Wednesday, August 11, 2010

Kitab Kimyatusy- Sya'adah - Imam Al-Ghazali (4)

MENGENAL DUNIA INI
Dunia ini adalah ibarat pasar yang dilewati oleh pengembara dalam perjalanannya menuju ke suatu tempat. Di sinilah pengembara itu mengumpulkan bekal untuk perjalanannya. Pendeknya di sinilah manusia itu dengan menggunakan indera jasmaninya, memperolehi sedikit sebanyak pengetahuan tentang kerja-kerja Alloh, dan melalui pengetahuan itu untuk Mengenal Alloh. Pandangan terhadap Alloh inilah yang menentukan kebahagiaan dan keselamatan di hari kemudian, karena untuk mendapatkan Ilmu Pengetahuan inilah, maka manusia turun ke dunia dan tanah ini. Selagi inderanya ada bersama dengannya, orang itu dikatakan berada "dalam dunia ini". Apabila indera ini meninggalkan jasad dan hanya sifat-sifatnya yang perlu saja yang tertinggal. maka orang itu dikatakan telah kembali "ke akhirat".


Semasa manusia itu berada dalam dunia ini, dua hal perlu baginya.
Pertama , melindungi dan mengasuh(memelihara) Ruhnya dan
Keduanya , memelihara dan menyelenggara tubuhnya.
Makanan Ruh itu seperti yang tersebut sebelum ini, ialah Mengenal dan Cinta kepada Alloh.
Jika cinta itu ditumpukan sepenuhnya kepada " ghair Alloh" (selain Alloh), maka binasalah Ruh itu. Tubuh itu hanya ibarat binatang tunggangan bagi Ruh. Tubuh itu akan hancur tetapi Ruh tetap hidup. Ruh itu sepatutnya memelihara tubuh. Ibarat orang yang hendak mengerjakan Haji ke Mekah, ia perlu memelihara untanya, tetapi jika ia menghabiskan masa dengan memberi makan dan menghias untanya saja, maka kafilah akan meninggalkan ia di belakang dan binasalah ia di padang pasir.

Keperluan tubuh manusia itu terbagi kepada tiga saja yaitu makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi keinginan tubuh yang ada pada seseorang untuk mendapatkan tiga hal itu cenderung melawan akal dan melebihkan dari tiga hal itu. Oleh itu, perlulah kemauan itu disekat dan dibatasi dengan undang-undang syariat yang dibawa oleh Rasul-Rasul.

Berkenaan dunia ini pula, di mana kita tinggal , terbagi kepada tiga - yaitu binatang, tumbuh-tumbuhan dan galian (logam). Hasil ketiga hal ini sentiasa diperlukan oleh manusia dan melahirkan tiga pekerjaan yang utama pada manusia yaitu :
• Kerja Menenun,
• Kerja Membina dan
• Kerja-kerja Logam.


Ini pula terbagi kepada beberapa cabang lagi seperti Tukang Jahit, Tukang Batu, Tukang Besi dan lain-lain lagi. Tidak ada yang bebas sendiri, perlu saling berkaitan. Maka timbullah perhubungan dan perkaitan perdagangan dan perniagaan.
Di sini timbul pula keadaan-keadaan yang menerbitkan Hasad, Dengki, Tamak, loba dan berbagai-bagai penyakit Jiwa(Ruh). Dengan itu timbul pula pertengkaran dan persengketaan serta keperluaan untuk berpolitik, berkerajaan dan pengetahuan tentang undang-undang.

Oleh yang demikian, pekerjaan dan perdagangan di dunia ini makin bertambah rumit dan kusut dan kompleks. Ini karena manusia telah lupa bahwa keperluan mereka yang utama adalah hanya tiga hal saja yaitu pakaian, makanan dan tempat tinggal.
Diri ini hanya bertujuan untuk menjadikan tubuh itu layak bagi tunggangan Ruh dalam perjalanan menuju ke akhirat. Mereka telah sama terlena seperti orang yang pergi ke Mekah, mereka telah lupa tujuan perjalanan dan dirinya sendiri, lalu menghabiskan masa memberi makan dan menghias untanya. Manusia pasti terpesona dan terpikat oleh dunia kecuali ia berhati-hati benar supaya tidak tergoda. Nabi ada bersabda mengatakan bahwa dunia ini ibarat Tukang Sihir yang lebih pintar dari Harut dan Marut.

