Wafatnya Adalah Kehidupan Sejatinya
Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan beliau ? Bagaimana kita tidak dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tesentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?
Dalam haji wada’nya (haji perpisahan), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan sekitar 120.000 orang, “Wahai manusia,dengar dan perhatikanlah,sesungguhnya aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian selepas tahun ini.”
Semuanya terdiam, sambil terus mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Rasulullah SAW.
Beliau menasehati dan berwasiat kapada mereka tentang keterikatan mereka dengan Tuhan dan agama mereka.Ketika itu Allah menurunkan ayat.”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian,Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian,dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.”
Allah menghidupkan makna kehidupan yang dahsyat di tengah-tengah mereka,dalam suasana perpisahan dengan Rasulullah SAW.Saat itu, perpisahan dengan beliau adalah sebuah sisi kehidupan bagi umatnya setelah itu.Kemudian Rasulullah SAW pun pulang ke kota Madinah.
Bulan Rabi’ul Awwal tiba.
Di awal bulan itu,tubuh Rasulullah SAW terasa lemah.Beliau terserang sakit demam.Tubuhnya pun disirami air sejuk.Beliau bersabda, “Siramilah aku denagn air supaya aku dapat keluar untuk mengucapkan salam perpisahan dengan para sahabatku.”
Baginda pun disirami air itu, yang membuat tubuhnya terasa lebih segar.
“Sahabat Teragung”
Kemudian beliau keluar rumah,melangkahkan kakinya dengan diiringi kedua sepupunya,Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas,radhiyallahu’anhuma.
Beliau menemui para sahabat.
Saat melihat hadirnya Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka,tampak betapa kegembiraan menyemburat dari wajah para sahabat.Kemudian Rasulullah SAW duduk di atas mimbarnya.
Para sahabat terdiam,bersiap untuk mendengarkan segala apa yang akan diucapkan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW pun berkhutbah,khutbah perpisahan.Beliau bersabda,”Seseorang telah diberi pilihan,antara kehidupan di dunia atau menjumpai Ar-Rafiqul A’la (“Sahabat Teragung”,Allah SWT).”
Rasulullah SAW pun kemudian mengulang-ulang kata itu, “Ar-Rafiqul A’la,Ar-Rafiqul A’la,Ar-Rafiqul A’la…”
Wahai orang yang berakal,adakah kehidupan Allah akan berakhir? Adakah hubungan dengan Allah akan menemui titik penghabisan? Hubungan dengan Ar-Rafiqul A’la itu sesungguhnya merupakan kehidupan itu sendiri. Ucapan Rasulullah SAW itu menandakan bahwa ia memilih kehidupan yang sejati.
Hati sahabat Abubakar RA tersentuh.Ia pun berkata kepada Rasulullah SAW,”Ya Rasulullah,demi ayah dan ibuku,biarlah ruh-ruh kami, anak-anak kami,dan sanak keluarga kami,serta harta-harta kami,sebagai tebusan bagimu.”
Melihat Abubakar RA mengatakan itu,sahabat Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata, “Ada apa dengan orang tua ini? Apakah ia (Abubakar) sudah pikun?”
Rasulullah SAW telah menceritakan ihwal lelaki ini (Abubakar RA), yaitu seorang yang telah meyakini penuh bahwa diri beliau sebagai utusan Allah SWT (saat yang lain banyak yang mengingkarinya).Kelak Abu Sa’id mengatakan, “selepas wafatnya Rasulullah SAW, Aku baru tahu,perkataan Abubakar itu perkataan yang tepat.”
Rasulullah SAW memandang Abubakar RA. Pandangan yang penuh makna.Kemudian beliau berkata, “Biarkanlah sahabatku berkata kepadaku, Orang yang paling percaya kepadaku adalah Abubakar. Sekiranya aku memilih kawan dekat,niscaya aku akan memilih Abubakar. Tutuplah pintu rumah kalian yang menuju masjidku,kecuali pintu rumah Abubakar.”
Wasiat-wasiat Rasulullah SAW
“Ya Rasulullah, berwasiatlah kepada kami,”ujar para sahabat.
Kala itu, di antara yang diwasiatkan Rasulullah SAW, ”Berwasiatlah kalian terhadap para wanita dengan kebaikan.’
Wasiat ini menyinpan makna yang luar biasa yang beliau katakan di saat beliau hendak mengucapkan salam perpisahan kepada sekalian umatnya. Maknanya agar kita mewujudkan hubungan yang baik sesama kita sepeninggal beliau, yang dengannya kehidupan akan berjalan harmonis. Beliau mewasiatkan ini agar kita dapat menggapai kehidupan yang sebenarnya, yaitu tatkala kita menjalani kehidupan ini penuh dengan kebaikan.
Beliau juga berwasiat, “ Dan berwasiatlah kalian dengan baik terhadap keluargaku.” Beliau ingin kita dapat terus hidup berkesinambungan dengan beliau.
Kenapa beliau mengatakan “ keluarga” yang dinisbahkan sebagai keluaga beliau, “keluargaku”. Hal itu disebabkan beliau ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya perpindahan beliau dari alam dunia tidak dimaksudkan sebagai terputusnya hubungan umat dengan beliau. Seakan beliau mengatakan,”Hubungan kalian denganku tak akan terputus sekali kalian berhubungan dengan keluargaku.”
Wasiat beliau lainnya,”Janganlah kalian menjadi kafir selepas kepergianku dan janganlah kalian berperang satu sama lain.”
Beliaupun terus berwasiat kepada para sahabat dengan wasiat-wasiat lain yang beliau berikan kepada mereka.
Sebagian diantara mereka mengatakan,” Ya Rasullullah,jika engkau wafat,siapakah yang akan memandikanmu?” Beliau menjawab, “Seseorang di antara ahlul baytku.”
Hati merka amat tersentuh dengan perpisahan yang akan mereka lalui,perpisahan antara mereka dengan Rasulullah SAW.
Kemudian mereka berkata lagi, “Dengan apa engkau kami kafankan?”
Saat melihat rasa gundah melanda hati para sahabatnya,air mata Rasulullah SAW pun berlinang.Beliau menjawab,” (Bahan) dalam pakaianku ini,atau kain dari Yaman, atau jubah dari Syam,atau kapas dari Mesir.”
Abubakar Mengimami Shalat
Mereka terus bertanya kepada Rasulullah SAW dengan pertanyaan lainnya.Setelah benyaknya pertanyaan sebagai persiapan bagi para sahabat bila sewaktu-waktu Rasulullah SAW wafat dan meninggalkan mereka,Rasulullah SAW pun menangis. Lalu beliau bersabda,”Berlaku lembutlah kepada nabi kalian.”Kemudian beliau berdiri, melangkah pulang, dan memasuki rumah beliau.Beliau pun merebahkan diri di pembaringan.
Di saat yang sama, rasa bimbang semakin menggelayuti hati para sahabat. Kemudian mereka meninggalkan pekerjaan dan urusan mereka dan berkeliling di sekitar rumah Rasulullah SAW dan masjid beliau. Mereka ingin mengetahui perkembangan berita tentang Rasulullah SAW. Sampai tiba pada waktu shalat,sedangkan imam mereka (Rasulullah SAW) tidak kunjung keluar untuk shalat bersama mereka. Para sahabatpun semakin bertambah bimbang.
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah RA, “Perintahkan Abubakar untuk mengimami shalat.” Aisyah RA (putri Abubakar RA) berkata kepada beliau, “Ayahku seorang yang kurus dan aku khawatir ia akan menangis dan tak sanggup berdiri. Mintalah dari umar, ya Rasulullah.”
Rasulullah SAW menjawab, “Kalian seperti sahabat Nabi Yusuf AS. Perintahkanlah Abubakar untuk mengimami shalat.” Abubakar RA pun bangkit mengimami jama’ah shalat fardhu yang pertama dan shalat-shalat berjama’ah berikutnya.
Salam Perpisahan
Senin waktu shalat Subuh,12 Rabi’ul Awwal. Rasulullah SAW menyingkap tabir kain dari pintu rumah beliau. Pandangannya mengarah kepada para sahabat. Tampak mereka tengah shalat dengan khusyu’ dan tunduk di hadapan Allah SWT, di bawah pimpinan Abubakar RA.
Segala puji bagi Allah, saat Rasulullah SAW memperhatikan para sahabatnya itu, masjid pun bercahaya dengan kemunculan beliau. Sampai sebagian sahabat mengatakan, “ Hampir saja kami terlalaikan dari shalat kami ketika Rasulullah muncul.”
Abubakar RA hampir saja mundur dari pengimaman, sementara para sahabat yang lainnya hampir saja memalingkan pandangannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan beliau,”Tetaplah di tempat kalian.” Kemudian beliau menutup kembali tirai di pintu masuk rumah beliau itu.
Para sahabat mengatakan, “Itulah saat terakhir Rasulullah SAW memandangi para sahabatnya.”
Abdullah bin Mas’ud RA, pembantu Rasulullah SAW, mengatakan,ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengatakan, “Allah memelihara kalian,Allah memberkati kalian,Allah menguatkan kalian,Allah menolong kalian,Allah membantu kalian.” Inilah salam perpisahan dari seorang yang merindukan para sahabatnya.Para sahabatpun memberi salam kepada Rasulullah SAW dan keluar dari masjid.
Dikatakan,para sahabat bergembira saat mendapati Rasulullah SAW memperhatikan mereka dari pintu rumah beliau. Mereka menyangka kondisi kesehatan Rasulullah SAW telah berangsur pulih.Karenanya, sebagian dari mereka kemudian beraktivitas lagi seperti sedia kala,dan mereka menyangka bahwa itu adalah rahmat Allah SWT terhadap mereka.
Berita Kematian yang Menggembirakan
Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW meminta izin dari sekalian istri beliau untuk dirawat di rumahku,lalu mereka mengizinkan. Saat hari Senin itu,hari wafatnya Rasulullah SAW,tiba,ruh beliau diambil di rumahku sedangkan beliau ada dalam dekapanku.”
Ia berkisah, “Ketika kami semua sedang duduk,datanglah Fathimah sambil menangis. Caara berjalannya mirip cara berjalan ayahandanya, Rasulullah SAW. Kemudian beliau mendekap dan mengacupnya. Lalu beliau SAW membisikkan sesuatu di telinganya. Sesaat kemudian Fathimah mengangkat kepalanya . Ia menangis
Kemudian Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya, beliau ingin membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah. Fathimah mendekati ayahnya dan kemudian Rasulullahberbisik kepadanya. Sesaat setelah itu Fathimah kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa gembira yang merona di wajahnya. Aku tidak pernah melihat tangisan yang kemudian disusul dengan tertawa seperti itu.:
Aisyah RA pun bertanya kepada Fathimah RA, “Apa yang dibisikkan ayahandamu kepadamu?” Fathimah RA menjawab, “Jangan engkau hiraukan hal itu,karena aku tak mau membuka rahasia ini selagi beliau masih hidup.”
Kelak setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah bertanya lagi tentang hal itu. Fathimah mengatakan, “Ya, ketika aku mendekati ayahku, beliau berbisik kepadaku, ‘Wahai Fathimah,sekali dalam setahun Jibril mendatangiku untuk membacakan Al-Qur’an kepadaku dan pada tahun ini ia telah mendatangiku dua kali. Dan Allah telah memberikan pilihan kepada ayahmu, antara dunia dan Ar-Rafiqul A’la.’Ayahku memilih Ar-Rafiqul A’la. Dan aku diberi tahu bahwa nyawanya akan dicabut pada hari itu. Lalu aku pun menangis.
Kemudian beliau memanggilku lagi dan membisikan kepadaku, ‘Apakah engkau suka bahwa engkau menjadi penghulu wanita sekalian alam dan menjadi orang yang pertama kali akan menyusulku?’ Aku pun bergembira dengan berita dari ayahku itu.”
Kematian adalah sesuatu yang menyedihkan. Bagaimana dengan kabar kematianmu ini, wahai Zahra? Fathimah mengatakan, “Berita kematianku ini mempercepat pertemuanku dengan orang yang aku kasihi, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya bagiku.”
Dialog dengan Malaikat Maut
Aisyah melanjutkan kisahnya, “Sebelum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu adalah Jibril. Jibril meminta izin Rasulullah untuk masuk.
Beliau mengizinkannya.
Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A’la…, Ar-Rafiqul A’la… Kami tahu bahwa sangkaan kami adalah tepat.’
Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘ Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik sebelum dan sesudahmu.
Dan ia (jibril) mengatakan: Allah menyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu,”
Maka, wahai orang-orang yang berakal,apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian?
Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.
Kemudian malaikat maut mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A’la. Namun jika engkau tak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau inginkan.”
Rasulullah memilih Allah Ta’ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung.
Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah kau mengizinkanku?”
Rasulullah SAW menjawab, “Terserah apa yang akan kau lakukan, Wahai malaikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku.”
“Hhhhhhhhhh……….” (Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit).
Rasulullah SAW kembali mengatakan kepada malaikat maut, “Berlaku lembutlah kepadaku, wahai malaikat maut.”
Perhatikanlah (meski dicabut dengan selembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai dengan kematian dalam kehidupan mereka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut.
“Beratkan bagiku,Ringankan bagi umatku”
Maka menanjak naiklah ruh mulia Baginda Rasulullah SAW, yang ditandai dengan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda.Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi.
Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian meletakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukan tubuhnya.
Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau.”Hhhhhhhh……” Lantaran rasa sakit yang ia alami pada saat sakaratul maut. Beliau pun mengatakan, “Sesungguhnya maut itu amatlah berat, YA Allah,ringankan beratnya maut terhadapku”
Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyampaikan salam atasmu dan Dia menyatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat padang yang menusuk tubuh.”
Rasulullah SAW pun menangis dengan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian semua. Beliau berdoa, “Ya Allah, beratkanlah (sakaratul maut) ini atasku, tapi ringankanlah atas umatku.”
Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan Rasulullah SAW? Bagaiman kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?
Pesan Terakhir
Aisyah RA berkata, “Saudaraku,Abdurrahman bin Abubakar, masuk dan ia sedang membawa sebatang kayu siwak yang ujungnya belum dilembutkan. Aku lihat Rasulullah memandang kearahnya dan adalah Rasulullah SAW menyukai siwak.”
Maka, apakah kalian menyukai apa yang beliau suka dari sunnah-sunnah beliau? Adalah Rasulullah SAW menyukai siwak.
Aisyah menyatakan,”Aku bertanya kepada Rasulullah,’Ya Rasulullah, apakah engkau menginginkannya (siwak)?’
Rasulullah, di saat beliau sudah tak dapat lagi berkata-kata dan kami pun tak dapat mendengar sesuatu pun darinya, memberi isyarat dengan menganggukkan kepala beliau, pertanda beliau menginginkan untuk bersiwak. Dan perkara yang terakhir beliau katakana adalah, ‘Ash-shalah….ash-shalah….ash-shalah…’-‘Shalat…. Shalat…. Shalat…..’
Maka,apakah yang kalian lakukan terhadap wasiat Nabi kalian di saat-saat akhir dari kehidupannya di dunia ini? Shalat adalah hubungan kalian dengan Tuhan, agar terjalin hubungan yang hakiki dengan-Nya.
Wahai orang yang mendahulukan perkerjaan dunianya dan hawa nafsunya sebelum shalat,yang mendahulukan keterlenaannya disbanding shalatnya,ingatlah, wasiat yang terakhir dituturkan oleh kekasih kalian di akhir usianya adalah,’Ash-shalah…. Ash-shalah… ash-shalah….’, di samping ‘Berwasiatlah dengan kebaikan terhadap para wanita’, dan juga,’Aku berwasiat kepadamu dengan kebaikan terhadap keluargaku.’
Sesaat kemudian,lidah Rasulullah SAW tampak kaku. Tapi, ruh beliau belum tercabut. Beliau masih berkata-kata.” Dan majelis ini, kata Habib Ali, adalah salah satu kenyataan yang menggambarkan keadaan ruh Rasulullah SAW.
