Friday, September 24, 2010

Sufi Road : Syekh Taqiyuddin al-Hishni (sang sufi pengarang kifayatul al akhyar)

Di kalangan santri pondok pesantren salafiyah, nama Syekh Taqiyuddin al-Hishni asy-Syafii sudah tak asing lagi. Namanya begitu terkenal berkat salah satu karyanya yang senantiasa dipelajari para santri, yakni Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar. Kitab ini merupakan salah satu kitab pokok yang dipelajari di pesantren salaf, bahkan kitab seakan menjadi kitab wajib di pesantren.

Nama lengkapnya adalah Imam Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu'min bin Hariz bin Mualla bin Musa bin Hariz bin Sa`id bin Dawud bin Qasim bin Ali bin Alawi bin Naasyib bin Jawhar bin Ali bin Abi al-Qasim bin Saalim bin Abdullah bin Umar bin Musa bin Yahya bin Ali al-Ashghar bin Muhammad at-Taqiy bin Hasan al-Askari bin Ali al-Askari bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadhzim bin Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal Abidin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Tholib at-Taqiy al-Husaini al-Hishni.

Ia lebih dikenal dengan nama Imam Taqiyuddin al-Hishni. Ia adalah seorang ulama besar dan ahli sufi bermazhab Syafii. Pria yang berasal dari Hishni (Syam) ini dilahirkan pada tahun 752 H, dan wafat pada Rabu, 14 Jumadil Akhir 829 H di Damaskus.
Dalam pengembaraan intektualnya ia banyak belajar pelbagai disiplin ilmu agama kepada para ulama besar yang ada pada saat itu. Di antaranya adalah Syekh Abul Abbas Najmuddin Ahmad bin Utsman bin Isa al-Jaabi; Syekh Syamsuddin Muhammad bin Sulaiman ash-Sharkhadi; Syekh Syarafuddin Mahmud bin Muhammad bin Ahmad al-Bakri; Syekh Syihaabuddin Ahmad bin Sholeh az-Zuhri; Syekh Badruddin Muhammad bin Ahmad bin Isa; Syekh Syarafuddin Isa bin 'Utsman bin 'Isa al-Ghazi; dan Syekh Shadruddin Sulaiman bin Yusuf al-Yaasufi.

Sepanjang hidupnya, Syekh Taqiyuddin al-Hishni banyak menulis kitab besar dan bernilai tinggi. Diantaranya
">(1) Daf'u Syubahi Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila asy-Sayyid al-Jalil al-Imam Ahmad;
2) Syarah Asmaullah al-Husna;
3)At-Tafsir;
4) Syarah Shohih Muslim (3 jilid);
5) Syarah al-Arbain an-Nawawi;
6) Ta'liq Ahadits al-Ihya;
7) Syarah Tanbih (5 jilid);
8) Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah Al-Ikhtishar;
9) Syarah an-Nihayah;
10) Talkhish al-Muhimmaat (2 jilid);
11) Syarah al-Hidayah;
12) Adab al-Akl wa asy-Syarab;
13) Kitab al-Qawaa`id;
14) Tanbih as-Saalik;
15) Qami`un Nufuus;
16) Siyarus Saalik;
17) Siyarush Sholihaat;
18) Al-Asbaabul Muhlikaat;
19) Ahwal al-Qubur;
20) al-Mawlid.

Karomah
Seabrek karyanya itu, menunjukkan kedalaman dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Syekh Taqiyuddin al-Hishni. Namun demikian, sebagian ulama juga mendapati kekaromahan atau tingkat kewalian dari pengarang kitab Kifayah al-Akhyar ini.

Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitabnya Jaami` Karaamaatil Awliya` juz 1 halaman 621- 622, Syekh Taqiyuddin merupakan seorang ulama yang memiliki kemuliaan tinggi. Ia menyebutkan, sewaktu para mujahidin berperang di Cyprus, maka banyak diantara mereka yang melihatnya ikut membantu perjuangan umat Islam di Cyrus, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemenangan. Ketika mereka menceritakan hal itu kepada murid-muridnya di Damaskus, para muridnya menyatakan, bahwa Syekh Taqiyuddin tidak pergi kemana-mana dan senantiasa mengajarkan ilmu di Damaskus.

