Friday, April 8, 2011

Sufi Road : Tariqah Bani Alawi

Oleh : Naufal (Novel) bin Muhammad Alaydrus

Secara bahasa tharîqah (tarekat) dapat berarti jalan, metode, sistem, cara, perjalanan, aturan hidup, lintasan, garis, pemimpin sebuah suku dan sarana. Menurut 'Abdurrazzâq Al-Kâsyânî, tharîqah adalah jalan khusus yang ditempuh oleh para Sâlik dalam perjalanan mereka menuju Allâh, yaitu dengan melewati jenjang-jenjang tertentu dan meningkat dari satu maqâm ke maqâm yang lain.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Kibrîtul Ahmar wal Iksîrul Akbar Habîb ‘Abdullâh bin Abû Bakar Al-‘Aidarûs radhiyallâhu 'anhu menyebutkan: “Menurut para sufi, syariat adalah ibarat sebuah kapal, tarekat (tharîqah) adalah lautnya dan hakikat (haqîqah) adalah permata yang berada di dalamnya. Barang siapa menginginkan permata, maka dia harus naik kapal kemudian menyelam lautan, hingga memperoleh permata tersebut.”

Tharîqah 'Alawiyyah Dalam Pandangan Habîb ‘Abdurrahmân Bilfaqîh

Dalam buku ‘Iqdul Yawâqît Al-Jauhariyyah, Habîb Edrus bin ‘Umar Al-Habsyî, menyebutkan bahwa ketika Habîb ‘Abdurrahmân bin ‘Abdullâh Bilfaqîh ditanya, “Apa dan bagaimana tharîqah Sâdah Âl Abî ‘Alawî itu? Apakah cukup didefinisikan dengan ittibâ’ (mengikuti) Qurân dan sunah? Apakah di antara pengikut tharîqah ini terdapat perbedaan? Apakah tharîqah mereka bertentangan dengan tharîqah-tharîqah lain?” Beliau menjawab pertanyaan tersebut dengan indah. Berikut beberapa hal penting yang kami ringkaskan dari jawaban beliau itu:
•“Ketahuilah, sesungguhnya tharîqah anak cucu Nabi (Sâdah) dari keluarga Abî ‘Alawî (banî 'alawî) merupakan salah satu tharîqah kaum sufi yang dasarnya adalah ittibâ’ (mengikuti) Al-Qurân dan sunah sedangkan bagian utamanya (ra’suhâ) adalah sidqul iftiqâr dan syuhûdul minnah .

•Tharîqah ini mengikuti berbagai ketetapan hukum yang ada (manshûsh) dengan metode khusus serta menyempurnakan semua dasar (ushûl) guna mempercepat wushûl. Hal ini menunjukkan bahwa tharîqah banî 'alawî lebih dari sekedar mengikuti Al-Qurân dan Sunah sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

•Tharîqah ini membimbing seseorang untuk menyandang semua akhlak luhur dan mulia serta menjauhi semua sifat hina dan tercela. Tujuan tharîqah ini tiada lain adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allâh dan memperoleh fath .

•Tharîqah banî 'alawî merupakan sebuah tharîqah yang membimbing seseorang untuk mampu memahami, mengamalkan dan meraih asrâr, maqâmât dan ahwâl. Ia diwariskan dari generasi sholihin ke generasi sholihin berikutnya dengan mempraktekkan, merasakan dan mengamalkannya secara langsung, sesuai dengan fath, anugerah dan karunia Allâh.

• Karena tharîqah banî 'alawî mengutamakan praktek, cita rasa dan rahasia, maka mereka memilih untuk bersikap khumûl (menghindari ketenaran), menyembunyikan diri, dan tidak menyusun karya tentang tharîqah-nya. Periode awal hingga zaman Habîb ‘Abdullâh Al-‘Aidarûs dan adik beliau, syeikh Alî memilih sikap ini.

•Ilmu yang dipelajari oleh Banî ‘Alawî adalah ilmu yang dimiliki para sufi. Ciri khasnya, mereka suka menghapuskan segala tanda yang dapat menunjukkan siapa diri mereka. Mereka berusaha mendekatkan diri kepada Allâh dengan semua amal.
•Adab tharîqah ini adalah menjaga semua rahasia (asrâr) dan cemburu (ghairah) jika rahasia tadi disebarluaskan.

•Dhâhir tharîqah Banî ‘Alawî adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ghazâlî, yaitu menuntut ilmu dan mengamalkannya sesuai dengan metode yang benar. Sedangkan batinnya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh tharîqah Syâdziliyyah, yaitu tahqîqul haqîqah dan tajrîdut tauhîd.

•Tharîqah-tharîqah sufi lain yang benar, suci dan dapat dipercaya, tidak bertentangan dengan tharîqah Banî ‘Alawî, baik dalam ushûl (dasar-dasar), hakikat sulûk maupun wushûl. Terjadinya perbedaan bentuk dan keadaan di antara mereka tiada lain adalah demi memberikan jalan yang mudah dan dekat kepada setiap orang yang ingin menempuhnya. Perbedaan ini seperti perbedaan madzhab dalam masalah furû’. Karena perbedaan tersebut hanya berlaku pada cabang (furû’), maka sejatinya perbedaan-perbedaan itu tidak ada

Sumber : Pustaka Muhibbun

Sufi Road : Pentingnya Syariat Dalam Amalan Tasawuf


Seluruh pengamal tasawuf yang mengamalkan pengamalan tarikat muktabarah sepakat bahwa landasan utama peramalan itu adalah pengamalan syariat yang kuat. Semua lembaga tarikat Muktabarah berlandaskan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang sangat menekankan pengamalan syariat yang sempurna, adalah satu-satunya jalan untuk berhasilnya pengamalan tarikat itu. Sementara ada sebagian orang yang berpura-pura mengaku pengamal tasawuf tapi tidak mengamalkan syariat, mengatakan mereka telah sampai ke tingkat yang tinggi, telah sampai ke tingkat musyahadah yang dibuktikan dengan beberapa kekeramatan-kekeramatan.

