Jalan orang-orang sufi.. Pecinta menuju makrifatullah Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Friday, April 5, 2013
Hadits Arba'in (18)
Terjemah hadits:
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“ (Riwayat Turmuzi, dia berkata, "haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).
Kandungan Hadist:
1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.
2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
5. Makna takwalloh (takwa kepada Alloh) adalah membuat perisai antara dirinya dengan azab dan murka Alloh, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan perisai yang paling asasi adalah menegakkan tauhidulloh. Perintah untuk bertakwa ditujukan kepada 3 sasaran, yaitu:
Ditujukan kepada seluruh manusia, maka takwa di sini maknanya adalah menunaikan tauhid dan membersihkan dari syirik.
Ditujukan kepada kaum mukminin, maka takwa di sini maknanya adalah melaksanakan ketaatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh.
Ditujukan kepada seseorang yang sudah bertakwa, maka perintah takwa di sini maknanya adalah perintah untuk melestarikan ketakwaannya.
Ruang lingkup Takwalloh meliputi seluruh tempat dan waktu, artinya di manapun dan kapan pun berada serta dalam kondisi apapun terkena kewajiban takwalloh. Dengan demikian, sifat takwalloh berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu dan keadaannya.
6. Kebajikan adalah sesuatu yang mendatangkan pahala, dan keburukan adalah sesuatu yang mendatangkan dosa atau siksa. Kebajikan yang dapat menghapus keburukan ada 2 tingkatan, yaitu:
Melakukan kebajikan dengan niat untuk menghapus keburukan. Jika melakukan kebajikan dengan niat menghapus keburukan maka sudah terkandung di dalamnya penyesalan dan taubat atas kejelekannya.
Melakukan kebajikan tanpa adanya niat menghapus keburukan. Kebajikan seperti ini secara umum akan menghapuskan kejelekannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Derajat yang ke-2 ini lebih rendah dibanding derajat yang pertama.
7. Husnul Khuluq adalah banyak berderma, tidak menyakiti dan berwajah ceria. Inilah tafsir Husnul Khuluq kepada sesama manusia. Seseorang mendapatkan Husnul Khuluq secara thobi’í atau hasil usaha. Seseorang yang melakukan Husnul Khuluq sebagai hasil dari jerih payahnya lebih besar pahalanya dibanding dengan yang melakukan karena sudah tabiatnya. Karena kaidah menyatakan, “Jika sesuatu diwajibkan oleh syariat maka yang lebih mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya lebih besar pahalanya. Berbeda dengan apabila sesuatu itu disunahkan, maka tidak secara otomatis yang lebih mendapatkan kesulitan lebih besar pahalanya.”
Labels:
Hadits Arba'in
Sholawat Miftahu Babil Arzaq
Sholawat Miftahu Babil Arzaq (Pembuka Pintu-Pintu Rezeki)
As Syaikh Al Qutb Muhammad Al -Budairi Ad-Dimyathi Qoddasa Allahu Sirrohu Wa Rodhianhu

Artinya: Ya Allah, Limpahkanlah SholawatMu atas pimpinan kami Muhammad, hamba Mu dan Rasul Mu, Nabi yang dibangkitkan sebagai rahmat, juga keatas keluarga dan sahabat beliau, dengan disertai salam, sebanyak bilangan yang engkau ketahui dan dijalani qalam Mu dan berjalanya hukum Mu. Ya Allah, wahai siapa yang mengatakan kepada sesuatu "Jadilah maka dia terjadi". Aku meminta kepada Mu agar engkau melimpahkan sholawatmu keatas Muhammad dan menyelamatkan aku dari lilitan hutang, serta memperkaya diriku dari kefakiran dan berilah aku rezeki yang halal dan luas penuh keberkahan dan limpahan ya Allah. Sholawat Mu atas muhammad dan keluarganya, beriringan dengan sallam.
Terdapat catatan khusus dari sholawat ini yaitu "Barangsiapa mengucapkanya sepuluh kali maka ia akan dapat melunasi hutang-hutangnya dan diberi Allah keberkahan rezekinya. Semoga Allah terus memuliakan Rasulullah Sayyidina Muhammad Shollallahu 'alaihi wassalam dan memberikan keberkahan kita yang membaca sholawat ini. Amin
Shalawat tersebut kami dapatkan dari dalam kitab Saadatud Dara`in karya Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dengan terjemahan dari Syaikhina Habib Muhammad bin Ali bin Ahmad Syihab.
Labels:
Sholawat
Syeikh Syazili: Dunia
SufinewsSyeikh Abul Hasan Asy-Syadzily
Awas! Waspadalah dengan kesibukan dunia manakala dunia mendekatimu.
