Friday, August 13, 2010

Telaga Sufi di Bulan Suci

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan puasa atas kamu sekalian, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa. (Al-Qur ‘an, Al-Baqarah 183)

Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dalam kitabnya AI-Ghunyah
mengupas,

bahwa kata Ramadlan itu terdiri lima huruf: R-M-DL-A-N. Huruf Ra’ – (R) berarti Ridlwanallah (Ridla Allah), huruf Mim (M) berarti Mahabatullah (Mencintai Allah), huruf Dlad (DL) berarti Dlamanullah (dalam jaminan Allah), huruf Alif (A) berarti Ulfatullah (kasih sayang Allah), dan huruf Nun (N) berarti Nurullah (cahayaAllah).

Karena itulah bulan suci Ramadlan disebut sebagai bulan Ridla, bulan Cinta, bulan Kasih Sayang, bulan Lindungan, bulan Cahaya, sekaligus sebagai bulan anugerah dan karamah bagi para auliya dan orang-orang yang berbuat kebajikan.

Disebutkan para ulama sufi, bahwa bulan Ramadlan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, ibarat kalbu di dalam dada, ibarat para nabi dengan umat manusia, dan ibarat Tanah Suci Haram dibanding dengan bumi lainnya.

Hari-hari yang penuh dengan dahaga dan lapar, malam-malam penuh keagungan dan anugerah kita arungi bersama-sama, agar kita bisa bersembunyi di balik tirai Ilahi dalam puasa yang sungguh-sungguh puasa: Puasa Hakiki.

Sebab, Ramadlan itu sendiri merupakan salah satu nama dari sekian nama Allah. Karenanya, bulan Ramadlan merupakan Bulan Ilahi, dimana Allah sendiri yang membalas pahala-pahala mereka yang berpuasa. Seakan-akan memang ada rahasia agung yang sangat pribadi antara Allah dengan para hamba-Nya. Setidak-tidaknya, hakikat takwa benar-benar dilimpahkan pada hamba-hamba Allah yang berpuasa, sebagaimana disebutkan “Haqqa Tuqaatih”, takwa yang hakiki.

Sebuah hadits menyebutkan, “Janganlah kalian semua mengatakan Ramadlan, sebab Ramadlan itu adalah nama dari nama-nama Allah Ta’ala.”
Maka Allah sendiri juga menyebutkan dengan kalimat “Syahru Ramadlan”, bukan Ramadlan saja. Hal demikian menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, bahkan betapa Allah Ta’ala sampai membuat wahana yang amat istimewa dan khusus terhadap bulan Ramadlan tersebut.

Dalam hadits Shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, - dalam Hadits Qudsi - “Allah Azzawa-Jalla berfirman: “Setiap amal manusia kembali padanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu hanya untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya sendiri. Puasa itu merupakan tameng, manakala di hari puasa kalian, maka janganlah melakukan hubungan suami-istri dan jangan pula berbuat kotor. Maka apabila ada seserang memakinya, katakanlah :

“Aku ini orang yang berpuasa. Dan demi Dzat Yang Menguasai Jiwa Muhammad, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dibandingkan misik, di hari kiamat nanti. “

Dalam hadits lain disebutkan, “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada bandingannya.” (HR. Nasa’i)

Makna puasa itu sendiri adalah mengekang dan mengangkat. Artinya mengekang segala keinginan yang mendorong kita untuk menyimpang dari perintah dan kehendak Allah, mengekang dari segala keinginan untuk berpaling pada selain Allah.

Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang tiada bandingnya, semata juga karena puasa itu merupakan jiwa penghapusan terhadap hal-hal yang berbau empiris. Sebab Ramadlan adalah nama Allah, suatu kegembiraan kita karena kita memasuki nama Allah. Sebab itulah puasa yang berarti meninggalkan, sangat berhubungan erat dengan proses hamba-hamba Allah dalam meninggalkan “keakuan, nafsu, dan seluruh sifat tercelanya” agar bisa fana’ ke hadirat Allah. Sebab dalam kata “meninggalkan” itu mengandung arti sebagai bentuk dari ketiadaan dan negasi, dan karenanya tidak ada bandingannya. Maksudnya, memasuki bulan Allah berarti juga tidak bisa membandingkan Allah dengan lainnya, sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Tiada satu pun misal bagi-Nya. “

Intinya, puasa itu merupakan ibadah yang bisa menyempumakan spiritualitas para hamba. Bentuk-bentuk pengekangan itu sendiri mengandung pelajaran yang amat mahal nilainya. Setahun dalam 12 bulan, Allah memberi anugerah satu bulan saja, agar hamba-hamba-Nya menjadi merdeka. Merdeka dari seluruh ikatan duniawi, dan fana ‘kepada Allah dalam lembah bulan suci ini.

Mereka yang yang sedang menjalani bulan puasa, hakikatnya menempuh jalan kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya saja ada tipikal manusia berpuasa, sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ia tidak mampu menahan godaan hawa nafsunya. Ada juga yang mampu menahan dahaga, sekaligus menahan diri dhahir dan batinya dari segala yang diharamkan Allah. Puncaknya adalah mereka yang berpuasa, menahan diri dari godaan fisik dan batin, sekaligus fana’ dalam Allah. Yang terakhir inilah disebut sebagai puasa Khawasul Khawas. Puasa dari segala hal selain Allah. Hanya kepada Allahlah dirinya hadir, dan tak ada lain kecuali kehadiran Allah dalam jiwanya.

Dalam tradisi Rasulullah SAW, bulan puasa merupakan bulan ubudiyah. Jika siang hari beliau menahan dari dari segala hal selain Allah, maka di malam hari beliau melakukan Qiyamul Lail, yang kelak disebut dengan tarawih, sebagai upaya bangkit dalam ma ‘rifatullah.

Setidak-tidaknya ada lima peristiwa besar berkait dengan bulan suci ini:

Pertama, bulan ini disebut dengan bulan Ramadlan, yang merupakan salah satu asma ‘ dari sekian asma’ Allah Ta’ala. Berarti, bulan ini adalah awal mula hamba-hamba-Nya memasuki asma’ Allah lewat pancaran cahaya ma’rifatnya. Ma’rifat Asma’, itulah awal dari pengenalan hamba- Nya kepada-Nya, lalu dilanjutkan dengan ma’rifat Sifat, dan terakhir ma’ ri fat bi-Nuridz-Dzat (ma’rifat dengan cahaya Dzatullah). Penghayatan terhadap ma’rifat itu, tidak akan tercapai manakala hamba Allah tidak mau mengekang dirinya, keakuannya, hasrat-hasrat nafsunya, egonya, dan kepentingan-kepentingannya, melainkan hamba harus puasa dari segala hal, kecuali hanya Allah belaka, sebagai tujuan dan sekaligus juga wahana penyaksian (musyahadahnya).

Kedua, bulan ini merupakan bulan di mana Kalamullah al-Qur’ an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia secara global. Kalamullah itulah yang juga merupakan “ kepastian global” atas sejarah jagad raya ini. Turunnya al-Qur’an secara global, selaras dengan “Kun”-nya Allah, dan kelak melimpah secara historis dalam “Fayakuun”. Mengapa al-Qur’an diturunkan di bulan suci Ramadlan, karena Kalamullah itu adalah manifestasi dari sifat-Nya, “Al-Kalim”, di mana semaian wahananya haruslah mawjud pada asma ‘Nya, yaitu Ramadlan itu sendiri.

Ketiga, di bulan ini ada Lailatul Qadr. Malam yang melebihi seribu bulan cahaya. Cahaya bulan itu sendiri merupakan pantulan dari matahari, dan manakala tiada matahari, bulan tak bercahaya, maka terjadi kegelelapan yang dahsyat. Dengan kata lain, Lailatul Qadr merupakan wahana di mana Cahaya-cahaya Allah itu mawjud, dalam jiwa-jiwa hambaNya yang beriman. Pendaran cahaya-Nya yang melebihi ribuan cahaya bulan, hanyalah simbol betapa tak terkirakan Cahaya-Nya itu. Mereka yang mempunyai jiwa yang telah fana , dalam “kegelapan malam fana’ul fana”’, adalah jiwa mereka yang mampu menyaksikan dalam musyahadah Cahaya-Nya. Karena itu, kefana ‘an itu hanya akan termawjud manakala para hamba itu senantiasa berdzikir, bertaqarrub, bermuqarabah, dan bertaubah dalam arti yang hakiki. Sebab Cahaya-cahaya-Nya, hanya bisa disongsong oleh Sirrul ‘Abdi, sebagai puncak ketakwaan hamba Allah itu sendiri. Sirrul ‘Abdi adalah hakikat kehambaan yang final. Wujudnya adalah adalah kesimaan hamba dalam kebaqa ‘an-Nya, sehingga sang hamba tak lagi “ada” , dan yang ada hanyalah Yang Maha Ada dalam Abadi-Nya.

Keempat, di bulan ini para hamba menuai kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya. Sebab pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu. Disebut merdeka dan bebas, karena para hamba dibebaskan diri dari upaya terikat oleh kepentingan duniawi, kepentingan ukhrawi, bahkan kepentingan dari segala hal selain Allah. Sebab, kebebasan itu tidak terwujud secara hakiki manakala hamba masih diperbudak oleh selain Allah. Wujudnya adalah cahaya hati yang terang benderang sebagai “Rumah Allah” dalam jiwanya, sebagaimana disebutkan, dalam sebuah hadits, “Qalbul Mu ‘mini Baitullah” (hati orang yang beriman adalah Rumah Allah).

