Jalan orang-orang sufi.. Pecinta menuju makrifatullah Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Saturday, April 20, 2013
Wednesday, April 17, 2013
Habib Zein : Pahala Bacaan untuk Orang Mati
Bolehkah menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan dzikir kepada orang yang telah mati?Ya, itu dibolehkan. Madzhab yang benar dan terpilih menyatakan sampainya pahala bacaan dan amal-amal jasmani lainnya kepada mereka, dan bahwasanya karena itu pula mereka bisa mendapatkan pengampunan atas dosa atau peningkatan derajat, cahaya, kegembiraan, dan pahala lainnya lantaran karunia Allah SWT.
Apa dalilnya?
Dalilnya, Nabi SAW bersabda, “Bacalah surah Yasin kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Hadits ini disampaikan oleh Abu Daud (3121), Ibnu Majah (1448), dan lainnya, dari hadits Ma’qil bin Yasar RA.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Ya-Sin adalah jantung Al-Quran. Tidaklah seseorang membacanya dengan niat kepada Allah SWT dan menghendaki negeri akhirat melainkan Allah mengampuninya. Dan bacakanlah ia kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Disampaikan oleh Ahmad (5: 26), An-Nasa’i dalam Al-Kubra (10914), dan lainnya.
Ulama ahli tahqiq menyatakan, hadits ini bersifat umum, mencakup bacaan kepada orang sekarat yang akan mati dan bacaan kepada orang yang sudah mati. Inilah pengertian yang jelas dari hadits di atas.
Hadits ini menjadi dalil bahwa bacaan tersebut sampai kepada orang-orang yang sudah mati dan adanya manfaat padanya sebagaimana yang disepakati para ulama. Perbedaan pendapat hanya berkaitan jika pembaca tidak berdoa setelahnya dengan doa semacam ini, misalnya, “Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan kami kepada Fulan.”
Jika seesorang membaca doa ini sebagaimana yang diamalkan kaum muslimin, yang memberikan pahala bacaan mereka kepada orang-orang mati di antara mereka, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama terkait sampainya bacaan itu, karena ia dikategorikan sebagai doa yang disepakati tersampainya.
Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami’.” – QS Al-Hasyr (59): 10.
Jika dia tidak berdoa demikian dengan bacaannya itu, menurut pendapat yang termasyhur dalam Madzhab Syafi’i, pahalanya tidak sampai. Namun ulama Madzhab Syafi’i generasi akhir menyatakan, pahala bacaan dan dzikir sampai kepada mayit, seperti mazhab tiga imam yang lain, dan inilah yang diamalkan umat pada umumnya. “Apa yang menurut kaum muslimin baik, itu baik di sisi Allah.” Ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud RA.
Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, semoga Allah melimpahkan manfaat kepada kita lantarannya, mengatakan, “Di antara yang paling besar keberkahannya dan paling banyak manfaatnya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada mereka. Kaum muslimin pun telah mengamalkan ini di berbagai negeri dan masa. Mayoritas ulama dan orang-orang shalih, salaf maupun khalaf, pun berpendapat demikian.” Silakan simak perkataan Al-Haddad RA selengkapnya dalam Sabil al-Iddikar.
Dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan, “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahannya. Segerakanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya dibacakan permulaan Al-Baqarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kakinya dengan penutup Al-Baqarah.” – Disampaikan secara marfu’ (perkataan sahabat yang dinisbahkan sebagai perkataan Nabi SAW) oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (12: 444) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (7: 16) dari hadits Ibnu Umar RA. Al-Baihaqi mengatakan, yang benar adalah bahwasanya itu adalah perkataan Ibnu Umar RA.
Dalam kitabnya, Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengungkapkan adanya penyampaian pelajaran di atas kubur. Ia berhujjah, sejumlah ulama salah berwasiat agar diadakan bacaan pada kubur mereka, di antaranya adalah Ibnu Umar, yang berwasiat agar dibacakan surah Al-Baqarah pada kuburnya, dan bahwasanya kaum Anshar mengamalkan jika ada orang yang mati, maka mereka silih berganti ke kuburnya untuk membaca Al-Quran padanya (Ar-Ruh hlm. 10).
Ulama menyatakan, seseorang dibolehkan menghadiahkan pahala amalnya kepada orang lain, baik itu berupa bacaan maupun yang lainnya. Dalilnya, hadits yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi SAW, yang bersabda, “Dibolehkan bagi salah seorang di antara kalian, jika hendak bersedekah dengan sukarela, memberikannya kepada kedua orangtuanya. Dengan demikian, kedua orangtuanya mendapatkan pahala sedekahnya dan ia pun mendapatkan seperti pahala kedua orangtuanya tanpa mengurangi pahala kedua orangtuanya sedikit pun.” – Disampaikan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (7: 92) dan Abu Syaikh Ibnu Hayyan dalam Thabaqat Al-Muhadditsin bi Ashbahan (3: 610).
Di antara hadits-hadits yang diriwayatkan terkait hal ini, meskipun dhaif, telah ditetapkan di antara ulama hadits bahwasanya hadits dhaif dapat diamalkan terkait fadhail al-a’mal, keutamaan-keutamaan amal.
Apa hukum bacaan Al-Quran kepada mayit dan di atas kubur?
Imam Syafi’i R.H.M. menyatakan, dianjurkan membaca ayat apa pun dari Al-Quran di dekat kubur. Jika mereka mengkhatamkan Al-Quran seluruhnya, itu baik. Ini disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin dan dalam Al-Adzkar.
Apa dalil yang membolehkannya?
Dalilnya, sebagaimana yang baru saja disampaikan di atas, perkataan Ibnu Umar R.A., “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahannya. Segerakanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya dibacakan permulaan Al-Baqarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kakinya dengan penutup Al-Baqarah.”
Hadits marfu’ juga telah disampaikan sebelum ini, “Bacalah Ya-Sin kepada orang-orang yang mati di antara kalian.” Sebagian ulama hadits menafsirkannya pada makna sebenarnya, sebagaimana ini cukup jelas dari lafal hadits. Sementara sebagian yang lain menafsirkannya pada makna kiasan. Maksudnya, orang yang sudah mendekati kematiannya. Namun masing-masing makna dimungkinkan. Dan seandainya kedua makna ini sama-sama diamalkan, itu lebih baik.