Awas! Dengan penyesalannya manakala dunia pergi darimu. Orang yang cerdas sama sekali tidak tergantung pada sesuatu (dunia) yang apabila dunia datang ia sibuk dan apabila pergi ia menyesal. Lalu ada yang berkata padanya, “Mereka telah memburu dan mereka telah terampas.”
IKHLAS merupakan Siapapun yang meraih sedikit saja dari dunia secara halal dengan disertai etika (adab), hatinya telah selamat dari pengotoran dan dari neraka hijab. Etika (adab) di sini ada dua macam: Adab sunnah dan adab ma’rifat. Adab sunnah adalah berpijak pada ilmu pengetahuan melalui tujuan dan niat yang baik semata bagi Allah. Sedangkan adab ma’rifat disertai izin, perintah, ucapan dan isyarat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Isyarat di sini, merupakan pemahaman dari Allah terhadap hamba-Nya melalui cahaya keindahan-Nya dan keagungan-Nya.
Ilahi, dunia ini hina, hinalah orang yang berkubang di dalamnya, kecuali dzikrullah. Sedangkan akhirat itu mulia, dan mulia pula orang yang ada di dalamnya. Sementara Engkau yang menghinakan kehinaan dan memuliakan kemuliaan. lalu mana bisa mulia orang yang memburu selain Diri-Mu? Tau bagaimana bisa zuhud orang yang memilih dunia bersama-Mu? Maka benarkanlah secara hakiki diriku dengan hakikat zuhud sehingga aku tidak membutuhkan lagi mencari selain Diri-Mu, dan kokohkan dengan hakikat ma’rifat sehingga aku tidak butuh mencari-Mu lagi.
Ilahi, bagaimana orang yang mencari-Mu bisa sampai kepada-Mu, atau bagaimana orang yang lari dari-Mu bisa kehilangan Diri-Mu? Maka carilah aku dengan kasih sayang-Mu, dan jangan engkau cari diriku dengan siksa-Mu wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Menyiksa.
“Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Tak ada masalah besar bagi kami, kecuali dua hal ini: cinta dunia secara berlebihan dan rela menduduki kebodohan. Sebab, cinta dunia itu tonggak dari segala dosa besar, sedang menempati kebodohan adalah tonggak segala kedurhakaan. Sungguh Allah memperkaya dirimu jauh dari dunia lebih baik dibanding Allah memperkaya dirimu dengan dunia. Maka demi Allah tak seorang pun bisa kaya dengan dunia, sebab bagaimana bisa kaya dengan dunia, sementara firman-Nya: “Katakanlah, sesungguhnya harta dunia itu amat sedikit.”
Ada seseorang datang kepadaku, ketika aku ada dalam gua di Marokko. Lalu ia berkata padaku, “Engkau punya keahlian di bidang ilmu kimia, ajarilah aku.” Kukatakan padanya, “Baik aku akan mengajarimu tentang kimia, namun aku tidak memperdayaimu dari ilmu kimia itu satu huruf pun, seandainya engkau menerima, dan aku lihat engkau tidak akan menerima...?” Orang itu menjawab, “Hai, demi Allah aku pasti menerima.” Lalu kukatakan, “Gugurkanlah makhluk dari hatimu, dan putuskanlah keinginan agar Tuhanmu memberikan sesuatu yang selain apa yang telah diberikan padamu dari Tuhanmu.” Orang itu menegaskan, “Sungguh, aku tidak mampu menjalankan ini!”. Lalu kukatakan padanya, “Bukankan sudah kukatakan padamu, kalau engkau tidak akan menerima. Kalau begitu pergilah.”
Ada empat perkara, jadilah dirimu bersamanya, dan masuklah kapan saja engkau mau. 1) Janganlah engkau mengangkat pemimpin yang kafir, 2) janganlah memandang orang mukmin sebagai musuh, 3) jauhkanlah hatimu dari dunia dan bersiaplah menyongsong kematian, dan 4) bersaksilah bagi Allah dengan Keesaan-Nya, dan bersaksilah bagi Rasul dengan risalahnya. Lalu amalkanlah. Ucapkan:
“Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, seluruh takdir-Nya, dan seluruh kalimat-kalimat yang bercabang-cabang dari Kalimat-Nya (Kami tidak membedakan antara seseorang dari para Rasul-Nya) dan kami katakan sebagaimana mereka katakan, (kami mendengar dan kami patuh, hanya ampunan-Mu wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu lah tempat kembali).”
Siapa pun yang berpijak pada empat hal tersebut, Allah akan menjamin empat hal di dunia dan empat hal di akhirat. (Di dunia) benar dalam bicara; ikhlas dalam beramal; rizki seperti hujan dan terjaga dari keburukan. Sedangkan di akhirat mendapatkan: ampunan agung; kedekatan yang sangat (kepada Allah); masuk ke dalam syurga yang luhur dan mendapatkan derajat tinggi. Kamudian mendapatkan empat hal pula dalam agama: Masuk ke dalam Allah; bermajlis bersama-Nya; mendapat Salam dari Allah dan meraih keridhaan Allah yang besar.
