Monday, November 7, 2011

Al Hikam : Kosongkanlah Hati dari Pengaruh Makhluk

Apabila kita bermaksud supaya hati kita dapat masuk ke dalamnya cahaya-cahaya Ilahi, cahaya-cahaya Al-Ihsan dan teranglah hati dengannya untuk dapat menangkap ilmu-ilmu ketuhanan dan sebagian rahasia alam makhluk ini, maka tidak ada jalan lain selain apa yang telah diungkapkan oleh Maulana Ibnu Athaillah Askandary dalam Kalam Hikmahnya sebagai berikut:

"Kosongkanlah hati anda dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Dia akan memenuhi hati anda itu dengan ilmu-ilmu makrifat (ilmu mengenal Allah dan rahasia-rahasia alam) ketuhanan."

Kalam Hikmah ini kejel;asannya sebagai berikut:

I. Kita diperbolehkan Allah bahkan dianjurkan olehNya menguasai dan memiliki alam ini sebanyak-banyaknya menurut pandangan lahiriah, walaupun pada hakikatnya semua itu adalah milik Allah s.w.t. dan Dia adalah penguasa, pemilik tunggal dan Maha Esa atas semuanya itu. Hal kedaan itu adalah menurut pandangan "syari'at". Sedangkan menurut pandangan "hakikat", di samping yang tadi, juga hati kita tidak boleh dipenuhi oleh alam makhluk ini, tidak boleh dipengaruhi hati kita oleh harta kekayaan kita, oleh pangkat kita, oleh isteri dan anak-anak kita dan lain-lain sebagainya. Tetapi yang boleh bahkan yang harus mempengaruhi hati kita ialah Allah s.w.t. atau dengan kata lain ialah agama kita yakni agama Islam. Selain daripada Allah, apakah itu alam atas, atau alam bawah, alam dunia, alam akhirat, alam hissy (yang dapat dijangkau pancaindera) ataupun alam maknawi (yang bukan hissy), tidak boleh mempengaruhi hati kita.
Apabila hati kita telah kosong dari pengaruh-pengaruh alam mayapada ini sehingga tidak ada dalam hati kita selain hanya "cinta pada Allah s.w.t.", barulah Allah mengisi hati kita bahkan memenuhi hati kita dengan ilmu makrifatNya sehingga hilanglah dari kita segala macam keraguan, naik kepada tingkat yakin terhadapNya dan apa-apa yang diciptakan dan yang telah ditentukan olehNya. Pada waktu itu berkumpulah dalam hati kita "Anwar Al-Malakut" dan "Asrar Al-Jabarut".
Anwar Al-Malakut artinya cahaya-cahaya alam malakut. Yakni alam bathin atau alam ghaib yang berhubungan dengan arwah dan jiwa manusia. Sedangkan yang dimaksudkan dengan "Asrar Al-Jabarut", ialah alam pertengahan yakni alam barzakh (alam kubur) dan alam-alam mahsyar. Jabarut artinya kekusaan danpaksaan. Sedangkan dalam alam barzakh dan mahsyar, segala sesuatu di dalamnya adalah menurut apa yang telah ditetapkan Allah dan tidak boleh dibantah oleh sesiapa pun, meskipun Rasul-rasulNya, semuanya lemah menghadapi apa yang terjadi.

II. Kalau sudah berkumpul dalam hati kita Anwar Al-Malakut dan Asrar Al-Jabarut, maka terbukalah segala-galanya ini, sebab segala sesuatu sudah beserta Allah, dengan Allah, dari Allah, kepada Allah, atas Allah, dalam Allah dan tida ada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah (Laa haula walaa quwwata illa billaahil-'aliyyil 'azhim). Sebab kita dalah hambaNya dan yang dicintai olehNya, lahiriah kita dan bathiniah kita. Inilah makna wahyu Allah s.w.t. kepada Nabi Isa a.s.:

"Bahwasanya Aku apabila Aku lihat pada hati hambaKu, lantas Aku tidak mendapatkan dalam hatinya cinta pada dunia dan cinta pada akhirat, niscaya Aku penuhkan hatinya itu dari "cintaKu" (padanya)."

Kesimpulan:

(a) Ilmu makhrifat terhadap Allah s.w.t. sangat sulit kita dapatkan apabila hati kita masih dipengaruhi oleh kecintaan-kecintaan kepada selain Allah. Hal keadaan ini seperti kata penyair Tasawuf:

Jika alam telah hancur dari mata hatiku, Barulah rahasia dapat melihat ghaibnya dalam cahaya terang, Maka lemparkanlah alam itu dari pandanganmu, Dan hapuslah titik ghaibnya, jika anda ingin melihatKu.

(b) Karena itu, berjuang memerangi hawa nafsu adalah penting sekali. Kemudian barulah kita tingkatkan pendekatan kita kepada Allah s.w.t. dengan lahir dan bathin kita, sehingga sampai kita pada taraf bahwa dunia ini dan apa saja selain Allah sudah tidak mempengaruhi bathin kita lagi, meskipun kita mengahadapi dunia ini dengan serba macam permasalahannya, seperti Rasulullah, Muhammad s.a.w. di mana beliau telah diikuti pula oleh sahabat-sahabat dan hamab-hamba Allah yang shaleh.
_______________________________________________________________________________
Hakikat Hikmah dan Tauhid oleh Prof. Dr. K.H.Muhibbudin Waly

Sunday, November 6, 2011

Sufi Road: 3 Hari bersama Penghuni Surga

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa'i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah SAW.

Anas bercerita, "Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda, "Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga." Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri."

Esok harinya, Rasulullah SAW. berkata begitu juga, "Akan datang seorang lelaki penghuni surga." Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.

Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya dia berkata kepadanya, "Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidulah Abdullah di rumah orang itu selaga tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.

Kata Abdullah, "Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata, Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, "Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga." Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu."

Lalu orang itu berkata, "Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan". Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, "Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka." Lalu Abdullah bin Amr berkata, "Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.

Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah SWT, akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita duga pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. "Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan, " kata Abdullah bin Amr (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521).

Pada halaman yang sama, Al-Kandahlawi menceritakan suatu hadis tentang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ketika Abu Dujanah sakit keras, sahabat yang lain berkunjung kepadanya.