Dalam suatu kesempatan, Syekh Taqiyuddin juga terlihat berada di makkah dan madinah mengerjakan ibadah haji bersama umat Islam lainnya. Namun, di waktu yang sama, murid-muridnya sedang bersama Syekh Taqiyuddin belajar ilmu agama. Wa Allahu A'lam. (sya/republika)

Sumber : Al Arafah

Thursday, September 23, 2010

Sufi Road : Sekilas Nabi Khidir AS

Al-Khiḍr (Arab:الخضر, Khaḍr, Khaḍer, al-Khaḍir) adalah seorang nabi misterius yang dituturkan oleh Allah dalam Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang nabi Khidir yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa asal usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidir tidak banyak disebutkan.

Dalam bukunya yang berjudul “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidr dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Idris (Enoch), Ilyas (Elias), dand Isa (Jesus).[1] Khidr abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidr adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia.[2] Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George.[3] Diantara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “Karakter Khidr dibentuk dari Jethro.”[4]
Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidr. Beberapa orang mengatakan Khidr adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan.[5] Khidr telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elijah versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi.[6] Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain.

Etimologi

Al-Khiḍr secara harfiah berarti 'Seseorang yang Hijau' melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.[7]

Biografi

Al-Khiḍr (kanan) dan Dzu al-Qarnayn (yang selalu dihubungkan dengan Alexander the Great), takjub dengan penglihatannya terhadap seekor ikan air asin yang kembali hidup ketika ditaruh ke dalam Air Kehidupan.

Menurut Syaikh Imam M. Ma’rifatullah al-Arsy, Segitiga Bermuda merupakan tempat titik terujung di dunia ini. Ditengah kawasan itu terdapat sebuah telaga yang airnya dapat membuat siapa saja yg meminumnya menjadi panjang umur, ditempat itu pula Khidr bertahta sebagai penjaga sumber air kehidupan tersebut.[8]
[sunting] Teguran Allah kepada Musa

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.

Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya,
“ Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62) ”

Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,
“Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63) ”

Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.
“ Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64) ”

Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Persyaratan belajar

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”

Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”

“ Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69) ”

“ Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70) ”


Perjalanan Khidr dan Musa

Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.

Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.

Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”

Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”

Hikmah kisah Khidir

Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)

Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.

Catatan kaki

1. ^ Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, (Chapel Hill: University of North Carolina Press. 1975), 202.
2. ^ “Muslim version of Elijah” George K. Anderson. The Legend of the Wandering Jew (Providence: Brown University Press. 1965), 409; Exhaustive material on Khidr’s resemblance with Elijah is presented in Friedlaenders “Khidr” in the Encyclopedia of Religion and Ethics (New York: Charles Scribner’s Sons, 1915), 693-95.
3. ^ Peter L. Wilson, “The Green Man: The Trickster Figure in Sufism”, in Gnosis Magazine 1991, 23.
4. ^ On Rodwell, see W.M. Thackston Jr.. The Tales of the Prophets of al-Kisai /(Boston: Twayne Publishers, 1978), xxiv.
5. ^ Alexander H. Krappe. The Science of Folklore (New York: Barnes and Noble Inc., 1930), 103.
6. ^ However, he refers to the Wandering Jew as Ahasver. See Haim Schwarzbaum. Biblical and Extra-Biblical Legends, 17.
7. ^ al-Khidr disitus Encyclopædia Britannica
8. ^ Misteri segitiga bermuda versi Islam

Sumber Data:
http://id.wikipedia.org/wiki/Khidir


Wednesday, September 22, 2010

Sufi Road : Makam Para Nabi (3)

tomb_of_prophet_dul_kafeil(as)syria

prophet_ibrahim(as)hebronpalestine




prophet_Ibrahim(as)_n_Hajira(as)palestine


prophet_daniel(as)

prophet_daniel(as)uzbekistan


prophet_yaqub(as)palestine

prophet_luqman(as)iraq


prophet_yosha(as)

prophet_yosha(as)jordan




Sufi Road: Rumi Poem - "Menangislah.."