Apabila engkau ingin benar dalam ucapan, maka resapkanlah dalam dirimu dengan membaca: “Sesunggunya Kami telah menurunkan Al-Qur’an di malam qadar (lailatul qadr)”.
Apabila engkau ingin ikhlas beramal, resapkan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Allah itu Esa”
Apabila engkau ingin luas dalam riziki, resapkankan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Aku berlindung pada Tuhannya manusia.”
Aku pernah melihat Rasulullah Saw. bersabda: “Ada empat perkara yang tak bisa dipahami sama sekali, sedikit ataupun banyak: Cinta dunia; alpa akhirat; takut miskin dan takut manusia.”
“Seburuk-buruk manusia adalah orang yang bakhil dengan dunianya terhadap orang yang berhak, maka bagaimana dengan orang yang bakhil dengan dunia terhadap yang memiliki dunia (Allah).”
Aku melihat seakan-akan diriku berada di tempat yang tinggi. Lalu aku bermunajat: Ilahi, manakah kondisi ruhani yang paling engkau cintai dan ucapan manakah yang paling benar menurut-Mu? Amal manakah yang paling bisa menunjukkan kecintaan pada-Mu? Tolonglah aku dan tunjukkanlah diriku. Maka dikatakan padaku: “Kondisi ruhani paling Kucintai adalah ridha disertai musyahadah; sedangkan ucapan paling benar menurut-Ku adalah ucapan, Laa ilaaha illaLlah secara jernih. Sementara amal yang paling bisa menunjukkan kecintaan-Ku adalah membenci dunia dan putus asa terhadap ahli dunia, disertai keselarasan dengan-Ku.”
Lepaskanlah dirimu dari berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala tindakan, serta janganlah hatimu bergantung dengan sesuatu, maka engkau termasuk orang-orang yang sangat mendalam (dan benar) dalam ilmu, dimana rahasia batin dan ilmu tidak pernah hilang.
Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk. Janganlah engkau menunda-nunda, yang bisa membuatmu tenggelam dalam kegelapannya dan anggota badanmu terlepas di sana, lalu engkau harus memeluknya, baik melalui hasrat, fikiran, kehendak dan gerakan. Kala itu, lubuk hati menjadi terombang-ambing, dan seorang hamba “bagaikan telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung, dia mempunyai sahabat-sahabat yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami,” katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk.” Sedangkan petunjuk itu tidak akan pernah ada kecuali pada orang yang bertaqwa; tiada orang yang bertaqwa kecuali orang itu kontra terhadap dunia. Tiada orang yang kontra terhadap dunia kecuali orang yang menghina dirinya. Tidak ada orang yang menghina dirinya kecuali orang yang tahu akan dirinya. Tidak pula tahu orang yang tahu akan dirinya kecuali orang yang tahu Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang yang mencintai-Nya, dan tidak ada orang yang mencintai-Nya kecuali orang yang telah dipilih dan dikasihi Allah, dan antara dirinya terhalang dari hawwa dan nafsunya. Ucapkanah: “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Menghendaki, wahai Yang maha Perkasa, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha Terpuji, wahai Tuhan, wahai Sang Raja, wahai Yang Ada, wahai Yang Memberi Petunjuk wahai Yang Maha Memberi nikmat. Limpahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Memberi Anugerah, dan Engkau memberi nikmat pada hamba-Mu dengan nikmat agama dan nikmat hidayah, ”menuju jalan yang lurus, jalan Allah yang Dia pemilik apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah hanya kepada Allah lah segala urusan kembali,” melalui kemuliaan Nama Agung ini. Amin.”
Apabila engkau berhadapan dengan suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”
Manakala tambahan bekal tiba, berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”(Q.s. at-Taubah: 59)
Wahai orang yang berhasrat pada jalan selamat-Nya yang beruntung menuju hadirat Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu. Bergegaslah menuju kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan kesibukan manusia pada umumnya untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri, merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw. ”Kebaikan adalah yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada, walaupun manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.” Maka fahamilah.Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan. Jika engkau seorang pedagang yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada Kehendak-Nya, disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?” Hadis ini cukup bagimu, ”Dunia itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” Dunia yang tak ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah dunia yang bagi pemiliknya tidak mengandung hasrat kehendak sebelum adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari sisinya. Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena dunia itu).
Aku pernah bermimpi melihat Abu Bakr ash-Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika dunia tak ada.”