Kalaulah tidak karena kehidupan Rasulullah SAW yang wujud dalam diri kita,niscaya kita tidak tersentak saat disebut perihal kisah wafatnya Rasulullah SAW. Bergetarnya hati kalian saat disebutkan perihal kejadian-kejadian pada saat wafatnya Rasulullah SAW adalah sebagiam dari petunjuk yang nyata bahwa kematian beliau adalah sebuah kehidupan.Adakah kematian yang dapat menggerakkan banyak hati?
Sejahteralah Jasad Beliau
Kemudian, Aisyah melanjutkan, “Rasulullah SAW memberikam isyarat lewat anggukan kepalanya, sebagai pertanda keinginannya. Maka aku berikan kepada beliau kayu siwak yang belum dilembutkan itu. Tapi kemudian aku mengambilnya dari tangan beliau ketika kulihat itu tak dapat beliau gunakan karena keras,belum dilembutkan. Lalu aku melembutkannya dengan mulutku.
Aku bangga,karena,di kalangan para sahabat, benda terakhir yang masuk ke mulut beliau adalah air liurku. Lalu aku meletakkannya dalam mulut beliau. Beliau pun memegangnya dengan tangan beliau sendiri,”
Sakaratul maut yang dialami Rasulullah semakin mendalam. Cahaya memancar dari wajah beliau, dan cahaya itu meliputi keluarganya. Waktu terus berjalan.
Ruh mulia Rasulullah SAW telah sampai pada kerongkongannya. Beliau membuka kedua kelopak bola matanya. Kemudian beliau menunjukkan isyarat dengan jari telunjuknya sebagai kesaksian atas keesaan Sang Pencipta, yaitu isyarat ketauhidannya.
Tak lama kemudian, beliau pun mengembuskan napas terakhir.
Sejahterakanlah jasad beliau yang agung setelah melalui hari-hari yang melelahkan, lantaran segala hal ia baktikan demi keselamtan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau setelah perutnya kerap kali diikat dan diganjal batu karena kelaparan, demi pengorbanannya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang pernah dilempari batu hingga melukai beliau,demi dakwahnya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang gerahamnya pernah dipatahkan, lantaran kesungguhan beliau dalam membela agama yang akan menyelamatkan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang dahinya pernah dilukai sampai mengalir darah dari dahinya yang mulia itu, lalu beliau menahannya dengan tangan beliau agar darah suci beliau tak sampai jatuh ke tanah, sebagai rahmat bagi mereka, kaum yang memerangi beliau, dan bagi kita, dari kemurkaan Allah SWT.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang mata panah pernah menembus daging pipinya,demi kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang kakinya sampai bengkak disebabkan pengabdian beliau kepada Allah SWT dan demi dakwah kepada kita.
Sejahterakanlah jasad yang telah memikul kesukaran,keletihan, kesakitan,dan,kelaparan karena kita.
Terhubung tak Berujung.
Ketika para penghuni rumah itu menyaksikan kepergian Rasulullah SAW, yaitu setelah ruh beliau meninggalkan jasad beliau, tangis pun meledak menyelubungi seisi rumah.
“wahai Nabi Allah….! Wahai Rasulullah…! Wahai kekasih Allah….!”
Sesaat kesedihan menyelubungi rumah itu, seketika, suasana penuh haru menyemburat di wajah para sahabat yang ada di dalam masjid.
Tak lama kemudian,berita wafatnya Rasulullah pun kemudian menyebar begitu cepat ke segenap penjuru kota Madinah.
Musibah Terberat
Kembali lagi sejenak pada apa yang dialami Sayyidina Ali bin Abu Thalib KW pada detik-detik yang sangat bersejarah itu. Saat itu, ia tengah duduk di sisi tubuh mulia Rasulullh SAW.
Ketika ia melihat guncangan ruh beliau, ia melihat Sayyidatuna Aisyah RA menangis. Maka kemudian ia mengangkat tubuh Rasulullah SAW dan meletakkannya di kamar beliau. Setelah meletakkan tubuh nan suci itu, di saat ruh Rasulullah SAW hampir terlepas dari jasadnya, Sayyidina Ali pun terjatuh dan kemudian tak kuasa untuk berdiri.
Maka kemudian,tatkala suara tangisan memenuhi ruangan rumah itu,terdengarlah suara yang tidak terlihat siapa yang menyatakannya. Mereka mendenga suara yang mengatakan,”Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Ya Ahlal Bait, a’zhamallahu ajrakum. Ishbiru wahtasibu mushibatakum. Fa inna Rasulallah farathukum fil jannah.”-Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Wahai penghuni rumah,semoga Allah membesarkan ganjaran pahala kalian. Bersabarlah dan bermuhasabahlah dengan musibah yang kalian alami ini. Maka sesungguhnya Rasulullah mendahuluimu sekalian di surga.”
Ketika suara itu terdengar, merekapun terdiam dan menjadi tenang. Setelah suara itu berhenti,mereka pun menangis lagi.
Demi Allah, Dzat Yang Disembah,kalian tidak pernah diberi musibah seperti musibah yang mereka rasakan. Tiada satu rumah pun yang pernah merasakan kehilangan seperti yang mereka rasakan.
Kabar itu tersiar cepat di kota Madinah. Para sahabat merasa kebingungan. Ketika dikatakan kepada mereka “Wahai para sahabat, tidakkah kalian tahu, Rasulullah SAW adalah manusia, dan sebagai manusia beliau pun pasti mengalami kematian?”, mereka mengatakan,”Ya, tapi kehidupan beliau kekal dalam diri kami dan telah menjadi cambuk dahsyat pada jiwa kami.”
Hati para sahabat terus bergetar.
Kala itu, Sayyidina Umar bin Khathab menghunuskan pedangnya sambil mengibas-ngibaskannya di jalan. Karena rasa sedih yang begitu mendalam, ia berteriak,”Sekelompok dari golongan munafik berkata bahwa Rasulullah telah mati. Rasulullah SAW tidak wafat. Akan tetapi beliau menjumpai Tuhannya sebagaimana perginya Musa AS. Dan beliau kembali kepada kita. Siapa yang menyatakan Rasulullah telah mati akan kutebas dengan pedangku ini.”
Setelah sampai kabar kepada Abdullah bin Zaid RA, ia menangis,kemudian menengadahkan tangannya dan berdoa, “Ya Allah, ambillah penglihatanku ini,sehingga aku tak dapat melihat seorang pun lagi selepas kepergian Rasulullah SAW.” Maka,ia pun kehilangan penglihatan pada saat itu juga.
Sahabat yang lain, ketika mendengar berita tentang Abdullah bin Zaid RA,berteriak, “Ya Allah,ambillah ruhku, dan tiada lagi kehidupan setelah wafatnya Rasulullh SAW.” Tiba-tiba ia terjatuh.Allah mengambil nyawanya seketika itu juga.
Sementara itu Sayyidina Ustman RA membisu. Ia tidak dapat berkata apa-apa.
Hidup dan Mati dalam Kebaikan
Ketika pikiran mereka terganggu,mereka kebingungan, maka telah sampai berita kepada Sayyidina Abubakar Ash Shidiq RA, dan ia pun berada dalam keadaan yang menyedihkan itu. Dari arah rumahnya, ia menuju ke Masjid Nabawi dan memasukinya.
Ia mendapati Sayyidina Umar dan para sahabat yang lain tengah dalam kebingungan.
Kemudian ia melintasi masjid itu dan sampai di rumah Rasulullah. Ia meminta izin dari penghuni rumah untuk dapat masuk ke rumah dna ia diizinkzn untuk masuk.
Periwayat kisah ini mengatakan,Sayyidina Abubakar RA masuk dalam keadaan dadanya berdebaran dan tampak ia penuh keluh kesah, seakan-akan nyawanya pun akan dicabut pada saat itu.
Ia menangis. Kemudian terdengar darinya suara bagaikan bergolaknya air yang tengah mendidih. Ia memalingkan wajahnya, sementara air matanya terus bercucuran. Saat itu,jasad mulia Rasulullah SAW diselimuti kain. Lalu ia membuka kain selimut yang menutupi jasad mulia Rasulullah SAW,demi menatap wajah paling mulia itu.
Ia memandang wajah Rasulullah SAW dna mendekatkan wajahnya. Dikecupnya kening dan pipi Rasulullah SAW. Lalu, sambil menangis ia mengatakan,”Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, betapa mulianya kehidupan dan wafatmu. Allah SWT tidak akan menimpakan dua kali wafat untukmu. Jikalau tangisan itu bermanfaat bagimu, niscaya kami akan biarkan air mata ini terus berlinang. Tetapi, tiada tempat mengadu selain Allah SWT.
Susungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau, ya Muhammad, adalah utusan Allah. (Aku bersaksi bahwa) engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanah. Dan engkau meninggalkan kami di atas yang bersih.”
Sayyidina Abubakar tenggelam dalam kesedihan. Napasnya pun tersengal-sengal. Ia pandangi kembali wajah Rasulullah SAW seraya berkata,” Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad.”
Wahai para sahabat yang mendapat didikan langsung dari RAsulullah SAW. (Dan untuk Sayyidina Abubakar) wahai sahabat Rasulullah ketika di Gua Tsur. Jadi engkau memahami bahwa perpindahan Rasulullah SAW itu adalah suatu kehidupan baru Rasulullah SAW. Sehingga, kalian mengatakan, “Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad.”
Makna “siapa Menyembah Muhammad…”
Sayyidina Abubakar mengusap air mata dari kedua matanya yang mulia itu dengan tangannya. Lalu ia kembali menyelimuti kain penutup wajah mulia Rasulullah SAW. Ia pun kemudian beranjak kepada keluarga Rasulullah SAW dan berusaha untuk menenangkan mereka.
Pada saat ia menangis dan mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa beliau hidup dan wafat dalam kebaikan, saat itu para wanita seisi rumah itu pun menangis. Abubakar RA kemudian keluar dan ia melihat kembali betapa seisi masjid berada dalam kepiluan.
Kemudian ia menaiki mimbar kekasihnya, tuannya, dan pemimpinnya, Rasulullah SAW. Langkah kakinya telah membawanya ke mimbar itu. Maka, setelah memuji Allah SWT, bersalawat atas Nabi, ia pun mengutip firman Allah SWT,”Setiap jiwa akan mendapatkan kematian.” Ia juga membacakan ayat,”Dan tidaklah Muhammad itu kecuali sebagai rasul dan telah berlalu para rasul sebelumnya.” Dan ayat,”Sesungguhnya engkau mati dan mereka juga mati.”
Ia berkata lagi,”Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah,Allah itu hidup dan tidak mati.”
Kalimat ini mengandung pemahaman yang dalam. Pemahamannya bukanlah seperti pemahaman mereka yang jahil pada saat ini, yang memahami kata-kata “Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat” sebagai putusnya hubungan dengan Nabi SAW.
Demi Allah, Tuhan Yang Disembah, makna kalimat itu adalah siapa yang mengaitkan dirinya dengan kehidupan Rasulullah SAW di dunia saja, kehidupan Rasulullah SAW telah berakhir. Rasulullah telah wafat. Namun siapa yang menjadikan hubungannya dengan Rasulullah SAW sebagai hubungannya dengan Allah SWT, Allah itu Mahahidup dan tidak mati.
Jadi, dengan pengertian bahwa hubungan kalian dengan Rasulullah SAW tidak akan pernah berakhir. Karena, hubungan dengan Rasulullah SAW memiliki kaitan erat dengan hubungan kepada Allah SWT, Yang Mahahidup. Kaitan ini adalah kaitan yang hidup dan tidak pernah mati.
Kemudian Sayyidina Abubakar berpaling kepada Sayyidina Umar, menghiburnya dari kebimbangan yang ia rasakan.
Aroma Kesturi
Di rumah Rasulullah SAW, Sayyidina Ali pun telah bangun setelah terjatuh lantaran kesedihan. Ia bersama Sayyidina Abbas mengurus jenazah Rasulullah SAW. Kemudian, turut pula bersama itu kedua putra Sayyidina Abbas, yaitu Abdullah dan fadhl.
Dibantu oleh mereka, Sayyidina Ali KW memandikan jasad mulia Rasulullah SAW dengan pakaian yang masih beliau kenakan tanpa membuka aurat beliau sedikit pun. Sayyidina Ali mengatakan, “Kami memandikan beliau dan beliau masih mengenakan pakaiannya. Saat kami hendak memiringkan beliau ke kanan, beliau menghadap kekanan dengan sendirinya. Ketika kami hendak memiringkan beliau ke kiri, beliau menghadap ke kiri dengan sendirinya. Kami tidak mendapati seorang pun yang membantu kami untuk memandikan beliau, kecuali jasad beliau sendiri yang berubah kedudukannya.”
Katanya lagi, “Ketika kami memandikan beliau,angin yang sejuk dan nyaman bertiupan kearah kami seakan-akan kami merasakan para malaikat masuk dan bersama dengan kami pada saat itu, ikut memandikan jasad mulia Rasulullah SAW. Tidaklah ada air yang jatuh dari jasad mulia baginda Rasulullah, melainkan ia lebih wangi dari aroma kesturi. Kemudian, kami kafankan jasad beliau.”
Salah Satu Taman Surga
Di tempat lain, para sahabat saling bertanya,”Di manakah akan kita makamkan jasad Rasulullah SAW?”
Sebagian dari mereka ada yang mengatakan agar jasad Rasulullah SAW dimakamkan di Baqi’. Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih nya menyatakan, sebagian sahabat mengatakan agar beliau dimakamkan di sisi mimbarnya, yaitu di dalam Masjid Nabawi.
Hal ini menjelaskan bahwa, ketika Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud mereka, laknat tersebut bukanlah karena sujud di suatu masjid yang ada kuburnya di dalamnya. Sebab, bila cara pandang seperti itu benar, niscaya para sahabatlah yang terlebih dahulu memahami akan hal tersebut, sebagai buah dari kehidupan mereka bersama Rasulullah SAW.
Sampai kemudian Sayyidina Abubakar RA mengatakan kepada para sahabat yang lainnya, “Sesungguhnya para nabi dikuburkan di tempat mereka mengembuskan napasnya yang terakhir, sebagaimana yang aku dengar dari sabda Rasulullah SAW.”
Maka digalilah lubang di dalam kamar Rasulullah SAW sebagai tempat untuk menyemayamkan jasad suci beliau. Kemudian turunlah Sayyidina Ali KW ke dalam lubang kubur Rasulullah SAW, yang, demi Allah, tak lain merupakan salah satu taman dari taman-taman surga. Selain Sayyidina Ali, ikut turun pula pembantu Rasulullah SAW yang bernama Syaqran.
Syaqran berkata, “Aku melihat ke atas, tempat yang pernah diduduki Rasulullah SAW. Hatiku pilu. Kini kami harus meletakkan jasad Rasulullah SAW dalam kuburnya. Aku melihat ke atas tempat duduk Rasulullah SAW. Aku mengambilnya. Aku pun berkata,
“Ya Rasulullah, tiada satu pun yang boleh duduk di atas tempat duduk ini selepasmu, wahai Rasulullah!.”
Sayyidina Ali pun memakamkan Rasulullah SAW dalam kubur beliau, bersama para sahabat yang terlibat saat pemakaman itu.
Sang Putri Menyusul
Ketika mereka telah bubar usai pemakaman, datanglah Sayyidatina Fathimah Az-Zahra. Dialah yang tidak ada kesedihan yang lebih mendalam melanda seseorang setelah kepergian Rasulullah SAW selain yang dialami oleh putri Rasulullah SAW ini.
Dalam keadaan menangis, Sayyidatina Fathimah melihat Anas bin Malik RA, pembantu ayahandanya, yang besar dibawah asuhan Rasulullah SAW dan mendapat didikan Rasulullah SAW, di rumah beliau itu. Kemudian ia berkata kepada Anas, “Ya Anas, engkau sanggup meletakkan tanah di atas tubuh Rasulullah?”