Menangislah.....
Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir

Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”

Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung

Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugerah Tuhan kan curahkan air susunya

Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya

Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan

Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti

Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis

Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar

Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu
karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu

Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur
Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur

Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu
Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!

Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu
Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu

Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu
Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu

Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji
Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi

Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian
Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan

__________
dari buku Matsnawi, Buku Kelima 65-149

Sufi Road : Imam Suyuthi (Tafsir Jalalain )

Imam besar yang akrab di telinga para santri dengan karyanya Tafsir Jalalain ini mempunyai nama lengkap Abdurrahman bin al-Kamal, Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin bin al-Fakhr Utsman bin Nazhiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidr bin Najmuddin Abi al-Shalah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad ibnu Syekh Humamuddin al-Khudhairi al- Asyyuthi.
Nenek moyangnya (Humamuddin) termasuk pengikut ahli hakikat dan juga salah satu guru thariqahsufiyah.
Adapun kakeknya satu tingkat sebelum Humamuddin termasuk orang yang mempunyai kedudukan terhormat dan memimpin tampuk kepemimpinan dalam pemerintahan. Di antara nenek moyang alim agung ini ada yang menjadi kepala pemerintahan di wilayahnya masing-masing, sebagian lagi menjadi petugas pengawas harga dan penimbangan, sebagian lagi menjadi pedagang bekerja sama dengan Amir Syaihun. Dengan pendanaan sendiri dia membangunan madrasah di Asyyuth yang kemudian diwakafkan untuk kepentingan masyarakat. Ada juga keluarga as-Suyuthi yang menjadi jutawan. Bisa dikatakan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikan dan berkhidmat untuk kepentingan ilmu pengetahuan kecuali ayah beliau.

Silsilah al-Khudhairi yang dimiliki pengabadi turas Islam ini merupakan silsilah keluarga di Baghdad, Irak. Hal ini ia ketahui dari seseorang yang memberitahukan bahwa dia telah mendengar dari ayah al-Suyuthi tentang silisilah nenek moyangnya tersebut. Orang shalih tersebut bercerita bahwa nenek moyang al-Suyuthi adalah orang ajam (bukan Arab) atau dari daerah belahan timur. Maka dari cerita tersebut jelaslah bahwa daerah yang dimaksudkan adalah daerah Baghdad, Irak.
Al-Suyuthi lahir malam ahad sesudah maghrib, awal bulan Rajab tahun 849 H. Ketika sang ayah tercinta masih hidup as-Suyuthi kecil pernah dibawa ke seorang Syekh yang bernama Muhammad al-Majdzub, seorang ulama besar yang tinggal di samping makam Sayyidah Nafisah

As-Suyuthi dan aktivitas keilmuan
Alim tafsir ini tumbuh dan berkembang dalam keadaan yatim. Ketika berusia kurang dari delapan tahun ia telah hafal Alquran, kemudian menghafalkan kitab Al-Umdah, Kitab Minhaj dalam ilmu fikih, Kitab Usul Fiqh dan Alfiyyah Ibnu Malik.
Pada awal tahun 864 H tokoh kita ini mulai belajar ilmu agama. Ia belajar ilmu fikih dan nahwu dari beberapa guru dan belajar ilmu faraidh dari Al-Allamah Syekh Syihabuddin al-Syarimsahi. Diceritakan bahwa umur Syekhtersebut telah melewati usia lebih dari seratus tahun dan dari Syekh tersebut, as-Suyuthi belajar ilmu faraidh dari kitab Majmu'. Pada awal tahun 866 H ia mulai mengajar bahasa Arab.


Pada usia yang masih cukup muda itu, alim agung ini telah memulai mengarang buku. Buku pertama yang menjadi buah karyanya adalah Syarh al-Istifaadah wal Basmalah. Buku tersebut kemudian diperlihatkan pada gurunya, Syekh Alamuddin al-Bulqini, dan rupanya sang guru berkenan menulis kata pengantar dalam kitab tersebut.

