Saturday, May 21, 2011

Sufi Road : Sifat Kedermawanan Rasul SAW

www.majelisrasulullah.org

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ، فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ، مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ، مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.
(صحيح البخاري)

“Bahwasanya Rasulullah saw orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan dibulan ramadhan, ketika sering didatangi Jibril as, yang menemui beliau saw setiap malamnya dibulan ramadhan, dan mempelajari dan mengulang ulang Alqur’an, dan sungguh Rasulullah saw orang yang paling dermawan atas segala kebaikan dengan selalu mengalir kedermawanannya melebihi angin yang berhembus dengan mudah” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ .

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang Maha Luhur , Yang mengumpulkan kita dalam perkumpulan yang agung dan mulia ini. Maha Suci Allah Yang telah mengundang kita hadir di dalam pengampunan-Nya yang besar ini, di dalam cahaya keagungan-Nya yang luhur ini, di dalam perkumpulan yang dipenuhi kasih sayang dan rahmat-Nya ini, tiadalah seseorang yang hadir di tempat ini kecuali berada dalam naungan cahaya rahmat Ilahi dan semoga akan terus berlanjut tanpa berhenti di sepanjang waktu hingga kita berjumpa dengan Sang Pemilik rahmat, Allah subhanahu wata’ala sehingga diteruskan untuk menuju rahmat yang kekal di surga Allah subhanahu wata’ala.

Dan seluruh pintu gerbang rahmat itu ada pada makhluk mulia yang telah dicipta oleh Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan mencintai dan mengikuti beliau maka akan terbukalah seluruh gerbang rahmat Ilahi, terbukalah seluruh pintu rahmat Allah dan menerima sang hamba untuk sampai pada cita-cita terluhur lebih dari yang ia cita-citakan bahkan lebih dari yang ia dambakan, sehingga anugerah yang terus berlimpah hampir membuatnya tidak mampu bersyukur dari dahsyatnya limpahan rahmat itu, dari gelombang kasih sayang-Nya yang terus berlimpah sepanjang generasi kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari zaman ke zaman, semoga gelombang rahmat itu berlimpah kepada kita di majelis ini dan semua yang mengikuti majelis ini di website, radio dan media lainnya semoga juga dalam naungan gelombang rahmat Ilahi, yang padanya terhapus segala dosa dan kesalahan, yang dengannya akan terangkat derajat dan keluhuran, dengannya akan terhapus dari hati sifat-sifat yang hina dan tumbuh dalam sanubari sifat-sifat yang luhur sehingga kita merasa berat untuk berbuat dosa dan mudah untuk berbuat mulia. Wahai Yang Maha Mulia, Engkau menyaksikan perkumpulan ini dan Engkaulah Yang menggenggam segenap kemuliaan, maka curahkan kemuliaan itu kepada kami zhahir dan bathin di dunia dan akhirah, pastikan seluruh wajah kami bercahaya dengan cahaya kemuliaan-Mu, dengan cahaya pengampunan-Mu, dengan cahaya keluhuran-Mu, dengan cahaya keberkahan-Mu, dengan cahaya anugerah dan kasih sayang-Mu, yang membimbing kami untuk terus dalam ketenangan dan keberkahan di dunia dan di akhirah, kemudahan di dunia dan di akhirah, kemuliaan di dunia dan akhirah, untuk kami, kota kami, bangsa kami, dan negeri kami juga untuk negeri-negeri para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam


Sampailah kita pada hadits luhur, yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dan tidak ada manusia yang lebih dermawan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Perlu kita ketahui bahwa dermawan itu bukan hanya dalam segi harta, namun sifat dermawan itu sangat luas. Sebagaimana dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa makna : أجود الناس dalam hadits ini :

كَانَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan”

Adalah yang paling banyak berbuat kebaikan, termasuk juga kebaikan menyelesaikan hajat-hajat orang lain dan membantunya, mungkin dengan harta, nasihat atau doa maka itulah bagian dari bentuk kedermawanan. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah mereka banyak berderma, mereka berkata : “wahai Rasulullah, apa lagi yang harus kita infakkan ?”, maka Allah subhanahu wata’ala menjawabnya seraya berfirman :

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

( البقرة : 219 )

Perbuatan maaf merupakan infak besar, dan memaafkan kesalahan orang lain bisa dilakukan oleh orang yang kaya dan juga oleh orang yang miskin. Orang yang miskin tidak mampu untuk bersedekah dengan harta namun dia mampu berinfak dengan member maaf. Memberi maaf tidak harus mencari para fuqara’, dimana pun kita berada, kita bisa memberi maaf kepada orang yang pernah berbuat salah kepada kita . Maka berinfakkalah dengan segala bentuk dan cara, dengan harta, fikiran, nasehat, maaf, doa dan dengan segala perbuatan luhur, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ

“ Setiap kebaikan adalah shadaqah”

Maka membantu orang lain dengan ucapan, dengan tenaga, dengan nasihat, dengan harta, dengan jabatan, dengan doa dan lainnya, semua itu adalah bagian dari shadaqah untuk jasad kita, dan manusia yang paling banyak melakukan hal itu adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau diumpamakan lebih dermawan dari angin yang berhembus. Maksudnya jika angin itu berhembus maka hembusan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih cepat dari itu, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika beliau belajar, membaca dan mengulang-ulang Alqur’an bersama malaikat Jibril di bulan Ramadhan. Maka dari hadits ini, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany menukil ucapan Al Imam An Nawawi Ar bahwa disunnahkan membaca Al qur’an bersama ( Tadaarus Al qur’an ), hadits ini sebagai dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga membaca Al qur’an bersama malaikat Jibril As, padahal beliau shallallahu ‘aliahi wasallam adalah Shahib Al qur’an, pimpinan dari semua orang yang mengerti dan memahami Al qur’an, karena Al qur’an diturunkan kepada beliau namun beliau masih juga membacanya bersama malaikta JIbril, dan terkadang beliau membacanya sendiri dan terkadanga beliau meminta sahabat yang lain membacanya dan beliau mendengarkannya. Oleh sebab itu di majelis Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam kita membuat HR (Halaqatur Rasul), Alhamdulillah telah mencapai lebih dari 360 halaqah, dan semoga terus bertambah orang-orang yang mencintai Alqur’an, dan lebih mencintainya daripada buku-buku lainnya . Ketahuilah buku-buku yang lainnya itu akan sirna dan fana, sedangkan setiap huruf dari ayat-ayat Al qur’an akan bersaksi dan memberi syafaat untuk kita kelak di hari kiamat jika sekarang kita membacanya, karena Al qur’an adalah kalam Allah yang mengangkat derajat hamba-hamba-Nya dengan keluhuran yang khusus jika mereka mencintai Al qur’an.

Terdapat pahala dan cahaya dari setiap huruf dari al quran yang kita baca itu, cahaya ketenangan, cahaya pengampunan, cahaya kemudahan, cahaya keberkahan, berpadu dalam setiap kalimat-kalimat Al quran, pada setiap huruf-hurufnya yang kesemuanya adalah kalam Ilahi yang dituliskan dan itu adalah kalimat-kalimat yang kekal dan abadi yang ada sebelum alam ini tercipta dan akan tetap ada setelah ala mini sirna, maka makmurkanlah Al quran dalam jiwa kita, di bibir kita, di hari-hari kita. Berkali-kali muncul pertanyaan ini : “bolehkan membaca Al qur’an dengan cara confrensi lewat handphone, dan masing-masing di tempat yang berbeda?”, hal ini boleh-boleh saja, karena yang terpenting adalah kita tetap membaca Al qur’an, ketika seseorang membaca maka yang lainnya mendengarkan, dan jika ada kesalahan maka dibetulakan sehingga setiap orang menjadi pembaca, pendengar dan pengajar, itulah keunggulan dari halaqah Al quran . Semoga semangat kita terus bangkit untuk mencintai Al quran Al Karim, maka jadilah pelopor pembangkit generasi Al quran di wilayah-wilayah kita dan di seluruh wilayah, karena di masa sekarang banyak orang muslim yang malu untuk menggenggam Al quran dihadapan orang lain, dan lebih baik baginya menggenggam buku yang lain, seperti buku-buku yang berbahasa Inggris ia bangga jika menggenggamnya. Sungguh tidak ada yang patut dibanggakan lebih dari Al qur’an Al Karim, surat cinta Allah kepada hamba-Nya.

Maka semakin seseorang memahami rahasia keluhuran Allah, semakin Allah limpahkan untuknya kebahagiaan di dunia dan di akhirah. Diriwayatkan di dalam riwayat yang tsiqah, dan telah dinukil oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan oleh Al Imam At Turmidzi :

إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ

“ Sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan menyukai kedermawanan”

Juga diriwayatkan dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا أَجْوَدُ وَلَدِ آدَمَ

“Aku adalah keturunan anak Adam yang paling bermurah hati “

Sehingga beliau tidak pernah mengatakan “tidak” kepada orang yang meminta sesuatu kepada beliau, baik yang diminta itu harta atau pun permintaan maaf. Bahkan ketika di hari kiamat beliau berderma dengan syafaat kepada para pendosa dari umatnya, demikian indahnya kedermawanan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal itu adalah merupakan bantuan dan uluran tangan meskipun bukan berupa harta bahkan justru lebih berharga dari sekedar harta, disaat harta tiada lagi berharga namun beliau masih tetap berderma dengan syafaat .

