Showing posts with label Rajab - Sya'ban - Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Rajab - Sya'ban - Ramadhan. Show all posts

Friday, June 21, 2013

Malam Nisfu Sya'ban

Assalamualaikum..

Malam nisfu Sya'ban adalah salah satu malam yang sangat berkah dalam kehidupan umat muslim.Imam Syafii rahimahullah berkata : "Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya'ban" (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).
Banyak kelompok yang mempertanyakan keabsahan ibadah di malam Nisfu Sya'ban ini. untuk itu sy tuliskan beberapa dalil tentang keutamaan malam nisfu sya'ban sebagai berikut:

Sabda Rasulullah saw : "Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya'ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin" (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)

Dalam Riwayat lain berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi', beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya bersabda : "Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nisfu sya'ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba" (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825)

Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikian beberapa hadits diatas,Kita memahami banyak pendapat yang bertentangan dalam memahami malam nisfu sya'ban ini, namun demikian kita harus terus menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, zikir, shalawat, membaca al-Qur’an, dan ibadah sunah lainnya.

Semoba Allah terus meridhoi semua amal kita.. Amin

Thursday, August 4, 2011

Sufi Road : Qosidah Tarhib Ramadhan

مَرْحَبَاً يَا شَهْرَ رَمَضَانْ مَرْحَبَاً شَهْرَ الْعِبَادَةْ
مَرْحَبَاً يَا شَهْرَ رَمَضَانْ مَرْحَبَاً شَهْرَ السَّعَادَةْ


Selamat datang wahai Ramadhan, selamat datang wahai bulan Ibadah,
Selamat datang wahai Ramadhan, selamat datang wahai bulan kebahagiaan,

مَرْحَبَاً يَا زَاهِرَ اْلآنْ فِيْ الْمَجَالِيْ بِالزِّيَادَةْ
لِلأَخِلاَّ قُرَّةْ أَعْيَانْ أَنْتَ يَا شَهْرَ الإِفَادَةْ

Selamat datang wahai yg tiba dg cahaya dalam kejelasan bertambahnya anugerah,
Bagi para kekasih Allah engkau adalah kesayangan mereka wahai bulan yg penuh dg keberuntungan,

فِيْكَ يُجْلَى الرِّيْنُ والرَّانْ حِيْنَ تُجْلَى الإِسْتِجَادَةْ

مَرْحَبَاً ذَا خَيْرَ إِتْيَان شَهْرَنَا شَهْرَ السِّيَادَة


Padamu tersingkir segala kehinaan dan dosa, saat terbentangnya kesempatan untuk menyungkur sujud,Selamat datang sebaik baik yg mengunjungi usia kami, bulan kita ini adalah baginda bagi bulan lainnya,

أَنْتَ سَيِّد كُلِّ الأَحْيَانْ وَالْيَتِيْمَةْ فِيْ الْقُلاَدَةْ

مَرْحَبَاً يَا شَهْرَ اْلإِحْسَانْ وَالصَّفَا وَالإِسْتِفَادَةْ


Engkaulah pemimpin bagi setiap saat, dan Kepala Mutiara bagi kalung kehidupan,Selamat datang bulan kemuliaan, kesucian dan terbukanya kesempatan mengambil manfaat,

مَرْحَبَاً مِنْ غَيْرِ حُسْبَانْ حَيْثُ لاَ نُحْصِيْ عِدَادَةْ

كُلُّ مَسْجِدْ فِيْكَ قَدْ زَانْ رَبُّهُ بِاالنُّوْرِ زَادَهْ


Selamat datang kuucapkan tanpa terhitung, hingga tak terhingga banyaknya,
Segenap masjid terindahkan dengan kedatanganmu, Tuhan segenap masjid menambahkan cahaya pada masjid masjid dg kedatanganmu

أَنْتَ بَهْجَةُ كُلِّ مَنْ كَانْ حَازَ مِنْ تَقْوَاهُ زَادَهْ

كُلُّ مُسْلِمْ فِيْكَ نَشْطَانْ فِيْ التَّوَجُّهْ لِلْعِبَادَةْ


Engkau cahaya kemegahan bagi segalanya, beruntunglah barangsiapa yg takwanya bertambah
Setiap muslim giat di hari harimu dalam semangat beribadah,

وَعَنِ اْلآثَامِ كَسْلاَنْ وَلَهُ الطَّاعَاتْ عَادَةْ

فِيْ تَرَاوِيْحٍ وَقُُرْآنْ قَدْ جَفَا نَوْمَ الْقُعَادَةْ


Dan mereka (di bulan ramadhan) malas berbuat dosa, dan bagi mereka ketaatan pada Allah menjadi adat kebiasaan, Dalam shalat tarawih dan Alqur’an, telah sirna kantuk orang yg malas shalat malam,

مَرْحَبَاً يَا عَالِيَ الشَّانْ مَا انْقَضَى وَصْفُ وِدَادَهْ

وَصَلاَةُ الْواحِدِ الْمانّْ مَنْ حَبَا النِّعْمَةْ عِبَادَهْ


Selamat datang wahai pemilik derajat yg mulia, yg tiada henti hentinya gambaran keindahan dan kerinduan atasnya, Dan shalawat dari Yang Maha Tunggal dalam segala Anugerah, Yang Maha Memberi kenikmatan dalam beribadah,

تَتَغَشَّى فَخْرَ عَدْنَانْ وَكَذَا الآلَ الإِجَادَهْ

وَالصَّحَابَةْ هُمْ وَاْلإِخْوَانْ نِعْمَ أَصْحَابُ الشَّهَادَةْ


Selalu terlimpah pada sang kebanggaan keturunan Adnan (Sayyidina Muhammad saw), dan pula segenap keluarga yg mulia, serta sahabat dan merekalah para saudara, semulia mulia para syuhada,

مَاأَضَاءَ بَالنُّوْرِ رَمَضَانْ وَانْجَلَى رَيْنُ الْبَلاَدَةْ


Seterang benderangnya cahaya Ramadhan, maka sirnalah kesempitan hati orang orang yg dalam kebodohan,

Friday, July 15, 2011

Adab Nisfu Syakban/Laylat al-Bara'ah

http://naqsybandi.org

Adab Tarekat:

Membaca Surat Yaasiin tiga kali, pertama dengan niat memperoleh umur panjang dalam Iman dan Islam, kedua dengan niat memperoleh perlindungan dari bencana, baik bagi diri sendiri maupun bagi umat Muhammad SAW, dan yang ketiga dengan niat agar memperoleh rezeki tanpa tergantung kepada orang lain, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Setiap kali selesai membaca Yaasiin, dibaca doa berikut:


Allaahumma yaa Dzaal-Manni laa yamannu `alayhi ahad, yaa Dzaal-Jalaali wal-Ikraam yaa Dzaath-Thuuli wal-An`aam. Laa ilaaha illa Anta. Zhaharal-laaji-iin wa Jaarul-mustajiiriin wa Amaanul-khaa-ifiin. Allaahumma in kunta katabtanii `indaka fii ummul-Kitaabi syaqiyan aw mahruuman aw mathruudan aw muqataran `alayya fiir-rizqi famhu-llaahumma bi-fadhlika syaqaawatii wa hurmaanii wa thurdii wa iqtaara rizqii wa tsabitnii `indaka fii ummil-kitaabi sa`iidan wa marzuuqan lil-khayraati fa-innaka qulta wa qawlukal-haqq fii kitaabikal-munzal `alaa lisaani nabiyyikal-mursal yamhullaahu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa `indahu Ummul-Kitaab. Ilaahī bit-tajallii al-a`zhami fii laylatin-nishfi min syahri sya`baanil-mu`azhamil-mukarramillatii yufraqu fiihaa kullu amrinhakiimin wa yubram, an taksyifa `annaa minal-balaa`i maa na`lamu wa maa laa na`lamu wa maa Anta bihi a`lamu innaka Antal A`azzul-Akram. Wa shalla-Allaahu `alaa sayyidinaa Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.