Tetapi menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah tetap memancarkan cahayanya, bahkan pada akhir hayatnya. Kemudian sahabatnya bertanya kepadanya, "Apa yang menyebabkan wajah Anda bersinar?" Abu Dujanah menjawab, "Ada amal yang tidak pernah kutinggalkan dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu mengahadapi sesama kaum Muslim dengan hati yang bersih, yang oleh Al-Quran disebut qalbun salim".

Al-Quran menyebut kata qalbun salim ini ketika Allah SWT. berfirman tentang suatu hari di hari kiamat, ketika tidak ada orang yang selamat dengan harta dan kekayaannya kecuali yang membawa hati yang bersih.

Pada hari itu tidak ada manfaatnya di hadapan Allah SWT, harta dan anak-anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih (QS 26:89).

Di dalam Islam, Rasulullah yang mulia sejak awal dakwahnya mengajarkan kepada kaum Muslim untuk memperlakukan kaum Muslim yang lain sebagai saudara-saudaranya. Al-Quran mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah menjalin persaudaraan dengan sesama kaum beriman lain. Al-Quran menggunakan kalimat yang disebut adat al-hasr, yaitu "innama" -artinya yang tidak sanggup memelihara persaudaraan itu tidak termasuk orang yang beriman.

Imam Al-Ghazali ketika menyebutkan ayat ini juga menegaskan bahwa orang yang beriman sajalah yang dapat memelihara persaudaraan dengan sesama kaum Muslim. Hanya yang beriman yang bisa menumbuhkan kasih sayang kepada kaum Muslim. Rasulullah SAW. menegaskan ayat ini dengan sabdanya : "Tidak beriman di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri."

Rasulullah yang mulia menyebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah mempunyai kecintaan yang tulus terhadap kaum Muslim. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW. bersabda : "Agama adalah kecintaan yang tulus."

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya, Ad-Durr Al-Mantsur. Ketika sampai pada ayat yang mengatakan bahwa Allah menolak segolongan manusia dengan segolongan manusia yang lain, pada surah Al-Baqarah, As-Suyuthi meriwayatkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah (yang oleh Rasulullah disebut ABDAL). Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka Allah akan menggantikannya dengan orang lain. Begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah masyarakat."

Rasulullah mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka Allah menyelamatkan suatu masyarakat dari bencana. Karena merekalah Allah menurunkan hujan, karena merekalah Allah menumbuhkan tetanaman, dan karena merekalah Allah mengidupkan dan mematikan. Sehingga para sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Apa maksudnya karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?" Rasulullah menjawab : "Kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan usia seseorang, maka Allah panjangkan usianya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim itu binasa, maka Allah binasakan mereka". Kemudian Rasulullah bersabda : "Orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyaknya ibadah hajinya, tetapi karena dua hal : yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama kaum Muslim."

Friday, November 4, 2011

Sufi Book: Ahlul Bid'ah Hasanah

Ahlul Bid\'ah Hasanah -
Jawaban Untuk Mereka yang Mempersoalkan Amalan Para Wali


Bid'ah.. dalam beberapa tahun terakhir syiar dakwah yang mengecam sunah dengan kata bidah semakin marak dilakukan oleh sebagian saudara2 muslim. Banyak terdapat perbedaan tafsir yang membelokkan femahaman bidah dari makna yang sebenarnya.
Imam Syafi’I ra berkata : Bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah mahmuudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmuumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan sunah adalah bid’ah terpuji, sedangkan yang bertentangan dengan sunah adalah bid’ah tercela.
Dalam kesempatan lain beliau ra berkata :
Hal-hal baru (muhdatsaat) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan Alqur-an, Sunah, Aatsar maupun Ijmaa’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan Alqur-an, Sunah, Aatsar maupun Ijmaa’. Hal baru seperti ini tidaklah tercela.

Bagi para pencari kebenaran, buku ini hadir sebagai penghapus dahaga mereka. Di dalamnya telah terhimpun berbagai dalil yang mendasari berbagai amalan salaf yang sering dipertanyakan oleh sebagian kecil umat Islam yang terlalu fanatik pada ajarannya. Karenanya buku ini sangat cocok bagi semua orang yang mencintai amalan salaf, amalan para wali dan bagi mereka yang mencari kebenaran sejati.

Buku ini selain memberikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, juga banyak memberikan informasi, pandangan serta penjelasan ulama-ulama besar dan terkemuka seputar permasalahan bid’ah dan amalan para wali. Setiap paragraf berisi informasi ilmiah dari berbagai sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Anda bahkan akan menemukan begitu banyak contoh-contoh bid’ah hasanah yang dilakukan oleh para sahabat di zaman Rasulullah saw maupun sepeninggal beliau saw. Buku ini menjadi sangat menarik karena seakan ia membawa kita ke zaman Rasulullah saw dan para sahabat beliau saw.

Buku ini disusun oleh seorang ustad, da’i plus penulis muda yang sangat produktif. Yaitu Al Ustad Al Habib Noval bin Muhammad Alaydrus.


DAFTAR ISI BUKU INI:


