Thursday, April 4, 2013

Risalah Al Muawanah (2) : Pengisian Waktu Luangmu

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD )

Dan wajib bagi kamu sekalian untuk memakmurkan segenap waktumu dengan berbagai macam amal ibadah sehingga tidak ada waktu yang kosong baik malam maupun siang kecuali engkau isi dengan berbagai amal kebajikan. Maka dengan demikianakan terlihatlah bagimu berkah waktumu dan akan menghasilkan faidah yang besar dari umurmu, dan kelanggenganmu dalam menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan seyogyanya engkau jadikan waktu tersendiri untuk kebiasanmu sehari-hari seperti makan dan minum dan pergi bekerja. Dan waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah modal hidupmu dan dengan waktumu itulah engkau mulai berniaga-untuk akhirat yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan yang abadi di dalam kedekatan dengan Allah. Maka setiap nafas dari seluruh nafas adalah mutiara yang tidak terhitung nilainya, dan apabila telah lewat –nafas itu- maka tidak ada gantinya. Dan tidak seharusnya engkau menggunakan seluruh waktumu dengan hanya satu wirid meskipun wirid tersebut termasuk wirid yang utama. Karena yang demikian itu akan menghilangkan berkahnya banyaknya bilangan bermacam-macam wirid karena pada setiap wirid mempunyai efek sendiri-sendiri di dalam hati. Dan mempunyai nur dan keistimewaan tersendiri dari Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya bagi tiap-tiap wirid memiliki bekas yang bermacam-macam yang berguna untuk membersihkan hati dan memperbaiki tingkah laku lahiriah , dan jika engkau tidak termasuk orang ayng dapat mencurahkan semua waktumu untuk melakukan wirid, maka pilihlah pada waktu-waktu yang khusus/tertentu dan engkau bayar pada waktu yang lain apabila engkau sempat meninggalkannya –pada wakut yang telah ditentukan tersebut, yang demikian ini untuk mendidik nafsu dalam berdisiplin menjaga amalan wirid tersebut.

Sayyidy Syaikh Abdurrahman as-Saqaf telah berkata,”man lam yakun lahu wirdun fahuwa qirdun yang artinya-barang siapa yang tidak memiliki wirid maka ia tak ubahnya seperti kera-. Dan telah berkata sebagian orang ‘arifiin (orang yang sangat mengenal Allah) , “Al-Waarid (sesuatu yang datang dari Allah – seperti ilham dll) itu tergantung dari Wirid. Maka barang siapa yang tidak memiliki Wirid pada dhahiriahnya, maka tidak akan ada wariid pada bathiniahnya/sirrnya. Dan wajib bagimu untuk selalu jujur dan selalu adil dalam segala hal dan laksanakanlah amal yang sekiranya engkau dapat melanggengkannya / mudawwamah dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW amal yang paling disenangi/dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun hanya sedikit. Dan RasuluLlah SAW juga telah bersabda ambilah dari amal apa yang engkau rasa mampu kaena sesungguhnya Allah tidak akan berpaling hingga mereka berpaling. Dan sebagian dari kebiasaan syaithan dala menipu murid/orang yang sedang belajar menempuh jalan Allah, adalah mengajak mereka bergegas melakukan amal yang banyak dan tujuan syaithon dari yang demikian ini adalah agar kelak mereka)para murid) meninggalkan amal baik tersebut pada akhirnya, atau melakukannnya akan tetapi tidak sesuai dengan tuntutanyang seharusnya. Maka kemudian dari beberapaa aurad / wirid /zikir, yang dapat engkau lakkukan adalah memperbanyak shalat sunah, membaca Al-Qur’an, atau membaca ilmu, atau bertafakur. Kemudian kami terangkan beberapa adab, oleh karena itu seyogyanya bagi kamu memiliki wirid semisal shalat sunnah sebagai tambahan dari shalat-shalat sunah yang lain, yang ditentukan waktunya dan di dikira kirakan jumlahnya sekiranya akan dapat dilakukan secara terus menerus. Dan sungguh sebagian para Ulama salafushalih rahimahumuLlaah telah melaksanakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 1000 reka’at seperti Imam Ali bin Husein ra. Dan sebagian dari mereka ada yang melaksanakan 500 reka’at, ada yang melaksanakan 300 reka’at dan lain sebagainya.