Ya Allah SWT, Pemilik Kemurahan Hati Yang Tak Pernah Lelah. Wahai Pemilik Keagungan, Kehormatan, Kekuatan dan Berkah. Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Pendukung para pengungsi dan Tetangga dari orang-orang yang mencari kedekatan, Pengawal dari orang-orang yang bertaqwa. Ya Allah SWT, jika Engkau telah menulis dalam Kitab-Mu bahwa aku adalah orang yang hina, serba kekurangan, terbuang, dan kikir, maka hapuskanlah wahai Tuhan, melalui Kemurahan-Mu, penderitaanku, kekuranganku, pengusiranku, dan kekikiranku dan tetapkanlah aku dengan-Mu sebagai orang yang bahagia dan terberkati, sebagaimana Engkau telah berfirman—dan firman-Mu adalah benar—dalam Kitab Suci-Mu melalui lidah Rasul-Mu SAW bahwa, “Allah SWT menghapuskan apa yang Dia Kehendaki dan menetapkan, dan di Sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.” [13:39]. Wahai Tuhanku, dengan manifestasi agung dari Malam Pertengahan Bulan yang Mulia ini, Syakban di mana, “Pada Malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,” [44:4] hapuskanlah dari kami, bencana—baik yang kami ketahui maupun yang kami tidak ketahui, dan Engkau Maha Mengetahui—dan sudah tentu, Engkau Maha Perkasa, Yang Maha Dermawan.Semoga Allah SWT memberkati Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabatnya.

Kemudian dibaca Doa Agung dari Sultan al-Awliya (ad-Du`a ul-Maatsuur), jika memungkinkan setelah setiap kali selesai membaca doa di atas, atau jika tidak dibaca terakhir kali setelah tiga pembacaan Surat Yaasiin dan doa di atas.

Khatamul Khwajagan
Salat Tasbih
Salat Syukur dengan Qunuut
Salat Tahajjud
Setelah Isya dilanjutkan dengan Salat Tahajjud 100 rakaat. Pada setiap rakaat dibaca al-Fatihah sekali dan Surat Al-Ikhlash 10 kali, sehingga seluruhnya 1.000 Surat Al-Ikhlash.

Puasa
Dianjurkan untuk berpuasa pada keesokan harinya, dianjurkan pula untuk berkurban kepada Allah SWT sebagai tebusan bagi diri kalian sendiri dan keluarga kalian, (dagingnya) distribusikan kepada orang-orang yang memerlukannya.

Sunday, July 3, 2011

Sufi Road : Sya'ban


Rasulullah SAW bersabda,

ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Marhaban Ya /sya'ban.. Bulannya Rasulullah... Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.

Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).

Shaum di bulan Sya’ban
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai. Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:
Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:

1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.

2.Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.
3.Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).

Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan –sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban
Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

1.Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.

2.Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.

3.Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri –meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.
Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).
Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu. Wallahu ta’ala a’lam.

Maraji’: Lathaaiful Ma’arif fi ma Limawasimil ‘Aami minal Wadhaaif, Ibnu Rajab Al-Hambali.
Al-Ilmam bi Syai’in min Ahkamish Shiyam, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul Haula Syahri Sya’ban di www.islam-qa.com oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)

Wednesday, June 1, 2011

Sufi Road : Selamat Datang Bulan Rajab

Dari Anas Bin Malik; Ketika memasuki bulan Rajab Rasulullah berdo'a:
Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana

(Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan sholat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan, dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga)

MARHABAN YA RAJAB.. Selamat datang bulan mulia.. Bulan Allah.. bulan untuk memperbanyak istigfar permohonan Ampun.. bulan untuk riyadhoh, bulan khalwat.. bulan penuh berkah..

Allah Swt berfirman:

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36)

Bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung, dan bulan rajab termasuk salah satu dari empat bulan tersebut. Dinamakan bulan-bulan haram karena :
1. Diharamkannya berperang di bulan-bulan itu kecuali musuh yang memulai.
2. Keharaman melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dibulan ini lebih besar di bandingkan bulan yang lain.
Sebagaimana Firman Allah :
"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram" (Al-Maidah 2)

Keutamaan Bulan Rajab :
Imam Musa bin Ja’far berkata, “Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, niscaya neraka menjauh darinya sejauh jarak perjalanan satu tahun. Barangsiapa berpuasa tiga hari, maka surga ditetapkan baginya.”
Beliau juga berkata, “Rajab merupakan sungai di surga yang lebih putih dari susu dan lebih manis ketimbang madu. Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, niscaya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menuangkan baginya minuman dari sungai itu.

”Imam Ja’far al-Shadiq - meriwayatkan: Rasulullah saw bersabda, “Rajab merupakan bulan mohon ampunan bagi umatku. Maka, perbanyaklah mohon ampunan (Allah) di dalamnya! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Bulan Rajab di sebut dengan al-Ashab (yang mengalir dengan deras), lantaran al-rahmah (kasih sayang Allah) tercurah amat deras di dalamnya. Oleh karenanya, perbanyaklah kalian mengucapkan: Astaghfirullaha wa as aluhu at-taubah (Aku mohon ampunan Allah dan minta taubat pada-Nya).”

Ibnu Babawaih meriwayatkan dengan sanad otentik dari Salim yang berkata:Saya datang menemui Imam Ja’far al-Shadiq pada (akhir) bulan Rajab dan masih tersisa tiga hari. Tatkala melihatku, beliau bertanya, “Wahai Salim, berpuasakah kamu di bulan ini?”Saya menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai putra Rasulullah!” Kemudian beliau berkata padaku, “Telah luput darimu pahala yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. Sesungguhnya Allah mengutamakan bulan ini, mengagungkan kehormatannya, dan menetapkan kemuliaan-Nya bagi orang-orang yang berpuasa di dalamnya.”

Saya bertanya kepada beliau, “Wahai putra Rasulullah! Pabila saya berpuasa pada hari yang masih tersisa di bulan ini, maka dapatkah saya mencapai keberuntungan dari sebagian pahala orang-orang yang berpuasa di dalamnya?”

Beliau menjawab, “Wahai Salim! Barangsiapa berpuasa satu hari pada akhir bulan ini, maka hal itu menjadi pelindung baginya dari ketakutan saat sakaratul maut (menjelang kematian), serta perlindungan baginya dari bahaya mengerikan dan siksa kubur. Barangsiapa berpuasa dua hari pada akhir bulan Rajab ini, maka dengan puasa itu dia berhak mendapatkan surat ijin melintasi al-shirat. Barangsiapa berpuasa tiga hari pada akhir bulan ini, niscaya pada hari kiamat dia aman dari bahaya mengerikan dan bencana, serta dia diberi pembebasan dari api neraka.”

Dari Abu Darda’ dari Nabi SAW. sesungguhnya Beliau bersabda : Barang siapa berpuasa satu hari pada bulan rajab, maka seakan-akan telah beribadah kepada Allah SWT. Seumur hidup dimana pada siang harinya untuk puasa dan malam harinya untuk shalat,
Dan barang siapa berpuasa tiga hari maka Allah SWT akan menjadikan orang yang berpuasa itu dengan neraka sejauh satu khondaq. Satu khondaq dalam ditempuh
dalam perjalanan satu tahun. Maksudnya adalah orang itu akan dijauhkan dari siksa neraka.