Kelima, munculnya dua kegembiraan: kegembiraan pertama, adalah ketika mereka yang berpuasa itu melakukan buka puasa (ifthar), dan kegembiraan kedua adalah kegembiraan ketika bertemu Tuhannya. Kegembiraan pertama bisa disebut sebagai kegembiraan lahiriah, dan kegembiraan kedua bisa disebut sebagai kegembiraan batiniah. Atau yang pertama adalah kegembiraan fana ‘nya hamba dalam kefitrahannya (dan karena itu disebut ifthar), lalu yang kedua adalah fana ‘ul fana’ dalam kebaqa’an-Nya, ketika menemui Tuhannya. Dua kegembiraan inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh hamba-hamba Allah. Hamba yang telah berfitrah, sekaligus hamba yang telah menjadi “Cermin Ilahi” dalam liqa’ (bertemu) dengan-Nya.

Mereka yang telah melakukan tradisi puasa sufistik, senantiasa akan merasakan puasa selama lamanya. Sebab di bulan Ramadlan itulah hamba Allah berada dalam khauf dan raja’ (ketakutan dan harapan), lalu meningkat lagi menjadi dalam qabdl dan basth (ketergenggaman dalam Kuasa Ilahi dan keleluasaan dalam rahmat-Nya), bahkan ada yang mencapai haibah dan uns (dalam lembah Kharisma Ilahi sekaligus juga dalam pelukan kemesraan yang tiada tara). Maka puasa, sesungguhnya adalah “perjuangan jiwa” yang disebut sebagai jihadul akbar (perjuangan besar).

Sumber :Sufinews :M Luqman Hakiem


Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly

Sesungguhnya ada tiga tingkatan puasa: biasa, khusus dan sangat khusus.
Puasa biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.



Sedang puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Jenis puasa demikian dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.

Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia sertajanji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, "Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6: 91).

Syarat-syarat Batin
Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya:

1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, "pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. " (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu."

2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur'an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, "Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, 'Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong."
Rasulullah saw. bersabda, "Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa'!" (H.r. Bukhari Muslim).

3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur'an Allah swt. berfirman, "Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal." (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, "Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?" (Q.s. 5: 63).

Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, 'Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka ..." (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, "Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa." (H.r. at Tirmidzi).

4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.
Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan.

Bersabda Rasulullah saw, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!" (H.r. an Nasa'i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa.

5. Menghindari Makan Berlebihan
Berbuka puasa dengan makan yang tidak berlebihan, sehingga rongga dadanya menjadi sesak. Tidak ada kantung yang lebih tidak disukai Allah swt. selain perut yang penuh (berlebihan) dengan makanan halal. Dapatkah puasa bermanfaat sebagai cara mengalahkan musuh Allah swt. dan mengendalikan hawa nafsu, bila kita berbuka menyesaki perut dengan apa yang biasa kita makan siang hari? Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia.

Sesungguhnya hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang biasa dipergunakan setan untuk mengajak kita ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Karenanya, tidak akan mendapatkan manfaat di saat berpuasa bila tetap makan dengan porsi makanan yang biasa dimakan pada hari hari biasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa.

Oleh karena itu, barangsiapa telah "meletakkan" kantung makanan di antara hati dan dadanya, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meskipun perutnya kosong, belum tentu terangkat hijab (tabir) yang terbentang antara dirinya dengan Allah, kecuali telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allah swt. semata. Demikian adalah puncak segalanya, dan titik mula dari semuanya itu adalah mengosongkan perut dari makanan.

6. Menuju kepada Allah Swt. dengan Rasa Takut dan Pengharapan
Setelah berbuka puasa, selayaknya hati terayun ayun antara takut (khauf) dan harap [raja']. Karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasanya diterima sehingga dirinya termasuk orang yang mendapat karunia Nya sekaligus orang yang dekat dengan Nya, ataukah puasanya tidak diterima, sehingga dirinya menjadi orang yang dicela oleh Nya. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya ada pada setiap orang yang telah selesai melaksanakan suatu ibadah.

Dari al Hasan bin Abil Hasan al Bashri, bahwa suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak. Hasan al Bashri lalu berkata, 'Allah swt. telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana Para hamba Nya saling berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah. Sungguh menakjubkan mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan. Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya." Dengan kata lain, manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya gelak tawa.
Dari al Ahnaf bin Qais, bahwa suatu ketika seseorang berkata kepadanya, "Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu." Tetapi al Ahnaf bahkan menjawab, "Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah swt. tentu akan lebih mudah daripada menanggung siksa Nya."
Demikianlah, semua itu adalah makna signifikan puasa.

Pentingnya Memenuhi Aspek aspek (Syarat) Batin
Sekarang Anda mungkin mengatakan, "Dengan menahan makan, minum dan nafsu seksual, tanpa harus memperhatikan syarat batin itu sudah sah. Menurut pendapat para ahli fiqih juga demikian, bahwa puasa yang bersangkutan sudah dapat dikatakan memenuhi syarat, sudah sah. Lalu mengapa kita harus repot repot?"

Anda harus menyadari bahwa para ulama fiqih telah menetapkan syarat-syarat lahiriah puasa dengan dalil-dalil yang lebih lemah dibanding dalil dalil yang menopang perlunya ditepati syarat syarat batiniah. Misalnya saja tentang mengumpat dan yang sejenis. Bagaimanapun perlu diingat, bahwa para ulama fiqih memandang batas kewajiban puasa dengan hanya mempertimbangkan pada kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hari Akhir, akan memperhatikan sungguh-sungguh dan memenuhi dengan syarat batin, sehingga ibadahnya sah dan diterima.
Hal demikian itu mereka capai dengan melaksanakan syarat-syarat yang akan mengantarkannya pada tujuan. Menurut pemahaman mereka, berpuasa adalah salah satu cara untuk menghayati salah satu akhlak Allah Swt, yaitu tempat meminta (shamadiyyah), sebagaimana juga contoh dari para malaikat, dengan sedapat mungkin menghindari godaan nafsu, karena malaikat adalah makhluk yang terbebas dari dorongan serupa.

Sedang manusia mempunyai derajat di atas hewan, karena dengan tuntunan akal yang dimilikinya akan selalu sanggup mengendalikan nafsunya; namun ia inferior (sedikit lebih rendah) dari malaikat, karena masih dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia pun harus mencoba untuk mengatasi godaan hawa nafsunya.

Kapan pun manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh dalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Kapan pun ia mampu mengatasinya, maka ia akan terangkat ke tingkatan para malaikat. Malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah swt, karenanya malaikat pun menjadi contoh bagi makhluk yang ingin dekat dengan Allah. Tentu dengan segala ibadah akan menjadikan diri semakin dekat dengan Nya. Hanya saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat.
Jika demikian itu adalah rahasia puasa bagi mereka yang memiliki kedalaman pemahaman spiritual, apakah manfaat menggabungkan dua (porsi) makan pada waktu berbuka, seraya memuaskan nafsu lain yang tertahan ketika siang hari. Dan kalaulah demikian, lalu apa makna Hadis Nabi saw. yang berbunyi, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapat sesuatu selain lapar dan dahaga?"

Sumber: Sufinews

Thursday, August 12, 2010

Riyadhus Shalihin : Taubat

1. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Saya mendengar dari
Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuhpuluh kali setiap hari.” (HR. Bukhari)


2. Dari Al-Aghar bin Yasar Al-Muzanniy ra., ia berkata:Rasulullah SAW, bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlahkalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya,sesungguhnya saya bertaubat seratus kali setiap hari.” (HR.Muslim)

3. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshariy (pembantuRasulullah SAW) berkata: Rasulullah SAW, bersabda:“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya,melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian ketikamenemukan kembali untanya yang hilang di padang yangluas.” (Muttafaqalaih)
Dalam riwayat Imam muslim disebutkan, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima taubat hamba-Nya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi dari kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang
pasir tetapi hewan yang dikendarai lari meninggalkannya, padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman, kemudian dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan
badannya, sedang ia benar-benar putus asa untuk menemukan kembali hewan yang dikendarainya. Ketika bangkit, tiba-tiba ia menemukan kembali hewan yang dikendarainya lengkap dengan bekal yang dibawanya, ia pun segera memegang tali kekangnya, seraya berkata karena sangat gembira: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-mu.” Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena luapan kegembiraannya.”


4. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada waktu siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nyapada waktu siang, untuk taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim)

5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim)

6. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra. Dari Nabi SAW, beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung akan menerima taubat seseorang sebelum nyawa sampai di tenggorokan (sebelum sekarat).” ( H.R. Tirmidzi )


7. Dari Zir bin Hubais, ia berkata : “Saya mendatangi Shafwan bin `Assal ra. untuk menanyakan tentang mengusap ke dua khuf, kemudian dia menanyaiku: “Wahai Zir, mengapa engkau kemari?” . Saya menjawab : “Untuk mencari ilmu.” Ia pun berkata : “Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya bagi orang yang mencari ilmu, karena senang terhadap apa yang dicarinya.” Kemudian aku melanjutkan pertanyaanku : “Wahai Shafwan saya masih belum jelas tentang cara mengusap kedua sepatu sesudah berak dan
kencing sedangkan engkau adalah salah seorang sahabat Nabi SAW, maka saya datang ke sini untuk bertanya kepadamu, apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan masalah itu?” 