Dan ketahuilah sesungguhnya di bagi amalan shalat ada benytuk lahir danhakekat bathinnya. Dan tiadalah shalat itu dihargai oleh Allah, hingga disempurnakan amaliahn lahiriahnya dan hakikat bathiniahnya. Adapun kesempurnaan bentuk shalat adalah kesempurnaan rukun-rukunnya, dan etika/adab lahiriah dari berdirinya, pembacaan Al-Qur’annya, dan ruku’ dan sujud dan tasbih dan sebagainya. Adapun hakekatnya adalah hadir bersama Allah, ikhlasnya niat, dan menjadikan Allah sebagai tujuan dan menghadap dengan kesungguhan kepada Allah demikian juga segenap hatinya ditujukan kepada Allah, dan hendaknya pikirannya di dikonsentrasikan / tidak banyak memikirkan sesuatu maka dirinya tidak bercakap-cakap dengan selain perkara shalat. Dan seyogyanga beradab sebagimana adabnya orang yang sedang bermunajat/berbisik-bisik dengan Tuhannya . telah bersabda RasuluLlah SAW, “sesunggunya orang yang shalat adalah orang yang seaedng bermunajat kepada Tuhannya. . dan Nabi SAW telah bersabda, “apa bila seorang hamba berdiri melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah berhadapan dengan nya dengan wajahNya . dan sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat shalat sunnah yang lain segingga ia telah melaksanakan amal sunnah yang telah dianjurkan oleh Nabi SAW secara sempurnna , diantara shalat sunnah yang dianjurkan itu aantara lain beberapa rekaat sebelum shalat maktubah/shalat wajib yang 5 waktu ataupun beberapa rekaat sedudahnya, dan diantaranya juga shalat witir yang termasuk shalat sunnah muakkad bahkan sebagian ulama mewajibkannya. RasuluLlah SAW telah bersabda.-Sesungguhnya Allah Ta’ala Iganjil dan senang dengan yang ganjil maka berwitirlah kamu semua wahai ahli Al-Qur’an. Dan RasuluLlah SAW bersabda sesungguhnya witir adalah sesuatu yang haq/benar maka barang siapa yang tidak berwitir maka bukanlah golongan kami. Dan banyaknya bilangan reka’at shalat witir adalah 11 reka’at sedangkan yang paling sedikit adalah hendaklah meringkas sampai tiga reka’at adapun pengerjaannya adalah pada akhir waktu malam bagi orang yang membiasakan diri mengerjakan shalat malam. RasuluLlah SAW bersabda Jaadikanlah akhir shalat kamu sekalaian dengan shalat witir. Dan bagi orang yang tidak memiliki kebiasaanmegerjakan shalat malam / qiyamul lail maka lebih utama mengerjakannya setelah habis shalat Isya .