Amalan Bulan Rajab

Rajab adalah saat dimana kita harus mulai bersiap diri. Ramadhan membutuhkan banyak persiapan. Memperbanyak dzikir dan sitigfar kepada Allah.
Amalan dan doa bersifat umum yang diajarkan oleh Rasulullah Saww di bulan Rajab di antaranya:

1. Memperbanyak membaca istighfar: Astaghfirullaha wa atubu ilayh.
2. Dalam suatu riwayat disebutkan: “Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa, maka hendaknya membaca tasbih 100 kali setiap hari, agar memperoleh pahala puasa di dalamnya. Tasbihnya sebagai berikut:

سُبْحَانَ الاِْلهِ الْجَليلِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلاّ لَهُ، سُبْحَانَ اْلأَعَزِّ اْلاَكْرَمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْعِزَّ وَهُوَ لَهُ اَهْلٌ .

Subhânal ilâhil jalîl, subhânaman lâ yanbaghit tasbîhu illâ lahu, subhânal a’azzil akram, subhâna man labisal ‘izza wa huwa lahu ahlun.

(Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak ditasbih kecuali Dia, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Memakai pakaian keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya.)

3. Amalan yang dibaca setiap 10 hari bulan rajab :


Friday, August 13, 2010

Telaga Sufi di Bulan Suci

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan puasa atas kamu sekalian, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa. (Al-Qur ‘an, Al-Baqarah 183)

Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dalam kitabnya AI-Ghunyah
mengupas,

bahwa kata Ramadlan itu terdiri lima huruf: R-M-DL-A-N. Huruf Ra’ – (R) berarti Ridlwanallah (Ridla Allah), huruf Mim (M) berarti Mahabatullah (Mencintai Allah), huruf Dlad (DL) berarti Dlamanullah (dalam jaminan Allah), huruf Alif (A) berarti Ulfatullah (kasih sayang Allah), dan huruf Nun (N) berarti Nurullah (cahayaAllah).

Karena itulah bulan suci Ramadlan disebut sebagai bulan Ridla, bulan Cinta, bulan Kasih Sayang, bulan Lindungan, bulan Cahaya, sekaligus sebagai bulan anugerah dan karamah bagi para auliya dan orang-orang yang berbuat kebajikan.

Disebutkan para ulama sufi, bahwa bulan Ramadlan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, ibarat kalbu di dalam dada, ibarat para nabi dengan umat manusia, dan ibarat Tanah Suci Haram dibanding dengan bumi lainnya.

Hari-hari yang penuh dengan dahaga dan lapar, malam-malam penuh keagungan dan anugerah kita arungi bersama-sama, agar kita bisa bersembunyi di balik tirai Ilahi dalam puasa yang sungguh-sungguh puasa: Puasa Hakiki.

Sebab, Ramadlan itu sendiri merupakan salah satu nama dari sekian nama Allah. Karenanya, bulan Ramadlan merupakan Bulan Ilahi, dimana Allah sendiri yang membalas pahala-pahala mereka yang berpuasa. Seakan-akan memang ada rahasia agung yang sangat pribadi antara Allah dengan para hamba-Nya. Setidak-tidaknya, hakikat takwa benar-benar dilimpahkan pada hamba-hamba Allah yang berpuasa, sebagaimana disebutkan “Haqqa Tuqaatih”, takwa yang hakiki.

Sebuah hadits menyebutkan, “Janganlah kalian semua mengatakan Ramadlan, sebab Ramadlan itu adalah nama dari nama-nama Allah Ta’ala.”
Maka Allah sendiri juga menyebutkan dengan kalimat “Syahru Ramadlan”, bukan Ramadlan saja. Hal demikian menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, bahkan betapa Allah Ta’ala sampai membuat wahana yang amat istimewa dan khusus terhadap bulan Ramadlan tersebut.

Dalam hadits Shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, - dalam Hadits Qudsi - “Allah Azzawa-Jalla berfirman: “Setiap amal manusia kembali padanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu hanya untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya sendiri. Puasa itu merupakan tameng, manakala di hari puasa kalian, maka janganlah melakukan hubungan suami-istri dan jangan pula berbuat kotor. Maka apabila ada seserang memakinya, katakanlah :

“Aku ini orang yang berpuasa. Dan demi Dzat Yang Menguasai Jiwa Muhammad, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dibandingkan misik, di hari kiamat nanti. “

Dalam hadits lain disebutkan, “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada bandingannya.” (HR. Nasa’i)

Makna puasa itu sendiri adalah mengekang dan mengangkat. Artinya mengekang segala keinginan yang mendorong kita untuk menyimpang dari perintah dan kehendak Allah, mengekang dari segala keinginan untuk berpaling pada selain Allah.

Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang tiada bandingnya, semata juga karena puasa itu merupakan jiwa penghapusan terhadap hal-hal yang berbau empiris. Sebab Ramadlan adalah nama Allah, suatu kegembiraan kita karena kita memasuki nama Allah. Sebab itulah puasa yang berarti meninggalkan, sangat berhubungan erat dengan proses hamba-hamba Allah dalam meninggalkan “keakuan, nafsu, dan seluruh sifat tercelanya” agar bisa fana’ ke hadirat Allah. Sebab dalam kata “meninggalkan” itu mengandung arti sebagai bentuk dari ketiadaan dan negasi, dan karenanya tidak ada bandingannya. Maksudnya, memasuki bulan Allah berarti juga tidak bisa membandingkan Allah dengan lainnya, sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Tiada satu pun misal bagi-Nya. “

Intinya, puasa itu merupakan ibadah yang bisa menyempumakan spiritualitas para hamba. Bentuk-bentuk pengekangan itu sendiri mengandung pelajaran yang amat mahal nilainya. Setahun dalam 12 bulan, Allah memberi anugerah satu bulan saja, agar hamba-hamba-Nya menjadi merdeka. Merdeka dari seluruh ikatan duniawi, dan fana ‘kepada Allah dalam lembah bulan suci ini.

Mereka yang yang sedang menjalani bulan puasa, hakikatnya menempuh jalan kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya saja ada tipikal manusia berpuasa, sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ia tidak mampu menahan godaan hawa nafsunya. Ada juga yang mampu menahan dahaga, sekaligus menahan diri dhahir dan batinya dari segala yang diharamkan Allah. Puncaknya adalah mereka yang berpuasa, menahan diri dari godaan fisik dan batin, sekaligus fana’ dalam Allah. Yang terakhir inilah disebut sebagai puasa Khawasul Khawas. Puasa dari segala hal selain Allah. Hanya kepada Allahlah dirinya hadir, dan tak ada lain kecuali kehadiran Allah dalam jiwanya.

Dalam tradisi Rasulullah SAW, bulan puasa merupakan bulan ubudiyah. Jika siang hari beliau menahan dari dari segala hal selain Allah, maka di malam hari beliau melakukan Qiyamul Lail, yang kelak disebut dengan tarawih, sebagai upaya bangkit dalam ma ‘rifatullah.