Anas pun menangis, sambil mengatakan, “Celakalah kami, celakalah kami, celakalah kami, wahai Fathimah. Sesungguhnya kami tidak menyadari dengan apa yang kami lakukan. Kalaulah kami telah mendengarkan terlebih dulu apa yang engkau katakan sekarang ini, niscaya kami tidak akan sanggup mengebumikannya.”
Sayyidatina Fathimah pun berlalu, seakan ia tak mengenali siapa pun yang ada disitu. Hatinya amat sedih karena musibah yang menimpanya. Ia kemudian berdiri di sisi kubur ayahandanya dan mengambil segumpal tanah, lalu menciumnya.
Dalam tangisannya, ia berkata, “Apa yang dapat dirasakan si pencium tanah kubur Nabi Muhammad ini…. Tidak dapat dirasakan pada selainnya sepanjang masa. Aku ditimpa musibah dengan musibah yang jika musibah selainnya menimpaku setiap hari pun niscaya tidak mengapa.”
Tidak sampai lima bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah pun wafat. Fathimah adalah seorang yang di gelari Ummu Abiha, Ibu dari Ayahnya (Karena sejak meninggalnya Sayyidatina Khadijah, istri Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah-lah yang banyak mengurus keseharian hidup Rasulullah SAW).
“ Wahai Rasulullah….”
Sekarang, bagaimanakah keadaan kalian semua, wahai para sahabat, selepas wafatnya Rasulullah SAW? Adakah kalian memahaminya sebagai akhir dari kehidupan Rasulullah SAW?
Demi Allah, tidak demikian. Dugaan seperti itu benar-benar meleset.
Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari jilid kedua pada kitab Memohon Pertolongan, sebagaimana juga ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih, Bilal ibn Harits Al-Muzuni, salah seorang sahabat Nabi, datang berziarah ke makam Rasulullah SAW. Saat itu musim paceklik tengah melanda,yaitu pada masa pemerintahan Sayyidina Umar RA. Ia pun berdiri di sisi makam mulia Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah….”
Perhatikanlah baik-baik, sahabat Nabi ini mengatakan “Ya Rasulullah….” (Yaitu memanggil Rasulullah SAW secara langsung, atau sebagai orang kedua).
“Ya Rasulullah. Banyak yang telah binasa, mohonkanlah air kepada Allah untuk umatmu.”
Karena mereka memahami bahwa Rasulullah SAW hidup di dalam kuburnya. Beliau mendengarkan shalawat yang diucapkan atas beliau, dan menjawab salam yang diucapkan kepada beliau. Beliaulah yang telah bersabda,”Sesungguhnya para nabi itu hidup dalam kubur mereka.”
Selesai.
Wallahu a’lam Semoga bermanfaat.
Sumber : Majalah Alkisah edisi 05/2011
Jalan orang-orang sufi.. Pecinta menuju makrifatullah Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Tuesday, January 20, 2015
Thursday, January 23, 2014
Sufi Road : Futuhal Ghaib (7)
Syeikh Abdul Qadir JilaniBila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan kerananya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memerhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bahagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).
Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperolehi sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan peribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, kerana Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemahuanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, kerana tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, iaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.
Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat - yang pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemahuan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak peribadi kepada kehendak Allah. Kerana itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang bererti: berubah). Bagi peribadi-peribadi ini, menggabungkan kehendak peribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sedar dan berlindung kepada Tuhan, kerana tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, kerana mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyedarkan mereka.
Labels:
Kitab Futuhal Ghaib
Wednesday, January 15, 2014
Dalil Syar’i Maulid Nabi
Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid,
haramkah hukumnya? Umat Islam merayakan Maulid,
bid’ahkah merayakannya?
Memaparkan legalitas syari’at perayaan Maulid Nabi menjadi sedemikian penting mengingat kini semakin banyaknya tuduhan, ”... yang ditujukan pada umat Islam yang merayakan Maulid sebagai pelaku bid’ah tercela, bahkan hingga memasukkan mereka sebagai ahli neraka yang kekal di dalam neraka selama-lamanya,” demikian di antara yang disampaikan Ustadz Muhammad Ahmad Vad’aq, penulis buku Bahas Cerdas & Kupas Tuntas – Dalil Syar’i Maulid Nabi, dalam pengantar karyanya tersebut.
Mereka, yang sesungguhnya merupakan golongan minoritas itu, tak pernah mau mendengar dalil orang lain, selalu menyikapi segala perbedaan dengan hitam-putih, benar-salah, surga-neraka, hingga dalam hal ini, mereka sampai mengeluarkan fatwa mengharamkan seluruh hidangan Maulid, bahkan disebutkan, keharamannya lebih haram dari memakan hewan babi.
Na’udzubillah, kami berlindung kepada Allah, dari pejuang nafsu yang selalu merasa benar sendiri,” tulis Ustadz Muhammad.
”Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid, haramkah hukumnya? Umat Islam merayakan Maulid, bid’ahkah merayakannya?” Dua kalimat tanya ini tertulis besar di bawah judul karya Ustadz Muhammad. Memang, bagi kebanyakan orang, mungkin dua hal itu yang sering menggelayut dalam pikiran mereka, dan ketika mereka keliru dalam menyimpulkan, maka tuduhan demi tuduhan tak berdasarlah yang mereka lontarkan.
Demi memaparkan penjelasan atas masalah ini secara cerdas dan mengupasnya secara tuntas, Ustadz Muhammad membagi pembahasan di buku ini menjadi tiga pokok pembahasan.
Pertama, penjelasan makna tark, yaitu tentang perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Nabi. Pembahasan ini untuk menjawab kalimat tanya pertama di atas, Rasulullah SAW tidak merayakan Maulid, haramkah hukumnya?
Kedua, penjelasan makna bid’ah dan kaitannya dengan Maulid Nabi SAW. Pembahasan yang kedua ini ditujukan untuk menjelaskan pada pembaca terhadap kalimat tanya yang kedua, umat Islam merayakan Maulid, bid’ahkah merayakannya?
Bukan hanya dalam masalah Maulid, dua pembahasan di atas, seyogyanya menjadi dasar bagi setiap muslim untuk memahami setiap permasalahan syariat, agar umat tidak mudah menuding sesama saudaranya yang lain.
Pembahasan yang terakhir, yaitu pembahasan yang ketiga, Ustadz Muhammad mengurai dalil-dalil syar’i yang melatarbelakangi diselenggarakannya Maulid Nabi itu sendiri. Setelah memahami dasar-dasar yang tepat dalam menilai sebuah amaliyah, bagian yang terakhir ini secara khusus akan semakin membuka pandangan bagi insan muslim atas hujjah-hujjah syar’iyyah dalam peringatan Maulid Nabi SAW.
Sebagai pelengkap pembahasan, Ustadz Muhammad menyertakan secara utuh terjemah dari kitab Husn al-Maqshad fi ’Amal al-Maulid, karya Imam Suyuthi, yang memaparkan secara khusus perihal dasar-dasar argumentasi keagamaan di balik penyelenggaraan Maulid Nabi SAW.
Kaidah Ibn Taimiyah
Law kana khairan lasabaquna ilayh. Maknanya, kalau perkara itu baik pasti para salaf telah melakukannya. Kaidah yang dirumuskan Ibn Taimiyah ini menjadi salah satu dasar utama bagi orang-orang yang menolak amaliyah Maulid Nabi. Bahkan, orang-orang itu hendak menilai (baca: menyelesaikan) semua urusan agama ini hanya dengan kaidah tersebut.
”Sayangnya, dengan kaidah ini orang-orang bodoh itu semakin membeku. Mereka semakin sulit diajak berdiskusi, semakin menikmati fatwa-fatwa yang tidak populer, sampai akhirnya tumbuh suburlah para penyesat umat, yang berpendapat dengan tanpa mendengar dalil orang. Bahkan, kaidah yang mereka buat ini mereka tempatkan pada tempat yang lebih utama dari dalil-dalil syar’i,” tulis Ustadz Muhammad lagi menjelaskan perihal kaidah tersebut.
Padahal, apapun yang dikuatkan dengan dalil-dalil syar’i itu baik adanya, bukan bid’ah, karena Allah SWT berfirman, “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” – QS. Al-Hajj: 77
Al-Hafizh Ibnu Hajar dan kalangan yang sependapat menilai, Nabi SAW mengingatkan keutamaan merayakan Maulid melalui kesimpulan umum yang diambil dari hadits tentang puasa Asyura. Hadits ini menegaskan legalitas puasa peringatan tahunan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas nikmat selamatnya Nabi Musa.
Hadits tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dari puasa mengingat hari kelahiran adalah sebagai wujud rasa syukur. Setiap tindakan yang bisa mewujudkan rasa syukur secara syari’at dianjurkan, karena syukur adalah sebab hukum. Dan semua ibadah dalam hal ini, yang hukumnya sama seperti puasa mengingat hari kelahiran menurut kesepakatan ulama, sepertinya sudah menjadi kesepakatan tertulis di antara mereka, atau diqiyaskan seperti itu menurut sebagian lainnya. Terkait dengan hal-hal mubah, selain ibadah yang mengungkapkan rasa senang, asal hukumnya boleh-boleh saja, tidak ada dalil yang melarang demikian.
Ibnu Taimiyah menilai, salaf tidak pernah merayakan Maulid. Andai hal itu baik tentu mereka sudah terlebih dulu melakukannya sebelum kita. Jadi, menurut mereka Maulid hukumnya adalah bid’ah.
Imam Suyuthi menanggapi, tidak ada pernyataan salaf yang mencegah dan menganjurkan perayaan Maulid, mereka bersikap abstain sementara hadits di atas adalah dalil kuat. Berdasarkan ijma’, hadits lebih dikedepankan dari sikap abstain dan tidak adanya riwayat yang termasuk dalam istilah istishhab pada masalah itu. Istishhab adalah pemberlakuan hukum terhadap suatu perkara di masa selanjutnya atas dasar bahwa hukum itu telah berlaku sebelumnya.
Antara Inkar dan Ijtihad
Rasulullah SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan sesuatu kemudian berijtihad dan benar, ia mendapat dua pahala, namun ketika memutuskan sesuatu kemudian berijtihad dan salah, ia mendapat satu pahala.”
Hadits di atas secara tegas menyatakan orang yang salah dalam berijtihad bukan berarti melakukan amalan bid’ah ataupun sesat karena Allah SWT tidak memberi pahala bid’ah, bahkan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.
Ada beberapa kemungkinan bagi kalangan yang menyesatkan kelompok lain dalam masalah peringatan Maulid ini.
Pertama, mereka tak mengetahui kaidah di atas. Kedua, mereka pura-pura tidak tahu adanya argumentasi pihak yang berseberangan, yang disebabkan adanya faktor dan tujuan pribadi. Ketiga, mereka mengira masalah ini dan masalah-masalah serupa lainnya bukan masalah ijtihad, tapi sesuatu yang sudah jelas, sehingga dengan mudah ia menyesatkan orang lain yang berpaling atau menentang masalah ini.
Dengan alasan apapun, siapapun yang menganjurkan perayaan Maulid, tidak bisa dan tidak laik dituduh menentang ajaran-ajaran yang telah jelas. Perhatikan siapakah mereka yang dituduh seperti itu; mereka adalah para imam terpercaya, seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Hafizh As-Suyuthi; lalu perhatikan siapa Anda, para pengingkar anjuran perayaan Maulid itu, yang gemar membawa pandangan sembrono sampai menyatakan bahwa para imam besar itu tidak boleh diikuti karena pendapatnya keliru.
Anda, yang tidak sependapat dengan anjuran merayakan Maulid, menganggap mereka keliru? Baik. Pertanyaannya, apakah para imam terpercaya itu keliru dengan menyalahi pengamalan agama yang nashnya jelas dan tegas, ataukah mereka keliru dalam masalah-masalah ijtihad?
Jika para imam tersebut keliru dengan menyalahi ajaran-ajaran agama yang sudah jelas hukumnya, berarti kesalahan tersebut adalah sikap pembangkangan. Allah SWT berfirman mengenai orang-orang yang berbuat demikian, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” – QS. Ali ‘Imran [3]: 105
Apakah ini laik bagi imam-imam seperti Ibnu Hajar dan As-Suyuthi? Jika mereka keliru dalam masalah-masalah ijtihad, toh Nabi SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan sesuatu kemudian berijtihad dan benar, ia mendapat dua pahala, namun ketika memutuskan sesuatu kemudian berijtihad dan salah, ia mendapat satu pahala.”
Dan Allah SWT tidak memberi pahala untuk bid’ah.
Ijtihad Bukan Kebenaran Absolut
Anda tidak bisa membid’ahkan dan menyatakan Ibnu Hajar sesat dan berbuat bid’ah, meski menurut Anda hal itu salah. Boleh jadi, justru Anda yang salah. Jika Anda, atau ulama panutan Anda, berpendapat bahwa perayaan Maulid itu keliru, lalu merayakannya, itu baru berarti Anda melakukan bid’ah dan Anda sesat. Sementara bagi yang tidak sependapat dengan Anda, tidak seperti itu.
Disebutkan, Imam Ahmad bin Hanbal dan para pengikutnya berdoa, “Ya Allah aku memohon kepadamu dengan perantara Nabi-Mu, ampunilah aku.”
Ia melakukan sesuatu yang menurutnya baik, dan mendapat dua pahala jika benar, atau satu pahala jika salah. Lain halnya kalau yang berdoa itu adalah Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Albani, atau para pengikutnya, yang berpandangan doa dengan bertawassul adalah suatu hal yang bid’ah dan sesat. Kalau mereka berdoa dengan ucapan itu, mereka menanggung dosa dan hukumannya. Hal senada berlaku dalam semua masalah ijtihad yang diperdebatkan, baik yang dianjurkan atau dilarang.
Dalam masalah-masalah ijtihad, mujtahid tidak harus puas dengan dalil-dalil pihak yang berseberangan, tapi masing-masing kubu harus puas dengan adanya kemungkinan, bahwa salah satu di antara kedua pihak adalah salah, seperti yang Rasulullah SAW sampaikan dalam sebuah wasiat yang beliau sampaikan pada seorang komandan pasukan, “Karena kau tidak tahu apakah putusanmu sesuai hukum Allah terhadap mereka itu ataukah tidak.”
Hadits ini secara tegas menyatakan, seorang mujtahid tidak bisa memastikan dirinya pasti benar dan kalangan yang tidak sependapat pasti salah.
Maulid di Mata para Hafizh Kita, yang tinggal di Nusantara, mungkin hanya mengenal sedikit kitab Maulid. Padahal kitab Maulid karya para ulama itu jumlahnya sangat banyak, lantaran perhatian khusus mereka terhadap momentum agung tersebut. Sebagiannya disusun oleh para hafizh, orang-orang yang dalam hidupnya ”tenggelam” dalam bahtera hadits Rasulullah SAW. Di bawah ini nama sebagian di antara mereka itu.
Al-Hafizh Muhammad bin Abubakar Al-Qisi Asy-Syafi’i, lebih populer sebagai Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (777-842), seorang imam besar, ahli hadits dan sejarah dengan kekuatan hafalan yang gemilang, menulis kitab Maulid Al-Lafzhu ar-Raiq fi Maulid Khairi al-Khalaiq.
Al-Hafizh Abubakar bin Abdurrahim Al-Mashri, imam yang sangat tersohor di kalangan para imam ahli hadits, lebih dikenal dengan Al-’Iraqi (725-707), sandaran para ulama dalam masalah yang pelik dan rumit, menulis kitab Maulid Al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani.