Al-Khallal meriwayatkan dari Sya’bi, ia mengatakan: Jika di antara kaum Anshar ada orang yang mati, mereka silih berganti ke kuburnya untuk membaca Al-Quran. Demikian. Kaum muslimin pun masih tetap membaca Al-Quran kepada orang-orang mati sejak masa kaum Anshar.
Dari semua penjelasan di atas dapat diketahui bahwasanya bacaan Al-Quran di atas kubur merupakan anjuran syari’at. Allah lebih mengetahui.
Apa makna firman Allah SWT “Dan tidaklah manusia mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.” – QS An-Najm (53): 39, dan sabda Nabi SAW “Jika manusia mati, terputuslah amalnya”?
Dalam kitab Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengatakan, Al-Quran tidak menafikan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain, tetapi Al-Quran hanya memberitahukan bahwasanya ia tidak memiliki kecuali usahanya. Adapun usaha orang lain, itu adalah milik orang yang melakukannya. Orang lain itu dapat menghendaki memberikannya kepada orang lain atau menghendaki menahannya untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, Allah SWT tidak menyatakan “Sesungguhnya dia tidak boleh menerima manfaat kecuali lantaran apa yang diusahakannya sendiri.”
Sabda Nabi SAW, “Terputuslah amalnya.” Beliau tidak menyatakan “Pemanfaatannya”, tetapi beliau hanya memberitahukan ihwal keterputusan amalnya. Adapun amal orang lain, itu menjadi hak orang yang melakukannya. Jika ia memberikannya kepadanya, pahala amal orang yang melakukannya sampai kepadanya, bukan pahala amalnya sendiri. Dengan demikian, yang terputus adalah satu hal, dan yang sampai adalah hal lainnya. Demikian yang disampaikannya secara ringkas (Ar-Ruh hlm. 129).
Ulama tafsir menyebutkan dari Ibnu Abbas RA, firman Allah SWT “Dan sesungguhnya manusia tidak mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya” – QS An-Najm (53): 39, telah dihapus hukumnya dalam syari’at ini dengan firman Allah SWT “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka.” – Ath-Thur (52): 21. Allah memasukkan anak-cucu ke dalam surga lantaran kebajikan leluhur mereka. Lihat Tafsîr Al-Qurthubi (17: 114).
Ikrimah mengatakan, itu terjadi pada kaum Musa AS. Adapun umat ini mendapatkan apa yang mereka usahakan dan mendapatkan pula apa yang diusahakan oleh yang lain. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan bahwa seorang wanita mengangkat bayinya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anak ini mendapatkan pahala haji?”
Beliau menjawab, “Benar, dan bagimu pahala.” – Hadits ini disampaikan oleh Muslim (1336) dan lainnya, dari hadits Ibnu Abbas RA.
Yang lainnya bertanya kepada Nabi SAW, “Ibuku terluputkan dirinya (mati tanpa wasiat), apakah ia mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas nama dia?”
Beliau menjawab, “Benar.” – Hadits ini disampaikan oleh Al-Bukhari (1322) dan Muslim (1004) dari hadits Aisyah RA.
Perkataan penanya, “terluputkan”, kata ini diucapkan terkait orang yang mati secara tiba-tiba, dan diucapkan pula terkait orang yang tewas oleh jin dan gangguan. “Dirinya,” menurut Imam Nawawi, “kami menulisnya dengan harakat fathah dan dhammah nafsaha dan nafsuha, dengan nashab dan rafa’. Bacaan rafa’ dengan maksud sebagai obyek yang tidak disebutkan subyeknya. Nashab dengan maksud sebagai obyek kedua.” – Syarh Muslim (7: 89-90).
Demikian, Allah lebih mengetahui.
Apa hukum bacaan Al-Fatihah dan bacaan kepada mayit serta tawasul dengannya untuk penerimaan doa?
Ketahuilah, di antara yang terbesar keberkahannya dan terbanyak manfaatnya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran Al-Azhim dan menghadiahkan pahalanya kepada mereka. Mayoritas ulama dan orang-orang shalih, baik salaf maupun khalaf, berpendapat demikian, dan kaum muslimin di berbagai masa dan negeri pun mengamalkannya. Dalam hadis marfu’ yang telah disampaikan terdahulu dinyatakan, “Jantung Al-Quran adalah Ya-Sin. Tidaklah seseorang membacanya dengan niat kepada Allah dan menghendaki negeri akhirat melainkan ia diampuni. Hendaknya kalian membacanya kepada orang-orang mati di antara kalian.”
Diriwayatkan dalam hadits dhaif, “Siapa yang masuk pemakaman dan membaca ‘Katakanlah: Dialah Allah Yang Esa’ sebelas kali, kemudian memberikan pahalanya kepada orang-orang mati, ia diberi pahala sesuai dengan jumlah orang-orang yang mati.” Diriwayatkan oleh Ar-Rafi’i dalam kitabnya At-Tarikh dan Ad-Daraquthni dalam kitabnya As-Sunan.
Adapun tawasul dengan surah Al-Fatihah terkait penerimaan doa, ini sebaik-baik wasilah. Pada hakikatnya, itu hanyalah tawasul dengan Allah SWT. Dalam hadits qudsi dikatakan, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” Disampaikan oleh Muslim dalam kitabnya Shahîh Muslim (598) dari hadits Abu Hurairah RA.
Sumber: Majalah-alkisah.com
Monday, April 15, 2013
Madrasah Hadhramaut : Jendela Bathin
majalah-alkisahKetahuilah, bila engkau relakan hatimu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lintasan-lintasan baik ataupun buruk dalam bentuk apa pun, engkau tidak akan pernah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lamanya.
Setelah engkau pelihara jendela-jendela lahir yang dapat mencemari hati, baik pada siang maupun malam hari, selanjutnya terdapat jendela-jendela lain yang perlu mendapat perhatian kita. Jendela-jendela yang sesungguhnya mempengaruhi mata dalam memandang, telinga dalam mendengar, dan lidah dalam bertutur kata. Jendela-jendela itu adalah jendela bathin, sebagaimana telah disinggung pada penjelasan yang lalu.
Para ulama suluk menyebut jendela-jendela bathin ini dengan nama al-khawathir, yakni lintasan-lintasan yang muncul di dalam hati. Jendela jenis ini tidak dapat diindra, dan tidak pula berupa materi.