Setidak-tidaknya ada lima peristiwa besar berkait dengan bulan suci ini:

Pertama, bulan ini disebut dengan bulan Ramadlan, yang merupakan salah satu asma ‘ dari sekian asma’ Allah Ta’ala. Berarti, bulan ini adalah awal mula hamba-hamba-Nya memasuki asma’ Allah lewat pancaran cahaya ma’rifatnya. Ma’rifat Asma’, itulah awal dari pengenalan hamba- Nya kepada-Nya, lalu dilanjutkan dengan ma’rifat Sifat, dan terakhir ma’ ri fat bi-Nuridz-Dzat (ma’rifat dengan cahaya Dzatullah). Penghayatan terhadap ma’rifat itu, tidak akan tercapai manakala hamba Allah tidak mau mengekang dirinya, keakuannya, hasrat-hasrat nafsunya, egonya, dan kepentingan-kepentingannya, melainkan hamba harus puasa dari segala hal, kecuali hanya Allah belaka, sebagai tujuan dan sekaligus juga wahana penyaksian (musyahadahnya).

Kedua, bulan ini merupakan bulan di mana Kalamullah al-Qur’ an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia secara global. Kalamullah itulah yang juga merupakan “ kepastian global” atas sejarah jagad raya ini. Turunnya al-Qur’an secara global, selaras dengan “Kun”-nya Allah, dan kelak melimpah secara historis dalam “Fayakuun”. Mengapa al-Qur’an diturunkan di bulan suci Ramadlan, karena Kalamullah itu adalah manifestasi dari sifat-Nya, “Al-Kalim”, di mana semaian wahananya haruslah mawjud pada asma ‘Nya, yaitu Ramadlan itu sendiri.

Ketiga, di bulan ini ada Lailatul Qadr. Malam yang melebihi seribu bulan cahaya. Cahaya bulan itu sendiri merupakan pantulan dari matahari, dan manakala tiada matahari, bulan tak bercahaya, maka terjadi kegelelapan yang dahsyat. Dengan kata lain, Lailatul Qadr merupakan wahana di mana Cahaya-cahaya Allah itu mawjud, dalam jiwa-jiwa hambaNya yang beriman. Pendaran cahaya-Nya yang melebihi ribuan cahaya bulan, hanyalah simbol betapa tak terkirakan Cahaya-Nya itu. Mereka yang mempunyai jiwa yang telah fana , dalam “kegelapan malam fana’ul fana”’, adalah jiwa mereka yang mampu menyaksikan dalam musyahadah Cahaya-Nya. Karena itu, kefana ‘an itu hanya akan termawjud manakala para hamba itu senantiasa berdzikir, bertaqarrub, bermuqarabah, dan bertaubah dalam arti yang hakiki. Sebab Cahaya-cahaya-Nya, hanya bisa disongsong oleh Sirrul ‘Abdi, sebagai puncak ketakwaan hamba Allah itu sendiri. Sirrul ‘Abdi adalah hakikat kehambaan yang final. Wujudnya adalah adalah kesimaan hamba dalam kebaqa ‘an-Nya, sehingga sang hamba tak lagi “ada” , dan yang ada hanyalah Yang Maha Ada dalam Abadi-Nya.

Keempat, di bulan ini para hamba menuai kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya. Sebab pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu. Disebut merdeka dan bebas, karena para hamba dibebaskan diri dari upaya terikat oleh kepentingan duniawi, kepentingan ukhrawi, bahkan kepentingan dari segala hal selain Allah. Sebab, kebebasan itu tidak terwujud secara hakiki manakala hamba masih diperbudak oleh selain Allah. Wujudnya adalah cahaya hati yang terang benderang sebagai “Rumah Allah” dalam jiwanya, sebagaimana disebutkan, dalam sebuah hadits, “Qalbul Mu ‘mini Baitullah” (hati orang yang beriman adalah Rumah Allah).

Kelima, munculnya dua kegembiraan: kegembiraan pertama, adalah ketika mereka yang berpuasa itu melakukan buka puasa (ifthar), dan kegembiraan kedua adalah kegembiraan ketika bertemu Tuhannya. Kegembiraan pertama bisa disebut sebagai kegembiraan lahiriah, dan kegembiraan kedua bisa disebut sebagai kegembiraan batiniah. Atau yang pertama adalah kegembiraan fana ‘nya hamba dalam kefitrahannya (dan karena itu disebut ifthar), lalu yang kedua adalah fana ‘ul fana’ dalam kebaqa’an-Nya, ketika menemui Tuhannya. Dua kegembiraan inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh hamba-hamba Allah. Hamba yang telah berfitrah, sekaligus hamba yang telah menjadi “Cermin Ilahi” dalam liqa’ (bertemu) dengan-Nya.

Mereka yang telah melakukan tradisi puasa sufistik, senantiasa akan merasakan puasa selama lamanya. Sebab di bulan Ramadlan itulah hamba Allah berada dalam khauf dan raja’ (ketakutan dan harapan), lalu meningkat lagi menjadi dalam qabdl dan basth (ketergenggaman dalam Kuasa Ilahi dan keleluasaan dalam rahmat-Nya), bahkan ada yang mencapai haibah dan uns (dalam lembah Kharisma Ilahi sekaligus juga dalam pelukan kemesraan yang tiada tara). Maka puasa, sesungguhnya adalah “perjuangan jiwa” yang disebut sebagai jihadul akbar (perjuangan besar).

Sumber :Sufinews :M Luqman Hakiem


Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly

Sesungguhnya ada tiga tingkatan puasa: biasa, khusus dan sangat khusus.
Puasa biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.



Sedang puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Jenis puasa demikian dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.

Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia sertajanji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, "Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6: 91).

Syarat-syarat Batin
Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya:

1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, "pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. " (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu."

2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur'an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, "Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, 'Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong."
Rasulullah saw. bersabda, "Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa'!" (H.r. Bukhari Muslim).

3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur'an Allah swt. berfirman, "Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal." (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, "Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?" (Q.s. 5: 63).

Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, 'Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka ..." (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, "Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa." (H.r. at Tirmidzi).

4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.
Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan.

Bersabda Rasulullah saw, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!" (H.r. an Nasa'i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa.

5. Menghindari Makan Berlebihan
Berbuka puasa dengan makan yang tidak berlebihan, sehingga rongga dadanya menjadi sesak. Tidak ada kantung yang lebih tidak disukai Allah swt. selain perut yang penuh (berlebihan) dengan makanan halal. Dapatkah puasa bermanfaat sebagai cara mengalahkan musuh Allah swt. dan mengendalikan hawa nafsu, bila kita berbuka menyesaki perut dengan apa yang biasa kita makan siang hari? Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia.

Sesungguhnya hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang biasa dipergunakan setan untuk mengajak kita ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Karenanya, tidak akan mendapatkan manfaat di saat berpuasa bila tetap makan dengan porsi makanan yang biasa dimakan pada hari hari biasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa.

Oleh karena itu, barangsiapa telah "meletakkan" kantung makanan di antara hati dan dadanya, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meskipun perutnya kosong, belum tentu terangkat hijab (tabir) yang terbentang antara dirinya dengan Allah, kecuali telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allah swt. semata. Demikian adalah puncak segalanya, dan titik mula dari semuanya itu adalah mengosongkan perut dari makanan.

6. Menuju kepada Allah Swt. dengan Rasa Takut dan Pengharapan
Setelah berbuka puasa, selayaknya hati terayun ayun antara takut (khauf) dan harap [raja']. Karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasanya diterima sehingga dirinya termasuk orang yang mendapat karunia Nya sekaligus orang yang dekat dengan Nya, ataukah puasanya tidak diterima, sehingga dirinya menjadi orang yang dicela oleh Nya. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya ada pada setiap orang yang telah selesai melaksanakan suatu ibadah.