Ia menjawab : “Ya, beliau menyuruh kami bila dalam perjalanan agar tidak melepas khuf selama tiga hari tiga malam kecuali berjanabat, tetapi kalau hanya berak, kencing, atau tidur tidak perlu dilepas.” Saya bertanya lagi :”Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW, menyebut tentang cinta?” 
Ia menjawab : “Betul, ketika kami datang bepergian bersama Rasulullah SAW mendadak seorang Badui memanggil Rasulullah SAW dengan suara keras: Ya..Muhammad,” maka Rasulullah pun menjawab menyerupai suaranya. Kemudian saya berkata kepada orang Badui itu : “Rendahkanlah suaramu, karena engkau berhadapan dengan Nabi SAW Dan kamu dilarang berkata seperti itu.” Dan orang Badui itu berkata lagi: “Bagaimana seseorang yang mencintai sekelompok orang, tetapi ia tidak boleh berkumpul bersamanya?”
 Nabi SAW menjawab : “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya di hari kiamat.” Beliau selalu bercerita kepada kami, sampai akhirnya beliau menceritakan tentang sebuah pintu yang berada di sebelah barat, pintu itu sebesar 40 atau 70 tahun perjalanan.” Menurut Sufyan, salah seorang perawi dari daerah Syiria berkata : “Allah Ta`ala menciptakan pintu itu ketika Ia menciptakan langit dan bumi; pintu itu senantiasa
terbuka untuk menerima taubat dan tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari arah barat. ( H.R Tirmidzi ) Bab Taubat, Hal 20-21. .


8. Dari Abu Sa`id Sa`ad bin Malik bin Sinan Al- Khudriy ra. Nabi SAW bersabda : “Sebelum kalian, ada seorang laki-laki membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib ( pendeta Bani Israil). Setelah mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya : “ Apakah ia bisa
bertaubat?”. Ternyata pendeta itu menjawab : “Tidak” Maka pendeta itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya seratus. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa dirinya
telah membunuh seratus jiwa, dan bertanya : “ Bisakah saya bertaubat?” Orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang akan menghalangi orang bertaubat? Pergilah kamu ke kota ini (menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud) sebab di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta`ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke kotamu. Karena kotamu kota yang jelek!” Lelaki itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan maut menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara malaikat Rahmat dengan malaikat Azab, siapakah yang lebih berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa : “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, lagi pula menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa)
beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.” Kemudian Allah SWT. mengutus malaikat yang menyerupai manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah itu dan berkata: “ Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal antara kota asal dan kota tujuan, Manakah lebih dekat, maka itulah bagiannya.” Para malaiakat itu lalu mengukur, ternyata mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat kota tujuan,
maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang tersebut.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).


Pada riwayat lain di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan : “Ia lebih dekat sejengkal untuk menuju daerah tujuan, maka ia dimasukkan dalam kelompok mereka.” Dalam riwayat lain, di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan : “Kemudian Allah Ta`ala memerintahkan kepada daerah hitam itu untuk menjauh dan memerintahkan kepada daerah yang baik itu untuk mendekat kemudian menyuruh kedua malaikat itu
mengukurnya, akhirnya mereka mendapakan daerah yang baik itu sejengkal lebih dekat sehingga ia diampuni.” Di dalam riwayat lain disebutkan: “Allah mengarahkan hatinya untuk menuju ke daerah yang baik itu”


9. Dari Abdullah bin Ka`ab bin Malik ra. ( beliau adalah seorang panglima perang), dari anaknya, ia berkata : “Saya mendengar Ka`ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) Rasulullah SAW Dalam perang Tabuk, Ka`ab bin Malik berkata : “ Saya selalu bersama Rasulullah SAW Dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tetapi tak seorang pun dicela, karena tidak ikut perang tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah SAW bersama kaum muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy, lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah SAW pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah, ketika kami berjanji memeluk Agama Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti ba`iat di Jumrah Aqabah,
meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut keutamaanya di kalangan manusia daripada Ba`iat Jumrah Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika aku tertinggal Rasulullah SAW daripada ketika aku tertinggal dari perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya
tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya. Dikarenakan Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk ketika hari itu sangat panas, menghadapi perjalanan jauh dan sulit, serta menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah merasa perlu membekali kaum muslimin akan kesulitankesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin
membuat persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan tentang tujuan mereka.


Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama Rasulullah SAW cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku. Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah SAW tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah Ta`ala tidak turun.

Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong ke sana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar, guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun saya kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati aku berkata: “Saya mampu mempersiapkannya jika bersungguhsungguh.“ Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah SAW beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Dengan perasaan menyesal ia berkata: “Andai saja saya berbuat demikian, namun takdir menentukan lain,” Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah SAW Hatiku resah dan saya menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafiq, atau lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada saat itu, di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang disebut munafiq dan orang-orang yang udzur karena amat lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit, dan sebagainya). (Menurut keterangan teman-teman) Rasulullah SAW tidak pernah menyebut-nyebut saya, hingga sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau bertanya : “Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka`ab Bin Malik?” Salah seorang dari Bani Salimah menjawab : “Ya Rasulullah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang memakai pakaiannya). “Tetapi Mu`adz bin Jabal menghardiknya : “Betapa buruk perkataanmu, Demi Allah, yang kami ketahui pada Ka`ab hanyalah kebaikan.” Rasulullah SAW pun diam. Pada saat itulah melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah bersabda: “Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.” Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshariy. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolik-olok oleh orang munafiq. Ka`ab meneruskan ceritanya: ”Tatkala saya mendengar, bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang  dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka, alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah SAW Saya juga meminta bantuan keluargaku mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Tetapi, ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan, hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari Rasulullah SAW selamanya. Karena itu saya mengatakan yang sebenarnya. Keesokan harinya, Rasulullah SAW tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua raka`at lalu duduk menunggu kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya. Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk, menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada Rasulullah SAW disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah SAW Menerima mereka, beliau memperkenankan memperbaharui bai`at dan memohonkan ampun bagi mereka, sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta`ala. Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya mengucapkan salam beliau tersenyum sinis, kemudian bersabda : “Kemarilah” Ka`ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?” Saya menjawab: “Ya, Rasulullah! Demi Allah, andaikan saya duduk di hadapan orang selainmu, saya yakin dapat bebas dari kemarahannya dengan menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah Ta`ala menggerakan hatimu untuk marah kepada saya. Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah, maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari Allah. Demi Allah, aku tidak mempuyai udzur7.” Demi Allah, diriku sama sekali tidak merasa kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak mengikutimu ke Perang Tabuk. Sekarang ini, saya merasa cukup segalanya” Rasulullah SAW, bersabda : Orang ini (Ka`ab bin Malik) telah berkata benar. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu. Akupun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya : “Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah SAW memintakan ampun untukmu.” Ka`ab melanjutkan : “Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada Rasulullah SAW Untuk meralat perkataanku. Tetapi kemudian aku bertanya kepada orangorang Bani Salimah itu: “Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?” Mereka menjawab: “Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.” Saya bertanya :”Siapa mereka?” Mereka menjawab:” Murarah bin Rabi`ah Al-Amiriy dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifiy.” Dua orang lelaki shalih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak saat itu, Rasulullah SAW melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah mengubah sikap dan menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah kukenal. Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku ( Murarah dan Hilal) menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada hentihentinya menangis mohon ampun kepada Allah karena tidak ikut perang. Di antara kami bertiga, akulah orang yang paling muda dan paling kuat. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti salat jama`ah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar, tetapi tak seorangpun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap Rasulullah SAW Untuk sekadar mengucapkan salam kepada beliau di tempat duduk beliau sesudah salat. Tetapi hati ini berkata: “Apakah Rasulullah SAW, akan menggerakan bibir beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?” Kemudian saya mengerjakan salat berdekatan dengan beliau, sesekali aku melirik beliau. Apabila menghadap ke salat, beliau memandangku, kalau menengok ke arah beliau, beliau berpaling dari saya. Hal ini terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalanjalan, lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi. Kuucapkan salam kepadanya, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qatadah diam saja. Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia tetap diam, sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi, barulah dia menjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” Seketika itu mengalirlah air mata saya dan saya pun pulang. Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang berada di pasar) :” Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada Ka`ab bin Malik?” orang-orang memberikan isyarak ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah saya baca ternyata isinya sebagai berikut: ”Amma ba`du. Sungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad SAW) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.” Saat membaca surat itu aku berpikir: ”Ini juga merupakan cobaan.” Kemudian saya bakar surat itu di dapur. Selang empat puluh hari, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah SAW Datang kepadaku dan berkata : “Rasulullah SAW memerintahkanmu untuk menjauhi isterimu.” Ka`ab bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?” Utusan itu menjawab :”Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya!” Rasulullah SAW juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama dengan yang kuterima. Saya berkata kepada isteriku: ”Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang. Suatu saat isteri Hilal bin Umayyah menghadap kepada Rasulullah SAW Memohon kepada beliau :”Ya Rasulullah! Suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua sebatangkara dan tidak mempunyai pelayan, Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?” Rasulullah SAW menjawab: ”Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai dia dekatdekat padamu.” Isteri Hilal pun berkata: ”Demi Allah, Hilal sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun(gairah) terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis sejak engkau melarang kaum muslimin berbicara dengannya, sampai hari ini.” Sebagian keluarga berkata kepada saya : “Hai Ka`ab! Kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk isterimu tentu itu lebih baik, sebagaimana isteri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.” Saya menjawab: ”Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah SAW Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW Apabila saya meminta izin beliau, sedangkan saya seorang yang masih muda.” Saya lalui kehidupan tanpa isteri itu selama sepuluh hari (menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami, lima puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami. Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku pada saat aku sedang duduk ketika shalat shubuh, Allah menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku. Kemudian aku mendengar suara orang yang berteriak-teriak naik ke atas Sal`i. “Hai Ka`ab bin Malik, bergembiralah !” Serta merta aku menjatuhkan diri bersujud syukur dan aku tahu. Bahwa saya dapat penyelesaian. Rasulullah SAW memberi tahu kepada kaum muslimin, bahwa Allah Yang Mahaagung dan Maha Tinggi telah menerima taubat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau mengerjakan shalat Subuh. Maka kaum muslimin berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada yang datang berkuda, ada lagi penduduk Aslam yang berjalan kaku dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan selamat, sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda. Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah waktu itu saya tidak memiliki pakaian. Setelah itu, saya meminjam pakaian dan berangkat untuk menghadap Rasulullah SAW Sementara kaum muslimin menyambutku, mengucapkan selamat atas diterimanya taubatku. Mereka berkata kepada saya : “Selamat atas pengampunan Allah kepadamu.” Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan selamat. Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah SAW Sedang duduk dikelilingi oleh para sahabat. Melihat kedatanganku, sahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri menyongsongku. Menjabat tangan saya dan memberi selamat. Demi Allah! Tak seorangpun di antara para sahabat Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka`ab tak bisa melupakan kebaikannya. Ka`ab meneruskan ceritanya.:”Tatkala saya mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW Beliau menyambut saya dengan wajah berseri-seri dan berkata:”Bergembiralah! Karena, hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.”Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah darimu sendiri ataukah dari sisi Allah?” Beliau SAW Menjawab :”Dari Allah yang Mahaagung dan Maha Tinggi.” Jika merasa senang, wajah Rasulullah SAW, bersinar terang, seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui wajahnya, kami mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang senang hatinya. Ketika saya duduk menghadap beliau, aku berkata:”Ya Rasulullah, sungguh, termasuk taubat saya (sebagai pernyataan rasa syukurku), aku hendak menyerahkan harta bendaku sebagai sedekah untuk (mendapakan ridha) Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah SAW, bersabda: ”Simpanlah sebagian harta bendamu (Jangan engkau serahkan seluruhnya). Itu lebih baik. ”Kemudian saya menjawab: ”Saya masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil dari rampasan perang di Khaibar.” Lebih lanjut saya berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya, Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan saya nyatakan, bahwa termasuk taubatku (sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah). Saya tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidup saya.” Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorangpun di antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta`ala untuk berkata jujur, lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasululah SAW Hingga kini, aku tidak pernah sengaja berbohong. Dan saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku. Kemudian Allah menurunkan ayat surat At-taubah.:” Sesungguhnya Allah telah benar-benar menerima taubat Nabi, sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi (Berangkat ke Tabuk) dalam masa kesulitan (mencari perlengkapan perang), sesudah hati segolongan dari para sahabat tersebut hampir saja berpaling (saking berat dan payahnya), kemudian Allah menerima taubat mereka, Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Dan juga terhadap tiga orang (Ka`ab, Hilal, dan Murarah) yang ditangguhkan (keputusan penerimaan) taubat mereka, sehingga manakala bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan merekapun telah sempit pula dirasakan oleh mereka, serta mereka tahu bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Zat Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Hai orangorang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian berkumpul dengan orang-orang yang benar.” Menurut Ka`ab, demi Allah! Belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Dia memberi saya petunjuk memeluk islam yang melebihi kejujuran saya kepada Rasulullah SAW Sebab, andaikata saya berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku), sebagaimana orang-orang munafiq yang berdusta kepada beliau. Sungguh, Allah berfirman untuk orang-orang yang mendustai Rasulullah SAW dan mengecam betapa jelek orang tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah, ayat 95 dan 96:”Orang-orang munafik itu akan bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apabila kalian kembali kepada mereka (di Madinah), agar kalian berpaling dari mereka (tidak mencela mereka). Maka berpalinglah kalian dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu najis (hatinya) dan tempat mereka adalah Jahannam (di Akhirat), sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat. Mereka akan bersumpah kepada kalian, supaya kalian ridha terhadap mereka. Tetapi, jika sekiranya kalian ridha terhadap mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang fasik.” Lebih lanjut Ka`ab berkata: ”Urusan kami bertiga ditunda dari urusan orang-orang munafiq, ketika mereka bersumpah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerima bai`at mereka dan meminta ampun kepada Allah. Tetapi masalah kami ditunda Rasulullah SAW Sampai Allah memutuskan menerima taubat kami. Sebagaimana firman Allah Ta`ala :”Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan taubatnya.” Firman Allah tersebut menurut Ka`ab, bukan berarti kami bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafiq yang bersumpah kepada Rasulullah SAW Dan menyampaikan bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh Rasulullah SAW” ( H.R Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain : “ Nabi SAW Pada waktu perang Tabuk keluar pada hari kamis; dan memang sudah menjadi kesukaan beliau untuk bepergian pada hari kamis” Dalam salah satu riwayat disebutkan :”Biasanya beliau kalau datang dari bepergian pada waktu pagi, dan bila datang biasanya langsung ke masjid dan salat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.” 