Setiap bentuk ketaatan yang disukai Allah SWT yang telah mewujud dalam bentuk perbuatan tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati. Terlintas ketaatan di dalam hatimu lalu engkau melakukannya. Demikian pula setiap maksiat yang dimurkai Allah yang telah mewujud dalam bentuk perbuatan, itu pun tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati.
Dosa-dosa besar, kefasikan, kedurhakaan, aniaya, dan semua kezhaliman yang banyak dilakukan banyak manusia, dari manakah asalnya? Asal semua itu adalah lintasan-lintasan yang ada di dalam hati lalu mereka memenuhi panggilan lintasan-lintasan itu. Lintasan-lintasan itu adalah jendela-jendela bathin hati yang datang kepada hati dari dalam dirinya sendiri. Dan jendela-jendela ini memiliki empat sumber:
Pertama, dari an-nafs (nafsu) yang disebut al-hawa (hasrat atau keinginan).
Lintasan yang bersumber dari nafsu disebut “hawa nafsu”. Di tengah kemarau yang terik, misalkan, engkau tengah berpuasa fardhu. Di saat yang sama engkau melihat air yang sejuk dan dingin. Apa yang diinginkan oleh nafsumu? Tentu engkau ingin meneguk air itu. Dari mana datangnya lintasan itu? Lintasan itu datang dari nafsu, dari kebutuhan nafsu, dari keinginan nafsu.
Seseorang dengan serta merta mengejekmu dengan ejekan yang menyakitkan, tentu engkau ingin segera menamparnya. Datang lintasan kepadamu untuk menamparnya. Dari mana lintasan untuk menampar itu datang? Lintasan itu datang dari nafsu, dari keinginan nafsu, dari perbuatan nafsu.
Kedua, dari setan, sebagaimana dalam hadits, “Setan itu memberikan bisikan kepada hati anak Adam. Bila ia berdzikir kepada Allah, setan akan menangguhkannya. Namun bila ia lupa dari berdzikir kepada Allah, setan pun akan kembali membisikinya.”
Lintasan yang bersumber dari setan ini dinamakan al-waswas (bisikan), sebagaimana dalam firman Allah SWT, “Dari kejahatan waswasil khannas (bisikan setan yang biasa bersembunyi).” – QS An-Nas (114): 4.
Ketiga, dari malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam As-Suyuthi dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak adam, dan sesungguhnya malaikat pun memiliki bisikan pula. Adapun bisikan setan adalah mendatangkan keburukan dan pengingkaran terhadap kebenaran, sedang bisikan malaikat adalah mendatangkan kebaikan dan pengakuan terhadap kebenaran. Oleh karena itu barang siapa mendapatkan bisikan semacam itu (kebaikan), ketahuilah, sesungguhnya itu datangnya dari Allah, maka pujilah Allah; dan barang siapa mendapatkan bisikan selain dari itu (keburukan), memohonlah perlindungan kepada Allah dari setan.”
Dari dasar ini, para ulama kemudian menamakan bisikan setan dengan nama waswasah dan bisikan malaikat dengan nama lummatul malak.
Keempat, dari al-khawathir (lintasan-lintasan) yang datang langsung dari sisi Allah SWT yang ditanamkan ke dalam hati.
Semua lintasan itu memang secara hakikat datang dari Allah SWT, baik sebagai musibah maupun anugerah, baik sebagai ujian maupun karunia. Namun di luar sumber-sumber yang telah disebutkan terdapat lintasan-lintasan yang Allah SWT tanamkan secara langsung ke dalam hati seorang hamba mukmin dari sisi kemahatinggian-Nya.
Lintasan semacam ini para ulama menyebutnya “ilham”, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” – QS Asy-Syams (91): 7-8.
Lintasan-lintasan yang ada dalam hati seorang salik sangatlah banyak, bahkan di hati setiap insan di atas muka bumi ini. Bila engkau mencoba untuk mengontrol satu lintasan yang datang di dalam hatimu dalam satu waktu, perhatikanlah, berapa lintasan yang akan datang pada saat itu juga di dalam hatimu?
Di saat engkau merasakan haus, datanglah lintasan di dalam hatimu, “Pergilah dan minumlah!” Lalu datang lagi lintasan yang lain, “Tetapi aku harus buru-buru, sudah janji Fulan akan datang, aku harus segera menyambutnya.” Datang lagi lintasan yang lain, “Wah, kok aku bisa lupa dengan acara anu… semua di tempatku lagi?” Dan demikian seterusnya, datang silih-berganti berbagai macam rupa lintasan dalam hatimu, sampai-sampai seorang ahli pendidikan pernah mengatakan, dalam sehari semalam lebih dari 70.000 lintasan datang ke dalam hati seorang manusia.
Hal yang penting bagi seorang salik menuju Allah dalam memelihara hatinya adalah bagaimana ia mampu mendatangkan lintasan-lintasan kebaikan, mendengarkannya dengan seksama, dan kemudian memenuhinya, dan bagaimana agar ia mampu berpaling dari lintasan-lintasan keburukan dan menanggalkannya. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah engkau akan dapat memahami berbagai hakikat yang dapat menimbulkan dan mendatangkan dorongan-dorongan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Lintasan-lintasan yang datangnya dari sumber kebaikan akan memperluas pemahaman dan pandangan hati terhadap kebaikan dan selanjutnya ia pun menghendaki kebaikan. Lintasan-lintasan yang membawa bisikan keburukan, bila engkau tidak menghentikannya dari hatimu, bila engkau tidak mengobatinya, bila engkau tidak bersungguh-sungguh dalam mengekangnya, dan bila engkau tidak menjaga hatimu dari semua itu dan tidak pula membentenginya, akan terus-menerus melakukan serangan-serangan terhadap hati dan memperdayanya untuk berbuat keburukan.
Sebuah Renungan
Selanjutnya mari kita merenung bersama. Kita renungkan bagaiamana besarnya pengaruh lintasan-lintasan itu terhadap hati. Coba kita perhatikan keadaan kita pada hari ini.