Sumber: Sufinews.com
Labels:
Sufi News
Memahami Agama, Kunci Dari Tarekat
Sufinews
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
DARI sini kaum sufi mengatakan: “Pahamilah agama anda lebih dahulu baru anda kemari dan masuk ke dalam tarekat.” Ini dengan harapan tidak banyak memperhatikan lagi kepada selain tarekat. Barangkali ia baru mulai masuk dalam majelis dzikir misalnya, kemudian masih butuh menelaah pelajaran-pelajaran syariatnya, menghadiri diskusi bersama para pencari ilmu (mahasiswa) dan banyak berdebat. Ini akan menjauhkan dari makna yang dimaksud dalam tarekat untuk selalu muraqabah kepada Allah Swt. saja, dimana sebagian besar ilmu-ilmu yang rumit dan pelik akan ikut mempengaruhi bagian nafsu. Sementara seluruh landasan tarekat dibangun atas dasar melawan dan tidak menuruti kesenangan nafsu. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Dan seyogianya seorang murid memiliki saksi yang bisa membuktikan pengakuannya dalam setiap kondisi dan tingkatan spiritual, apakah pengakuannya sekadar berpura-pura atau memang pengakuan yang sesungguhnya. Kalau ia mengaku cinta kepada Allah maka warna temperamennya akan lebih cenderung pucat, bila mengaku zuhud dalam masalah dunia maka ia akan menjauhi orang-orang yang jahat, dan bila mengaku dalam kondisi kelaparan maka tubuhnya kelihatan kurus.
Asy-Syarifal-Ahmadi bercerita: Kami pernah di majelis orang-orang fakir sufi yang ada di Bahasna untuk mengunjungi orang-orang saleh. Ternyata secara tiba-tiba ada seorang pemuda yang kelihatan kurus datang kepada kami. Warna kulitnya kelihatan pucat dan menunjukkan tanda-tanda orang baik. Ketika salah seorang dari kami yang bisa bersyair melihatnya maka ia melagukan bait syair:
Dan kerinduan menjadikannya kurus dan selalu mendapat bagian ketika terbenamnya bintang untuk selalu merintih
Kemudian pemuda itu menjerit dan dengan tangannya ia memukuli tiang, sampai pecah. Dan akhirnya kerinduan semua orang yang ada di tempat itu bergerak.
Maka bisa diketahui, bahwa setiap orang fakir sufi yang tidak pernah menderita kelaparan dan beratnya mujahadat ia akan terus diliputi kebekuan hati dan diliputi oleh hijab yang sangat tebal. Andaikan mendengar al-Qur’an ia hampir tidak bisa mendapatkan nasihat apa pun dan larangan-larangan-Nya karena sangat tebalnya hijab. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
MENGAMBIL ALTERNATIF YANG LEBIH BERHATI-HATI
DAN diantara perilaku murid, hendaknya ia mengambil cara yang lebih berhati-hati dalam masalah agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ahli fikih menuju pada pendapat yang paling disepakati mereka semampu mungkin. Ini dimaksudkan agar ibadahnya bisa dianggap sah oleh semua madzhab, atau paling tidak sebagian besar madzhab fikih. Sebab kalau syariat memberikan keringanan (rukhshah) itu hanya diperuntukkan orang-orang lemah dan mereka yang dalam kondisi darurat atau memiliki kesibukan. Sedangkan kaum sufi tidak memiliki kesibukan apa pun kecuali selalu mengambil tindakan nafsunya untuk selalu melakukan ketentuan syariat yang bersifat hukum asal (azimah). Oleh karenanya kaum sufi mengatakan: “Apabila seorang fakir sufi telah turun dari tingkatan hakikat menuju pada keringanan-keringanan yang diberikan syariat, berarti ia telah merusak dan membatalkan perjanjiannya dengan Allah.”
Dan diantara perilaku yang harus dilakukan murid hendaknya menyembunyikan seluruh kondisi spiritualnya yang terjadi antara dia dengan Allah Swt. semampu mungkin, sampai tertanam kuat pada tingkatan menjaga dan memperhatikan al-Haq saja, tanpa memperhatikan siapa pun dan makhluk-Nya. Maka hampir tidak seorang pun yang mampu mengambil kedudukan spiritualnya dan tidak seorang pun yang tahu kondisi spiritualnya, karena sangat rapat dalam menjaga dan menyembunyikannya.
Ada salah seorang fakir sufi datang kepada Syekh Muhammad asy-Syarbini dan melantunkan bait syair di depannya:
Berapa banyak pemuda yang menyangka aku jauh
Sedangkan dia diam berada di bawah tenda
Maka Syekh asy-Syarbini berteriak dan bangkit kemudian memegang si pemuda yang melantunkan syair tersebut sembari bertanya, “Dari mana anda tahu akan hal itu?”
