Tuesday, April 2, 2013

Tawasin (4): Thasin Al Dairah (Lingkaran)



1. Pintu „ba‟ () pertama melambangkan seseorang yang menjangkau lingkaran Kebenaran.Pintu „ba‟ () kedua melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu „ba‟ () ketiga melambangkan seseorang yang tersesat di gurun Sifatnya-Kebenaran.

2. Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab jalannya terjegal dan sang penempuh (salik) disuruh kembali. Adapun noktah di atas melambangkan hasratnya. Noktah yang lebih bawah melambangkan kembalinya ke titik-tolaknya, dan noktah di tengah adalah kebingungannya.

3. Lingkaran dalam tidak memiliki pintu „ba‟ (), dan „titik‟ yang ada di dalamnya adalah pusat Kebenaran.

4. Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir maupun batin, tidak ada yang luput. Dan, ia pun tidak direkayasa.

5. Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan ini.“ambillah empat ekor „burung‟, cincanglah buatmu,” (QS. 2: 260) sebab Al-Haqq (Allah) „tak - terbang‟.

6. Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah Dia menyembunyikannya. Adalah keterpesonaan yang menjaga keterpisahan kita. Adalah kebingungan yang mencabut kita dari-Nya.

7. Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran Asal, ataupun rancangan Bidang. Dan, yang lebih licin lagi adalah memfungsikan kearifan secara batin, karena ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.

8. Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari wilayah luar, bukannya dari wilayah dalam.

9. Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran, sang pengkaji tidakmemahaminya, karena ia tidak mampu. Pengetahuan menunjukkan tempat, sedang lingkaran itu „tempat‟ yang terlarang [haram].

10. Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy, sebab hanya ia seorang yang keluar dari Lingkarang Haram itu.

11. Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan jubah Kebenaran. Ia keluar dan menyerukan “A h!! !” () kepada segenap makhluk

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Hb. Lutfi : Syarat Belajar Thoriqoh

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya seorang pemuda berumur 27 tahun, belum menikah, ingin belajar tarekat, tetapi tidak diperbolehkan oleh bapak saya. Katanya, saya baru boleh belajar tarekat setelah berumur 40 tahun. Benarkah hanya orang-orang yang sudah berumur 40 tahun atau lebih yang boleh mempelajari tarekat? Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Amiruddin

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jawaban saya untuk Sdr. Amiruddin, untuk sementara patuhilah nasihat orang tua. Karena umur Anda masih muda, lebih baik memperkaya ilmu, entah itu melalui jalur sekolah, madrasah, maupun pesantren. Kesempatan yang baik itu saya namakan peluang emas. Jangan disia-siakan. Adapun bahwa mengikuti tarekat harus setelah umur 40 tahun, perlu saya luruskan.

Tarekat itu untuk orang-orang yang sudah cukup ilmunya. Terutama sudah mengetahui yang sudah diwajibkan syariat Allah, seperti mengetahui mana yang wajib, mustahil, ja'iz (mungkin) bagi Allah. Maksudnya, dia telah mengerti 20 sifat Allah.

Kedua, dia telah mengetahui hukum-hukum ibadah, seperti rukun wudhu, rukun iman, yang membatalkan wudhu, rukun shalat, yang membatalkan shalat, dan bisa membedakan mana yang halal dan haram. Bilamana itu sudah tercukupi, dipersilakan menambah amalan-amalan atau ibadah dalam tarekat, karena tarekat tidak mengatur yang zahir belaka. Tarekat juga mengatur hati supaya bersih dari sifat-sifat yang tidak dibenarkan oleh Allah dan RasulNya. Hal demikian itu, perlu kita rintis dari sedini mungkin. Ya, kita belajar untuk membersihkan lahiriah maupun hatiniah.

Tapi, nasihat ayah Anda bahwa mengikuti tarekat menunggu setelah umur 40 tahun, itu pun tidak salah. Karena dia mengambil kebijaksanaan seorang bapak yang sayang kepada anaknya, supaya anaknya mempersiapkan diri lebih matang. Tuntunan seseorang ayah kepada anaknya merupakan tanggung jawab, dengan harapan bahwa anaknya akan semakin dewasa. Karena, si anak akan menghadapi berbagai tantangan yang nanti hasilnya akan menjadi bekal hidupnya. Sebagai seorang ayah, ia berharap kepada anaknya untuk bisa mendapatkan pekerjaan, misalnya. Pertama-tama, untuk diri Anda sendiri. Yang kedua, tentu Anda harus bisa memperingankan beban kepada kedua orang tua Anda dalam menyongsong masa tua mereka.

Ketiga, tidak selamanya nanti Anda sendirian. Paling tidak, sebagaimana manusia yang normal, ingin mendapatkan pasangan untuk teman hidup di dunia sampai akhirat. Apakah Anda sudah mempersiapkan itu semua? Dari situlah orang tua yang bijak lebih jauh pandangannya dalam memberikan nasihat.