Dunia ini menipu kita dengan cara sebagai berikut :
Pertama, ia berpura-pura kekal bersama kita padahal sebenarnya ia sentiasa berlalu saat demi saat sambil melambaikan tangan mengatakan Selamat Tinggal kepada kita, seperti bayang-bayang yang nampaknya tetap tetapi sebenarnya bergerak.
Kedua, Dunia ini berpusing seperti seperti Ahli Sihir yang menarik tetapi jahat. Ia berpura-pura Cinta kepada kita, suka kepada kita, tetapi kemudian ia pergi kepada musuh dan meninggalkan kita manusia kesedihan dan putus asa. Nabi Isa Alaihissalam melihat dunia ini seperti bentuk nenek berkebaya tua yang buruk. Beliau bertanya kepada dunia itu berapakah suami yang ia ada. Dunia itu menjawab suaminya tidak terkira banyaknya. Beliau bertanya lagi adakah suaminya itu telah mati atau telah diceraikan. Katanya semua mereka itu telah dibunuhnya.
Nabi Isa Alaihissalam berkata :
"Aku heran kenapa manusia bodoh, telah melihat bagaimana anda melakukan kekejaman itu namun masih juga mereka suka dan cinta kepada anda".


Nenek berkebayan yang jahat ini memakai pakaian yang indah-indah dan menutup mukanya. Kemudian ia pergi menggoda manusia. Banyaklah manusia yang tergoda dan tertipu dan dibinasakannya. Nabi SAW. pernah bersabda bahwa di hari Qiyamat kelak, dunia ini akan berupa dengan bentuk Ahli Sihir, matanya hijau dan giginya menonjol keluar. Orang yang melihatnya akan berkata :
"Kasihanilah kami! Siapakah ini?"
Malaikat akan menjawab;
"Inilah dunia yang kamu perbuat dan pertengkarkan, yang kamu bunuh-membunuh dan sembelih-menyembelih antara satu sama lain".
Kemudian dia akan dilemparkan ke Neraka dan di situlah ia akan menjerit :
Oh Tuhan!!! Di manakah mereka yang mencintai aku dahulu".
Kemudian Alloh perintahkan mereka itu dilemparkan juga ke dalam Neraka itu.
Barangsiapa bertafakur dengan serius bahwa dahulunya dunia ini tidak wujud dan di masa akan datang ia akan hilang sirna, maka nampaklah ia bahwa dunia ini ibarat perjalanan di mana peringkat-peringkatnya berupa tahun, bulan dan batunya dengan harinya, dan langkahnya dengan saat. Tidak dapat hendak diceritakan bagaimana ruginya mereka yang menganggap dunia ini tempat kediamannya yang kekal dan membuat rancangan untuk sepuluh tahun yang akan datang pada mungkin ia akan berada dalam kubur dalam tempo sepuluh hari lagi. Siapa tahu ??.

Siapa yang meninggalkan dirinya dalam lautan keindahan dunia fana ini, di masa matinya akan jadi seperti orang yang menyumbatkan mulut dan perutnya dengan makanan dan kemudian ia memuntahkan semula. Kelazatannya hilang sirna. Yang tertinggal hanyalah dan aib.

Makin banyak harta-benda, uang, rumah dan taman yang indah dimilikinya, makin pedih dan payahlah ia hendak meninggalkan semua itu. Kepedihan dan kesusahan ini akan dibawa hingga selepas mati karena jiwa yang sudah biasa dengan nafsu dunia itu akan menjadi sombong juga selepas mati dan di Akhirat kelak akan merasakan kesusahan dan kepedihan karena kemauan dan keinginan yang tidak merasa puas.
Satu daripada ciri atau sifat hal keduniaan ini ialah pada mulanya nampak seperti hal kecil saja, tetapi tiap-tiap hal yang nampak "kecil" ini bercabang hingga tidak terhingga lagi banyaknya, hingga ia menelan dan membolot seluruh masa dan tenaga manusia itu.