Pemahaman Bid’ah dengan benar
Pandangan ulama seputar hadits “Semua Bid’ah Adalah Sesat”
Bid’ah- Bid’ah Sahabat
Bid’ah sahabat semasa hidup Rasulullah
Bid’ah berkumpul berdzikir
Bid’ah mengakhiri setiap rakaat dengan surat Al-Ikhlas
Bid’ah Mengawali setiap rakaat dengan surat Al-Ikhlas
Bid’ah mengumpulkan keringat Rasulullah saw
Bid’ah doa I’tidal
Bid’ah doa iftitah
Bid’ah menjampi-jampi (Ruqyah) dengan surat Al Fatihah
Bid’ah doa Tasyahud
Bid’ah shalat sunah sebelum menjalani hukuman mati
Bid’ah sahabat setelah wafatnya Rasulullah
Bid’ah shalat tawarih
Bid’ah adzan kedua shalat Jum’at
Bid’ah Khalid bin Walid
Bid’ah menjadikan rambut Rasulullah sebagai obat
Bid’ah berobat dengan jubah Nabi
Bid’ah memindah maqam Ibrahim
Bid’ah khataman Al-Qur’an
Bid’ah istighfar Abu Hurairah
Bid’ah keluar rumah hanya untuk menebar salam
Hukum pengamalan hadits dho’if
Majelis dzikir berjamaah dan dengan suara keras
Penjelasan tentang surat Al A’raf ayat 205
Penjelasan hadits larangan berdzikir dengan suara keras
Kemuliaan majelis Yasin-an
Keutamaan surat Yasin
Mengangkat tangan ketika berdoa dan mengusapkannya ke wajah selesai berdoa
Mengaminkan doa orang lain
Menghitung dzikir dengan tasbih
Berjabat tangan selepas shalat
Hukum bertabarruk
Tabarruk Nabi Ibrahim Alaihissalam
Keberkahan Tabut
Keberkahan air bekas wudhu Rasulullah saw
Keberkahan selendang Rasulullah saw
Keberkahan bekas sentuhan mulut Rasulullah saw
Rambut hitam karena disentuh Rasulullah
Tidak mencukur rambut yang disentuh Rasulullah
Keberkahan kurma Jabir bin Abdullah
Keberkahan hidangan Jabir
Keberkahan Imam Nawawi
Ziarah Kubur
Nabi saw berziarah ke Baqi’
Nabi menziarahi wanita penyapu masjid
Sayyidina Abdullah bin Umar menziarahi Rasulullah
Bilal bin Harits Al-Muzanni menziarahi Nabi saw
Warga Madinah menziarahi Nabi saw
Badui menziarahi Rasulullah
Sayyidatuna Aisyah menziarahi saudaranya
Wanita menziarahi makam anaknya
Sayyidah Fathimah menziarahi Sayyidina Hamzah
Pendapat ulama salaf tentang ziarah kubur
Berdoa dan membaca Al-Qur’an di makam

Sufi Road: Epistemologi Makrifat

Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).

Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).

Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").

Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).

Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.

Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.

Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.

Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.

Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.

Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."

Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.

Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.

Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151)

Prof Dr Nasaruddin Umar
Republika

Wednesday, November 2, 2011

Sastra dan Sufi Menikmati Seratus Cinta Tuhan


KH. Mustofa Bisri - Kyai dan Seniman

“Bagaimana aku bisa menyanyi?
Aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka
Aku tak bisa mengadukan duka pada duka
Mengeluhkan luka pada luka

Senar gitarku putus
Dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi
Dan langitpun seolah muak dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

Ah maaf sayang, aku tak bisa lagi menyanyi
Bersamamu atau sendiri
Entah jika tiba-tiba Nabi Daud datang
Membawa seruling ajaibnya..”


Bait sajak diatas, adalah sesobek luka dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sajak Aku Tak Bisa Lagi Menyanyi. Sajak yang ditulis sebagai tangisan atas berisik burung-burung, mendendangkan apa saja, setelah merasa bebas merdeka (era Reformasi ’98) itu, sebenarnya merupakan kerinduan, dan cinta dari seorang kyai, penyair, dan kesendirian yang merasa asing sepi ditengah gejolak politik, yang membuatnya tak bisa menyanyi lagi.
Tentu bagi seorang hamba, kesendirian adalah saat teristimewa untuk “menyanyi” dengan-Nya. Ada melodi yang tiba-tiba mengalun, bersamaan dengan kesedihan manusiawi, dan tiba saja sang hamba ingat, trenyuh, dan rindu pada Khalik. Kenapa yang melintas Dia? Itulah anugerah bagi para penyair dan sufi. Erat sangat kaitan, antara cinta pada Yang Tak Terbatas, dengan lekuk goresan sajak, yang membuat para pembaca puisi tersebut, tiba saja terseret dalam kerinduan numinous itu.

Apakah memang selalu, bahasa sufistik membahasa dalam sajak? Apakah memang sastra bisa menjadi jalan bagi para penempuh, untuk lebih memperuncing rasa gundah transenden, rasa galau fitrah, sebagai makhluk yang tertitipi cinta Ilahiyah? Lalu bagaimana ketika sisi lain, Islam adalah agama hukum (religion of law), dimana penafsiran para sufi penyair sering menerobos batas fiqhiyah yang oleh para hakim diikat secara kuat dalam tekstualisme kitab suci? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan budayawan dan Romo Yai, pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang tersebut.

Seperti kita tahu, sebagian sufi adalah penyair, dan sebagian penyair adalah sufi. Menurut Pak Yai, kenapa hal ini bisa terjadi?
Yang pertama karena spiritualitas, tasawuf itu kaitannya dengan ruh, jiwa, kalbu. Seni sastra kaitannya dengan dzau’, yang berkaitan dengan kalbu, ruh, dan jiwa. Ada kesamaan sumber disana, karena kebersihan para sufi, sehingga sebetulnya dia tidak njarak bersastra-sastra, tapi otomatis apa yang diucapkan menjadi sastra.

Jadi orang menjadi sastrawan dalam pengertian membuat karya sastra, tentu tidak lepas dari kepribadian si sastrawan itu sendiri.
Sastrawan yang hanya bergelimang dengan daging akan mengeluarkan sastra daging, tapi kalau orang yang bergelimang dengan kalbu, dia akan menciptakan karya yang kalbu.
Kedua, karya sastra itu hasil perenungan. Nah seorang sufi penggaweannya memang merenung. Dia merenungkan kekuasaan Allah, merenungkan sifat-sifat sampai hakikat Allah. Ketika sufi itu dalam keadaan sangat intens dalam perenungan itu, lalu muncullah desakan dari dalam untuk menciptakan karya sastra.
Sebab saya lihat seniman, baik sastra maupun lukis itu ada yang modelnya tidak dipikirkan tapi dia desakan dari dalam, sehingga pelukis seperti Affandi, kalau melukis tidak jam-jaman, menitan saja.
Jadi kayak orang zadab, jret-jret! Kadang pakai tangan, kadang di potlot catnya.
Ada Zawawi Imron, dia hanya menuliskan gejolak hatinya saja. Dan kalau para sufi hampir semuanya begitu, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, itu gejolak hatinya saja yang dikeluarkan. Kerinduannya kepada Allah. Maka kalau kita lihat, Rabi’ah, Hassan Basri, Rumi, itu jalannya keindahan, dan yang direnungkan keindahan paling puncak yaitu Allah. Keindahan yang paling indah, pusat keindahan.