Para ahli tarekat telah sepakat bahwa, seorang murid apabila yang memberikan dorongan untuk beramal itu selain al-Haq, maka tidak akan ada sesuatu yang muncul darinya. Mereka juga sepakat bahwa, setiap murid yang suka pamer agar semua orang bisa melihat kesempurnaannya maka ia telah terputus. Apalagi kalau semua orang ingin mencari berkah darinya maka habislah sudah secara keseluruhan.
Seorang murid juga harus melatih dan memantapkan dirinya untuk selalu sanggup memikul beban penderitaan dalam menempuh tarekatnya, dan tidak segera berpaling dan tarekat untuk mencari alternatif lain bila ditimpa penyakit, kekurangan, dan bencana yang menyusulnya. Untuk selamanya ia juga tidak boleh mengambil keringanan bila sedang ditimpa kesulitan, kemiskinan dan kondisi yang membahayakan. Sering kali terjadi pada murid dijauhi oleh semua orang bila ia sudah masuk ke dalam tarekat kaum sufi. Mereka akan menguasai harga dirinya dengan mencemooh dan meremehkannya. Pada saat seperti itu setan akan datang menemuinya sembari mengatakan, ‘Anda tidak perlu untuk mencari tarekat kaum sufi seperti itu. Berapa tahun anda enak dan tidak ada masalah di tengah-tengah masyarakat? Semua orang mengatakan anda baik dan tidak pernah mengumpat karena kesalahan anda!” Akhirnya kalau menuruti omongan setan, si murid akan segera membatalkan perjanjiannya dan mengundurkan diri dari tarekat, akhirnya semakin bercerai-berai, yang tidak layak lagi masuk di tarekat dan juga yang lain. Maka hendaknya seorang murid berteguh pendirian untuk tetap berjalan di tarekat dan tidak guncang dengan membawa kebenaran hanya karena ujian yang ada di dalamnya, karena sesungguhnya hal itu dari setan. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
TIDAK PERNAH MENINGGALKAN SANG GURU
DIANTARA perilaku yang harus dilakukan murid, bila ia memiliki seorang guru maka ia harus tetap bersama sang guru dan tidak pernah meninggalkannya. Kalau ia sedang bermujahadat hendaknya berkhalwat dengan menghadap ke pintu rumah sang guru, agar penglihatan sang guru selalu menatap kepadanya ketika dia hendak keluar. Hal itu merupakan tanda keberhasilan dan kebahagiaan Si murid. Barangkali sekali tatapan mata sang guru mampu menjadikannya “emas” yang tampak di mata sehingga tidak butuh lagi bermujahadat, sebagaimana yang terjadi pada Tuan Guru Yusufal-’Ajami.
Suatu hari ia keluar dan khalwat, dan tidak menemukan seorang pun dari kaum fakir sufi yang bisa dilihatnya. Pertama kali yang ditatap oleh penglihatan matanya adalah seekor anjing. Akhirnya seluruh anjing yang ada di Mesir mengikutinya, dan berjalan di belakangnya ke mana pun ia berjalan, dan berhenti bersamanya di mana pun ia berhenti. Akhirnya semua orang mengkhawatirkan sapi dan binatang ternak yang lainnya akan seperti anjing-anjing tersebut. Maka Tuan Guru berjalan di belakang anjing-anjing tersebut sembari mengusirnya. Akhirnya anjing-anjing itu meninggalkannya. Tuan Guru berkata, “Andaikan tatapan pandangan mata yang pertama kali itu tertuju pada manusia, tentu ia akan menjadi seorang imam yang diikuti.”
Kaum sufi mengatakan: “Sepantasnya seorang murid tidak mengadakan perjalanan jauh atau bepergian sebelum diterima oleh tarekat. Sebab bepergian bagi seorang murid merupakan racun yang mematikan.”
Imam al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Apabila Allah menghendaki seorang murid itu baik, maka Allah akan menetapkannya di tempat keinginannya dan melanggengkannya untuk selalu berada dijalan mujahadatnya. Akan tetapi bila Allah menghendakinya jelek, maka Allah akan mengembalikannya pada kondisi sebelum ia bertobat dan disibukkan dengan urusan dunia sehingga jauh dari-Nya.” Al-Qusyairi juga mengatakan: “Kebaikan dan segala kebaikan adalah selalu berhenti di depan pintu gerbang sang guru. Apabila Allah menghendaki seorang hamba itu jelek maka Dia akan mencerai-beraikannya ke tempat pengasingan sebelum ia kokoh dalam masalah-masalah Tuhannya.”