Pengakuan yang demikian ini adalah sesat, karena sangat bertentangan dengan Al Qur'an dan Al Hadis, dan tidak sesuai dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berbeda atau sangat bertentangan dengan kenyataan yang dilaksanakan oleh para tokoh sufi pengamal tarikat Al Muktabarah. Pengakuan-pengakuan yang demikian ini umumnya datang dari orang yang berpura- pura pengamal tasawuf atau datang dari pihak-pihak yang tidak senang kepada jalan yang ditempuh oleh para sufi.

Para sufi menekankan peramalannya harus didasarkan kepada at Taslim (penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tafwidh (berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tabarri Minan Nafsi (Pembebasan diri dari hawa nafsu), dan At Tauhid bil Khalqi wal Masyi'ah (mengesakan hanya Allah sajalah yang Maha Pencipta dan Maha Berkehendak).Berbeda dengan golongan Qadariah yang mendasarkan peramalannya kepada Al Fi'lu (perbuatan adalah kehendak yang bersangkutan), al Masyi'ah (semua kehendak adalah kehendak yang bersangkutan), al Khalqah (semua yang diciptakan adalah ciptaan yang bersangkutan) dan at Takdir (semua takdir itu tergantung kepada yang bersangkutan). Mereka ini semuanya, mendasarkan apa saja yang mereka lakukan tergantung kehendak mereka.

Di dalam Al Qur'an banyak sekali dalil yang menunjukkan kebenaran landasan peramalan para sufi tersebut. Hasilnya pun kelihatan dengan pengamalan yang sungguh-sungguh yang didasarkan kepada syariat yang kuat, para sufi memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketentraman dan ketenangan. Apa yang diperoleh para sufi ini merupakan buah, hasil ibadatnya yang merupakan rahmat dari Allah SWT. Apa yang diperoleh oleh para sufi ini belum tentu, atau bahkan kecil sekali kemungkinannya dapat diperoleh oleh orang lain. Letak perbedaannya menurut Al-Ghazali, para sufi lebih gigih dalam riyadlah dan mujahadah. Mereka tidak memadai dengan pengamalan-pengamalan syariat wajib saja, tetapi harus juga mengamalkan syariat-syariat sunnah. Para sufi tidak hanya meninggalkan yang haram dan makruh saja, tetapi juga meninggalkan hal-hal yang mubah (kebolehan), yang tidak berfaedah apalagi kalau hal itu dapat membawa kepada melalaikan syariat.

Ibnu Khaldun menyatakan, berkat riadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh, maka para wali memperoleh tanda-tanda kemenangan yang besar, memperoleh kekeramatan-kekeramatan, sebagaimana hal itu juga diperoleh para sahabat Rasulullah As Sabiqunal Awwalun. Orang tidak boleh tertipu dan terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramatan ini sebelum dibuktikan kuatnya syariat yang bersangkutan. Kekeramatan ini tidak menjadi tujuan dan tidak pula menjadi ukuran. Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada Allah, mendapat ridla-Nya dan yang menjadi ukurannya mengamalkan syariat dengan berhakikat sempurna.

Pengamal tasawuf yang telah memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketentraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah menjalani atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan syariat yang haq.

Dalam buku "Al Munqiz Minadlalal" diuraikan tentang para sufi yang banyak memberikan pendapat atau komentar berkenaan tasawuf dihubungkan dengan syariat, ini disebutkan di dalamnya.

a. Imam Al Ghazali
Al Ghazali mengatakan, "Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang tasawuf) mengatakan,

Artinya : Jikalau kamu melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan."

b. Abu Yazid Al Bustami, menyatakan:
Artinya : Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hukum agama dan bagaimana dia melaksanakan syariat agama.

c. Sahl at Tasturi
At Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang terdiri dari tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu berpegang kepada Al Kitab (Al Qur'an), mengikuti Sunnah Rasul, makan dari hasil yang halal, mencegah gangguan yang menyakiti, menjauhkan diri dari maksiat, selalu melazimkan tobat dan menunaikan hak-hak orang lain.

d. Junaid al Baghdadi
Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan "Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan". Selanjutnya beliau mengatakan,
Artinya : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan-amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham seperti itu.

e. Abul Hasan As Syazili
As Syazili mengatakan,
Artinya : Jika pengungkapanmu bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau mengatakan kepada dirimu sendiri "sesungguhnya Allah SWT telah menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul". Allah tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul.

Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al Qur'an dan As Sunnah dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai panutan tertinggi para sufi.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Nabi SAW ditanya tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan-amalan agama, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka kepada Allah SWT. Maka jawab Nabi SAW, "Mereka telah berdusta. Karena jika mereka berbaik sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah baik."

Sumber :(Dr. Abdul Halim Mahmoud 1964: 161 - 167)
Sufismenews

Sufi Road : Tasawuf menurut Buya Hamka

Riwayat Hidup
Hamka [Haji Abdul Malik Karim Amrullah] dilahirkan ditanah sirah, Sungai Batang di tepi Danau Maninjau, tepatnya pada tanggal 13 Muharam 1362 H, bertepatan dengan 16 Februari 1908 M. Ayahnya adalah Abdul Karim Amrullah Ayah Hamka termasuk keturunan Abdul Arif, gelar tuanku Pauh Pariaman atau Tuanku Nan Tuo, salah seorang Paderi. Tuanku Nan Tuo adalah salah satu ulama yang memainkan peranan peting dalam kebankitan kembali pembaharuan di Minangkabau dan sebagai guru utama Jalal Ad-Din. Kondisi soasial keagamaan pada masa Hamka menuntut adanya pikiran-pikiran baru yang membawa umat pada ajaran Al-Qur’an dan Hadits yang lurus, yang tidak bercampur dengan adat-istiadat.