Kendatipun sudah mengajar dan mengarang namun aktivitas belajar masih giat ia lakukan. Sebab semakin seseorang belajar semakin merasa bodoh dan semakin tahu betapa banyak hal yang belum dan mesti diketahui. Oleh karena itu as-Suyuthi juga belajar kitab Minhaj, Syarh al-Bahjah dan Hasyiyah-nya dan Tafsir Baidhawi pada Syekh Syarafuddin al- Munawi. Dalam bidang ilmu hadits dan ilmu tata bahasa, Imam Suyuthi berguru pada Syekh Taqiyuddin al-Syibli al-Hanafi selama empat tahun. Dia juga telah memberikan kata pengantar dalam kitab Syarh Alfiyyah dan kitab Jam'ul jawami' dalam ilmu tata bahasa arab.

Imam Suyuthi juga berguru pada Syekh Muhyiddin al-Kafiji dan Syekh Saifuddin al-Hanafi dalam berbagai disiplin ilmu. Belajar, mengajar dan mengarang hampir menjadi nafas guru besar ini. Maka tidak aneh buah karya Imam Suyuthi mencapai 300 kitab.
Dalam pengembaraan mencari ilmu pemburu ilmu ini pernah singgah di Syam, Hijaz, Yaman, Hindia, Maroko dan Takrur. Ketika melaksanakan ibadah ia mengharap berkah dengan minum air zamzam dengan tujuan bisa seperti Imam Sirajuddin al-Bulqini dalam bidang fikih dan Imam Ibnu Hajar dalam bidang hadits. Berkat pertolongan Allah, guru kita ini bisa menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Dalam penguasaan ilmu Imam nan bijaksana ini mengelompokkan dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok ilmu-ilmu yang paling ia kuasai, kemudian kedua ilmu-ilmu yang ia kuasai namun kadarnya di bawah kelompok yang pertama. Demikian seterusnya.
Adapun kelompok pertama ada tujuh ilmu yaitu ilmu tafsir, hadits, fikih, nahwu, ma'ani, bayan dan badi'. Kelompok kedua ilmu ushul fiqh, ilmu jadal, tasrif. Kelompok ketiga ilmu insya', tarassul dan ilmu faraidh. Kelompok keempat ilmu qira`at dan kelompok kelima ilmu kedokteran.

Sedangkan ilmu hisab merupakan ilmu yang paling sulit ia kuasai. Demikian sulitnya ilmu tersebut diibaratkan seperti memikul gunung. Namun demikian, ini tidak mengurangi kapasitas kelimuan imam agung ini karena begitu banyaknya ilmu, selain ilmu hisab, yang ia kuasai. Maka adalah sangat layak, dengan pertolongan Allah SWT alim besar dari mazhab Syafi'I ini mampu melakukan ijtihad karena ia memang telah memiliki perangkat dalam berijtihad.
Imam Suyuthi telah menghabiskan umurnya untuk mengajar, memberikan fatwa dan mengarang. Akan tetapi menjelang usia tuanya, kontributor besar ilmu keislaman ini meninggalkan tugas mengajar dan berfatwa, kemudian ber-uzlah dari keramaian dunia untuk beribadah dan mengarang saja.

Karomah Imam Suyuthi
Syekh Syu'aib Khatib Masjid Al-Azhar bercerita, ketika Imam Suyuti sedang sakit yang menyebabkan kemangkatannya dia datang menjenguk Imam mujtahid ini. Ia mencium kakinya, lalu meminta supaya Imam Suyuthi berkenan mengampuni dosa kesalahan orang-orang ahli fiqh yang pernah menyakitinya. Dengan tenang Imam Suyuthi menjawab: "Wahai saudaraku... sebetulnya aku telah mengampuni mereka ketika pertama kali mereka menyakitiku. Aku menampakkkan kemarahanku pada mereka, lalu aku menulis sanggahan untuk mereka. Semua itu aku lakukan supaya mereka tidak berani lagi menyakiti orang lain". Demi mendengar kelapangan hati Imam Suyuthi Syekh Syuaib berkomentar : "Memang inilah yang sudah aku sangka dari kebaikan tuanku ".