Itu kalau proses sastra sebagai akibat proses batin. Kalau sebaliknya bagaimana Pak Yai. Kalau seorang seniman, ia memang seorang penulis. Apakah memang proses penulisan itu menjadi wahana meditasi, jalan spiritual yang dengan sengaja dia jadikan jalan menuju kesufian?
Ada dua perbedaan ya. Ada orang yang didorong oleh kesufian lalu menciptakan karya sastra, seperti Rabi’ah, Rumi, dsb.
Ada yang penyair-penyair kepingin bersufi-sufi. Karena tertarik dengan dunia sufi, lalu dia sufi. Ada yang dia tidak sufi, tapi ternyata apa yang dia ungkapkan itu sufistik. Seperti kita baca sajak-sajaknya Sutardji Calzoum Bachri, waktu gendeng-gendengnya, sajaknya sangat sufistik.

Padahal saat itu dia minum arak, ya?
Lha iya. Saya tidak tahu apakah dia terpengaruh dengan bongso Abu Nuwas, penyair anggur yang kemabukan dengan Allah itu, metaforanya kemabukan biasa, ya khamr itu (menurut versi Sutardji, red). Jadi gambaran yang paling jelas, mabuk Allah ya dengan mabuk khamr, dimana orang mabuk itu lupa segala macam. Demikian pula mabuk Allah itu lupa segala macam. Dia hilang ingat, karena mabuk Allah. Abu Nuwas disebut penyair anggur karena metaforanya anggur saja, dia dikenal itu. Dimana kemudian belakangan dia menjadi sufi, karena dia mere-nungkan, memikirkan, kontemplasi tentang kemabukan itu dengan mabuk Allah. Lha sama halnya, kalau sastrawan sering bikin sajak sufi, lama-lama dia akan terpengaruh juga. Tapi kan tasawuf itu bukan ilmu, bukan ungkapan, pikiran, tapi laku.

Sehingga ada perbedaan antara orang yang bicara sufi, bicara spiritualitas, dengan orang-orang sufi. Para sufi boleh dikata, karya sastranya, kalau boleh dianggap karya sastra, itu dampak. Ada yang mungkin karena keahliannya dalam teknik perpuisian, dia bisa meniru Rumi, tapi akan tampak dari perilakunya. Kalau perilakunya tidak sufistik, berarti rekaan dalam karyanya, bukan penghayatan. Itu bisa kita rasakan. Misalnya kita baca karya Rabi’ah, ini bukan rekaan, lihat kamus, nggolek kata-kata yang indah, cari sajak yang pas, ya ndak. Tapi memang muncul tulus dari sanubari.

Kalau kaitan antara kesenian dengan tasawuf. Misalnya Sutardji, ia kan secara prinsipil tidak ahli tentang tasawuf, tetapi dari karyanya bisa kita lihat betul-betul mabuk Allah. Artinya, bagaimanapun juga jalan kesenian itu, dalam artian jalan spiritual tanpa melalui sebuah kaidah spiritualitas dalam Islam yang disipliner, juga banyak yang menjebak. Ada para sastrawan yang awalnya mencari diri, Tuhan, eksistensi, tapi mereka akhirnya terjebak pada nihilisme sekular.

Tapi orang seperti Sutardji punya dasar keislaman. Cuma dalam proses pencarian hakikat Allah, melalui liku-liku. Sekarang kalau anda lihat Sutardji, sholatnya tahajudnya, tidak pernah lagi minum-minum. Karena kalau dia ditanya, ngapain minum-minum, ya untuk mabuk. Nah dia berkata, “Saya sekarang ingat dosa saya saja sudah memabukkah, tidak perlu lagi minuman keras“, ha..ha..ha. Nah itu perjalanannya.

Tapi dia dituntut oleh pengertian yang lebih awal bahwa dia seorang muslim mempunyai Gusti Allah, dsb. Ini yang tidak cukup diterima seperti orang awam. Dah, cukup, kenal Gusti Allah itu Pengeran, habis itu sembahyang, selesai.
Dia dituntut oleh dirinya sendiri untuk mencari, sebenarnya apa Gusti Allah itu? Nah pencariannya yang intens itulah menciptakan puisi-puisi yang penuh dengan nuansa sufi. Jadi bukan ndak punya modal apa-apa.

Modalnya itu fitrah ya Pak Yai?
Dia memang dari keluarga muslim, orang Islam. Tapi dalam prosesnya kan macam-macam. Ada yang jadi bajingan dulu baru jadi ustadz, masuk penjara dulu baru jadi da’i, ada berandalan jadi wali. Kalaupun tidak muslim paling tidak dia beragama. Seperti Rendra puisinya sangat religius meskipun dia belum masuk Islam.

Kalau bicara soal puisi cinta, mahabbah. Kami baca beberapa puisi Pak Yai tentang mahabbah. Menurut pengalaman Pak Yai, bagaimana sich agar bisa menulis puisi yang cintanya itu betul-betul sudah melampaui daging, cinta terhadap Gusti Allah?
Jadi Tuhan itu kan memiliki seratus cinta. Satu diantara seratus itu dikasihkan makhluknya, dibagi cintanya itu kepada cintanya anak pada orang tua, cinta istri pada suami, cinta ayam sama kuthuknya, kuda dengan anaknya. Nah cinta kita diawali dengan mencintai ibu kita, istri, saudara, hamba-hamba Allah.
Lalu kita bisa bayangkan bagaimana cintanya Allah yang 99 itu? Satu saja dibagi sekian banyaknya sampai meluap-luap kayak gitu. Nah ini yang kadang tidak disadari kita. Kita yang hanya dibagi satu, seolah memiliki seluruhnya. Seperti orang yang nggegeri I’d jum’at, I’d sabtu, itu pikirannya mengidentifikasikan dirinya dengan Gusti Allah.

Seolah kalau dia ndak senang berarti Gusti Allah ya ndak senang, kalau gregeten berarti Gusti Allah gregeten, ha..ha..ha Nah ini yang ndak dimengerti.
Kalau untuk cinta, harus melalui pengenalan. Tidak kenal lalu cinta, itu namanya cinta Platonis atau al-hubbul ‘udzri, seperti cintanya Imam Busirri kepada Kanjeng Nabi itu hubbul ‘udzri, karena dia tak kenal Kanjeng Nabi sebelumnya. Maka kalau ingin cinta sejati harus pengenalan dulu. Baru setelah kenal, cinta kita bisa sejati. Tidak seperti umumnya orang Islam ini, mencintai Gusti Allah seperti dia mencintai isterinya yang tidak dia kenal, jadi dikawinkan orang tuanya begitu saja.