10. Dari Abu Nujaki Imran bin Al-Husain Al-Khuza`iy ra., ia berkata :”Ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah SAW, sedangkan ia sedang hamil karena berzina dan berkata:”Ya Rasulullah, saya telah melakukan kesalahan, dan saya harus di had(hukum), maka laksanakanlah had itu pada diri saya. ”Kemudian Nabi SAW memanggil walinya seraya bersabda: “perlakukanlah baik-baik wanita ini, apabila sudah melahirkan, bawalah kemari.”Maka dilaksanakan perintah itu oleh walinya. Kemudian setelah wanita itu melahirkan, dibawalah ke hadapan Rasulullah SAW Dan memerintahkan untuk wanita, maka diikatkanlah pakaiannya untuk dirajam. Setelah ia mati, maka Rasulullah SAW menyalatkannya. Namun Umar berkata kepada beliau: ”Ya Rasulullah, mengapa engkau menyalatkan wanita itu, padahal ia telah berzina.” Beliau menjawab : “Wanita itu benar-benar bertaubat, dan seandainya taubatnya dibagi pada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Pernahkah kamu mendapatkan orang yang lebih utama daripada seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Tang Maha Mulia lagi Maha Agung?” ( H.R Muslim) 

11. Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW bersabda : ”Seandainya seorang mempunyai satu lembah dari emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya. Dan Allah senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat.” ( H.R Bukhari dan Muslim) . 

12. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW Bersabda: ”Allah gembira manakala ada dua orang yang saling membunuh dan keduanya masuk surga. Pertama, seseorang yang mati berjuang di jalan Allah. Yang kedua, orang yang membunuh itu bertaubat kepada Allah, kemudian masuk Islam dan terbunuh di Jalan Allah (mati syahid)”. (H.R Bukhari dan Muslim)’

Wali -Wali Allah

Habib Munzir Al Musawa

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ( صحيح البخاري )

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata'ala berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.



Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya." ( Shahih Al Bukhari )

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي هَذِهِ الْجَلْسَة...


Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal dan abadi, Maha melimpahkan keluhuran dan kebahagiaan bagi hamba-hambaNya di setiap waktu dan saat, Maha melimpahkan kelembutan dan kenikmatan yang tiada henti-hentinya kepadaku dan kalian, tidak satu detik pun rahmatNya terhenti untuk kita, tidak satu detik pun kasih sayang-Nya terhenti untuk kita terkecuali terus mengalir kepada kita, kenikmatan melihat, kenikmatan mendengar, kenikmatan berbicara, kenikmatan bergerak, kenikmatan berfikir, kenikmatan merenung, kenikmatan sanubari dan kenikmatan-kenikmatan luhur lainnya, dan kenikmatan-kenikmatan itu terus berlanjut, kenikmatan bernafas, kenikmatan penggunaan jantung dan seluruh tubuh kita, kenikmatan cahaya matahari, kenikmatan gelapnya malam, kenikmatan indahnya pemandangan, kenikmatan udara dan berjuta-juta kenikmtan lainnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman

:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ( ابراهيم : 34 )

" Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya ". ( Qs. Ibrahim : 34 )

Hal ini menunjukkan betapa banyak kenikmatan yang kita ketahui dan betapa lebih banyak kenikmatan yang tidak kita ketahui, dan Allah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemukan jumlah kenikmatan itu. Semakin kita mempelajari maka akan semakin kita memahami baik secara ilmiah atau dengan hadits-hadits nabawiyah atau yang lainnya, secara logika atau pun dengan dalil, maka kenikmatan itu semakin kita pelajari maka akan semakin banyak dan semakin terbuka, semakin luas, semakin mulia, dan semakin indah.

Demikianlah perbuatan Sang Maha Baik, demikian perbuatan Sang Maha Luhur dan Mulia, demikian perbuatan Sang Maha Indah, demikian perbuatan Sang Maha mencintai, demikian perbuatan Sang Maha Pemaaf, demikian perbuatan Sang Maha penyelamat, demikian perbuatan Sang Maha lemah lembut sehingga Dia ( Allah ) subhanahu wata'ala melipatgandakan perbuatan baik kita dan senantiasa siap mengampuni kesalahan-kesalahan kita, demikian indahnya Yang Maha indah, demikian mulia dan berkasih sayang Yang Maha berkasih sayang.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahAllah subhanahu wata'ala berfirman

:إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ، وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ( المائدة : 55- 56 )"

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang ". ( QS. Al Maidah : 55- 56 )

Allah subhanahu wata'ala memberi pemahaman kepada kita, siapakah yang seharusnya kita jadikan sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan ?. Allah berfirman : " Sungguh yang melindungi kalian, yang menolong kalian dan yang bisa kalian mintai pertolongan adalah Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman ",tetapi siapakah orang-orang yang beriman itu ?, maka Allah subhanahu wata'ala perjelas bahwa orang yang beriman adalah mereka yang mendirikan shalat, mereka yang menunaikan zakat, dan mereka yang memperbanyak melakukan ruku' yaitu banyak melakukan shalat sunnah di siang hari dan malam harinya, mereka yang dimaksud adalah para shalihin. Maka firman Allah bahwa pelindung kalian ( manusia ) adalah Allah, RasulNya dan para shalihin.