Dari al Hasan bin Abil Hasan al Bashri, bahwa suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak. Hasan al Bashri lalu berkata, 'Allah swt. telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana Para hamba Nya saling berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah. Sungguh menakjubkan mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan. Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya." Dengan kata lain, manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya gelak tawa.
Dari al Ahnaf bin Qais, bahwa suatu ketika seseorang berkata kepadanya, "Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu." Tetapi al Ahnaf bahkan menjawab, "Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah swt. tentu akan lebih mudah daripada menanggung siksa Nya."
Demikianlah, semua itu adalah makna signifikan puasa.

Pentingnya Memenuhi Aspek aspek (Syarat) Batin
Sekarang Anda mungkin mengatakan, "Dengan menahan makan, minum dan nafsu seksual, tanpa harus memperhatikan syarat batin itu sudah sah. Menurut pendapat para ahli fiqih juga demikian, bahwa puasa yang bersangkutan sudah dapat dikatakan memenuhi syarat, sudah sah. Lalu mengapa kita harus repot repot?"

Anda harus menyadari bahwa para ulama fiqih telah menetapkan syarat-syarat lahiriah puasa dengan dalil-dalil yang lebih lemah dibanding dalil dalil yang menopang perlunya ditepati syarat syarat batiniah. Misalnya saja tentang mengumpat dan yang sejenis. Bagaimanapun perlu diingat, bahwa para ulama fiqih memandang batas kewajiban puasa dengan hanya mempertimbangkan pada kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hari Akhir, akan memperhatikan sungguh-sungguh dan memenuhi dengan syarat batin, sehingga ibadahnya sah dan diterima.
Hal demikian itu mereka capai dengan melaksanakan syarat-syarat yang akan mengantarkannya pada tujuan. Menurut pemahaman mereka, berpuasa adalah salah satu cara untuk menghayati salah satu akhlak Allah Swt, yaitu tempat meminta (shamadiyyah), sebagaimana juga contoh dari para malaikat, dengan sedapat mungkin menghindari godaan nafsu, karena malaikat adalah makhluk yang terbebas dari dorongan serupa.

Sedang manusia mempunyai derajat di atas hewan, karena dengan tuntunan akal yang dimilikinya akan selalu sanggup mengendalikan nafsunya; namun ia inferior (sedikit lebih rendah) dari malaikat, karena masih dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia pun harus mencoba untuk mengatasi godaan hawa nafsunya.

Kapan pun manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh dalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Kapan pun ia mampu mengatasinya, maka ia akan terangkat ke tingkatan para malaikat. Malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah swt, karenanya malaikat pun menjadi contoh bagi makhluk yang ingin dekat dengan Allah. Tentu dengan segala ibadah akan menjadikan diri semakin dekat dengan Nya. Hanya saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat.
Jika demikian itu adalah rahasia puasa bagi mereka yang memiliki kedalaman pemahaman spiritual, apakah manfaat menggabungkan dua (porsi) makan pada waktu berbuka, seraya memuaskan nafsu lain yang tertahan ketika siang hari. Dan kalaulah demikian, lalu apa makna Hadis Nabi saw. yang berbunyi, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapat sesuatu selain lapar dan dahaga?"

Sumber: Sufinews

Friday, July 16, 2010

Sholat Nisfu Sya’ban ( Shalatul Khoir )

Sholat ini diriwayatkan oleh Sultohonul Awliya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Telah diriwayatkan dari Sayyidina Hasan Rohimahullah bahwasanya telah menceritakan tiga puluh sahabat Nabi kepadaku : “Barangsiapa yang melaksanakan sholat Nisfu Sya’ban pada malam ini Allah akan memandang padanya dengan 70 pandangan dan Allah memberikan padanya setiap pandangan 70 kebutuhan, yang paling dekat adalah maghrifoh Allah .
Adapun sholatnya dikerjakan pada malam ke lima belas bulan Sya’ban sebanyak 100 raka’at, tiap-tiap satu raka’at membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas 10x sampai 50x salaman,
Niat Sholat Nisfu Sya’ban / Sholat Khoir


Adapun Do’a yang dibaca setelah membaca Yaa Siin / selama malam Nisfu Sya’ban adalah

Artinya :
“Ya Allah, wahai Dzat yang memiliki anugerah dan tidak diberi anugerah kepada-Mu, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang memiliki anugerah dan kenikmatan. Tiada Tuhan melainkan Engkau, dan pertolongannya orang yang mengungsi, dengan keselamatannya orang yang meminta pertolongan dan dengan keamanan serta sentausanya orang yang takut.
Ya Allah, Jika Engkau telah menulis aku disisi Engkau di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit dalam rezekiku, maka hapuskanlah.
Ya Allah, dengan anugerah Engkau , celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezekiku dan tetapkanlah aku di sisi Engkau dalam Ummil Kitab sebagai orang yang beruntung, memperoleh rezeki dan taufiq dalam melakukan kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman Engkau adalah benar didalam Kitab Engkau yang telah diturunkan atas lisan Nabi Engkau yang terutus. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi Allah Ummil Kitab.
Wahai Tuhanku, dengan kenyataan yang agung pada malam pertengahan bulan Sya’ban yang mulia, yang dimalam pertengahan bulan Sya’ban segala perkara yang ditetapkan dibedakan, hapuskanlah dari saya bala/musibah yang saya telah mengetahui dan yang belum saya ketahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Mengasihani. Semoga Allah selalu melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, atas keluarga dan para shahabat beliau, Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Satu kebaikan di bulan-bulan yang lain mendapat 10x lipat. Pada bulan Rajab 70x lipat, bulan Sya’ban 700x lipat dan bulan Ramadhan 1000x lipat.
Bulan Rajab bagaikan anginnya, bulan Sya’ban bagaikan awannya, sedangkan Ramadhan bagaikan hujannya.
Bulan Rajab khusus untuk mendapat ampunan Allah, bulan Sya’ban khusus untuk mendapat syafa’at sedangkan bulan Ramadhan khusus untuk mendapat kebaikan yang berlipat.
Hitungan tahun merupakan pohonnya, bulan Rajab merupakan hari-hari tumbuhnya daun, bulan Sya’ban merupakan hari berbuahnya sedangkan bulan Ramadhan merupakan hari-hari memetiknya.
Rajab adalah bulan membersihkan badan, Sya’ban adalah bulan membersihkan hati dan Ramadhan adalah bulan membersihkan Ruh.

Bulan Sya'ban dan keutamaanya

(kitab Al-Ghunayah li Thalibi Thariq al-Haqq fi al-Akhlaq wa at-Tashawwuf wa al-Adab al-Islamiyah, buah karya Sulthonul Awliya Syeikh Abdul Qadir al Jailani )

Dari Aisyah , istri Nabi , dia bercerita :
“Rasulullah pernah berpuasa sehingga kami katakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dibanding pada bulan Sya’ban.”
“Wahai Rasulullah , mengapa engkau berpuasa pada bulan Sya’ban ?” beliau menjawab, “Wahai Aisyah, Sya’ban adalah bulan ketika malaikat maut menandai nama orang yang dicabut nyawanya pada waktu yang tersisa ditahun itu dan aku ingin namaku ditandai saat aku dalam keadaan puasa.”

Dari Ummu Salamah , dia bercerita :
“Rasulullah tidak berpuasa pada suatu bulan setelah Ramadhan yang lebih banyak dari puasanya pada bulan Sya’ban.”