Dan termasuk shalat sunah yang dianjurkan Nabi SAW adalah shalat dhuha dan dia/shalat dhuha adalah shalat yang banyak sekali manfaat dan barokahnya. Banyaknya bilangan reka’at adalah 8 reka’at dan ada pula yang mengatakan 12 reka’at. Dan paling sedikitnya adalah 2 rekaat. Telah bersabda RasuluLlah SAW hendaklah kamu sekalian menjadikan seluruh anggota badan sebagai sedekah. Maka sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, dan setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah, dan setiap amar ma’ryf adalah sedekah, dan nahi mungkar adalah sedekah. Dan telah mencukupi dari yang demikian itu semua 2 reka’at yang dilakukan pada waktu dhuha. Dan tremasuk shalat yang dianjurkan adalah shalat antara Maghrib dan Isya’. Adapun banyaknya adalah 20 rekaat, dan yang sedang adalah 6 reka’at. RasuluLlah SAW telah bersabda Barang siapa yang megerjakan shalat 2 reka’at antara dua Isya’ maka Allah akan membangunkan baginya rumah di dalam surga. Dan RasuluLlah bersabda Barang siapa mengerjakan shalat sunah setelah maghrib 6 reka’at dimana diantara keduanya dia tidak bercakap-cakap dengan sesuatu yang buruk maka yang demikian itu menyamai baginya dengan beribarah selama 12 tahun dengan menghidupkan saat antara maghrib dan isya’. Dan sungguh telah datang banyak keterangan tentang fadhilah atau keutamaan shalat diantara Maghrib dan Isya’ dan akan mencukupililah keterangan berikut ini yaitu bahwasanya Ahmad bin Abil Hawary ketika bermusyawarah dengan syaikhnya Abaa Sulaiman RohimahumaLlooh, apakah lebih baik ia berpuasa pada siang hari ataukah mendirikan shalat diantara waktu maghrib dan isya’, maka syaikh Abaa Sulaiman berkata, “kumpulkanlah keduanya-artinya laksanakan keduanya-. “. Kemudian ia bertanya lagi, “aku tidak mampu melaksanakan keduanya, karena apabila aku berpuasa maka aku akan disibukkan dengan berbuka puasa pada saat itu”. Maka Syaikh Abaa Sulaiman menjawab, ” jikalau engkau tidak mampu untuk mengumpulkan keduanya, maka tinggalkanlah puasa dan hidupkanlah shalat diantara dua ‘Isya’ (antara maghrib dan isya’)”. Sayyidatina ‘Aisyah RA berkata, “tidaklah masuk RasuluLlah SAW ke kediaman saya setelah shalat Isia’ yang akhir kecuali beliau SAW melaksanakan shalat empat reka’at atau enam reka’at dan Beliau SAW bersabda, “empat reka’at yang demikian telah menyamai daripada Lailatul Qadar. Dan suatu keharusan bagi kamu untuk mengerjakan Shalatul Lail /Shalat malam , sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. Dan bersabda RasuluLlah SAW, “Keutamaan shalat malam dibandingkan dengan shalat pada waktu siang hari adalah seperti kelebihannya sedekah secara tersembunya dibanding dengan sedekah secara terang-terangan”. Dan telah datang keterangan yang menyebutkan bahwa keutamaan sedekah secara tersmbunyi dibanding dengan sedekah secara terang-terangan adalah berlipat 70 lipatan dalam hal pahala dan keutamaannya. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Bagi kamu sekalian untuk mengerjakan shalat malam karena sesungguhnya shalat malam itu adalah amalan orang-orang shaleh sebelum kamu sekalian, dan tempat bermuqorrobah bagi kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan saat bertafakur akan maksiyat yang dilakukan, dan membersihkan adri dos, dan penolak penyakit dari jasad kamu sekalian”.

Dan ketahuilah sesunggunya orang yang mendirikan shalat ba’dal Isya’ adalah sungguh telah menghidupkan seluruh malamnya. Dan telah terjadi pada sebagian Ulama salaf melaksanakan amalan shalat pada Awwal malam hari. Akan tetapi pengerjaannya pada saat setelah bangun tidur pada malam hari adalah lebih menghinakan syaithan dan menjadi perjuangan nafsu / mujahadatunnafsi dan sirr / rahasia yang sangat ‘aja’ib , dia itulah shalat tahajjud dimana Allah telah memerintahkan RasulNya SAW untuk mengerjakannya dengan firmannya, “Waminallaili fatahajjad bihii naafilatallak “. “Dan pada sebagian maalm maka bertahajudlah sebagai amalan sunnah bagi Kamu”. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang hamba manakala ia bangun malam diantara keluarganya yang lain yang sedang tidur lalu ia mengerjakan shalat dan Allah memamerkannya kepada MalaikatNya dan Allah menghadapinya dengan WajahNya yang Mulia.