Di zaman sekarang ini, sejak dini hari seseorang telah disibukkan dengan berbagai aktivitas. Sejak pagi, seseorang telah bergelut dengan berbagai kesibukan, dari kemacetan lalu lintas, tugas kantor, tugas seminar, tugas kuliah, urusan pribadi, janji dengan relasi, berhadapan dengan klien, dan sebagainya. Datang waktu malam, ia pun telah lelah, karena seharian bekerja dan beraktivitas. Tanpa disadari, kehidupannya terus berjalan begitu cepatnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun telah berganti tahun.
Kenyataan yang dilakukannya sebagai rutinitas tanpa disadari telah mengambil bagian demi bagian dari dirinya. Ia bangun di waktu pagi dan kembali ke pembaringan di malam hari tanpa mengetahui bagaimana semestinya memelihara dirinya. Tidak siang dan tidak pula malam.
Kita lihat sebagian pemuda. Mereka tengah asyik tertidur, tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Di jalanan, asyik-masyuk mendengarkan musik kegemarannya, dari satu lagu kepada lagu berikutnya. Mereka sibuk, lalu kapan mereka berpikir? Kapan duduk untuk merenungi masa yang akan datang dari kehidupannya?
Dalam pembahasan ini, kita tidak sedang berbicara tentang haramnya mendengarkan lagu-lagu tertentu. Yang menjadi pembicaraan kita adalah bagaima seseorang telah menceburkan dirinya ke dalam putaran roda kehidupan dengan cara semacam itu pada sepanjang waktunya, dari satu aktivitas kepada aktivitas lainnya, dari satu kesibukan kepada kesibukan berikutnya. Inilah permasalahan sesungguhnya. Sebab, mungkin saja seseorang mendengarkan satu lagu yang indah dengan syair-syair yang menggugah hati untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah, atau paling tidak membantunya dalam menjalani rutinitasnya. Ini bukanlah masalah.
Namun bila hidup seseorang telah terpatri pada situasi dan kenyataan semacam itu, meskipun dengan berbagai rupa aktivitasnya, bahkan lebih dari itu, andaikan yang didengarkannya bukanlah lagu-lagu yang haram dan tidak pula diperselisihkan hukumnya sekalipun, dan bahkan misalkan seseorang menghabiskan semua waktunya untuk berbagai macam kesibukan hingga tidak menemukan waktu untuk memikirkan lintasan-lintasan yang datang dalam hatinya, inilah masalahnya.
Lalu apa yang dituntut? Yang dituntut adalah bagaimana seseorang dapat pindah dari kehidupan yang telah dijalaninya semacam itu, yakni bagaimana kenyataan yang selama ini telah melingkupi dirinya dapat mengingatkan kepada kehidupan yang lain, yakni kehidupan akhirat.
Coba tengoklah sedikit ke belakang dan lihatlah kenyataan yang sekarang kita jalani. Yang penting bagi kita, selama kita berjalan menuju Allah, katakanlah, “Aku tidak rela bila harus terbawa arus kehidupan. Aku akan melaksanakan kewajibanku dengan sebaik mungkin. Bila aku seorang siswa, aku akan menjadi siswa yang berprestasi tinggi, namun bukan karena apa-apa, melainkan karena aku memiliki tujuan dari prestasi yang tinggi itu, yakni taqarub kepada Allah. Bila aku seorang pedagang, aku harus menjadi pedagang yang terbaik, karena aku memiliki tujuan, dan tujuanku adalah taqarub kepada Allah. Bila aku seorang arsitek, seorang pegawai, dan lain-lain, akan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat, tetapi hatiku bersama Allah.”
Makna “hatiku bersama Allah” yakni menghilangkan segala lintasan keburukan yang datang kepada hati.
Untuk itulah kita butuh suatu keinginan setelah memahami pelajaran ini. Katakan, “Tidak akan pernah kubiarkan datang, pada siang ataupun malam hari, lintasan ke dalam hatiku seperti itu selain aku mempunyai tujuan.”
Ketahuilah, bila engkau relakan hatimu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lintasan-lintasan baik ataupun buruk dalam bentuk apa pun, engkau tidak akan pernah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lamanya. Seseorang pernah mengadu, ia berkata, “Aku telah hadir ke berbagai majelis semacam ini, mataku pun terkadang menangis dan hatiku luluh karena rindu untuk datang kepada Allah SWT, dan aku bertekad untuk istiqamah setelah itu. Namun setelah dua-tiga hari, semua itu hilang dari diriku. Mengapa?”
Jawabnya, karena sesuatu yang menjadikanmu kehilangan semua itu, itu juga yang telah membuatmu kembali kepada apa yang engkau telah bertaubat darinya (maksiat), membawamu kembali kepada kelalaian, dan yang juga melupakanmu kepada makna taraqqi (menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT). Sesuatu itu adalah bahwa hatimu menjadi halaman yang terbuka untuk datang dan perginya berbagai rupa lintasan kebaikan dan keburukan. Engkau tidak memiliki penyaring yang dapat membiarkan masuknya lintasan yang baik dan mencegah datangnya lintasan-lintasan yang buruk.
Setelah memahami pelajaran ini, yang harus kita lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam mengontrol lintasan-lintasan di dalam hati kita dengan jalan menerima lintasan kebaikan dan menolak atau berpaling dari lintasan keburukan.
Perpindahan yang Berbeda
Apa yang akan engkau lakukan bila lintasan itu telah berlalu, berubah menjadi pemahaman, dan kemudian menjadi perbuatan? Engkau telah melakukan suatu perbuatan yang engkau sendiri tidak ingin untuk melakukannya?
Bila itu terjadi, duduklah dan renungkanlah bagaiamana engkau sampai kepada hal itu.
“Aku bersalah kepada si Fulan dalam ucapan karena aku merelakan diriku ikut bersamanya dalam satu perbincangan yang semestinya aku tidak ikut di dalamnya.”
Mengapa? “Karena aku menerima lintasan yang ada dalam hatiku. Lintasan itu berkata, ‘Aku harus meluruskannya, aku lebih hebat dalam pemahaman, dan aku lebih hebat dalam berdebat’.”