Al-Hafizh As-Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman Al-Qahiri As-Sakhawi (831-902). Imam Syaukani memujinya, “Aku tak pernah melihat seorang hafizh generasi akhir yang melebihi As-Sakhawi dalam kekuatan hafalannya.” Ia menulis kitab Maulid Nabi SAW sebagaimana yang di kutip oleh pengarang kitab Kasyf azh-Zhunun.
Al-Hafizh Mula Ali Al-Qari (1014) pengarang kitab syarh Al-Misykah. Ia juga menulis kitab Maulid berjudul Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabi.
Al-Hafizh Ibnu Katsir Ismail bin Umar bin Katsir, seorang mufassir tersohor, ia juga menulis kitab Maulid yang baru-baru ini dicetak dan ditahqiq oleh Dr. Shalahuddin.
Al-Hafizh Ibnu Ad-Daiba’i Wajihuddin ibnu Abdurrahman Asy-Syaibani Al-Yamani (866-944), seorang yang sangat populer di zamannya. Kitab maulidnya sangat dikenal di penjuru dunia termasuk di Indonesia, yaitu yang biasa disebut Maulid Ad-Diba’.
Dunia Islam menyematkan gelar “al-hafizh” kepada para ulama ahli hadits yang memiliki hafalan lebih dari seratus ribu hadits (pendapat lain menyebut angka tiga ratus ribu hadits) baik matan (redaksi) maupun sanad (mata rantai periwayatan)-nya. Mereka adalah para hafizh yang lebih memahami hadits dari para pengingkar Maulid.
Tidakkah kita bisa berbaik sangka sedikit pun, apalagi kepada para ulama seperti mereka? Bahkan seringkali vonis bid’ah, kafir, dan syirik terlontarkan kepada mereka, hanya dengan bermodalkan dalil kullu bid’atin dhalalah, tanpa mau mendengar pendapat para ulama yang lebih alim dan lebih wara’. Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenaran dan mengikutinya.
Memahami Tark
Maksud tark yang menjadi tujuan penulisan risalah singkat ini, adalah suatu amalan yang ditinggalkan dan tidak dilakukan Nabi SAW, atau ditinggalkan oleh salafush shalih, tanpa adanya hadits atau atsar yang melarang amalan yang ditinggalkan tersebut, yang menunjukkan perbuatan tersebut haram atau makruh.
Ulama kalangan mutaakhir sering menggunakan dalil tark untuk mengharamkan atau mencela berbagai hal, bahkan sebagian kalangan terlalu berlebihan menggunakan dalil ini. Ibnu Taimiyah memakai dan menjadikan ini sebagai sandaran dalam menghukumi berbagai hal, seperti yang akan dibahas berikutnya.
Ketahuilah, ketika Nabi SAW meninggalkan (tidak mengerjakan) sesuatu amalan, ada beberapa kemungkinan amalan tersebut tidak dilarang, yaitu karena beberapa sebab berikut ini:
Pertama, karena beliau tidak biasa terhadap sesuatu itu. Contohnya, suatu ketika Nabi SAW diberi biawak bakar. Beliau menjulurkan tangan. Kemudian ada yang berkata, “Itu biawak.” Maka beliau pun tak jadi memungutnya.
Kemudian ada yang bertanya, “Apakah itu haram?”
Nabi SAW menjawab, “Tidak, hanya saja hewan ini tidak terdapat di kawasan kaumku, aku pun merasa jijik.”
Hadits ini tertera dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ini menunjukkan dua hal, yaitu bahwa meninggalkan sesuatu bagi Nabi SAW, meski setelah beliau hampir melakukannya, tidaklah menunjukkan sesuatu tersebut haram, dan bahwa jijik terhadap sesuatu bukan berarti mengharamkan sesuatu itu.
Kedua, karena beliau lupa. Contohnya, Nabi SAW pernah lupa dalam shalat, meninggalkan salah satu bagian shalat kemudian beliau ditanya, “Apakah terjadi sesuatu dalam shalat?”
Nabi SAW menjawab, “Aku hanya manusia biasa, aku lupa seperti halnya kalian. Jika aku lupa, ingatkan.”
Ketiga, karena beliau khawatir amalan tersebut diwajibkan terhadap umat. Contohnya, Nabi SAW meninggalkan shalat Tarawih saat para sahabat telah berkumpul untuk shalat bersama beliau.
Keempat, karena tidak terpikirkan dan tidak terlintas di benak beliau. Contohnya, pada mulanya Nabi SAW khutbah shalat Jum’at di atas kayu kurma. Tak terpikirkan oleh beliau untuk membuat mimbar sebagai tempat berkhutbah. Saat ada yang mengusulkan pembuatan mimbar, beliau setuju dan mengakui hal itu, karena khutbah di atas mimbar lebih mengena untuk pendengaran hadirin. Para sahabat juga mengusulkan untuk membuatkan tempat duduk dari tanah untuk Nabi SAW, agar dikenali utusan asing yang datang menemui beliau. Beliau menyetujui usulan itu, karena sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan untuk itu.
Kelima, karena sesuatu itu sudah termasuk dalam penjelasan umum ayat-ayat Al-Qur‘an atau hadits. Contohnya, Nabi SAW meninggalkan shalat Dhuha dan banyak sekali amalan-amalan lain yang dianjurkan, karena sudah termasuk dalam penjelasan umum firman Allah SWT: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan.” – QS. Al-Hajj: 77
Keenam, karena beliau khawatir sesuatu itu mengubah hati para sahabat atau sebagian sahabat. Contohnya, sabda Nabi SAW kepada Aisyah, “Andai saja kaummu tidak baru saja masuk Islam, tentu aku robohkan Ka’bah kemudian aku bangun lagi sesuai pondasi Ibrahim, karena kaum Quraisy memperkecil bangunannya.”
Hadits ini tertera dalam dua kitab hadits shahih utama, Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Secara tegas dijelaskan, Nabi SAW tidak merobohkan Ka’bah dan mengembalikannya ke posisi semula, semata dilakukan untuk menjaga hati para sahabat di Makkah yang baru masuk Islam. Tindakan ini memungkinkan adanya alasan lain yang bisa diketahui dengan cara mencermati kitab-kitab hadits.
Meninggalkan, Bukan Melarang
Larangan adalah sesuatu yang haram, yang memang harus ditinggalkan. Masalah larangan adalah satu hal, dan masalah tark adalah satu hal lainnya lagi. Tidak ada satu pun hadits atau atsar yang secara tegas menyatakan bahwa sesuatu yang tidak dikerjakan Nabi SAW serta merta menjadi sesuatu yang haram.
Dijelaskan dalam Ar-Radd al-Muhkam al-Matîn, tentang meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan sesuatu tersebut dilarang. Berikut ini penjelasannya:
“Meninggalkan suatu amalan saja tanpa disertai nash lain yang menunjukkan bahwa hal tersebut terlarang, bukanlah hujjah yang melarang sesuatu tersebut, meskipun pada akhirnya memang meninggalkan sesuatu tersebut ternyata disyari’atkan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dari kasus semacam ini: Pertama, sesuatu yang ditinggalkan tersebut dilarang, namun pelarangan ini bukan karena sesuatu tersebut ditinggalkan. Kedua, ada dalil lain yang menunjukkan sesuatu tersebut dilarang.
Imam Abu Sa’id bin Lubb juga menyebutkan kaidah ini. Ia menyampaikan bantahan terhadap kalangan yang memakruhkan berdoa seusai shalat, yang selalu berhujjah bahwa merutinkan hal tersebut, tidak pernah dilakukan kalangan salaf. Dengan asumsi penukilan ini benar, meninggalkan sesuatu justru menunjukkan amalan tersebut boleh dan tidak berdosa dilakukan, bukan berarti amalan tersebut haram atau makruh, terlebih bagi amalan yang secara garis besar ada landasan hukumnya dalam syari’at, seperti doa.
Nabi SAW tidak pernah puasa sebulan penuh selain puasa Ramadhan. Ini juga tidak menunjukkan bahwa makruh hukumnya puasa sunnah sebulan penuh.”
Demikian teks-teks yang secara tegas menunjukkan bahwa meninggalkan sesuatu amalan bukan berarti amalan tersebut makruh, apalagi haram.
Sebagian kalangan yang bersikap berlebihan, mereka mengingkari kaidah ini dan tidak mengakuinya sebagai salah satu bagian dari ilmu ushul. Ini menunjukkan, pengingkaran terhadap dalil ini semata disebabkan kebodohan dan akal tidak sehat.
Adapun mengenai larangan dalam syari’at, berikut kami jelaskan dalil-dalil larangan:
Pertama; yang menunjukkan pengharaman ada tiga. Satu, larangan. Contoh, “Jangan mendekati zina, jangan memakan harta di antara sesamamu dengan cara bathil.” Dua, pengharaman. Contoh, “Diharamkan bagimu bangkai,” dan seterusnya. Tiga, celaan atau ancaman siksa atas suatu perbuatan. Contoh, “Barangsiapa menipu, ia bukan golongan kami.”
Dan meninggalkan suatu amalan tidak termasuk dalam tiga kategori ini. Dengan demikian meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan larangan.
Kedua; Allah SWT berfirman, “Apa yang disampaikan Rasul kepadamu, terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah.” – QS. Al-Hasyr [59]: 7
Allah SWT tidak menyatakan, “Apa yang ia tinggalkan, tinggalkanlah.” Dengan demikian, meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan sesuatu tersebut dilarang.
Ketiga; Nabi SAW bersabda, “Apa yang aku perintahkan, kerjakan semampumu, dan apa yang aku larang, jauhilah.”
Nabi SAW (saja) tidak menyatakan, “Apa yang aku tinggalkan, jauhilah.” Lalu bagaimana bisa sampai ada yang mengatakan bahwa meninggalkan sesuatu sebagai larangan atas sesuatu tersebut?
Keempat; para pakar ushul mendefinisikan, sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi SAW. Mereka tidak mendefinisikan, sunnah adalah sesuatu yang ditinggalkan Nabi SAW, karena meninggalkan sesuatu bukanlah dalil.
Kelima; seperti disebutkan sebelumnya, hukum adalah khithab Allah SWT. Para pakar ushul menyebutkan, hukum berdasarkan Al-Qur‘an, sunnah, ijma’, atau qiyas. Dan meninggalkan sesuatu amalan bukan bagian dari dasar-dasar hukum tersebut, dengan begitu ia bukan suatu dalil.
Keenam; seperti disebutkan sebelumnya, meninggalkan sesuatu memiliki beberapa kemungkinan selain larangan, dan kaidah ushul menyebutkan: jika terdapat kemungkinan dalam suatu dalil, dalil tersebut tidak bisa dijadikan pijakan. Juga sudah disampaikan sebelumnya, tidak ada nash yang menunjukkan bahwa Nabi SAW meninggalkan sesuatu sebagai dalil bahwa sesuatu tersebut haram. Hujjah ini saja sudah cukup menunjukkan bahwa dalil tark tidak bisa dijadikan pijakan.
Ketujuh; meninggalkan sesuatu adalah hukum asal, karena meninggalkan sesuatu berarti tidak adanya perbuatan. Tidak adanya sesuatu adalah hukum asal, sementara mengerjakan suatu amalan adalah sesuatu yang terjadi tanpa diduga. Hukum asal sama sekali tidak menunjukkan apapun, tidak secara bahasa ataupun menurut syari’at. Dengan demikian meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan larangan.
Pengertian Bid’ah
Definisi bid’ah pertama kali dijelaskan oleh Imam Syafi’i berdasarkan riwayat Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469).
Disebutkan, bahwa semua hal baru itu ada dua macam: Pertama; sesuatu yang dibuat-buat dan berseberangan dengan Al-Qur‘an, sunnah, atsar, atau ijma’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua; kebaikan yang diciptakan dan belum ada sebelumnya serta tidak diperdebatkan. Inilah bid’ah yang tidak tercela.
Umar bin Khaththab RA berkata tentang qiyam Ramadhan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini; maksudnya shalat Tarawih bersifat baru, dan tidak ada sebelumnya, karena seperti itu berarti tidak menyalahi (dalil-dalil yang ada).”
Kemudian Asy-Syafi’i menjelaskan maksud “bid’ah” dalam perkataan Umar bin Khaththab di atas.
Apa pengertian bid’ah? Yaitu sesuatu yang diciptakan dan belum ada sebelumnya. Ini makna umum bid’ah mencakup apa saja yang tidak ada di masa Nabi SAW, dan baru ada setelah masa beliau, baik ada dalilnya ataupun tidak. Inilah makna etimologi bid’ah yang paling tepat. Untuk itu bid’ah harus dibagi menjadi dua bagian:
Pertama; sesuatu yang diciptakan dan menyalahi Al-Qur‘an, sunnah, atsar atau ijma’. Inilah bid’ah yang sesat karena berseberangan dengan dalil-dalil syar’i.
Kedua; kebaikan yang diciptakan dan tidak diperdebatkan oleh siapapun. Inilah bid’ah yang tidak tercela, karena menurut syari’at baik adanya. Karena menurut syari’at baik, berarti bid’ah tersebut juga baik, lantaran tidak menyalahi dalil-dalil yang ada.
Selanjutnya Asy-Syafi’i menjelaskan alasan kenapa Umar bin Khaththab RA memuji dan menganjurkan amal tersebut (qiyam Ramadhan secara berjama’ah), meski ia sebut sebagai bid’ah, alasannya adalah karena tidak berseberangan dengan Al-Qur‘an, sunnah, atsar atau ijma’.
Imam Syafi’i RA menyatakan, “Kebaikan yang diciptakan dan tidak diperdebatkan oleh siapapun adalah bid’ah yang tidak tercela.” Pernyataan Asy-Syafi’i ini juga bersandar pada perkataan Umar RA, serta persetujuan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Zaid bin Tsabit RA bahwa pengumpulan Al-Qur‘an dalam satu kitab dianjurkan meski tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW, karena hal tersebut baik adanya.
Umar bin Khaththab berkata, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Zaid bin Tsabit, “Menurutku, engkau harus mengumpulkan Al-Qur`an (dalam satu kitab).’
Abu Bakar berkata kepada Umar, “Bagaimana saya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW?”
Umar berkata, “Demi Allah itu baik.”
Abu Bakar berkata, “Umar terus mempertimbangkan hal itu kepadaku hingga Allah melapangkan dadaku.” (HR Al-Bukhari nomor 4402)
Pada mulanya Abu Bakar berdalih mengumpulkan Al-Qur‘an dalam satu kitab tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW, sementara Umar bin Khaththab berdalih meski tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW tapi langkah tersebut baik, dan karena baik berarti dianjurkan. Abu Bakar selanjutnya mengulang jawaban Umar saat Zaid bin Tsabit berkata kepadanya, “Bagaimana kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah itu baik.”
Jawaban dari kedua khalifah Rasulullah SAW tersebut adalah tanggapan bagi siapapun, yang saat ini mengingkari berbagai kebaikan yang dibuat, dan tidak ada sebelumnya, dengan dalih tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebab menurut nash kitabullah, kebaikan itu diperintahkan untuk dilakukan, dan diberi janji keberuntungan. Allah SWT berfirman, “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan.” – QS Al-Hajj: 77
Kita diperintahkan untuk menyeru pada kebaikan, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” – QS. Ali ‘Imran [3] 104
Karenanya, menurut penjelasan Asy-Syafi’i, bid’ah yang tidak tercela adalah setiap kebaikan yang tidak menyalahi dalil-dalil syar’i.
Gebyah Uyah Masalah Bid’ah
Pendapat yang menyatakan bahwa bid’ah ada yang hasanah dan ada yang dhalalah sesungguhnya tidak berseberangan dengan pendapat yang menyatakan tidak ada bid’ah hasanah dalam syari’at. Sebab, yang dimaksud hadits tersebut dalam pandangan mereka, bahwa amal yang menyalahi dalil-dalil syar’i tidak bisa dianggap baik. Demikian yang dinyatakan secara tegas oleh Ibnu Taimiyah.