Nabi Isa Alaihissalam pernah berkata :
"Orang yang cinta kepada dunia itu ibarat orang yang
meminum air laut, makin diminum makin haus hingga akhirnya ia binasa, namun dahaga tidak juga hilang".
Nabi SAW. pernah bersabda;
"Tidaklah kamu bercampur dengan keduniaan itu melainkan kamu dikotori sebagaimana orang yang masuk ke air, pasti akan basah".
Dunia ini ibarat meja yang di atasnya ada hidangan untuk tamu yang datang silih berganti. Di atasnya ada pinggan mangkuk emas dan perak, penuh dengan makanan yang sedap-sedap, dan bau-bauan yang harum mewangi. Tetapi seorang yang bijak akan makan seperlunya, menghirup wangi-wangian itu, mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, dan kemudian pergi.

Tetapi tamu yang bodoh, sebaliknya hendak membawa pulang pinggang mangkuk emas dan perak itu, tetapi benda-benda itu dirampas balik darinya. Ia suruh pergi. Maka malu dan hina serta putus asa saja yang diperolehnya.

Sekarang kita tutup penerangan kita tentang tipu muslihat dunia ini dengan ibarat yang berikut. Katalah sebuah kapal tiba di sebuah pulau yang penuh sesak dengan penumpang. Nakhoda kapal itu memberitahu penumpang-penumpang kapal itu ia hendak singgah bebarapa jam saja di pulau itu, dan mereka boleh naik ke pantai untuk sementara waktu tetapi jangan terlampau lama. Maka turunlah penumpang-penumpang itu ke pantai dan masing-masing pergi ke sana dan kemari sesuka hatinya.
Orang yang bijak di antara mereka itu akan kembali ke kapal dalam masa yang singkat saja dan apabila melihat kapal itu lapang mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk duduk.

Kumpulan penumpang yang kedua pula berjalan ke sana ke mari lama sedikit sambil menikmati keindahan pokok-pokok dan bunga-bunga dan mendengar burung-burung menyanyi. Setelah kembali ke kapal, mereka mendapatkan tempat-tempat yang baik di kapal itu telah diduduki dan terpaksalah mereka berpuas hati dengan tempat yang kurang nyaman itu.

Kumpulan yang ketiga berjalan dan bersiar makin jauh di pulau itu dan mereka membawa batu-batu yang beraneka warna untuk dibawa ke kapal. karena mereka lambat kembali ke kapal itu, terpaksalah mereka duduk di tempat-tempat yang kurang baik di dalam perut kapal itu. Mereka dapati batu yang berkilauan yang mereka bawa itu telah hilang kilauan dan warna-warninya.

Kemudian yang terakhir pula telah merayau-rayau terlalu jauh ke tengah pulau itu hingga tidak sadar masa untuk belayar telah hampir tiba dan tidak pula mendengar panggilan nakhoda itu karena mereka terlampau jauh. Maka terpaksalah kapal itu belayar lagi tanpa mereka. Maka menyesalah mereka dengan putus asa dan dukacita dan akhirnya binasalah mereka karena dahaga dan kepalaran ataupun dimakan oleh binatang-binatang buas.

Kumpulan pertama itu ibarat orang-orang yang beriman yang menjauhkan diri dari pengaruh keduniaan; dan kumpulan yang terakhir ialah ibarat orang-orang kafir yang hanya memandang dunia ini saja dan lupa akhirat. Dua golongan yang di antara itu adalah mereka yang memelihara Imannya mereka tetapi mengikut kata hati dengan mengurangi hal-hal yang tidak berfaedah di dunia ini.
Meskipun kita telah bercakap banyak mengecam dunia ini, tetapi hendaklah diingat bahwa ada juga hal-hal di dunia ini yang bukan terdiri dari benda keduniaan, seperti Ilmu Pengetahuan dan Amal Sholeh. Manusia akan membawa bersamanya apa-apa Ilmu yang ia punyai masuk ke Alam Akhirat.