Dan ketahuilah sesungguhnya termasuk suatu keburukan apabila orang menginginkan Akhirat akan tetapi meninggalkan shalat malam. Maka bagaimana ? bahwa seorang murid-orang yang menginginkan sampai kepada Allah- bahwa ia senantiasa mengharapkan tambahan rahmat pada setiap waktunya, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Sesungguhnya pada setiap malam ada suatu saat yang apabila seorang hamba menjumpai saat itu kemudian ia meminta suatu kebaikan kepada Allah tentang urusan dunia maupun akhirat melainkan Allah akan memberikannya, dan yang demikian itu terjadi setiap malam HR Muslim. Dan pada sebagian kitan Allah yang diturunkan, Allah Ta’ala berfirman, “sungguh telah bohong orang yang mengaku mencintaiKu, apabila malam telah larut lantas ia tertidur dariKu. Bukankah setiap orang yang mencintai akan selalu ingin bersendirian dengan yang dicintainya”. Syaikh Ismail bin Ibrahim AL-Jibraani rahimahuLloohu berkata, “semua kebaikan akan terkumpul semuanya pada waktu malam”-tentu saja apabila digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT-. RasuluLlah SAW bersabda yang artinya, “sesungguhnya Allah Ta’ala turun paad tiap-tiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiganya yang akhir. Maka Allah Ta’ala berifrman, ‘Adakah yang berdo’a akan sesuatu niscaya akan ijabahi, dan adakah yang meminta ampunan kepadaKu maka akan Aku ampuni, dan adakah yang meminta sesuatu niscaya akan Aku beri, dan adakah orang yang bertaubat maka akan Aku beri taubat kepadanya yang demikian itu hingga terbit fajar”. Dan bagi orang yang ‘Aarif biLlah pada mendirikan shalat malam terdapat / merupakan tempat turunnya rahmat Allah / manziilaat yang sangat mulia, yang banyak sekali dan beberapa kehebatan rasa (Dzauq) yang sangat lembut yang dapat mereka rasakan di dalam hati mereka akan ni’matnya berdekatan dengan Allah dan lezatnya bersama-sama Allah dan manisnya bermunajah dan indahnya bercakap-cakap kepada Allah / Muhadastah. Sebagian dari mereka / Aarifuu berkata, “seandaina ahli surga merasakan apa yang kami rasakan niscaya mereka merasakan hidup yang sangat menyenangkan”. Dan sebagian dari mereka Arifuun berkata, “sesungguhnya Ahlullail-orang yang ahli menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allah-dalam menikmati malamnya seperti Ahlullahwi-orang yang senang bersendau gurau- dalam menikmati sendau guraunya”. Dan berkata sebagian dari mereka para Arifuun, “semenjak empat puluh tahun tidak ada sesuatu yang mengecutkan hatiku kecuali munculnya fajar”. Tentu saja nilmat yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali setelah melalui usaha yang terus menerus dan menanggung penderitaan yang berat dalam menghidupkan ibadah di waktu malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Utbatul Ghulam “telah datang malam selama dua puluh tahun dan selama itu pula aku merasakan kenikmatan”