Hamka mengawali pendidikannya dengan belajar membaca Al-Qur’an di rumah orang tuanya. Setahun kemudian, setelah mencapai usia tujuh tahun, Hamka dimasukkan ayahnya kesekolah desa. Pada tahun 1916, ketika Jainuddin Labai El-Yunusi mendirikan sekolah diniyah petang hari, di Pasar Usang Padang Panjang, Hamka lalu dimasukkan ayahnya ke sekolah ini.
Setelah ayahnya Abdul Karim Amrullah, kembali dari pelawatan pertamanya ke tanah jawa. Surau Jembatan Besi, tempat ayah Hamka memberi pengajaran agama dengan sistem lama, diubah menjadi madrasah yang kemudian dikenal dengan Thawalib School, dan hamka dimasukkan ke sekolah itu.

Hamka tidak sempat memperoleh pendidikan tinggi, akan tetapi, tampaknya ia berbabakat dalam bidang bahasa dan segera menguasai bahasa Arab, termasuk terjemahan- terjemahan dari tulisan-tulisan barat. Pada tahun 1930, Hamka bukan hanya pergi ke Jawa, melainkan juga ke Mekah, Sulawesi Selatan dan Sumatra Utara. Hamka juga telah diilhami kesadaran tentang kesatuan indonesia jauh sebelum 1928.

Adapun karya-karya yang pernah ditulis Hamka di antaranya adalah: Tasawuf Modern (1939), Falsafah Hidup (1939), Lembaga Hidup (1940), Lembaga Budi (1940), Dibawah Lindungan Ka’bah, Renungan Tasawuf, Pelajaran Agama Islam, Pandangan Hidup Muslim, Tenggalamnya Kapal Van der Wijk, Kedudukan Perempuan dalam Islam dan Tafsir Al-Azhar. Dari karya-karyanya terlihat Hamka membangun reputasinya sebagai pengarang yang menulis tentang berbabagai soal umum, sebagai editor majalah, sebagai penulis cerita pendek dan novelis yang romantis pada masa sebelum perang.

Pemikiran Hamka tentang Tasawuf

Hamka agaknya memilih cara diskursus (discourse) yang lebih bebas daripada pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan Al-Qur’an dan Hadits seperti yang dilakukan gurunya. Perbedaan lainnya dengan Sutan Mansur, Hamka tidak membatasi dirinya dalam ilmu kalam dan ilmu akhlak yang tradisional demi menjaga doktrin Islam.

Tentang pemikiran Hamka ada dua buku yang dapat dibaca untuk menelusuri pemikiran-pemikirannya. Pertama, Tasawuf Modern yang ditulis oleh Hamka sendiri. Kedua, Tasawuf Positif dalam pemikiran HAMKA yang ditulis oleh Mohammad Damami.

a. Hakikat Tasawuf
Menurut Hamka, walaupun pengambilan kata tasawuf itu, dari bahasa Arab atau Yunani, dari asal-asal pengambilan itu, nyata bahwa yang dimaksud dengan kaum tasawuf atau kaum sufi ialah kaum yang telah menyusun perkumpulan untuk menyisihkan diri dari orang banyak, dengan maksud membersihkan hati, laksana kilat-kaca terhadap Tuhan, atau memakai pakaian yang sederhana, tidak menyerupai pakaian orang dunia, biar hidup kelihatan kurus-kering bagai kayu di padang pasir, atau memperdalam penyelidikan tentang perhubungan makhluk dengan Khaliqnya, sebagaimana yang dimaksud perkataan Yunani itu.

Tasawuf adalah salah satu filsafat Islam yang bertujuan zuhud dari dunia yang fana, tetapi lantaran banyak bercampur dengan negeri dan bangsa lain, banyak sedikitnya masuk jugalah pengajian agama dari bangsa lain ke delamnya.

Menurut Hamka, tasawuf pada hakikatnya adalah usaha yang bertujuan untuk memperbaiki budi dan membersihkan bathin. Artinya, tasawuf adalah alat untuk membentengi dari kemungkinan-kemungkinan seseorang terpleset ke dalam lumpur keburukan budi dan kekotoran bathin yang intinya, antara lain dengan berzuhud seperti teladan hidup yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW lewat As-sunnah yang shahih.

Hamka merinci beberapa hal sebagai berikut: Tasawuf menjadi negatif, bahkan sangat negatif kalau tasawuf:

a. Dilaksanakan dengan berbentuk kegiatan yang tidak digariskan oleh ajaran agama Islam yang terumus dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b. Dilaksanakan dalam wujud kegiatan yang dipangkalkan terhadap pandangan bahwa dunia ini harus dibenci.

Tasawuf akan menjadi positif, bahkan sangat positif kalau tasawuf:
a. Dilaksanakan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang searah dengan muatan-muatan peribadahan yang telah dirumuskan sendiri oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b. Dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang berpangkal pada kepekaan sosial yang tinggi dalam arti kegiatan yang dapat mendukung “pemberdayaan umat Islam” agar kemiskinan ekonomi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik dan mentalitas.

b. Fungsi Tasawuf
Menurut pendapat Hamka, tasawuf yang bermuatan zuhud yang benar, yang juga dilaksanakan lewat peribadahan agama yang didasari i’tiqad yang benar, mampu berfungsi sebagai media pendidikan moral keagamaan (moral religius) yang efektif.

c. Tasawuf Modern
Tasawuf yang ditawarkan Hamka disebut “tasauf modern” atau “tasawuf positif” berdasar pada prinsip “tauhid”, bukan pencarian pengalaman “mukasyafah”.