Dari Anas bin Malik , dia bercerita :
“Nabi pernah ditanya tentang keutamaan puasa, maka beliau menjawab, “Puasa Sya’ban sebagai pengagungan bagi bulan Ramadhan.”
“Keutamaan bulan Rajab atas semua bulan adalah keutamaan Al-Qur’an atas semua ucapan dan keutamaan bulan Sya’ban atas semua bulan seperti keutamaanku atas semua Nabi dan keutamaan bulan Ramadhan atas semua bulan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”
Dinamai Sya’ban karena ia mengumpulkan bagi bulan Ramadhan kebaikan yang sangat banyak, dan dinamai Ramadhan, karena ia menghanguskan dosa-dosa.
Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi : beliau bersabda, “Sya’ban adalah bulanku, Rajab adalah bulan Allah dan Ramadhan bulan umatku. Sya’ban adalah penghapus (dosa) sedangkan Ramadhan sebagai penyuci.”
Beliau juga bersabda,”Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan, banyak orang-orang yang melupakannya. Pada bulan itu amal perbuatan manusia diangkat menghadap Tuhan semesta alam dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.”

Kata Sya’ban terdiri dari lima huruf : syin yang berarti asy-syaraf (kemuliaan), ‘ain yang berarti al-‘uluww (tinggi), ba’ yang berarti al-birr (kebajikan), alif yang berarti al-ulfah (kelembutan) dan nun yang berarti an-nur (cahaya). Hal itu merupakan karunia yang diberikan Allah kepada seluruh hamba-Nya. Sya’ban merupakan bulan yang didalamnya semua pintu kebaikan terbuka, berbagai berkah turun, berbagai kesalahan diabaikan dan berbagai kejahatan dihapuskan. Pada bulan itu juga diperbanyak shalawat kepada Nabi . Karena ia merupakan bulan Nabi .

Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah , pernah bertanya kepadanya, “Wahai Aisyah, malam apa ini?” Aisyah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam pertengahan Sya’ban. Pada saat itu pula Allah memberi perlindungan dari api neraka. Apakah kamu mengizinkanku pada malam ini ?” “ya,” jawab Aisyah. Maka beliau mengerjakan shalat dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an lainnya yang ringan. Lalu bersujud sampai pertengahan malam. Kemudian beliau bangun untuk rakaat kedua dan membaca seperti rakaat pertama, kemudian bersujud sampai waktu shubuh. ‘Aisyah berkata, “Melihat hal itu, aku menyangka Allah telah mencabut nyawa beliau. Setelah beberapa lama aku mendekat, lalu aku menyentuh kedua kakinya yang kempis. Beliau bergerak dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujud, “Aku berlindung pada ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari azab-Mu. Pujian-Mu sangat Agung, aku tidak dapat menghitung pujian atas diri-Mu, Engkau seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Kutanyakan, “Wahai Rasulullah, aku telah mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam sujudmu malam ini yang belum pernah aku dengar sebelumnya.” Rasulullah . Bertanya, “apakah kamu mengetahuinya ?” “Ya, “Jawab Aisyah. Rasulullah bersabda, “Pelajari dan ajarkan do’a itu, karena sesungguhnya Jibril telah menyuruhku untuk mengucapkannya dalam sujudku.”
Dari Aisyah dia bercerita : pada suatu malam aku pernah kehilangan Rasulullah , lalu aku keluar rumah dan ternyata beliau berada di Baqi’ sedang mengadahkan kepada ke langit, lalu beliau berkata kepadaku, “Apakah kamu khawatir jika Allah akan menganiayamu sedang Rasul-Nya ada dihadapanmu ?” aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku kira engkau mengunjungi istrimu yang lain.” Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu memberi ampunan kepada orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu biri-biri.”

Dari Ikrimah, budak Ibn ‘Abbas, mengenai firman Allah , pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, Ibn ‘Abbas berkata, “Yaitu malam pertengahan Sya’ban. Pada saat itu Allah mengurus segala urusan untuk waktu satu tahun, menandai nama-nama yang akan mati dan menulis nama-nama yang akan berangkat ibadah haji ke Baitullah. Dia tidak menambahkan kepada seorang pun dari mereka dan tidak pula menguranginya.”

Abu Nashr memberitahuku, dari Malik bin Anas, dari Hisyam bin Urwah, dari Aisyah , dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah mengalirkan kebaikan pada empat malam, yaitu : malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertengahan (nisfu) Sya’ban, pada malam itu Allah menandai ajal dan rezeki serta menetapkan orang yang akan berangkat haji dan malam Arafah sampai waktu azan.”

Sa’id menceritakan, Ibrahim bin Abi Najih berkata, “Ada lima dan yang kelima adalah malam Jum’at.”
Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda, “Jibril pernah mendatangiku pada malam pertengahan (nisfu) Sya’ban dan dia berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu ke langit.” Kemudian aku bertanya, “malam apakah ini ?” Jibril menjawab, “Pada malam ini Allah membuka tiga ratus pintu rahmat, Dia memberi ampunan kepada siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kecuali tukang sihir, dukun, pecandu khamar atu orang yang selalu mengulang-ulang berbuat riba dan zina. Mereka tidak diberi ampunan oleh-Nya hingga mereka bertobat.”
Setelah seperempat malam, Jibril turun dan berkata, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu.”
Maka beliau mengangkat kepalanya dan ternyata pintu-pintu syurga sudah terbuka dan diatas pintu pertama ada malaikat berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdzikir pada malam ini.” Pada pintu kedua ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang bersujud pada malam ini.” Pada pintu ketiga ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdoa pada malam ini.” Sedangkan pada pintu keempat ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang manangis karena takut kepada Allah pada malam ini.” Dan pada pintu keenam ada malaikat berseru, “Beruntunglah kaum Muslim pada malam ini.” Pada pintu ketujuh ada malaikat berseru, “Adakah orang yang meminta, pasti akan diberi.” Dan pada pintu kedelapan ada malaikat berseru, “Siapapun yang bertobat, niscaya dia akan diberi ampunan.”
Lalu aku bertanya, “Wahai Jibril , sampai kapan pintu-pintu ini akan terbuka ?” Jibri menjawab, “Sampai terbit fajar dari sejak permulaan malam.” Kemudian Jibri berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada malam ini Allah akan membebaskan manusia dari neraka sebayak bulu biri-biri.”

Ada yang berpendapat bahwa malam itu disebut malam bara’ah (pembebasan), karena pada malam itu ada dua pembebasan. Pertama, pembebasan orang-orang yang sengsara dari Allah , Tuhan Yang Maha Penyayang; kedua, pembebasan para wali dari orang-orang yang hina dina.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah , beliau bersabda, “Pada malam nishfu Sya’ban, Allah melongok sekali longokan. Lalu Dia mengampuni orang-orang yang beriman, mengabaikan orang-orang kafir dan membiarkan orang-orang yang dengki dengan kedengkian mereka, sampai mereka meninggalkan kedengkiannya.”

Ada yang mengatakan bahwa para malaikat mempunyai dua malam raya di langit, sebagaimana kaum Muslim mempunyai hari raya di bumi. Malam raya para malaikat adalam malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar. Sedangkan hari raya orang-orang yang beriman adalah hari Idul Fitri dan Idul Adha. Hari raya para malaikat berlangsung pada malam hari karena mereka tidak tidur, sedangkan hari raya orang-orang Mukmin berlangsung pada siang hari karena mereka tidur di malam hari.