Meskipun amal sholehnya telah berlalu, namun kesannya tetap tinggal dalam wataknya atau keperibadiannya khususnya dalam hal peribadatan, yang menghasilkan Cinta kepada Alloh dan mengenangNya sentiasa. Inilah sebagian dari "hal-hal yang baik" yang tersebut di dalam Al-Qur'an sebagai berikut :

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Hujurat:7)
Lain-lain hal baik dalam dunia ini, seperti nikah, makanan, pakaian dan sebagainya digunakan oleh orang-orang yang bijaksana menurut kadarnya kerena ini semua menolongnya untuk mencapai ke Alam akhirat. Apa saja yang menarik seluruh perhatian hati yang menyebabkan tertambat ke dunia ini dan lupa ke Akihrat, adalah sebenarnya jahat semata-mata. Ini diibaratkan oleh Nabi SAW demikian;
"Dunia ini celaka dan semua hal dalam dunia ini celaka, kecuali Zikir Alloh (mengenang Alloh) dan apa-apa saja yang membantu (untuk mengingati Alloh) ”
Firman Alloh SWT dalam Al-Quran :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (Zikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah (Zikir) hati menjadi tenteram.(AR RAD:38
)


Kitab Sirrul Assrar-Syeikh Abdul Qadir Jailani (5)

6.TEMPAT ROH-ROH DI DALAM BADAN

Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat ini berhubung dengan pancaindera dan deria-deria. Urusan atau bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah . Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bertindak menurut kewajipan yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatannya sendiri kerana dia tidak berpisah dengan Allah. Perbuatannya daripada Allah; tidak ada perpisahan di antara ‘aku' dengan Allah di dalam tindakan dan ketaatannya. “Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan sesuatu dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).

Allah adalah esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mahu semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak dikongsikan dengan apa sahaja. Jadi, seseorang tidak memerlukan kelulusan atau halangan daripada sesiapa pun di dalam pengabdiannya kepada Tuhannya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi. Semuanya semata-mata kerana Allah. Suasana yang dihasilkan oleh petunjuk Ilahi seperti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak, hakikat di sebalik yang nyata, kehampiran dengan Pencipta, semuanya adalah ganjaran bagi amalan kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa mementingkan diri sendiri.

Namun, semuanya itu di dalam taklukan alam benda, daripada bumi yang di bawah tapak kaki kita sehinggalah kepada langit-langit. Termasuk juga di dalam taklukan alam dunia ialah kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air, terbang di udara, berjalan dengan pantas, mendengar suara dan melihat gambaran dari tempat yang jauh atau boleh membaca fikiran yang tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amalan yang baik manusia juga diberikan nikmati di akhirat seperti syurga, khadam-khadam, bidadari, susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati syurga tingkat pertama, syurga dunia.

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan' ialah di dalam hati. Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah. Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak termasuk di dalam sempadan suara dan huruf. Jadi, ia tidak boleh disebut. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan bagi Allah jualah nama-nama yang baik, jadi serulah Dia dengan nama-nama tersebut”. (Surah A'raaf, ayat 180).
Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang. Jika mampu memperolehi pengetahuan yang demikian dia akan sampai kepada makam makrifat. Di samalah pengetahuan tentang nama keesaan sempurna.

Nabi s.a.w bersabda, “ Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh sembilan nama, siapa mempelajarinya akan masuk syurga” . Baginda s.a.w juga bersabda, “Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya seribu” . Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya.

Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lengkungan sumber pengakuan tauhid “La ilaha illa Llah” . Tiap satunya adalah satu daripada dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi mengurniakan nama masing-masing bagi setiap huruf di dalam perkembangan hati. Setiap satu daripada empat alam yang dilalui oleh roh terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Firman-Nya: “
Allah tetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di Penghidupan dunia dan akhirat”. (Surah Ibrahim, ayat 27).

Kemudian dikurniakan kepada mereka kehampiran-Nya. Dia sediakan pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah adakan misal, satu kalimah yang baik seperti pohon yang baik, pangkalnya tetap dan cabangnya ke langit . (Surah Ibrahim, ayat 24).

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan' adalah di dalam nyawa kepada hati. Alam malaikat berterusan di dalam penyaksiannya. Ia boleh melihat syurga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat di dalamnya. Kalam ‘roh peralihan' adalah bahasa alam batin, tanpa huruf tanpa suara. Perhatiannya berterusan menyentuh soal-soal rahsia-rahsia maksud yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah syurga Na'im, taman kegembiraan kurniaan Allah.