(Dan jika apa yang harus di laksanakan untuk mendirikan shalat malam/ibadah malam hari dan berapa reka’at sebaiknya shalat malam dilakukan ?). maka ketahuilah sesungguhnya RasuluLlah SAW tidak mengajarkan dalam shalat tahajud akan bacaan surah-surah tertentu, akan tetapi baik juga dilakukan dengan membacanya sedikit demi sedikit ketika berdiri melakukan shalat sehingga dapat khatam dalam satu bulan, atau kurang atau lebih tergantung dari kemampuan. Adapun bikangan reka’at maka banyaknya adalah sebagaimana RasuluLlah SAW mendirikan shalat malam yaiut 13 reka’at, dan yang sedang bisa 9 atau 7 reka’at. Akan tetapi kebanyakan yang diajarkan adalah 11 reka’at . dan disunahkan ketika bangun dari tidur hendaklah engkau mengusap wajah dengan tangan seraya mengucapkan kalimat, “AlhamduliLlaahilladzii ahyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHinnusyuur”. Yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah manghidupkan aku setelah kematianku dan kepadaNyalah tempat kembali”. Dan kemudian membaca Inna fii kholqissamaawaati wal ardhi wakhtilaafillaili wannahaari la aayaatill li ulul albaab……dan seterusnya sampai akhir surah. Kemudian setelah itu bangun dari tepat tidur lalu ber wudhu dengan wudhu yang sempurna, kemudian shalat dua rekaat secara ringkas (tidak terlalu panjang) syukril wudhu, kemudian shalatlah setelah itu delapan reka’at dengan memanjangkannya, dengan salam pada setiap dua reka’at atau setiap empat reka’at, atau sekaligus delapan reka’at dengan satu salam. Dan apabila masih dirasa mampu, maka berdirilah mengerjakan shalat sunah menurut kemampuanmu, kemudian shalatlah tiga reka’at dengan niat mengerjakan shalat witir dengan sekali salam atau dua kali salam. Dan bacalah pada reka’at awwal surah Sabbihisma Robbikal A’la, dan reka’at ke dua surah Qulyaa ayyuhal kaafiruun, dan reka’at yang ke tiga surah Ikhlash dan Muawwidzatain

Sumber: Deli Sufi

Wednesday, April 3, 2013

Kumpulan Hizib Syazili (4) Hizib Ikhfa

Berikut sy lampirkan Hizib Al Ikhfa dah Syeikh abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini




Psikologi Ucapan

Ucapan yang keluar dari nafs yang penuh gejolak dan hati yang buruk akan menggerakkan dan membangkitkan keburukan dari lawan bicaranya. Oleh karena itu, pada saat berbicara hendaknya manusia memperhatikan nafs-nya ataupun nafs orang lain agar tercapai kebaikan dan ketenangan. Betapa indah ucapan sayidina Ali kwh ketika menjelaskan rahasia ucapan:

Wadah (lahan) ucapan adalah hati, gudangnya adalah pikiran (fikr), penguatnya adalah akal, pengungkapnya adalah lisan, jasadnya adalah huruf, ruhnya adalah makna, hiasannya adalah i’rob dan aturannya adalah kebenaran. Pengaruh ucapan pada pendengar tergantung pada nafs pembicara. Jika ucapan tersebut muncul dari jiwa yang kuat, maka akan memberikan kesan yang kuat. Dan jika muncul dari jiwa yang lemah, maka akan memberikan kesan yang lemah. Oleh karena itu sebelum berbicara manusia harus memperhatikan keadaan jiwanya agar kalimat yang ia ucapkan muncul dari jiwa yang tenang (sakînah), sehingga ia dapat berbicara kepada temannya dengan lemah lembut, dapat merebut dan menyenangkan hatinya, dan tidak membuatnya marah.

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada êalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl, 16:125)

“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat, 41:43)

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushshilat, 41:35)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat mulia akan memperoleh karunia yang sangat besar dari Allah. Pahamilah persoalan ini dan berusahalah untuk berperilaku dengan sifat-sifat mulia tersebut, yakni dengan akhlak kaum khowwâsh (khusus).

Wahai saudaraku, perhatikanlah akhlak-akhlak yang mulia ini dan berlombalah untuk meraihnya. Pergaulilah manusia dengan sopan santun. Hindarilah gejolak nafs, karena bila nafs bergejolak, ia akan kembali pada tabiatnya, yaitu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk dan menampakkan aib. Sedangkan jika nafs telah rela dan senang, maka ia akan merasa lapang dan siap untuk melakukan berbagai perbuatan baik.