Maka Allah melanjutkan firmanNya : " Barangsiapa yang mengambil perlindungan dari Allah, dari RasulNya dan dari orang-orang yang beriman, maka sungguh tentara Allah lah yang pasti akan menang ".Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahKita fahami rahasia keluhuran, bagaimana jika kita meminta perlindungan kepada Allah. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika nabiyullah Ibrahim AS didekatkan dengan api Namrud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Ketika nabiyullah Ibrahim didekatkan kepada api namrud untuk dibakar, maka kalimat terakhir yang diucapkan adalah :

حسبي الله ونعم الوكيل(

Cukuplah Allah untukku dan Dialah sebaik-baik pelindung )",

maka Allah subhanahu wata'ala cukupkan Allah sebagai pelindungnya, kemudian Allah perintahkan api itu menjadi sejuk dan membawa keselamatan bagi nabiyullah Ibrahim As, dengan firmanNya

:ياَنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ ( الأنبياء : 69 )"

Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". ( QS. Al Anbiyaa: 69 ),

Namun Allah juga memberi kesempatan bagi kita untuk meminta pertolongan kepada para rasul dan nabiNya, dan pemimpin para nabi dan rasul adalah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman

: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا ( النساء : 64(

" Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ". ( QS. An Nisaa: 64 )

Maka ketika para sahabat merasa telah banyak berbuat dosa, maka mereka berdatangan kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan bertobat kepada Allah dihadapan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, lantas Rasulullah pun memohonkan pengampunan dosa untuk mereka, maka pastilah mereka akan diampuni oleh Allah karena Allah Maha penerima taubat dan Maha Penyayang. Tadi kita berbicara tentang tiga pelindung bagi kita yaitu Allah, RasulNya, dan para shalihin. Yang pertama telah saya jelaskan sekilas, yang kedua berdasarkan dalil firman Allah dimana para shahabat berdatangan kepada Rasul untuk meminta perlindungan atas dosa-dosa mereka agar diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala, dan banyak lagi riwayat Shahih Al Bukhari dimana ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah Jum'at, maka datanglah seorang dusun dari kejauhan, dan ketika Rasul sedang menyampaikan khutbah maka ia menyela dan berkata : " Wahai Rasulullah, kemarau tidak juga berakhir, hewan-hewan kami banyak yang mati, dan pohon-pohon kekeringan, tanah pecah terbelah dan kami sudah kehabisan air, maka mohonkanlah doa kepada Allah agar diturunkan hujan ".

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik berkata : " Saat kami keluar dari shalat Jum'at, maka Rasul mengangkat tangan dan berdoa agar diturunkan hujan, dan belum Rasulullah menurunkan tangannya kecuali awan-awan telah berdatangan dari segala penjuru Madinah Al Munawwarah, dan belum selesai kami melakukan shalat kecuali tetesan-tetesan air hujan mulai turun membasahi jenggot Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam". Maka hujan pun turun sedemikian derasnya dan tidak berhenti selama satu minggu terus membasahi Madinah Al Munawwarah. Dan di hari Jum'at berikutnya, ketika Rasulullah berkhutbah maka orang dusun tadi datang dan berkata : "Wahai Rasulullah, rumah-rumah dan tumbuhan habis, air tidak tertahan dan banjir dimana-mana, maka mohonkan kepada Allah agar Allah menghentikan hujan ", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa

:اَللّهُمَّ حَوَالَيْناَ لَا عَلَيْنَا

" Ya Allah (hujan) disekitar kami saja, jangan di atas kami"

Maka Rasulullah memberi isyarat kepada awan, dan awan-awan yang diisyaratkan pun tunduk atas intruksi dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sehingga Madinah Al Munawwarah bagaikan kubah yang bolong karena di atasnya di sekitar Madinah awan gelap masih menggumpal dan hujan deras, kecuali Madinah Al Munawwarah yang terik diterangi sinar matahari dan tidak ada setetes air hujan pun. Diriwayatkan di dalam syarah Fathul Bari dan riwayat lainnya bahwa hujan di sekitar Madinah itu berlangsung hingga sebulan. Demikianlah permohonan meminta perlindungan kepada Rasulullah.

Begitu juga meminta perlindungan kepada para shalihin yang mana hal ini banyak teriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah, diantaranya riwayat Shahih Al Bukhari kejadian yang sama di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, ketika mereka dalam keadaan kemarau yang panjang, mereka pun datang kepada sayyidina Umar bin Khattab untuk memintakan doa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka sayyidina Umar bertawassul kepada sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib Ra dan hujan pun turun, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Fahamlah kita bahwa Allah membuka perlindunganNya dari Allah subhanahu wata'ala, dan dari para rasulNya dan juga dari para hambaNya yang shalih.

Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahSampailah kita pada hadits mulia ini, firman Allah subhanahu wata'ala dalam hadits qudsi

:مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ "

Barangsiapa yang memusuhi waliKu (kekasih-Ku), orang-orang yang Kucintai maka Aku umumkan padanya perang"

Maksudnya ia adalah musuh besar Allah jika ia membenci dan memusuhi kekasih Allah, kecuali ia bertobat. Jika ia bertobat, maka tentunya dimaafkan oleh Allah subhanahu wata'ala. Mengapa Allah subhanahu wata'ala murka jika mereka para kekasihNya dibenci?, karena para kekasih Allah tidak mempunyai sifat dendam dan mereka tidak marah tetapi yang marah adalah Allah subhanahu wata'ala karena Allah mencintai mereka, Allah subhanahu marah karena wali Allah yang dibenci tidak benci kepada yang membencinya, maka Allah subhanahu wata'ala yang murka kepada orang itu.

Siapakah para kekasih Allah itu?, firman Allah dalam hadits qudsi

:وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah menuju keridhaan Allah, menuju kasih sayang Allah yang beramal dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya seperti shalat wajib, puasa ramadhan, zakat, dan haji. ( Namun untuk saudari kita yang baru masuk Islam tidak dipaksakan untuk melakukan hal-hal yang fardhu di dalam syariah islamiyah kecuali semampunya saja, yang mampu dijalankan dan yang masih terasa berat jangan dilakukan, karena iman itu butuh waktu dalam mencapai kemapanan untuk mampu melaksanakan segala hal-hal yang fardhu ). Dan hamba itu tidak berhenti hanya mengamalkan hal-hal yang wajib saja, tetapi meneruskan juga dengan hal-hal yang sunnah untuk terus mendekat kepada Allah sampai Allah mencintainya, maka ia telah menjadi kekasih Allah karena ia mengamalkan hal-hal yang fardhu dan yang sunnah, amalan yang seperti apa?

Tentunya yang diajarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, baik amalan yang fardhu atau pun yang sunnah yang mana yang kita ketahui kalau bukan ajaran sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kesimpulannya, ketika seseorang mengikuti ajaran sang nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam kehidupannya dan semampunya maka ia akan mencapai cinta Allah subhanahu wata'ala, dan tidaklah seseorang mencapai derajat orang yang dicintai Allah ( Wali Allah ) kecuali ia telah mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliaulah masdar al awliyaa dan manba' al awliyaa ( sumber para wali ).

Dan jikalau Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Allah akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk membela diri , Allah akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Tentunya maksudnya bukan secara makna kalimat, tetapi mengandung majas yaitu makna kiasan. Maksudnya adalah jika seseorang telah taat kepada Allah, selalu ingin berbuat yang luhur, selalu menghindari hal yang hina, maka apa-apa yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala, seperti jika ia mendengar aib orang lain maka ia doakan orang itu, ia mendengar cacian dan umpatan dari orang lain maka ia doakan orang itu, semua yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala. Semua hal yang ia lihat menjadi rahmatnya Allah subhanahu wata'ala, misalnya ia melihat orang berbuat dosa maka ia doakan agar ia diampuni dosanya oleh Allah dan diberi hidayah, matanya yang melihat membawa rahmat Allah subhanahu wata'ala, tangan dan kakinya pun demikian, hari-harinya pun demikian.

Maka maksud firman Allah dalam hadits qudsi itu adalah Allah memancarkan rahmat dan cahayaNya dari hamba itu, melalui penglihatannya, pendengarannya, ucapannya, dan hari-harinya penuh rahmat Allah subhanahu wata'ala, demikianlah keadaan para wali Allah. Maka jika hamba itu meminta kepada Allah maka Allah kabulkan permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada Allah maka Allah akan melindunginya. Allah melanjutkan firman-Nya dalam hadits qudsi

:وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ "

Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya".Yang dimaksud bukanlah Allah subhanahu wata'ala ragu dalam menentukan sesuatu untuk hambanya, karena Allah tidak memliki sifat ragu. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wata'ala merasa berat jika ingin menentukan suatu ketentuan yang bisa membuat para kekasih-Nya kecewa.

Allah tidak pernah merasa berat dalam menentukan sesuatu, kecuali kepada para walinya karena Allah subhanahu wata'ala tidak ingin mengecewakan mereka. Allah tidak mau mengecewakan para kekasih-Nya, jika kekasih-Nya belum ingin wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya. Maka ketika Allah mengundang hamba-Nya untuk wafat namun hamba-Nya masih ragu untuk wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya, Allah panjangkan usianya, kenapa? karena ia telah menjadi kekasih Allah. Bukan berarti Allah mengikuti semua yang dia inginkan, tetapi Allah sangat mencintainya dan tidak mau mengecewakannya. Tetapi banyak kejadian di masa nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau didzalimi, disakiti, dan dianiaya ?!, ingat ucapan Allah subhanahu wata'ala

:وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ "

Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya "

Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin musuhnya celaka, maka beliau diam saja atas perbuatan musuh-musuhnya, sampai jika sesuatu itu membahayakan muslimin barulah beliau bertindak membela diri, tetapi jika hanya membahayakan dirinya sendiri maka beliau hanya bersabar dan bertahan, beliau tidak ingin kecelakaan terjadi pada musuh-musuhnya dan beliau masih berharap mereka bertobat dan kembali kepada keluhuran.

Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari di saat perang Uhud ketika panah menembus tulang rahang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka di saat itu darah mengalir Rasulullah sibuk menahan darah agar tidak sampai jatuh ke tanah, para sahabat berkata: " wahai Rasulullah biarkan saja darah itu mengalir ", diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menahan darah yang mengalir jangan sampai jatuh ke tanah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Kalau ada setetes darah dari wajahku yang jatuh ke tanah, maka Allah akan tumpahkan musibah yang dahsyat bagi mereka orang-orang Quraisy yang memerangiku ". Allah murka jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah sampai tumpah ke bumi, maka Rasulullah menjaga agar jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya.

Inilah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahDemikian pula perbuatan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada sayyidina Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dia adalah seorang yang beriman tetapi ayahnya adalah pemimpin munafik yang paling jahat kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, berkelompok dengan orang-orang yang memusuhi nabi, mengabarkan berapa jumlah tentara nabi, berapa senjatanya, kapan keluar Madinah, kapan masuk Madinah, kapan perdagangan di Madinah, kapan orang-orang Madinah berdagang keluar dan lainnya, semua itu yang membocorkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, sungguh jahat sekali tetapi anaknya adalah orang yang beriman, ia bernama Abdullah juga.

Maka sayyidina Abdullah datang kepada Rasul dan berkata : " Wahai Rasulullah, ayahku sudah sakaratul maut dan tidak ada yang mau mengurus jenazahnya ", kenapa? karena teman-temannya yang munafik tidak mau mengurus jenazahnya, mereka takut jika mereka mnegurusi jenazahnya maka orang-orang muslim mengetahui bahwa mereka adalah pengikut Abdullah bin Ubay juga, sedangkan orang-orang muslim juga tidak mau mengurusi jenazah itu karena jelas-jelas yang wafat adalah pimpinan orang munafik yang sangat jahat, dimana ketika orang muslim mengirim bahan makanan atau ke Madinah dimonopoli oleh Abdullah bin Ubay, mau mengirimkan bantuan atau perdagangan ke Madinah dirampok karena kapalnya sudah dibocorkan oleh Abdullah bin Ubay, justru mereka orang muslim senang dengan wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dan berdiri untuk mengurus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, maka sayyidina Umar berkata : " Wahai Rasulullah, dia pimpinan munafik jangan engkau urus jenazahnya ", maka Rasulullah berkata: " biarkan aku wahai Umar ", maka Rasulullah lah yang memandikannya, Rasul yang mengkafaninya , Rasul yang menshalatinya, Rasul yang menurunkannya ke kuburnya, Rasul yang mendoakannya, lalu turunlah ayat

:وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ ( التوبة : 84 )"

Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik." ( QS. At Tawbah : 84 )

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ( التوبة : 80 )"

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." ( QS. At Tawbah : 80 )

Di dalam ayat ini ada makna yang tersembunyi, dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menukil makna syarh ayat ini bahwa Allah subhanahu wata'ala sangat mencintai nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi Muhammad tidak menentang Allah, beliau diciptakan oleh Allah penuh dengan sifat lemah lembut, maka Allah biarkan beliau mengurus jenazah Abdullah bin Ubay, dan setelah semua selesai barulah turun larangan dari Allah subhanahu wata'ala, maksudnya supaya orang munafik yang lain tau bahwa jenazah orang yang seperti itu tidak boleh dishalati sehingga mereka mau bertobat .

Kalau seandainya Allah subhanahu wata'ala betul-betul tidak menginginkannya, maka sebelum Rasulullah melakukannya pastilah dilarang tetapi justru Allah melarang setelah Rasulullah melakukannya, supaya menjadi pelajaran bagi orang munafik yang lainnya untuk tidak memusuhi dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu Rasulullah berkata kepada sayyidina Umar : " Wahai Umar, engkau lihat firman Allah bahwa aku tidak boleh memohonkan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul karena Allah tidak mau mengampuninya walaupun 70 kali aku memohonkan pengampunan, wahai Umar kalau aku tau bahwa Allah akan mengampuninya jika kumintakan pengampunan lebih dari 70 kali, maka akan kumintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul ", misalnya Allah menuntut harus 1000 kali nabi memintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay maka beliau akan mintakan pengampunan itu demi keselamatan Abdullah bin Ubay bin Salim dari kemurkaan Allah subhanahu wata'ala. Demikian mulianya sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahDan hubungan Rasulullah dengan mereka yang non muslim tetap baik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memusuhi orang-orang yang tidak memusuhi muslimin.

Ketika dalam perang Tabuk yang terjadi pada bulan Sya'ban, dimana raja Yohana telah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam walaupun dia tidak masuk Islam, namun dia tunduk kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajukan kepadanya untuk membayar jizyah ; seperti zakat tetapi untuk non muslim, jika untuk orang muslim disebut zakat dan untuk orang non muslim disebut Jizyah. Jizyah itu jauh lebih kecil dari zakat, maka sebagian orang non muslim berkata : " orang muslim kejam, orang non muslim kok harus bayar jizyah ", tidak demikian justru lebih ringan karena untuk orang muslim ada 7 macam zakat, diantaranya zakat fitrah, zakat tijarah, zakat tsimar, zakat ma'din, zakat rikaz, zakat hewan ternak, dan zakat emas dan perak, tetapi kalau non muslim hanya satu saja yang disebut dengan jizyah. Ketika dia ( raja Yohana ) telah membayar jizyah, maka Rasulullah menulis surat yang berisi : " Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Nabiyullah dan Rasulullah, dengan ini aku telah menuliskan dan mengamanatkan bahwa raja Yohana telah membuat perjanjian denganku, maka dia aman, hartanya, perahu-perahunya yang dan kendaraan-kendaraannya kesemuanya aman, dia aman di darat dan di laut dengan jaminan keselamatan Allah dan Rasul-Nya".

Rasulullah yang menjamin keselamatannya, Rasul yang menjamin ia agar terjaga dari gangguan-gangguan orang lain dan musuh-musuhnya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang Yahudi memohon izin untuk tinggal di rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasul izinkan, bukan melarangnya atau mengatakan : " kamu najis, tidak boleh masuk ke rumahku ",tidak demikian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka pemuda Yahudi itu pun tinggal bersama Rasul, duduk bersama Rasul, makan bersama Rasul, tidur seatap dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Kita mengetahui yang masuk ke rumah Rasul tidak sembarang orang, tetapi pemuda Yahudi ini bahkan tinggal bersama Rasul berkhidmah kepada beliau, membawakan makanan dan pakaian nabi tetapi beliau tidak memaksakannya untuk masuk kedalam Islam sampai pemuda itu sakit, ketika sakit ia pulang ke rumahnya dan tidak lagi datang ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasulullah menjenguknya ke rumahnya bukannya Rasul senang atau mengatakan : " baguslah orang non muslim itu keluar dan tidak lagi datang ke rumahku ", tidak demikian bahkan Rasul menjenguknya dan sesampainya beliau di rumah pemuda itu, beliau dapati pemuda itu sudah sakaratul maut, di saat itulah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan kepadanya : " katakan : " Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah ", maka pemuda itu melihat kepada ayahnya yang juga orang Yahudi apakah ayahnya mengizinkannya atau tidak untuk mengucapkan kalimat itu, maka ayahnya berkata : " Taatilah Abu Al Qasim ",

maka anaknya pun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah kemudian wafat, maka Rasulullah pun memakamkannya kemudian pulang ke rumah dengan wajah yang bersinar dan terang benderang bagaikan sinar bulan purnama karena begitu gembiranya . Maka para sahabat bertanya : " Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu gembira sehingga engkau terlihat begitu terang benderang ", maka Rasulullah berkata : " Aku sangat gembira karena Allah telah memberinya hidayah ".

Hadirin hadirat, orang yang paling menginginkan semua non muslim masuk Islam adalah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau mengetahui adab kepada Allah bahwa Allah lah yang memilihkan hidayah, mana yang dikehendaki dan mana yang belum dikehendaki Allah subhanahu wata'ala.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahMaka kita fahami rahasia keluhuran bagaimana Allah subhanahu wata'ala mencintai kekasih-kekasihNya, para nabi dan wali-Nya. Dan kita lihat dalam beberapa hari ini kita sudah kehilangan dua orang Al Arif Billah ; As Syaikh Muzhir bin Abdurrahman An Naziri Al Hasani dan Fadhilah As Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas 'alaihima rahmatullah wamaghfiratullah. Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda riwayat Shahih Al Bukhari

:يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً ( صحيح البخاري )“

Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun." ( Shahih Al Bukhari )

Akan terus wafat para shalihin satu persatu meninggalkan bumi, sampai nanti tersisa orang-orang yang tidak lagi peduli dengan Allah, dan Allah pun tidak peduli dengan keadaan mereka. Maka semoga Allah menumbuhkan lagi generasi shalihin yang baru, amin.

