Ibnu Athaillah berkata : "Orang-orang ma'rifat jika merasa lapang lebih banyak khawatirnya daripada jika mereka dalam keadaan kesempitan. Dan tidak dapat tetap berdiri di atas batas-batas adab di dalam keadaan lapang kecuali sedikit".
Orang-orang ma'rifat lebih khawatir dalam keadaan lapang daripada dalam keadaan kesempitan. Sebab keadaan lapang itu sesuai dengan hawa nafsunya. Sehingga mereka khawatir kalau sampai tertarik ke dalam ajakan hawa nafsu.
Sehubungan dengan keadaan lapang dan kesempitan itu, Syaikh Ahmad bin "Athaillah berkata :
"Dalam keadaan lapang nafsu ikut mengambil bagiannya dengan bergembira, sedang dalam keadaan kesempitan tidak ada bagian sama sekali bagi nafsu itu."
Jalan orang-orang sufi.. Pecinta menuju makrifatullah Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Thursday, November 19, 2015
Hikmah Nashaihul Ibad: Penolong
Dari sebagian Hukama menyatakan: "Barangsiapa mengira bahwa mempunyai penolong yang lebih mumpuni dibanding Allah, maka baru sedikit ia mengenali Allah, dan barangsiapa mengira mempunyai musuh yang lebih kejam dibanding nafsunya, maka ia baru sedikit mengetahui nafsunya sendiri".
maksudnya yaitu: jika seseorang tidak mengenali Allah dengan segala macam keagungan dan Kekuasaan-Nya maka ia tidak dapat yakin bahwa Allah Maha Penolong. Dan orang yang belum mengetahui keganasan hawa nafsu sendiri yang mempengaruhinya kearah kejahatan itu,maka tidak mengetahui pula bahwa nafsu itu musuh yang paling jahat.
Ya Allah Engkau Maha Penolong, tolonglah kami dan berikanlah kami kekuatan untuk melawan nafsu kami Amiin...
(sumber: Nashaihul Ibad Imam Nawawi Al Banteny)
maksudnya yaitu: jika seseorang tidak mengenali Allah dengan segala macam keagungan dan Kekuasaan-Nya maka ia tidak dapat yakin bahwa Allah Maha Penolong. Dan orang yang belum mengetahui keganasan hawa nafsu sendiri yang mempengaruhinya kearah kejahatan itu,maka tidak mengetahui pula bahwa nafsu itu musuh yang paling jahat.
Ya Allah Engkau Maha Penolong, tolonglah kami dan berikanlah kami kekuatan untuk melawan nafsu kami Amiin...
(sumber: Nashaihul Ibad Imam Nawawi Al Banteny)
Hikmah Imam Al Ghazali: Lalat
Pernah Imam Al Ghazali ditemui dalam suatu mimpi, lalu kepada beliau ditanyakan "Bagaimana perlakuan Allah terhadap tuan?", lalu beliau menjawab : Terlebih dahulu Allah menempatkan aku ditengah tengah anugerah-Nya. Lalu Allah menanyai saya "Lantaran apa Aku membawamu ke sisi-Ku?". Akupun menyebutkan berbagai amal perbuatanku, sehingga Allah memotong dengan firman-Nya "Aku tidak menerima itu semua. Yang Aku terima ialah satu kebajikanmu, dimana pada suatu hari engkau tengah menulis kemudian ada seekor lalat hinggap pada penamu untuk minum dawatnya; dan dengan kasih sayang engkaupun berhenti sejenak sampai lalat tersebut memperoleh kesegaran". Kemudian Allah memerintahkan "Bawalah Hambaku ini ke surga !".
Rasulullah bersabda : "Allah Maha Penyayang berkenan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada mereka yang bersikap penyayang, maka dari itu sayangilah penduduk bumi agar kalian disayangi oleh penduduk langit"..
Rasulullah bersabda : "Allah Maha Penyayang berkenan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada mereka yang bersikap penyayang, maka dari itu sayangilah penduduk bumi agar kalian disayangi oleh penduduk langit"..
Labels:
Hikmah Imam Al Ghazali
Hikmah Kitab Nashaihul Ibad : Dosa
Dari sebagian kaum zahid mengatakan: "Barangsiapa dengan tertawa berbuat dosa maka Allah akan melempar dia kedalam neraka dengan tangisan, dan barangsiapa dengan menangis berbuat taat maka Allah akan memasukannya ke dalam surga dengan tertawa".
maksud dari nasehat ini adalah : Orang yang dengan bangga berbuat dosa maka akan masuk neraka dengan penuh penyesalan. orang seperti ini pada hakekatnya telah melakukan dua dosa besar sekaligus yaitu disa itu sendiri dan dsoa karena bangga berbuat dosa.