Secara garis besar, konsep sufistik yang ditawarkan Hamka adalah sufisme yang berorientas “ke depan” yang ditandai dengan mekanisme dari sebuah sistem ketasawufan yang unsur-unsurnya meliputi: prinsip “tauhid”, dalam arti menjaga transendensi Tuhan dan sekaligus merasa “dekat dengan Tuhan”. Memanfaatkan peribadahan sebagai media bertasawuf. Dan menghasilkan refleksi hikmah yang berupa sikap positif terhadap hidup dalam wujud memiliki etos sosial yang tinggi.

d. Qana’ah
Menurut Hamka, maksud qana’ah itu matlah luas. Menyuruh benar-benar percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan kita sabar menerima ketentuan Ilahi jiga ketentuan itu tidak menyenangkan diri, dan bersyukur jika dipinjami-Nya nikmat. Itulah maksud qana’ah.

e. Tawakal
Hamka menjelaskan tawakal sebagai berikut: Di dalam qana’ah, tersimpullah tawakal, yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar, dan usaha kepada Tuhan semesta alam. Dia yang kuat dan kuasa, sedangkan kita lemah dan tak berdaya. Tidaklah keluar dari garisan tawakal, jiga kita berusaha menghindarkan diri dari kemelaratan, baik yang menyangkut diri, harta-benda, anak turunan, baik kemelaratan yang yakin akan datang, atau berat pikiran akan datang, atau boleh jadi akan datang.

Wednesday, April 6, 2011

Sufi Road : Mendengar Suara yang Indah

Syekh Abu Nashr as-Sarraj

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj rahimahullah— berkata: Allah swt. berfirman: “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Fathir: 1).

Mereka menafsirkannya dengan akhlak yang mulia dan suara yang indah.
Diriwayatkan dalam Hadis Nabi Saw. bahwa beliau pernah bersabda:
Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali ia memiliki suara yang indah.” (H.R. Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda:
Allah Swt. tidak pernah mendengarkan dengan serius terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah.” (H.R. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).

Nabi Saw. juga bersabda:
Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).

Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa Nabi Dawud as. dianugerahi suara yang merdu sehingga ketika ia membaca Kitab Zabur, jin, manusia, binatangbuas dan burung khusyuk mendengarkan bacaannya. Bahkan seperti diriwayatkan dalam sebuah Hadis, bahwa kaum Bani Israel pernah berkumpul untuk mendengarkan suara Nabi Dawud, sementara itu ada empat ratus jenazah orang-orang yang telah mati di situ diboyong dari majelisnya. (Imam al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, bahwa Hadis ini tak memiliki sumber yang jelas).

Sebagaimana pula diriwayatkan dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Sungguh Abu Musa diberi terompet (seruling) dan terompet keluarga Nabi Dawud a.s. karena ia telah diberi suara yang merdu.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Disebutkan dalam sebuah Hadis, “Bahwa pada saat Pembukaan Kota Mekkah, Nabi Saw. membaca surat al-Fath, beliau membaca panjang bacaan mad dan mengulanginya kembali.” (H.R. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud dari Anas dan Ubaidillah bin Mughafal).

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Andaikan aku tahu bahwa engkau orang yang mendengar, niscaya aku akan memperindah suaraku dalam membaca al-Qur’an.” (H.R. Muslim dan Nasa’i).

Diriwayatkan pula dari Nabi Saw. yang bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian yang merdu.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan, bahwa Hadis di atas dimungkinkan memiliki dua pengertian —dan hanya Allah Yang Mahatahu: Pertama, yang dimaksud Hadis di atas adalah menghiasi bacaan al-Qur’an dengan mengeraskan suara ketika membacanya, kemudian memperindah suara dan lagunya. Sebab al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, maka ia tidak perlu dihiasi dengan suara makhluk atau diperindah dengan lagu yang direkayasa. Kedua, makna yang dimaksud dengan menghiasi bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah adalah mendahulukan mana yang harus lebih dahulu dalam makna dan mengakhirkan mana yang harus di akhir, seperti dalam firman Allah Swt.:
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya suatu yang menyimpang, sebagai bimbingan yang lurus.” (Q.S. al-Kahfi: 1-2).

Artinya dalam uslub mendahulukan mana yang harus didahulukan dan mengakhirkan mana yang terakhir adalah bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak menjadikan suatu yang menyimpang (bengkok). Sementara ayat-ayat seperti ini banyak kita jumpai dalam al-Qur’an.

Allah Swt. mencela suara yang tidak disukai (buruk), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).

Tentu saja ketika Allah mencela suara yang buruk, Dia akan memuji suara yang indah.
Orang-orang bijak telah banyak berbicara tentang suara yang indah dan alunan lagu yang merdu. Misalnya Dzun-Nun —rahimahullah— pernah ditanya tentang suara yang bagus, maka ia mengatakan, “Itu adalah pembicaraan-pembicaraan dan isyarat-isyarat yang ditujukan kepada al-Haq yang dititipkan pada segala kebaikan.”

Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz ar-Razi, yang mengatakan, “Suara yang indah merupakan hiburan dari Allah Swt. bagi hati yang di dalamnya ada rasa cinta kepada Allah.”
Sementara itu yang lain mengatakan, “Lagu yang indah adalah hiburan dari Allah Swt. yang digunakan untuk menghibur hati yang terbakar oleh api cinta Allah Swt.”
Saya mendengar Ahmad bin Au al-Wajihi mengatakan: Saya mendengar Abu Ali ar-Rudzabari —rahimahullah— yang mengatakan, “Bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi pernah berkata: Ada tiga hal bila ditemukan maka akan menjadi hiburan, sementara saya telah kehilangan semuanya: (1) Suara yang indah dengan tetap berpegang teguh pada agama; (2) Wajah yang cantik dengan tetap menjaga diri; (3) Persaudaraan yang baik dengan penuh kesetiaan.”