Diriwayatkan dalam kitab Qabasunnuurilmubin ringkasan Rub’ Al Muhlikaat dari kitab Ihyaa’ Ulumuddin oleh guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dimana suatu waktu sayyidina Hasan, sayyidina Husain dan sayyidina Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, sedang dalam perjalanan untuk melakukan ibadah haju, dan di tengah perjalanan mereka kehausan dan kelaparan karena kehabisan bekal, kemudian menemukan satu rumah di tengah padang pasir yang di dalamnya hanya ada seorang wanita yang tua renta, maka mereka bertanya kepada wanita itu : “wahai Ibu, apakah engkau mempunyai air untuk kami minum?”, maka ibu itu berkata : “ada air tapi hanya sedikit”, mereka bertanya lagi : “wahai ibu, apakah kau mempunyai makanan?”, wanita itu menjawab : “tidak ada, aku hanya mempunyai seekor kambing, jika kalian mau menyembelihnya, aku yang akan memasaknya”, maka salah seorang dari mereka pun menyembelihnya kemudian wanita itu memasaknya. Setelah beberapa saat mereka pun memakannya kemudian mereka pamit kepada wanita itu untuk pergi melanjutkan perjalanan, dan berkata kepada wanita itu : “wahai ibu kami adalah orang Quraisy kelak kami akan membalas kebaikanmu”. Dan setelah mereka pergi dari rumah wanita tua itu, maka suami wanita itu datang dan berkata kepada istrinya : “mana kambing kita yang satu-satunya?” , wanita itu menjawab : “sudah disembelih untuk tamu”, suaminya berkata : “siapa tamu itu?”, si wanita menjawab : “3 orang mereka mengatakan dari kaum quraisy”, si suami marah berkata : “bagaimana kau menyembelih kambing yang hanya satu-satunya milik kita untuk orang yang tidak engkau kenal, yang hanya mengatakan mereka adalah kaum quraisy!”. Waktu berlalu, suatu saat si bapak dan ibu yang tua renta ini keluar ke Madinah untuk menjual kotoran onta yang dijadikan sebagai pupuk, dan mereka gunakan hasil dari penjualan itu untuk kehidupan mereka. Ketika itu sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib sedang duduk di depan rumahnya dan beliau mengenali wanita itu, maka beliau pun memanggilnya : “wahai Ibu, apakah engkau mengenaliku?”, maka wanita itu berkata : “tidak”, sayyidina Hasan berkata : “aku adalah orang yang engkau tolong disaat itu”, wahai ibu ini hadiah dariku 1000 dinar dan 1000 ekor kambing, kemudian sayyidina Hasan memerintahkan pembantunya untuk membawanya kepada sayyidina Husain, maka sayyidina Husain berkata : “wahai ibu, apa yang engkau peroleh dari sayyidina Hasan?”, si ibu menjawab : “ 1000 ekor kambing dan 1000 dinar emas”, sayyidina Husain berkata : “terimalah dariku 1000 ekor kambing dan 1000 dinar emas”, kemudian sayyidina Husain meminta pembantunya untuk membawa wanita kepada Abdullah bin Ja’far, kemudian beliau bertanya : “wahai ibu, apa yang engkau dapatkan dari sayyidina Hasan dan Husain?”, si ibu menjawab : “2000 ekor kambing dan 2000 dinar emas”, sayyidina Abdullah menjawab : “baiklah, terimalah dariku 2000 ekor kambing dan 2000 dinar emas, sungguh jika engkau mendatangiku terlebih dahulu maka aku akan membuat sayyidina Hasan dan Husain kebingungan untuk berbuat dan membalas kebaikannmu”. Maka si wanita itu pun pulang menemui suaminya dengan 4000 ekor kambing dan 4000 dinar emas, demikianlah kedermawanan sayyidina Hasan, sayyidina Husain dan sayyidina Abdullah bin Ja’far.

Juga diriwayatkan dalam kitab Qabs An Nuur Al Mubin ringkasan Rub’ Al Muhlikaat dari kitab Ihyaa’ Ulumuddin oleh guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh dalam bab “Sakhaa’ ( Kedermawanan)”, bahwa sayyidina Abdullah bin ‘Amir membeli rumah sayyidina Khalid bin ‘Uqbah seharga 90.000 dirham, ketika malam hari dia mendengar suara tangisan di luar rumah dan ternyata itu adalah tangisan keluarga Khalid yang menangisi karena rumahnya telah dijual, maka sayyidina Abdullah berkata kepada budaknya : “datanglah kepada mereka (keluarga Khalid) dan katakan kepada mereka bahwa harta dan rumah ini semua untuk mereka”. Sungguh demikian dermawannya mereka para sahabat sehinga mereka selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah subhanahu wata’ala. Teriwayatkan pula bahwa sayyidina Laits RA beliau tidak pernah berbicara di setiapharinya sebelum ia bersedekah kepada 360 orang fuqara’ .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


السَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ, بَعِيْدٌ عَنِ النَّارِ واْلبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيْدٌ مِنَ اْلجَنَّةِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ. وَ اْلجَاهِلُ السَّخِيُّ اَحَبُّ اِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيْلٍ
“Orang yang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat kepada surga, dekat kepada manusia dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia dan dekat pada neraka. Orang yang bodoh tetapi dermawan lebih dicintai Allah daripada orang yang suka beribadah tetapi bakhil".

Namun kedermawanan ada batasnya, yang dari tadi kita bahas adalah sifat pemurah dan bersedekah, maka jangan berlebihan seperti mengada-adakan hukum yang tidak ada, seperti zakat profesi hal ini adalah sesuatu yang mungkar , yang mengatakan bahwa setiap 3 bulan harus mengeluarkan zakat, hadits itu adalah lemah dan tidak bisa dijadikan dalil. Zakat hanya ada 7 macam dan tidak bisa ditambah, dan berbeda dengan shadaqah yang bisa dilakukan kapan saja yang hukumnya adalah sunnah, sedangkan zakat hukumnya adalah wajib. Adapun alasan mereka yang mengharuskan zakat profesi adalah banyaknya orang-orang yang kekurangan, maka harus mengeluarkan infak setiap bulannya, kita boleh mengelurakan infak atau shadaqah namun bukan zakat, karena zakat hukumnya fardhu ‘ain dan tidak bisa dirubah lagi dan orang yang mengingkarin dan tidak melakukannya maka darahnya halal untuk dibunuh, jika telah ditentukan banyaknya zakat adalah 7 macam maka tidak bisa ditambah lagi, seperti halnya shalat wajib hanya 5 waktu maka tidak boleh ditambah-tambah lagi. Riwayat Al Imam Malik dalam Al Muwattha’, yang mengatakan hadits dari Malik, dari Nafi’ dari Ibn Umar Ra bahwa tidak zakat harta kecuali harus menunggu satu tahun dan telah mencapai nishab. Maka jika selama setahun harta itu tidak berkurang dan telah mencapai nishab maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya, bukan setiap bulan apalagi setiap hari.


Demikian pula disebutkan dalam Al Muwattha’ Al Imam Malik bahwa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq di masa kepemimpinannya juga tidak mengeluarkan shadaqah bulanan atas gaji para karyawan khalifah, dan tidak pula diperintahkan kepada kaum muslimin dan semua khulafaa’ ar rasyidin pun tidak menjalankannya. Dan dijelaskan dalam kitab Al Istidzkar syarh Al Muwattha’ oleh Al Imam Ibn ‘Abd Al Bar mengatakan bahwa riwayat di dalam Al Muwattha’ yang mengatakan bahwa Mu’awiyah mengeluarkan uang di setiap bulannya, maka hal itu adalah perbuatan Mu’awiyah yang tidak ia perintahkan orang lain untuk melakukannya, karena ia tahu bahwa zakat harta berlaku hanya setahun sekali. Demikian pula terdapat dalam riwayat Al Imam Ahmad Ibn Hanbal Ar bahwa tidak ada zakat harta kecuali telah melewati satu tahun dan telah mencapai nishab. Demikian pula yang telah dijelaskan dalam Al Majmuu’ oleh Al Imam An Nawawi dan dalam kitab An Nihayah oleh Al Imam Ramli, dan juga dalam kitab Mughni Al Muhtaj oleh Al Khatib As Syarbini Alaihim rahmatullah, bahwa seluruh madzhab telah berittifaq tidak adanya zakat harta dalam setiap bulannya .

Adapun zakat-zakat yang harus langsung dikelurakan itu, seperti zakat tanaman yang dikeluarkan setiap kali panen, dan zakat rikaz (harta karun) yang berupa emas dan perak dan selain emas dan perak maka tidak dikenai zakat, begitu juga barang tambang emas dan perak dan selain itu tidak wajib zakat, seperti tambang batu bara, minyak dan lainnya maka tidak diwajibkan zakat, maka kesemua itu ketika mendapatkan hasil maka harus langsung dikeluarkan zakatnya. Namun zakat harta, perdagangan, zakat fitrah, dan zakat hewan ternak maka menunggu waktu satu tahun dan telah mencapai nisab. Insyaallah akan saya buatkan buku tentang zakat agar mudah difahami, namun secara ringkas bahwa zakat profesi adalah sesuatu yang di ada-ada kan dan jangan diikuti. Namun jika mengeluarkannya dengan nama shadaqah maka hal itu boleh-boleh saja, bisa dilakukan setiap hari, tiap minggu atau setiap bulan dan bukan disebut zakat, karena zakat itu hukumnya wajib dan fardhu ain.

Dan tentunya kita harus mengikuti pendapat para jumhur, yaitu pendapat ulama’ yang terbanyak dan tidak mamilih kelompok yang memisahkan diri. Karena orang-orang yang memisahkan diri dari jamaah itu telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, riwayat Shahih Al Bukhari :

فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوتُ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Karena, tidaklah seseorang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal saja lalu mati, maka matinya tidak lain seperti orang jahiliyah."

