Wednesday, November 18, 2015

Hikmah Syeikh Abdul Qodir Jilani : Sabar

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Wahai kalian pengemis-pengemis yang melarat, kalian harus menanggung kemelaratan kalian dengan sabar, sebab dengan demikian kesejahteraan akan datang kepada kalian baik di dunia maupun di akhirat nanti. Nabi Saw. diriwayatkan telah mengatakan: “Kemiskinan dan kesabaran adalah teman duduk (julasâ’) Allah di hari kebangkitan, dan orang-orang miskin dan mereka yang bersabar adalah teman-teman duduk ar-Rahmân (Yang Maha Pengasih), dengan hati mereka hari ini dan dengan jasad mereka esok.”
Mengenai orang-orang miskin yang kebutuhannya adalah terhadap Tuhan Yang Maha Benar dan mereka yang bersabar dengan-Nya dan bersikap tak acuh terhadap semua yang lain, maka hati mereka adalah tenang dan tunduk di hadirat-Nya. Mereka tidak memberikan perhatian kepada seorang pun selain kepada-Nya. Kepada mereka, seolah-olah Allah Swt. Mengatakan sebagaimana yang dikatakan-Nya tentang Mûsâ a.s: Dan kami telah mengharamkan ibu-ibu susu baginya sebelum itu (QS 28:12).
Apabila hati sehat dan benar-benar mengenal (‘arafa) Tuhan Yang Maha Benar, maka ia akan menolak untuk mengakui yang lain. Ia akan menemukan persahabatan yang intim dengan-Nya dan merasa terasing dengan semua yang lain. Ia akan merasakan kenyamanan di sisi-Nya dan tidak nyaman bersama siapapun selain-Nya."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Hikmah Imam Al Ghazali: Berwudhu

Imam Al Ghazali didalam kitabnya Bidayatul Hidayah menjelaskan tujuh hal yang dimakruhkan didalam berwudhu yaitu:"
1. Jangan mengibaskan tanganmu karena air akan berserakan
2. jangan menampar wajah dan kepalamu dengan air (jangan membasuh dengan keras, tetapi hendaknya dengan lembut)
3. jangan berbicara saat wudhu
4. jangan menambah basuhan atau usapan lebih dari tiga kali
5. jangan memperbanyak siraman air jika tidak perlu atau hanya sebab alasan was was, karena bagi para penderita was was terdapat setan yang selalu mempermainkan mereka bernama 'wal han'
6. jangan berwudhu dengan air yang panas karena sengatan matahari
7. jangan berwudhu dengan air yang berwadah kuning (emas dan perak)."
semoga bermanfaat menyempurnakan syariat kita dalam berwudhu.

Al Hikam : Keutamaan Wirid

Ibnu Athaillah didalam Al Hikam berkata:"Jika Kamu melihat seorang hamba yang mana telah menjadikan kepadanya wirid dan dia tetap selalu menjaganya, tapi lama sekali datangnya pertolongan Allah (kepadanya). Maka dari itu janganlah menghina (meremehkan) apa yang Allah telah memberinya. Karena sesungguhnya kamu tidak mengerti tanda-tanda orang ma'rifat dan orang yang cinta kepada Allah, maka seandainya tidak ada warid (karunia Allah) tentu tidak ada wirid (kontiniu/keistiqomahan dalam menjalankan ibadah tertentu)".
maksud dari perkataan ini adalah Apabila ada seseorang yang tekun dalam beribadah akan tetapi belum tampak tanda keistimewaan pada dirinya, maka janganlah engkau memandang rendah orang tersebut. Sebab yang demikian itu berarti engkau belum tahu akan tanda-tanda orang makrifat dan orang yang dicintai Allah.
semoga menjadi semangat buat kita dalam istiqomah melakukan riyadoh tanpa mengharapkan keistimewaan tertentu menuju kecintaan pada Allah dan Rasulullah. Amin

Hikmah Imam Al Ghazali : Nafsu

Imam Al Ghazali berkata:" Jika nafsumu mengajakmu meninggalkan berbagai macam wirid maupun zikir yang telah kami sebutkan karena merasa berat ataupun malas, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya setan terlaknat telah mencoba untuk menutupi hatimu dengan penyakit-penyakit hati yaitu cinta harta dan cinta kedudukan.
 Karena itu, engkau harus berhati-hati agar engkau tidak tertipu oleh tipuannya, jika tidak maka engkau akan menjadi menjadi bahan tertawaan da cemoohan bagi syaithan, dan dia akan mencelakakan serta menghina dirimu. Sebenarnya jika engkau melatih dirimu untuk sabar dalam mengkontinyukan wirid dan ibadah tersebut walaupun terasa berat, malas ataupun enggan maka itu adalah sebuah kebaikan. Akan tetapi jika timbul rasa cinta kepada ilmu yang bermanfaat dan engkau dapat bersifat ikhlas utuk Allah dan untuk meraih keuntungan akhirat di dalam mencarinya, maka ketahuilah bahwa pahala mendalami ilmu yang bermanfaat lebih diutamakan daripada wirid dan dzikir yang telah disebutkan, yaitu Selama niatannya benar. 
Yang paling pokok dalam hal ini adalah niat, jika niatnya benar maka ilmu akan membawa derajat yang agung namun jika tidak benar, maka ilmu hanya akan menjadi gudang kehancuran. Yaitu tempat tertipunya orang-orang yang bodoh dan tempat tergelincirnya para pembesar dan pejabat.
sumber : Bidayatul Hidayah : Imam Al Ghazali