Dari Bundar bin al-Husain —rahimahullah— yang mengatakan, “Suara yang bagus merupakan hikmah yang mengakibatkan kebijakan yang selamat. Suara yang merdu dan perkataan yang halus merupakan takdir dari Allah Swt. Yang Mahaagung lagi Mahatahu.”
Termasuk kelembutan yang Allah ciptakan pada keindahan suara adalah ketika seorang anak kecil menangis dalam buaian karena ada sesuatu yang dirasakan sakit, kemudian mendengar suara yang indah, maka ia akan berhenti menangis dan bisa tidur.

Suatu hal yang sudah cukup terkenal, bahwa orang-orang terdahulu mengobati orang yang sakit empedu dengan menggunakan suara yang indah. Dimana pada akhirnya si pasien bisa sehat kembali.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara rahasia yang Allah ciptakan di dalam suara yang merdu dan indah akan memberi semangat baru. Coba Anda perhatikan unta yang melintasi gurun pasir, ketika telah lelah dan tidak mampu meneruskan perjalanannya, maka orang yang menggiringnya akan melantunkan senandung untuknya. Unta akan asyik mendengarkan lantunan senandungnya dengan memanjangkan lehernya dan memasang telinganya ke arah orang yang bersenandung, kemudian jalannya menjadi cepat sehingga barang-barang bawaannya bergoncang. Tapi barangkali nafasnya akan habis bila orang yang menggiring tidak melantunkan senandungnya lagi, setelah ia berjalan dengan cepat dan beban bawaannya cukup berat, dimana sebelumnya ia merasa ringan pada saat mendengar keindahan dan kemerduan suara orang yang menggiringnya.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—juga mengatakan: Ketika ad-Duqqi di Damaskus ia pernah bercerita kepadaku tentang suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana ia ditanya mengenai hal itu, maka ia bercerita: Ketika berada di gurun pasir aku mendatangi salah satu kabilah Arab, kemudian salah seorang dan mereka menyambutku dan mempersilakan masuk ke dalam sebuah kemah. Di dalam kemah aku melihat seorang budak hitam yang diikat dengan rantai, sementara di depan kemah kulihat beberapa ekor unta yang telah mati dan ada seekor unta kurus dan lunglai seperti mau mati. Maka si budak yang diikat oleh tuannya itu berkata kepadaku, “Pada malam ini Anda adalah tamu tuan saya. Sementara Anda adalah orang yang dihormatinya, maka tolonglah saya agar ia mau melepaskan saya dari ikatan ini, karena ia tidak mungkin menolak permintaan Anda

Ketika mereka menyuguhkan makanan kepadaku, maka aku tidak mau makan. Dan hal ini membuat temanku (tuan rumah) terasa sangat berat, lalu Ia bertanya kepadaku, “Mengapa Anda tidak mau makan?”



Maka aku menjawab, “Aku tidak akan makan makanan ini sebelum Anda mau memberitahu kepadaku tindak kejahatan budak ini dan melepaskan rantai yang mengikatnya.”
Ia pun menceritakan kasus kejahatannya, “Oh tuan yang mulia, sesungguhnya budak ini telah membuat saya miskin, menghancurkan semua harta saya dan membuat hidup saya dan keluarga saya sengsara.”
Kemudian aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah ia lakukan?”

Ia menceritakannya, “Budak ini memiliki suara yang sangat indah, sementara hidup saya sangat bergantung pada punggung unta-unta ini. Ia telah memberi muatan yang sangat berat di atas punggung unta-unta ini, kemudian ia bersenandung dengan merdunya yang diperdengarkan untuk unta-unta ini sehingga mereka berjalan dengan cepat, dimana perjalanan yang semestinya ditempuh tiga hari hanya ditempuh semalam karena kemerduan suaranya yang disenandungkan untuk mereka. Namun begitu unta-unta ini telah sampai dari perjalanannya dan semua barang muatannya diturunkan, mereka langsung mati kecuali seekor unta ini yang keadaannya juga mengenaskan. Anda adalah tamu saya, dan demi menghormati Anda, maka ini saya berikan kepada Anda.”

Akhirnya ia melepaskan rantai yang mengikat budak hitam tersebut, dan kami juga makan makanan yang disuguhkannya. Ketika pagi hari aku ingin mendengarkan kemerduan suara budak hitam itu, kemudian aku memintanya agar ia memperdengarkan keindahan suaranya kepadaku seraya memerintahnya agar ia bersenandung untuk seekor unta yang masih hidup yang telah diberi minum dari air sumur yang ada di seberang sana. Kemudian ia berangkat dan mulai menggiring untanya dengan bersenandung. Ketika ia mengeraskan suaranya, maka unta ini pergi sehingga memutus tali kendalinya. Maka saya jatuh tersungkur ke tanah dan sama sekali tidak pernah mendengar suara sebagus suaranya. Kemudian tuan budak itu berteriak, “Wahai laki-laki, apa lagi yang Anda inginkan dari saya? Anda telah mencelakakan unta saya. Pergilah dar sini!” Ini sebagaimana yang diceritakan oleh ad-Duqqi atau searti dengan apa yang ia ceritakan. —Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Saya mendengar Ahmad bin Muhammad ath-Thili di Anthakiyah pernah mengatakan: Saya pernah mendengar Bisyr al-Hafi berkata: Saya bertanya kepada Ishaq bin Ibrahim al-Maushili, “Siapakah orang yang bagus suaranya dalam berlagu?” Ia menjawab, “Adalah orang yang memungkinkan nafasnya dan sanggup menahannya serta betul-betul memahami seluk-beluknya dengan teliti.”