Pernyataan Ibnu Taimiyah dinukil di sini bukan untuk lebih mengedepankan pendapatnya atas pendapat lainnya, tapi untuk menjelaskan bahwa kalangan yang tidak sependapat dengan Ibnu Taimiyah, misalnya dalam hal peringatan Maulid, bukanlah ahli bid’ah berdasarkan kaidah-kaidah yang ia sebutkan sendiri dalam Al-Fatawa (10/370), bahwa menjaga keumuman sabda Rasulullah SAW, “Setiap bid’ah itu sesat” hukumnya wajib, sementara suatu amalan yang disebut bid’ah dan terbukti baik berdasarkan dalil-dalil syar’i, berarti ada dua kemungkinan pasti:
Kemungkinan pertama, amalan tersebut bukan bid’ah dalam agama, meski dari sisi bahasa disebut bid’ah, seperti perkataan Umar bin Khaththab RA, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
Kemungkinan kedua, bersifat pernyataan umum, namun dikhususkan karena adanya pengecualian yang kuat, seperti yang berlaku pada masalah-masalah lain berdasarkan tuntutan pernyataan umum, sama seperti kata-kata umum lain yang terdapat dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas (pada kemungkinan kedua) secara tegas menyatakan, adanya pengecualian yang lebih kuat memunculkan adanya kekhususan dari perkataan umum dalam sabda Nabi SAW, “Setiap bid’ah itu sesat,” dan menjadikan contoh kasus yang dikecualikan menjadi tidak sesat, karena tidak termasuk dalam keumuman kata-kata tersebut.
Yang dimaksud “menjaga keumuman” dalam hal ini adalah seperti yang ditegaskan Ibnu Taimiyah sendiri (pada kemungkinan kedua tersebut), “Seperti yang berlaku bagi masalah-masalah lain berdasarkan tuntutan pernyataan umum.” Maksudnya, selain masalah-masalah yang dikhususkan oleh dalil yang lebih kuat dari pernyataan umum tersebut. Dengan kata lain, hadits tersebut bersifat khusus (yaitu pada bid’ah yang termasuk dhalalah).
Karena itu Ibnu Taimiyah sendiri menyatakan (27/152), kalangan yang menjadikan hadits tersebut tetap bersifat umum, dan kalangan lain yang mengkhususkannya, bermuara pada satu kesimpulan yang sama, seperti yang ia sebutkan dalam Al-Fatawa; bid’ah hasanah – bagi yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi‘ah – pasti dianjurkan oleh seorang ahlul ilmi yang menjadi panutan, di samping ada dalil yang menganjurkan.
Seperti itu juga kalangan yang menyatakan bid’ah semuanya tercela. Bid’ah menurut kalangan ini adalah sesuatu yang tidak ada dalil syar’inya. Karena itu kedua pendapat tersebut (yang mengklasifikasi bid’ah maupun yang menggeneralisir bid’ah), bermuara pada satu titik yang sama. Pendapat pertama, mendefinisikan bid’ah sebagai sesuatu yang dibuat-buat sepeninggal Nabi SAW. Dengan demikian bid’ah menurut pendapat pertama ini, harus dibagi menjadi bid’ah yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan dalil. Sementara pendapat kedua, menilai bid’ah adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan dalil. Bid’ah menurut pendapat kedua, tidak terbagi menjadi dua, tapi hanya satu, yang tak lain adalah bid’ah jenis kedua (bid’ah dhalalah) menurut pendapat pertama. Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimiyah sendiri, dapat disimpulkan bahwa kalangan yang menilai bid’ah sebagai “sesuatu yang dibuat sepeninggal Rasulullah SAW, dan masa salaf tanpa klasifikasi atau batasan apapun” berarti berseberangan dengan kedua pendapat di atas sekaligus.
Dalil syar’i yang menguatkan baiknya suatu amalan, yang secara bahasa disebut bid’ah atau mengkhususkan kata-kata umum sabda Rasulullah SAW, “Setiap bid’ah itu sesat” bisa jadi berupa nash dan bisa jadi melalui istinbath, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha` ash-Shirath al-Mustaqim (1/587), bahwa suatu hal yang terbukti baik, bukanlah suatu bid’ah. Di bagian lain ia menyatakan, suatu hal yang terbukti baik berarti mengkhususkan pernyataan umum (dalam hadits tersebut). Yang mengkhususkan adalah dalil-dalil syar’i yang bersumber dari Al-Qur`an, sunnah, dan ijma’ baik dalam bentuk nash ataupun melalui istinbath.
Sikap Semena-mena
Kekeliruan dalam ijtihad bukanlah bid’ah, karena perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi dalam ijtihad, tidak membuat salah satu dari dua kubu sebagai ahli bid’ah, bahkan bagi yang salah sekalipun, sebab Rasulullah SAW bersabda, “Ketika hakim memutuskan sesuatu kemudian ia berijtihad dan ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala. Namun ketika ia memutuskan sesuatu lalu berijtihad dan ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala.”
Allah SWT tidak memberi pahala untuk bid’ah, bahkan bid’ah membuat pelakunya sesat dan berada di neraka, “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.”
Disebutkan dalam Musawwadah Alu Taimiyah, diriwayatkan dari Imam Ahmad, ia berkata, “Kebenaran di sisi Allah SWT hanya satu, ahli ijtihad harus berijtihad, namun tidak boleh berkata kepada pihak yang tidak sependapat, ‘Kamu salah’.”
Disebutkan dalam Hilyat al-Awliya‘, diriwayatkan dari Imam Malik, “Khalifah Ar-Rasyid mengusulkan padaku untuk menggantung kitab Al-Muwaththa‘ di Ka’bah, dan menginstruksikan agar diterapkan oleh semua kaum muslimin. Lalu aku mengatakan, ‘Jangan, karena para sahabat Rasulullah SAW sendiri berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu’, mereka juga sudah berpencar di berbagai daerah, masing-masing (dari mereka) benar’.”
Rasulullah SAW menjelaskan, mujtahid tidak bisa memastikan dirinya pasti benar dalam mengetahui maksud Allah SWT. Rasulullah SAW menyampaikan wasiat kepada salah seorang komandan pasukan, “Jika kau mengepung penduduk suatu benteng, lalu mereka ingin agar kamu menghukumi mereka berdasarkan hukum Allah, jangan hukumi mereka (dengan mengatasnamakan) berdasarkan hukum Allah, tapi hukumi mereka berdasarkan hukummu (dengan menggali hukum Allah yang kamu ketahui), karena kau tidak tahu apakah putusanmu terhadap mereka sesuai hukum Allah ataukah tidak.” (HR Muslim nomor 1731). Orang yang tidak bisa memastikan dirinya benar, bagaimana bisa memastikan orang lain yang tidak sependapat dengan dirinya itu salah?
Disebutkan dalam risalah Imam Syafi’i (Ar-Risalah, hal: 497), saat membahas hadits ijtihad di atas, Imam Syafi’i ditanya, “Apa makna benar dan salah?”
Aku (Asy-Syafi’i) menjawab, “Sama seperti makna menghadap kiblat. Arah kiblat dicari-cari oleh orang yang berada jauh dari Ka’bah. Mengarah ke kiblat itu sendiri, bagi yang berada jauh dari Ka’bah, ada yang benar dan ada juga yang salah.”
Si penanya berkata, “Menurutmu bagaimana, apakah ijtihad bisa dikatakan benar dengan selain pengertian tersebut?”
Asy-Syafi’i menjawab, “Ya, hanya saja ijtihad berlaku untuk masalah-masalah yang dalilnya tidak diketahui. Ketika yang bersangkutan mengamalkannya (berdasarkan ijtihad dengan segala persyaratannya), artinya ia benar dalam hal mengamalkan sesuatu yang dibebankan. Secara lahir ia benar, dan yang mengetahui sisi batin hanya Allah semata.”
Karena itu Ibnu Taimiyah menyatakan, masalah-masalah yang diperdebatkan oleh salaf dan para imam tersebut, masing-masing mengakui ijtihad kalangan lain. Untuk itu bagi kalangan yang mengikuti pendapat Asy-Syafi’i, tidak boleh menyalahkan kalangan lain yang mengikuti pendapat Malik, bagi yang mengikuti pendapat Ahmad, tidak boleh menyalahkan kalangan lain yang mengikuti pendapat Syafi’i, dan seterusnya. (Majmu’ al-Fatawa, 20/292)
Dengan demikian, siapapun yang menyalahkan kalangan yang tidak sependapat – meski berpedoman pada dalil-dalil yang dikemukakan oleh sebagian imam – berarti menyalahi metode tersebut, di samping berlaku semena-mena terhadap kalangan yang tidak sependapat.
Wujud Rasa Syukur Berkumpul bersama dalam Maulid untuk bersyukur kepada Allah SWT, atas petunjuk pada salah satu sunnah Rasulullah SAW yang diamalkan dan dipuji oleh para sahabat, seperti disebutkan dalam Shahih Muslim dari Mu’awiyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW datang menghampiri para sahabat yang tengah berkumpul, beliau bertanya, “Untuk apa kalian duduk berkumpul?”
Para sahabat menjawab, “Untuk mengingat dan memuji Allah, karena telah memberi kami petunjuk menuju Islam, dan menganugerahkan Islam kepada kami.”
Rasulullah SAW bertanya, “Demi Allah, hanya itu alasan kalian duduk berkumpul?”
Para sahabat menjawab, “Demi, Allah hanya itu alasan kami duduk berkumpul.”
Rasulullah SAW melanjutkan, “Aku meminta kalian bersumpah bukannya aku meragukan kalian, Jibril baru saja datang menghampiriku, dan memberitahukan bahwa Allah membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat’.”
Berkumpul untuk memuji Allah SWT atas nikmat dan karunia Islam yang diberikan adalah sunnah, termasuk berkumpul untuk bersyukur kepada Allah SWT, karena nikmat kelahiran junjungan kita Muhammad SAW, karena beliau menyeru kita menuju Islam. Inilah wujud nyata kitab Allah SWT seperti yang disampaikan Aisyah kepada orang yang menanyakan seperti apa akhlak Rasulullah SAW, “Bukankah kau membaca Al-Qur`an?”
Si penanya menjawab, “Ya, betul.”
Aisyah berkata, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim, hadits nomor 746)
Di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan sejumlah ibadah sebagai wujud rasa syukur seperti yang telah dijelaskan sebelumnya: tilawah, memberi makan, sedekah, menyenandungkan syair-syair pujian untuk Nabi SAW, dan syair-syair tentang zuhud.
Adab Memperingati Maulid
Memperingati hari lahir manusia termulia yang dimuliakan oleh yang Mahamulia, adalah bentuk ungkapan rasa cinta yang mendalam dari lubuk hati para pencinta Nabi SAW. Syiar kecintaan ini menjadikan orang yang lalai dapat mengingat, mengenang, serta meneladani kembali akhlak beliau.
Majelis Maulid juga ajang umat Islam dalam mengekspresikan kegembiraan dan rasa suka cita atas anugerah besar yang Allah limpahkan kepada mereka.
Allah SWT berfirman, “Isa putera Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami, yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah Kami, dan Engkaulah Pemberi rezki yang paling Utama’.” – QS Al-Maidah: 114
Sudah barang tentu rasa gembira dan suka cita atas datangnya manusia mulia, juru selamat dunia akhirat pada seluruh umat, lebih layak untuk dirayakan dari pada sekadar turunnya hidangan dari langit. Manusia manapun tahu Rasulullah SAW lebih mulia dari semua ciptaan Allah SWT.
Namun perlu diingat, agar peringatan peringatan itu tetap tidak keluar dari bimbingan para ulama, sehingga kita semua beroleh hasil maksimal dan peneladanan yang benar, serta jauh dari segala kemunkaran, juga untuk menutup celah komentar orang yang anti perayaan Maulid. Janganlah niat baik kita terkontaminasi oleh ketidaktahuan cara pengungkapan rasa cinta dan suka cita itu sendiri.
Di antara beberapa hal yang harus kita perhatikan, kita jauhi, dan jangan sampai terulang lagi pada tahun-tahun yang akan datang, adalah:
Pertama, ikhthilath, yaitu perbauran laki laki dan wanita dalam satu majelis, apalagi wanita melantunkan Al-Qur’an, atau membaca saritilawah di tengah kerumunan laki-laki, itu semua dilarang oleh agama.
Kedua, menjauhkan majelis yang mulia ini dari penceramah yang membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), karena itu akan menjadi celah bagi para pembenci Maulid untuk menyerang kita, dan yang terpenting itu dilarang oleh sang Shahibul Maulid, dengan sabdanya, “Barang siapa berbohong atasku (memalsukan hadits-ku), persiapkanlah tempatnya di neraka.” Sesungguhnya kita pun tidak butuh dengan hadits-hadits itu, sekedar untuk memperkuat hujjah dan dalil penguat tentang Maulid, karena banyak ayat dan hadits shahih sebagai dalil yang benar terkait legalitas perayaan Maulid.
Ketiga, larut dalam tawa yang tidak terkontrol, dengan bahasa yang tidak layak diungkapkan pada majelis Nabi SAW tercinta dan termulia, karena beliau juga melarang hal-hal tersebut.
Keempat, hendaknya pembicaraan kita tidak keluar dari mahabbah pada Nabi Muhammad SAW, rahmat, peneladanan dan segala yang terkait pada kesempurnaan akhlaq beliau, serta penjelasan pada orang awam tentang dalil peringatan Maulid, agar mereka memahami dengan jelas apa yang mereka lakukan. Inilah yang dilakukan para ulama di berbagai belahan dunia seperti di Makkah, Madinah, Maroko, Yaman, dan lainnya. Semoga Allah memberikan berkah pada kita lantaran mereka.
Kelima, menjauhkan acara ini dari kepentingan-kepentingan sesaat, pribadi maupun golongan, yang bertujuan menggalang massa, membeli dan membodohi ulama yang mempunyai banyak pengikut dengan harga yang murah, dalam artian berapa pun uang itu sangatlah kecil dibandingkan kesucian acara itu sendiri, toh akhirnya mereka pun tak mau menerima syariat yang dibawa oleh Nabi SAW.
Keenam, jangan pernah memberi tempat untuk para pembicara yang tidak sopan, baik dalam tutur bahasa atau penampilan, apalagi membahas hal-hal cabul dan mesum dalam majelis yang berkah itu, apapun alasan mereka sungguh ini melukai hati Rasulullah SAW.
Renungan Maulid
Menyambut bulan Maulid tahun ini, buku karya Ustadz Muhammad Ahmad Vad’aq ini diterbitkan. Penulisnya menyuguhkan isinya dengan metode pembahasan yang sedemikian rupa, dengan harapan pembaca dapat memahami perihal perayaan Maulid ini secara utuh. Di bagian belakang sampul buku tersebut, penulis juga menyertakan sinopsis yang cukup menggugah pembacanya. Sinopsis itu bak rekaman sejarah Maulid dari zaman ke zaman yang kemudian diperas hingga menjadi satu halaman. Meski terkesan padat untuk ukuran sebuah sinopsis buku, namun kalimat demi kalimat yang dituturkan terasa sangat mengena. Mengingat sedemikian dalamnya pesan yang ingin disampaikan dalam sinopsis buku yang tertera dalam sampul belakang buku itu, berikut ini kami tuangkan secara utuh isinya. Api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala seribu tahun padam seketika. Pilar-pilar kokoh istana kisra Persia pun tumbang berjatuhan. Dan banyak lagi. Walhasil, alam bergemuruh, menyambut kelahiran Nabi SAW sedemikian rupa.
Puluhan tahun kemudian, ada sahabat bertanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin. “Itulah hari kelahiranku dan hari aku diutus,” jawab beliau. Itulah cara beliau memperingati hari lahirnya. Beliau mensyukurinya dengan berpuasa, bahkan di setiap pekan.