Dan ajaran yang seperti banyak muncul di zaman sekarang, maka jangan diikuti. Namun jangan pula dimusuhi, musuhi aqidah dan ajarannya tetapi jangan musuhi orangnya, karena mereka tertipu dengan kejahilan dan seandainya mereka mengetahui pastilah mereka akan menuju jalan yang benar, ingatlah doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :

اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

" Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku , sesungguhnya mereka tidak mengetahui "

Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan kepada kita rahmat dan keberkahan, keluhuran, kesucian dan pengabulan doa atas segala hajat kita. Rabbi, kami mendengar sifat-sifat dermawan dari hamba-hamba-Mu yang luhur sehingga mereka mau member 1000 kali lebih besar dari yang mereka terima, seperti itulah hamba-hamba-Mu maka terlebih lagi Engkau Yang Maha Memiliki sifat dermawan. Wahai Allah kami bershadaqah kepada orang-orang yang tidak mampu diantara kami, dan kami adalah hamba-hamba yang tidak mampu dihadapan-Mu maka bershadaqahlah kepada kami wahai Allah. Ya Arhamar rahimin, inilah hamba-hamba yang lemah, yang banyak kesulitan untuk meninggalkan perbuatan dosa, banyak kesulitan untuk berbuat ketaatan, banyak pula kesulitan untuk melewati masalah-masalah kehidupan di dunia, dan Engkau Maha memegang kunci kemudahan maka curahkan cahaya kemudahan menerangi hari-hari kami, menerangi jiwa dan sanubari kami hingga jiwa dan sanubari kami tenang dengan kasih sayang-Mu, tenang dengan anugerah dan kesejukan nama-Mu sehingga hari-hari kami menjadi semakin indah dan mudah di dunia dan akhirah….

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ


Sufi Road : Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah (3)

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN
Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah

Prof. DR. Al-'Alim Al-'Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani


PENGERTIAN TAWASSUL

Banyak kalangan keliru dalam memahami substansi tawassul. Karena itu kami akan menjelaskan pengertian tawassul yang benar dalam pandangan kami. Namun sebelumnya akan kami jelaskan dulu point-point berikut:

Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah satu pintu dari pintu-pintu untuk menghadap Allah swt. Maksud sesungguhnya adalah Allah swt. Obyek yang dijadikan tawassul berperan sebagai mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Siapapun yang meyakini di luar batasan ini berarti ia telah musyrik.
Orang yang melakukan tawassul tidak bertawassul dengan mediator tersebut kecuali karena ia memang mencintainya dan meyakini bahwa Allah swt. mencintainya. Jika ternyata penilaiannya keliru niscaya ia akan menjadi orang yang paling menjauhinya dan paling membencinya.
Orang yang bertawassul jika meyakini bahwa media yang dijadikan untuk bertawassul kepada Allah swt. itu bisa memberi manfaat dan derita dengan sendirinya sebagaimana Allah swt. atau tanpa izinNya, niscaya ia musyrik.
Tawassul bukanlah suatu keharusan dan terkabulnya doa tidaklah ditentukan dengannya. Justru yang asli adalah berdoa kepada Allah swt. secara mutlak, sebagaimana firman Allah swt.:


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah:186) )

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah ar-Rahman dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asma' al-Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. al-Isra`:110)


BENTUK TAWASSUL YANG DISEPAKATI ULAMA

Tidak ada seorang pun kaum muslimin yang menolak keabsahan tawassul dengan amal shalih. Barangsiapa yang berpuasa, sholat, membaca al-Qur’an atau bersedekah berarti ia telah bertawassul dengan puasa, sholat, bacaan, dan sedekahnya. Malah tawassul model ini lebih besar peluangnya untuk diterima dan terkabulnya harapan. Tidak ada yang mengingkari hal ini.

Dalil diperbolehkannya tawassul dengan amal shalih adalah sebuah hadits yang mengisahkan tiga lelaki yang terperangkap dalam goa. Salah seorang bertawassul dengan pengabdiannya kepada kedua orangtua, yang lain dengan tindakannya menjauhi perbuatan zina setelah kesempatan itu terbuka lebar, dan yang ketiga dengan sikap amanah serta menjaga harta orang lain dan menyerahkan seluruhnya kepada orang tersebut. Allah pun menyingkirkan persoalan yang mendera mereka.

Tawassul model ini telah dikaji, dijelaskan dalil-dalinya dan dibahas secara mendalam oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya, khususnya dalam risalahnya yang berjudul “Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah”.


Titik Perbedaan

Sumber perbedaan dalam masalah tawassul adalah tawassul dengan selain amal orang yang bertawassul, seperti tawassul dengan dzat atau orang dengan mengatakan: "Ya Allah, aku bertawassul dengan NabiMu Muhammad saw, atau dengan Abu Bakar, Umar ibn Khaththab, ‘Utsman, atau Ali ra." Tawassul model inilah yang dilarang oleh sebagian ulama.

Kami memandang bahwa pro kontra menyangkut tawassul sekedar formalitas bukan substansial. Karena tawassul dengan dzat pada dasarnya adalah tawassulnya seseorang dengan amal perbuatannya, yang telah disepakati merupakan hal yang diperbolehkan. Seandainya orang yang menolak tawassul yang keras kepala melihat persoalan dengan mata hati niscaya persoalan menjadi jelas, keruwetan terurai dan fitnah yang menjerumuskan mereka yang kemudian memvonis kaum muslimin telah musyrik dan sesat, pun hilang.

Akan saya jelaskan bagaimana orang yang tawassul dengan orang lain pada dasarnya adalah bertawassul dengan amal perbuatannya sendiri yang dinisbatkan kepadanya dan yang termasuk hasil usahanya.

Saya katakan: Ketahuilah bahwa orang yang bertawassul dengan siapa pun itu karena ia mencintai orang yang dijadikan tawassul tersebut. Karena ia meyakini keshalihan, kewalian dan keutamaannya, sebagai bentuk prasangka baik terhadapnya. Atau karena ia meyakini bahwa orang yang dijadikan tawassul itu mencintai Allah swt, yang berjihad di jalan Allah swt. Atau karena ia meyakini bahwa Allah swt. mencintai orang yang dijadikan tawassul, sebagaimana firman Allah swt.: "يحبّونهم ويحبّونه" atau sifat-sifat di atas seluruhnya berada pada orang yang dijadikan obyek tawassul.

Jika anda mencermati persoalan ini maka anda akan menemukan bahwa rasa cinta dan keyakinan tersebut termasuk amal perbuatan orang yang bertawassul. Karena hal itu adalah keyakinan yang diyakini oleh hatinya, yang dinisbatkan kepada dirinya, dipertanggungjawabkan olehnya dan akan mendapat pahala karenanya.

Orang yang bertawassul itu seolah-olah berkata, “Ya Tuhanku, saya mencintai fulan dan saya meyakini bahwa ia mencintaiMu. Ia orang yang ikhlas kepadaMu dan berjihad di jalanMu. Saya meyakini Engkau mencintainya dan Engkau ridha terhadapnya. Maka saya bertawassul kepadaMu dengan rasa cintaku kepadanya dan dengan keyakinanku padanya, agar Engkau melakukan seperti ini dan itu."

Namun mayoritas kaum muslimin tidak pernah menyatakan ungkapan ini dan merasa cukup dengan kemahatahuan Dzat yang tidak samar baginya hal yang samar, baik di bumi maupun langit. Dzat yang mengetahui mata yang berkhianat dan isi hati yang tersimpan.

Orang yang berkata : “Ya Allah, saya bertawassul kepadaMu dengan NabiMu," itu sama dengan orang yang mengatakan: "Ya Allah, saya bertawassul kepadaMu dengan rasa cintaku kepada NabiMu."

Karena orang yang pertama tidak akan berkata demikian kecuali karena rasa cinta dan kepercayaannya kepada Nabi. Seandainya rasa cinta dan kepercayaan kepada Nabi ini tidak ada maka ia tidak akan bertawassul dengan Nabi. Demikian pula yang terjadi pada selain Nabi dari para wali.

Berangkat dari paparan di muka, nyatalah bahwa pro kontra masalah tawassul sesungguhnya hanya formalitas yang tidak perlu berdampak perpecahan dan perseteruan dengan menjatuhkan vonis kufur terhadap orang-orang yang bertawassul dan mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam. سُبْحَانك هَذَا بُهْتَان عَظِيم

DALIL-DALIL TAWASSUL YANG DIPRAKTEKKAN KAUM MUSLIMIN

Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Wasilah adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah swt. sebagai faktor untuk mendekatkan kepada Allah swt. dan sebagai media untuk mencapai kebutuhan. Parameter dalam bertawassul adalah bahwa yang dijadikan wasilah itu memiliki kedudukan dan kemuliaan di mata yang ditawassulkan.

Lafadz al-Wasilah dalam ayat di atas bersifat umum sebagaimana anda lihat. Lafadz ini mencakup tawassul dengan sosok-sosok mulia dari kalangan para Nabi dan sholihin baik di dunia maupun sesudah mati dan tawassul dengan melakukan amal shalih sesuai dengan ketentuannya. Tawassul dengan amal shalih ini dilakukan setelah amal ini dikerjakan.

Dalam hadits dan atsar yang akan anda dengar terdapat keterangan yang menjelaskan keumuman ayat di atas. Maka perhatikan dengan seksama agar anda bisa melihat bahwa tawassul dengan Nabi saw. sebelum wujudnya beliau dan sesudahnya di dunia, sesudah wafat dalam alam barzakh dan sesudah dibangkitkan di hari kiamat, terdapat di dalamnya.



TAWASSUL DENGAN NABI MUHAMMAD SAW. SEBELUM WUJUD DI DUNIA


ý Nabi Adam as. bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.

Di dalam sebuah hadits terdapat keterangan bahwa Nabi Adam as. bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.

Dalam al-Mustadrok, Imam al-Hakim berkata: Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad al-‘Adlu menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim al-Handhori menceritakan kepadaku, Abul Harits Abdullah ibnu Muslim al-Fihri menceritakan kepadaku, Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya dari kakeknya dari Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata Ya Tuhanku, Aku mohon kepadaMu dengan haqqnya Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatanMu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”, maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan namaMu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab Adam. “Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepadaKu dengan haqqnya Muhammad maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,” lanjut Allah.

Imam al-Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Al Mustadrok dan menilainya sebagai hadits shahih ( vol. 2 hal. 615 ). Al Hafidh As Suyuthi meriwayatkan dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan mengategorikan sebagai hadits shahih. Imam Al Baihaqi meriwayatkanya dalam kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana telah ia jelaskan dalam pengantar kitabnya. Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62. As Subuki dalam kitabnya Syifaussaqaam juga menilainya sebagai hadits shahih. Al Hafidh Al Haitami berkata, “At Tabrani meriwayatkan hadits di atas dalam Al Ausath dan di dalam hadits tersebut terdapat rawi yang tidak saya kenal.” Majma’uzzawaid vol. 8 hal. 253.