Ada yang mengatakan, hikmah ditampakannya malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar disembunyikan adalah karena malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Malam itu disembunyikan Allah agar mereka tidak membicarakannya. Dan Allah memperlihatkan malam bara’ah, karena malam itu merupakan malam pemberian keputusan. Malam itu merupakan malam kemurkaan dan keridhaan, malam pengabulan dan penolakan, malam kebahagiaan dan kesengsaraan, malam kemuliaan dan kehinaan. Pada malam itu ada orang yang bahagia dan ada pula yang sengsara, ada yang dimuliakan ada pula yang dihinakan. Berapa banyak kain kafan yang dicuci sedang pemakainya masih terus sibuk di pasar. Berapa banyak kuburan yang sudah digali sedang pemiliknya masih terus tertawa padahal mereka sudah dekat dengan kebinasaan. Berapa banyak orang yang berharap syurga tetapi yang tampak padanya adalah petunjuk ke nereka. Berapa banyak orang yang mengharapkan pemberian tetapi memperoleh musibah. Dan berapa banyak orang yang mengharapkan kekuasaan, tetapi justru dia mendapatkan kebinasaan.


Dari sebagian kitab Durratun Nasihin hasil karya dari Syeikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyyi 

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan laut dari sinar dibawah Arasy, kemudian menciptakan satu malaikat yang mempunyai dua sayap, satu sayapnya ditimur dan sayapnya yang lain dibarat, sedang kepalanya dibawah Arasy dan dua kakinya dibawah bumi yang ketujuh. Apabila seorang hamba membaca shalawat untuk saya dibulan Sya’ban, maka Allah menyuruh malaikat itu agar menyelam di air hidup. Malaikat itupun menyelam, kemudian keluar dari dalam air serta mengkibaskan sayapnya sehingga berteteslah dari bulunya, tetesan yang banyak sekali. Maka Allah menciptakan dari tiap-tiap tetes air itu akan satu malaikat yang memohonkan ampunan baginya (orang yang membaca shalawat) sampai hari Qiyamat.” ( Zubdatul Waa’izdiina )

Sabda Nabi : “Tahukah kamu sekalian, mengapa dinamakan bulan Sya’ban ? mereka menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui, beliau bersabda, “Karena didalam bulan ini bercabanglah kebaikan yang banyak sekali ( Raudhatul ‘Ulama )

Diriwayatkan dari Imam Muslim dari Abu Hurairah : Nabi bersabda :
“Allah telah menjadikan kasih sayang-Nya seratus bagian; maka Allah menahan disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan yang satu bagian dikirimkan ke bumi. Maka dari sebab yang satu bagian itu, semua makhluk menjadi berkasih kasihan; sehingga binatang mangangkat kukunya / kakinya dari anaknya karena takut anaknya terkena musibah.”
“Dan Allah mengakhirkan / menyisihkan sembilan puluh sembilan yang dengan itu Allah berbelas kasihan kepada para hamba-Nya dihari Qiyamat.”

Oleh karena itu diterangkan : “Bulan Rajab kesempatan membersihkan badan, bulan Sya’ban kesempatan membersihkan hati dan bulan Ramadhan kesempatan mensucikan jiwa.
Maka sesungguhnya orang yang membersihkan badannya dibulan Rajab, seharusnya dia membersihkan hatinya dibulan Sya’ban dan barang siapa yang membersihkan hatinya dibulan Sya’ban juga seharusnya membersihkan jiwanya dibulan Ramadhan. Maka kalau tidak membersihkan badanya dibulan Rajab dan tidak membersihkan hatinya dibulan Sya’ban kemudian kapan / bagaimana dia bisa membersihkan jiwa dibulan Ramadhan ?
Oleh karena itu sementara Hukama berkata, “Sungguh bulan Rajab itu kesempatan untuk mohon ampunan dari segala dosa, bulan Sya’ban kesempatan untuk memperbaiki hati dari segala macam cela dan bulan Ramadhan untuk menerangkan haati / membersihkan hati / jiwa Lailatul Qadar untuk mendekatkan diri kepada Allah .” ( Zubdatul Waa’izdiina )

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda :
“Barangsiapa berpuasa tiga hari dari permulaan bulan Sya’ban dan tiga hari dipertengahan bulan Sya’ban serta tiga hari diakhir bulan Sya’ban maka Allah mencatat baginya seperti pahala tujuh puluh Nabi dan seperti orang yang beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun dan apabila dia mati ditahun itu maka dia sebagai orang yang mati syahid.”
“Barangsiapa yang mengagungkan bulan Sya’ban, bertaqwa kepada Allah dan bertaat kepada-Nya serta menahan diri dari perbuatan maksiyat / durhaka, maka Allah mengampuni semua dosanya dan menyelamatkan didalam satu tahun itu dari segalam macam bencana dan dari bermacam-macam penyakit”. ( Zubdatul Waa’izdiina )

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Az Zaahidiy bahwa dia berkata : “Kawan saya Abu Hafshin Al-Kabiir telah meninggal dunia, maka saya juga menshalati jenazahnya dan saya tidak mengunjungi kuburnya selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud akan menengok kuburnya, ketika saya tidur dimalam hari saya bermimpi melihatnya dia sudah berubah mukanya menjadi pucat, maka saya bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya. Kemudian saya berkata / bertanya kepadanya, “Subhaanallah / Maha Suci Allah, mengapa engkau tidak membalas salam saya ?” dia menjawab, “membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah.” Kata saya, “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dahulu berwajah bagus ?
Dia menjawab, “ketika saya dibaringkan didalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk disebelah kepala saya seraya berkata, “Hai situa yang jahat, dan dia menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat bahkan diapun memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar”. Kuburpun berkata kepada saya, “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku ?”, kemudian kuburpun menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang-tulang rusukku menjadi bertebaran dan sendi-sendi tulangkupun menjadi terpisah-pisah sedang saya dalam siksa sampai malam pertama bulan Sya’ban”, waktu itu ada suara mengundang dari atas saya, “Hai Malaikat, angkatlah batang kayumu dan siksamu dari padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidupkan / mengagungkan satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari dibulan Sya’ban. Maka Allah menghapuskan siksa dari padaku dengan sebab aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan berpuasa satu hari dibulan Sya’ban; kemudian Allah memberi kegembiraan kepada saya dengan syurga dan kasih sayang-Nya.”

Oleh sebab itu Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang menghidupkan malam dua hari raya ( Idul Fitri dan Idul Adha ) dan malam pertengahan dari bulan Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati disaat semua hati sama mati”.

Diriwayatkan dari Athaa-I bin Yasaari , bahwa dia berkata : “Tidak ada satu malam sesudah malam Qadar ( Lailatul Qadar ) yang lebih utama kecuali dari malam setengah bulan Sya’ban”.

Diriwayatkan dari Aly , bahwa beliau bersabda :
“Apabila telah datang malam setengah Sya’ban ( 15 Sya’ban ) maka berdirilah kamu sekalian pada malamnya (dirikanlah shalat) dan berpuasalah pada siang harinya, karena pada malam itu Allah turun kelangit dunia ketika matahari tenggelam seraya berfirman : “Apakah ada orang yang meminta, maka akan Aku beri permintaannya, apakah ada orang yang minta ampunan, maka akan Aku ampuni dan apa ada orang yang minta rizqi, maka Aku beri rizki ?” sehingga terbit fajar”.
Dari Abdullah bin Mas’uud dari Nabi , bahwa beliau bersabda :
“Barangsiapa mengerjakan shalat seratus raka’at dimalam pertengahan bulan Sya’ban dan tiap-tiap raka’at dia membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas lima kali, maka Allah menurunkan / mengirimkan lima ratus ribu malaikat yang tiap-tiap malaikat membawa satu daftar catatan dari nur serta mereka menulis pahal orang itu sampai hari Qiyamat.