Sumber : www.sufinews.com

Sufi Road : Hikayat-hikayat Mistis

Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi

Bahasa Semut

Bunglon dan Kelelawar

Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah
melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat
petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk
lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka
akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan
melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.

Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya
bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana
cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya
mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan
adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain
berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia
memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)

Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya
matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan
keselamatan baginya.

Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)

Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati
tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka
telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
--------------------------------------------------------------------

Burung Merak Raja di Bawah Keranjang

Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang
empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau
subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah
melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari
dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat
kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara
semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.

Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak,
dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung
kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia
tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa
pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu
ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai
satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat
dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.

Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya
sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya.
Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak
melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia
mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia
percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang
lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian
rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika
ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal
atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia
menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar
dan kebodohan yang murni.

Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan
harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis
tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan
rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan
kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul
kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat
untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari
mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit
itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu,
tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada
makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika
sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak
bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan
hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh
suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia
bergairah memikirkan sarangnya.

Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku
dan hampir mengucapkan kata-kata,
'aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.'

(13) Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu
datang.

Wahai kilat yang menyambar,
dari perlindungan siapa engkau muncul?

Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.

Ah, kalau saja Laila sekali saja
mengirimkan salam karunianya, meskipun
diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar.

Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya,
atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu,
burung sakit yang memekik di tengah keremangan
kuburan.


Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.

... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti
orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)


Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari
taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.

Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:


Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia
melewati malam di Rama yang melukiskan
kebosanannya.

Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana

catatan: baris-baris ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).


(14) Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai
suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa
menghadapnya.


Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)

Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah
terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan
mereka pada hari itu maha mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)


Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu
melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika
memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta
aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk
berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua
suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri
mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik
'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).


Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam
memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)

Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi
matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)

Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal ketika itu kamu melihat orang yang
sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami
lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu,
namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)

Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu
akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu,
kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS
102:3-4)

Sumber : KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM,

Sufi Road : Mencintai Madinah

Habib Munzir Almusawa www.majelisrasulullah.org


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

(صحيح البخاري)

“Wahai Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah.” ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menyambungkan rantai keluhuran, kebahagian dan rahmat-Nya sepanjang waktu dan zaman, dengan putaran roda kehidupan yang terus berputar tiada berhenti, dan roda kehidupan itu terus bergulir dan mendekat kepada kematian, bergerak dari waktu kelahiran dan akan berhenti saat nafas yang terakhir dihembuskan, setiap putaran kehidupan itu melewati kenikmatan dan kesedihan,
kesedihan adalah sebagai sarana untuk sabar, tabah dan bersyukur , sebagaimana dikatakan oleh sayyidina Umar bin Khatthab RA dalam kitab Al Adab Al Mufrad oleh Al Imam Al Bukhari : Aku bersyukur atas musibah karena 3 hal, yang pertama karena musibah tidak datang pada aqidahku, padahal Allah Maha Mampu memberikan musibah itu namun Allah tidak memberikannya. Kedua, Allah subhanahu wata’ala mampu memberi musibah yang lebih besar namun Allah tidak memberikannya. Ketiga, Allah jadikan setiap musibah sebagai penghapus dosa. Jadi walaupun kita tidak senang dengan musibah ( tidak ada yang senang dengan musibah, semua manusia menginginkan kenikmatan), namun jika datang musibah hiburlah dengan mengingat bahwa Allah Maha Mampu memberi musibah yang lebih besar dari itu dan ingatlah bahwa musibah yang menimpamu sedang mengikis dosa-dosamu, yang mana jika dosa itu tidak terkikis maka dosa itu akan membawa musibah yang lebih besar di alam kubur dan di akhirat. Di saat kita dalam kenikmatan maka perbanyaklah untuk bersyukur karena dengan bersyukur akan bertambah kenikmatan yang lebih besar lagi, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

( إبراهيم : 7 )

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". ( QS. Ibrahim : 7 )

Kenikmatan begitu banyak diantaranya berupa kenikmatan melihat, mendengar, berbicara, dan lainnya dari segala bentuk kenikmatan, itulah bentuk anugerah Ilahi yang tidak pernah berhenti diberikan kepada hamba-hamba-Nya, kepada mereka yang baik, yang shalih, yang fasik, yang dzalim, dan yang jahat tanpa terkecuali, namun tentunya berbeda pandangan Allah terhadap hamba yang jahat dan yang baik . Berbeda di sisi Allah antara hamba yang melewati hidupnya hanya untuk makan dan minum saja atau hanya untuk hal keduniawian saja, dengan hamba yang melewati hidupnya dengan penuh kerinduan kepada Allah, hamba yang melewati hidupnya dengan indahnya majelis dzikir. Dan penuntun termulia dari kesemua kemuliaan adalah sayyidiana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kita fahami bahwa tempat yang paling dicintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Madinah Al Munawwarah. Tempat yang paling dimuliakan adalah Makkah Al Mukarramah namun tempat yang paling dicintai nabi Muhammad adalah Madinah Al Munawwarah, dalilnya adalah hadits yang tadi kita baca, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi.”