Hadirin hadirat, dan yang perlu saya sampaikan adalah agar kita selalu menjalin hubungan baik khususnya dengan Allah subhanahu wata'ala, dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sujud, memperbanyak kemuliaan, ingatlah beberapa hari lagi kita akan sampai ke bulan Ramadhan yang digelari dengan syahrussujud, bulan seribu sujud , karena kalau kita shalat tarawih setiap malam 20 raka'at dan witir 3 rakaat maka jumlahnya 23 raka'at, dalam 1 rakaat 2 kali sujud berarti jika tarawihnya setiap malam 20 rakaat maka setiap malam 40 sujud dikalikan 30 hari = 1200 sujud dalam satu bulan, itu shalat tarawihnya saja , belum lagi ditambah witir dan shalat sunnah yang lainnya, maka bulan Ramadhan itu digelari bulan seribu sujud karena muslimin melakukan shalat Tarawih di bulan itu sehinnga melakukan sujud lebih dari 1000 kali sujud. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ "

Allah mengharamkan api neraka memakan ( menyentuh ) bekas sujud " ( Shahih Al Bukhari )

Anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud tidak boleh disentuh oleh api neraka, demikian Allah haramkan kepada api neraka untuk tidak menyentuh anggota sujud. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim

:أَقْرَبُ اْلعَبْدُ إِلَى اللهِ مَنْزِلَةً وَهُوَ سَاجِدٌ “

Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT yaitu ketika dia sedang sujud”

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa sayyidina Tsauban Ra ditanya oleh para sahabat apakah amal yang paling dicintai Allah, maka ia diam sehingga para sahabat terus mendesaknya akhirnya ia pun berkata : " pertanyaanmu sudah pernah kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasulullah berkata :

" perbanyaklah sujud ",karena barangsiapa yang sujud satu kali sujud maka terangkatlah dosanya, dan derajatnya terangkat semakin dekat dengan Allah setiap kali ia sujud. Diriwayatkan oleh sayyidina Rabi'ah bin Ka'ab Ra dalam Shahih Muslim ia berkata :

" ketika aku berkhidmat kepada nabi selama berhari-hari, aku membawakan makanannya, minumannya, dan air wudhunya kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sampai ketika aku pamit maka beliau berkata :

" mintalah apa yang engkau inginkan dariku ", maka sayyidina Rabi'ah bin Ka'ab berkata :

" Wahai Rasulullah, aku meminta agar aku bisa bersamamu kelak di surga, sebagaimana aku menemanimu di dunia, aku ingin pula bisa menemanimu di surga ",maka Rasulullah menjawab :

" Bantulah aku untuk mendapatkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud ".

Hadirin hadirat, bulan Ramadhan adalah bulan suci semoga rahasia kemuliaan sujud berlimpah kepada kita, dan semoga Allah memuliakan kita dengan keluhuran sujud, dengan cahaya sujud dan kesejukan sujud. Bukakan bagi kami kelezatan sujud, keindahan sujud sehingga kami asyik bersujud mensucikan nama-Mu wahai Yang Pada-Mu kami bersujud, sebagaimana telah Engkau tundukkan kami untuk hanya sujud kepada-Mu, maka tundukkan hati kami untuk tidak tunduk dan sujud kecuali hanya kepada-Mu wahai Allah, jadikanlah penolong kami adalah dzat-Mu , jadikanlah penolong kami adalah Rasul-Mu, jadikanlah penolong kami adalah para shalihin-Mu Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah limpahkan keberkahan kepada kami di bulan Sya'ban dan sampaikan kami pada keberkahan bulan Ramadhan. Ya Rahman Ya Rahim muliakan semua yang hadir di malam hari ini, dan jangan satu pun dari hajat kami yang tertolak, arahkan takdir kami selalu kepada keluhuran dan kebahagiaan , jangan sampai arah takdir kami menuju musibah dan kesusahan kecuali Engkau palingkan arah takdir kami, arah kehidupan kami kepada hal-hal yang Engkau ridha, kepada hal-hal yang Engkau cinta, kepada hal-hal yang Engkau muliakan, dan limpahkanlah rahmat dan kemuliaan lebih dari yang aku minta, limpahilah hajat lebih dari yang kami mohon, Engkau selalu memberi lebih dari yang kami minta, jika aku beramal dengan satu amal maka Engkau membalasnya dengan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat, kami meminta satu doa maka berilah kami sepuluh hajat hingga tujuh ratus hajat, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dazttawli wal In'am …

Selanjutnya saya mohonkan kesediaannya untuk mengikuti tahlil dan doa untuk ayahanda saya Fadhilah As Sayyid Al Maghfur Al Habib Fuad bin Abdurrahman bin Ali Al Musawa, di masa kecil saya kalau membaca Al qur'an saya selalu dipanggil dan didudukkan di pangkuannya, di saat itu saya belum mengetahui maknanya tetapi saya tidak boleh bermain kecuali harus berada di dekat beliau saat beliau membaca Al Qur'an, beliau selalu menghadiahkan hafalan Al Qur'an untuk kesemua anaknya dan selalu mendoakan mereka. Ketika saya akan berangkat ke Yaman tahun 1994 , beliau sangat berat dan sedih untuk melepas keberangkatan saya, beliau hanya memberikan tangannya untuk saya menciumnya lantas saya meninggalkan beliau, terlihat beliau membuang muka menandakan tidak ridha, tetapi ketika saya hampir naik ke mobil, beliau membuka pintu rumah dari jauh beliau melihat saya dengan berlinang air mata, ternyata beliau memalingkan wajah ketika saya akan pergi bukan berarti tidak ridha tetapi beliau tidak ingin saya melihat air mata beliau mengalir karena sedih untuk berpisah karena setelah itu saya tidak berjumpa lagi dengan beliau ,itulah pemandangan terakhir saya melihat beliau, ketika saya di Yaman beliau sudah wafat. Semoga Allah subhanahu wata'ala memuliakan beliau, amin. Mari kita membacakan tahlil untuk beliau dan juga untuk As Syaikh Mudh-hir bin Abdurrahman An Nadhiri Al Hasani dan Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas

Sumber : majelisrasulullah.org

Abu al-Abbas al-Mursi

Khalifah besar thariqah syadziliyah

Nama dan Nasabnya :
Wali Qutb kita ini adalah al-Imam Syihabuddin Abu al-Abbas, Ahmad bin Umar al-Anshory, al-Mursi radiallahu 'anhu. sebagian ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa nasab beliau sampai pada sahabat Sa'ad bin Ubadah radiallahu 'anhu pemimpin suku Khazraj. Al-Mursi dilahirkan tahun 616 H (1219 M) di kota Marsiyyah, salah satu kota di Andalus Spanyol.

Masa kanak-kanak al-Mursi
Al-Mursi melewatkan masa kecilnya yang penuh berkah di tanah kelahirannya itu. Lazimnya seorang alim dan pendidik, ayahnya mengirim al-Mursi kecil kepada salah satu waliyullah untuk membimbing menghapal Alquran dan mengajarinya ilmu-ilmu agama. Secepat kilat ia terlihat kehebatan dan kecerdasannya. Lebih dari itu ia yang masih sekecil itu telah memperoleh anugrah Allah berupa cahaya ilahi yang merasuk dalam kalbunya. Suatu ketika al-Mursi bercerita : "Ketika aku masih usia kanak-kanak aku mengaji pada seorang guru. Aku menorehkan coretan pada papan. Lalu guru tadi mengatakan :" seorang sufi tidak pantas menghitamkan yang putih". Seketika aku menjawab : "permasalahannya bukan seperti yang Tuan sangka. Tapi yang benar adalah seorang sufi tidak pantas menghitamkan putihnya lembaran hidup dengan noda dan dosa".
Al-Mursi kecil juga mengatakan: "ketika aku masih kanak-kanak, di sebelah rumahku ada tukang penguak rahasia (peramal) lalu aku mendekatinya. Besoknya aku datang ke guruku yang termasuk waliyullah. Maka guruku itu mengatakan padaku satu syair: "Wahai orang yang melihat peramal sembari terkesima. Dia sendiri sebetulnya peramal, kalau dia merasa.

Masa muda
Al-Mursi meneruskan hidupnya pada jalan cahaya ilahi sampai menginjak dewasa. Semakin hari semakin tambah ketakwaan dan keimanannya. Ayahnya melihatnya sebagai kebanggaan tersendiri. Maka dia dipercaya oleh ayahnya untuk mengelola perdagangannya bersama saudaranya Muhammad Jalaluddin. Dengan begitu, ia telah mengikuti jejak orang-orang saleh dalam hal menggabungkan antara ibadah dan mencari rizqi. Demi menjaga amanat ini ia rela berpindah-pindah tempat dari kota Marsiyah ke kota lainnya untuk berniaga, sambil hatinya berdetak mengingat Allah SWT.


Pada tahun 640 H kedua orang tuanya bersama seluruh keluarga berkeinginan menunaikan ibadah haji. Tapi sayang, takdir berbicara lain. Sesampainya di pesisir Barnih, kapal mereka terkena gelombang. Banyak penumpang kapal yang meningal termasuk kedua orang tuanya. Singkat cerita al-Mursi muda dan saudaranya melanjutkan perjalannya ke Tunis untuk berdagang, meneruskan usaha ayahya.


Pertemuan dengan al-Syadziliy
Al-Mursi menceritakan perjumpaannya dengan Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzily sebagai berikut: "Ketika aku tiba di Tunis, waktu itu aku masih muda, aku mendengar akan kebesaran Syaikh Abu al-Hasan. Lalu ada seseorang yang mengajakku menghadap beliau. Maka aku jawab : "aku mau beristikharah dulu"! Setelah itu aku tertidur dan bermimpi melihat seorang lelaki yang mengenakan jubah (Burnus) hijau sambil duduk bersila. Di samping kanannya ada seorang laki-laki begitu juga di samping kirinya. Aku memandangi lelaki nan berwibawa itu. sejurus kemudian lelaki itu berkata : "aku telah menemukan penggantiku sekarang"! Di saat itulah aku terbangun.


Selesai menunaikan sholat subuh, seseorang yang mengajakku mengunjungi Syaikh Abu al-Hasan datang lagi. Maka kami berdua pergi ke kediaman Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili. Aku heran begitu melihatnya. Syekh yang ada di hadapanku inilah yang aku lihat dalam mimpi. Dan keherananku semakin menjadi ketika Syekh Abul Hasan berkata padaku: "Telah aku temukan penggantiku sekarang". Persis seperti dalam mimpiku. Selanjutnya beliau bilang : "siapa namamu ?" Lalu aku sebutkan namaku. Dengan tenang dan penuh kewibawaan beliau berujar : "Engkau telah ditunjukkan padaku semenjak 20 tahun yang lalu!".