Diriwayatkan dari Abi Nashrin bin Sa’iid dari Nabi bersabda :
“Tatkala malam tiga belas bulan Sya’ban maka datanglah Malaikat Jibril kepada saya, lalu berkata “Hai Muhammad, bangunlah ( kerjakanlah shalat ), sungguh telah datang waktu tahajjud, agar engkau bisa minta apa yang engkau kehendaki untuk umatmu”. Maka beliau mengerjakannya.
Jibril datang kepada Nabi pula ketika waktu subuh mulai memancar seraya berkata : “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah memberikan kepadamu sepertiga umatmu”. Maka beliau menangis seraya berkata, “Hai Jibril, beritahukanlah kepada saya dua pertiga umatku yang lain”. Kata Jibril “Saya tidak tahu”.malaikat Jibril pun datang kepada beliau pada malam yang kedua dan berkata, “Hai Muhammad bangunlah dan tahajjudlah !” beliaupun mengerjakannya.
Kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau pula ketika fajar dan berkata, “Hai Muhammad, sungguh Allah telah memberi kepadamu dua pertiga umatmu”.
Maka beliau menangis dan berkata, “Wahai Jibril, beritahukanlah kepadaku umatku yang sepertiga lainnya !’ kata malaikat Jibril “Saya tidak tahu”
Kemudian malaikat Jibril mendatangi Nabi pada malam “Bara’ah” dan berkata, “Hai Muhammad, kabar gembira untukmu, bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan kepadamu semua umatmu dari orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu”.
Lalu malaikat Jibril berkata, “Hai Muhammad, angkatlah kepalamu ke langit / keatas serta lihatlah apa yang engkau lihat ?”
Maka Nabi melihat keatas dan beliau lihat pintu-pintu langit terbuka, sedang para malaikat dari langit dunia sampai ke Arasy dalam keadaan sujud serta memohonkan ampunan untuk umat Muhammad dan tiap-tiap pintu langit ada satu malaikat.
Maka pada pintu pertama terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang ruku pada malam ini”.
Dipintu kedua terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang sujud dimalam ini”.
Dipintu ketiga terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang berdzikir pada malam ini”.
Dipintu keempat terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang berdo’a kepada Tuhan-Nya pada malam ini”.
Dipintu kelima terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah pada malam ini”.
Dipintu keenam terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang berbuat baik pada malam ini”.
Dipintu ketujuh terdapat malaikat yang berseru, “Untung bagi orang-orang yang membaca Al-Qur’an pada malam ini”.
Kemudian malaikat itu berseru, “Apakah ada orang yang minta, maka akan diberi permintaannya ?” apakah ada orang yang berdo’a, maka akan dikabulkan do’anya ?” apakah ada orang yang bertobat, maka akan diberikan tobat kepadanya ?” apakah ada orang yang minta ampunan, maka dia akan diampuni ?”

Dari siti Aisyah bahwa dia berkata, “semula saya tidur bersama Nabi , maka ketika saya terbangun, saya tidak mendapatkan Nabi , lalu saya menjadi bimbing dan saya kira beliau pulang ke salah satu isterinya pada waktu giliran saya. Lalu sayapun mencari beliau di rumah-rumah mereka dan tidak saya jumpai. Kemudian saya pergi ketempat Fathimah dan saya ketok pintunya, maka ada tegoran, “Siapa dipintu ?” jawab saya, “Saya Aisyah, saya datang kemari pada saat ini untuk mencari Nabi”. Maka keluarlah Aly, Hasan, Husein dan Fathimah radhiyallahu anhum ajma’iina.
Kata saya, “Dimana kita mencari Nabi ?” mereka menjawab, “Kita mencari beliau di mesjid-mesjid”.
Kami semuapun mencari beliau dan tidak kami dapatkan, kata Aly, “Mestinya Nabi hanyalah pergi ke Baqii’il Gharqadi (nama tempat disitu banyak pohon-pohon indah) .
Maka kami sekalian pergi ketempat rekreasi ( tempat yang mengembirakan ) dan pada waktu itu ada sinar memancar dari kuburan. Kata Aly , “Cahaya itu tidak lain kecuali Nur Nabi .
Kamipun datang mendekati dan kami dapatkan beliau sedang sujud sambil menangis dan tidak seorangpun yang merasa sama sekali, dan beliau bertekun tunduk seraya berucap dalam sujudnya
“Apabila Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu para hamba-Mu; dan apabila Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau itu Maha Mulia lagi Maha Bijaksana”.
Ketika Fathimah mengetahui beliau, maka dia berhenti didekat kepala beliau serta mengangkat wajah beliau dari tanah dan berkata, “Wahai ayah, apakah gerangan yang menimpa engkau; apakah ada musuh datang atau ada wahyu yang turun ?”
Beliau menjawab, “Hai Fathimah, tidak ada musuh datang dan tidak ada wahyu turun, akan tetapi pada malam ini adalah malam “Bara’ah” saya memohon kepada Allah ”.
Dan beliau berkata pula, “Hai Aisyah, kalau sekiranya hari Qiyamat telah datang, maka saya sedang bersujud dan saya bermohon kepada Allah serta mohon pertolongan”.
Kemudian Rasulullah saw bersabda : “Apabila kamu sekalian menghendaki keridhaanku, maka sujudlah kamu sekalian dan tolonglah aku dengan berdo’a dan merendah diri kepada Allah ”.
Beliau bersabda, “Hai Aly sujudlah engkau dan carilah orang lain, hai Fathimah dan Aisyah sujudlah kamu keduanya dan carilah anak-anak serta orang-orang perempuan lain”.
Maka merekapun bersujud serta menangis sehingga terbit fajar.

Hari para ahli taat, kamu sekalian lebih utama bertekun dan tunduk, karena dosamu lebih banyak; sesungguhnya mereka itu menangis untuk kepentinganmu, maka kamu lebih utama menangis untuk dirimu sendiri”. ( Raudhatul Ulama )

Diceritakan bahwa Nabi Isa berjalan-jalan; maka melihat gunung yang tinggi lalu dia pergi kegunung itu. Maka ketika itu ia berada disebuah batu besar lebih putih dari pada susu dipuncak gunung itu. Kemudian dia mengelilingi batu itu dan mengagumi keindahannya. Maka Allah memberi wahyu kepadanya, “Hai Isa, apakah engkau suka Aku tunjukan yang lebih indah lagi mengagumkan dari pada ini ?”
Nabi Isa menjawab, “Iya suka”
Maka batu besar itu pecah dan ketika itu ada seorang tua didalamnya yang mengenakan jubah bukaan muka dari rambut / bulu, dihadapannya terdapat sebatang tongkat sedang ditangannya memegang sebuah anggur dan dia sedang berdiri mengerjakan shalat.
Nabi Isa menjadi kagum seraya berkata, “Wahai Syaikh, apakah yang saya lihat ini ?”
Syaikh itu menjawab, “ini adalah rizki saya setiap hari”.
Kata Nabi Isa , “Semenjak berapa tahun engkau beribadah disini ?”
Kata orang tua itu, “Semenjak empat ratus tahun”.
Kata Nabi Isa , “Wahai Tuhanku, adakah Engkau telah menciptakan yang lebih utama dari pada orang tua ini ?”
Maka Allah memberi wahyu kepadanya, “Kalau seandainya umat Muhammad menjumpai bulan Sya’ban lalu dia mengerjakan shalat Bara’ah pada malam pertengahannya, niscaya shalat itu lebih utama dari pada ibadahnya hamba-Ku ini selama empat ratus tahun”.
Kata Nabi Isa , “Alangkah bahagianya seandainya saya termasuk umat Muhammad ”