Bila engkau sudah mulai membingkai dirimu dengan rangkaian perenungan semacam ini di dalam mengontrol lintasan-lintasan hati, yakni engkau meyakinkan kepada dirimu bahwa engkau memiliki banyak lintasan hati yang perlu untuk dikontrol, setelah itu engkau akan dapat menerima untuk memahami berbagai timbangan untuk mengukur lintasan-lintasan tersebut sebagai wujud dari mujahadatun nafs (pergulatan hati), yang dibarengi dengan penyandaran diri kepada Allah SWT serta berserah diri kepada-Nya. Sehingga, niscaya engkau akan melihat dirimu akan berpindah-pindah dalam kehidupanmu dengan perpindahan yang berbeda dari sebelumnya. Engkau akan berpindah dari keadaaan seorang manusia yang berjalan dengan lintasan-lintasan yang mengarahkannya ke mana pun, dan bagaimana pun bentuknya, kepada keadaan seorang mukmin yang mampu mengendalikan dan mengarahkan lintasan-lintasan hatinya bagaimana seharusnya berjalan.
Semoga Allah mengaruniai kita semua sebaik-baik langkah dalam menghadapi lintasan-lintasan yang datang ke dalm hati.
Sumber :www.majalah-alkisah.com
Friday, April 5, 2013
Hadits Arba'in (18)
Terjemah hadits:
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“ (Riwayat Turmuzi, dia berkata, "haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).
Kandungan Hadist:
1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.
2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
5. Makna takwalloh (takwa kepada Alloh) adalah membuat perisai antara dirinya dengan azab dan murka Alloh, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan perisai yang paling asasi adalah menegakkan tauhidulloh. Perintah untuk bertakwa ditujukan kepada 3 sasaran, yaitu:
Ditujukan kepada seluruh manusia, maka takwa di sini maknanya adalah menunaikan tauhid dan membersihkan dari syirik.
Ditujukan kepada kaum mukminin, maka takwa di sini maknanya adalah melaksanakan ketaatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh.
Ditujukan kepada seseorang yang sudah bertakwa, maka perintah takwa di sini maknanya adalah perintah untuk melestarikan ketakwaannya.
Ruang lingkup Takwalloh meliputi seluruh tempat dan waktu, artinya di manapun dan kapan pun berada serta dalam kondisi apapun terkena kewajiban takwalloh. Dengan demikian, sifat takwalloh berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu dan keadaannya.
6. Kebajikan adalah sesuatu yang mendatangkan pahala, dan keburukan adalah sesuatu yang mendatangkan dosa atau siksa. Kebajikan yang dapat menghapus keburukan ada 2 tingkatan, yaitu:
Melakukan kebajikan dengan niat untuk menghapus keburukan. Jika melakukan kebajikan dengan niat menghapus keburukan maka sudah terkandung di dalamnya penyesalan dan taubat atas kejelekannya.
Melakukan kebajikan tanpa adanya niat menghapus keburukan. Kebajikan seperti ini secara umum akan menghapuskan kejelekannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Derajat yang ke-2 ini lebih rendah dibanding derajat yang pertama.
7. Husnul Khuluq adalah banyak berderma, tidak menyakiti dan berwajah ceria. Inilah tafsir Husnul Khuluq kepada sesama manusia. Seseorang mendapatkan Husnul Khuluq secara thobi’í atau hasil usaha. Seseorang yang melakukan Husnul Khuluq sebagai hasil dari jerih payahnya lebih besar pahalanya dibanding dengan yang melakukan karena sudah tabiatnya. Karena kaidah menyatakan, “Jika sesuatu diwajibkan oleh syariat maka yang lebih mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya lebih besar pahalanya. Berbeda dengan apabila sesuatu itu disunahkan, maka tidak secara otomatis yang lebih mendapatkan kesulitan lebih besar pahalanya.”
Labels:
Hadits Arba'in
Sholawat Miftahu Babil Arzaq
Sholawat Miftahu Babil Arzaq (Pembuka Pintu-Pintu Rezeki)
As Syaikh Al Qutb Muhammad Al -Budairi Ad-Dimyathi Qoddasa Allahu Sirrohu Wa Rodhianhu

Artinya: Ya Allah, Limpahkanlah SholawatMu atas pimpinan kami Muhammad, hamba Mu dan Rasul Mu, Nabi yang dibangkitkan sebagai rahmat, juga keatas keluarga dan sahabat beliau, dengan disertai salam, sebanyak bilangan yang engkau ketahui dan dijalani qalam Mu dan berjalanya hukum Mu. Ya Allah, wahai siapa yang mengatakan kepada sesuatu "Jadilah maka dia terjadi". Aku meminta kepada Mu agar engkau melimpahkan sholawatmu keatas Muhammad dan menyelamatkan aku dari lilitan hutang, serta memperkaya diriku dari kefakiran dan berilah aku rezeki yang halal dan luas penuh keberkahan dan limpahan ya Allah. Sholawat Mu atas muhammad dan keluarganya, beriringan dengan sallam.
Terdapat catatan khusus dari sholawat ini yaitu "Barangsiapa mengucapkanya sepuluh kali maka ia akan dapat melunasi hutang-hutangnya dan diberi Allah keberkahan rezekinya. Semoga Allah terus memuliakan Rasulullah Sayyidina Muhammad Shollallahu 'alaihi wassalam dan memberikan keberkahan kita yang membaca sholawat ini. Amin
Shalawat tersebut kami dapatkan dari dalam kitab Saadatud Dara`in karya Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dengan terjemahan dari Syaikhina Habib Muhammad bin Ali bin Ahmad Syihab.
Labels:
Sholawat
Syeikh Syazili: Dunia
SufinewsSyeikh Abul Hasan Asy-Syadzily
Awas! Waspadalah dengan kesibukan dunia manakala dunia mendekatimu.
Awas! Dengan penyesalannya manakala dunia pergi darimu. Orang yang cerdas sama sekali tidak tergantung pada sesuatu (dunia) yang apabila dunia datang ia sibuk dan apabila pergi ia menyesal. Lalu ada yang berkata padanya, “Mereka telah memburu dan mereka telah terampas.”
IKHLAS merupakan Siapapun yang meraih sedikit saja dari dunia secara halal dengan disertai etika (adab), hatinya telah selamat dari pengotoran dan dari neraka hijab. Etika (adab) di sini ada dua macam: Adab sunnah dan adab ma’rifat. Adab sunnah adalah berpijak pada ilmu pengetahuan melalui tujuan dan niat yang baik semata bagi Allah. Sedangkan adab ma’rifat disertai izin, perintah, ucapan dan isyarat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Isyarat di sini, merupakan pemahaman dari Allah terhadap hamba-Nya melalui cahaya keindahan-Nya dan keagungan-Nya.