Sementara akhir dari masalah dalam pengembaraannya hanya akan menjadi hijab yang kosong dari adab yang diinginkan atau bertambahnya tempat-tempat baru yang ia kunjungi atau bertemu dengan guru-guru yang tidak harus mengikatkan diri dengan salah seorang dari mereka untuk mendidik. Orang seperti ini tidak terbebani untuk selalu berjalan pada jalur tarekat yang telah ditentukan. Sebab Allah tidak menghendakinya naik ke tingkatan para tokoh sufi. Andaikan Allah menghendaki untuk naik tentu Dia akan mengikatkannya dengan seorang guru yang bakal dia layani dan berjanji untuk selalu mendengar dan taat terhadap apa yang disuka dan dibenci. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.
Sumber: Sufinews.com
Labels:
Sufi News
Risalah Al Qusyairi 8 : Takut (Khauf)
Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, “Barangsiapa yang menangis kerana takut kepada Allah SWT, niscaya tidak akan dimasukkan ke dalam neraka selama air susu masih mengalir dari seorang ibu. [Disamping itu], debu dari jalan Allah tidak akan pernah bercampur dengan asap api neraka pada batang hidung seorang hamba.”
Anas meriwayatkan bahawa Rasulullah saw berkata, “Seandainya kamu semua tahu apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menjelaskan, “Takut memiliki berbagai tahap, yaitu khauf khasy-yah dan haybah. Khasy-yah adalah salah satu keadaan pengetahuan lahir, manakala haybah adalah salah satu keadaan pengetahuan batin.
Abul Qasim Al-Hakim mencatat, “Ada dua jenis takut, iaitu gentar (rahbah) dan takut (khasy-yah). Orang yang merasa gentar mencari perlindungan dengan cara lari ketika dia takut, tetapi orang yang merasa takut (khasy-yah) akan berlindung kepada Allah.” Jika seseorang melarikan diri (rahaba), maka dia ditarik kepada hasratnya sendiri, seperti halnya pada rahib (ruhban) yang mengikuti hasrat mereka sendiri. Tetapi jika kendali mereka adalah pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran hukum, maka itu adalah takut (khasy-yah).
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berpendapat, “Takut adalah bahwa anda berhenti mengemukakan dalih dengan kata-kata ‘asaa (mudah-mudahan) dan saufa (‘akan’ atau ‘mungkin sekali akan’).
Ibn Al-Jalla menyatakan: “Manusia yang takut (kepada Tuhan) bukanlah dia yang menangis dan menghapus air matanya, tetapi dia yang merasa aman dari hal-hal yang menakutkan.” ( atau meninggalkan apa yang ditakutinya akan mendatangkan hukuman.) //hanya orang yang takut sahaja dapat melihat orang yang takut – sepertimana hanya ibu yang kehilangan anaknya saja yang mahu memandang kepada ibu-ibu yang berkabung//
Yahya bin Muadz mengatakan, “Alangkah malangnya anak Adam. Seandainya dia takut kepada neraka sebesar rasa takutnya kepada kemiskinan, nescaya dia akan masuk syurga.”
Abul Qasim Al-Hakim menyatakan: “Orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, tapi orang yang takut kepada Allah SWT akan lari kepada-Nya.”
Dzun Nun ditanya, “Bilakah jalan takut menjadi mudah bagi seorang hamba?” Dia menjawab, “Apabila dia mengibaratkan dirinya dalam keadaan sakit dan menghindari dari segala sesuatu yang dikhuatirkan akan membuat penyakitnya berpanjangan.”
Dzun Nun mengatakan, “Manusia akan tetap berada di jalan selama takut tidak tercabut dari hati mereka, sebab jika takut telah hilang dari hati mereka, maka mereka akan tersesat.”
Ali Ar-Razi Ibrahim bin Syaiban berpendapat, “Manakala takut menetap di hati, maka keinginan nafsu akan terbakar habis darinya dan hasrat akan dunia akan terusir.”
Abu Sulaiman Ad-Darani menyatakan, “Adalah perlu bahawa tidak sesuatu pun yang memperoleh menguasai hati selain takut, sebab jika harapan memperoleh penguasaan atas hati, maka hati akan rusak.”
Al-Husain bin Manshur menyatakan, “Barangsiapa yang takut akan sesuatu selain Allah SWT atau berharap akan sesuatu selain Dia, maka, semua pintu akan tertutup baginya dan rasa takut akan mendominasinya, manabiri hatinya dengan 70 tabir, yang paling tipis di antaranya adalah keraguan.”