Waktu berputar. Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa versi terkait pihak yang awal mula merayakan Maulid secara terbuka, pasca-era Nabi. Salah satu sumber mu’tamad, At-Tarikh karya Ibnu Katsir, menyebut nama Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kaukabri (wafat 630 H). Kala itu, kisah hidup Nabi diperdengarkan, keluhuran akhlaq beliau disebut-sebut, shalawat bergema silih-berganti, hadirin dijamu layaknya tamu yang mesti dihormati. Meski hanya setahun sekali, inilah salah satu cara umat yang ingin mensyukuri kelahiran sang rahmatan lil ’alamin. Di hati pecinta, sungguh ini kenikmatan tiada tara.
Terlepas dari berbagai versi sejarah itu, gagasan mengumpulkan orang dalam sebuah majelis Maulid nyatanya disambut baik oleh ulama, para pewaris anbiya’, seperti halnya shalat Tarawih berjama’ah yang digagas Umar bin Khaththab RA, yang terus dilestarikan orang dari zaman ke zaman, di belahan bumi Islam timur dan barat.
Sebut saja Ibnu Hajar (penyusun kitab syarah Shahih Al-Bukhari) atau An-Nawawi (penyusun kitab syarah Shahih Muslim), dua dari sekian banyak ulama yang telah menjelaskan pada umat hujjah-hujjah syar’i amaliyah Maulid Nabi. Mereka bukan sembarang tokoh, dua kitab syarah mereka itu menjadi rujukan terpenting untuk memahami hadits-hadits shahih Rasulullah SAW. Belum lagi As-Suyuthi (penyusun kitab tafsir Qur’an Al-Jalalain, bersama Al-Mahalli, dan sekitar 500 karya berbobot lainnya), yang sampai menyusun kitab khusus berisi perkara penting ini: Husn al-Maqshad fi ’Amal al-Maulid.
Waktu terus berputar. Hingga datang satu kaum yang merasa paling murni tauhidnya, dan benar mutlak pendapatnya menghukumi Maulid dengan tergesa-gesa. Hemat mereka, Maulid itu tak bersumber dari agama, termasuk amalan bid’ah, tradisi paham yang sesat, menyerupai kebiasaan orang kafir, dalil-dalilnya dipaksakan, jamuan yang dihidangkan haram, memuji-muji Nabi di dalamnya menjurus syirik, dan kelak para pelaku ”bid’ah” ini menjadi ahli neraka. Semua itu utamanya bermodalkan dalil, ”Tiap yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu ada di neraka” dan rumusan Ibn Taimiyah, ”Sekiranya suatu amalan itu baik, niscaya salaf lebih dulu mengamalkannya.”
Benarkah demikian? Sesederhana, sedangkal, dan sekaku itukah agama yang agung ini menilai amaliyah umatnya, hingga menempatkan kaum muslimin sejak dulu bagai sekumpulan orang-orang sesat dan para ulamanya bak orang-orang bodoh yang tak paham hadits Nabi SAW atau para pembangkang atas syariat yang beliau gariskan?
Selamat menyimak isi buku ini. Hati manusia tidaklah lebih panas dari api abadi Majusi atau sekeras pilar istana Persi. Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenaran dan dalam mengikutinya.
Sumber : Majalah Al Kisah
Labels:
Kontra Wahabi,
Mawlid
Sunday, December 8, 2013
Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani Des-2013
Assalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakatuh,
Insya Allah Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q) akan kembali mengunjungi Indonesia pada tanggal 23 Desember 2013-1 Januari 2014.
Berikut ini adalah Jadwal Tentatif Kunjungan beliau.
SENIN, 23 DES 2013
Pkl. 16-21
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Jl.Limo No.7 Rt.03/05, Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jaksel
SELASA, 24 DES 2013
Pkl.13-15
Radio Talk Show
di Radio Silaturahim AM 720 KHz,
Jl. Masjid Silaturahim No.36, Kalimanggis, Cibubur
Pkl.20-23
Dzikir dan Shuhba di Rumah Bapak Muchtony,
Jl. Puri Kencana No.39 Cipete Selatan
RABU, 25 DES 2013
Pkl.20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama Habib Alwi Ba-Alawy
di Masjid Raya Perumnas Teluk Jambe, desa Sukaluyu, Karawang
KAMIS, 26 DES 2013
Pkl. 20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama K.H. Amir Hamzah, para Kyai dan Ulama di Pesantren Daarul Ishlah,
Jl.Buncit Raya No. 5 RT.05/05, Kalibata Pulo, Jakarta Selatan
JUMAT, 27 DES 2013
(pagi) Berangkat ke Cirebon
Pkl. 14-15 Kunjungan ke Pesantren Kempek, Gempol, Cirebon
Pkl.21-23
Kunjungan ke Majelis Asaqofa, Plered, Cirebon
SABTU, 28 DES 2013
Pkl.11.-12.30: Kunjungan Pesantren As-Sidqu
Pkl.21-23
Tabligh Akbar dan Cirebon Berdzikir bersama Habib Syech, para Kyai dan Ulama di Alun-Alun Masjid Agung At-Taqwa
MINGGU, 29 DES 2013
Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati, Kunjungan ke Pesantren Buntet dan kembali ke Jakarta
SENIN, 30 DES 2013
Pkl.20-23 Dzikir dan Shuhba
di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jl.Budi Kemuliaan No.23, Jakarta Pusat
SELASA, 31 DES 2013
Pkl.21-24 Mawlid Nabi (s) bersama Habib Hasan bin Ja’far Assegaf dan Majelis Taklim Nurul Musthofa di Jl.Bangka Raya RABU, 1 JAN 2014
Berangkat ke Singapura
KETERANGAN
Informasi: Humas (0819-1000-0065)
Donasi: Melly (0816-115-3215), atau
Utje Mustari (0812-1043-096-57)
BCA No. 336 000 6335 atas nama Melza
Bank Mandiri No.126.000.405.3459 atas nama Yayasan Haqqani Indonesia http://naqsybandi.com/
Berikut ini adalah Jadwal Tentatif Kunjungan beliau.
SENIN, 23 DES 2013
Pkl. 16-21
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Jl.Limo No.7 Rt.03/05, Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jaksel
SELASA, 24 DES 2013
Pkl.13-15
Radio Talk Show
di Radio Silaturahim AM 720 KHz,
Jl. Masjid Silaturahim No.36, Kalimanggis, Cibubur
Pkl.20-23
Dzikir dan Shuhba di Rumah Bapak Muchtony,
Jl. Puri Kencana No.39 Cipete Selatan
RABU, 25 DES 2013
Pkl.20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama Habib Alwi Ba-Alawy
di Masjid Raya Perumnas Teluk Jambe, desa Sukaluyu, Karawang
KAMIS, 26 DES 2013
Pkl. 20-23 Mawlid an-Nabi (s) bersama K.H. Amir Hamzah, para Kyai dan Ulama di Pesantren Daarul Ishlah,
Jl.Buncit Raya No. 5 RT.05/05, Kalibata Pulo, Jakarta Selatan
JUMAT, 27 DES 2013
(pagi) Berangkat ke Cirebon
Pkl. 14-15 Kunjungan ke Pesantren Kempek, Gempol, Cirebon
Pkl.21-23
Kunjungan ke Majelis Asaqofa, Plered, Cirebon
SABTU, 28 DES 2013
Pkl.11.-12.30: Kunjungan Pesantren As-Sidqu
Pkl.21-23
Tabligh Akbar dan Cirebon Berdzikir bersama Habib Syech, para Kyai dan Ulama di Alun-Alun Masjid Agung At-Taqwa
MINGGU, 29 DES 2013
Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati, Kunjungan ke Pesantren Buntet dan kembali ke Jakarta
SENIN, 30 DES 2013
Pkl.20-23 Dzikir dan Shuhba
di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jl.Budi Kemuliaan No.23, Jakarta Pusat
SELASA, 31 DES 2013
Pkl.21-24 Mawlid Nabi (s) bersama Habib Hasan bin Ja’far Assegaf dan Majelis Taklim Nurul Musthofa di Jl.Bangka Raya RABU, 1 JAN 2014
Berangkat ke Singapura
KETERANGAN
Informasi: Humas (0819-1000-0065)
Donasi: Melly (0816-115-3215), atau
Utje Mustari (0812-1043-096-57)
BCA No. 336 000 6335 atas nama Melza
Bank Mandiri No.126.000.405.3459 atas nama Yayasan Haqqani Indonesia http://naqsybandi.com/
Wednesday, October 30, 2013
Sholawat ash-Shighah at-Tajridiyyah
Assalamualaikum,
Berikut sy tuliskan sholawat ash-Shighah at-Tajridiyyah yang didapat dari bahrushofa sebagai berikut:
Syaikhul Azhar, al-'Alim al-'Allaamah Dr.`Abdul Halim Mahmud rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul "ar-Rasul shallaAllahu `alaihi wa sallam" pada halaman 175 menukilkan sebuah shighah sholawat yang beliau terima dari Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi asy-Syablanji asy-Syadzili rahimahullah.
Menurut beliau, Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi telah memperolehi shighah shalawat ini dalam satu mimpi yang berkah. Dr. `Abdul Halim Mahmud telah menamakan shighah shalawat ini sebagai "ash-Shighah at-Tajridiyyah" karana sholawat ini tidak dilafazkan melainkan semata-mata untuk beribadah dengan mengajukan permohonan agar Allah SWT melimpahkan sholawat, salam dan barakah ke atas hambaNya, Sayyidina wa Mawlana Muhammad SAW, sebanyak bilangan makhlukNya, sesuai dengan keridhaanNya, seberat `arasyNya dan kalimahNya.
Jumlah pada shighah ini merupakan kiasan yang bertepatan dengan tasbih yang diajarkan oleh Junjungan Nabi SAW, yaitu "SubhanAllahi wa bi hamdihi, `adada khalqihi, wa ridha-a nafsihi, wa zinata `arsyihi, wa midada kalimaatihi." Mudah-mudahan dengan mengamalkan sholawat ini, kita dapat meraih keredhaan Allah SWT dan syafaat Junjungan Nabi SAW.
Sumber: http://bahrusshofa.blogspot.com
Berikut sy tuliskan sholawat ash-Shighah at-Tajridiyyah yang didapat dari bahrushofa sebagai berikut:
Syaikhul Azhar, al-'Alim al-'Allaamah Dr.`Abdul Halim Mahmud rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul "ar-Rasul shallaAllahu `alaihi wa sallam" pada halaman 175 menukilkan sebuah shighah sholawat yang beliau terima dari Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi asy-Syablanji asy-Syadzili rahimahullah.
Menurut beliau, Syaikh `Abdul Fattah al-Qadhi telah memperolehi shighah shalawat ini dalam satu mimpi yang berkah. Dr. `Abdul Halim Mahmud telah menamakan shighah shalawat ini sebagai "ash-Shighah at-Tajridiyyah" karana sholawat ini tidak dilafazkan melainkan semata-mata untuk beribadah dengan mengajukan permohonan agar Allah SWT melimpahkan sholawat, salam dan barakah ke atas hambaNya, Sayyidina wa Mawlana Muhammad SAW, sebanyak bilangan makhlukNya, sesuai dengan keridhaanNya, seberat `arasyNya dan kalimahNya.
Jumlah pada shighah ini merupakan kiasan yang bertepatan dengan tasbih yang diajarkan oleh Junjungan Nabi SAW, yaitu "SubhanAllahi wa bi hamdihi, `adada khalqihi, wa ridha-a nafsihi, wa zinata `arsyihi, wa midada kalimaatihi." Mudah-mudahan dengan mengamalkan sholawat ini, kita dapat meraih keredhaan Allah SWT dan syafaat Junjungan Nabi SAW.
Sumber: http://bahrusshofa.blogspot.com
Labels:
Sholawat
Wednesday, October 2, 2013
Madrasah Hadhramaut : Penyakit Hasad
Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengannya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh cahaya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!
Segala puji milik Allah, Yang mensucikan hati orang-orang yang tulus dalam meraih kesucian, Yang menolong hamba-hamba-Nya di dalam mensucikan hati mereka di jalan ketulusan pencarian terhadap-Nya. Milik-Nya segala puji atas segala yang telah dikaruniakan-Nya, milik-Nya segala puji atas segala yang tengah dikaruniakan-Nya, dan milik-Nya segala puji hingga Allah ridha, dan milik-Nya segala puji setelah ridha.
Ya Allah, limpahkanlah karunia dan kesejahteraan senantiasa atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemilik hati yang paling suci di antara makhluk, dan atas ahli baytnya, shabat-shahabarnya, para tabi‘in, tabi’ut tabi‘in, dan para pengikut mereka, hingga hari Kiamat.
Pada pelajaran yang lalu telah dibahas ihwal menolehkan pandangan kepada hati dengan maksud untuk mensucikannya dari kotoran-kotoran, yang menempel padanya dari maksiat dan penyakit-penyakit hati.
Telah lalu penjelasan tentang bagaimana mengobati hati dari penyakit sombong (al-kibr), yang menjadi tanda dari kebodohan pelakunya, demikian pula tentang bagaimana mengobati kegelapan penyakit riya’, yang merupakan bentuk peremehan hati terhadap keagungan Allah SWT, dan penolehan hati, karena kebodohan, kepada cinta kedudukan di sisi manusia. Imam Al-Haddad berkata, “Riya’ adalah tanda kebodohan pelakunya. Mengapa?”
Beliau berkata, “Karena ia telah memalingkan ibadahnya kepada Allah kepada makhluk, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan madharat bagi dirinya.”
Selanjutnya kita akan membicarakan bagaimana melepaskan diri dari hasad, penyakit ketiga dari induk segala penyakit dan maksiat hati.
Bila kembali mengingat pelajaran yang lalu, kalian akan tahu bahwa sombong akan melahirkan penolehan pandangan kepada manusia, karena pada kondisi ini seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ia memandang dirinya lebih mulia dan lebih utama dari orang lain. Pandangan ini muncul dari sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi riya’, ingin dipandang oleh orang lain. Ia mencari dan menuntut pandangan orang lain kepada dirinya, menuntut orang lain memuliakannya dan mengagungkannya. Ia cinta terhadap kedudukan di antara manusia.
Keadaan semacam ini, bila terus tumbuh berkembang di dalam diri pelakunya, selanjutnya akan berubah menjadi penyakit yang ketiga, yakni hasad.
Hasad, yang merupakan maksiat di antara maksiat-maksiat hati, adalah perasaan berat dalam memandang nikmat atau karunia yang ada di sisi makhluk. Engkau merasa berat bila melihat orang lain memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik nikmat duniawi maupun nikmat ukhrawi. Dari mana datangnya perasaan berat semacam ini? Perasaan itu datang karena engkau sibuk untuk meraih dan mendapatkan kedudukan di antara manusia.
Apabila kedudukanmu di antara manusia adalah karena ilmu yang engkau miliki, engkau akan merasa berat bila memandang orang lain yang lebih alim dan berilmu dari dirimu, karena engkau takut orang-orang akan menolehkan pandangan mereka kepadanya, bukan kepada dirimu. Sehingga penyakit yang ada di dalam hatimu itu sampai kepada batasan bahwa engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat yang Allah berikan kepada selain dirimu. Mengapa? Karena engkau tidak menginginkan orang-orang memandang kepada orang yang mendapat karunia itu. Engkau hanya ingin agar orang-orang memandang kepadamu.
Atau, apabila kedudukan yang engkau harapkan di antara manusia adalah dengan sebab kekayaan yang engkau miliki, atau kemampuan untuk meng-goal-kan proyek-proyek yang mendatangkan pundi-pundi kekayaan, engkau akan merasa berat bila di hadapanmu terdapat orang lain yang juga memiliki kemampuan seperti itu, karena engkau takut hal itu akan membuat pandangan orang-orang tertuju kepadanya, bukan kepada dirimu.