Cinta tapi ndak kenal. Suatu hari isterinya dibelikan rok span warna merah menyala, seharga satu juta. Sama isterinya dibuat ngelapi sepeda. Kenapa? Kan dia ndak kenal, bahwa isterinya itu paling ndak suka rok span merah menyala.

Maka Nabi kita mengenalkan Allah lewat perilakunya, al-Qur’an, mengenalkan supaya kenal. Terus kemudian orang-orang ini tambah lama kan tambah malas, terbiasa instan, akhirnya terus yang daging-daging saja, yang gampang.

Cintanya ya cinta daging, ibadahnya ibadah daging. Seperti sekarang orang yang menyatakan cinta kepada Allah, itu tidak berani mengatakan seperti Rabi’ah al-‘Adawiyah, “Kalau aku menyembah Mu, memuja Mu karena takut neraka, masukkanlah aku neraka.

Kalau aku memuja Mu karena kepengen surga, haramkan surga bagiku”. Apa berani orang sekarang? Itu cinta yang luar biasa. “Tapi kalau aku mencintai Mu karena aku ingin menatap wajah-Mu, jangan halangi wajah-Mu dariku”. Jadi ini memang cinta luar biasa, tidak ingin surga, takut neraka, tapi karena betul-betul cinta ingin memandang Allah. Sekarang sekadar nulis saja orang ndak berani, kuatir nek temenanan, ha..ha..ha Tapi ia memang gandrung betul. Karena Rabi’ah pengenalannya dengan Allah sudah sangat-sangat pribadi.

Jika bait-bait puisi yang Pak Yai favorit, tentang cinta?
Itu, ya punya Rabi’ah yang sangat berkesan. Uhibbuka hubbain fil hawa wa hubbun liannaka ahlun lidzaaka. Saya mencintai Mu dengan dua cinta. Cinta karena Engkau memang seharusnya dicinta. Cinta karena, saya memang bergairah dengan Mu.

Ada puisi Rabi’ah yang menurut saya sangat luar biasa, dampak dari cintanya kepada Allah sehingga dia mencintai manusia seluruhnya sebagai hamba-hamba Allah. Dia mengatakan, “Ya Allah, nanti kalau di akhirat jadikanlah tubuh saya sedemikian besar, sehingga memenuhi ruang neraka. Agar tidak ada lagi seorang hamba Mu yang bisa dimasukkan kedalam neraka”. Itu luar biasa. Jadi dia ingin menutup neraka dengan badannya, supaya hamba-hamba Allah tidak ada yang masuk neraka. Itu lebih tinggi daripada yang dikatakan Imam Busyiri di Burdah. Ia menyatakan, La’alla rohmata robbihiina yaqshimuha ‘ala hasabil isyaani bil qisam. “Saya mengharap nanti, ketika Tuhan menghendaki rahmat, itu disesuaikan dengan dosa orang. Jadi yang dosanya banyak seperti saya, dapat rahmat banyak.” Itu artinya kan sama saja. Yang dosanya dikit dapat rahmat dikit, yang dosanya gede dapat rahmat gede. Akhirnya semua dapat rahmat. Itu karena jiwa cintanya kepada Allah, sampai mencintai sesama. Orang menyatakan cinta kepada Allah tetapi tidak cinta kepada hamba-Nya, sama saja bohong.

Islam dikenal sebagai agama hukum. Ini yang membuat bahkan di thariqah-pun ada pembatasan mu’tabaroh dan ghairu mu’tabaroh. Dari sini terkesan, pendekatan kaum mutashawwifin sering dianggap menyimpang dari alur hukum tersebut, selayak hukuman atas al-Hallaj dan Siti Jenar. Menurut Pak Yai, kalau ada, sampai dimana sich kesepatakan antara kedua pihak?

Al-taarikh yu’iidu nafsahu, sejarah itu mengulangi diri. Munculnya tasawuf itu karena maraknya kehidupan daging yang luar biasa. Yang bisa kita lihat, munculnya Rabi’ah, Hasan Bashori, Sa’id Abu Sayyid dsb, pada abad pertama ketika Dinasti Umayah begitu hebat. Dari sisi materi mereka hedonis, dari ilmu pengetahuan mereka hanya bicara saja soal hukum, pertentangan, bahtsul masail, segala macam luar biasa majunya. Dari sini muncul kegelisahan, kok hanya ngomong saja, pengetahuan saja, seminar saja, ngamalnya mana? Muncul dan ini kebablasan, sampai ada sufi yang ndak pakai syari’at, menjadi Kejawen itu, lalu muncul lagi ilmu pengetahuan, ini melupakan amal, maka muncul lagi. Sampai abad ke-21 ini disebut abad spiritualitas, muncul lagi sekarang. Karena orang muak dengan kehidupan materialis, muak dengan agama yang daging saja. Maka saya nglukis Dzikir Bersama Inul. Inul kan simbol daging yang paling daging, dan dzikir tidak bisa dengan daging thok. Nah yang orang lupa, ilmu seperti fiqh dsb itu muncul setelah Islam. Jadi Islam begitu hebat pengaruhnya sampai memunculkan banyak ilmu termasuk ilmu fiqh, ‘ardl, tafsir. Ini dampak dari Islam.