Sebaliknya orang yang taat kepada Allah dengan penuh rasa penyesalan atas dosanya dan takut mendapat siksa sehingga ia menangis karenanya, kelak akan masuk surga dengan kegembiraan. orang seperti ini pada hakekatnya telah melakukan dua kebajikan, yaitu kebajikan taat itu sendiri dan kebajikan penyesalan atas dosa yang ia lakukan.
(sumber: Nashaihul ibad: Imam Nawawi Al Banteni)
maksud dari nasehat ini adalah : Orang yang dengan bangga berbuat dosa maka akan masuk neraka dengan penuh penyesalan. orang seperti ini pada hakekatnya telah melakukan dua dosa besar sekaligus yaitu disa itu sendiri dan dsoa karena bangga berbuat dosa.
Sebaliknya orang yang taat kepada Allah dengan penuh rasa penyesalan atas dosanya dan takut mendapat siksa sehingga ia menangis karenanya, kelak akan masuk surga dengan kegembiraan. orang seperti ini pada hakekatnya telah melakukan dua kebajikan, yaitu kebajikan taat itu sendiri dan kebajikan penyesalan atas dosa yang ia lakukan.
(sumber: Nashaihul ibad: Imam Nawawi Al Banteni)
Kisah Syeikh Abu Bakar Bin Salim
Suatu hari seorang wanita mendatangi rumah Al Imam Fakhrul Wujud Syeikh Abi Bakar bin Salim ra. Maksud kedatangan wanita itu adalah untuk memberikan semangkuk bubur gandum kepada Al Imam Fakhril Wujud. Wanita itu telah membuat bubur tersebut semalam suntuk, khusus untuk diberikan kepada Al Imam Fakhril Wujud. Ketika wanita itu sampai di depan pintu rumah Al Imam Fakhril Wujud, maka penjaga pintu berkata, “Ibu mau kemana?”, Wanita itu berkata, “Aku ingin menghadiahkan semangkuk bubur ini untuk Al Imam Syeikh Abi Bakar bin Salim.” Maka penjaga itu berkata, “Wahai ibu, lebih baik makanan ini anda sedekahkan saja kepada para fuqara, karena setiap hari di dapur Al Imam selalu dipenuhi dengan sembelihan kambing dan berbagai macam makanan yang dimasak setiap harinya.” Wanita itu pun merasa kecewa, namun menyadari apa yang telah dikatakan oleh penjaga itu, karena pastilah semangkuk bubur itu tidaklah ada artinya bagi Al Imam Fakhrul Wujud.
Ia pun kemudian pergi, meninggalkan rumah Al Imam Fakhril Wujud. Al Imam Fakhrul Wujud adalah seorang yang memiliki firasat yang sangat tajam. Saat itu Al Imam Fakhrul Wujud sedang duduk bersama para tamunya. Tiba-tiba saja beliau keluar dan berlari untuk mengejar wanita yang tadi mendatangi rumahnya, seraya memanggil, “Wahai ibu! Apa yang engkau bawa?” Penjaga pintu itu kaget dan terheran, karena baru pertama kali ini ia melihat Al Imam Fakhril Wujud berlari. Maka ibu itu berkata, “Wahai Imam, aku membawa semangkuk bubur ini, yang kubuat semalaman hanya untuk kuberikan kepadamu, namun penjagamu mengatakan bahwa semangkuk bubur ini, tidaklah berarti untukmu, karena di dapur rumahmu telah dipenuhi banyak sekali makanan yang lebih baik. Maka sebaiknya bubur ini kusedekahkan saja kepada fakir miskin.” Beliau berkata: “Wahai Ibu, maafkanlah penjaga pintu itu, karena ia tidak tau kesukaanku. Ketahuilah! Tidak ada hadiah yang lebih membuatku gembira, selain hadiah bubur darimu ini, semoga Allah membalas kebaikanmu.” Al Imam Syeikh Abi Bakar bin Salim pun menerima makanan itu dengan gembira lalu Beliau memberikan kepada wanita itu 1000 dinar. Wanita itupun berbunga-bunga hatinya, bukan karena uang 1000 dinar yang ia terima, tetapi karena Al Imam mau menerima hadiah darinya yang tidak seberapa tersebut. Al Imam Fakhril Wujud Syeikh Abi Bakar bin Salim kembali kepada penjaganya dan berkata: “Tahukah Engkau bahwa ibu itu telah bersusah payah membuatkan makanan ini untukku, walaupun hanya sedikit. Maka seperti itulah keadaanku di hadapan Allahu shubhânahu wa ta‘âlâ, yang mana aku telah beribadah semampuku namun tidak ada artinya di hadapan Allah, dan jika engkau mengusir ibu itu, bagaimana jika nantinya jika aku terusir dari rahmat Allah?”