Hikmah Habib Abdullah Al Haddad

Habib Abdullah Al Haddad berkata: "Barangsiapa yang hatinya telah dibuka oleh Allah SWT untuk mengikuti jalan petunjuk, hendaknya ia menilainya sebagai karunia terbesar dari Allah SWT yang nilainya sangat tinggi, sehingga karunia tersebut harus ia syukuri dengan benar-benar, karena banyak dari kaum muslimin yang telah mencapai usia delapan puluh tahun lebih tetapi belum pernah mendapat jalan petunjuk menuju kepada Allah SWT.
Karena itu, bagi seseorang yang telah mendapat petunjuk dari Allah SWT, maka hendaknya ia berusaha menjaganya baik-baik dengan jalan memperbanyak berdzikir, berfikir dan selalu duduk bersama dengan orang-orang baik. janganlah ia mendekati atau duduk bersama dengan orang yang hatinya ditutupi oleh Allah SWT dan senantiasa mengikuti bisikan setan. Hendaknya ia senantiasa kembali kepada Allah sealu berharap kepada rahmat Allah, menyegerakan segala perbuatan baik setiap kali ia mendapat kesempatan untuk melakukanya. Janganlah ia menunda sedikitpun perbuatan baik apapun bentuknya dengan alasan apapun karena perbuatan itu termasuk bisikan setan.
Ibnu Athaillah didalam Al Hikam berkata: "Jika engkau menunda suatu perbuatan baik ketika engkau mendapatkan kesempatan untuk mengerjakanya, maka engkau termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu:
(Sumber: Kitab Adab Suluki Murid : Habib Abdullah Al Haddad.)

Hikmah Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali berkata:".... Maka keyakinanmu bahwa engkau lebih baik dari orang lain adalah kebodohan yang fatal. Oleh karena itu sebaiknya engkau tidak melihat siapapun kecuali engkau menganggap ia lebih baik darimu, dan bahwa kelebihan dan keutamaan ada padanya, bukan pada dirimu yang penuh kekurangan.
Jika melihat anak kecil katakanlah didalam hatimu, "Dia ini tidak banyak maksiat kepada Allah karena masih kecil sedang aki banyak maksiat kepada-Nya, maka jelas ia lebih baik dariku. Jika engkau melihat orang tua berkatalah, "Orang ini menyembah Allah sebelum diriku, maka jelas ia lebih baik dariku. Jika engkau melihat orang laim katakanlah, "Orang ini dikaruniakan sesuatu yang aku tidak mendapatkanya, dia telah mencapat tingkatan yang aku belum mencapainya dan megetahui ilmu yang aku belum memahaminya, maka bagaimana aku merasa sama dengannya?". Jika engkau melihat orang bodoh katakanlah, "Orang ini bermaksiat kepada Allah karena kebodohanya, sedangkan aku bermaksiat kepada Allah padahal aku berilmu, karenanya alasan Allah untuk menyiksaku lebih kuat, apalagi aku tidak tahu akhiranku dan akhiranya!? dengan alasan apa aku merasa lebih baik dari dirinya?". Bahkan jika engkau melihat orang kafirpun katakanlah," Aku tidak tahu, mungkin saja dia akan masuk islam dan diakhiri usianya dengan kebaikan, mungkin dia akan terlepas dari dosa seperti tercerabutnya rambut dari bubur, sementara aku belum jelas, aku masih khawatir Allah akan menyesatkan aku lalu aku menjadi kafir dan diakhir hidupku dengan keburukan. Dengan demikian, mungkin saja dia menjadi orang yang dekat dengan Allah, sedang aku menjadi orang yang jauh dari-Nya. lalu dengan dalil apa aku merasa lebih baik darinya!".....
"Oleh karena itu, lebih baik engkau sibuk memikirkan akhir kehidupanmu daripada sombong kepada hamba2 Allah yang lainnya. Tidak ada jaminan bahwa keyakinan dan keimanan yang kau miliki sekarang tidak akan berubah dilain waktu yang akan datang, karena sesungguhnya hanya Allah lah yang Maha menggenggam hati dan membolak balikanya, Dia memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki dan menyesatkan orang yang Dia kehendaki pula..".
(Imam Al Ghazali : Bidayatul Hidayah)
Habib Umar bin Hafidz berkata: "Pondasi agar seseorang mendapatkan kenikmatan dalam beribadah adalah menyatukan tujuannya hanya kepada Tuhan, lalu memaksa hati kita agar selalu menghadirkan Allah SWT, dan bergaul bersama orang-orang yang saleh dan membaca biografi mereka. Melalui semua itu seseorang akan mendapatkan kenikmatan dalam beribadah. Seorang arif ditanya:"Aapakah mereka yang bermaksiat kepada Allah akan mendapatkan kenikmatan dalam beribadah?" ia menajwab, "Tidak akan, bahkan mereka yang memiliki rencana bermaksiat tidak akan mendapatkannya".
semoga kita bisa mengambil manfaat dari pembahasan ini amin..
(Sumber:Tanjih al Nabih li Mardhah Barih-Al Habib Umar Bin Hafidz menjawab)