Walaupun Imam Suyuti telah memaafkan mereka tapi mereka masih saja terkena bencana dari Allah SWT sebagai pelajaran bagi mereka sendiri dan orang lain. Dalam hal ini Imam Sya'roni bercerita : "Aku melihat salah seorang yang memukul imam Suyuti dengan bakiyak (sandal dari kayu) walaupun sudah dicoba oleh Allah dengan kefakiran dia sangat tamak dengan dunia. Setiap kali dia melihat orang yang membawa ayam, gula, madu, atau beras persis seperti orang gila dia selalu mengatakan : " juallah barang ini padaku ! " . Setelah dia mengambil barang tadi seperti merampas dia pergi bersembunyi dan tidak mau membayarnya. Setiap ditagih selalu saja ia mencari-cari alasan untuk mengulur-ulur. Sehingga yang punya barang bosan untuk menagihnya, maka si tamak ini akan memikul tanggungan yang jauh lebih besar dan berat kelak di hari kiamat. Dan ketika orang yang menyakiti imam kita ini meninggal tidak ada seorangpun yang mengirnginya. Semoga Allah memelihara kita . Amin

Di antara karomah Imam Suyuthi adalah, suatu ketika Imam Suyuti ada di zawiyah (mushola kecil)[1] Syaekh Abdullah al-Juyusyi di daerah al-Qarrafah pada waktu siang hari. Sang alim nan sufi berkata pada pembantunya : " Aku ingin salat Asar di Masjidi al-Haram, tapi dengan syarat kamu harus menyimpan rahasia ini sampai aku meninggal ! ". Pembantunya itupun menyanggupi. Imam Suyuti kemudian menggandeng tangannya sambil berkata : " Pejamkan matamu ! ". Lalu Imam Suyuti berlari kecil kira-kira 27 langkah. " Bukalah matamu ! ". demikian perintah Imam Suyuthi kemudian. Tiba-tiba mereka sudah sampai di pintu Ma'laa, lalu mereka ziarah ke makam Sayyidah Khodijah, Imam Fudlail ibn Iyadl, Abdullah ibn Uyainah, dan lain-lainnya. Setelah itu mereka masuk Masjid al-Haram, tawaf, Shalat , dan minum Zam-Zam. Di sini Imam Suyuti mengatakan : " Wahai Fulan... yang mengherankan bukanlah karena bumi dilipat sehingga kita bisa menempuh jarak ribuan mil dalam beberapa saat. Tapi yang mengherankan adalah karena orang-orang Mesir yang bermukim di sini tidak ada yang mengetahui kita ". "Baiklah kita sudah ziarah, salat dan tawaf. Kamu mau pulang lagi bersamaku, atau mau menetap di sini sampai datangnya musim Haji ? ". " Aku mau bersama tuan saja ", demikian jawab pembantu itu lugu. Lalu mereka pergi ke Ma'laa, dan seperti pada keberangkatan tadi Imam Suyuti memintanya supaya memejamkan mata. Setelah Imam Suyuti melangkah beberapa jengkal dan mereka membuka mata tiba-tiba di hadapan mereka adalah zawiyah Syekh Juyusyi.

Banyak juga sebetulnya karomah sang alim nan arif billah ini, namun di sini akan dipaparkan satu lagi. Adalah Syekh Abd al-Qodir al-Syadzili, murid Imam Suyuthi. Dalam biografinya Imam suyuti mengatakan : " Aku pernah melihat Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Kemudian Syekh Abd al-Qodir, muridnya tersebut bertanya : "Berapa kali tuan melihat Nabi SAW dalam keadaan terjaga ? ". Beliau menjawab : " Lebih dari 70 kali " .

Wafat Imam Suyuthi
Imam Suyuthi meninggal pada usia 61 tahun 10 bulan 18 hari, yaitu pada malam Jumat tanggal 19 Jumadal `ula tahun 911 H, dan dimakamkan di Khusy Qusun di luar pintu Qarafah, Kairo, Mesir.[]




Tuesday, September 21, 2010

Sufi Road : Kisah sufi -- Kepala Ikan untuk nelayan

Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia
melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil
tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus
sebagai makan malamnya.
Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun
menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu
memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan
nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.


Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat
tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri
di puncak suatu bukit. "Itulah rumah Syaikh," ujar mereka.
Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya
sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.
Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang
perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan
kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa
pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya
kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru
sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang
disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah
itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para
pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang
terkaya di kampung halamannya.
Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi
sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah
arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari
tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia
yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan
surban yang lazim dipakai para sultan.


Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan
gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia
menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, "Katakanlah pada
gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia."
Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia
sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang
telah menemuinya. "Lalu," tanya nelayan itu, "apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?"
Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas
mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya
kehidupan gurunya sendiri.
Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan
oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan,
bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia
terlalu terikat kepada dunia.
"Dia benar," jawab sang nelayan, "ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya.
Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja
itu seekor ikan yang utuh.


Sufi Road: Tasawuf menurut imam mazhab

1.Imam Abu Hanifah (w. 150H)
Ibnu Abidin meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, Kalau bukan karena dua tahun, maka celakalah aku.” Beliau menjelaskan:
Selama dua tahun beliau menyertai Sayidina Ja`far al-Shâdiq dan dia mendapatkan pengetahuan spiritual yang menjadikannya sebagai seorang sufî … Abu Ali Daqqâq (yaitu guru sufinya Imam Qusyayrî) mendapatkan tarekatnya dari Abu al-Qâsim al-Nashirabadi dari al-Syibli dari Sârî al-Saqathi dari Ma`rûf al-Karkhi dari Dawud al-Thâ’i, yang menerima pengetahuan ini, baik yang lahir atau yang batin, dari Imam Abu Hanîfah.

2.Imam Malik (w. 179H)
Dia adalah ulama Madinah yang dikenal karena kesalehannya dan kecintaannya kepada Nabi saw. begitu dalam. Beliau memperlakukan Nabi saw. sedemikian hormat dan takzim sehingga ia tidak mau menaiki kudanya di dalam batas-batas kota Madinah untuk menghormati bumi yang menutupi jasad Nabi saw., juga beliau tidak mau meriwayatkan suatu hadis tanpa terlebih dahulu mengambil air wudu. Ibn al-Jauzi menceriterakan:

Abu Mus`ab berkata: “Saya masuk untuk bertemu dengan Malik Ibn Anas. Beliau berkata kepada saya, ‘Tengok ke bawah tempat salat atau sajadah saya dan lihatlah apa yang ada di sana.” Saya melihatnya dan menemukan suatu tulisan. Beliau berkata, “Bacalah.” (Saya melihat bahwa) tulisan itu berisi (suatu ceritera dari) suatu mimpi yang dilihat oleh salah satu saudaranya dan menarik perhatiannya. Ia mengatakan (sambil membaca apa yang tertulis), ‘Saya melihat Nabi saw. dalam tidur. Beliau sedang berada di dalam mesjid dan orang-orang berkumpul di sekeliling beliau, dan beliau kemudian bersabda, “Aku menyembunyikan sesuatu yang berguna—atau pengetahuan—untuk kamu di bawah mimbarku, dan aku telah memerintahkan Malik untuk membagi-bagikannya kepada orang-orang.’” Kemudian Malik menangis, maka saya pun bangkit dan meninggalkannya.”

Imam Malik secara tersurat memasukkan tasawuf sebagai salah satu tugas dari ulama dalam pernyataannya berikut:
Orang yang mengamalkan tasawuf tanpa mempelajari fikih, ia merusak imannya, sedangkan orang yang memahami fikih tanpa menjalankan tasawuf ia merusak dirinya sendiri. Hanya orang yang memadukan keduanyalah yang menemukan kebenaran (man tashawwafa wa lam yatafaqqah fa qad tazandaqa waman tafaqqaha wa lam yatashawwaf faqad tafassaqa wa man jama`a baina humâ fa qad tahaqqaqa).