Pada ilmu, kedudukan, pangkat, jabatan, dan pada apa pun itu, penuhnya hati oleh kegelapan cinta terhadap kedudukan di sisi manusia akan melahirkan setelahnya penyakit yang ketiga ini, yakni hasad, perasaan berat melihat nikmat yang ada di sisi makhluk.
Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!
Apakah seseorang dapat menerima bahwa dirinya menjadi musuh bagi Tuhan, Yang Maha Pemilik segala kemuliaan? Hasad adalah permusuhan terhadap Allah SWT secara terang-terangan, karena orang yang hasud seolah-olah ia menentang Allah SWT.
“Kenapa Engkau memberi si Fulan?”
Di saat engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat pada seseorang, seolah-olah engkau menentang terhadap Yang memberinya nikmat itu, Allah SWT. Inilah bahaya hasad. Engkau akan senantiasa hidup dengan kegelapan hati, yang hatimu merasa berat untuk melihat kebaikan di sisi manusia, dan menentang Allah SWT dalam memberikan karunia-Nya kepada sekalian makhluk-Nya.
Hasad memiliki beberapa macam. Pertama, hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy). Yakni berharap hilangnya nikmat dari orang lain meskipun nikmat itu tidak diharapkan menjadi miliknya.
Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang ada di hadapannya sekalipun nikmat itu tidak akan menjadi miliknya. Misalkan, seseorang sukses dalam meng-goal-kan suatu transaksi bisnis, engkau berharap agar orang itu mendapat kerugian, sekalipun dirimu tidak dapat melakukan suatu transaksi pun.
“Atasku dan atas musuh-musuhku,” seperti yang dikatakan orang-orang.
Ini hasad Iblis. Dia merasa berat melihat kedudukan yang tinggi dari Allah SWT berada pada ayah kita, Nabi Adam AS. Hasad semacam ini kemudian membawa Iblis kepada menentang Tuhan, Yang Maha Pemilik segala kemuliaan, dengan menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Setelah itu, sebagai ganti dari semestinya ia kembali dan bertaubat kepada Allah SWT serta menyesali kesalahannya, yang, bila saja dia bertaubat, niscaya Allah akan menghapuskan dosanya, karena sungguh Allah mahaluas karunia-Nya, kepada Allah justru Iblis mengancam Adam AS dan anak-cucunya. Iblis berkata, “Dia (iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (QS Al-Isra: 62).
Apakah perbuatan Iblis terhadap anak-cucu Adam akan mengembalikan kedudukannya? Apakah dengan itu Iblis akan mendapatkan kembali kedudukan yang telah hilang darinya? Tidak!! Sekali-kali tidak akan pernah kedudukannya itu kembali kepadanya. Disebabkan karena teramat gelap dan hitam pekatnya hasad yang ada di dalam hatinya, Iblis berpaling dari seharusnya memikirkan bagaimana mendapatkan ganti dari kerugian yang dialaminya, dan bagaimana meraih kembali kedudukan yang telah hilang dari dirinya, kepada bagaimana mendatangkan madharat terhadap orang lain yang mendapatkan karunia dan kedudukan dari Allah SWT dan bagaimana melenyapkan karunia yang diraih oleh selain dirinya.
Inilah yang terburuk dan paling hina dari macam-macam hasad.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena dia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya.
Setelah menjelaskan hakikat hasad dan macam pertama dari macam-macam hasad, yakni hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy), pengasuh melanjutkan penjelasannya tentang macam-macam hasad selanjutnya dan bahaya darinya.
Kedua, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang berada di hadapanya dan dia berharap agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Dia berharap, si Fulan merugi dalam usahanya, agar dirinyalah yang kemudian mendapat keuntungan yang besar. Dia berharap, si Fulan jatuh kedudukannya, agar dialah yang nantinya mendapatkan dan menggantikan kedudukannya.
Seseorang yang memiliki sifat hasad semacam ini berharap hilangnya nikmat dari orang lain agar dirinya yang mendapatkannya. Sifat semacam ini adalah sifat yang buruk dan sesuatu yang dapat mengotori hati — wal-‘iyadzu billah, semoga Allah menjauhkan kita dan kalian semua daripadanya. Akan tetapi sifat hasad yang kedua ini lebih rendah keburukannya dari yang sebelumnya.
Ketiga, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar dia mendapatkannya, namun, jika tidak mendapatkannya, dia tetap rela bila nikmat itu dimiliki orang lain.
Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang ada di hadapannya dan mengharapkan untuk mendapatkan nikmat itu. Akan tetapi jika tidak ada jalan untuk menggapainya agar menjadi miliknya, dia merelakan nikmat itu menjadi milik orang lain tersebut.
Jenis hasad semacam ini pun buruk, akan tetapi kadar keburukannya lebih ringan dari dua macam hasad sebelumnya.
Keempat, ghibthah. Sesuatu yang tidak dinilai buruk, tapi merasakan berat terhadap nikmat yang ada pada orang lain.
“Mengapa Fulan mendapatkan ini dan itu? Akan tetapi aku tidak berharap agar si Fulan rugi. Aku hanya berharap agar aku pun mendapatkan seperti yang didapatkan oleh si Fulan.”
Inilah ghibthah. Hasad seorang mukmin adalah ghibthah. Seorang mukmin tidak hasad kepada sesamanya, tetapi ia ghibthah.
Apa makna ghibthah kepada orang lain? Maknanya, ia berharap agar mendapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain, tetapi tidak mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain.
Untuk macam yang keempat ini, tidaklah mengapa dimiliki seorang mukmin. Engkau melihat seseorang memiliki suatu kebajikan, misalkan ia telah hafal Al-Qur’an. Engkau merasa berat karena engkau belum hafal, maka engkau pun berharap agar segera dapat hafal Al-Qur’an, tapi engkau tidak merasa berat terhadap saudaramu yang telah lebih dahulu hafal Al-Qur’an. Perasaan berat itu selanjutnya memotivasimu untuk menghafal Al-Qur’an sehingga engkau mendapatkan apa yang ia dapatkan.
Engkau tidak berharap agar nikmat itu hilang dari saudaramu. Ini termasuk bab at-tanafus (saling berlomba). Allah SWT berfirman, "...dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba." QS. Al-Muthaffifin: 26.
Ghibthah adalah sesuatu yang terpuji, karena ini kembali kepada sifat asal manusia, yakni harapan untuk menang, harapan untuk beridentitas, dan harapan untuk maju.
Bila datang ghibthah ke dalam hatimu, tidaklah mengapa. Yang bermasalah adalah pada tiga macam yang pertama, yakni seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain.
Bahaya di Dunia
Adapun bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat hasud sangatlah besar. Dan tidak hanya terbatas di dunia, tetapi juga di akhirat.
Mengenai bahaya dan akibat sifat hasud di dunia, pertama, orang yang hasud akan senantiasa berada dalam duka dan kesedihan.
Orang yang hasud selalu berada dalam duka selama hidupnya. Karena seseorang yang di hatinya terpenuhi oleh gelapnya sifat hasad tidak pernah suka melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dia tidak pernah suka bila seseorang terlihat harmonis bersama keluarganya sehingga berusaha untuk menebarkan fitnah, tidak suka bila seseorang mendapatkan nikmat dari kebaikan dunia, tidak suka bila seseorang mendapatkan nikmat berupa ilmu atau kebaikan apa pun.
Selamanya, ketika melihat orang lain mendapat kebaikan, dia akan merasa berat karenanya, sehingga ia pun berharap agar nikmat itu hilang. Orang semacam ini hidupnya miskin. Dia dalam kesedihan sepanjang hidupnya karena karunia Allah tidak pernah terputus selamanya kepada makhluk-Nya. Maka, sepanjang dia melihat karunia dan nikmat Allah di sisi makhluk-Nya, sepanjang itu pula dia senantiasa berduka dan bersedih hati sampai akhir umurnya.
Bila saja tidak ada akibat buruk dikarenakan sifat hasad selain hal ini, niscaya cukuplah sebagai bukti dari buruknya sifat hasad. Yang satu ini adalah bahwa orang yang hasud selamanya bersedih di dunia.
Kedua, orang yang hasud tidak memiliki kawan. Karena hubungannya dengan manusia lainnya sebatas fatamorgana. Orang yang hasud, sekalipun seolah-olah mencurahkan cinta kepada sesama, pasti akan datang saat-saat ketika tampak darinya sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia seorang yang hasud terhadap sesamanya sehingga orang-orang pun akan menjauh darinya. Orang yang hasud tidak memiliki kawan. Dia akan hidup terkucilkan sekalipun dia berusaha untuk menutupinya.
Ketiga, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketulusan dan kelapangan hati. Ini berlaku di dunia sebelum akhirat. Orang yang hasud tidak akan merasakan makna ketulusan dalam hubungannya dengan makhluk lainnya. Setiap kali melihat seseorang mendapatkan sesuatu dari nikmat yang Allah berikan, hatinya merasa berat karenanya. Dia pun gundah dan susah karenanya, di saat orang yang menyambut gembira terhadap datangnya kebaikan pada orang lain merasakan makna ketulusan, karena hubungan yang dibangun bersama sesamanya adalah hubungan yang didasarkan atas cinta terhadap kebaikan bagi sesamanya. Keempat, seorang yang hasud tidak akan mungkin menjadi dai yang mengajak kepada jalan menuju Allah SWT. Orang yang hasud tidak akan mungkin mengabdi kepada Islam. Meskipun berusaha untuk melakukan perbuatan yang menggambarkan khidmah terhadap Islam, dia tidak akan dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebajikan kepada segenap makhluk. Karena dasar dalam berdakwah kepada Allah adalah bahwa engkau menyampaikan cahaya iman kepada orang lain. Apa maknanya? Maknanya, engkau menyampaikan kebaikan kepada mereka. Apa makna menyampaikan kebaikan kepada mereka? Maknanya, engkau menjadi sebab bagi kebahagiaan mereka. Dan jika di dalam hati terdapat hasad, niscaya akan terasa berat terhadap adanya kebaikan di sisi makhluk. Lalu bagaimana engkau dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka? Syaikh Muhammad As-Sinqithi menceritakan satu kisah nyata yang lucu tapi juga ironis. Beliau menceritakan bahwa seorang nonmuslim nonpribumi tinggal di kota Damaskus. Bertahun-tahun lamanya ia berjualan minyak tanah. Setelah lebih dari dua puluh tahun berada di Damaskus, ia merasa saatnya kembali ke negerinya. Lalu ia pun mendatangi seseorang yang terlihat ahli ibadah. Ia datang kepada orang itu dan berkata, “Wahai Tuan, sekarang ini usiaku 60 tahun. Selama aku tinggal di negeri kalian, negeri Islam, aku telah tertarik kepada Islam. Apakah, jika aku masuk ke dalam Islam, Allah akan mengampuniku atas segala yang telah aku perbuat selama ini?”
Orang itu berkata kepadanya, “Enam puluh tahun engkau bergelimang dalam kemaksiatan, dosa, dan berbagai kenistaan... lalu begitu saja ingin lepas dari semua itu dan engkau ingin masuk ke dalam surga? Sulit... hal itu tidak akan mungkin... tidak ada jalan keselamatan bagimu!”
Sampai di situ selesailah permasalahannya, dan orang itu pun mempercayainya. Ia pun kembali ke rumahnya dalam keadaan bersedih dan diliputi duka.
Namun, setelah enam bulan berlalu, hasrat dan keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk menetapi jalan kebaikan membawanya untuk datang kepada Syaikh Muhammad As-Sinqithi, yang menceritakan kisah itu.
Nonmuslim itu berkata kepada Syaikh Sinqithi, “Apakah mungkin aku masuk Islam?”
“Baiklah, sekarang ucapkan dua kalimah syahadat!”
“Apakah engkau yakin bahwa itu mungkin untukku?”
“Engkau rela Islam sebagai agamamu dan yakin terhadapnya?”
“Ya”
“Sekarang, ucapkanlah dua kalimah syahadat dan jangan ragu.”
Nonmuslim itu pun bersyahadat dan menangis setelahnya.
Syaikh Sinqithi pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Aku pergi kepada seorang syaikh sebelum ini, atau seorang yang rupanya seperti seorang syaikh, tapi ia berkata kepadaku, ‘Tidak mungkin ada jalan selamat untukmu...’.” “Siapa dia?”
“Si Fulan di daerah anu...”
Syaikh Sinqithi pun mengunjungi orang yang ditunjukkan oleh nonmuslim tadi.
Setelah bertemu, ia bertanya kepadanya, “Apakah benar beberapa bulan yang lalu ada seorang kelana yang datang kepadamu dan menyatakan bahwa ia hendak masuk Islam lalu engkau katakan kepadanya, ‘Sudahlah, tak ada gunanya... engkau sudah 60 tahun....’
Orang itu menjawab, “Benar.”
“Bagaimana mungkin engkau melakukan hal seperti itu?”
“Allah adalah Tempat meminta pertolongan. Orang ini sudah 60 tahun menghabiskan umurnya dalam keharaman, bersenang-senang dengan perempuan dan segala yang dia inginkan dari dunia, lalu nanti dia akan masuk surga bersama kita?! Ini musykil... Dia akan masuk surga bersama kita?!”
Hikmah dari kisah ini, di dalam kisah ini terdapat tiga masalah, akan tetapi semuanya kembali kepada satu masalah, yakni hasad.
Masalah pertama, dia (“ahli ibadah” itu) tidak menginginkan adanya nikmat bagi orang lain.
Masalah kedua, dia meyakini bahwa dirinya masuk surga. Ini adalah musibah yang kedua. Ujub telah mewariskan kesombongan di dalam hatinya (...dia masuk surga bersama kita?!).
Apakah engkau dapat menjamin bahwa engkau pasti masuk surga?
Masalah yang ketiga adalah sesuatu yang paling dalam. Sesungguhnya dia merasa dirinya rugi bahwa dirinya terhalang dari maksiat. “Bagaimana mungkin orang ini tenggelam dalam maksiat sedangkan aku tidak?” Karenanya dia marah, mengapa orang lain melakukan maksiat sedangkan dirinya tidak.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain sebabnya adalah hasad.
Kelima, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketaatan kepada Allah SWT.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena ia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya. “Wahai Tuhanku, kenapa Engkau memberi ini dan itu kepada Fulan dan Fulan?!”
Orang yang hasud menghadapi Allah dengan apa-apa yang tidak disukai-Nya ada di dalam hati hamba-hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Ini semua adalah akibat dan bahayanya sifat hasud.
Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis?
Setelah pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di dunia, selanjutnya pengasuh menjelaskan bahaya hasad kelak setelah pelakunya menjumpai Allah SWT di akhirat.
Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis? Itulah sebabnya, orang yang hasud akan terusir dari rahmat Allah SWT.
Hasad juga adalah sebab masuknya pelakunya ke dalam neraka. Hasad akan menjadi permulaan hilangnya iman seseorang bila pelakunya tidak menyadarinya – wal ‘iyadzu billah. Bagaimana hasad dapat menjadi sebab tercerabutnya iman dari pelakunya? Karena orang yang hasud senantiasa menentang dan menentang Allah SWT. “Ya Rabb, mengapa Engkau karuniakan kepada Fulan?!” “Mengapa Engkau mudahkan fulan?!” “Mengapa?!” “Mengapa?!!!”
Terhadap Tuhannya, ia menyimpan rasa dalam benaknya, “Ya Rabb, sungguh aku tidak rela dengan apa yang Engkau putuskan!” Kondisi ini bila berkelanjutan di dalam dirinya, lalu apakah yang tersisa dari imannya? Imannya akan hilang dan tercerabut dari asalnya.
Wahai murid, peniti jalan menuju Allah SWT, masuklah ke dalam hatimu dan periksalah. Terkadang hasad tersembunyi pada nafsu di dalam hati. Berapa kali engkau merasa bahwa dirimu marah terhadap seseorang melampaui batas dalam ucapan yang engkau lontarkan kepadanya hanya karena hal sepele yang tidak perlu berkata keras dan tidak pula berteriak karenanya.