Saya mendengar Manshur bin Khalaf membacakan kisah: “Ada dua orang yang saling menemani dalam mengerjakan ibadat. Kemudian salah seorang di antaranya pergi meninggalkan sahabatnya. Setelah berlalu waktu yang lama, tidak terdengar khabar berita mengenainya. Sahabat yang ditinggal pergi itu ikut berperang bersama tentara Muslim memerangi bala tentera Bizantium. Dalam pertempuran itu, seorang tentera musuh yang memakai baju besi menyerang tentera Muslim dan memegang senjatanya. Seorang satria Muslim maju ke depan dan tentera Bizantium itu membunuhnya. Kemudian maju lagi seorang tentera Muslim, dan dia juga terbunuh. Satria Muslim ketiga yang maju ke depan juga terbunuh. Kemudian majulah sang sufi ke depan dan keduanya bertempur. Topeng yang menutupi wajah tentera Bizantium terlepas, dan ternyata dia adalah sahabat sang sufi yang dulu telah menemaninya beribadah selama bertahun-tahun. Maka berserulah dia. “Apakah ini?” Musuhnya menjawab, “Aku telah murtad dan kahwin dengan seorang wanita dari kaum ini. Aku sudah punya anak-anak dan harta kekayaan.” Sang sufi berteriak, “Dan engkau adalah orang yang dahulu biasa membaca Al-Quran dengan berbagai gaya bacaannya!” Dia menjawab, “Satu huruf pun aku tidak ingat lagi daripadanya.’ Maka sang sufi lalu berkata kepadanya, “Berhentilah kamu dari kelakuanmu itu, dan bertaubatlah.” Dia menjawab dengan keras, “Aku tidak mahu, sebab aku telah beroleh kemasyuran dan kekayaan. Tinggalkan sahaja diriku, atau aku akan melakukan kepadamu apa yang telah kulakukan terhadap ketiga orang temanmu.” Sang sufi berkata, “Ketahuilah bahawa engkau telah membunuh 3 orang Muslim. Tidak ada malu yang akan menimpamu jika kau pergi saja dari sini. Kerana itu, pergilah dan aku akan memberimu tempoh waktu.’ Maka orang itu pun mundur ke belakang dan berbalik. Sang sufi mengikutinya dan membunuhnya dengan pedangnya. Setelah menempuh perjuangan dan disiplin spiritual yang begitu lama dan berat, orang itu mati sebagai orang Kristian.
Dikatakan, “Ketika terjadi apa yang terjadi pada Iblis, Jibril dan Mikail tiba-tiba menangis dengan lamanya, hingga Allah SWT berfirman kepada mereka, “Wahai kamu berdua, kenapa kamu menangis demikian?” Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, kami tidak merasa aman dari pengawasan-Mu.” Allah SWT berfirman, “Tetaplah begitu, dan janganlah merasa aman dari pengawasan-Ku.” Abu Hafs menuturkan, “Selama 40 tahun aku benar-benar yakin bahawa Allah SWT memandangku dengan murka dan semua amal perbuatanku membuktikan hal itu.”
Dikatakan, Hatim Al-Ashamm menegaskan, "Janganlah kamu tertipu oleh tempat-tempat yang saleh, sebab tidak ada tempat yang lebih saleh daripada syurga, dan fikirkanlah apa yang telah menimpa Adam di tempat yang begitu saleh! Jangan pula kamu tertipu oleh banyaknya amal ibadah; lihatlah apa yang menimpa Iblis setelah dia begitu banyak beribadah. Juga, janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ilmu, sebab Bal'aam pun mengetahui al-ismul a'zham, tetapi lihatlah apa yang terjadi kepadanya!Jangan kamu tertipu kerana bertemu dengan seorang yang saleh, sebab tidak ada orang yang takdirnya lebih agung dari Al-Musthafa saw, namun berjumpa dengannya sama sekali tidak memberi manfaat kepada (sebahagian dari ) karib kerabat dan musuh-musuhnya." Ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya pada suatu hari, Ibn Al-Mubarak melaporkan, “Aku begitu berani terhadap Allah SWT kelmarin. Aku meminta syurga.”
Dikatakan bahawa Isa as sedang bepergian, dan bersamanya ada seorang saleh dari Bani Israel. Seorang pendosa yang terkenal kerana kejelekan akhlaknya, mengikuti mereka. Duduk agak jauh dari mereka berdua, dia berseru kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku!” Sedang si soleh berdoa, “Ya Allah, bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikutiku ini, mulai besok pagi.” Maka Allah SWT pun mewahyukan kepada Isa as “Aku telah mengabulkan doa dua orang yang berdoa ini; telah Ku-usir orang saleh ini dari syurga dan telah Ku-ampuni si pendosa ini.”
Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku memohon kepada Tuhanku SWT agar membukakan pintu takut. Dia membukanya, dan aku pun lalu mengkhuatirkan kawarasan fikiranku. Kerana itu aku berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku rasa takut setakat yang boleh ku-tanggung.” Maka, kesan yang menggoyahkan kewarasan akalku itupun lenyaplah.