Hal ini diceriterakan oleh muhadis Ahmad Zarruq (w. 899H), hafiz Ali al-Qârî al-Hawari (w. 1014H), muhadis Ali Ibn Ahmad al-Adawi (w. 1224H). dan yang lainnya.12 Ibn `Ajiba menjelaskan:
Syekh Ahmad Zarruq berkata, “Tasawuf memiliki lebih dari dua ratus pengertian, yang semuanya menunjuk pada kesungguhan seseorang dalam menghadap kepada Allah… Setiap pengertian berhubungan dengan suasana hatinya dan keluasan serta kedalaman pengalaman, pengetahuan, dan perasaannya. Atas hal-hal inilah ia mendasarkan pengertiannya bahwa, “Tasawuf itu adalah begini dan begitu.”
Hal ini berarti bahwa setiap orang di antara kaum saleh yang disebutkan [dalam Hilyat al-auliyâ’ karya Abu Nuaim] yang bertekun-diri secara tulus (shidq al-tawajjuh) mereka turut serta dalam tasawuf, dan setiap tasawuf seseorang tercapai karena shidq al-tawajjuh-nya. Lazimnya, shidq al-tawajjuh merupakan sebuah tuntutan agama karena ia membentuk sikap dan perilaku yang diterima Allah. Sikap dan perilaku tidaklah absah apabila shidq al-tawajjuh-nya tidak benar. “Dan Allah tidaklah menyukai kekufuran pada hambanya, tapi apabila kalian bersyukur, Ia akan menyukai syukur pada kalian tersebut” (Q.S. al-Zumar [39]: 7)


Oleh karena itulah, Islam mengharuskan adanya perbuatan, dan tidak ada penyucian diri (tasawuf) tanpa ilmu fikih, karena aturan-aturan Allah yang bersifat lahiriah tidak dapat dikenali kecuali melalui ilmu fikih; dan tidak ada ilmu fikih tanpa penyucian diri, karena tidak ada perbuatan tanpa ketulusan dalam bertekun-diri, dan tidak ada tasawuf atau pun ilmu fikih tanpa iman.

Dengan demikian, hukum Tuhan menuntut semuanya itu secara pasti, sebagaimana tubuh dan roh saling mengharuskan keberadaan satu sama lainnya, karena seseorang tidak dapat berada secara sempurna di dunia kecuali dalam hubungannya dengan yang lain. Itulah makna dari perkataan Imam Malik, “Orang yang mengamalkan tasawuf tanpa mempelajari fikih …”

3. Imam Syâfi’î (w. 204H)
Al-hâfiz al-Suyuti menceriterakan di dalam Ta’yîd al-haqîqat al-âliyah bahwa Imam Syafi`i mengatakan:
Saya menyertai para sufi dan memperoleh tiga hal saja dari mereka, yakni pernyataan: pertama, waktu adalah pedang, kalau bukan kamu yang mematahkannya, maka ia yang akan mematahkanmu; kedua, apabila kamu tidak terus menyibukkan egomu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kepalsuan; ketiga, penghilangan adalah kekebalan.

Muhaddis al-Ajluni juga menceriterakan bahwa Imam Syafi`i mengatakan:
Tiga hal di dunia ini yang saya sukai: menghindari kepura-puraan, memperlakukan manusia dengan baik, dan mengikuti jalan tasawuf.

4.Imam Ahmad Ibn Hanbal (w. 241H)

Muhammad Ibn Ahmad al-Saffârini al-Hanbali (w. 1188H) menceriterakan dari Ibrahim Ibn ‘Abd Allah al-Qalasani bahwa Imam Ahmad mengatakan tentang kaum sufi. “Saya tidak mengetahui kaum yang lebih baik dari mereka.” Seseorang berkata kepadanya, “Mereka mendengarkan musik dan mereka sampai pada keadaan mabuk.” Beliau berkata, “Apakah kamu hendak mencegah mereka untuk bersenang-senang selama sejam bersama Allah?”

Kekaguman Imam Ahmad terhadap kaum sufi didukung oleh keterangan-keterangan tentang katakzimannya terhadap al-Harits al-Muhâsibi. Meskipun demikian, beliau memeringatkan tentang sulitnya jalan sufi ini untuk mereka yang tidak dipersiapkan untuk mengikutinya. Barangkali tidak setiap orang mampu mengikuti jalan orang-orang yang tentang mereka Allah telah memerintahkan Nabi-Nya, “Dan tetaplah engkau bersabar bersama orang-orang yang selalu menyeru Tuhan-Nya baik di pagi hari atau pun petang sambil mengharap keridhaan-Nya . . . ” (Q.S. al-Kahfi [18]: 28).

Sumber : Tasawuf dan ihsan ; Syeh Muhammad Hisyam Kabbani