Bahkan meminta leebih dari kecintaannya terhadap Makkah, maka hal ini menunjukkan bahwa cinta sangat diizinkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan dilantunkan dalam doa untuk mencintai Madinah Al Munawwarah lebih dari Makkah Al Mukarramah, meskipun Makkah adalah wilayah haram yang termulia namun yang tercinta adalah Madinah Al Munawwarah. Hal ini juga terbukti dari doa sayyidina Umar bin Khatthab RA dalam riwayat Shahih Al Bukhari :

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الشَّهَادَةَ فِي بَلَدِ نَبِيِّكَ

" Wahai Allah berilah aku mati syahid negeri Nabi-MU "

Mengapa sayyidina Umar tidak meminta agar wafat di Makkah? karena sayyidina Umar ingin jasadnya berdampingan dengan jasad rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demi cintanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala menjadikan medan Madinah Al Munawwarah sebagai tempat berkumpul para sahabat dalam perjuangan dakwah Islam, yang disaat itu meluas di Madinah hingga ke segala penjuru, sedangkan dakwah di Makkah tidak meluas, padahal Madinah tidak memiliki kelebihan dibandingkan Makkah yang termasuk kota para nabi dan rasul. Makkah adalah kota nabi Ibrahim, nabi Isma’il, dan lainnya, sedangkan Madinah tidak mempunyai sejarah para nabi, namun Madinah adalah kota para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Di saat penduduk Makkah membenci dan mengusir nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka wilayah-wilayah lainnya tidak mau menerima nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk datang kepada mereka, karena jika mereka datang maka pasukan quraisy akan mneyerang mereka, namun kota Madinah membuka pintu seluas-luasnya untuk sayyidina Muhammad dan para pengikutnya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, saat Fath Makkah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Makkah Al Mukarramah, maka orang-orang Madinah bersedih dan menangis, dan tersebar ucapan bahwa rasulullah telah pulang ke kampung halamannya, yaitu Makkah Al Mukarramah. Maka rasulullah dikabari oleh Jibril AS akan hal ini, lalu Rasulullah berkata :

كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ

” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian “

Maka mereka pun memeluk nabi dan menangis karena haru dan gembira. Kampung halaman rasulullah bukanlah tempat kelahirannya, namun kampung halaman beliau adalah tempat para pecinta beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Jakarta menjadi kota pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, amin.

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukan ziarah di malam hari ke pemakaman Baqi’ yang berdekatan dengan Masjid An Nabawy. Diatara para sahabat yang dimakamkan disana adalah sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib Ra, sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ Ra, dan para sahabat besar lainnya dan juga dimakamkan disana beberap syuhada’ Uhud.

Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wafat beliau meninggalkan 120.000 sahabat. Dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh bahwa dari 120.000 sahabat rasulullah, hanya 10.000 sahabat yang dimakamkan di Madinah Al Munawwarah, maka kemana 110.000 sahabat yang lainnya?!. Mereka semua menyebar ke seluruh penjuru barat dan timur untuk menegakkan syiar “Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah”. Jelaslah bahwa perjuangan para hamba yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah ditentukan oleh Allah dengan tinta emas, mereka menjadi pahlawan di seluruh penjuru barat dan timur, kemana pun mereka pergi mereka menjadi pahlawan luhur karena mereka membawa risalah nabawiyah yang diajarkan oleh sang nabi dari Allah subhanahu wata’ala. Maka perbanyaklah doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun berdoa dengan doa ini :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi.”

Yang mana di Madinah Al Munawwarah terdapat makam rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tempat berjuangnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tempat bersatunya kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang dakwah mereka meluas hingga ke wilayah-wilayah lainnya di berbagai penjuru, dan pusat dari perluasan dakwah itu adalah di Madinah Al Munawwarah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar dalam menyampaikan tausiah, dan saya menyampaikan salam dari guru mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, kita bertemu di Dubai menuju Kairo, lalu saya meneruskan ke Jeddah dan beliau melanjutkan ke Maroko. Dan diantara wejangan yang banyak beliau sampaikan adalah agar kita semakin mempersatukan diri dalam perjuangan dakwah dan kedamaian karena negeri-negeri lain banyak yang dihantam dan berpecah belah karena kaum muslimin terpecah belah. Jadi kita selalu berusaha untuk menyatukan diri, meskipun berbeda pakaian, berbeda pendapat, berbeda partai misalnya , berbeda pekerjaan atau yang lainnya maka jangan sampai semua itu memecah belah persatuan ummat Islam. Kita berusah untuk menjadi penyatu dalam perpecahan ini dan berjuang dalam aktifitas kita masing-masing dengan pekerjaannya, sekolahnya dan lainnya, sedikit demi sedikit kita membenahi umat ini karena dalam waktu dekat atau lambat Indonesia akan menjadi negeri kebanggaan muslimin di seluruh dunia. Dan diantara yang disampaikan beliau adalah bahwa beliau tidak bisa datang ke Indonesia kecuali 1 tahun sekali saja. Jadi Multaqa Ulama’ di bulan Rajab , mungkin wakil beliau yang akan datang. Dan ketika itu saya sempat memperlihatkan trailer Maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di Monas bersama para ulama’ dan bapak presiden dan para menteri, melebihi 2 juta muslimin muslimat yang datang dari segala penjuru, dan kebetulan trailer itu ada di handphone disaat beliau me)lihat trailer itu beliau mengucapkan : “Laa ilaaha illallah, Ad Dzikr ‘azhiim, Ad Dzikr ‘azhim, Ad Dzikr ‘Azhim ( sungguh dzikir itu agung”, namun bukan berarti tidak perlu beraktifitas, tidak perlu bekerja atau sekolah dan lainnya, namun kita tetap dalam aktifitas kita masing-masing dan tidak lupa berdzikir untuk mempertenang hati dan hati tidak akan tenang jika permasalahan tidak selesai, berarti dzikir itu menyelesaikan masalah kita karena dengan dzikir tenanglah hati kita. Dan diantara hal yang disampaikan oleh beliau adalah tugas yang diberikan kepada saya dan teman-teman seperjuangan untuk lebih giat lagi agar mempercepat munculnya kedamaian di wilayah dan bangsa kita. Beberapa hari yang lalu kita mendengar musibah yang menimpa negeri yang paling maju dalam bidang elektronik, dimana musibah itu menghabiskan 50 kota, dan setelah kejadian ini secara logika alat-alat elektronik akan merosot, maka pasaran produk dari Indonesia dan negeri-negeri berkembang yang terhambat atau terinjak selama ini akan mulai meningkat. Matahari kemakmuran akan segera muncul insyaallah. Kita berdoa dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga mempercepat kemakmuran di wilayah kita dan mengabulkan seluruh hajat kita, dan menghapus dosa-dosa kita, Ya Allah jangan sisakan seluruh wajah ini kecuali Kau pastikan semua kami wafat dalam Husnul Khatimah, jika akan datang kepada kami musibah maka singkirkan seluruh musibah sebelum datang kepada kami, dan lipatgandakan seluruh kenikmatan sebelum kenikmatan itu datang..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Sufiroad : Tobat Nasuha...