Terdapat hadits dari jalur lain dari Ibnu ‘Abbas dengan redaksi: “Jika tidak ada Muhammad maka Aku tidak akan menciptakan Adam, surga dan neraka.”

HR. Al-Hakim dalam Al Mustadrak dengan isnad yang menurutnya shahih. Syaikhul Islam Al Bulqini dalam Fatawinya juga menilai hadits ini shahih. Hadits ini juga dicantumkan oleh Syaikh Ibnul Jauzi dalam Al Wafaa pada bagian awal kitab dan dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah vol. 1 hlm. 180.

Sebagian ulama tidak sepakat atas keshahihan hadits tersebut lalu mengomentari statusnya, menolaknya dan memvonisnya sebagai hadits palsu (maudlu’) seperti Adz Dzahabi dan pakar hadits lain. Sebagian menilainya sebagai hadits dlo’if dan sebagian lagi menganggapnya sebagai hadits munkar. Dari penjelasan ini, tampak bahwa para pakar hadits tidak satu suara dalam menilainya. Karena itu persoalan ini menjadi polemik antara yang pro dan kontra berdasarkan perbedaan mereka menyangkut status hadits. Ini adalah kajian dari aspek sanad dan eksistensi hadits. Adapun dari aspek makna, maka mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai hadits tawassul ini.


DOKUMEN-DOKUMEN TENTANG HADITS TAWASSUL ADAM AS

Dalam konteks ini Ibnu Taimiyyah menyebut dua hadits seraya berargumentasi dengan keduanya. Ia berkata, “Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dengan sanadnya sampai Maisarah. Maisarah berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi Nabi?” “Ketika Allah menciptakan bumi dan naik ke atas langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan ‘arsy maka Allah menulis di atas kaki ( betis ) ‘arsy “Muhammad Rasulullah Khaatamul Anbiyaa’.” Dan Allah menciptakan sorga yang ditempati oleh Adam dan Hawwaa’. Lalu Dia menulis namaku pada pintu, daun, kubah dan kemah. Saat itu kondisi Adam berada antara ruh dan jasad. Ketika Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy dan melihat namaku. Lalu Allah menginformasikan kepadanya bahwa Muhammad ( yang tercatat pada ‘arsy ) junjungan anakmu. Ketika Adam dan Hawwa’ terpedaya oleh syetan, keduanya bertaubat dan memohon syafa’at dengan namaku kepada-Nya.”

Abu Nu’aim Al-Hafidh meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abi al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan kepalanya. “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar Adam. Lalu Adam mendapat pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?” “Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa Allaah Muhammadun Rasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan nama-Mu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku telah mengampunimu, dan Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”

Hadits ini menguatkan hadits sebelumnya, dan keduanya seperti tafsir atas beberapa hadits shahih. (Al-Fatawa, vol. II hlm. 150).

Pendapat saya, fakta ini menunjukkan bahwa hadits di atas layak dijadikan penguat dan legitimasi. Karena hadits maudlu’ atau bathil tidak bisa dijadikan penguat di mata para pakar hadits. Dan anda melihat sendiri bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah menjadikannya sebagai penguat atas penafsiran

Sufi Road : Sholawat Untuk Bermimpi Rasulullah SAW

Berikut adalah sholawat dalam ryadhoh untuk bertemu dengan Rasulullah yang disarikan oleh Syeikh Yusuf An Nabhani dalam Kitabnya Sa'adatu daroin dari riwayat Syeikh Abdul Qadir Al Jilani




Sufi Road : Do'a Sayyidina Faqih Muqoddam

Imam Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin ‘Ali Ba’Alawiy






Biografi

Imam Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin ‘Ali Ba’Alawiy
[Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Al-Faqih Al-Muqaddam (seorang faqih yang diunggulkan).

Beliau adalah al-’arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan bagi al-’arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, imam bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan hidupnya terukir dengan indah.

Beliau adalah seorang yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT, sehingga beliau mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Ditambah lagi Allah memberikannya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik yang dhohir ataupun yang bathin.

Beliau dilahirkan pada tahun 574 H. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar di jamannya. Di antaranya adalah Al-Imam Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami At-Tarimi. Al-Imam Abul Hasan ini adalah seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di kota Tarim. Selain itu beliau (Al-Faqih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl dan Al-Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid (pengarang kitab Al-Ikmal Ala At-Tanbih). Gurunya itu, yakni Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, tidak memulai pelajaran kecuali kalau Al-Faqih Al-Muqaddam sudah hadir. Selain itu beliau (Al-Fagih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari beberapa ulama besar lainnya, diantaranya Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayyid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayyid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, Asy-Syeikh As-Sayyid Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath (paman beliau) dan masih banyak lagi.

Dalam mengambil sanad keilmuan dan thariqahnya, beliau mengambil dari dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah beliau mengambil dari orangtua dan pamannya, orangtua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW. Adapun jalur yang kedua, beliau mengambil dari seorang ulama besar dan pemuka ahli sufi, yaitu Sayyidina Asy-Syeikh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua orang murid Asy-Syeikh Abu Madyan, yaitu Abdurrahman Al-Maq’ad Al-Maghrobi dan Abdullah Ash-Sholeh Al-Maghrobi. Kemudian Asy-Syeikh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari gurunya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Di masa-masa awal pertumbuhannya, beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan mencari segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta mengikuti jejak-jejak para Sahabat Nabi dan para Salafus Sholeh. Beliau ber-mujahadah dengan keras dalam mendidik akhlaknya dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan syariah.

Beliau juga giat dalam menuntut ilmu, sehingga mengungguli ulama-ulama di jamannya dalam penguasaan berbagai macam ilmu. Para ulama di jamannya pun mengakui akan ketinggian dan penguasaannya dalam berbagai macam ilmu. Mereka juga mengakui kesempurnaan yang ada pada diri beliau untuk menyandang sebagai imam di jamannya.

Mujahadah beliau di masa-masa awal pertumbuhannya bagaikan mujahadahnya orang-orang yang sudah mencapai maqam al-’arif billah. Allah-lah yang mengaruniai kekuatan dan keyakinan di dalam diri beliau. Allah-lah juga yang mengaruniai beliau berbagai macam keistimewaan dan kekhususan yang tidak didapatkan oleh para qutub yang lainnya. Hati beliau tidak pernah kosong sedetikpun untuk selalu berhubungan dengan Allah. Sehingga tampak pada diri beliau asrar, waridad, mawahib dan mukasyafah.

Beliau adalah seorang yang tawadhu dan menyukai ketertutupan di setiap keadaannya. Beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi yang bernama Asy-Syeikh Sa’ad bin Ali Adz-Dzofari. Setelah Asy-Syeikh Sa’ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, ia terkagum-kagum dan merasakan asrar dan anwar yang ada di dalamnya. Kemudian ia membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, “Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan syariah dan haqiqah, baik yang dhohir maupun yang bathin.”

Berkata Al-Imam Asy-Syeikh Abdurrahman As-Saggaf tentang diri Al-Faqih Al-Muqaddam, “Aku tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada kalamnya Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalamnya para Nabi alaihimus salam. Kami tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun terhadapnya (Al-Faqih Al-Muqaddam), kecuali dari golongan Sahabat Nabi, atau orang yang diberikan kelebihan melalui Hadits seperti Uwais (Al-Qarni) atau selainnya.”

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, pernah berkata, “Aku terhadap masyakaratku seperti awan.” Suatu hari dikisahkan bahwa beliau pernah tertinggal pada saat ziarah ke kubur Nabiyallah Hud alaihis salam. Beliau berkisah, “Pada suatu saat aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabiyallah Hud ke tempatku sambil membungkukkan badannya agar tak terkena atap. Lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Syeikh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, maka aku akan berziarah kepadamu.’”

Dikisahkan juga bahwa pada suatu saat ketika beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah Nabi Khidir alaihis salam menyerupai seorang badui dan diatas kepalanya terdapat kotoran. Bangunlah Al-Faqih Al-Muqaddam, lalu mengambil kotoran tersebut dari kepalanya dan kemudian memakannya. Kejadian tersebut membuat para sahabatnya terheran-heran. Akhirnya mereka bertanya, “Siapakah orang itu?.” Maka Al-Faqih Al-Muqaddam menjawab, “Dia adalah Nabi Khidir alaihis salam.”

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, banyak menghasilkan para ulama besar di jamannya. Beberapa ulama besar berhasil dalam didikan beliau. Yang paling terutama adalah dua orang muridnya, yaitu Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad ‘Ibad dan Asy-Syeikh Sa’id bin Umar Balhaf. Selain keduanya, banyak juga ulama-ulama besar yang berhasil digembleng oleh beliau, diantaranya Asy-Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair, Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya Asy-Syeikh Ahmad, Asy-Syeikh Sa’ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya, dan masih banyak lagi.

Beliau wafat pada tahun 653 H, akhir dari bulan Dzulhijjah. Jazad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri prosesi pemakaman beliau. Beliau meninggalkan 5 orang putra, yaitu Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad dan Ali.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy

Friday, May 20, 2011

Merindukan Wajah-Wajah Mulia – Kalam Abdullah bin Husein bin Thahir al Alawiy

Orang-orang yang dekat dengan Allah SWT adalah magnet yang bisa menarik siapa saja yang berada di sekitar mereka untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bagai berdaya listrik, mereka mampu mengisi ulang setiap iman yang cahayanya mulai redup akibat timbunan dosa-dosa. Beruntung sekali bila kita berkesempatan bertemu dengan orang-orang pilihan ini. Kita akan bisa memperbaharui energi iman kita dengan memandang wajahnya dan mendengarkan nasehat-nasehat yang mengalir dari lisannya.

Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawiy mengingatkan kita akan pentingnya berdekatan dengan ulama-ulama yang saleh. Berikut nasehat beliau kepada kita yang disampaikan sekitar dua ratus tahun lampau.

Ketahuilah, sesuatu yang paling mujarab untuk mempercantik hati, memancing ampunan atas dosa-dosa, menepis kegundahan hati, dan mengundang segala kesenangan rohani, adalah menghadiri majelis para wali, shalihin, alim ulama berhati khusyuk yang mengamalkan pengetahuannya, serta para ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud.
Merekalah manusia-manusia yang bila kita pandang akan mampu mengingatkan siapa saja kepada Allah SWT. Gerak-gerik mereka senantiasa membangkitkan gairah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ucapan-ucapan mereka mampu menggiring kita kepada rahmat-Nya. Cahaya mereka menaungi siapa saja yang ada di dekat mereka. Akhlak mereka yang indah akan menulari akhlak-akhlak kita. Amal-amal mereka yang hebat membuat nafsu kita merasa kerdil, dan yang terutama, berkah mereka akan dapat kita raih baik di kehidupan ini maupun di alam yang akan datang.

Dekat dengan mereka adalah suatu fadhilah besar. Memandang mereka bernilai ibadah. Cinta kepada mereka akan membuahkan keberuntungan. Siapa yang duduk di dekat mereka bakal memetik cahaya kebahagiaan dan meneguk tetesan rasa cinta.

Kapankah diriku ‘kan memandang mereka

Aduhai, kapankah mata ini menatap mereka

Atau telinga ini mendengar kabar tentang mereka?

Barangsiapa dikaruniai kesempatan untuk bisa duduk bersama atau sekadar memandang mereka, maka seyogyanya ia meyakini bahwa kesempatan itu adalah karunia teragung dalam rentang usia hidupnya. Hendaklah ia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin dan melazimkan diri untuk selalu berada di dekat mereka dengan perasaan cinta, hormat, husnuddzon, tatakrama yang baik lahir maupun bathin. Raihlah manfaat dan berkah mereka. Teladanilah mereka. Setiap insan kelak akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Baik buruknya seseorang tergantung pada pergaulannya.

Merekalah penabur hidayah di tengah manusia, sungguh beruntung siapa yang memandang mereka

Dan duduk di dekat mereka walau sejenak di sepanjang usia hidupnya

Merekalah suatu kaum yang menjadi hasratku

Dan haluanku di antara hamba-hamba-Nya

Cinta kepada mereka telah bersemi di relung hatiku

Mereka penyandang makrifat, kebeningan kalbu dan budi pekerti

Ada baiknya kita bercermin kepada anjing Ashabul Kahfi yang dengan setia menemani para wali-Nya. Berkat selalu bersama mereka, anjing itu menjadi beruntung hingga disebut bersama mereka di dalam Al-Quran, dan kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di dalam surga.

Perhatikanlah kertas sampul yang menempel pada Al-Quran itu. Ia menjadi mulia dan tak boleh disentuh kecuali oleh mereka yang telah bersuci, berkat menempel pada Kalamullah. Begitulah gambaran dalam berkawan dan bergaul.

Baginda Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan kawan yang saleh itu seperti penjual minyak misik. Kamu bakal diolesi minyak itu dengan cuma-cuma, atau kamu membelinya. Minimal kamu mencium aroma harum darinya.”

Syeikh Fadhal pernah berujar, “Barangsiapa melaksanakan shalat dengan bermakmum kepada orang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya diampuni pula. Barangsiapa bersantap makan bersama seseorang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya pun diampuni. Dan barangsiapa duduk bersama orang-orang saleh, maka gairahnya pada kebaikan akan bertambah.”

Junjungan kita, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi bertutur, “Kefahaman adalah cahaya yang menyala di dalam hati. Karunia itu hanya akan diperoleh oleh mereka yang kerap duduk bersama orang-orang saleh dan tekun menelaah kitab-kitab mereka.”

TATA KRAMA

Ketahuilah, banyak sekali manfaat yang akan dipetik oleh mereka yang senantiasa bergaul dengan kaum shalihin dengan sikap yang penuh adab, dalam tingkah laku fisik maupun hati. semua keutamaan terpendam di dalam tatakrama. Andai tatakrama tidak diindahkan, maka yang berlaku adalah apa yang pernah diucapkan seorang bijak, “Tidaklah penolakan (dari rahmat) itu kamu dapatkan bila kamu tidak ditakdirkan dekat dengan kaum shalihin. Tapi penolakan itu niscaya kamu dapatkan bila kamu ditakdirkan dekat dengan mereka namun kamu tidak bertatakrama kepada mereka.”

Andai kita tidak memiliki atau jarang berkesempatan berada di dekat orang-orang saleh, maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, yakni berkumpul dengan orang-orang yang lalai dan fasik. Kembalilah mengenang sejarah hidup kaum shalihin berikut kondisi dan amal-amal mereka. Bacalah kitab-kitab dan wasiat-wasiat mereka, juga kasidah-kasidah dan hikayat tentang perilaku zuhud, wara’, qana’ah, khumul (menjauhi ketenaran) yang mereka terapkan, serta ibadah dan akhlak mereka yang luar-biasa.

Dengan mengenang mereka, maka rahmat Allah SWT akan mengalir deras kepada kita. “Bila dirimu tak berkesempatan menjumpai mereka, maka di dalam kalam mereka terkandung sinar yang mampu menghidupkan hati dan sanubari,” begitulah kata sebagian orang bijak.

Sayangnya, yang begitu dominan di zaman kita sekarang ini adalah cerita tentang kekejian dan para pelakunya. Saat ini orang lebih asyik menyimak omong kosong, gosip murahan, adu domba, berita kriminal dan asusila. Mereka tak lagi tertarik pada kisah orang-orang saleh dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Bahkan, mereka enggan untuk sekadar bertanya mengenai urusan agama mereka kepada ulama.

Sumber : www.cahayanabawiyonline.com

Sufi Road : Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)

Pengantar Amma ba’du.

Pada hari Sabtu, tanggal 18 Dzulqoidah 1371 H, jam 08.00 pagi, bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1952, Sayyidiy yang diberkahi Alwi bin Habib Al-Quthb Ali bin Muhammad Al-Habsyi, kholifah ayahnya, Quthbul ‘Ârifîn wa Aslâfihil ‘Alawiyyîn, pewaris asrôr mereka, seorang dermawan yang bertakwa, berniat untuk mengunjungi Habib Al-Quthb Al-‘Ârifbillâh wad Dâ’i ilaih Abubakar bin Muhammad Assegaf yang tinggal di kota Gresik. Semoga Allah SWT memanjangkan umur beliau dan memberi kita manfaat dengan berkat beliau. Amin…

Habib Abubakar telah berulang kali menulis surat kepada Sayyidiy Alwi mengabarkan keinginannya untuk menyampaikan sesuatu yang dititipkan kepadanya. Sayyidiy Alwi sendiri telah mendapatkan petunjuk yang jelas dari perkataan Habib Ali dalam diwan[1] beliau:

Wahai kekasihku,
Pergilah dengan nama Allah
kemana pun kau suka
Niscaya kau selamat dari segala kejahatan
Inayah Allah Al-Muhaimin
selalu menjagamu dalam perjalanan

Anak-anak dan kerabat beliau banyak yang hadir saat itu. Sebelum Sayyidiy Alwi meninggalkan kediaman beliau yang penuh berkah di Gurawan Solo, beliau membaca Fatihah dan memanjatkan doa-doa mulia. Membaca Fatihah ketika hendak bepergian merupakan kebiasaan ayah beliau, sebagaimana disebutkan dalam kalam Habib Ali. Kemudian dengan jarinya, Sayyidiy Alwi menulis ayat berikut pada dinding rumahnya:

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”
(QS Al-Qashash, 28:85)

Kami dan Sayyidiy Alwi beranjak keluar. Di depan rumah kendaraan telah menunggu. Sayyidiy Alwi berpamitan kepada mereka yang mengantarkan dan mereka memohon doa dari beliau. Beliau lalu masuk ke dalam mobil milik Sayid Abdullah bin Muhammad Alaydrus. Mobil mewah, masih baru, produksi tahun 1952, merek Desoto Custom.

(Kami berangkat menjemput Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus) Di depan rumahnya telah berkumpul beberapa orang dari golongan sâdah dan lainnya untuk mengantarkan kepergian Sayyidiy Alwi dan memohon doa dari beliau. Di antara mereka adalah Sayid Salim bin Basri. Sayid Muhammad Alaydrus yang telah siap di rumahnya segera bergegas keluar, lalu masuk ke dalam mobil. Jadi, dalam perjalanan ini Sayyidiy Alwi ditemani oleh Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus, Abdulkadir bin Umar Maulakhela, Syeikh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin ‘Abud Deqil dan aku sendiri (Abdulkadir bin Husein bin Segaf Assegaf).

Mobil kemudian membawa kami ke tempat penjualan bensin. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin, lalu dengan memohon pertolongan Allah SWT kami segera menuju Jombang. Dari Solo kami berangkat pukul 08:45 pagi.

Dalam perjalanan Sayyidiy Alwi mendiktekan khotbah catatan perjalanan ini, kemudian kami semua melagukan qoshidah berikut dengan suara nyaring :

Dengan kebesaran Pencipta langit,
Kami duduk bersimpuh
memohon perlindungan dari segala bencana,
Juga dengan Al-Hadi Muhammad dan Sab’ul
Matsâniy[2]

Setelah itu Sayyidiy Alwi menggubah dua bait syair:

Niat kami dalam ziarah ini sebagaimana niat
sang Habib
Kami mengharap karomah yang dapat mempertemukan
kami dengan para pecinta
Telah lama kami nanti kelalaian musuh yang selalu
mengawasi hingga datang izin
Sebab, orang yang memohon dengan benar
pasti ‘kan mendapat jawaban

Abdulkadir bin Umar Maulakhela melagukan syair itu. Sayyidiy Alwi kemudian meneruskan syair gubahannya:

Kami niat berziarah agar semua tujuan tercapai
Kami akan mengunjungi kekasih yang bersemayam
di hati
Husein bin Muhammad, pemuas dahaga mereka yang kehausan
Kami akan mengunjungi kekasih yang tinggal
di pusat kota Jombang

Katakan kepadanya, kami datang bersama rombongan
Bersedekahlah, berdermalah kepada orang
yang telah terlatih lapar
Hidangkan kepada mereka sajian yang pantas
untuk pesta atau untuk tamu
Kami ingin mengunjungi kekasih di pusat kota Jombang

Berilah ilmu orang-orang yang dagangannya telah hilang
agar hari-hari mereka menjadi indah
dan dagangan mereka kembali pulang
Hati menjadi gembira karena akan bertemu para kekasih
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di pusat kota Jombang.