Orang yang kemudian ber-fiqh-fiqh, lalu kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun, setiap kelompok membanggakan dirinya sendiri. Yang fiqh membanggakan hebatnya fiqh, yang ahli tasawuf membanggakan tasawufnya meniadakan yang lain. Padahal Islam diatas itu semua. Islam tidak hanya fiqh, tidak hanya tasawuf, ia lebih luas dari itu. Lha Islam sendiri itu tidak ghoyah, tujuan. Islam itu menurut saya masih washilah. Lha tujuannya apa? Tujuannya Allah. Semua washilah, apalagi PPP, PKB, sak piturute, itu sangat washilah, NU-Muhammadiyah washilah. Kalau PPP, PKB itu ghoyah, kita ndak kemana-mana, memandang lain partai bukan orang. Kalau NU-Muhammadiyah kita anggap ghoyah, orang NU memandang Muhammadiyah, ora pati Islam. Kalau Islam kita anggak ghoyah, maka selain Islam tidak kita anggap hamba Allah. Padahal Allah memuliakan manusia itu, walaqad karromna bani aadam, semua, tidak pakai embel-embel.
Nah karena di nash di al-Qur’an, kullu hizbin bima ladaihim farihuun. Kelompok fiqh menganggap yang paling hebat ya fiqh. Yang anehnya, fiqh itu kan hukum, ketika berbicara fiqh dalam kaitan hukum agama, itu fanatik sekali, sehingga ketika kita bicara tentang hukum bernegara dan berbangsa, kita ndak begitu mengerti. Jadi ndak ada konsistensi. Kalau kita fanatik sama hukum, ya dijelaskan segala hal mengenai hukum. Karena memang, orang itu fanatik dan bangsa terhadap miliknya.
Kalau anda fiqh, ya fiqh yang paling pokok, ndak mau ya sudah.

Nah kembali kalau kita lihat, tujuan manusia kan mengenal Allah, ma’rifatullah, apapun itu.
Orang memang kadang lupa. Mengapa kita sholat? Itu dikitabnya sudah dibilang seperti itu, faridlotun. Akan berbeda yang sholatnya begitu, dengan orang yang sholat, “Karena saya ini hamba Allah, saya menyembah Allah”. Nanti ndak usah diapa-apakan akan ada begitu terus, sepanjang abad.
Zaman Harun al-Rasyid pengetahuan begitu hebat, tapi juga muncul tokoh-tokoh sufi yang hebat, sebagai perlawanan terhadap arus.

Muncul da’i besar, Syeh Abdul Qadir al-Jilani, dia memiliki dua belas ilmu. Karena perilakunya yang sufistik, maka dia lebih dikenal seorang sufi, ilmunya kalah. Kyai Hamid Pasuruan, karena kadung terkenal sebagai wali, maka keistimewaannya sebagai sastrawan terlupakan. Sebetulnya sejak awal di pondok, dia adiib, sastrawan, memiliki diwan, puisi berbahasa Arab, tapi kalah dengan kewaliannya tadi. Kebalikannya saya. Saya sebetulnya wali, tapi ketutupan, ha..ha.. ha.

Sumber: Sufinews

Allah Hadir di Tengah Aktifitas Kerja

Sang Amir berkata:"Siang dan malam hati dan Jiwaku bermaksud sungguh-sungguh melayani Allah. Tetapi karena tanggung jawab pada pekerjaanku, aku tidak punya waktu untuk beribadah."

Rumi menjawab: "Tanggung jawabmu itu juga merupakan pekerjaan yang dilakukan demi Allah, karena kamu bekerja untuk menciptakan kedamaian dan keamanan bagi negerimu. Kamu korbankan dirimu, hartamu, waktumu, sehingga hati beberapa orang akan terangkat begitu damai untuk mematuhi kehendak Allah.

Jadi, ini juga pekerjaan yang bagus. Allah telah mendorongmu untuk melakukan kerja semacam itu, dan

kecintaanmu yang besar terhadap apa yang kamu lakukan adalah bukti rahmat Allah. Akan tetapi, jika kecintaanmu pada pekerjaan melemah, ini akan menjadi pertanda anugerah yang ditolak, karena Allah hanya membimbing mereka yang layak melakukan sikap-sikap yang benar, yang akan berdampak pada peningkatan derajat spiritual."
Rumi kemudian memberikan contoh sebuah bak mandi yang panas. Panasnya berasal dari bahan bakar yang terbakar, seperti jerami kering, kayu bakar, tulang hewan, dll.

Dengan cara sama, Allah menggunakan penampakan luar setan dan kejahatan, meski sesungguhnya ini dimaksudkan untuk menjernihkan dan menyucikan. Seperti bak mandi, laki-laki atau wanita yang terbakar oleh kegigihan bekerja, menjadi tersucikan dan menjelma kemanfaatan bagi semua orang.

Demikian Maulana Jalaluddin Rumi dalam karya monumental, Fihi Ma Fihi, menggambarkan proses tercerahnya spiritualitas, justru dalam proses kerja. Satu hal yang selama ini dianggap terpisah, kerja adalah dunia, ibadah adalah akhirat. Dalam proses kerja, manusia ternyata mampu mendapatkan "pembakaran spiritual", sehingga setiap keringat yang menetes, telah melahirkan pembersihan, dan oleh karenanya penyucian jiwa, selayak laku ‘abid yang beribadah siang dan malam.

Hanya memang, hal ini sulit terjadi dalam kenyataan. Kesulitan terletak karena proses kerja itulah yang sering menjelma kesadaran palsu (false consciousness), dimana kita lupa dan asing dari diri sendiri, asing dari hakikat kehambaan.

Ini yang terjadi, sebab masyarakat kita terlanjur menempatkan kerja, an sich dalam hasrat ekonomi, sehingga kerja dan uang, yang sebenarnya merupakan alat, kini menjadi tujuan.

Apalagi masyarakat kita telah lama mengarah pada satu dimensi, one dimensional man, Herbert Marcuse bilang. Dalam keadaan itu, arah manusia hanya satu, yakni bagaimana menjalani hari-hari dalam rutinitas mesin besar bernama industrialisasi, dimana para pekerja menjelma sekrup yang memperkuat struktur mesin modernitas tersebut. Ini yang membuat manusia terasing dari dirinya, sehingga kita tidak lagi mampu bertanya, untuk apa semua ini? Untuk apa kerja? Untuk apa hidup? Dalam situasi seperti ini, memikirkan apalagi merasakan kehadiran Allah, menjadi sesuatu yang hambar. Apa manfaatnya bagi produktifitas kerja?

Segenap tanya tersebut akan kita cari jawab, bersama Dr. Kautsar Azhari Noer. Dosen tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta penulis dua buku; Ibn ‘Araby: Wahdatul Wujud dalam Perdebatan Kita (1995), dan Tasawuf Perenial (2003).