Para sufi umumnya memandang tobat sebagai langkah pertama yang harus dilakukan oleh setiap orang yang ingin menempuh jalan tasawuf. Ia merupakan sarana pertama menuju Allah. Artinya bahwa maqam tobat itu merupakan awal perjalanan bagi mutashawiff, yaitu pengikut tasawuf yang melakukan mujahadah menuju perjumpaan dengan Allah. Sebab untuk menuju jalan tersebut harus suci lahir dan bathin agar mudah menerima taufik , hidayah dan inayah dari Allah SWT.

Tobat yang paling utama yang dikejar oleh orang tasawuf adalah TOBAT NASUHA, yaitu tobat yang semurni-murninya betapa beratnya persyaratannya mereka harus berjuang untuk mendapatkannya. Tobat nasuha dapat berupa kesadaran seseorang yang mendorong dirinya untuk memperbaiki semua kesalahand an kekurangan masa lalu, dengan tekad bulat untuk tidak mengulanginya kembali di masa depan. Karenanya tobat yang murni ini harus disertai dengan keterbangunan jiwa yang melahirkan kesadaran akan segala kesalahannya dan tekad untuk memperbaikinya. Makanya untuk mencapainya tidaklah mudah, ada empat hal yang harus dilakukan untuk mencapai tobat nasuha:Pertama, menyadari bahwa maksiat yang mendatangkan dosa itu amatlah keji dan berdampak buruk, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun masyarakat luas. Sehingga ia harus benar-benar menyesali dosanya di masa lalu.
Kedua, menyadari sungguh-sungguh betapa dahsyatnya siksaan Allahatas orang yang berbuat dosa dan maksiat, sehingga ia bertekad bulat untuk ben ar-benar menjauhi maksiat dan tidak melakukannya lagi
Ketiga, menyadari akan kekurangan dan kelamahan dirinya yang tak akan tahan menanggung siksaan diakherat nanti, sehingga iasangat mendambakan ampunan dari Allah dan berniat akan mengisi hidupnya untuk banyak memohon ampun pada Allah.
Keempat, kalau punya kesalahan dan dosa yang berhubungan dengan hak-hak sesama manusia (huluqul adami), maka secara khusus ia mau ebrusaha untuk menyelesaikannya dengan sebaik baiknya hingga tercapai suatu kerelaan (‘an taradhin)
Untuk itu guna meraih maqam tobat nasuha sangatlah diperlukan kejujuran dan kesungguhan hati seseorang dalam memohon ampunan dan bertobat kepada Allah SWT. Dan juga disertai perasan yang tulus dan ikhlas untuk bersedia meninggalkan sama sekali dosa dosa dimasa lalu yang mengotori hidupnya. Tentunya proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran untuk terus menerus mengendalikan dan memerangi hawa nafsunya.
Dalam kisah-kisah kehidupan sufi, kadang tobat dilakukan setelah melewati peristiwa aneh dan luar biasa yang menggugah perasaan seorang sufi, sehingga ia menyadari bahwa dirinya berada didalam kesesatan. Ibrahin bin Adham misalnya, diwirayatkan segera meninggalkan istana ayahandanya disaat berburu ia mendengar suara ebrulang-ulang kali yang memperingatkannya bahwa bukan untuk kehidupan mewah itu ia diiptakan, dengan suara “Bukan untuk itu kamu diciptakan, bukan untuk itu kamu diperintah” Dua kali suara itu ebrkata lantang dan pada kali ketiga suara datang dari bagian depan pelana kudanya, sehingga ibrahim bin adham ebrkata “Demi tuhan, aku tidak akan ingkar dari Tuhan sesudah ini , sepanjang Tuhanku selalu melindungiku dari dosa.”
Begitu pula ajaibnya Dzun nun Al Misri, seorang sufi mesir ternama, ketika ditanya tentang pengalaman tobatnya “apakah yang menyebakan dirimu bertobat:, jawab beliau “Pada suatu hari aku berjalan-jalan dan melihat seekor burung jatuh dari sangkarnya. Dalam hati aku berkata “betapa celakanya burung ini! Setelah aku berkata demikian, terlihat olehku tanah merekah kemudian tampaklah sebuah wadah seperti piring yang satu berisi makanan dan yang satu berisi air. Maka keduanya aku santap dan kemudian aku bertobat. Begitu Dzun Nun mengutarakan kisahnya.

Demikianlah sekilas mengenai tobat, semoga kita selalu diberikan Allah kesempatan untuk terus bertobat sebanyak-banyaknya sebelum nafas diambil dari tubuh ini.