Kami akan mengambil amanat, madad dan titipan
Dari qutbul wara wan nafaa’ah yang tinggal di Kota Gresik
Atas perintahnya dan mereka adalah kaum dermawan dan budiman
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di tengah kota Jombang.


Memasuki kota Sragen kami bertemu dengan rombongan pengantin. Keluar dari kota Sragen, kami bertemu lagi dengan rombongan pengantin. Sayyidiy Alwi berkata, “Ini adalah pertanda baik.” Sebelum berangkat dari Solo seorang yang bernama Faraj (kelapangan, kelonggaran) datang menemui beliau. Beliau senang dengan kejadian ini, sebab menurut beliau semua itu merupakan pertanda baik bagi kepergian beliau. Rasulullah saw juga sangat menyukai pertanda baik.

Setelah itu Abdulkadir Maulakhela melagukan syair Hababah Khodijah, putri Habib Ali Habsyi.[3]

Kami sampai di Madiun dalam waktu 1 ½ jam, lalu singgah di rumah Syeikh ‘Awudh Ba’abduh. Ia menyambut gembira kedatangan Sayyidiy Alwi dan rombongan. Kami istirahat di rumahnya kurang lebih
1 jam, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Mobil melaju dengan cepat, seakan bumi ini dilipat.Tak terasa kami telah sampai di Jombang. Kami segera menuju rumah Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Sewaktu mobil kami berhenti di halaman rumah beliau yang luas, beliau memanggil pembantunya, “Hai Aman! Lihatlah, siapa yang datang!” Sayyidiy Alwi berkata, ‘Ini pertanda baik lagi[4].”

Kami lalu memasuki rumah beliau yang luas, yang selalu dipenuhi tamu; pagi maupun sore. Mengetahui yang berkunjung Sayyidiy Alwi, Habib Husein segera berdiri menyambut beliau dengan gembira, “Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.

Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan yang datang secara tiba-tiba.

Habib Husein tidak diberi kabar bahwa Sayyidiy Alwi akan datang berkunjung. Beliau lalu membacakan bait-bait syair Habib Abdullah bin Husein bin Thohir:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

“Kedatangan kalian ini adalah karunia dari Allah. Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn.”

Habib Husein merasa sangat gembira dengan kedatangan Sayyidiy Alwi.

Setelah semuanya duduk dengan nyaman, Sayyidiy Alwi[5] memberitahu Habib Husein[6], “Kepergianku dari Solo adalah untuk mengunjungi Habib Abubakar bin Muhammad Asseggaf di Gresik. Sebab, beliau telah berulang kali mengirim utusan mengundangku. Aku datang kemari untuk meminta pendapat dan saran, karena aku dengar engkau tidak ingin aku datang kepadanya. Aku sengaja menunda kepergianku karena ucapanmu ini. Sekarang aku telah datang, jika kau perintahkan aku untuk melanjutkan perjalanan, aku akan melakukannya. Tetapi jika kau larang aku melanjutkan perjalanan,aku akan pulang.”

Habib Husein lalu menjelaskan, “Aku tidak pernah mengutus seseorang untuk melarangmu pergi. Hanya saja, ketika aku berada di rumah Habib Abubakar, beliau berkata kepadaku, ‘Aku mengemban amanat Habib Ali untuk Alwi. Aku ingin ia datang kemari agar amanat itu dapat kusampaikan.’ Aku lalu berkata kepada beliau, ‘Engkau adalah rumah amanat, di tanganmu amanat itu pasti terjaga, dan Alwi masih hidup bersama kita.’ Sekarang kupikir Habib Abubakar ingin menyampaikannya kepadamu. Hanîan laka… Selamat untukmu. Berilah kami bagian.

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS An-Nisa, 4:8)

Habib Abubakar sekarang ini sedang menunggu kalian. Ia berdiri, duduk, berdiri, duduk… Seandainya kalian langsung berangkat ke sana tentu akan lebih baik.”

Sesungguhnya Sayyidiy Alwi berniat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya bersama Habib Husein. Akan tetapi Habib Husein berhalangan, kaki beliau sakit dan beliau memerintahkan Sayyidiy Alwi agar segera menemui Habib Abubakar yang sedang menunggu-nunggu kedatangannya. Habib Husein rupanya meng-kasyf keadaan ini.

Sebenarnya keinginan untuk melakukan perjalanan ke Gresik ini muncul Jumat tengah hari. Namun Sayyidiy Alwi baru memberitahukan niatnya ini kepada istri dan anak-anaknya sore hari, dan Sabtu pagi beliau telah berangkat. Demikianlah para wali Allah melihat dengan cahaya Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.” (HR Turmudzi)

Semoga Allah meridhoi mereka semua dan memberi kita manfaat berkat mereka.

“Sejak Subuh aku merasa gelisah, tapi setelah kalian datang perasaan itu hilang berubah menjadi kegembiraan. Semua ini adalah karunia Allah,” kata Habib Husein.

Syeikh Hadi Makarim lalu bercerita, bahwa ia mimpi melihat Habib Ali Habsyi menggandeng tangan Habib Husein ke luar dari satu rumah masuk ke rumah lain. Kemudian datang seorang lelaki memberi Habib Ali tiga ridâ[7]: dua berwarna hijau dan satu coklat. Habib Ali memakai ridâ yang hijau, memberikan ridâ hijau yang lain kepada Habib Husein, dan memberikan yang coklat kepada Syeikh Hadi Makarim.

Cerita ini menggembirakan hati Habib Husein, beliau lalu pergi dan kembali membawa dua ridâ: yang berwarna hijau buatan Bali diberikan kepada Sayyidiy Alwi, yang putih buatan Solo diberikan kepada Syeikh Hadi Makarim sambil berkata, “Ini sebagai hadiah atas mimpimu yang menggembirakan itu.”

Habib Husein kemudian membacakan lagi syair Habib Abdullah bin Husein:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

Habib Husein berkata, “Perhatikanlah bait syair ini: dan seluruh tindakan-Mu amat indah, ini adalah maqôm ridha.”

Habib Husein lalu bicara tentang mode pakaian. “Penghuni zaman ini telah merubah cara berpakaian mereka, juga cara berpakaian anak mereka, terlebih lagi putri-putri mereka. Mereka memberi anak-anak perempuan mereka pakaian yang pendek hingga di atas lutut. Ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Suatu hari aku datang ke rumah salah seorang pecintaku. Saat itu anak-anak putrinya berpakaian sebagaimana pakaian kebanyakan orang di zaman ini: pendek di atas lutut. Aku lalu bertanya kepadanya, ‘Kalau aku datang ke tempat asal kalian di Hadhramaut, kemudian dengan tongkat di tanganku ini kusingkapkan pakaian putrimu hingga ke atas lutut, bagaimana sikapmu?’ Ia menjawab, ‘Kita akan saling pukul.’ Aku lalu berkata, ‘Tapi kalian sendiri sekarang melakukan hal itu terhadap putri-putri kalian.’

Rupanya ucapanku itu membekas di hatinya. Ia kemudian segera mengganti pakaian putri-putrinya dengan pakaian yang panjang seperti dahulu. Aku pun merasa sangat bahagia. Adapun teman-teman lain, mereka mengakui bahwa mode pakaian macam itu tidak benar, tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Kelak di hari kiamat, anak-anak perempuan mereka akan bergantungan di leher mereka dan berkata, “Ayah kamilah yang mengajarkan semua ini kepada kami.”

Habib Husein membahas persoalan ini panjang lebar dan hanya inilah yang dapat kuhapal. Dan kupikir, ini pun sudah cukup.

Kami kemudian melaksanakan sholat Zhuhur dan Ashar jamak taqdim. Setelah makan siang, Habib Husein menganjurkan agar kami segera berangkat ke Gresik. Kurang lebih pukul 13:30 kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah keluar dari kota Jombang, Abdulkadir Maulakhela melantunkan bait-bait syair humainiyah yang dikarang Sayyidiy Alwi di masa lalu.[8]

Kami berhenti sejenak di Mojokerto, kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di Surabaya pukul 16:30. Di Surabaya kami singgah di rumah seorang sayid yang mulia, yang menempuh jalan leluhurnya, Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Sayyidiy Alwi ingin agar Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf menemani beliau ke Gresik. Sesampainya di depan kampung Al-’Am Abdulkadir bin Hadi, mobil berhenti dan aku diutus Sayyidiy Alwi untuk mengabarkan kedatangan beliau. Al-’Am Abdulkadir[9] segera keluar menemui Sayyidiy Alwi. Keduanya bersalaman dan berpelukan. Ia merasa sangat senang dengan kedatangan Sayyidiy Alwi. Sayyidiy Alwi memberitahu Al-’Am Abdulkadir bahwa beliau ingin segera ke Gresik untuk menemui Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dan meminta agar ia bersedia menemani beliau ke Gresik. Al-’Am Abdulkadir memenuhi permintaan Sayyidiy Alwi, padahal ia telah menyediakan sebuah rumah untuk Sayyidiy Alwi dan rombongannya.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi memiliki seorang adik yang tinggal di Solo. Ia bernama Sayid Ahmad bin Hadi. Ketika adiknya mendengar rencana perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera pergi ke Surabaya dengan kereta api pagi agar dapat memberitahu kakaknya rencana perjalanan Sayyidiy Alwi. Mendengar berita dari adiknya ini, Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf segera menyediakan sebuah rumah karena antara dia dan Sayyidiy Alwi terjalin ikatan mahabbah dan persaudaraan yang sangat kuat.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf meminta Sayyidiy Alwi untuk singgah sebentar di rumah itu. Letaknya tidak jauh dari tempat berhentinya mobil kami. Rumah itu sangat bagus, penuh dengan perabotan indah, dan lampu yang bersinar terang. Kami lalu mengelilingi rumah yang luas itu. Pemilik rumah itu adalah Syarifah Zahra binti Sayid Abdurrahman bin Hasan Assegaf, sepupu Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Rumah itu dijadikan sebagai rumah peristirahatan, sedang pemiliknya tinggal di rumah yang lain.