Beliau yang merasa mendapatkan "hadiah dari Ibn ‘Araby", karena sejak pertengahan tahun ini, telah didaulat sebagai Honorary Fellow pada Ibn ‘Araby Society, Oxford University. Sebagai penggali Ibn ‘Araby, Dr. Kautsar tentu memiliki pandangan menarik atas problem "absennya Allah di tempat kerja". Hal ini nyata, karena Ibn ‘Araby sendiri mengabarkan kepada kita tentang kesatuan Allah dan makhluk, yang saat ini cenderung dipisahkan oleh proses kerja tersebut. Demikian wawancara santai Cahaya Sufi dengan beliau.


Bagaimana sebenarnya cara kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam proses kerja sehari- hari?
Spiritualitas itu bisa dilakukan di tempat kerja. Jadi praktik spiritual tidak hanya dilakukan ditempat khusus, seperti masjid, musholla, zawiyyah, dan kholwat, apalagi pergi ke gunung, menyepi. Karena Allah itu dekat, lebih dekat dari urat nadi. Wanahnu aqrabu min hablil wariid. Demikian maktub al-Qur’an. Kalau kita yakin Allah dekat, kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam bekerja. Kalau orang merasakan kehadiran Allah dalam bekerja, dia akan menjalankan kerja sesuai keinginan Allah, dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak etis.

Sebenarnya Islam arahnya kesana. Jadi anta’budalloha kaannka taroohu fainlam takun taroohu fainnahu yarooka. Kalau saya mengartikan ibadah disana, bukan hanya ibadah mahdloh saja, tetapi apapun yang kita lakukan, kita selalu merasakan kehadiran Allah. Al-Qur’an juga mengatakan agar kita mengingat Allah dimanapun, ketika duduk, berdiri. Kuncinya disitu, sebab dzikir merupakan kunci dalam tasawuf. Karena tidak mungkin tasawuf tanpa dzikir, dan tasawuf sangat menekankan kehadiran Allah.

Permasalahannya, pemahaman masyarakat terhadap makna kerja yang bersifat homo economicus, jadi kerja ya hanya memenuhi kebutuhan ekonomi. Allah tidak terlibat.Bagaimana menanggulangi hal ini?
Ya tujuannya yang sudah salah. Kalau orang kerja tujuannya ekonomi semata, duniawi semata, sudah tidak benar menurut tuntunan al-Qur’an. Dimata saya, kita boleh bekerja mencari harta sebanyak-banyaknya, sejauh dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas spiritual. Atau dengan bahasa lain, ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Cuma orang kan sering lupa kepada yang memberi rezeki (al-Raziq) akhirnya dia hanya terbenam dengan kehidupan duniawi. Mungkin hal ini terkait dengan kesinambungan antara akal dan batin. Jadi selama ini, orang memaknai kerja itu akal, sementara dzikir itu batin, dan keduanya tidak bisa nyambung karena situasi kerja yang akal an sich.

Saya kira wilayahnya masing-masing ya. Dzikir dengan qalbu, karena dalam al-Qur’an, istilah yang ada ya qalbu. Jadi pengalaman spiritual wadahnya qalbu, bukan akal. Bukan berarti akal diabaikan, tetapi ditempatkan sesuai dengan kapasitas atau fungsinya, yakni untuk hal-hal yang empiris; fisika, biologi, penelitian ilmiah. Tetapi untuk persoalan metafisik, ya qalbu. Jadi jangan dipertentangkan.

Tapi seakan terpisah?
Tidak mesti dipisahkan, lain fungsi aja. Ada dua kata yang tak sama, memisahkan dan membedakan, ia berbeda tapi tak terpisah. Karena akal dan qalbu itu kemampuan kita. Artinya sama-sama anugerah Allah. Kalau akal tidak diragukan lagi sering dibicarakan dalam tasawuf. Ada hadist yang menyatakan, bumi dan langit tidak mampu memeluk Allah, tetapi akal hamba yang mukmin, mampu memeluk Allah. Nah sementara qalbu itu dari fi’il qollaba, berubah, bolak-balik. Ya tergantung, kalau hatinya baik, kualitas orang akan baik, kalau hatinya jahat, kualitasnya akan rendah. Dalam hubungan dengan Allah, yang berperan qalbu, iman. Dzikir itu qalbu, bukan akal. \[pagebreak]Nah bagaimana agar bisa dzikir dalam proses kerja? Baik dizkir ritual, maupun dzikir dalam artian bahwa kerja merupakan jalan mendekat kepada Gusti Allah.
Seperti saya katakan, orang bisa dzikir dimana saja dan Allah tidak jauh kan, lebih dekat dari urat nadi. Yunus Emre (w. 721 H/1321 M) penyair Sufi Anatolia, Turki yang merupakan pengikut Ibn Araby pernah bilang, "Jika Anda ingin mencari Allah, carilah didalam qalbumu". Nah itu nggak jauh-jauh kan. Jadi dimanapun dan kapanpun, baik kita sedang kerja di pasar, di kantor, Allah ada disitu. Kita bisa merasakan Allah disana. Tapi itu tergantung, ada nggak kemauan, karena yang penting, menjaga kesadaran kita akan kehadiran Allah. Menjaga kesadaran itu yang saya kira orang belum konstan berusaha.

Hal ini memang perlu dilatih, dan dimulai dari diri kita sendiri. Mungkin diperlukan pemahaman. Seperti pemahaman orang bahwa dzikir itu hanya di masjid, ingat kepada Allah hanya ketika sholat saja, padahal nggak seperti itu kan. Maka ada istilah sholat daim, itu sebenarnya bukan sholat ritual, tetapi sholat setiap detik sepanjang hidup. Jadi janganlah sholat hanya ketika sedang sholat, tetapi sholatlah sepanjang hidup. Selama ini hubungan kita dengan Allah putus, ketika kita selesai sholat ritual.

Bisa nggak dikatakan, bahwa yang memutus hubungan dengan Allah itu pekerjaan?
Ya, itu tergantung dari kesadaran dan kemauan kita. Karena sibuk dengan kerjaan, orang lupa dengan Allah. Seharusnya tidak seperti itu. Justru kita juga bisa ingat Allah ketika bekerja. Karena seperti saya katakan tadi, praktik keruhanian bisa dilakukan ditempat keramaian.