Sumber: Majalah Al Kisah

Tawasin (3): Thasin Al Shafa (Kebeningan)

Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus, dan sulit menguraikannya. Jalan untukmenempuhnya sempit, dan tentang jalannya itu, seorang penempuh (salik) harus mengarungi 'kobaran api' di tengah gurun yang dalam. Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini,dan menyampaikan bahwa apa yang dialaminya ada empat puluh Maqam, yaitu:
1. Kesopansantunan ['adab],
2. Kegentarhatian [rahab],
3. Kejerihpayahan [nashab],
4. Penuntutan-diri [thalab],
5. Ketakjuban ['ajab],
6. Peniadaan ['athab],
7. Pemujaan [tharab],
8. Pendambaan [syarah],
9. Penjernihan [nazah],
10. Kelurusan [shidq],
11. Persahabatan [rifq],
12. Persamaan [litq],
13. Keberangkatan [taswih],
14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz],
16. Penyaksian [syuhud],
17. Keberadaan [wujud],
18. Penghitungan ['add],
19. Pengupayaan [kadda],
20. Pemulihan [radda],
21. Perluasan [imtidad],
22. Pengolahan [i'dad],
23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad],
25. Kemauan [murad],
26. Kehadiran [hudur],
27. Pelatihan [riyadhah],
28. Kehati-hatian [hiyathah]
29. Penyesalan [iftiqad],
30. Kedayatahanan [istilad],
31. Pengawasan [tadabbur],
32. Keterkejutan [tahayyur],
33. Perenungan [tafaqqur],
34. Kesabaran [tashabbur],
35. Penafsiran [ta'abbur],
36. Penolakan [rafdh],
37. Pengoreksian [naqd],
38. Pengamatan [ri'ayah],
39. Pembimbingan [hidayah],
40. Permulaan-jalan [bidayah]. Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang yang Hatinya tenang dan suci (shufi).2.

Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri sebagai pahalanya, yang sebagiannya mungkin diperoleh dan sebagian lainnya tidak.

3. Adapun sang Gharib yang telah mengharungi gurun (hakikat) dan menyeberanginya, telah mencakupnya serta memahaminya secara keseluruhan. Ia tidak memperoleh sesuatu yang lazim ataupun biasa, tidak di gunung ataupun di darat.

4. "Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya", ia meninggalkan ummatnya karena hakikat akan merengkuhnya sebagai 'milik'-Nya. Tapi, masih juga ia berpuas dengan penerangan semu tanpa pandangan (bashirah) batin langsung, sehingga ada perbedaan antara ia dan sang Insan Kamil [Muhammad saw]. Karena itu ia (Musa as) berkata: "Siapa tahu aku dapat membawa sedikit penerangan untukmu." [Q. 20: 10]

5. Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan semu, bagaimana dapat seseorang yang menempuh jalan (thariqah) tidak mencukupkan dirinya dengan jejak semu.

6. Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai, apa yang kedengarannya difirmankan Semakbukanlah dari Semak atau belukarnya, tetapi (firman) Allah.

7. Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu

8. Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'. Makanya buanglah sifat kemakhlukanmu, supaya kau sesuai dengan-Nya, beserta Dia -- kau pun dalam liputan hakikat.

9. 'Aku' sejati adalah subyek, dan obyek yang terurai adalah subyek dalam hakikatnya.Soalnya adalah bagaimana itu terurai?

10. Allah berfirman kepada Musa (as): "Kau bimbinglah (ummatmu) pada Bukti (al- Hujjah)," tapi bukan pada Obyeknya Bukti. Adapun bagi-Ku, Aku adalah 'Bukti' dari setiap bukti.

11. Allah membuatku melampaui apa adanya hakikat dengan kesepakatan, perjanjian, dan persekutuan. Rahasiaku adalah penyaksian (syahadah) langsung tanpa (keikutsertaan) pribadi makhlukku. Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.

12. Allah memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari hatiku. Dia menarikku dekat pada-Nya setelah jauh dari-Nya. Dia membuat aku menjadi Sahabat (Waly)-Nya, Dia memilih aku…

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Habib Sangeng al-Haddad

Beliau adalah Habib 'Abdullah bin 'Ali bin Hasan bin Husain bin Ahmad bin Hasan bin Shohibur Ratib Habib 'Abdullah al-Haddad. Dilahirkan pada tanggal 2 Shafar al-Khair 1261H di Kota Hawi, Tarim, Hadhramaut. Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad
 Habib Sangeng lahir dalam keluarga yang kuat berpegang dengan agama, keluarga keharuman ahlul bait dan kewalian semerbak mewangi. Sejak kecil lagi beliau dididik dan diasuh sendiri oleh ayahanda beliau sehingga dalam usia kecil tersebut beliau telah hafal al-Quran.

Kemudian beliau berguru pula dengan berbilang ulama besar di Hadhramaut, antara guru beliau adalah:-
Habib 'Abdur Rahman al-Masyhur, mufti Hadhramaut, pengarang kitab "Bughyatul Mustarsyidin";
Habib 'Umar bin Hasan al-Haddad;
Habib 'Aidrus bin Umar al-Habsyi, pengarang "Iqdul Yawaaqit";
Habib Muhsin bin 'Alwi as-Saqqaf;
Habib Muhammad bin Ibrahim BilFaqih;
Habib Thahir bin 'Umar al-Haddad;
Syaikh Muhammad bin 'Abdullah BaSaudan;
Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar;

Pada tahun 1295 H, berangkatlah beliau menuju ke Haramain untuk menunaikan ibadah haji. Di kota Makkah, beliau tinggal di kediaman Al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayahanda Shohibul Mawlid Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi, yang berada di daerah Jarwal. Di sana keduanya saling mengisi dengan membaca bersama-sama kitab-kitab agama. Pada saat di kota Madinah, beliau bertemu dengan Asy-Syaikh Muhammad Abdul Mu''thi bin Muhammad Al-'Azab, seorang faqih dan pakar bahasa dan kesusasteraan Arab, serta pengarang kitab Mawlid al-'Azab. Di sana juga keduanya saling mengisi dengan saling memberikan ijazah. Di Kota Madinah juga, kemuliaan dan ketinggian maqam beliau tersingkap apabila Mufti Haramain, Sayyid 'Umar Syatha datang kepada beliau dan sangat-sangat memuliakan beliau. Diceritakan bahawa sebelumnya, Sayyid 'Umar telah bermimpikan Junjungan Nabi SAW yang memerintahkan beliau untuk menziarahi Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad dan Junjungan SAW turut memaklumkannya bahawa Habib 'Abdullah al-Haddad ini adalah cucu baginda yang sebenar.

Pada tahun 1297 H, beliau melakukan hijrah dalam rangka berdakwah ke negeri Melayu. Tempat awal yang beliau tuju adalah Singapura, kemudian beliau menuju ke Johor. Di Johor beliau tinggal selama 4 tahun. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan dakwahnya ke pulau Jawa. Sampailah beliau di daerah Betawi. Beliau lalu meneruskan perjalanan ke kota Bogor, Solo dan Surabaya. Beliau tidak tertarik tinggal di kota-kota tersebut, walaupun diajak penduduk setempat untuk menetap di kotanya.

Sampai akhirnya pada tahun 1301 H, tepatnya akhir Syawal, beliau tiba di kota Bangil. Disanalah beliau menemukan tempat yang cocok untuk menetap dan berdakwah. Mulailah beliau membuka majlis taklim dan rauhah di kediaman beliau di kota Bangil. Beliau juga mengembangkan dakwah Islamiyyah di daerah-daerah lain di sekitar kota Bangil. Di sana juga beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar kepada murid-murid beliau. Keberadaan beliau di kota Bangil banyak membawa kemanfaatan bagi masyarakat di kota tersebut. Tidak jarang pula, masyarakat dari luar kota datang ke kota itu dengan tujuan untuk mengambil manfaat dari beliau. Di antara murid-murid beliau yang menjadi ulama dan kiyai besar adalah:-

Kiyai Kholil Bangkalan;
Kiyai Zayadi;
Kiyai Husein;
Kiyai Mustafa;
Kiyai Muhammad Thahir;
Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar;
Habib 'Alwi bin Muhammad al-Haddad;
Habib 'Ali bin Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang);
Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar.

Beliau juga ada mengarang beberapa karya tulis, antaranya:-
Hujjatul Mukminin fit Tawassul bi Sayyidil Mursalin;
Maulidil Haddad, nazam maulid Junjungan Nabi SAW.
Habib 'Abdullah bin Ali al-Haddad adalah seorang yang sangat pemurah dan sangat memperhatikan para fakir miskin. Bahkan setelah bermastautin di Kota Bangil, beliau bukan sahaja menyara keluarga dan murid-muridnya bahkan puluhan lagi keluarga miskin yang berada di sekitarnya dibiayai belanja mereka pada setiap bulan. Dan sering pada waktu malam, ketika orang tidur, beliau akan meronda sekitar Kota Bangil untuk mencari orang yang perlukan bantuan.

Habib 'Abdullah adalah seorang yang tidak suka dengan kemasyhuran. Beliau tidak suka difoto atau dilukis. Beberapa kali dicoba untuk difoto tanpa sepengetahuan beliau, tetapi foto tersebut tidak jadi atau rusak. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat tawadhu. Beliau selalu menekankan kepada para muridnya untuk tidak takabur, sombong dan riya. Dakwah yang beliau jalankan adalah semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Dan inilah bendera dakwah beliau yang tidak lain itu semua mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulunya.

Pada hari Jum'at, 15 Shafar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar, berpulanglah Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad kepada Tuhan Rabbul Alamin dengan amal baik beliau yang beliau tanam semasa hidupnya. Beliau disemadikan di daerah Sangeng, Bangil. Moga-moga Allah meredhai dan merahmatinya sentiasa dan menghubungkan keberkatan beliau kepada kita sekalian.... al-Fatihah.

*********************************************

Qasidah karangan Habib Sangeng

Dikatakan bahawa bait-bait istighatsah ini adalah mujarrab sebagai wasilah untuk menarik rezeki, menyembuhkan penyakit, menolak bala`, fitnah, pancaroba, wabak dan kejahatan musuh. Boleh dibaca setiap malam selepas membaca ratib

---
Pada salah satu mukaddimah ijazahnya disebutkan, “Aku berikan ijazah kepada keturunan Al-Quthb Al-Ghaouts, Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad sebagai ahli ibadah yang tampak di wajahnya cahaya ulama salaf. Kelak dia akan menggantikan kedudukan salaf pendahulunya, dan aku anggap dia sebagai anakku.”

Pada 1295 H / 1814 M ia menunaikan ibadah haji berziarah ke makam Rasulullah SAW. Selama berada di Mekah, ia tinggal di rumah Mufti Habib Muhammad bin Husien Al-Habsyi, ayahanda Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun Simthut Durar. Sementara di kota Jarwal, ia mempelajari ilmu Nahwu dan Mantiq, sehingga memperoleh ijazah dari Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

Tak lama kemudian ia menuju Madinah, tinggal 4 bulan di sana, berguru kepada Syekh Muhammad Abdul Mukti bin Muhammad Al-Azab, seorang fakih dan pakar bahasa Arab, tapi ia tidak mendapat ijazah, sebelum mendapat ijazah dari Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Setelah mendapat ijazah dari Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berupa wirid dan kitab-kitab karangannya, barulah ia memperoleh ijazah dari Syekh Muhammad bin Abdul Mkti.

Pada 1297 H / 1819 M ia mulai berdakwah ke tanah Melayu. Mula-mula ke Singapura, lalu ke Johor. Di sana ia bersahabat dengan Sayid Salim bin Thaha Al-Habsyi dan Sultan Abu Bakar bin Ibrahim yang saat itu menjadi Sultan Johor. Ketika menghadiri peresmian istana kesultanan Johor, ia ditemui oleh Sultan Ahmad dari Padang dan diminta untuk menjadi Mufti di sana. Namun Habib Abdullah menolak dengan halus.

Setelah kurang lebih 4 tahun berdakwah di Johor, ia meneruskan perjalanan dakwahnya ke Jawa, Indonesia mula-mula ia tiba di Batavia, kemudian meneruskan ke Bogor, Solo dan Surabaya. Di kota-kota tersebut, ia merasa kurang nyaman, walaupun kaum muslimin sempat menyambutnya dengan antusias. Pada akhir syawal 1301 H, ia tiba di Bangil, Jawa Timur. Disinilah ia merasakan kenyamanan dan pada akhirnya menetap untuk berdakwah. Setiap hari, selepas asar, ia menggelar pengajian, dan setiap Kamis mengisi Majlis Taklim di Masjid Kalianyar.

Ia mengisi hari-harinya dengan ibadah, sejak maghrib hingga Isya, ia selalu membaca Al-Qur’an dengan hafalan, selepas salat Isya berjema’ah, ia beristirahat selama dua jam, setelah itu membaca Ratib bersama anak dan para sahabatnya. Kemudian ia belajar sampai jam 24.00.

Dua jam kemudian, ia beristirahat, lalu salat sunnah, setelah itu berkeliling Kota Bangil. Pukul 03 dini hari pulang, lalu salah Tahajud hingga menjelang fajar. Setelah salat subuh berjema’ah bersama keluarga, ia membaca wirid sampai menjelang Dhuha, lalu salat Dhuha delapan raka’at. Begitulah amalan ulama besar ini setiap hari.

Pada suatu malam ketika mengelilingi kota Bangil, ia bertemu dengan seorang Hansip, “Kenapa malam-malam begini Habib berkeliling di jalanan?” tanya si Hansip keheranan. “Mengapa kamu juga berada di Pos penjagaan ini?” Habib Abdullah balik bertanya. “Kami ditugasi oleh pak Camat menjaga daerah sekitar sini,” jawab si Hansip. Maka Habib Abdullah pun menimpali, “Saya juga mendapat tugas dari penguasa alam semesta.”

Suatu hari ia membacakan kitab-kitab karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad di masjid Kalianyar. Setiap kali hadir di majlis taklim yang dihadiri kurang lebih 60 orang itu, ia biasa membawa ketel kecil berisi kopi, usai pengajian menjelang magrib, dihidangkanlah kopi itu pada para jema’ah. Ternyata kopi itu cukup untuk 60 orang yang hadir.

Suatu hari, tanpa diduga, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Mukhdar bersama rombongan sebanyak 60 orang berkunjung ke majlis taklim tersebut. Habib Abdullah meminta Syekh Mubarak Jabil menuangkan kopi dan menghidangkannya kepada mereka. Setelah menuangkan kop ke beberapa cangkir, ternyata kopinya habis, dan ia berhenti menghidangkan kopi. “Tuangkan lagi kopinya,” kata Habib Abdullah.

Dengan bingung, Syekh Mubarak berbisik kepada Habib Muhammad, putra Habib Abdullah, “Ketelnya sudah kosong.” Tapi kata Habib Muhammad, “Turuti saja perintahnya.” Maka Syekh Mubarak pun kembali mencoba menuangkan kopi ke cangkir-cangkir dari ketel kosong itu. Betapa terkejutnya ia manakala dilihatnya dari ketel kosong itu tetap mengucur kopi hangat hingga seluruh tamu kebagian.

Suatu sore seorang bangsawan Bugis dari Makasar bertandang ke Bangil, dan menghadiahkan sebuah peti dari emas berisi kayu Gaharu dan sejumlah besar uang untuk Habib Abdullah. Sebelum menerima hadiah, ia bertanya, ”Apakah di negaramu ada orang yang berhak menerima sedekah?” bangsawan itu menjawab, “Ya, ada.” Maka Habib Abdullah minta agar hadiah itu di bagi-bagikan kepada fakir miskin di Makasar.

“Alhamdulillah, kami dalam keadaan mampu,” ujar Habib Abdullah seraya menunjukkan sebuah kantung penuh berisi uang emas. Maka sang bangsawan bugis itu segera mohon maaf dan berjanji akan melaksanakan amanatnya. Habib Abdullah memang terkenal sangat dekat dengan fakir miskin. Setiap bulan, ia membantu sekitar 70 keluarga fakir miskin.

Suatu hari, Residen Pasuruan datang ke Bangil, begitu ia turun dari kereta berkuda, semua orang berdiri menghormatinya. Kebetulan saat itu, Habib Abdullah berada di situ, mengantar pamannya, Habib Ahmad bin Hasan Al-Haddad, hendak pulang ke Surabaya. Ketika sang Residen lewat persis di depan Habib Abdullah, ia tidak mengindahkannya, ia tetap duduk santai, tidak berdiri menghormatinya.

Maka datanglah seorang anggota polisi memerintahkan datang ke kantor Residen Pasuruan. Tanpa pikir panjang ia berangkat kesana. Sampai disana, ia menunggu di ruang depan, tapi tak seorang petugas pun menemuinya. Anehnya, bahkan ada beberapa orang petugas yang lari ketakutan ketika melihat kehadiran Habib Abdullah. Akhirnya, seorang pegawai keresidenan menemuinya sambil berkata gemetaran, “Sebaiknya Habib kembali saja, sebab Residen dan semua stafnya takut melihat kedatangan Habib yang di dampingi dua ekor harimau dengan mulut terbuka.” Setelah kejadian itu, sang Residen meletakkan jabatan.

Suatu hari Sayid Umar Syatta, Mufti Haramain dari Mekah, menerima Ru’yah (penampakan dalam mimpi) bahwa Rasulullah menganjurkan untuk menemui Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad. “Dia adalah cucuku yang sebenarnya,” kata Nabi dalam Ru’yah tersebut. Dalam pertemuan itu, Sayid Umar Syatta menciumi lutut dan kaki serta mohon maaf kepada Habib Abdullah kerena tidak tahu kedudukan Habib Abdullah, seandainya Nabi tidak memberitahukannya.

Ada satu hal yang selalu ia tekankan kepada murid-muridnya, juga dalam tulisan di beberapa kitabnya ia selalau mengajarkan untuk berperilaku tawadu’ (rendah hati), tidak takabur, sombong dan riya’. Sebab kata Habib Abdullah, semua itu adalah sifat-sifat setan.

Referensi Kisah Alkisah no. 21 / 11-24 Okt 2004

Risalah Al Muawanah (1) : Muroqobah Kepada Allah

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD )

 Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku untuk selalu bermuroqobah kepada Allah Ta’ala dalam segala gerak dan diammu dan pada setiap kedipan matamu dan pada setiap kehendakmu dan gurisan hatimu dan dalam segala Keadaanmu dan kesadaranmu akan kedekatanNya kapadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia selalu melihat dirimu dan mengetahui segala ihwalmu dan tidak ada yang tersembunyi bagiNya segala sesuatu yang ada pada dirimu meskipun hanya sebesar zarrah baik itu di bumi maupun di langit . dan jikalaupun engkau mengeraskan suaramu ataupun melembutkannya maka sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu yang sangat samar dan tersembunyi. Dan Dia selalu bersamamu di mana saja kamu berada dengan ilmuNya dan peliputanNya Jika engkau termasuk orang yang bagus, maka malulah kepada Tuhanmu dengan sebenar-benarnya malu dan bersungguh-sungguhlah agar Ia tidak meluhatmu pada tempat yang sekiranya Dia melarangmu, Dan berusahalah selalu Ia mendapatimu ketika Ia memerintahkan sesuatu kepadamu. Dan sembahlah Ia seakan-akan engkau melihatNya dan manakala engkau jumpai dirimu merasa malas mengerjakan ketaatan kepadaNya atau condong kepada bermaksiyat kepadaNya maka ingatlah bahwa sesungguhnya Allah mendengarmu dan melihatmu dan mengetahui rahasiamu dan ketersembunyianmu.

Apabila hal yang demukian belum berhasil membangkitkan semangatmu untuk ta’at kepadaNya disebabkan karena sedikitnya ma’rifatmu kepadaNya akan kebesaran Allah, maka ingatlah akan adanya dua malaikat yang sangat mulia yang keduanya mencatat kebaikan dan keburukan amal. Apabila yang demikian itu masih belum memberikan efek, maka langkah selanjutnya adalah ingatlah akan dekatnya maut atau kematian dimana maut adalah sesuatu yang paling dekat diantara yang terdekat yang selalu menanti dirimu dan takutlah akan hal yang demikian. Apabila pentakutan yang demikian ini belum juga berhasil menggerakkan dirimu untuk ta’at kepada Allah maka peringatkanlah dirimu dengan janji-janji Allah yang akan diberikan kepada orang yang ta’at kepadaNya dari beberapa pahala yang sangat besar dan ingatlah juga akan janjiNya yang disediakan bagi orang-orang yang durhaka kepadaNya dari beberapa azab yang sangat menyaktkan dan katakanlah kepada dia (nafsumu) wahai nafsu, tidak ada sesuatu setelah kehidupan dunia kecuali surga atau neraka., maka pilihlah untuk dirimu sendiri jika engkau menginginkan ta’at maka akibatnya adalah keselamatan dan keridhoan dari Allah dan abadi dalam kenikmatan surga dan memandang kepada wajah Tuhanmu yang maha Mulia. Dan jika engkau menginginkan yang lain maka bermaksiyatlah kepada Allah maka akhir yang akan engkau dapatkan adalah kehinaan dan kemarahan dari Tuhanmu dan tinggal abadi di dalam neraka. Jika yang demikian ini telah engkau lakukan maka akan hilanglah keinginan nafsumu untuk berdiam diri tidak melakukan ta’at kepada Tuhannya. Maka sesungguhnya yang demikian ini merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi hati yang mengalami sakit . selanjutnya jika hatimu telah sadar bahwa Allah Ta’ala selalu melihatmu maka hatimu akan merasa malu untuk berlawanan dengan kehendaknya dan hatimu akan membimbngmu untuk ta’at kepadaNya dan yang demikian ini hatimu telah mulai bermuroqobah kepadaNya.

Dan ketehuilah sesungguhnya muroqobah adalah termasuk mqoomqt/kedudukan yang sangat mulia d dan termasuk kedudukan yang tinggi dan setinggi-tingginya derajad dan dia/muroqobah adalah maqom ihsan dimana RasuluLlah SAW telah memberi isyarat dalam sabdanya bahwa Al-ihsan adalah apabila engkau menyembahNya seakan-akan engkau melihatNya. Dan apabila engkau tidak dapat melihatNya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Ia melihatmu. Dan setiap hamba yang beriman akan yakin dan percaya bahwa bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baik di langit maupun yang di bumi dan mereka mengetahui bahwa Allah selalu menyertainya di mana saja, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah dari segala gerak dan diamnya seorang hamba. Akan tetapi buah yang sedemikian ini akan dapat diperoleh dengan jalan mula-mula ia tidak melakukan amal perbuatan antara ia dengan Allah yang menyebabkan ia malu apabila amal ada orang saleh melihat apa yang ia lakukan tersebut . dan yang sedemikian ini adalah perbuatan yang mulia, dan dibalik semuanya adalah lebih mulia lagi, saampai seorang hamba hingga pada akhir umurnya tenggelam ke dalah HadratuLlah Ta’ala dan dia hilang/fana dari yang selain Allah. Dan sungguh baginya telah hilang pandangannya akan semua makhluk dikarenakan terpananya pandangannya kepada kebesaran Allah yang Maha Haq. Dan ia telah benar keyakinannya dihadapan Sang Raja yang maha kuasa. Dan wajib untukmu wahai saudaraku untuk selalu memperbaiki daen memperbagus bathiniahmiu agar lebih baik daripada lahiriahmu. Yang demikian itu dikarenakan bahwa yang bathiniah adalah tempat Allah melihat seorang hamba sedangkan lahiriah adalah tempat yang dilihat makhluk. . dan apa yang dijelaskan Allah di dalam kitabnya yang mulia / Al-Qr’an tentang masalah lahir dan bathin, maka Allah lebih mula menyebutkan kata bathin daripada lahir –berarti bathin lebih utama- sebagaimana do’a RasuluLlah SAW Yaa Allah jadikanlah bathiniahku lebih baik dari lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku dalam keadaan bagus. Dan manakala bagus bathiniah, maka akan bagus jugalah keadaan lahiriah tidak boleh tidak. Karena sesungguhnya yang lahir selamanya mengikuti yang bathin dalam hal baik dan buruknya. RasuluLlah SAW telah bersabda sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia buruk maka akan buruklah seluruh jasad. Ketauhilah sesungguhnya dia adalah hati.

Dan ketahuilah apabila ada seseorang yang mengaku /mendakwakan bahwa kondisi bathinnya telah bagus akan tetapi lahiriahnya rusak dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah, maka apa yang ia dakwakan tersebut adalah bohong belaka. Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh memperbaiki/membeguskan lahiriahnya dengan mempercantik penampilannya, pembicaraannya, demikian juga mempercantik gerak geriknya , dan cara duduknya , dan cara berdirinya, dan cara ia berjalan, akan tetapi ia membiarkan bathiniahnya dalam keadaan yang buruk dengan akhlak yang buruk pula serta dengan tabiat yang kotor, maka ketahuilah bahwa ia termasuk min ahlil Tashonnu’ /orang ayng suka di buat-buat dalam hal tingkah lakunya,dan termasuk orang yang riya’ dan orang yang termasuk berpaling dari Tuhannya. Maka takulah wahai saudaraku jika engnkau menutupi / menyembunyikan sesuatu apabila orang banyak mengetahuinya niscaya engkau akan malu. Sebagian orang arifiin berkata Seorang Sufi belum termasuk golongan para Sufi hingga seandainya seluruh isi hatinya ditaruh dalam sebuah nampan dan di perlihatkan di tengah pasar maka ia tidaklah malu jika semua orang melihat isinya. Jiak engkau tidak mampu membuat bathinmu lebih baik daripada lahiriahmu, maka usahakan agar keduanya sama antara lahir dan bathinnya , maka apa yang engkau lakukan dalah hal melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangannNya dan dalam mengagungkanNya, dan usahamu mencari keridhoanNya , semua itu dalam keadaan sama (antara lahirr dan bathinnya). Dan apa yang disampaikan ini adalah langkah awal bagi orang yang melangkah jalan ma’rifat yang khos maka ketahuilah yang demikian itu semoga Allah selalu memberi taufik.

Sumber: Deli Sufi

Saturday, March 30, 2013

Sholawat Sulthon

Assalamualaikum.
Berikut adalah sholawat sulthon yang diambil dari muhibbun naqsybandi.
semoga kita mendapatkan berkah dari mengamalkan sholawat ini. Amin

Bismillahirrahmanirrahim.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI RAHMATILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI FADHLILLAH
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KHOLQILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAA FI ILMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KAROMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI HURUFI KALAMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KALIMATILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI QOTHRIL AMTHOR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI WAROQIL ASY,JAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI ROMLIL QIFAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI HUBUBI WA TSIMAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAA ADHLAMA ALAIHIL LAIL W ASYROQ ALAIHIN NAHAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAN SHOLA ALAIH
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAN LAM YUSHOLLI ALAIH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI ANFASIL KHOLQ.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI NUJUMIS SAMAAWAT.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KULLI SAIY,IN FID DUNY WAL AKHIRAH.
SHOLAWATULLAHI WA MALAIKATIHI WA ANBIYAIHI WA RUSULHI WA JAMI’I KHOLQIHI ALA SAYYISIL MURSALIM WA IMAMIL MUTTAQIN WA QOIDIL GHURIL MUHAJJALIN WA SYAFI’IL MUDZNIBIIN SAYYIIDINA MUHAMMADIN WA ALAA ALIHI WA SHAABIHI WA AZWAJIHI WA DZURRIYATIHI WA AHLI BAITIHI WAL A,IMMATIL MAADHIYYIN WA MASYAIKHIL MUTAQODDIMIN WA SHUHADA’I WAS SHOLIHIN WA AHLI THOATIKA AJMAIN MIN AHLI SAMAAWATI WAL ARDHIYN BI ROHMATIKA YA ARHAMARROHIMIN WA YAA AKROMAL AKROMIN WALHAMDULILLAHI ROBBIL ALAMAIN WA SHOLLA ALLAHU ALA SAYYIDINA MUHAMADIN WA ALAA ALAHIH WA SHOHBIHI WA SALLAM..

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah rahmatnya Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah keutamaan dari Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah ciptaan Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa-apa yang ada dalam pengetahuan Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kemuliaan dari Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah huruf Kalamullah (Kitab-Kitab Allah).
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kalimat Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak tetesan air hujan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah daun-daun pepohonan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah butir pasir di gurun. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah biji-bijian dan buah-buahan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah yang dinaungi kegelapan malam dan diterangi oleh benderang siang.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang telah bershalawat kepadanya.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang belum bershalawat kepadanya.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah napas-napas makhluk ciptaan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa yang ada di seluruh langit.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah tiap-tiap sesuatu yang ada di dalam dunia dan akhirat.
Dan segenap shalawat dari Allah beserta para malaikat-Nya, dan para Nabi-Nya, dan para Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya, semoga tercurah atas junjungan para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemuka para ahli surga, pemberi syafa’at orang-orang yang berdosa, Nabi Muhammad dan juga atas keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, para pemimpin yang telah lampau, para guru yang terdahulu, para syuhada dan orang-orang soleh, dan yang senantiasa taat kepada Allah seluruhnya, dari penghuni bumi dan langit, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, segala pujian bagi Allah Tuhan alam semesta. Dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.”

====================================================

Ada seorang Sulthon (Raja) yang bernama Sulthon Mahmud Al Ghaznawi. Sepanjang hidupnya Raja ini selalu menyibukkan dirinya dengan membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW. Setiap selesai shalat subuh, sang raja membaca shalawat sebanyak 300.000 kali. Begitu asyiknya raja membaca shalawat sebanyak itu, seolah-olah beliau lupa akan tugasnya sebagai seorang raja, yang di pundaknya tertumpu berbagai tugas negara dan berbagai macam harapan rakyatnya yang bergantung padanya. Sehingga kalau pagi tiba, sudah banyak rakyatnya yang berkumpul di istana menunggu sang raja, untuk mengadukan persoalannya.

Namun sang raja yang ditunggu-tunggu tidak kunjung hadir. Sebab sang raja tidak akan keluar dari kamarnya, walau hari telah siang, jika belum menyelesaikan wirid shalawatnya. Setelah kejadian ini berlangsung agak lama, pada suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Di dalam mimpinya, Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa kamu berlama-lama di dalam kamar? Sedangkan rakyatmu selalu menunggu kehadiranmu untuk mengadukan berbagai persoalan mereka.” Raja menjawab, “Saya duduk berlama-lama begitu, tak lain karena saya membaca shalawat kepadamu sebanyak 300.000 kali, dan saya berjanji tidak akan keluar kamar sebelum bacaan shalawat saya selesai.” Rasulullah SAW lalu berkata, “Kalau begitu kasihan orang-orang yang punya keperluan dan orang-orang lemah yang memerlukan perhatianmu. Sekarang aku akan ajarkan kepadamu shalawat yang apabila kamu baca sekali saja, maka nilai pahalanya sama dengan bacaan 100.000 kali shalawat. Jadi kalau kamu baca tiga kali, pahalanya sama dengan 300.000 kali shalawat yang kamu baca.” Rasulullah SAW lalu membacakan lafazh shalawat yang kemudian dikenal dengan nama shalawat sulthon. Akhirnya, raja Mahmud lalu mengikuti anjuran Rasulullah SAW tersebut, yaitu membaca shalawat tadi sebanyak “TIGA KALI”.

Dengan cara demikian,shalawat dapat beliau baca dan urusan negara dapat dijalankan dengan sempurna. Setelah beberapa waktu mengamalkan shalawat itu, raja kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan, sehingga malaikat kewalahan menuliskan pahala amalmu?” Raja menjawab, “Saya tidak mengamalkan sesuatu, kecuali mengamalkan shalawat yang anda ajarkan kepada saya itu.”

Sumber: Muhibbun Naqsybandi Haqqani

Thursday, March 21, 2013

Selamat berpulang Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buti

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN

Kabar duka telah meninggalnya seorang ulama besar dunia, pemikir dari Damaskus Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouthiy (Penulis Kitab Fiqh as-Sirah) yang menjadi korban ledakan bom bunuh diri pada tanggal 21 Maret 2013 saat Maghrib waktu setempat. Terlepas dari sikap beliau terhadap keadaan politik Syria akhir-akir ini.

Kata Al-Habib Ali-Al-Jufri "Aku telah menelefonnya dua minggu lepas dan beliau (Dr Ramadhan Al-Buti) berkata pada akhir kalamnya " "Tidak tinggal lagi umur bagi aku melainkan beberapa hari yang boleh dikira. Sesungguhnya aku sedang mencium bau syurga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku" Pada beberapa hari sebelum kewafatannya, beliau berkata "Setiap apa yang berlaku padaku atau yang menuduhku daripada ijtihadku, maka aku harap ia tidak terlepas dari ganjaran ijtihad" (yang betul mendapat dua ganjaran dan yang tidak mendapat satu ganjaran) *Sheikh Ramadhan Al-Buti Syahid setelah dibom beberapa jam lepas di dalam Masjid Iman di Dimasyq. Beliau akhir-akhir ini mendoakan kehancuran kepada rejim Syiah Nusairiah, dan sedang dikawal ketat oleh pihak tentera. Dalam usahanya untuk keluar dari Syria beliau bersama pengikutnya dibom dan mendapat ganjaran Syahid. Moga Allah merahmati dan memberi ganjaran yang sebanyak- banyaknya kepada Guruku dan Mujtahid Ummah Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buti. Hidupnya sebagai ulama, matinya sebagai syuhada



SEKILAS TENTANG ASY-SYAHID ASY-SYEIKH DR. RAMADHAN AL-BOUTHIY (1929-2013)

Muhammad Said Ramadhan al-Bouthiy, seorang ulama yang mutakhashish dalam ilmu Islam. Beliau sangat dihormati oleh banyak ulama terkemuka di dunia Islam. Bahkan pengaruhnya telah tumbuh secara signifikan di dunia Islam, terutama dengan kaum muda Muslim.

Beliau menimba ilmu pendidikan di madrasah Damaskus, kemudian ke Mesir untuk belajar di Universitas al-Azhar asy-Syarief dan mendapatkan gelar doktor Fakultas Syari’ah. Beliau telah menulis lebih dari 60 buku tentang isu-isu Islam dan menjadi uswah dalam menjaga Madzhab Arba’ah (madzhab yang empat) dan aqidah Ahlussunnah dalam manhaj Asya’irah.



Beliau berasal dari Kurdi, lahir pada tahun 1929 di Botan, Turki. Kemudian hijrah bersama ayahnya, Mulla Ramadhan al-Bouthiy ke Damaskus pada tahun 1933, pada saat itu beliau masih berumur 4 tahun.

Syeikh al-Bouthiy merupakan ulama Sunni yang ahli dalam bidang akidah dan falsafah madiyah. Beliau telah menulis sebuah buku kritik materialisme dialektis, tetapi dalam pandangan fiqih yang dijadikan benteng untuk madzhab fiqih Islam dan akidah Sunni Asy’ariyah dari pandangan salafi.

Beliau menulis sebuah buku yang berjudul, “اللامذهبية أكبر بدعة تهدد الشريعة الإسلامية” artinya: Tidak bermadzhab adalah sebesar-besar bid’ah yang mengancam syari’ah islamiyah dan buku yang lain berjudul “السلفية مرحلة زمنية مباركة وليست مذهب إسلامي”

Dalam salah satu bukunya yang paling populer “الجهاد في الإسلام” artinya: Jihad dalam Islam (tahun 1993): al-Bouthiy menunjukkan bagaimana pemahaman yang buruk tentang istilah jihad telah menyebabkan pelecehan terhadap Muslim maupun non-Muslim. Mereka telah memanipulasi ide jihad untuk keuntungan mereka sendiri, dengan kedok bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan dasar fiqh Islam.

Beliau adalah seorang ulama yang tidak berpolitik. Terlihat beliau sangat menjauhi hal ini, serta menyarankan pada ulama yang lain untuk meninggalkan perpolitikan.

Shiekh al-Bouthiy telah memberikan dampak besar pada dunia Muslim, khususnya melalui karya ilmiahnya. Beliau menulis untuk berbagai jurnal. Dia juga telah mengembangkan reputasi karena kemampuannya menangani dan menanggapi pertanyaan isu-isu yang berkenaan dengan hukum Islam.

Beliau menyelesaikan dirasah Tsanawiyah asy-Syar’iyah di Ma’had at-Tawajjuh al-Islamiyyah di Suriah. Pada tahun 1953 beliau mengambil Fakultas Syariah di Universitas al-Azhar dan memperoleh syahadah ‘alamiyah pada tahun 1955.

Pada tahun berikutnya beliau masuk Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar, dan memperoleh Diploma Pendidikan di akhir tahun itu.

Beliau diangkat dosen di Fakultas Syariah Universitas Damaskus pada tahun 1960. Beliau dikirim ke Fakultas al-Azhar untuk menyelesaikan program doktoral dalam ushul syari’ah islamiyah dan memperoleh syahadah pada tahun 1965.

Beliau diangkat sebagai dosen Fakultas Syariah di Universitas Damaskus pada tahun 1965 dan juga sebagai wakil dekan. Selang beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi dekan Fakultas Syari’ah.

Beliau masih aktif dalam berbagai muktamar dan seminar internasional. Beliau merupakan anggota Majma’ al-Maliky untuk Penelitian Peradaban Islam di Amman. Beliau juga anggota Dewan Tertinggi dari Akademi Oxford.

Beliau adalah Dewan Penasehat tinggi Anggota untuk Yayasan Tabah di Abu Dhabi. Beliau mampu berbicara dalam bahasa Turki dan Kurdi, dan lancar dalam berbahasa Inggris.

http://themuslim500.com/profile/sheikh-muhammad-said-ramadan-al-bouti Al-Bouti, Sheikh Muhammad Sa’id Ramadan | The Muslim 500 themuslim500.com