Setelah duduk sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke Gersik bersama Al-’Am Abdulkadir. Pukul 17.15 kami telah sampai di depan rumah Habib Al-‘Ârifbillâh Abubakar bin Muhammad Assegaf. Di depan rumah tampak Sayid Hud bin Abdullah, putra Habib Abubakar dan sejumlah Muhib di antaranya Salmin Doman telah siap menyambut kedatangan kami.

Beberapa saat sebelumnya Salmin Doman masih
di Surabaya. Setelah mengetahui tujuan perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera menyusul ke Gresik untuk menyambut Sayyidiy Alwi dan ikut dalam majelis-majelis beliau.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah Habib Abubakar yang penuh berkah. Tatkala menatap wajah beliau yang tampan dan bercahaya seperti bulan purnama,
air mata kami jatuh berderai.

Kebahagiaan menyelimutiku
begitu hebat hingga ‘ku tak kuasa
menahan tangisku

Sayyidiy Alwi menghampiri Habib Abubakar[10], mencium tangan beliau. Keduanya lalu saling berpelukan, menangis dan bersyukur kepada Allah Ta’âlâ atas pertemuan ini. Sepuluh tahun lamanya mereka tidak saling berjumpa. Kekhusyukan dan haibah pertemuan ini dirasakan oleh semua yang hadir. Mereka seakan terpukau dan suasana menjadi hening. Setiap pipi basah oleh air mata, setiap kepala tertunduk ke bawah. Mereka semua menyaksikan pertemuan agung ini setelah perpisahan yang begitu lama. Perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan raga, adapun ruh mereka senantiasa hadir dan tak pernah berpisah.

Habib Abubakar, semoga Allah memanjangkan umurnya, menatap Sayyidiy Alwi dan berulang kali mengucapkan selamat datang dan penghormatan. Selang beberapa saat Habib Abubakar memeluk beliau. Ini dilakukannya tiga kali. Tanda-tanda kebahagiaan dan suka cita tampak jelas di wajah keduanya.

Habib Abubakar berkata:

“Yang telah memegang takkan melepaskan.”[11]

“Aku akan mentaatimu. Aku datang kemari dengan berbagai kebutuhan. Dan mengharapkan pemberian untukku, anak-anakku, dan keluargaku,” kata Sayyidiy Alwi. Beliau lalu membacakan salah satu ayat Quran.

“Hai pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf, 12:88)

“Tentu…, tentu…, aku akan memberimu kabar gembira,” kata beliau, “Sejak subuh hari ini aku merasa gelisah dan tak banyak berkata-kata. Aku tidak tahu apa sebabnya. Melihat engkau datang, hilanglah kegelisahanku, hatiku terasa lapang dan aku menjadi bersemangat.”

Catatan Kaki :

[1] Buku yang berisi kumpulan syair.
[2] Sab’ul Matsâniy: Surat Al-Fatihah
[3] Lihat lampiran ke-1
[4] Pertanda baik karena pembantu Habib Husein bernama Aman yang berarti keselamatan.
[5] Habib Alwi lahir tahun 1311 H, meninggal tahun 1373 H. Jadi beliau melakukan perjalanan ini pada usia 60 tahun.
[6] Habib Husein lahir di Qaidun tahun 1303 H, meninggal tahun 1376 H. Jadi pada pertemuan ini umur beliau 68 tahun. Beliau ke Jawa tahun 1329 H, ketika berumur 27 tahun.
[7] Ridâ adalah sejenis selendang.
[8] Keterangan ada pada lampiran ke-2 dalam buku.
[9] Habib Abdulkadir bin Hadi Assegaf meninggal di Surabaya bulan Dzul Hijjah tahun 1376 pada usia 68 tahun. Jadi waktu pertemuan ini beliau berusia 63 tahun.
[10] Habib Abubakar lahir di Besuki Jawa Timur tahun 1285 H, meninggal di Gresik, Jawa Timur pada malam Senin 17 Dzulhijah 1376 H pada usia 91 tahun. Jadi pada pertemuan ini usia beliau 86 tahun.
[11] Maksudnya, Habib Abubakar takkan membiarkan Sayyidiy Alwi pergi.


Sumber : www.zawiya.net- Majelis Majlas

Sufi Road : Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos

Beliau dilahirkan di Huraidhoh, Hadhramaut (Yaman) pada hari Selasa 19 Ramadhan 1257 H.

NASAB

Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Abdulloh bin Ali bin Abdulloh bin Muhammad bin Muhsin bin Imam Husein bin al-Quthb al-Kabiir Umar bin Abdurrohman bin Aqil al-'Atthos bin Salim bin Abdulloh bin Abdurrohman bin Abdulloh bin al-Quthb Abdurrohman as-Segaf bin Muhammad Maula Dawileh bin Ali bin Alwi bin al-Ustadz al-'Adhom al-Faqih al-Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi' Qosam bin Alwi bin Muhammad Shohib Shouma'ah bin Alwi bin Ubaidillah bin al-Muhajir Ilalloh Ahmad bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Imam Jakfar ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam as-Sibth al-Husein bin al-Imam Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib suami az-Zahro Fatimah al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.

MASA KECIL

Ketika masih dalam umur penyusuan, ia terkena penyakit mata yang ganas hingga hilang penglihatannya. Ibu beliau merasa sedih lalu mendatangi al-Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos. Ia letakkan bayi mungil itu di depan Habib Sholeh, lalu menangis sekuat-kuatnya.

"Apa yang dapat kami perbuat dengan anak yang buta ini?" kata ibunya dengan suara sedih.

Habib Sholeh menggendong bayi itu, lalu memandangnya dengan tajam. "Ia akan memperoleh kedudukan yg tinggi. Masyarakat akan berjalan di bawah naungan dan keberkahannya. Ia akan mencapai maqom kakeknya, Umar bin Abdurrohman al-'Atthos.", kata Habib Sholeh
Mendengar ini, ibu beliau pun merasa terhibur.

Sejak itu Habib Ahmad memperoleh perhatian khusus dari Habib Sholeh. Kadang bila melihat Habib Ahmad berjalan menghampirinya, Habib Sholeh berkata, "Selamat datang pewaris sir Umar bin Abdurrohman." Kemudian Habib Sholeh memboncengkan dia di tunggangannya.

Pada kesempatan lain Habib Sholeh berkata kepada beliau, "Kau mendapat madad khusus dari kakekmu Umar bin Abdurrohman."


PENGLIHATAN BATIN

Meski kehilangan kedua penglihatannya, Habib Ahmad bin Hasan tampak seperti orang yang dapat melihat dengan baik. Allah mengganti penglihatan lahiriahnya dengan penglihatan batiniah. Hal ini terbukti dalam beberapa peristiwa, baik ketika beliau masih kecil maupun setelah mencapai usia lanjut. Seakan Alloh SWT ingin menunjukkan kepada orang-orang yang hidup sejamannya makna firman-Nya:

"Karena sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada."
(Q.S. al-Haj, 22:46)

Sebagaimana manusia, semua hewan juga memiliki cahaya mata dhohir, tapi cahaya mata hati (bashiroh) hanya dimiliki oleh orang-orang yg telah dipersiapkan Alloh untuk dekat dengan-Nya. Habib Ahmad sering memberitahu hal-hal yang luput dari pandangan para sahabatnya.

Sebagaimana manusia, semua hewan juga memiliki cahaya mata dhohir, tapi cahaya mata hati (bashiroh) hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah dipersiapkan Alloh untuk dekat dengan-Nya. Habib Ahmad sering memberitahu hal-hal yang luput dari pandangan para sahabatnya.

Habib Umar bin Muhammad al-'Atthos bercerita,
"Ketika masih kecil, aku suka bermain-main dengan Akh Ahmad bin Hasan dan Akh Abdulloh bin Abubakar bin Abdulloh di jalanan kota.

Usia kami sebaya, aku sering mendengar masyarakat memperbincangkan kewalian dan kasyf-kasyf Akh Ahmad bin Hasan, namun aku belum pernah membuktikannya.

Suatu hari aku berkata pada Akh Abdulloh bin Abubakar,
"Mari kita buktikan omongan masyarakat malam ini. Jika ia memang seorang wali, kita akan membenarkannya, tapi jika itu hanya kabar bohong, kita akan membuatnya menderita."

Kami menggali lubang di dekat tempat kami bermain lalu kami tutup dengan tikar. Setelah tiba saat bermain, aku berkata pada pada Akh Ahmad bin Hasan,
"Malam ini kita adakan lomba lari."

Kami tempatkan ia di tengah2, tepat ke arah lubang yang baru kami gali. Kami lalu berlari sambil berteriak,
"Ayo lari...lari...!"

Ketika sudah dekat dengan lubang itu, Akh Ahmad melompat seperti seekor kijang.

Mulanya kami kira kejadian ini hanya suatu kebetulan, kami pun mengajaknya berlomba lagi. Tapi ketika sampai di depan lubang, ia melompat seperti sebelumnya. Saat itu kami sadar bahwa ia memang bukan manusia biasa.

Pernah ada lelaki datang menemui beliau dengan membawa uang 1 dirham yang ia temukan di jalan. Di permukaan dirham itu tertulis sesuatu yang sulit dibaca karena dirham itu sudah terlalu tua.