Jadi setiap kita melakukan sesuatu, selalu detak qalbu kita mengucapkan Allah, Allah, sehingga semuanya Allah, akhirnya kita ini nggak ada apa-apanya. Ketika Nabi Muhammad melempar musuh, bukan beliau yang melempar kan, tapi Allah yang melempar. Makanya orang-orang yang berbuat kebaikan melebihi yang wajib, Allah akan menjadi pendengarannya, penglihatannya. Ini artinya, kita harus menyadari bahwa semuanya Allah, kita ini nggak ada apa-apanya. Nah itu bisa kita lakukan ketika kerja. Ketika kita sedang nulis, yang nulis Allah, bukan kita. Buktinya, seandainya tangan kita diambil oleh Allah, ya udah, berhenti kan kita. Tapi jangan disalahpahami, ketika Anda yang berjalan, bukan Anda, tapi Allah yang berjalan. Tidak seperti itu. Coba ketika kita sedang jalan, nyawa kita dicabut Allah, maka stop kan jalan kita.

Apalagi kalau kita sadar seperti kesadaran Ibn Arabi, al-Hallaj, dan Abu Yazid al-Bustami, bahwa kita ini nggak ada, yang ada hanya Allah. Kita tidak lebih dari tajalli-Nya, dhzillun (bayangan) Nya. Mungkin paham seperti ini tidak dipahami oleh semua orang. Saya paham itu. Sama ketika orang memahami ayat, wamaa romaita idz romaita walakinnalloha roma, itu arahnya kesana. Jadi bukan kamu yang melempar, tetapi Allah yang melempar. Kamu itu tidak lebih dari madzhar-Nya Allah, tajalli, majla, tempat penampakan Allah, hakikatnya Allah, kita nggak ada apa-apanya.

Kalau bisa begitu, orang nggak akan pernah sombong. Sayang sikap egoisme kita terlalu besar. Disini ketika al-Hallaj mengucapkan Anna al-Haq, egonya hilang, yang ada Allah. Aku disitu bukan aku al-Hallaj, dia nggak ada. Tapi ini kan sulit dipahami masyarakat.

Nah terkait dengan kegiatan kita sehari-hari, saya kira seperti itu juga. Apapun yang kita lakukan, sebenarnya yang melakukan Allah, kita nggak ada apa-apanya.

Sebelum al-Hallaj mati, dia bilang, "Ya Allah ampuni mereka yang hendak membunuhku, karena mereka tidak mengerti. Mereka mencintai Mu. Maafkan mereka". Bukannya mengamuk dan memaki, tapi dia faham, seandainya mereka mengerti apa yang al-Hallaj alami, mereka nggak akan melakukan itu.

Apa proses tadi bisa dikatakan kholwat dalam kerja?
Saya tidak menyebutnya kholwat. Kalau kholwat memang menyendiri, ada yang 10 hari ada 40 hari. Itu memang khusus. Saya tidak sebut hal diatas kholwat. Tetapi orang bisa merasakan kehadiran Allah ditempat keramaian, tidak mesti ketika kholwat saja. Bahwa kholwat itu semacam baterai hendak diisi gitu lah. Mungkin untuk melatih, dan setelah kholwat itu diharapkan selamanya bisa meningkatkan kualitas keruhanian, karena hatinya selalu nyambung dengan Allah.

Terkait dengan pandangan miring terhadap zuhud?
Zuhud itu tidak berarti orang tidak makan, tidak punya isteri, tidak punya harta. Tapi maksudnya orang tidak dikuasai oleh hartanya, tidak dikuasai oleh apa yang dia miliki. Bahkan kalau sampai tingkat itu, dia bilang, "Aku nggak memiliki apa-apa". Karena semua milik Allah. Jadi mobil yang kita miliki, nggak dikatakan milik kita, tetapi milik Allah. Bahkan diri kita sendiripun milik Allah. Kita cuma menjaga amanah, titipan. Kalau sudah sampai titik itu, insya Allah orang nggak akan stress. Kita belum sampai kesitu kan, karena kita masih ingin memiliki.

Untuk mencapai kesana kan butuh hidayah?
Memang susah ya, yang penting berusaha. Ada yang bilang, kalau sudah sampai ke tingkat yang tinggi, itu memang anugerah dari Allah. Apalagi apa yang kita sebut ma’rifat, ilmu hudluri, dan sebagainya, itu anugerah. Bahkan cinta kepada Allah-pun anugerah dari Allah, Kalau Allah nggak memberi ya walaupun kita berusaha sampai mati, kita nggak akan dapat. Nah menurut saya, Allah akan memberikan anugerah itu kepada orang yang dianggap siap. Tapi biasanya orang siap itu kan sebelumnya sudah mengondisikan dirinya. Banyak berdoa, berbuat baik, selalu mendekatkan diri kepada Allah, sehingga anugerah nggak mungkin tiba begitu saja.

Tapi bisa saja yang kelihatannya tiba-tiba, tapi sebelumnya kita nggak tahu. Kan banyak riwayat aneh, misalnya Rahim ibn Adham, ketika ia berburu di tengah hutan, ada suara dari atas yang memerintahkan agar dia menjadi zahid. Kalau memang anugerah dari Allah ya susah dirasionalkan.

Nah banyak ilmuwan yang bilang, kerja khususnya di industri seperti Jakarta ini telah membuat orang teralienasi, asing dari dirinya sendiri. Bagaimana Bapak menanggapi hal ini?
Ya karena sibuk dengan pekerjaan, dia lupa dengan dirinya sendiri. Akhirnya dia terasing dari dirinya. Bukan hanya kerja, harta, jabatan, juga begitu kan. Pertanyaannya, yang jadi tuan siapa sih, kerja atau kita? Kadang kita diperbudak oleh kerjaan. Kalau orang sudah sibuk, ngurus dirinya sendiri juga sudah lupa. Dia kerja sampai lupa menjaga kesehatannya. Nah kita kadang diperbudak oleh sistem yang kita buat, cuma kita nggak sadar. Tapi kalau bicara sistem kan kolektif, tidak sendiri. Kolektif itu terkait dengan struktur kan.

Kita harus mengikuti struktur, masyarakat, dan budaya. Ya kita yang diperbudak oleh struktur, bukan kita yang mengendalikannya. (Arif)

Dr. Kautsar Azhari Noer -
Dosen Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Sufinews