Ilahi, dunia ini hina, hinalah orang yang berkubang di dalamnya, kecuali dzikrullah. Sedangkan akhirat itu mulia, dan mulia pula orang yang ada di dalamnya. Sementara Engkau yang menghinakan kehinaan dan memuliakan kemuliaan. lalu mana bisa mulia orang yang memburu selain Diri-Mu? Tau bagaimana bisa zuhud orang yang memilih dunia bersama-Mu? Maka benarkanlah secara hakiki diriku dengan hakikat zuhud sehingga aku tidak membutuhkan lagi mencari selain Diri-Mu, dan kokohkan dengan hakikat ma’rifat sehingga aku tidak butuh mencari-Mu lagi.
Ilahi, bagaimana orang yang mencari-Mu bisa sampai kepada-Mu, atau bagaimana orang yang lari dari-Mu bisa kehilangan Diri-Mu? Maka carilah aku dengan kasih sayang-Mu, dan jangan engkau cari diriku dengan siksa-Mu wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Menyiksa.
“Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Tak ada masalah besar bagi kami, kecuali dua hal ini: cinta dunia secara berlebihan dan rela menduduki kebodohan. Sebab, cinta dunia itu tonggak dari segala dosa besar, sedang menempati kebodohan adalah tonggak segala kedurhakaan. Sungguh Allah memperkaya dirimu jauh dari dunia lebih baik dibanding Allah memperkaya dirimu dengan dunia. Maka demi Allah tak seorang pun bisa kaya dengan dunia, sebab bagaimana bisa kaya dengan dunia, sementara firman-Nya: “Katakanlah, sesungguhnya harta dunia itu amat sedikit.”
Ada seseorang datang kepadaku, ketika aku ada dalam gua di Marokko. Lalu ia berkata padaku, “Engkau punya keahlian di bidang ilmu kimia, ajarilah aku.” Kukatakan padanya, “Baik aku akan mengajarimu tentang kimia, namun aku tidak memperdayaimu dari ilmu kimia itu satu huruf pun, seandainya engkau menerima, dan aku lihat engkau tidak akan menerima...?” Orang itu menjawab, “Hai, demi Allah aku pasti menerima.” Lalu kukatakan, “Gugurkanlah makhluk dari hatimu, dan putuskanlah keinginan agar Tuhanmu memberikan sesuatu yang selain apa yang telah diberikan padamu dari Tuhanmu.” Orang itu menegaskan, “Sungguh, aku tidak mampu menjalankan ini!”. Lalu kukatakan padanya, “Bukankan sudah kukatakan padamu, kalau engkau tidak akan menerima. Kalau begitu pergilah.”
Ada empat perkara, jadilah dirimu bersamanya, dan masuklah kapan saja engkau mau. 1) Janganlah engkau mengangkat pemimpin yang kafir, 2) janganlah memandang orang mukmin sebagai musuh, 3) jauhkanlah hatimu dari dunia dan bersiaplah menyongsong kematian, dan 4) bersaksilah bagi Allah dengan Keesaan-Nya, dan bersaksilah bagi Rasul dengan risalahnya. Lalu amalkanlah. Ucapkan:
“Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, seluruh takdir-Nya, dan seluruh kalimat-kalimat yang bercabang-cabang dari Kalimat-Nya (Kami tidak membedakan antara seseorang dari para Rasul-Nya) dan kami katakan sebagaimana mereka katakan, (kami mendengar dan kami patuh, hanya ampunan-Mu wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu lah tempat kembali).”
Siapa pun yang berpijak pada empat hal tersebut, Allah akan menjamin empat hal di dunia dan empat hal di akhirat. (Di dunia) benar dalam bicara; ikhlas dalam beramal; rizki seperti hujan dan terjaga dari keburukan. Sedangkan di akhirat mendapatkan: ampunan agung; kedekatan yang sangat (kepada Allah); masuk ke dalam syurga yang luhur dan mendapatkan derajat tinggi. Kamudian mendapatkan empat hal pula dalam agama: Masuk ke dalam Allah; bermajlis bersama-Nya; mendapat Salam dari Allah dan meraih keridhaan Allah yang besar.
Apabila engkau ingin benar dalam ucapan, maka resapkanlah dalam dirimu dengan membaca: “Sesunggunya Kami telah menurunkan Al-Qur’an di malam qadar (lailatul qadr)”.
Apabila engkau ingin ikhlas beramal, resapkan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Allah itu Esa”
Apabila engkau ingin luas dalam riziki, resapkankan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Aku berlindung pada Tuhannya manusia.”
Aku pernah melihat Rasulullah Saw. bersabda: “Ada empat perkara yang tak bisa dipahami sama sekali, sedikit ataupun banyak: Cinta dunia; alpa akhirat; takut miskin dan takut manusia.”
“Seburuk-buruk manusia adalah orang yang bakhil dengan dunianya terhadap orang yang berhak, maka bagaimana dengan orang yang bakhil dengan dunia terhadap yang memiliki dunia (Allah).”
Aku melihat seakan-akan diriku berada di tempat yang tinggi. Lalu aku bermunajat: Ilahi, manakah kondisi ruhani yang paling engkau cintai dan ucapan manakah yang paling benar menurut-Mu? Amal manakah yang paling bisa menunjukkan kecintaan pada-Mu? Tolonglah aku dan tunjukkanlah diriku. Maka dikatakan padaku: “Kondisi ruhani paling Kucintai adalah ridha disertai musyahadah; sedangkan ucapan paling benar menurut-Ku adalah ucapan, Laa ilaaha illaLlah secara jernih. Sementara amal yang paling bisa menunjukkan kecintaan-Ku adalah membenci dunia dan putus asa terhadap ahli dunia, disertai keselarasan dengan-Ku.”
Lepaskanlah dirimu dari berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala tindakan, serta janganlah hatimu bergantung dengan sesuatu, maka engkau termasuk orang-orang yang sangat mendalam (dan benar) dalam ilmu, dimana rahasia batin dan ilmu tidak pernah hilang.
Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk. Janganlah engkau menunda-nunda, yang bisa membuatmu tenggelam dalam kegelapannya dan anggota badanmu terlepas di sana, lalu engkau harus memeluknya, baik melalui hasrat, fikiran, kehendak dan gerakan. Kala itu, lubuk hati menjadi terombang-ambing, dan seorang hamba “bagaikan telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung, dia mempunyai sahabat-sahabat yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami,” katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk.” Sedangkan petunjuk itu tidak akan pernah ada kecuali pada orang yang bertaqwa; tiada orang yang bertaqwa kecuali orang itu kontra terhadap dunia. Tiada orang yang kontra terhadap dunia kecuali orang yang menghina dirinya. Tidak ada orang yang menghina dirinya kecuali orang yang tahu akan dirinya. Tidak pula tahu orang yang tahu akan dirinya kecuali orang yang tahu Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang yang mencintai-Nya, dan tidak ada orang yang mencintai-Nya kecuali orang yang telah dipilih dan dikasihi Allah, dan antara dirinya terhalang dari hawwa dan nafsunya. Ucapkanah: “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Menghendaki, wahai Yang maha Perkasa, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha Terpuji, wahai Tuhan, wahai Sang Raja, wahai Yang Ada, wahai Yang Memberi Petunjuk wahai Yang Maha Memberi nikmat. Limpahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Memberi Anugerah, dan Engkau memberi nikmat pada hamba-Mu dengan nikmat agama dan nikmat hidayah, ”menuju jalan yang lurus, jalan Allah yang Dia pemilik apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah hanya kepada Allah lah segala urusan kembali,” melalui kemuliaan Nama Agung ini. Amin.”
Apabila engkau berhadapan dengan suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”
Manakala tambahan bekal tiba, berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”(Q.s. at-Taubah: 59)
Wahai orang yang berhasrat pada jalan selamat-Nya yang beruntung menuju hadirat Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu. Bergegaslah menuju kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan kesibukan manusia pada umumnya untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri, merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw. ”Kebaikan adalah yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada, walaupun manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.” Maka fahamilah.Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan. Jika engkau seorang pedagang yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada Kehendak-Nya, disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?” Hadis ini cukup bagimu, ”Dunia itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” Dunia yang tak ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah dunia yang bagi pemiliknya tidak mengandung hasrat kehendak sebelum adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari sisinya. Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena dunia itu).
Aku pernah bermimpi melihat Abu Bakr ash-Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika dunia tak ada.”
Sumber: Sufinews.com
Labels:
Sufi News
Memahami Agama, Kunci Dari Tarekat
Sufinews
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
DARI sini kaum sufi mengatakan: “Pahamilah agama anda lebih dahulu baru anda kemari dan masuk ke dalam tarekat.” Ini dengan harapan tidak banyak memperhatikan lagi kepada selain tarekat. Barangkali ia baru mulai masuk dalam majelis dzikir misalnya, kemudian masih butuh menelaah pelajaran-pelajaran syariatnya, menghadiri diskusi bersama para pencari ilmu (mahasiswa) dan banyak berdebat. Ini akan menjauhkan dari makna yang dimaksud dalam tarekat untuk selalu muraqabah kepada Allah Swt. saja, dimana sebagian besar ilmu-ilmu yang rumit dan pelik akan ikut mempengaruhi bagian nafsu. Sementara seluruh landasan tarekat dibangun atas dasar melawan dan tidak menuruti kesenangan nafsu. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Dan seyogianya seorang murid memiliki saksi yang bisa membuktikan pengakuannya dalam setiap kondisi dan tingkatan spiritual, apakah pengakuannya sekadar berpura-pura atau memang pengakuan yang sesungguhnya. Kalau ia mengaku cinta kepada Allah maka warna temperamennya akan lebih cenderung pucat, bila mengaku zuhud dalam masalah dunia maka ia akan menjauhi orang-orang yang jahat, dan bila mengaku dalam kondisi kelaparan maka tubuhnya kelihatan kurus.
Asy-Syarifal-Ahmadi bercerita: Kami pernah di majelis orang-orang fakir sufi yang ada di Bahasna untuk mengunjungi orang-orang saleh. Ternyata secara tiba-tiba ada seorang pemuda yang kelihatan kurus datang kepada kami. Warna kulitnya kelihatan pucat dan menunjukkan tanda-tanda orang baik. Ketika salah seorang dari kami yang bisa bersyair melihatnya maka ia melagukan bait syair:
Dan kerinduan menjadikannya kurus dan selalu mendapat bagian ketika terbenamnya bintang untuk selalu merintih
Kemudian pemuda itu menjerit dan dengan tangannya ia memukuli tiang, sampai pecah. Dan akhirnya kerinduan semua orang yang ada di tempat itu bergerak.
Maka bisa diketahui, bahwa setiap orang fakir sufi yang tidak pernah menderita kelaparan dan beratnya mujahadat ia akan terus diliputi kebekuan hati dan diliputi oleh hijab yang sangat tebal. Andaikan mendengar al-Qur’an ia hampir tidak bisa mendapatkan nasihat apa pun dan larangan-larangan-Nya karena sangat tebalnya hijab. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
MENGAMBIL ALTERNATIF YANG LEBIH BERHATI-HATI
DAN diantara perilaku murid, hendaknya ia mengambil cara yang lebih berhati-hati dalam masalah agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ahli fikih menuju pada pendapat yang paling disepakati mereka semampu mungkin. Ini dimaksudkan agar ibadahnya bisa dianggap sah oleh semua madzhab, atau paling tidak sebagian besar madzhab fikih. Sebab kalau syariat memberikan keringanan (rukhshah) itu hanya diperuntukkan orang-orang lemah dan mereka yang dalam kondisi darurat atau memiliki kesibukan. Sedangkan kaum sufi tidak memiliki kesibukan apa pun kecuali selalu mengambil tindakan nafsunya untuk selalu melakukan ketentuan syariat yang bersifat hukum asal (azimah). Oleh karenanya kaum sufi mengatakan: “Apabila seorang fakir sufi telah turun dari tingkatan hakikat menuju pada keringanan-keringanan yang diberikan syariat, berarti ia telah merusak dan membatalkan perjanjiannya dengan Allah.”