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّہُمۡ خَوۡفً۬ا وَطَمَعً۬ا وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ
Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit sangat tidur, kerana mengerjakan sembahyang tahajud dan amal-amal soleh); mereka sentiasa berdoa kepada Tuhan mereka dengan perasaan takut (akan kemurkaanNya) serta dengan perasaan ingin memperolehi lagi (keredaanNya) dan mereka selalu pula mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepada mereka. (As-Sajdah: 16)
إِنَّمَا ذَٲلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُ ۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
Sesungguhnya (pembawa berita) yang demikian itu ialah syaitan yangbertujuan menakut-nakutkan (kamu terhadap) pengikut-pengikutnya (kaum kafir musyrik). Oleh itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu (jangan abaikan perintahKu), jika betul kamu orang-orang yang beriman. (Ali-Imran: 175)
وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَـٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬ۖ فَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ
Dan Allah berfirman: Janganlah kamu bertuhankan dua tuhan, karana sesungguhnya Tuhan itu hanyalah Tuhan yang satu; maka kepada Akulah saja hendaknya kamu gementar. (An-Nahl: 51)
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ كَذَٲلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya? Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (Fathir: 28)
لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَٮٰةً۬ۗ وَيُحَذِّرُڪُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُ ۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ
Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah dia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu) dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (menyeksa kamu) dan kepada Allah jualah tempat kembali. (Ali-Imran:28)
Labels:
Risalah Al Qusyairi
Abu Nawas : Curang Dibalas Curang
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka. "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar. Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas. Berkata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan. "Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya.
"Barang siapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka.
Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah. Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,
"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?" Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah. Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya, "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda. Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya.
"Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu." Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus Iagi. Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata, "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku." Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa. "Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut. "Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.
"Baiklah..." Abu Nawas tetap tenang. "Baginda... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhimya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini." Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya." Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir. Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya.
Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas. Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua." Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
Sumber: kumpulan-humor-abunawas.blogspot.com
Labels:
Intermezzo Sufi
Thursday, April 4, 2013
Rumi: Mereka yang Merendahkan Pandangannya
Pengalaman ruhaniyah itu bagaikanpara bidadari yang merendahkan pandangannya,
mereka tak menampakkan diri kecuali
kepada pemiliknya. [1]
Anggur yang membawa kepada pengalaman itu, [2]
bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya,
sementara wahana-wahana yang menghijabnya
dari penglihatan bagaikan tenda-tenda [1]
Sungai-besar itu bagaikan tenda, [3]
di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air,
dan kematian bagi burung gagak.
Racun itu bagai gula-gula bagi ular
tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain.
Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu
bagaikan surga bagi seseorang
atau neraka bagi orang lain.
Karena itu, sungguhpun kau tatap
berbagai bentuk dan benda,
dan terdapat hidangan atau racun
di dalam semua ciptaan itu--
kau tidak melihatnya.
Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan,
di dalamnya terdapat makanan bergizi
dan hal yang membawa terbakarnya hati.
Wadahnya jelas nampak,
hidangan di dalamnya tersembunyi;
hanya mereka yang pernah mencicipi
tahu bagaimana cita-rasanya.
Catatan:
[1] "Huurum-maqshura'tuun fiil-khiyam," diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan "bidadari jelita, bersih, di dalam tenda." (QS Ar-Rahmaan [55]: 72)
Mereka yang hanya Allah perlihatkan kepada hamba terkasih-Nya; yang untuk sang hamba itu mereka diciptakan.
Para bidadari itu tersembunyi, Allah bentangkan hijab yang melindungi mereka dari penglihatan makhluk lain.
[2] Yang dimaksud disini tentunya bukan anggur fisikal yang dilarang Syariah, melainkan sejenis pengetahuan, kesadaran, pengenalan, yang diberikan seorang Guru Sejati; sedemikian rupa, sehingga seorang penempuh jalan taubat terbantu memasuki situasi lebur-musnah dari dirinya sendiri.
Saat seperti itu, raganya menjadi hijab yang menutupi, sehingga kondisi leburnya itu tidak diketahui makhluk lain.
[3] Diri sang penempuh jalan taubat itu bagaikan sebutir air, yang ketika disucikan mulai bergerak mencari jalan kembali. Seiring pensucian dan pelapangan hatinya, dia akan mendapati, di kanan kirinya butir-butir air lain, yang bersatu, membesar, membentuk aliran air, semakin deras mencari jalan kembali. "Sungai" adalah jalan besar untuk kembali ke "Laut".
Butiran air di dalam Sungai berada dalam habitat yang tepat; unggas-air atau diri sang pencari di dalam kehidupan pertaubatan dengan segala ketetapan dan ukuran-Nya.
Gagak, sering Rumi gunakan sebagai simbol pencinta-dunia, yang ketajaman hawa-nafsunya mencungkil dan membutakan "mata Akal Sejatinya," sehingga tiada sesuatu pun yang nampak baginya, kecuali kepentingan duniawinya.
Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 3292 - 99
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Ngrumi.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