Jauhilah pertentangan dan pertengkaran dengan segenap tenagamu, baik secara lahir maupun batin. Jika kamu tidak mampu menghindarinya secara batiniah, maka hindarilah secara lahiriah. Perlakukanlah temanmu dengan baik, sebab pertentangan merupakan sumber keburukan dan bencana, sebagaimana dikatakan: Pertentangan membangkitkan permusuhan dan permusuhan mendatangkan bencana.

Oleh karena itu wahai saudaraku, berusahalah untuk hidup rukun dan tenangkanlah nafs-mu, karena jika antara hati yang satu dan yang lain telah saling bersesuaian, maka manusia akan mudah mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan keberkahan pun akan turun. Ali kwh berkata: Biasakanlah dirimu untuk berniat dan bertujuan baik, niscaya kamu akan sukses.

Betapa banyak niat lebih bermanfaat daripada amal. Pahamilah hal ini! Perbaikilah akhlakmu, niscaya kamu akan mendapat petunjuk dalam setiap urusanmu. Ilmu diperoleh dengan belajar sedangkan hilm (sabar, santun) diperoleh dengan latihan.

Dikatakan dalam sebuah syair:

Sebelum jadi penyantun
ia dipukul dengan tongkat dahulu
Seseorang dididik
tak lain agar berilmu

Manusia harus menjaga ucapannya, jangan sampai ia mengucapkan kata-kata buruk atau menceritakan pembicaraan yang buruk kepada seseorang, karena kelak ia akan terkena aibnya dan akan mendapat dosa paling banyak. Seorang penyair berkata:

Tak akan berkata jorok, si orang mulia,
Tak akan pula menghapal ucapan tercela
Ia curahkan semua tenaga,
Dan bila bicara indah dan benar ucapannya

Seorang manusia hendaknya tidak berbicara ketika berada dalam keadaan emosional atau marah. Sebab, saat itu nafs-nya sedang bergolak dan berkobar sehingga ia mudah tergelincir dalam kesalahan. Oleh karena itu, hendaknya ia bersabar hingga nafs tenang.

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

Memahami Hawa Nafsu


Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.

Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:

Jika kau ikuti hawa, ia akan menuntunmu menuju semua perbuatan yang tercela bagimu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).

Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut hawa.

Hawa terbagi dua:

Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.

Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela. Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.

Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.

Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.

Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan. Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya — makan, tidur, berbicara, dan lain-lain — mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

Tuesday, April 2, 2013

Tawasin (4): Thasin Al Dairah (Lingkaran)



1. Pintu „ba‟ () pertama melambangkan seseorang yang menjangkau lingkaran Kebenaran.Pintu „ba‟ () kedua melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu „ba‟ () ketiga melambangkan seseorang yang tersesat di gurun Sifatnya-Kebenaran.

2. Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab jalannya terjegal dan sang penempuh (salik) disuruh kembali. Adapun noktah di atas melambangkan hasratnya. Noktah yang lebih bawah melambangkan kembalinya ke titik-tolaknya, dan noktah di tengah adalah kebingungannya.

3. Lingkaran dalam tidak memiliki pintu „ba‟ (), dan „titik‟ yang ada di dalamnya adalah pusat Kebenaran.

4. Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir maupun batin, tidak ada yang luput. Dan, ia pun tidak direkayasa.

5. Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan ini.“ambillah empat ekor „burung‟, cincanglah buatmu,” (QS. 2: 260) sebab Al-Haqq (Allah) „tak - terbang‟.

6. Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah Dia menyembunyikannya. Adalah keterpesonaan yang menjaga keterpisahan kita. Adalah kebingungan yang mencabut kita dari-Nya.

7. Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran Asal, ataupun rancangan Bidang. Dan, yang lebih licin lagi adalah memfungsikan kearifan secara batin, karena ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.

8. Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari wilayah luar, bukannya dari wilayah dalam.

9. Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran, sang pengkaji tidakmemahaminya, karena ia tidak mampu. Pengetahuan menunjukkan tempat, sedang lingkaran itu „tempat‟ yang terlarang [haram].

10. Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy, sebab hanya ia seorang yang keluar dari Lingkarang Haram itu.

11. Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan jubah Kebenaran. Ia keluar dan menyerukan “A h!! !” () kepada segenap makhluk

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Hb. Lutfi : Syarat Belajar Thoriqoh

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya seorang pemuda berumur 27 tahun, belum menikah, ingin belajar tarekat, tetapi tidak diperbolehkan oleh bapak saya. Katanya, saya baru boleh belajar tarekat setelah berumur 40 tahun. Benarkah hanya orang-orang yang sudah berumur 40 tahun atau lebih yang boleh mempelajari tarekat? Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Amiruddin

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jawaban saya untuk Sdr. Amiruddin, untuk sementara patuhilah nasihat orang tua. Karena umur Anda masih muda, lebih baik memperkaya ilmu, entah itu melalui jalur sekolah, madrasah, maupun pesantren. Kesempatan yang baik itu saya namakan peluang emas. Jangan disia-siakan. Adapun bahwa mengikuti tarekat harus setelah umur 40 tahun, perlu saya luruskan.

Tarekat itu untuk orang-orang yang sudah cukup ilmunya. Terutama sudah mengetahui yang sudah diwajibkan syariat Allah, seperti mengetahui mana yang wajib, mustahil, ja'iz (mungkin) bagi Allah. Maksudnya, dia telah mengerti 20 sifat Allah.

Kedua, dia telah mengetahui hukum-hukum ibadah, seperti rukun wudhu, rukun iman, yang membatalkan wudhu, rukun shalat, yang membatalkan shalat, dan bisa membedakan mana yang halal dan haram. Bilamana itu sudah tercukupi, dipersilakan menambah amalan-amalan atau ibadah dalam tarekat, karena tarekat tidak mengatur yang zahir belaka. Tarekat juga mengatur hati supaya bersih dari sifat-sifat yang tidak dibenarkan oleh Allah dan RasulNya. Hal demikian itu, perlu kita rintis dari sedini mungkin. Ya, kita belajar untuk membersihkan lahiriah maupun hatiniah.

Tapi, nasihat ayah Anda bahwa mengikuti tarekat menunggu setelah umur 40 tahun, itu pun tidak salah. Karena dia mengambil kebijaksanaan seorang bapak yang sayang kepada anaknya, supaya anaknya mempersiapkan diri lebih matang. Tuntunan seseorang ayah kepada anaknya merupakan tanggung jawab, dengan harapan bahwa anaknya akan semakin dewasa. Karena, si anak akan menghadapi berbagai tantangan yang nanti hasilnya akan menjadi bekal hidupnya. Sebagai seorang ayah, ia berharap kepada anaknya untuk bisa mendapatkan pekerjaan, misalnya. Pertama-tama, untuk diri Anda sendiri. Yang kedua, tentu Anda harus bisa memperingankan beban kepada kedua orang tua Anda dalam menyongsong masa tua mereka.

Ketiga, tidak selamanya nanti Anda sendirian. Paling tidak, sebagaimana manusia yang normal, ingin mendapatkan pasangan untuk teman hidup di dunia sampai akhirat. Apakah Anda sudah mempersiapkan itu semua? Dari situlah orang tua yang bijak lebih jauh pandangannya dalam memberikan nasihat.