Dan diantara perilaku yang harus dilakukan murid hendaknya menyembunyikan seluruh kondisi spiritualnya yang terjadi antara dia dengan Allah Swt. semampu mungkin, sampai tertanam kuat pada tingkatan menjaga dan memperhatikan al-Haq saja, tanpa memperhatikan siapa pun dan makhluk-Nya. Maka hampir tidak seorang pun yang mampu mengambil kedudukan spiritualnya dan tidak seorang pun yang tahu kondisi spiritualnya, karena sangat rapat dalam menjaga dan menyembunyikannya.
Ada salah seorang fakir sufi datang kepada Syekh Muhammad asy-Syarbini dan melantunkan bait syair di depannya:
Berapa banyak pemuda yang menyangka aku jauh
Sedangkan dia diam berada di bawah tenda
Maka Syekh asy-Syarbini berteriak dan bangkit kemudian memegang si pemuda yang melantunkan syair tersebut sembari bertanya, “Dari mana anda tahu akan hal itu?”
Para ahli tarekat telah sepakat bahwa, seorang murid apabila yang memberikan dorongan untuk beramal itu selain al-Haq, maka tidak akan ada sesuatu yang muncul darinya. Mereka juga sepakat bahwa, setiap murid yang suka pamer agar semua orang bisa melihat kesempurnaannya maka ia telah terputus. Apalagi kalau semua orang ingin mencari berkah darinya maka habislah sudah secara keseluruhan.
Seorang murid juga harus melatih dan memantapkan dirinya untuk selalu sanggup memikul beban penderitaan dalam menempuh tarekatnya, dan tidak segera berpaling dan tarekat untuk mencari alternatif lain bila ditimpa penyakit, kekurangan, dan bencana yang menyusulnya. Untuk selamanya ia juga tidak boleh mengambil keringanan bila sedang ditimpa kesulitan, kemiskinan dan kondisi yang membahayakan. Sering kali terjadi pada murid dijauhi oleh semua orang bila ia sudah masuk ke dalam tarekat kaum sufi. Mereka akan menguasai harga dirinya dengan mencemooh dan meremehkannya. Pada saat seperti itu setan akan datang menemuinya sembari mengatakan, ‘Anda tidak perlu untuk mencari tarekat kaum sufi seperti itu. Berapa tahun anda enak dan tidak ada masalah di tengah-tengah masyarakat? Semua orang mengatakan anda baik dan tidak pernah mengumpat karena kesalahan anda!” Akhirnya kalau menuruti omongan setan, si murid akan segera membatalkan perjanjiannya dan mengundurkan diri dari tarekat, akhirnya semakin bercerai-berai, yang tidak layak lagi masuk di tarekat dan juga yang lain. Maka hendaknya seorang murid berteguh pendirian untuk tetap berjalan di tarekat dan tidak guncang dengan membawa kebenaran hanya karena ujian yang ada di dalamnya, karena sesungguhnya hal itu dari setan. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
TIDAK PERNAH MENINGGALKAN SANG GURU
DIANTARA perilaku yang harus dilakukan murid, bila ia memiliki seorang guru maka ia harus tetap bersama sang guru dan tidak pernah meninggalkannya. Kalau ia sedang bermujahadat hendaknya berkhalwat dengan menghadap ke pintu rumah sang guru, agar penglihatan sang guru selalu menatap kepadanya ketika dia hendak keluar. Hal itu merupakan tanda keberhasilan dan kebahagiaan Si murid. Barangkali sekali tatapan mata sang guru mampu menjadikannya “emas” yang tampak di mata sehingga tidak butuh lagi bermujahadat, sebagaimana yang terjadi pada Tuan Guru Yusufal-’Ajami.
Suatu hari ia keluar dan khalwat, dan tidak menemukan seorang pun dari kaum fakir sufi yang bisa dilihatnya. Pertama kali yang ditatap oleh penglihatan matanya adalah seekor anjing. Akhirnya seluruh anjing yang ada di Mesir mengikutinya, dan berjalan di belakangnya ke mana pun ia berjalan, dan berhenti bersamanya di mana pun ia berhenti. Akhirnya semua orang mengkhawatirkan sapi dan binatang ternak yang lainnya akan seperti anjing-anjing tersebut. Maka Tuan Guru berjalan di belakang anjing-anjing tersebut sembari mengusirnya. Akhirnya anjing-anjing itu meninggalkannya. Tuan Guru berkata, “Andaikan tatapan pandangan mata yang pertama kali itu tertuju pada manusia, tentu ia akan menjadi seorang imam yang diikuti.”
Kaum sufi mengatakan: “Sepantasnya seorang murid tidak mengadakan perjalanan jauh atau bepergian sebelum diterima oleh tarekat. Sebab bepergian bagi seorang murid merupakan racun yang mematikan.”
Imam al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Apabila Allah menghendaki seorang murid itu baik, maka Allah akan menetapkannya di tempat keinginannya dan melanggengkannya untuk selalu berada dijalan mujahadatnya. Akan tetapi bila Allah menghendakinya jelek, maka Allah akan mengembalikannya pada kondisi sebelum ia bertobat dan disibukkan dengan urusan dunia sehingga jauh dari-Nya.” Al-Qusyairi juga mengatakan: “Kebaikan dan segala kebaikan adalah selalu berhenti di depan pintu gerbang sang guru. Apabila Allah menghendaki seorang hamba itu jelek maka Dia akan mencerai-beraikannya ke tempat pengasingan sebelum ia kokoh dalam masalah-masalah Tuhannya.”
Sementara akhir dari masalah dalam pengembaraannya hanya akan menjadi hijab yang kosong dari adab yang diinginkan atau bertambahnya tempat-tempat baru yang ia kunjungi atau bertemu dengan guru-guru yang tidak harus mengikatkan diri dengan salah seorang dari mereka untuk mendidik. Orang seperti ini tidak terbebani untuk selalu berjalan pada jalur tarekat yang telah ditentukan. Sebab Allah tidak menghendakinya naik ke tingkatan para tokoh sufi. Andaikan Allah menghendaki untuk naik tentu Dia akan mengikatkannya dengan seorang guru yang bakal dia layani dan berjanji untuk selalu mendengar dan taat terhadap apa yang disuka dan dibenci. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.
Sumber: Sufinews.com
Labels:
Sufi News
Subscribe to:
Posts (Atom)