Semenjak kejadian itu al-Mursi terus mendapatkan wejangan-wejangan dari gurunya Syaikh Abu al-Hasan ini. Mereka berdua membangun pondok (Zawiyyah) Zaghwan di daerah Tunis, di mana as-Syadzili menyebarkan ilmu kepada murid-murid-muridnya yang beraneka ragam latar belakang dan profesinya. Ada dari kalangan ulama', pedagang juga orang awam.


Syaikh al-Syadzili sebetulnya sudah lama meninggalkan Tunis. Ia pergi ke Iskandariyah kemudian ke Mekkah. Kembalinya ke Tunis lagi ini membuat orang bertanya-tanya. Dalam hal ini dia menjawab : "Yang membuatku kembali lagi ke Tunis tidak lain adalah laki-laki muda ini (maksudnya Abul 'Abbas al-Mursi)". Setelah itu Al-Syadzily kembali lagi ke Iskandariah, karena ada perintah dari Nabi Muhammad SAW dalam mimpinya.


Ada cerita dari al-Mursi tentang perjalanan ke Iskandariah ini : "Ketika aku menemani Syaikh dalam perjalanan menuju ke Iskandariah, aku merasa sangat susah sehingga aku tidak mampu menanggungnya. Lalu aku menghadap Syaikh. Ketika beliau melihat penderitaanku ini, beliau berkata: "Hai Ahmad...!", aku menjawab: "Iya tuanku", Beliau berkata: "Allah telah menciptakan Adam alaihis salam dengan tangan-Nya, dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud padanya. Allah kemudian menempatkannya di dalam surga, lalu menurunkannya ke bumi,. Demi Allah... Allah tidak menurunkannya ke bumi untuk mengurangi derajatnya, tapi justru untuk menyempurnakannya. Allah telah menggariskan penurunannya ke bumi sebelum Dia menciptakannya, sebagaimana firmannya "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".. (QS. 2:30). Allah tidak mengatakan di langit atau di surga. Maka turunnya Adam ke bumi adalah untuk memuliakannya bukan untuk merendahkannya, karena Adam menyembah Allah di surga dengan di beri tahu (Ta'rif) lalu diturunkan ke bumi supaya beribadah pada Allah dengan kewajiban (Taklif), ketika dia telah mendapatkan kedua ibadah tadi, maka pantaslah dia menyandang gelar pengganti (Khalifah). Engkau ini juga punya kemiripan dengan Adam. Mula-mula kamu ada di langit ruh, di surga pemberitahuan (Ta'rif) lalu engkau diturunkan ke bumi nafsu supaya engkau menyembah dengan kewajiban (Taklif). Ketika engkau telah sempurna dalam kedua ibadah itu pantaslah engkau menyandang gelar pengganti (Khalifah)".


Begitulah Syaikh Al-Syadzili mengantarkan Al-Mursi menuju ke jalan Allah demi memenuhi hatinya dengan rahasia-rahasia ilahiyah supaya kelak bisa menggantikannya, bahkan bisa dikatakan supaya dia jadi Abu al-Hasan itu sendiri. Sebagaimana Al-Syadzili sendiri pernah mengatakan : "Wahai Abu al-Abbas... demi Allah., aku tidak mengangkatmu sebagai teman kecuali supaya kamu itu adalah saya, dan saya adalah kamu. Wahai Abu al-Abbas.. demi Allah, apa yang ada dalam diri para wali itu ada dalam dirimu, tapi yang ada pada dirimu itu tidak ada dalam diri para wali lainnya".


Persatuan antara keduanya ini di jelaskan oleh Ibn Atho'illah al-Askandari: "Suatu ketika Syaikh al-Syadzili ada di rumah Zaki al-Sarroj, sedang mengajar kitab al-Mawaqif karangan al-Nafari, lalu beliau bertanya: "Kemana Abu al-Abbas?" Ketika Syaikh al-Mursi datang, beliau berkata: "Wahai anakku... bicaralah! Semoga Allah memberkahimu... bicaralah ! jangan diam", maka Syaikh Abu al-Abbas mengatakan: "Lalu aku di beri lidah Syaikh mulai saat itu".
Pada banyak kesempatan Syaikh al-Syadzili memuji ketinggian kedudukan Syaikh al-Mursi, beliau mengatakan: "Inilah Abu al-Abbas, semenjak dia sampai pada ma'rifatullah tidak ada halangan antara dirinya dan Allah SWT. Kalau saja dia meminta untuk ditutupi, pasti permintaan itu tidak akan dikabulkan.


Ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Syaikh Zakiyyuddin al-Aswani, Syaikh al-Syadzili bekata: "Wahai Zaki... berpeganglah pada Abu al-Abbas, karena demi Allah, semua wali telah ditunjukkan oleh Allah akan diri Abu al-Abbas ini. Hai Zaki... Abu al-Abbas itu seorang laki-laki yang sempurna".


Hal yang sama juga terjadi ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Nadli bin Sulton. Syaikh al-Syadzily mengatakan: "Wahai Nadli... tetaplah bersopan santun pada Abu al-Abbas! Demi Allah, dia itu lebih tahu lorong-lorong langit, dibanding pengetahuanmu akan lorong-lorong kota Iskandariah"! As-Syadzili juga mengatakan: "Kalau aku mati, maka ambillah al-Mursi, karena dia adalah penggantiku, dia akan mempunyai kedudukan tinggi di hadapan kalian, dan dia adalah salah satu pintu Allah".


Ilmu al-Mursi
Imam Sya'roni menceritakan bahwa suatu ketika ada seseorang yang mengingkari keilmuan Syaikh al-Mursi. Orang tersebut mengatakan: "berbicara tentang ilmu yang ada itu hanya ilmu lahir, tetapi mereka, orang-orang sufi itu mengaku mengetahui hal-hal yang diingkari oleh syara'". Di kesempatan yang lain orang ini menghadiri majlis Syaikh al-Mursi. Tiba-tiba dia jadi bingung hilang kepintarannya. Seketika itu juga ia tidak mengingkari adanya ilmu batin. Dengan sadar dan penuh sesal ia berkata : "Laki-laki ini sungguh telah mengambil lautan ilmu Tuhan dan tangan Tuhan". Akhirnya dia menjadi salah satu murid dekat al-Mursi. Abu al-Abbas mengatakan : "Kami orang-orang sufi mengkaji dan mendalami bersama ulama' fiqih bidang spesialisai mereka, tapi mereka tidak pernah masuk dalam bidang spesialis kami".
Rupanya kealiman al-Mursi tidak terbatas pada ilmu fiqh dan tasawuf. Ibnu Atho'illah menceritakan dari Syaikh Najmuddin al-Asfahani : "Syaikh Abu al-Abbas berkata padaku: "Apa namanya ini dan itu dalam bahasa asing?" Tersirat dalam hatiku bahwa Syaikh ingin mengetahui bahasa ajam maka aku ambilkan kamus terjemah. Beliau bertanya: " Kitab apa ini?", Aku jawab : "Ini kitab kamusnya". Lalu Syaikh tersenyum dan berkata: " Tanyakan padaku apa saja, terseserah kamu, nanti aku jawab dengan bahasa arab, atau sebaliknya". Lalu aku bertanya dengan bahasa asing dan beliau menjawab dengan memakai bahasa Arab. Kemudian aku bertanya dengan bahasa Arab, beliau menjawab dengan bahasa asing. Beliau berkata: " Wahai Abdullah... ketika aku bertanya seperti itu tidak lain adalah sekedar basa-basi bukan bertanya sesungguhnya. Bagi wali tidak ada yang sulit, bahasa apapun itu.


Dalam penafsiran ayat "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan. "(QS. 1:5), al-Mursi menafsiri sebagai berikut, "Hanya Engkaulah yang kami sembah maksudnya adalah Syariah, dan hanya kepada-Mulah kami memohon adalah Haqiqoh. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Islam, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Ihsan. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Ibadah, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Ubudiyyah. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Farq, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Jam'.

Karomah Kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menyebabkan ia banyak mempunyai karomah, di antaranya:


• Al-Mursi telah mengabarkan siapa penggantinya setelah ia meninggal. Orang itu adalah Syaikh Yaqut al-Arsyi yang lahir di negeri Habasyah. Suatu ketika ia meminta murid-muridnya agar membuat A'sidah (sejenis makanan). Iskandariah pada saat itu tengah musim panas. Karena heran ada seseorang yang bertanya : "Bukankah A'sidah itu untuk musim dingin ?". Dengan tenang al-Mursi menjawab : " A'sidah ini untuk saudara kalian Yaqut orang Habasyah. Dia akan datang kesini ".
• Ada seseorang yang datang menghadap al-Mursi dengan membawa makanan syubhah (tidak jelas halal-haramnya) untuk mengujinya. Begitu melihat makanan itu al-Mursi langsung mengembalikannya pada orang tersebut sambil berkata: "Kalau al-Muhasibi hendak mengambil makanan syubhah otot tangannya bergetar, maka 60 otot tanganku akan bergetar" .
• Pada suatu masa perang, penduduk Iskandariah semua mengangkat senjata untuk berjaga-jaga menghadapi serangan musuh. Demi melihat hal ini, Syaikh al-Mursi mengatakan: " Selama aku ada ditengah-tengah kalian, maka musuh tidak akan masuk". Dan memang musuh tidak masuk ke Iskandariah sampai Abu-al Abbas al-Mursi meninggal dunia.