Sumber: Majalah Al Kisah

Tawasin (3): Thasin Al Shafa (Kebeningan)

Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus, dan sulit menguraikannya. Jalan untukmenempuhnya sempit, dan tentang jalannya itu, seorang penempuh (salik) harus mengarungi 'kobaran api' di tengah gurun yang dalam. Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini,dan menyampaikan bahwa apa yang dialaminya ada empat puluh Maqam, yaitu:
1. Kesopansantunan ['adab],
2. Kegentarhatian [rahab],
3. Kejerihpayahan [nashab],
4. Penuntutan-diri [thalab],
5. Ketakjuban ['ajab],
6. Peniadaan ['athab],
7. Pemujaan [tharab],
8. Pendambaan [syarah],
9. Penjernihan [nazah],
10. Kelurusan [shidq],
11. Persahabatan [rifq],
12. Persamaan [litq],
13. Keberangkatan [taswih],
14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz],
16. Penyaksian [syuhud],
17. Keberadaan [wujud],
18. Penghitungan ['add],
19. Pengupayaan [kadda],
20. Pemulihan [radda],
21. Perluasan [imtidad],
22. Pengolahan [i'dad],
23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad],
25. Kemauan [murad],
26. Kehadiran [hudur],
27. Pelatihan [riyadhah],
28. Kehati-hatian [hiyathah]
29. Penyesalan [iftiqad],
30. Kedayatahanan [istilad],
31. Pengawasan [tadabbur],
32. Keterkejutan [tahayyur],
33. Perenungan [tafaqqur],
34. Kesabaran [tashabbur],
35. Penafsiran [ta'abbur],
36. Penolakan [rafdh],
37. Pengoreksian [naqd],
38. Pengamatan [ri'ayah],
39. Pembimbingan [hidayah],
40. Permulaan-jalan [bidayah]. Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang yang Hatinya tenang dan suci (shufi).2.

Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri sebagai pahalanya, yang sebagiannya mungkin diperoleh dan sebagian lainnya tidak.

3. Adapun sang Gharib yang telah mengharungi gurun (hakikat) dan menyeberanginya, telah mencakupnya serta memahaminya secara keseluruhan. Ia tidak memperoleh sesuatu yang lazim ataupun biasa, tidak di gunung ataupun di darat.

4. "Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya", ia meninggalkan ummatnya karena hakikat akan merengkuhnya sebagai 'milik'-Nya. Tapi, masih juga ia berpuas dengan penerangan semu tanpa pandangan (bashirah) batin langsung, sehingga ada perbedaan antara ia dan sang Insan Kamil [Muhammad saw]. Karena itu ia (Musa as) berkata: "Siapa tahu aku dapat membawa sedikit penerangan untukmu." [Q. 20: 10]

5. Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan semu, bagaimana dapat seseorang yang menempuh jalan (thariqah) tidak mencukupkan dirinya dengan jejak semu.

6. Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai, apa yang kedengarannya difirmankan Semakbukanlah dari Semak atau belukarnya, tetapi (firman) Allah.

7. Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu

8. Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'. Makanya buanglah sifat kemakhlukanmu, supaya kau sesuai dengan-Nya, beserta Dia -- kau pun dalam liputan hakikat.

9. 'Aku' sejati adalah subyek, dan obyek yang terurai adalah subyek dalam hakikatnya.Soalnya adalah bagaimana itu terurai?

10. Allah berfirman kepada Musa (as): "Kau bimbinglah (ummatmu) pada Bukti (al- Hujjah)," tapi bukan pada Obyeknya Bukti. Adapun bagi-Ku, Aku adalah 'Bukti' dari setiap bukti.

11. Allah membuatku melampaui apa adanya hakikat dengan kesepakatan, perjanjian, dan persekutuan. Rahasiaku adalah penyaksian (syahadah) langsung tanpa (keikutsertaan) pribadi makhlukku. Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.

12. Allah memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari hatiku. Dia menarikku dekat pada-Nya setelah jauh dari-Nya. Dia membuat aku menjadi Sahabat (Waly)-Nya, Dia memilih aku…

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana