Thursday, January 12, 2012

Adab Ketika Sedikit Dunia Terbuka Bagi Mereka

Sufinews

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

Abu Ya’qub an-Nahrajuri berkata: Saya mendengar Abu Ya’qub as-Susi berkata: Ada seorang fakir datang kepada kami, saat itu kami sedang berada di ar-Rajan. Sementara itu, Sahl bin Abdullah juga berada di sana. Lalu si fakir tersebut berkata pada

kami, “Kalian adalah orang-orang yang biasa memberi bantuan. Saat ini kami sedang ditimpa bencana.” Maka Sahl bin Abdullah berkata, “Dalam daftar bencana telah tercatat sejak Anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu?” la menjawab, “Dibukakan pada kami pintu dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli pada keluarga dekatku. Hingga saya kehilangan iman dan kondisi spiritual.” Sahl berkata kepada Abu Ya’qub, “Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?” Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat dari pada bencana dalam imannya.” Lalu Sahl berkata, “Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”
Dikisahkan dari Khair an-Nassaj -rahimahullah -yang berkata: Aku pernah masuk di sebagian masjid. Ternyata di situ ada seorang fakir yang aku mengenalnya. Ketika melihatku la langsung merangkulku dan menangis sembari berkata, “Wahai syekh kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Lalu aku bertanya, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan?” la tetap berkata, “Wahai syekh, kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Aku pun mengulangi pertanyaan, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan itu?” la menjawab, “Aku telah kehilangan bencana, kemudian setelah itu dibarengi dengan kesehatan (afiat). Sementara engkau tahu, bahwa hal ini adalah cobaanan yang sangat berat.” Khair an-Nassaj berkata: Si fakir itu telah di bukakan sedikit kenikmatan dunia.
Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Jika berbagai kenikmatan telah melimpah pada salah seorang di antara kalian maka hendaknya ia menangisi pada dirinya. Sebab la telah menempuh jalan yang tidak ditempuh orang-orang saleh.”

Saya mendengar al -Wajihi - rahimahullah - berkata: Bunan al-Hammal dibawakan uang sejumlah seribu dinar yang dituangkan di depannya. Kemudian Bunan berkata pada orang yang menuangkan uang tersebut, “Bawalah kembali dan ambillah uang itu. Demi Allah, andaikan di atas uang tidak ada tulisan nama Allah niscaya sudah aku kencingi. Kemilaunya telah banyak menipuku.”

Al Wajihi berkata: Suatu ketika Bunan al-Hammal diberi kenikmatan duniawi berupa uang empat ratus dinar. Saat itu ia sedang tidur. Mereka meletakkannya di atas kepalanya. Kemudian Bunan mimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya maka Allah akan membutakan mata hatinya.” Kemudian la terbangun, dan hanya mengambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.

Saya mendengar Ibnu `Ulwan -rahimahullah - berkata: Ada beberapa orang membawakan uang tiga ratus dinar untuk Abu al-husain an-Nuri. Mereka telah menjual barang-barangnya untuk mendapatkan uang tersebut. Setelah menerima uang itu an-Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melemparkan dinar-dinar tersebut satu demi satu ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku jauh dari-Mu.”

Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi - rahimahullah - yang berkata: Ibnu Zairi, salah seorang sahabat al-Junaid telah dibukakan sedikit kenikmatan duniawi sehingga la terputus dengan kaum fakir. Suatu ketika la datang kepada kami, sementara di pakaiannya terdapat kantong berisikan dirham yang cukup banyak. Ketika melihat kami dari kejauhan ia, berkata, “Wahai sahabat-sahabat kami, jika kalian sangat bangga dengan kefakiran, sementara kami bangga dengan kekayaan lalu kapan kita bisa bertemu?” Akhirnya ia melemparkan seluruh uang di kantongnya kepada kami.
Abu Said al-A`rabi berkata: Ada seorang pemuda menemani Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi. Kemudian selama beberapa waktu la menghilang dari al-Qalanisi. la kembali dari pengembaraannya setelah terbukakan pintu dunia dan mendapatkan harta. Kemudian kami berkata kepada al-Qalanisi, “Apakah Anda mengizinkan kami untuk datang mengunjunginya?” la menjawab “Tidak, sebab la berteman dengan kita dalam kondisi fakir. Andaikan la tetap pada kondisi semula, seyogyanya kami akan pergi mengunjunginya. Tapi apabila la kembali dari pengembaraannya dalam kondisi seperti ini maka ia yang wajib mengunjungi kami”

Abu Abdillah al-Hushri - rahimahullah - mengisahkan bahwa Abu Hafsh al-Haddad - rahimahullah - tinggal di Ramalah. la membawa dua potong pakaian usang yang di tengah-tangahnya ada uang seribu dinar. la tinggal di sana selama dua, tiga atau empat hari, dimana la tidak mau makan dari uang tersebut. Uang tersebut la berikan pada para fakir sampai habis.

Al-Hushri - rahimahullah - berkata: Di saat-saat krisis pangan kami pernah keluar bersama asy-Syibli mencari sesuatu untuk anak-anaknya. Kemudian kami masuk ke rumah seseorang dan orang itu memberinya sejumlah dirham. Kemudiankami keluar dan di kantongku telah penuh dengan dirham. Setiap berjumpa orang-orang fakir kami berikan uang itu hingga hanya tersisa sedikit. Aku berkata kepada asy-Syibli, “Tuan, anak-anak di rumah sedang kelaparan!” la balik bertanya kepadaku, “Lalu apa yang mesti aku lakukan?” Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, baru aku membeli sedikit makanan dengan sisa dirham tersebut dan kuberikan kepada anak-anaknya.

Dikisahkan dari Abu Ja’far ad-Darraj -rahimahullah- yang berkata: Suatu ketika guru aku keluar untuk bersuci. Sementara itu aku mengambil tempat yang la gunakan untuk menyimpan barang-barangnya dan kuperiksa. Ternyata kutemukan loggam perak kira-kira senilai empat dirham. Aku bingung dengan barang ini. Sementara itu dalam beberapa hari aku tidak makan apa-apa. Ketika la pulang aku berkata padanya, “Dalam tempat tuan menyimpan barang-barang, aku temukan logam perak. Sementara pada saat itu aku dalam kondisi kelaparan.” Lalu ia bertanya padaku, “Wah! Anda ambil barang itu? Tolong kembalikan!” kemudian setelah itu la berkata lagi padaku, “Silakan ambil uang itu, dan silakan Anda membelikannya sesuatu!” Kemudian aku bertanya, “Atas Nama Tuhan Yang engkau sembah, ada apakah dengan uang perak itu?” la menjawab, “Allah tidak pernah membe¬riku rezeki sedikit dari dunia, baik logam kuning maupun logam putih selain logam perak tersebut. Aku ingin berwasiat agar logam perak tersebut dikubur bersamaku saat aku mati. Sehingga ketika hari Kiamat tiba aku ingin mengembalikannya pada Allah swt. dan kukatakan, `Wahai Tuhanku, inilah sedikit dunia yang Engkau berikan padaku’.”

Wazir al-Mu’tadh pernah memberi uang kepada Abu al-Husain an-Nuri -rahimahullah- sehingga ia mau membagikannya kepada kaum Sufi. Kemudian an-Nuri menuangkan uang itu dalam sebuah rumah dan ia kumpulkan para Sufi di Baghdad. la berkata kepada mereka, “Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang la inginkan.” Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, ada yang mengambil lebih banyak, ada yang kurang dari seratus dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikit pun maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”

www.sufinews.com

Tuesday, January 10, 2012

Manazilus-Sa'irin, Karya Tasawuf yang Bercorak Sastra

Oleh Makmun Nawawi*

Al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan rohani.

Tasawuf dan sastra mempunyai hubungan yang sangat mesra karena kedekatan antara pengalaman sufistik dengan pengalaman estetis seorang seniman. Ilmu tasawuf juga menjelaskan perihal wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Di sisi lain, ketika seorang sufi 'mabuk' dalam luapan spiritual, maka sastralah yang menjadi medium bagi para sufi untuk mengutarakan isi hatinya dan pemikiran-pemikiran tasawufnya.

Puisi sebagai salah satu genre sastra menjadi perangkat yang paling laris digunakan oleh sufi untuk menumpahkan segenap gelegak jiwanya, pengalaman spiritualnya, dan konsep tasawufnya. Mulai dari Rabi'ah al-Adawiyah, Dzun-Nun al-Mishri, Sumnun bin Hasan Basri, Abu Yazid al-Bustami, Saqiq al-Balkhi, Sari as-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar asy-Syibli, Abul Hasan an-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, Abul Qasim as-Sayyani, Ahmad al-Ghazali, dan lain-lain.

Prof Abdul Hadi WM malah mencatat bahwa pada abad ke-10, Ja'far al-Khuldi (wafat 939 M) menghimpun syair-syair sufi Arab sejak abad ke-8 hingga abad ke-10 M. Di dalam antologinya, beliau berjaya menghimpun ribuan puisi karya 130 penyair sufi. Sayang sekali naskah asli buku Ja'far al-Khuldi itu sudah hilang dan belum lagi dijumpai hingga kini. Hanya sebagian kecil puisi-puisi tersebut dapat dijumpai dalam naskah buku penulis sufi yang lain.

Banyaknya bilangan penyair sufi yang sajak-sajaknya dihimpun oleh Ja'far al-Khuldi menunjukkan bahwa perkembangan kesusastraan sufi sangat marak sejak abad ke-8 hingga pada abad-abad selanjutnya.

Kesusastraan sufi Arab juga mencapai puncak perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis prolifik dan pemikir tasawuf terkemuka, seperti Ibnu Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibnu Atha'ilah as-Sakandari, Ibnul Farid, Ibnu Tufail, Qusyairi, Imam al-Ghazali, Najamuddin Dayah, dan lain-lain. Pada masa itu, tasawuf juga berkembang dengan suburnya di sebagian besar negeri Islam.

Dan, kesusastraan sufi bertambah subur perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis sufi Parsi terkemuka, seperti Sana'i, Abu Sa'id al-Khayr, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin 'Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin 'Iraqi, Nasir Khusraw, Sa'di, Suhrawardi, Mahmud ash-Shabistari, Maghribi, Jami, Karim al-Jili, dan salah satu tokoh dalam deretan ini adalah Syekh Abu Isma'il Abdullah al-Ansari al-Harawi (wafat 481 H/1088 M), yang tak lain adalah penulis kitab Manazilus-Sa'irin, sebuah karya tasawuf yang bercorak sastra. Lebih tepatnya, bagaimana penulis menggunakan puisi sebagai medium untuk mengeksplorasi konsepnya.

Di berbagai pesantren tradisional kita juga dikaji karya tasawuf yang bergaya seperti ini, yaitu kitab Kifayatul-Atqiya wa Minhajul-Ashfia, sebuah karya komentar (syarah) terhadap kitab berwarna puitis: Hidayatul-Adzkiya ila Thariqil-Auliya karya Syekh Zainuddin bin Ali al-Ma'bari al-Malibari. Selain itu, tentu saja kitab al-Hikam karya Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari, yang disajikan dengan ujaran-ujaran pendek dan menyentuh setiap penikmatnya, yang lebih dekat pada gaya prosa.

Kegemaran dan minat al-Harawi yang besar terhadap sastra ini sebetulnya bukan hanya melalui karya Manazilus-Sa'irin, melainkan juga dalam karyanya yang lain, yaitu Munajat (Doa). Sementara, melalui kitab Manazilus-Sa'irin (Maqam para Penempuh Jalan Ruhani) ini, al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan ruhani. Manzilah-manzilah itu dibagi dalam 10 bagian dan dari setiap bagian itu juga dibagi dalam 10 tema sehingga genaplah menjadi 100 manzilah.

Dengan demikian, hal ini merupakan satu kemajuan dari apa yang sudah dirumuskan oleh pendahulunya, Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi (wafat 378 H/988 M), yang disebut oleh Dr Abdul Halim Mahmud sebagai seorang sejarawan sufi terbesar dalam sejarah klasik dan modern, ath-Thusi dengan al-Luma'-nya hanya menyebut tujuh maqam atau manzilah. Atau bahkan dengan tokoh belakangan al-Qusyairi (wafat 465 H/1073 M) sekalipun yang hanya menampilkan 49 maqam.

Hal lain yang menjadi daya tarik kitab Manazilus-Sa'irin adalah maqam-maqam yang diperkenalkannya. Penulis merujuk sepenuhnya kepada Alquran, baik dalam tataran konsep maupun term atau istilah yang digunakan. Sehingga, dalam kitab ini bermunculanlah manzilah-manzilah, seperti i'tisham, firar, isyfaq, ikhbat, tabattul, dan seterusnya. Maqam-maqam tersebut belum pernah dimunculkan, setidaknya oleh kedua tokoh tadi, namun istilah-istilah ini jelas-jelas ada di dalam Alquran sekalipun dalam bentuk derivasinya. Dan inilah yang coba diangkat (disistematis-Red) oleh al-Harawi dalam khazanah tasawuf.

Manzilah i'tisham (berpegang teguh), misalnya, merujuk pada ayat "wa'tashimu bi hablillahi jami'a wa la tafarraqu." (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah dan janganlah kamu bercerai-berai). (Ali 'Imran [3]: 103).

Manzilah firar (lari) mengacu pada ayat "fafirru ilallahi inni lakum minhu nadzirun mubin." (Maka segeralah lari atau kembali kepada [menaati] Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu). (Adz-Dzariyat [51]: 50).

Demikian pula dengan maqam ikhbat (ketundukan hati), yang melandaskannya pada serangkaian ayat-ayat di dalam Alquran, baik dalam bentuk kata akhbatu, tukhbitu, atau mukhbitin. Di dalam surah al-Hajj ayat 34, misalnya, Allah berfirman, "wa basysyiril mukhbitin." (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah]).

Yang tidak kalah menariknya juga adalah penggunaan angka "tiga". Bukan hanya dalam pembagian peringkat yang digulirkan oleh al-Harawi dari setiap persinggahan yang didaki oleh para pejalan Ilahi itu, setiap manzilah tersebut selalu dibaginya dalam tiga peringkat (kecuali pada maqam shahwu (kesadaran), tapi juga dalam banyak hal. Maka, kata-kata seperti tsalatsu darajat (tiga peringkat), tsalatsatu asy-ya' (tiga faktor), rutabun tsalatsun (peringkat yang tiga) selalu berkelabatan dalam lembar demi lembar buku ini.

Di samping memiliki cita rasa yang indah, karya yang dituangkan dalam bentuk puisi juga biasanya sedikit kata, namun sarat makna. Hal ini meniscayakan adanya kerumitan pula dalam memahaminya karena satu kata atau bait dari sang penggubah menelorkan banyak makna pada diri pembaca. Maka, di sinilah jasa besar yang sudah disumbangkan oleh para pembuat syarah (karya komentar atau penjelas).

Sebagaimana dalam tradisi penulisan kitab berbahasa Arab yang kerap kali diiringi oleh sejumlah syarah, demikian pula dengan kitab Manazilus-Sa'irin ini. Maka, 'Afifuddin Sulaiman bin Ali at-Tilmitsani menulis kitab berjudul Manazilus-Sa'irin ilal-Haqqil-Mubin dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah merangkai kitab Madarijus-Salikin baina Manazili "Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in".

Melalui karya terakhir inilah agaknya publik di Indonesia bisa menikmati butir-butir pemikiran tasawuf dari seorang Syekh al-Harawi. Dan dari karya syarah ini juga tersimbul keberkahan ilmunya karena dari naskah yang semula hanya berkisar 100-an halaman, bisa menginspirasi Ibnu Qayyim al-Jauziyyah hingga membuahkan karya sebanyak tiga jilid buku besar dengan total halaman 1.500-an lebih. ed: heri ruslan.

Syekh al-Harawi
Mengubah Kesan Mazhab Hambali

Tokoh sufi yang lahir pada 396 H dan wafat pada 481 H/1088 M di Herat ini mempunyai nama lengkap Abu Isma'il Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Ja'far bin Manshur bin Matta al-Anshari al-Harawi. Adalah tokoh Khurasan, keturunan sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. Ia juga seorang pemuka dalam ilmu hadis, tafsir, bahasa, dan tasawuf dari kalangan mazhab Hambali yang penuh semangat.

Kalau ada pandangan bahwa sikap keras, kaku, dan ketat dalam mazhab Hambali tidak bisa berdampingan dengan emosi sufistik, maka melalui sosok Syekh al-Harawi terburailah keyakinan tersebut. Barangkali, inilah sebabnya mengapa Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sangat bersemangat dalam membuat syarah kitab Manazilus-Sa'irin hingga menghabiskan begitu banyak halaman.

Manazilus-Sa'irin ini hanyalah satu saja dari sekian banyak karya yang sudah ditelorkan oleh tokoh yang penjelasannya mengenai hakikat diakui paling lurus dan dapat diterima oleh masyarakat awam maupun para spesialis.

Karya lain yang juga bernilai sastra tinggi adalah Munajat (Doa), yang ditulis dalam prosa berirama bahasa Persia, yang diselang-seling dengan beberapa sajak yang dipergunakannya untuk mencurahkan cintanya, dambanya, dan nasihatnya. Karya yang bahkan dihargai oleh kaum Hindu di India ini menjadi literatur doa andalan di dunia berbahasa Persia.

Bahkan, Seyyed Hussein Nasr, guru besar Studi Islam di Universitas Georgetown, memberi kesaksian bahwa ia masih ingat betul perihal pembacaan beberapa doa ini di radio Teheran pada pagi hari selama bulan Ramadhan.

Kitab Ilalul-Maqamat adalah buku lain dari Syekh al-Harawi yang melukiskan tentang karakteristik kondisi spiritual, ditujukan untuk para murid dan guru tasawuf. Di samping menulis teori-teori tasawuf yang banyak jumlahnya, menerjemahkan karya Abdurrahman as-Sulami, kitab Tabaqatush Shufiyyah, dari bahasa Arab ke Persia, yang dipergunakan di daerahnya.

Syekh al-Harawi juga mewariskan karya berharga lainnya untuk kita, seperti al-Faruq fi Shifaatillahi Subhanahu wa Ta'ala, Dzammul-Kalam wa Ahluhu, Kasyful-Asrar wa 'Uddatul-Abrar (bahasa Persia), atau Sad Maydan, sebuah karya dalam bahasa Persia yang berisi tafsir dari ayat "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran [3]: 31).


Penulis adalah Alumni Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Jakarta, narasumber kajian Islam di 102.8 fm Bekasi. E-mail: noen_yarabb@yahoo.com
Koran Republika

Saturday, January 7, 2012

Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah (6)

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN
Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah

Prof. DR. Al-'Alim Al-'Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani

PERBEDAAN PASTI ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH DAN BID’AH LUGHAWIYYAH
Sebagian ulama mengkritik pengklasifikasian bid’ah dalam bid’ah terpuji dan tercela. Mereka menolak dengan keras orang yang berpendapat demikian. Malah sebagian ada yang menuduhnya fasik dan sesat disebabkan berlawanan dengan sabda Nabi saw. yang jelas: "Setiap bid’ah itu sesat". Teks hadits ini jelas menunjukkan keumuman dan menggambarkan bid’ah sebagai sesat.

Karena itu Anda akan melihat ia berkata: Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan: Akan datang seorang mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan sebagian lagi buruk. Berangkat dari pandangan ini banyak masyarakat terpedaya. Mereka ikut berteriak dan ingkar serta memperbanyak jumlah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan syari’ah dan tidak merasakan spirit agama Islam.Tidak lama kemudian mereka terpaksa menciptakan jalan untuk memecahkan problem-problem yang mereka hadapi dan kondisi zaman yang mereka hadapi juga menekan mereka. Mereka terpaksa menciptakan perantara lain. Yang jika tanpa perantara ini mereka tidak akan bisa makan, minum dan diam. Malah tidak akan bisa mengenakan pakaian, bernafas, menikah serta berhubungan dengan dirinya, keluarga, saudara dan masyarakatnya.

Perantara ini ialah ungkapan yang dilontarkan dengan jelas: Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi dua ; 1) Bid’ah Diniyah (keagamaan) 2) Bid’ah Duniawiyyah (keduniaan). Subhanallah, mereka yang suka bermain-main ini membolehkan menciptakan klasifikasi tersebut atau minimal telah membuat nama tersebut. Jika kita setuju bahwa pengertian ini telah ada sejak era kenabian namun pembagian ini, diniyyah dan duniawiyyah, sama sekali tidak ada dalam era pembuatan undang-undang kenabian. Lalu dari mana pembagian ini? dan dari mana nama-nama baru ini datang?

Orang yang berkata bahwa pembagian bid’ah ke yang baik dan buruk itu tidak bersumber dari Syari’, maka saya akan menjawabnya bahwa pembagian bid’ah ke bid’ah diniyyah yang tidak bisa diterima dan ke duniawiyyah yang diterima, adalah tindakan bid’ah dan mengada-ada yang sebenarnya. Rasulullah saw. sebagai Syari’ bersabda: “Setiap bid’ah itu sesat". Demikianlah beliau mengatakannya secara mutlak. Sedang ia mengatakan tidak, tidak, tidak semua bid’ah itu sesat. Tetapi bid’ah terbagi menjadi dua bagian; diniyyah yang sesat dan duniawiyyah yang tidak mengandung konsekuensi apa-apa. Karena itu harus kami jelaskan di sini sebuah persoalan penting yang dengannya banyak keganjilan akan menjadi jelas, insya Allah.

Dalam persoalan ini yang berbicara adalah Syari’ yang bijak. Lisan Syari’ adalah lisan Syar’i. Maka untuk memahami ucapannya harus menggunakan standar Syar’i yang dibawa Syari’. Jika Anda telah mengetahui bahwa bid’ah pada dasarnya adalah setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya maka jangan sampai lenyap dari hatimu bahwa penambahan dan pembuatan yang tercela di sini adalah penambahan dalam urusan agama agar tambahan itu menjadi urusan agama, dan menambahi syari’at agar tambahan itu mengambil bentuk syari’ah.

Lalu akhirnya tambahan itu menjadi syari’at yang dipatuhi yang dinisbatkan kepada pemilik syari’ah. Bid’ah model inilah yang mendapat ancaman dari Nabi saw.:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa menciptakan dalam agama kita, hal baru yang bukan bagian dari agama, maka ia ditolak."

Garis pemisah dalam tema hadits ini adalah kalimat “فِى أَمْرِنَا هَذَا”. Oleh karena itu pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan buruk dalam persepsi kami hanya berlaku untuk pengertian bid’ah yang ditinjau dari segi bahasa. Yakni, sekedar menciptakan hal baru. Kami semua tidak ragu bahwa bid’ah dalam kacamata syara’ tidak lain adalah sesat dan fitnah yang tercela, tidak diterima, dan dibenci. Jika mereka yang menolak memahami penjelasan bisa memahami penjelasan ini maka akan tampak bagi mereka bahwa titik temu dari perbedaan itu dekat dan sumber persengketaan itu jauh. Untuk lebih mendekatkan beberapa pemahaman, saya melihat mereka yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah, sebenarnya mengingkari pembagian bid’ah dalam tinjauan syara’, dengan bukti mereka membagi bid’ah dalam bid’ah diniyyah dan duniawiyyah, dan penilaian mereka bahwa pembagian ini adalah sebuah keniscayaan.

Mereka yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah memandang bahwa pembagian ini dikaitkan dengan tinjauan bid’ah dari aspek bahasa. Sebab mereka mengatakan bahwa penambahan dalam agama dan syari’at adalah kesesatan dan perbuatan amat tercela. Keyakinan semacam ini tidak diragukan lagi di mata mereka. Dari dua cara pandang yang berbeda ini berarti perbedaan antara dua kelompok ini tidaklah substansial

Hanya saja saya melihat bahwa kawan-kawan yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sayyiah dan yang berpendapat terbaginya bid’ah menjadi bid’ah diniyyah dan duniawiyyah tidak mampu menggunakan ekspresi bahasa dengan cermat. Hal ini disebabkan ketika mereka memvonis bahwa bid’ah diniyyah itu sesat, –ini adalah pendapat yang benar– dan bid’ah duniawiyyah tidak ada konsekuensi apapun, mereka telah keliru dalam menetapkan hukum. Sebab dengan sikap ini mereka memvonis semua bid’ah duniawiyyah itu boleh. Sikap ini jelas sangat berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah dan bencana. Karena itu, persoalan ini wajib dan mendesak untuk dijelaskan secara mendetail.

Yakni mereka mengatakan bahwa bid’ah duniawiyyah ada yang baik dan ada yang buruk sebagaimana fakta yang terjadi, yang tidak diingkari kecuali oleh orang buta yang bodoh. Penambahan kalimat ini harus dilakukan. Untuk mendapatkan pengertian yang tepat, cukuplah kita menggunakan pendapat orang yang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Yang dimaksud bid’ah di sini sudah jelas adalah bid’ah dari aspek bahasa sebagaimana telah dipaparkan di atas. Bid’ah dalam pengertian inilah yang dikatakan dengan bid’ah duniawiyyah oleh mereka yang ingkar terhadap pembagiannya menjadi hasanah dan sayyiah. Pendapat bid’ah terbagi menjadi hasanah dan sayyiah adalah pendapat yang sangat cermat dan hati-hati. Karena pendapat ini mengumandangkan kepada setiap hal baru untuk mematuhi hukum syari’at dan kaidah-kaidah agama, dan mengharuskan kaum muslimin untuk menyelaraskan semua urusan dunia, baik yang bersifat umum atau khusus, sesuai dengan syariat Islam, agar mengetahui hukum Islam yang terdapat di dalamnya, betapapun besarnya bid’ah itu. Sikap semacam ini tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan mengklasifikasikan bid’ah dengan tepat dan telah mendapat pertimbangan dari para aimmatul ushul.

Semoga Allah swt. meridloi para a'immatul ushul dan meridhoi kajian mereka terhadap lafadz-lafadz yang shahih dan mencukupi yang mengantar menuju pengertian-pengertian yang benar, tanpa pengurangan, perubahan atau interpretasi.

Sufi Road : Futuhal Ghaib (2)

Syeikh Abdul Qadir Jilani

Ia bertutur:

Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami berkata, "Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan, bendera, panji-panji dan tentara, sehingga ia merasa aman mulai yakin bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya, dan lupa akan keadaan sebelumnya. Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu sang raja memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur, api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu, dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati. Beginilah keadaan seorang beriman yang didekatkan dan dipilih-Nya.

Ia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih-sayang, kemurahan dan pahala. Maka, ia melihat dengan hatinya yang mata tak pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, yang hati manusia tak tahu akan hal-hal gaib dari kerajaan langit dan bumi, akan kedekatan dengan-Nya, akan kata manis, janji menyenangkan, limpahan kasih-sayang, akan diterimanya doa dan kebajikan, dan akan dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yang menyatakan sendiri melalui lidahnya, dan dengan semua ini Ia sempurnakan bagi orang ini karunia-karunia-Nya pada tubuhnya, yang berupa makanan, minuman, busana, istri yang halal, hal-hal lain yang halal dan pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian. Lalu, Allah memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu musibah, aneka kesulitan hidup, milikan, istri, anak, dan mencabut darinya segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum ini, sehingga ia terkulai, hancur dan
terputus dari masyarakatnya.

Bila ia melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, maka ia melihat hal-hal yang buruk baginya. Bila ia melihat hati dan jiwanya, maka ia melihat hal-hal yang menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji, ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya. Bila ia bermaksud kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada
sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu, maka ia segera tersiksa, tangan-tangan orang memegang tubuh nya, dan lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.

Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikaruniai pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah yang dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.

Maka, dirinya mulai meleleh, hawa nafsunya mulai sirna, maksud-maksud serta kerinduan-kerinduannya mulai pupus, dan kemaujudan segala suatu menjadi tiada. Keadaannya ini diperpanjang dan kian hebat, hingga sang hamba berlalu dari sifat-sifat manusia. Tinggallah ia sebagai ruh. Ia mendengar panggilan jiwa kepadanya: "Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum." (QS 38:42)

Sebagaimana panggilan kepada Nabi Ayub as. Lalu Allah mengalirkan samudra kasih-sayang dan kelembutan-Nya ke dalam hatinya, menggelorakannya dengan kebahagiaan, aroma harum pengetahuan tentang hakikat dan ketinggian pengetahuan-Nya, membukakan baginya pintu-pintu nikmat dalam segala keadaan hidup, membuat para raja mengabdi kepadanya, menyempurnakan baginya
nikmat-nikmat-Nya lahiriah dan ruhaniah, menyempurnakan lahiriahnya melalui makhluk dan rahmat-rahmat lain-Nya, menyempurnakan ruhaninya dengan kelembutan dan karunia-Nya, dan membuat keadaan ini berkesinambungan baginya, hingga ia menghadap-Nya. Kemudian Ia memasukkannya ke dalam yang mata tak pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar dan yang tak pernah tersirat dalam hati manusia, sebagaimana firman-Nya:
"Tiada jiwa yang tahu yang disembunyikan bagi mereka, yang akan mengenakkan mata
mereka, balasan bagi yang telah mereka perbuat." (QS 32:17)

Friday, January 6, 2012

Video Ceramah Majelis Nurul Mustofa 31 Des 2011

Assalamualaikum Wr. Wb.
Berikut adalah Link Video Ceramah Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani di Majelis Nurul Mustofa 31 Desember 2011 di GOR Rawamangun.
Ceramah dalam bahasa Arab yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia. dibawah dilampirkan teks ceramah dalam bahasa Indonesia dan ingris. Wassalam


Mawlid an-Nabi (s): A Taste from the Realities of Sayyidina Muhammad (s) / Mawlana Shaykh Hisham Kabbani - Public Speech/Conference

Kalian Harus Mengetahui Kebesaran Nabi Muhammad (saw)!)!

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
31 December 2011 Jakarta Timur, Indonesia
Mawlid an-Nabi (s) with Habib Hasan bin Jafar Assagaf
Suhbah at Velodrome Rawamangun
As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

A`oodhu billahi min ash-Shaytaani 'r-rajeem. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Raheem.
Alhamdulillahi Rabbi 'l-`Alameen, wa ’s-salaatu wa ’s-salaamu `ala ashrafa 'l-Mursaleen, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa sahbihi ajma`een.

Nawaytu 'l-arba`een, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
Nawaytu 'r-riyaadah, nawaytu 's-sulook, lillahi ta`ala fee haadha 'l-masjid.

Maulid an-Nabi (saw) dengan Habib Hasan bin Jafar Assagaf (Majelis Nurul Mustafa)
Suhbah di Velodrome Rawamangun

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. A `udzu billahi min asy-Shaytaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani' r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabi 'l-`Alamin, wa' s-salaatu wa 's-salaamu` ala ashrafa' l-Mursalin, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa alaa aalihi wa sahbihi ajmain.

Nawaytu 'l-Arba `in, nawaytu' l-` itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu' l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadah, nawaytu' s-suluk, lillahi ta `ala fi haadza 'l-masjid.

أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

Ati `ullaha wa` ati u 'r-Rasula wa' ulill-amri minkum.

Taatilah Allah, patuhi Nabi (saw), dan mematuhi mereka yang diberikan otoritas di antara kamu. (4:59)

Alhamdulillah, Siapapun yang datang berkumpul dimalam ini demi cintanya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dan bersama dengan para Pecinta Al-Mustafa, Nurul-Mustafa (Cahaya Nabi Yang Terpilih), semoga Allah (SWT) mengumpulkan kita semua di surga kelak bersama dengan Sayyidina Muhammad (saw), karena dia (saw) adalah teladan bagi kita dan dia adalah seseorang dimana malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Sayyidina Adam (as) untuk menghormati dia (saw)! Kami berterima kasih kepadaMu Yaa Allah (swt) dan mencari bimbingan-Nya, dan mencari perlindungan kepada-Nya dari kejahatan ego diri kita serta perbuatan kita.

Ini adalah pertemuan dengan bimbinganNya dan ini adalah sebuah karunia yang besar dari Sayyidina Muhammad (saw), karena ketika kita mengingat Nabi Muhammad (saw), maka Nabi saw akan mengingat kita. Ketika kita mengingat Allah (SWT) maka Dia mengingat kita, dan ini adalah berkah dari para Haba'ib, terutama untuk Habib Hasan bin Jafar Assegaf. Semoga Allah (swt) membimbing kita semua.

Seluruh sendi Islam dibangun atas ketaatan dan cinta kepada Nabi Muhammad (saw). Ketaatan kepada Nabi (saw) akan membawa kita untuk mencintai dia, sehingga berdoalah dan berilah salam kepadanya sepanjang waktu! Kami berharap berkah-berkah ini tidak hanya menjangkau umat Muslim saja, tetapi juga umat non-Muslim.

Allah (swt) berkata:

إنا فتحنا لك فتحا مبيناليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ويتم نعمته عليك

innaa fatahnaa laka fathan mubiinaan, liyaghfira laka allaahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhara wayutimma ni'matahu 'alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan

Sesungguhnya (Muhammad), Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (Al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) mengatakan, "Kami telah memberikan kepadamu sebuah pembukaan (kemenangan) yang besar dan memaafkan mu atas dosa yang kau lakukan dimasa lalu dan dimasa yang akan datang." Pertanyaannya adalah, apakah Nabi (saw) melakukan dosa dan ia harus diampuni? Tidak mungkin! Nabi (saw) adalah ma `sum, tidak memiliki dosa!

Nabi saw dinaikkan dalam Isra Miraj kemaqom sejarak dua busur panah dari Allah swt atau lebih dekat, Qaaba qawsayni aw adnaa, Nabi saw dibawa masuk kesurga dan keneraka dan melihat seluruh penghuninya, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini merujuk kepadanya?, Tidak mungkin! Oleh karena itu, makna dari ayat ini adalah, "Kau ditinggikan dan Allah (swt) mengampuni mu untuk dosa-dosa umatmu, hamba Allah, apapun dosa masa lalu mereka dan dosa masa depan mereka diampuni demi syafaatnya, Syafaat` dari Sayyidina Muhammad ( saw)! Sayyidina Adam (as) dan seluruh umat manusia berada di bawah Bendera Nabi saw pada Hari Penghakiman nanti! "

Kita semua adalah anak dari Sayyidina Adam (as), dan semua meminta Syafaat (perantaraan dan perlindungan) kepada Nabi (saw), Dan beliau saw akan bersujud dalam hadirat Tuhan-Nya dan membacakan doa untuk umatnya agar diampuni dan Allah akan membuka hatinya dan Allah (swt) kemudian akan mengatakan kepadanya," Angkatlah kepalamu dan mintalah apa saja yang kau minta maka akan Aku berikan. Nabi (saw) akan meminta umatnya untuk diselamatkan dan Allah akan mengabulkannya. Dia (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:!

ألم نشرح لك صدرك

alam nasyrah laka shadraka

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Asy-Syarh, 94:1)

Dan melapangkan yang tidak ada batasnya. Allah (SWT) telah melapangkan dadanya sejauh Qaaba qawsayni aw adnaa! Hingga berjarak hanya dua busur panah. Kemudian kami hapus darimu beban beratmu," yang berarti beban berat umat Nabi saw yang dibawanya. Dan mengacu pada ayat lain, "Kami memaafkan dosa umatmu, dosa sebelumnya dan dosa yang akan datang. Dan kita berdo'a:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi' l-akhirati hasanatan wa Qina adzaaban nar.

Wahai Tuhan kami! Beri kami kebaikan dalam hidup ini dan kebaikan dalam Kehidupan Berikutnya, dan lindungi kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah, 2:201)

Apakah hasanah itu? Hasanah adalah sesuatu yang baik, keberkahan. Jika Allah (swt) ingin berbuat baik kepada hamba-Nya, maka Dia membuat hambaNya untuk mengetahui Nabi-Nya (saw). Jadi itu berarti, "Ya Allah! Berikan kami untuk dapat melihat Sayyidina Muhammad (saw) dan hasanah terbaik didunia adalah untuk dapat melihat Nabi saw dan hasanah terbaik di akhirat adalah bersama dengan Nabi saw disurga! "

Sesungguhnya Nabi (saw) tidak jauh dari kita, bahkan, dia hadir dan mendengarkan! Dia menyaksikan segala perbuatan umatnya dari kuburnya. Dia berkata, "Aku hidup di dalam kuburanku dan bila seseorang mengirimkan salam padaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, dan dari dalam kuburku aku membalas salaam mereka semua."

Dan setiap detik seluruh manusia didunia mengirimkan salam mereka kepada Nabi (saw) dan karena itulah setiap saat Allah mengirimkan kembali ruh Nabi (saw) untuk dia dalam kuburnya dan ia mengembalikan salam dari mereka dengan mengucapkan pujian dan salam padanya. Imam as-Suyuti (qs) mengatakan, "Berdasarkan ini, maka kita mengetahui bahwa Allah (SWT) telah mengembalikan ruh dan jiwanya secara permanen dalam kuburnya, artinya bahwa Nabi saw senantiasa hidup untuk menyaksikan seluruh umatnya."

Ini berarti, pujilah Nabi (saw)! Dan kita berkata, "Ya Allah! Kami mengirim pujian pada Nabi (saw)! Wahai rahmat bagi semesta alam! Kami menyerukan padamu Yaa Rasulullah saw, dari Indonesia ini Yaa Rasulullah saw! Wahai Nabi! Semoga Allah (swt) mendoakanmu dari pra-keAbadian sampai dengan keAbadian! "

Allah (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

inna allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna 'alaa alnnabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu 'alayhi wasallimuu tasliimaan

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Al-'Ahzaab, 33:56)

Ini berarti Allah (swt) memberikan salam pada Nabi (saw) dan memerintahkan semua malaikat-Nya - malaikat yang Dia ciptakan sebelumnya, malaikat yang akan Dia ciptakan - semua malaikat diciptakan untuk memuji Nabi Muhammad (saw)! Allah adalah al-Khaliq, "Sang Pencipta," yang berarti Dia terus menciptakan sesuatu yang baru dan juga malaikat baru, dan setiap malaikat baru, diperintahkan untuk memuji Nabi (saw), perintah itu untuk setiap saat! malaikat itu masing-masing memiliki tasbiih yang unik bagi diri mereka sendiri yang berbeda antara satu malaikat dengan yang lain, sehingga tidak ada pengulangan dari pujian-pujian tersebut.

Kalian harus mengetahui kebesaran Nabi Muhammad (saw)! Bagaimana Allah (swt) mengagungkan dia? Sayyidina Musa (as) adalah Kalamullah, "Dia yang berbicara dengan Tuhan-Nya," dan Musa as meminta, "Yaa Rabbii! Dapatkah saya melihat Mu. Nabi Musa as meminta kepada Allah untuk dapat melihatNya! Bagaimana kalian dapat menanyakan hal ini? Pencipta adalah diluar ciptaanNya, diluar batas dunia dan Surga, dan Dia tidak memiliki tempat dan waktu, melampaui semua hal itu! Wahai Musa, kau tidak akan dapat melihat Aku, tetapi Aku akan memberi kau kesempatan. Lihatlah gunung itu dan jika gunung itu tetap berada di tempatnya, maka kau akan dapat melihat Aku. "

Sebuah gunung sangat besar dan masif. Seperti disebutkan dalam tafsir tersebut, "Ketika Allah mengutus tajalli-Nya Nama Indah Nya dan Atribut/Sifat dan kebesaranNya melalui Sayyidina Mustafa (saw) di gunung itu, maka gunung itu hancur lebur. Sayyidina Musa (as) pingsan dan jatuh, karena ia terkejut. "



فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا

falammaa tajallaa rabbuhu liljabali ja'alahu dakkan wakharra muusaa sha'iqan

Tatkala Tuhannya menampakkan diriNya kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh lantak bagai debu dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A'raaf, 7:143)

Allah (swt) mengirimkan tajalli di gunung melalui FirmanNya (kata-kata SuciNya) dan karena itulah Sayyidina Musa (as) terus menerus mencari hikmat, maka Allah mengutus dia untuk bertemu dengan Khidr (as). Ketika tajalli muncul, gunung tersebutpun hancur luluh lantak.

Allah (swt) mengatakan dalam ayat lain:

لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

law anzalnaa haadzaa alqur-aana 'alaa jabalin lara-aytahu khaasyi'an mutashaddi'an min khasyyati allaahi

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur lebur disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al-Hasyr, 59:21)

"Jika Kami mengungkapkan hal ini, Al-Qur'an kepada gunung itu, maka ia akan dihancurkan dan dimusnahkan menjadi debu karena rasa takut kepada Allah." Tetapi Allah mengirimkan Al-Qur'an kedalam hati Sayyidina Muhammad (saw), dan beliau tidak hancur!

Wahai umat-Nabi al-Mustafa! Kalian adalah cahaya dari Nabi al-Mustafa Nabi Pilihan Muhammad (saw). Allah (swt) telah menurunkan Al Qur'an pada Nabi (saw), dan telah diberikan oleh Nabi saw kepada kalian. Apakah kalian menerimanya atau tidak, kalian adalah pembawa Al-Qur'an dan wajib untuk memberikan penghormatan kepada Al Qur'an dan juga kepada keturunan Nabi (saw)!

Muhammad al-Busayri (ra), adalah penulis al-Burda abu-Sharifa dan dia mengetahui Realitas Nabi (saw), beliau mengatakan, "Semua mengambil dari Nabi (saw) dan semua memiliki kekhususan dari dia, bukan hanya hambaNya, tapi bahkan seluruh planet-planet dan bintang-bintang! Sesungguhnya, semua Ciptaan diciptakan dari cahaya Sayyidina Mustafa (saw)! "

Kami akan akhiri dengan kalimat ini sebagai pengingat bagi kita semua

قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى

Qul laa as-alukum 'alayhi ajran illaa almawaddata fii alqurbaa

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dan cinta kepada keluargaku". (Asy-Syura, 42:23)

Semua habaa'ib ini adalah keturunan Nabi (saw). Mereka tersebar di setiap wilayah dan disetiap sudut dunia, dan kewajiban kita semua adalah untuk menghormati mereka. Semoga Allah (swt) mendukung mereka karena mereka adalah berkah dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Asy-hadu alaa ilaaha illAllah wa-asy hadu anna Muhammadan-Rasuulullah! Laa ilaaha illa llah-, laa ilaaha illa llah-, laa ilaaha illa-lLâh! (Dzikir)

Ya Allah! Buatlah bagian pertama malam ini sebagai perbaikan, dan tengahnya sebagai sukacita dan akhirannya' sebagai keselamatan. Ya Allah! Buatlah pertamanya sebagai Rahmat dan tengahnya sebagai Karunia, dan akhiran dengan keberkahan dan pengampunan! Yaa Sayyidii! Yaa RasuluLlah! Lihatlah kepada kami semua dan hubungkan kami denganmu!

Wa min Allahi at-Tawfeeq, bi hurmati' l-Habeeb, bi hurmati 'l-Fatihah.

Versi Bahasa Ingris

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
Ati`oollaha wa ati`oo 'r-Rasoola wa ooli 'l-amri minkum.

Obey Allah, obey the Prophet, and obey those in authority among you. (4:59)

Alhamdulillah, Who has allowed us to gather this night in the love of Sayyidina Muhammad (s) with the Lovers of al-Mustafa, Nur al-Mustafa, may Allah (swt) gather them in Paradise with Sayyidina Muhammad (s), as he is our example and he was the one for whom the angels were ordered by Allah to make prostration to Sayyidina Adam (a) to respect him! We thank Allah (swt) and seek His guidance, and seek refuge in Him from the evil of our selves and our deeds.

This is a gathering of guidance and in it is a big gift from Sayyidina Muhammad (s), because as we remember him the Prophet (s) remembers us. We remember Allah (swt) and He recalls us, and this is a blessing for the haba’ib and especially for Habib Hasan. May Allah (swt) guide us. All of Islam is built on obedience and love to the Prophet (s). Obedience to the Prophet (s) will bring us to love him, so pray on him all the time! We hope these blessings reach not only Muslims, but non-Muslims as well.

Allah (swt) said:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًالِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Inna fatahnaa laka fathan mubeena li-yaghfira laka Allahu maa taqaddama min dhanbika wa maa ta'akhkhar.

Verily (O Muhammad), We have laid open before you a manifest victory, that Allah may forgive you your faults of the past and those to follow. (al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) is saying, “We have granted you a great opening to forgive you what you did of former and latter sins.” But the question is, did the Prophet (s) commit any sins for which he needs to be forgiven? No! In fact, Prophet (s) is ma`soom, innocent of sins! He was raised to the Station of Two Bow’s-length or nearer, Qaaba qawsayni aw adnaa, he entered Paradise and Hell and beheld their inhabitants, so how could that refer to him, there is no way! Therefore, meaning of this verse is, “You were raised up and Allah (swt) forgave you for the sins of your Ummah, the servants of Allah; whatever past and future sins are forgiven for the shafa`ah, intercession of Sayyidina Muhammad (s)! Sayyidina Adam (a) and everyone else is under My Flag on Judgment Day!”

You are the Children of Sayyidina Adam (a), asking for his shafa`ah. Prophet (s) will make sajda in the Presence of His Lord and will recite du`a that Allah will open to his heart and Allah (swt) will then say to him, “Raise your head and ask (anything), for you will be granted!” Prophet (s) will ask for the Ummah to be saved and Allah will grant it, as He (swt) says in the Holy Qur'an:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

alam nashrah laka sadrak.

Have We not expanded for you your breast? (ash-Sharh, 94:1)

And that expansion has no limit; it may be that Allah (swt) has expanded his chest as far as Qaaba qawsayni aw adnaa! “We then removed from you your heavy burdens,” which means the heavy burden of this ummat that Sayyidina Muhammad (s) is carrying. And referring to the other verse, “We forgave your ummat whatever it sent forth of sins and what it will send forth.” And we make du’a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi ’l-akhirati hasanatan wa qina `adhaab an-naar.

O our Lord! Give us goodness in this life and goodness in the Next Life, and protect us from the punishment of the Fire. (Surat al-Baqara, 2:201)

What is a hasanah? It is something good, a blessing. If Allah (swt) wants to do good to His servant, He makes him to know His Prophet (s). So it means, “O Allah! Grant us to see Sayyidina Muhammad (s) in this dunya and to see him and be in his company in the Next Life!”

Verily the Prophet (s) is not far from us; n fact, he is present and listening! He is presented with our deeds in his grave. He said, “I am fresh alive in my grave and no one sends salaam on me except that Allah returns my soul to me in my grave and I return their salaam.”

And so all around the world people are sending their salaams on the Prophet (s) and, therefore, every moment Allah is sending back the soul of the Prophet (s) to him in his grave and he is returning the salaams of those reciting praise and greetings on him. Imam as-Suyuti (q) said, “Based on this, we know that Allah (swt) has returned his soul to him permanently in his grave.”

It means, praise the Prophet (s)! We say, “O Allah! We send praisings on your Prophet (s)! O Mercy to All the Worlds! We are calling on you from Indonesia! O Prophet! May Allah (swt) pray on you from pre-Eternity to post-Eternity!”

Allah (swt) said in the Holy Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

inna-Llaha wa malaa'ikatahu yusalloona `ala 'n-nabi, yaa ayyuhal-ladheena aamanoo salloo `alayhi was sallimoo tasleema.

Verily, Allah and His angels send praise on the Prophet. O Believers! Pray upon him and greet him. (al-'Ahzaab, 33:56)

This means Allah (swt) is praying on the Prophet (s) and ordered all His angels-- those He created, those He is creating, and those He will create--to praise Prophet Muhammad (s)! Allah is al-Khalaq, “The Creator,” which means He continuously creates new things and new angels, and each new angel is ordered to pray on the Prophet (s), an order they fulfill every moment! They each have their own unique tasbeeh that differs from any other, so there is no repetition.

You must know the greatness of your Prophet (s)! How did Allah (swt) magnify him? Sayyidina Musa (a) was Kaleemullah, “Who Spoke with His Lord,” and he requested, “Yaa Rabbee! Let me see You!” Allah asked, “How can you ask this? The Creator is outside this world and Heavens, and has no place and no time beyond all that! O Musa, you will not see Me, but I will give you a chance. Look at the mountain and if it stays in its place, then you can see Me.”

A mountain is huge and massive. As mentioned in the tafseer, “When Allah sent His tajalli of His Beautiful Names and Attributes and the greatness of Sayyidina Mustafa (s) on that mountain, it came crashing down, shattered. Sayyidina Musa (a) fainted and fell down, as he was shocked.”



فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ موسَى صَعِقًا

Falammaa tajallaa Rabbuhu li 'l-jabali ja`alahu dakkan wa kharra Musa saa'iqaan.

But when His Lord revealed His Glory to the mountain, he made it crumble to dust and Musa fell down. (Surat al-A'raf, 7:143)

Allah (swt) sent that tajalli on the mountain through His Ancient Words and that is because Sayyidina Musa (a) continuously sought wisdom, so Allah sent him to meet with Khidr (a). When the tajalli appeared, the mountain came crashing down.

Allah (swt) said in another verse:

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

law anzalnaa haadhaa al-Qur’ana `alaa jabalin la-ra'aytahu khaashi`aan mutasaddi`an min khashyatillah.

If We had caused this Qur'an to descend upon a mountain (O Muhammad), verily you would have seen it humbled, rent asunder by the fear of Allah. (Al-Hashr, 59:21)

“If We were to reveal this Holy Qur'an to a mountain, it would be crushed and destroyed, turning to dust out of fear of Allah.” But Allah sent the Holy Qur'an on the heart of Sayyidina Muhammad (s), who did not fall apart!

Yaa ummat an-Nabee al-Mustafa! You are the lights of al-Mustafa and an-Nabee (s). Allah (swt) has sent down the Qur'an on the Prophet (s), who has given it to you. Whether you accept it or not, you are the carriers of the Holy Qur'an and obliged to give respect to Holy Qur'an and to the descendants of the Prophet (s)!

Muhammad al-Busayri (r), author of al-Burda ash-Shareefa and a Knower of the realities of the Prophet (s), said, “All are taking from the Prophet (s) and all have a specialty from him, not just the servants, but even the planets and stars! Verily, all of Creation is created from the Light of Sayyidina Mustafa (s)!”

We will end with this reminder:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

qul laa as’alukum `alayhi ajran illa al-mawaddata fi ’l-qurbah.

Say (O Muhammad), "I do not ask you for a reward except the love of my Family." (ash-Shura, 42:23)

All these habaa’ib are the descendants of the Prophet (s). They are in every part and every corner of the world, and our obligation is to respect them. May Allah (swt) support them as they are a blessing and good for our ummah!

Ash-hadu laa ilaaha illa-Llah wa ash-hadu anna Muhammadan rasoolullah! Laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah!

O Allah! Make the first of this night a restoration, and make its’ middle joy, and make its’ ending salvation. O Allah! Make the first of it mercy, the middle of it bounty, and its last part blessings and forgiveness! Yaa Sayyidee! Yaa Rasoolullah! Look to us and reach us!

Wa min Allahi 't-tawfeeq, bi hurmati 'l-habeeb, bi hurmati 'l-Fatihah.

Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani QS Des 2011

Majelis Akbar 31 Des 2011 dengan Majelis Nurul Mustofa di Jakarta

Mahallul Qyam dengan HAbib HAsan Jakfar Assegaf dan para Habaib

Mawlid di Pesantern Darul Islah Kiayi Hamzah di Wr. Buncit Jakarta selatan


Mawlid bersama Habib Syeh Assegaf diMesjid Akbar Surabaya






Maulid dan Majelis Dzikir di Mesjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta


Ceramah di Mesjid Sunda Kelapa Jakarta

Inisiasi Spiritual (Tahbis)

Prof Dr Nasaruddln Umar

Inisiasi spiritual atau penasbihan adalah pelantikan atau peresmian seseorang yang sungguh-sungguh ingin mencari pengetahuan (makrifat) Allah SWT oleh seorang pembimbing (mursyid, khalifah, syekh). Dalam beberapa tarekat, inisiasi ini biasa diistilahkan dengan baiat atau talqin. Kegiatan seperti ini sering dihubungkan dengan pengangkatan sumpah para sahabat Nabi saat Perjanjian Hudai-biyah yang berlangsung di bawah pohon.
Intinya, pernyataan janji setia mereka untuk mengabdi kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad dalam kondisi apa pun. Peristiwa ini dilukiskan di dalam Alquran,, >"Orang-orang yang berjanji setia kepadamu, mereka itu sesungguh-nya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Barang siapa yang melanggar janji itu maka akibatnya, niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Dan, barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. *' (Q.S. al-Fath [48:] 10).

Upacara pelantikan ini biasa¬nya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masing-masing tarekat. Ada yang menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum diinisiasi, bergantung standar operasional prosedur (SOP) masing-masing tarekat. Di antara standar tersebut ialah menjabat tangan (mushafahai) dengan syekh atau mursyid. Biasanya ada tarekat mengganti nama atau menaambahkan laqab (julukan) murid yang mengikuti inisiasi tersebut. Itu semua dilakukan sebagi simbol "kelahiran kembali" kedunia rohani.

inisiasi tersebut biasanya di-tandai dengan penyerahan kain serban (khirqah) yang dipasangkan di pundak murid oleh syekh atau mursyid. Biasa juga pemberian tasbih, ijazah, atau benda-benda upacara lainnya. Proses inisiasi biasanya dilakukan seusai shalat berjamaah dan disaksikan oleh murid-murid lainnya.

Inisiasi ini bertingkat-tingkat. Ada tingkat paling awal yang diinisiasi sebagai anggota baru tarekat. Inisiasi lainnya dilakukan lebih khusus untuk murid-murid 'yang sudah mencapai tingkatan tertentu dan baginya sudah layak untuk dilantik sebagai mursyid pembantu. Perbedaan antara mursyid pembantu dan mursyid senior ditentukan oleh tradisi tarekat.
Setelah inisiasi maka murid atau mursyid maka murid itu, berlakulah ketentuan pada diri¬nya sendiri dan wajib dijalani. Misalnya, ia harus berani berubah secara drastis, seperti berani un¬tuk menggunting dosa-dosa lang-ganannya sejak dahulu, meninggalkan makanan, minuman, dan perbuatan, serta keputusan-keputusan syubhat, apalagi yang haram. Murid dituntut tegas berani hijrah dari kondisi batin yang menyatu ke kecenderungan batin yang condong antara hak dan batil. Laksana menyatunya air dan teh. Bila telah terpisah, akan berbentuk laiknya pemisahan antara air dan minyak.

Inisiasi sesungguhnya lebih merupakan terapi kaget (shock therapy) untuk hijrah ke dalam suasana batin yang baru. Ikrar atau baiat yang baru saja dijalani-nya luei upakan peristiwa simbolis untuk lahir kembaii dari gelapnya lumuran dosa dan maksiat. Kini, ia merasa terlahir kembali, seperti bayi yang tanpa beban, bersih, ringan, putih, pasrah, tenang, damai, indah, bahagia, cerah, dan bebas dari beban masa lampau.

Dua kalimat sakral yang baru diucapkan itu memang didasari oleh jaminan Nabi, "Perbaruilah keimanan kalian dengan bersahadat ulang." Allah juga menjamin pengampunan dosa secara total (fagfir al-dzunuuba jami'an) bagi orang yang telah menjalani pertobatan khusus {taubatan na-shuha). Sebesar apa pun dosa se-belumnya, ia merasa plong de¬ngan inisiasi yang baru saja dilakukannya dengan penuh keterharuan, yang biasanya disertai dengan linangan air mata. Mereka merasa optimistis dengan menatap ke depan, karena hadis nabi, "Air mata tobat menghapuskan api neraka" dan "Jeritan tobat-nya para pendosa lebih disukai Tuhan ketimbang gemuruh tas-bihnya para ulama."

Kini, ia semakin sadar dan sen-sitif serta sudah mampu mendeteksi perbedaan antara kecen¬derungan yang hak atau batil dan antara bisikan iblis dan bisikan malaikat. Sebelumnya, ia masih sulit membedakan mana kecenderungan hak mana yang batil, mana bisikan iblis dan mana bi¬sikan malaikat, karena keduanya larut di dalam dirinya bagaikan air dengan teh. Setelah menjalani tradisi baru, ia merasakan lembaran baru dalam kehidupannya. Antara hak dan batil dan bisikan iblis dan bisikan malaikat dirasakannya sudah jelas, seperti jelas-nya perbedaan antara air dan minyak. Keduanya tidak lagi menyatu secara utuh di dalam dirinya.

Sikap dan persepsinya ter-hadap Tuhan juga sudah jauh berubah. Sebelumnya, ia terbebani dengan doa. Doa-doa yang tidak dikabulkan menjadi beban batin baginya karena seringkali dihubungkan dengan pertanyaan nakal dalam jiwanya tentang keberadaan Tuhan. Mengapa iayang berdoa kepada-Nya, tetapi dijawab dengan kekecewaan. Sementara itu, orang yang tidak pernah berdoa, bahkan bergelimang dosa, tetapi hidupnya melimpah dan berkecukupan.

Kini, ia semakin sadar dengan sabda Nabi, "Doa adalah jantung-nya ibadah". Ia tidak lagi salah paham terhadap doa-doanya yang tertolak. Ia bahkan sangat sadar bahwa penerimaan doa bisa berarti penerimaan baginya, dan penerimaan doa berarti penolakan baginya. Ia lebih takut kalau daftar panjang doa-doanya dikabulkan justru akan melahirkan penolakan dirinya, karena perhatian tidak lagi tertuju pada Tuhan, tetapi habis waktu mengonsumsi hasil-hasil doanya. Ia bersyukur jika doa-doanya ditolak karena yakin pasti itu akan membahayakan kelanggengan hubungan mesra dengan Tuhannya.

Akhirnya, doa baginya sudah semakin pendek karena ditenggelamkan oleh munajatnya. Ia lebih sibuk naik ke atas ketimbang memohon rahmat lebih banyak turun ke bawah. Untuk apa rahmat lebih banyak turun dari-Nya, jika ia sendiri tidak bisa naik karena rahmat itu. Ia lebih memilih untuk naik ke atas ketimbang rahmat-Nya turun ke bawah.
Lambat laun, yang bersangkutan tidak lagi rida dengan surga dan tidak juga takut dengan neraka. Masihkah seseorang butuh surga atau takut neraka jika seseorang sudah menyatu dengan Pencipta surga dan neraka itu. Mungkin ia akan berteriak ambillah surga itu, aku cukup dengan Tuhanku.

Sumber: Republika