah kau, apakah ma'rifah-Ku itu?" Nabi Dawud menjawab, "Tidak." Allah berfirman: "Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku."

Kalau ditanyakan, "Pada tahap atau maqam manakah hakikat kema'rifahan itu dibenarkan?" Jawabnya, "Pada tahap musyahadah (penyaksian), dan ru'yab (melihat) dengan segenap nurani (sirr). la melihat untuk mencapai ma'rifah, dan hakikat ma'rifah berada dalam badn mereka, lalu kemudian Allah Swt. menyingkap sebagian tabir penutup. Lantas diper-lihatkan pada mereka Cahaya Zat dan Sifat-sifat-Nya, dari balik tabir itu, agar mereka melihat-Nya. Tabir ddak disingkap secara keseluruhan, supaya mereka tidak terbakar."

Sang Sufi bersyair:

Seandairya Aku tampak tanpa hijab,
Tentu Aku telah menjadikan semua manusia sempuma
Namun hijab itu begitu lembut
Sehingga mampu membangkitkan hidup jiwa para perindu

Petampakan keagungan-Nya akan melahirkan perasaan takut (khawf), dan rasa kewibawaan (haybah). Petampakan kebajikan (al-husn) dan keindahan (al-jamat) tentu akan melahirkan kerinduan (asy-syawq). Sementara petampakan sifat-sifat-Nya akan melahir­kan kecintaan. Dan petampakan Zat, melahirkan ke-tawhid-an.

Sebagian ahli ma'rifah: "Demi Allah Swt., seseorang tidak akan menggapai apa pun dari dunia melainkan Allah Swt. akan membutakan hatinya, dan semua amalannya akan sia-sia. Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahayanya. Dan Allah Swt. juga menjadikan hati dalam kegelapan, cahaya ma'rifah-lah yang akan menyinarinya. Tatkala mendung menjelang, maka sirnalah cahaya matahari dari bumi. Dan ketika cinta dunia hadir dalam hati seorang hamba maka cahaya ma'rifah pun akan menyingkir darinya."

Ada pula yang mengatakan: "Hakikat dari ma'rifah adalah cahaya yang menyeruak dari kalbu seorang Mukmin, dan tiada sesuatu yang lebih mulia dalam had sesorang hamba kecuali ke-ma'rifah-an."

Sinyalir lain: "Matahari yang menerangi hati seorang ahli ma'rifah lebih cemerlang dan bercahaya dibandingkan dengan cahaya matahari yang sesungguhnya. Karena matahari pada sore hari harus tenggelam, sementara matahari ahli ma'rifah dada akan pernah tenggelam meski malam riba."

Mereka mendendangkan satu bait syair:

Sang surya akan tenggelam dengan datangnya malam,
Lain halnya dengan matahari kalbu yang tiada pernah tenggelam
Siapa pun yang mencinta kekasihnya
la akan terbang menemuinya dengan segala kerinduan

Zu an-Nun al-Misri berkata: "Hakikat ma'rifah adalah mengetahui rahasia-rahasia Yang Haqq melalui perantara kelembutan cahaya."

la menulis:

Bagi orang 'arif, kalbu menjadi mata mereka
Untuk menatap Cahaya llahi yang tersimpan di balik hijab
la tuli dari segala makhluk, dan dibutakan daripandangan mereka
Bisu untuk menjawab ajakan mereka yang berucap dusta

Ketika mereka ditanya, "Kapankah seorang hamba dapat diketahui kalau ia telah ma'rifah?" Yaitu ketika tidak ada lagi tempat tersisa di dalam hatinya sebagai singgasana bagi selain-Nya.

Ada lagi yang mengatakan bahwa, hakikat ma'rifah adalah musyahadah dengan Yang Haqq tanpa melalui mediasi, tanpa dengan metode, dan tidak juga dapat diumpamakan. Seperti diceritakan dari kisah 'Ali Ibn Abi Thalib kerika ia ditanya: "Ya Amirul Mukminin, Apakah Anda telah menyembah apa yang Anda lihat, atau Anda menyembah yang tidak Anda lihat?" Beliau menjawab: "Tidak. Aku menyembah Zat yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, melainkan dengan penglihatan kalbu."

Ja'far as-Sadiq juga pernah ditanya: "Apakah Anda melihat-Nya?" Beliau menjawab: "Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihat." la pun ditanya lagi: "Lalu bagaimana Anda melihat-Nya sementara la tidak dapat dilihat dengan mata kepala." Ja'far kembali menjawab: "Aku tidak akan mampu melihat-Nya dengan pandangan mata, tapi melihat-Nya dengan mata hati melalui hakikat keimanan. Dia tidak kasat indera dan tidak pula dapat diukur oleh manusia."
Sebagian ahli ma'rifah lain juga pernah ditanyai mengenai hakikat kema'rifahan, dan mereka menyatakan: "Hakikat ma'rifah adalah mensucikan rahasia dan segala kehendak, meninggalkan segala kebiasaan, menentramkan hati tertuju kepada-Nya tanpa melalui mediasi, dan meninggalkan sikap berpaling dari Allah Swt. dengan beralih pada selain-Nya. Karena ma'rifah pada substansi Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan juga hakikat-Nya, tidak mungkin dapat dicapai kecuali hanya dengan-Nya yang Mahaluhur dan Mahabijak. Segala puji hanya bagi-Nya."

Source : Mi'raj as-Salikn, Imam Al Gazali
Alfalah.or.id

Sufi Road : Makna Suluk dan Tasawwuf : Imam Al Gazali

Suluk berarti memperbaiki akhlak, mensucikan amal, dan menjernihkan pengetahuan. Suluk merupakan aktivitas rutin memakmurkan lahir dan batin. Segenap kesibukan hamba hanya ditujukan kepada Sang Rabb, bahkan ia selalu disibukkan dengan usaha-usaha menjernihkan hati sebagai persiapanuntuk sampai kepada-Nya (wusul).

Ada dua perkara yang dapat merusak usaha seorang salik (pelaku suluk), yaitu pertama, mengikuti selera orang-orang yang mengambil aspek-aspek yang ringan dalam penafsiran dan kedua, mengikuti orang-orang sesat yang selalu menurut dengan hawa nafsunya. Barangsiapa yang menyia-siakan waktunya,maka ia termasuk orang bodoh. Dan orang yang terlalu mengekang diri dengan waktu maka ia termasuk orang lalai. Sementara orang yang melalaikannya, dia adalah orang-orang lemah.Keinginan seorang hamba untuk melakukan laku suluk tidak dibenarkan kecuali ketika ia menjadikan Allah Swt. dan Rasul-Nya sebagai pengawas hatinya. Siang hari ia selalu puasa dan bibirnya pun diam terkatup tanpa bicara, sebab terlalu berlebihan dalam hal makan, bicara, dan tidur akan mengakibatkan kerasnya hati. Sementara punggungnya senantiasa terbungkuk rukuk, keningnya pun bersujud, dan matanya sembab berlinangan air mata. Hatinya selalu dirundung kesedihan (karena kehinaan dirinya dihadirat-Nya), dan lisannya tiada henti terus berzikir.

Dengan kata simpul, seluruh anggota tubuh seorang hamba disibukkan demi untuk melakukan suluk. Suluk dalam hal ini adalah segala yang telah dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci olehnya. Melekatkan dirinya dengan sifat wara' meninggalkan segala hawa nafsunya, dan melakukan segala hal yang berkaitan erat dengan perintah-Nya. Semua itu dilakukan dengan segala kesungguhan hanya karena Allah Swt., bukan sekadar untuk meraih balasan pahala, dan juga diniatkan untuk ibadah bukan hanya sekadar ritual kebiasaan. Karena sesungguhnya orang yang Asyiq dengan amaliahnya, tidak lagi memandang bentuk rupa zahir amalan itu, bahkan jiwanya pun telah menjauh dari syahwat keduniaan. Maka satu hal yang benar adalah meninggalkan segala bentuk ikhtiar sekaligus menenangkan diri dalam hilir mudik takdir Tuhan.

Dalam sebuah syair dinyatakan;

Aku ingin menemuinya,
Namun Dia menghendakiku untuk menghindar
Lalu kutanggalkan semua hasratku
Demi apa yang Kaukehendaki

Sirnakan semua makhluk darimu dengan hukum Allah Swt. dan binasakan hawa nafsumu atas perintah-Nya. Demikian halnya, tanggalkan seluruh hasratmu demi perbuatan-perbuatan-Nya (af'al). Dengan demikian, maka kau telah mampu menangkap ilmu Allah Swt.

Kebebasanmu dari ketergantungan dengan makhluk ditandai dengan perpisahanmu dengan mereka, kau tidak akan kembali dengan mereka, dan
kau pun tidak akan menyesali semua yang ada dalam genggaman mereka. Adapun tanda kebebasanmu dari hawa nafsu adalah dengan tidak memasang harapan yang beriebihan dari semua usahamu, dan tidak pula bergantung dengan urusan kausalitas untuk meraih sebuah kemanfaatan ataupun untuk menghindari kebinasaan. Maka kau jangan hanya bergulat dengan dirimu sendiri, jangan terlalu percaya diri, jangan mencelakan atau membahayakan dirimu sendiri. Namun, pertama-tama yang harus kau lakukan adalah menyerahkan semuanya pada Yang Berhak, agar Dia berkenan memberikan kuasa-Nya kepadamu. Seperti kepasrahanmu kepada-Nya saat kau berada dalam rahim ibumu, atau saat kau masih dalam susuan ibumu.

Sementara, tanggalnya seluruh hasrat iradah-mu. lebur dalam iradah-Nya ditandai dengan tidak adanya sifat menghendaki dalam dirimu (murid), dalam hal ini kau hanyalah sebagai obyek yang dikehendaki (murad), bahkan dalam setiap lakumu ada intervensi aktivitas-Nya maka jadilah kau sebagai obyek yang dikehendaki-Nya. Adapun aktivitas-Nya menempati semua anggota ragamu, mententramkan jiwa, melapangkan dada, menyinari wajahmu, dan memeriahkan suasana batinmu. Takdir menjadi nuansa dalam hatimu, azali senantiasa akan menyerumu. Rabb yang Maha Menguasai mengajarimu dengan ilmu-Nya, menyematkan pakaian untukmu dari cahaya
hulul, dan memposisikanmu pada derajat generasi orang terdahulu di antara para ulama yang saleh (ulu al-'ilm).

source : Mi'raj as-Salikin, Imam Al Gazali
Alfalah.or.id