Periksalah, mungkin di dalam hatimu engkau merasakan sesuatu yang berat dari orang yang engkau marahi itu? Engkau hasad terhadapnya pada satu hal sehingga muncul masalah paling kecil namun membuatmu berdiri dan melontarkan kata-kata yang tidak patut kepadanya.
Para ulama hati mengatakan, “Paling buruknya macam-macam hasad adalah hasadnya para ulama, para penuntut ilmu, para dai, dan para salikin, peniti jalan menuju Allah SWT. Mengapa demikian? Karena, semestinya merekalah yang mempergunakan bekal pensucian hati.”
Apabila seorang penuntut ilmu, misalnya, hasad terhadap penuntut ilmu lainnya, niscaya ia akan menanti-nanti kapan penuntut ilmu yang dihasadinya itu melakukan suatu kesalahan. Dan bila ia telah melakukan kesalahan, dia akan menyerangnya dengan serangan yang dahsyat terhadapnya. Karena serangan yang dilakukan itu sesungguhnya bukanlah ditujukan terhadap kesalahan yang ringan itu sendiri, melainkan untuk membinasakan semua yang datang dan berasal dari sisi penuntut ilmu, orang alim, dai, atau salik, yang dihasadinya itu.
Mengapa demikian? Karena permasalahan yang sesungguhnya adalah permasalahan hasad, bukan permasalahan kritik terhadap kesalahan. Demikian pula halnya dalam perdagangan, jual-beli, dan perniagaan. “Tidak, tidak, tidakk!!.... Aku tidak mungkin percaya kepada si Fulan selama-lamanya!” Mengapa? Pada hari ketika engkau menurunkan barang dagangan ke pasar, orang-orang tidak menemukan masalah apa pun dari si Fulan dalam perniagaannya? Apakah ada kemunngkinan tidak sadarnya mereka terhadap masalah si Fulan itu karena lupa? Sesungguhnya yang menyebabkan datangnya kemungkinan, mengapa engkau langsung menganggapnya tidak amanah atau keji dalam perniagaannya, adalah karena engkau dan si Fulan berada pada satu profesi sebagai pedagang. Bila persaingan telah berlangsung, hasad pun muncul dan datang.
Bila ada seorang petani dan ada petani lain selain dalam satu usaha agrobisnis, misalnya, lalu petani yang kedua melakukan kesalahan dalam salah satu prosedur bercocok tanam yang semestinya hingga memberi pengaruh terhadap panen yang dihasilkan, petani yang pertama akan berkata, “Tidak, jangan kalian percaya kepada si Fulan untuk melakukan tugas-tugas ini dan itu, dia telah melakukan ini dan itu....”
Siapa yang melakukan kecaman dan serangan terhadap petani itu? Yang melakukannya tidak lain adalah petani sepertinya, pada profesi yang sama. Mengapa? Karena petani tersebut merasa berat untuk melihat petani lainnya lebih unggul dan lebih sukses darinya.
Bagaimana mengobati hasad?
Pertama, benci terhadap sifat hasad itu sendiri. Engkau benci sifat ini berada pada dirimu. Akui bahwa sifat hasad ada dalam dirimu dan engkau membenci keberadaanya di dalam dirimu. Biarkan Allah melihat hatimu dan mendapati kebencianmu terhadap hasad di dalamnya. Kebencianmu untuk hasad terhadap orang lain.
Kedua, mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat adanya karunia padanya.
Engkau melihat seseorang yang Allah berikan karunia kepadanya berupa nikmat lahir atau bathin lalu hatimu merasa berat melihat nikmat itu ada padanya, maka ucapkanlah, “Ya Allah, tambahkanlah nikmat-Mu baginya dan berikan keberkahan untuknya di dalamnya.... Ya, Allah, berikan taufiq untuknya agar dapat mempergunakan karunia-Mu dengan sebaik-baiknya.... Ya Allah, bahagiakanlah dia dengan karunia-Mu di dunia dan akhirat.... Ya Allah, muliakanlah dia dan muliakan dzuriyahnya dengan tambahan karunia dari sisi-Mu....”
Sebagian ulama berkata, “Ya Rabbi, Engkau perintahkan aku untuk mendoakan sedangkan hatiku tiada rela. Mungkin lidahku dapat berkata-kata, tapi hatiku sesungguhnya tak menghendakinya. Aku tertawa dan mengkhianati Tuhanku. Aku tiada mampu melakukannya. Aku berkata ‘Ya Rabbi, tambahkan karuniamu kepadanya’ sedang hatiku berkata ‘Jangan pernah Engkau tambahkan baginya’.”
Meskipun hal seperti ini terjadi padamu, tetap lakukanlah. Jika engkau ucapkan ‘Ya Rabb, tambahkanlah karunia-Mu untuknya’ dan hatimu berkata ‘Jangan, ya Rabb. Jangan pernah Engkau tambahkan karunia-Mu untuknya’, ucapkanlah, ‘Ya Rabb, aku berlepas diri dari apa yang ada di hati ini kepada-Mu. Dan yang lidahku mampu untuk mengucapkannya, tolonglah aku atas apa yang aku tiada kuasa terhadapnya (untuk menggerakkan hatiku sebagaimana aku mampu menggerakkan lisanku untuk mendoakan kebaikan). Aku ber-tawajjuh (menghadapkan diri dan jiwa) kepada-Mu pada apa-apa yang membuat-Mu ridha dengan apa-apa yang aku mampu melakukannya, maka tolonglah aku pada apa-apa yang aku tiada mampu memperbuatnya.’ Semoga Allah memuliakanmu.
Ini adalah termasuk obat yang mujarab untuk mengobati hasad yang ada di dalam hati. Engkau mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat nikmat berada di sisinya, dan memohonkan untuknya agar Allah SWT menambahkan karunia yang sudah diberikan dengan karunia yang lebih besar lagi.
Bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya. Beberapa waktu yang lalu, pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di akhirat dan sebagian penjelasan tentang bagaimana mengobati penyakit hasad. Selanjutnya pengasuh melanjutkan ihwal bagaimana mengobati hati dari penyakit hasad, sebagai pelajaran terakhir dari pelajaran kesebelas, tentang penyakit hasad.
Cara yang ketiga untuk mengobati penyakit hasad adalah menceritakan orang yang engkau hasadi di saat ketidakhadirannya dengan pujian.
Engkau ceritakan orang yang engkau merasa berat melihat karunia Allah berada di sisinya dengan pujian. Ceritakan orang yang engkau hasadi di saat ketidakhadirannya dengan pujian terhadap kebaikan-kebaikan yang dimilikinya kepada orang-orang lain. Adapun jika di hadapannya engkau puji sedangkan di belakangnya engkau cela, yang demikian itu adalah kemunafikan dan mencari muka.
Pujilah di saat ketidakhadirannya kepada orang-orang dengan pujian yang baik dan kukuhkan buah dari kebaikan-kebaikannya itu di hati manusia.
Tahukah engkau, di mana wujud pengobatan terhadap hasad dari perbuatan ini?
Ini adalah paling idealnya pengobatan langsung terhadap masalah hasad pada nafsu. Mengapa engkau hasad? Engkau ingin bersenang-senang? Engkau menginginkan kedudukan di sisi manusia? Engkau ingin bersenang-senang dengan kedudukan? Bila engkau memuji kemampuan dan keahlian orang yang bersaing denganmu dalam ilmu, perdagangan, industri, teknik, atau bidang apa pun itu, di saat ketiadakhadirannya dan menceritakannya kepada orang-orang lain, apa yang sesungguhnya engkau lakukan di sini? Engkau tengah menguatkan dan meneguhkan kedudukan yang akan menjadi milik orang yang engkau hasadi itu di hati manusia dengan sebab karunia yang telah Allah berikan kepadanya.
Bila demikian halnya, apa yang sedang engkau lakukan? Sesungguhnya engkau tengah membasmi penyakit yang ada dalam hatimu dari asalnya.
Mengapa engkau merasa berat melihat nikmat pada seseorang, mengapa engkau hasad terhadapnya? Karena engkau melihat bahwa nikmat itu akan menjadi sebab bertambahnya kedudukan orang itu, yang akan menyaingi kedudukanmu di sisi manusia. Dan bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya.
“Siapa yang dapat melakukan itu?! Ini teramat berat!!”
Apakah engkau ingin dekat dengan Allah? Apakah engkau ingin menjadi seorang peniti jalan menuju Allah SWT? Tentu tidak akan pernah mudah untuk berdiri dan berada di tempat orang-orang yang meniti jalan menuju Allah.
Untuk pertama kali, engkau akan keluar dari majelis ini dengan semangat yang berkobar-kobar setelah mendengarkan penjelasan ini.
“Ya Allah, aku merasa berat terhadap nikmat-Mu yang ada di sisi Fulan. Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu untuknya dan berkahilah dia padanya....”
Esok hari, engkau duduk bersama kawan-kawanmu, katakanlah, “Masya Allah, Fulan luar biasa. Aku yakin, keahlian yang luar biasa di bidang ini akan memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan yang besar. Dan aku akan menyambut gembira atas keberhasilannya.”
Sampai batas ini, mungkin masih mudah bagi hati untuk menerimannya. Akan tetapi, setelah dua atau tiga hari, dan orang-orang mulai menceritakan dan memuji-muji orang yang engkau puji dan ceritakan itu di hadapan mereka, mulai nafsumu menjadi terasa sempit mendengarnya. Mereka memujinya lagi, lagi, dan lagi, dan engkau katakan, “Benar, benar demikianlah dia adanya!” Namun, sekali lagi, dengan marah engkau berkata, “Kami tahu bahwa dia istimewa!!”
Mengapa itu bisa terjadi? Karena dengan sebab semakin banyaknya orang-orang memuji dan menceritakan kebaikan orang itu, urat lehermu terasa semakin sempit dan mencekik.
Makna dari penjelasan ini adalah bahwa ini semua adalah proses yang panjang, karena di sini engkau tengah melawan nafsumu pada apa-apa yang disukainya. Engkau tengah membasmi penyakit ini dari dalam hatimu dari dasar hati, yakni mengobati penyakit hasad.
Keempat, memikirkan bagaimana membantu orang yang engkau hasad terhadapnya. Engkau merasa berat melihat nikmat yang telah Allah berikan kepada sesorang. Bila engkau dapat membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya, ini pun akan dapat mengobati penyakit hasad yang ada di dalam hatimu lebih dahsyat dan lebih hebat lagi. Bila ini dapat engkau lakukan, niscaya Allah akan memandang hatimu. Inilah yang diharapkan dan buah darinya.
Apabila Allah memandang hatimu dan melihat bahwa engkau berinteraksi dengan-Nya dengan interaksi seperti demikian itu, niscaya Allah akan bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya. Dan bila Allah telah bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya, Allah akan memberimu kesucian yang engkau tidak upayakan sebelumnya. Dengan sebab itu hatimu akan membuat manusia menjadi tenteram dan hatimu akan menjadi sebab turunnya kebaikan bagi manusia dari sisi Allah SWT, selanjutnya engkau akan merasa rindu untuk melihat adanya nikmat dan karunia bagi manusia lainnya. Mengapa? Karena engkau melihat tajalliyat (pancaran-pancaran kemahakuasaan yang berupa rahmat dan kasih sayang) Yang Maha Pemberi nikmat, Allah SWT....
Wahai murid, pahamilah makna ini dan sadarilah. Apabila engkau obati jiwamu dengan apa yang telah kami sebutkan dalam pelajaran ini dan dengan apa-apa yang telah diuraikan oleh para ulama tentang mengobati hati, engkau akan melihat adanya pancaran sinar di dalam hatimu. Apa pancaran sinar itu? Yakni nur dan cahaya kebahagiaan dengan melihat nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya yang lain.
Makna dari ini adalah bahwa engkau menyaksikan tajalliyat Allah SWT. Engkau melihat seseorang yang dikaruniai nikmat oleh Allah SWT.
Apa yang engkau saksikan? Gambaran yang engkau saksikan adalah seorang manusia dan nikmat yang datang kepadanya, adapun hakikatnya sesungguhnya engkau menyaksikan tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi nikmat) atas hamba-Nya. Maka engkau telah berpindah dari kegelapan hasad kepada nur penyaksian terhadap tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im. Kemudian tajalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im ini membuat hatimu terpenuhi dengan nur asma Allah Al-Mun‘im.
Bila hatimu telah terpenuhi dengan tajalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im, engkau pun akan bertajalli atas dirimu sendiri denga asma-Nya al-Mun‘im. Maka pada saat itu Allah bertajalli atasmu dengan nikmat wushul (sampai) kepada-Nya, yang untuk sampai kepada yang demikian itulah aku meniti jalan ini, menguraikan penjelasan ini, dan menghadiri majelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran ini.
Setelah kita membicarakan, pada tiga pelajaran yang lalu, perihal induk dari segala penyakit hati, apakah masih tersisa sesuatu dari al-kibr (kesombongan) dalam dirimu yang belum engkau benci. Benar, kita butuh waktu untuk melakukan mujahadah agar kita terlepas darinya dan memohon perlindungan Allah darinya. Dari riya’ (menolehkan padangan kepada kedudukan di sisi manusia), dan dari hasad (merasa berat melihat nikmat pada seseorang). Kita akan berupaya untuk melepaskan diri dari penyakit-penyakit itu.
Setelah pelajaran ini, tugas telah menunggu di hadapanmu yang harus engkau kerjakan. Yakni melepaskan diri dari penyakit al-kibr dengan merenungkan keadaanmu dan segala kekuranganmu. Kita melepaskan diri dari al-kibr dengan mendahului orang lain untuk mengucapkan salam kepadanya, bersih-bersih rumah, membersihkan kamar mandi masjid, dan lain-lain.
Kita melepaskan diri dari riya’ dengan merasakan keagungan Allah SWT sampai kita tidak mencari dan merindukan kedudukan di sisi makhluk, membenci lintasan riya’ yang datang, dan memperbanyak dzikir La ilaha illallah.
Dan kita melepaskan diri dari hasad dengan membencinya dan mengakui adanya hasad di dalam hati kita, mendoakan orang yang mendapatkan nikmat di hadapan kita, mengakui adanya perasaan berat di dalam hati kita di saat melihat orang lain mendapatkan nikmat, memuji mereka di belakang mereka, dan dengan membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya agar semakin bertambah kebaikan padanya.
Dari tiga penyakit atau tiga maksiat ini bercabang darinya berbagai macam penyakit di dalam hati, karena penyakit-penyakit hati teramat banyak jenis dan bentuknya – wal ‘iyadzu billah. Akan tetapi barang siapa perhatiannya tercurah untuk mensucikan hatinya dari tiga penyakit ini, berarti ia mengobati hatinya dari penyakit-penyakit yang lainnya, yang bercabang dari ketiganya. Karena seolah ia mengobati sumber penyakitnya.
Apabila engkau peduli dengan semua itu dan rela terhadap berlalunya hari demi hari, waktu demi waktu, kesungguhan, pikiran, segenap upaya, agar engkau terlepas dari ketiga induk penyakit itu, niscaya nur-nur kesucian akan memancar dan berkemilau di dalam hatimu.
Kita memohon kepada Allah SWT, semoga Dia mengaruniai kita kesempurnaan kesucian lahir dan bathin. Ya Bathin, ya Zhahir... sucikanlah lahir dan bathin kami, dan jadikanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Ya Allah, selamatkanlah kami dari kegelapan hasad. Ya Allah, karuniakanlah di dalam hati kami cinta terhadap kebaikan bagi hamba-hamba-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang paling bermanfaat bagi makhluk-Mu yang lain dan paling dekat kepada-Mu....
Sumber: http://www.majalah-alkisah.com
Labels:
Madrasah Hadramaut-Alkisah
Subscribe to:
Posts (Atom)