Beliau meraba dirham tersebut, lalu berkata kepada murid beliau, Syeikh Muhammad bin Awudh Ba Fadhl,
"Coba perhatikan dengan teliti, apa yang tertulis di permukaan dirham ini."

Ia mencoba membacanya, tapi tidak berhasil. Beliau kemudian berkata,
"Mungkin ini adalah jenis dirham ash-Shomadiah yang dikeluarkan oleh Sulaiman bin Abdul Malik al-Umawi. Pada sisi yang satu tertulis surat al-Ikhlas dan pada sisi lain tertulis: Laa ilaaha 'illallaah wahdahu laa syariikalahu, lahulmulku wa lahulhamdu wahuwa 'alaa kulli syay'in qodiir."

Syeikh Muhammad lalu mencoba melihat mata uang itu dengan lebih teliti, ternyata benar apa yang ducapkan Habib Ahmad bin Hasan. Nama raja Sulaiman bin Abdul Malik al-Umawi tertulis melingkari mata uang tersebut dengan tulisan kufi tanpat titik dan dengan aturan yang aneh.


MENUNTUT ILMU

Sejak kecil beliau Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos gemar menuntut ilmu. Ketika berusia 5 tahun, kakek beliau, Habib Abdulloh, mengajari beliau membaca Qur'an sebelum menyerahkan pendidikan beliau pada Faraj bin Umar bin Sabbah murid Habib Hadun bin Ali bin Hasan al-'Atthos.

Beliau juga belajar kepada Habib Sholeh bin Abdullah al-'Atthos. Beliau bercerita,
"Suatu hari, ketika usiaku 5 tahun, aku bermain-main & berguling-guling di tanah. Kebetulan Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos lewat di dekatku. Beliau berkata, 'Bangun, pakai pakaianmu lalu tunaikan Sholat Jum'at!'..."

"Tubuhku kotor!", jawabku.

"Tidak masalah, bangunlah, pakai pakaianmu dan kerjakanlah Sholat Jum'at!".
Beliau juga belajar kepada Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos. Beliau bercerita,
"Suatu hari, ketika usiaku 5 tahun, aku bermain-main & berguling-guling di tanah. Kebetulan Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos lewat di dekatku. Beliau berkata, 'Bangun, pakai pakaianmu lalu tunaikan Sholat Jum'at!'..."

"Tubuhku kotor!", jawabku.

"Tidak masalah, bangunlah, pakai pakaianmu dan kerjakanlah Sholat Jum'at!".

Habib Sholeh lalu membacakan firman Alloh Ta'ala:
"Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."
(Q.S. al-Haj, 22:32)

Inilah ayat pertama yang dihafalkan oleh Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos dari Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos.

Perlu diketahui bahwa Habib Ahmad memiliki daya hafal yang luar biasa, beliau mampu menghafal dengan sekali dengar.

Setiap kali ada ulama datang ke kotanya, Huraidhoh, beliau selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari mereka.

"Hatiku dipenuhi rasa pengagungan dan penghormatan pada salaf yang tiba di kotaku. Ketika Habib al-'Allamah Muhammad bin Ali Assegaf datang, aku seakan-akan melihat seorang nabi."


GURU-GURU BELIAU

Guru-guru beliau antara lain adalah Habib Abubakar bin Abdulloh al-'Atthos, Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos, Habib Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Muhdhor, Habib Ahmad bin Abdulloh bin Idrus al-Bar, Habib Abdurrohman bin Ali bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Muhammad bin Ali bin Alwi bin Abdillah Assegaf & Habib Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih.

Sedangkan guru-guru beliau di Haramain adalah Habib Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Assegaf, Habib Fadhl bin Alwi bin Muhammad bin Shol Maula Dawileh, dan Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan.

Adapun Syeikh fath Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos adalah Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos dan Habib Abubakar bin Abdulloh al-'Atthos.

Habib Sholeh men-tahkiim beliau sebagai seorang sufi dengan mencukur rambut kepala beliau dengan kedua tangannya yang mulia dan memerintahkannya untuk wudhu & mandi. Setelah itu Habib Sholeh mendudukkan beliau di hadapannya lalu men-talqiin kalimat: "Laa ilaa illallah Muhammadun Rasuulullaah" sebanyak 3 kali dan kemudian memberi beliau ijaazah dan ilbaas.

Buku-buku yang dibaca Habib Ahmad di hadapan Habib Sholeh antara lain adalah "Idhoohu Asroori Uluumil Muqorrobiin, Ar-Risaalatul Qusyairiyyah, Asy-Syifaa' karya Qodhi 'Iyadh dan Mukhtashor al-Adzkaar karya al-Allamah Syeikh Muhammad bin Umar Bahroq.

Semenjak berguru kepada Habib Sholeh, beliau tidak pernah meninggalkan majlisnya, baik saat Habib Sholeh berada di kota 'Amd maupun di luar kota, hingga Habib Sholeh meninggal dunia pada tahun 1279 H.
Semenjak berguru kepada Habib Sholeh, beliau tidak pernah meninggalkan majlisnya, baik saat Habib Sholeh berada di kota 'Amd maupun di luar kota, hingga Habib Sholeh meninggal dunia pada tahun 1279 H.

Cinta beliau kepada Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos telah tampak sejak beliau masih kecil, sebagaimana diceritakan oleh Habib Alwi bin Thohir dalam Uquudul Almaas:
"Jika Habib Sholeh bin Abdulloh al-'Atthos berkunjung ke Huraidhoh, beliau (Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos) selalu menemainya. Suatu saat, Habib Sholeh pulang ke kotanya ('Amd) tanpa sepengetahuan beliau. Ketika mengetahui bahwa Habib Sholeh telah pulang, beliau segera menyusulnya seorang diri tanpa penuntun dan penunjuk jalan. Habib Sholeh merasakan kehadiran beliau, lalu bertanya pada orang-orang yang ikut dalam rombongannya, 'Apakah kalian melihat seseorang di belakang kita?'. Mereka melihat ke belakang lalu berkata, 'Kami tidak melihat apa-apa.'. Tak berapa lama, ia mengulang pertanyaannya dan dijawab, 'Ya, ada seorang anak kecil berusaha menyusul kita.'. Habib Sholeh berkata, 'Dia adalah Ahmad bin Hasan.' Ia menanti kedatangan Habib Ahmad bin Hasan, lalu memboncengkannya sampai di desa terdekat. Setelah itu ia memulangkannya."

Habib Abubakar bin Abdulloh al-'Atthos juga memberikan perhatian kepada beliau sejak kecil. Buku yang telah dibaca Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos di hadapan Habib Abubakar bin Abdulloh al-'Atthos antara lain adalah al-Jami' ash-Shoghir, Riyadhush Shibyan dan Hadiyatush Shiddiq.

Habib Ahmad selalu menemani Habib Abubakar, bahkan beliau pernah ikut sampai ke Hijaz. Ketika Habib Abubakar meninggal dunia pada malam Selasa 17 Dzulqoidah 1281 H, beliau sedang berada di Haramain.

Habib Ahmad berkata,
"Aku pernah bertanya pada Habib Abubakar tentang berbagai kasyf dan asror yang diperoleh seseorang padahal ia tidak memiliki amal yang memadai."

Habib Abubakar menjawab,
"Sebab ia dekat dgn shohibul waqt. Tempat yang dekat dengan pancuran akan terkena percikan air."

Keterangan Habib Ahmad ini menjelaskan keadaan dirinya.


BELAJAR DI MAKKAH

Tahun 1274 H, ketika usianya menginjak 17 tahun, beliau melakukan perjalanan haji ke Makkah al-mukarromah. Kedatangan beliau ini disambut dengan senang hati oleh al-'Allamah Mufti Haramain, Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

Sayid Ahmad Zaini Dahlan mendorong beliau, Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos untuk menuntut ilmu di Makkah, lalu menyerahkannya di bawah pendidikan seorang guru baca Qur'an, Syeikh Ali bin Ibrohim as-Samanudi.

Sayid al-'Allamah Abubakar yang biasa dipanggil dengan Bakri bin Muhammad Syatho, pengarang buku I-'aanatuth Thoolibiin Syarh Fathul Mu'iin dalam bukunya Nafkhotur Rohmaan yang berisi manaqib guru beliau, Sayid Ahmad Zaini Dahlan, menulis:

"Dahulu Sayid Ahmad Zaini Dahlan hafal Qur'an dengan baik dan menguasai 7 cara baca Qur'an. Beliau juga hafal kitab asy-Syaathibiah dan al-Jazariah, 2 kitab yg sangat bermanfaat bagi para pelajar yang hendak mempelajari 7 bacaan Qur'an dengan cepat. Karena cinta dan perhatiannya pada Qur'an, ia memerintahkan sejumlah ahli baca Qur'an untuk mengajarkan ilmu ini. Ia khawatir ilmu itu akan hilang dari orang-orang yang cerdas dan memiliki pemahaman. Saat itu datang Sayid Ahmad bin Hasan al-'Atthos dari Hadhromaut. Ia masih kecil dan buta kedua matanya.
Sayid Ahmad Dahlan sangat menyayanginya. Ia lalu memerintahkannya untuk menghafalkan Qur'an. Dalam waktu singkat Sayid Ahmad bin Hasan al-'Atthos mampu menghafalnya. Kemudian tuanku Sayid Ahmad Dahlan meminta Syeikh Ali as-Samanudi yang terkenal menguasai 14 cara baca Qur'an untuk mengajar Sayid Ahmad bin Hasan al-'Atthos. Syeikh Ali lalu mengajarkan asy-Syaathibiah dan cara baca Qur'an. Dalam waktu singkat Alloh memberi Sayid Ahmad bin Hasan al-'Atthos fath."


Sumber :
"Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthos: Riwayat hidup, Wasiat dan Nasihat, Kisah & Hikmah, Do'a dan Amalan."
Oleh: Sayyidy al-Habib Novel bin Muhammad al-'Aydrus.