MasyaAllah Tabarakallah, betapa banyak hikmah yang dapat kita petik. Usaha dan kesusah-payahan kita dalam beribadah dan ta’at kepada Allah SWT, tidak akan pernah sia-sia. Meskipun Allah SWT tidak butuh sama sekali dengan ibadah kita, namun ingatlah bahwa kita adalah hamba yang sangat butuh kepada Allah SWT dan Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Bersyukur, Allah SWT adalah Dzat Yang Tidak Suka Menyianyiakan amal ibadah hamba-Nya. Allahumma Sholli wa Sallim ‘ala Muhammad! ALLAHU AKBAR!!!
Sumber: Al Habib Muhsin Basyaiban On FB
Labels:
Kisah Sufi
Hikmah Syeikh Abdul Qodir Jilani: Rahmat Allah
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai anak muda! Janganlah berkonsentrasi pada mencuci pakaian jasadmu, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu. Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
"Wahai anak muda! Janganlah berkonsentrasi pada mencuci pakaian jasadmu, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu. Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
Engkau tidak boleh membiarkan dirimu silau oleh apa pun, sebab Tuhanmu “melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS 11:107). Itulah sebabnya diceritakan sebuah kisah tentang seorang saleh, bagaimana suatu ketika ia mengunjungi saudaranya seiman kepada Allah. “Wahai saudaraku,” katanya kepada saudaranya itu. “Marilah kita menangis atas pengetahuan Allah tentang kita!”
Alangkah bagusnya ucapan orang saleh ini! Dia adalah orang yang memiliki pengenalan (‘ârîf) tentang Allah dan telah mendengat kata-kata Nabi SAW: “Salah seorang di antara kalian mungkin beramal dengan amalan ahli surga, sampai tak ada jarak antara dia dan surga itu kecuali satu jengkal saja, kemudian kemalangan menimpanya dan dia menjadi salah seorang penghuni neraka, sampai tak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal saja, kemudian keberuntungan mengenainya dan dia menjadi salah seorang penghuni surga.”
Pengetahuan Allah tentang dirimu hanya akan tampak kepadamu manakala engkau berpaling lagi kepada-Nya dengan segenap hati dan aspirasimu, manakala engkau tidak pernah menjauhi pintu rahmat-Nya, manakala engkau memasang penghalang dari besi antara hatimu dan nafsu badaniahmu, dan manakala engkau menjadikan maut dan kuburan sebagai titik pusat perhatian bagi mata kepala dan mata hatimu.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir
Hikmah Imam Al Ghazali: Mujahadah
Imam Al-Ghazali mengatakan: “Mujahadah merupakan energi jiwa yang akan menghantarkan engkau memperoleh kebahagiaan. Karena itu, jiwa harus dibersihkan terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang telah menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,” (QS Asy-Syams [91]: 9-10)
Mengingat kunci kebahagiaan itu terletak pada jiwa, maka Allah SWT mengagungkan dan menyandarkan jiwa itu kepada Dzat-Nya. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa Dia telah mengistimewakan dan memuliakannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, kemudian apabila telah Kusempurnakan kejadiaannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan-Ku), maka hendaklah engkau tersungkur dengan bersujud kepada-Nya.” (QS Shad [38]: 71-72)
Dari ayat di atas jelas sekali Allah mengingatkan bahwa manusia itu diciptakan dari tubuh yang dapat dilihat dengan penglihatan mata dan jiwa (ruh), yang dipertemukan dengan akal dan mata hati, bukan dengan indera. Allah menyandarkan tubuh manusia itu pada tanah, dan menyandarkan ruh kepada ruh ciptaan-Nya.
Dari ayat di atas jelas sekali Allah mengingatkan bahwa manusia itu diciptakan dari tubuh yang dapat dilihat dengan penglihatan mata dan jiwa (ruh), yang dipertemukan dengan akal dan mata hati, bukan dengan indera. Allah menyandarkan tubuh manusia itu pada tanah, dan menyandarkan ruh kepada ruh ciptaan-Nya.
Merujuk firman Allah di atas, maka yang kami maksud dengan jiwa adalah ruh ciptaan-Nya. Dengan pengertian ini, orang-orang yang memiliki mata hati harus sadar bahwa jiwa atau ruhnya lebih luhur daripada tubuh yang hina yang berada di bumi ini. ”
Sumber: Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mizan Al-Amal
Labels:
Hikmah Imam Al Ghazali
Subscribe to:
Posts (Atom)