Tempat ‘roh sultan' di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi s.a.w bersabda, “Ilmu ada dua bahagian. Satu pada lidah, yang membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu bagi menyedarkan tujuan seseorang”. Ilmu yang sebenar-benarnya bermanfaat berada di dalam sempadan kegiatan hati. Nabi s.a.w bersabda, “Quran yang mulia mempunyai makna zahir dan makna batin” . Allah Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya kerana ia semakin hampir dengan sumber yang sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah umpama dua belas mata air yang memancar dari batu apabila Nabi Musa a.s menghentamkan batu itu dengan tongkatnya.
“Dan (ingatlah) tatkala Musa mintakan air bagi kaumnya, maka Kami berkata, ‘Pukullah batu itu dengan tingkat kamu'. Lantas terpancar daripadanya dua belas mata air yang sesungguhnya setiap golongan itu mengetahui tempat minumnya”. (Surah Baqarah, ayat 60) .
Pengetahuan zahir adalah umpama air hujan yang datang dan pergi sementara pengetahuan batin umpama mata air yang tidak pernah kering. “Dan satu tanda untuk mereka, ialah bumi yang mati (lalu) Kami hidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, lalu mereka memakannya”. (Surah Yaa Sin, ayat 33).


Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan kepada kehaiwanan di dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan, makanan roh. Bijian itu dijiruskan dengan air dari sumber hikmah. Nabi s.a.w bersabda, “Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam keikhlasan dan kesucian sumber hikmah akan memancar dari hatinya kepada lidahnya”.

Nikmat bagi ‘roh sultan ialah kelazatan dan kecintaan yang dinikmatinya dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah: “Dia telah diajar oleh yang bersangatan kekuatannya, yang berupa bagus, lalu ia menjelma dengan sempurnanya padahal ia di pehak atas yang paling tinggi. Kemudian ia mendekati rapat (kepadanya), maka adalah (rapatnya) itu kadar dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Ia wahyukan kepada hamba-Nya apa yang Ia mahu wahyukan. Hatinya tidak mendusta apa yang dia lihat”. (Surah Najmi, ayat 5 – 11).

Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, “Yang beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang sejahtera)” . Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain daripada Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam Quran sebagai Yang Mensejahterakan. “Dia jualah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia…Yang Mensejahterakan (Pemelihara iman), Pemelihara segala-galanya” . (Surah Hasyr, ayat 23).

Kediaman ‘roh sultan' di akhirat ialah syurga Firdaus, syurga yang tinggi.
Setesen di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahsia yang Allah buatkan untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahsia-Nya (Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh Allah melalui pesuruh-Nya:
“Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya”.

Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperolehi dengan mencapai keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama keesaan di dalam bahasa rahsia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi di luar.

“Dan jika engkau nyaringkan perkataan, maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”. (Surah Ta Ha, ayat 7)
Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui keadaannya.
Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama. Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian rahsia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikanya. Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai esa dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya.
Bila manusia temui matlamatnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal asbab, pertimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat, lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut kerana Allah tidak menyerupai sesuatu.

Bila apa yang diperkatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu, mula-mula cubalah memahami tahap pengetahuan sendiri. Tumpukan perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum mencari peringkat baharu, semoga mereka memperolehi pengetahuan tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi. Semoga mereka tidak menafikan apa yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat, kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan.

Tuesday, August 10, 2010

Abu Nawas : Cara Memilih Jalan

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata
ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa
memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke
rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Abu Nawas tidak keberatan.
Mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambil
bercengkrama.
Tak terasa mereka telah menempuh hampir separo perjalanan. Kini mereka
tiba di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan penduduk. Mereka berhenti
karena mereka ragu-ragu. Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke
hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang
dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.
Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karena
bila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali. Bukankah
lebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan? Tetapi salah
seorang dari mereka tiba-tiba berkata,

"Aku mempunyai dua orang sahabat yang tinggal dekat semak-semak sebelah
sana. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa
membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selalu
berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka
adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan
saja."
"Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar?"
tanya Abu Nawas.
"Tidak." jawab kawan Abu Nawas singkat.
"Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak." usul Abu Nawas.
Abu Nawas makan daging dengan madu bersama kawan-kawannya.
Seusai makan mereka berangkat menuju ke rumah yang dihuni dua orang
kembar bersaudara. Setelah pintu dibuka, maka keluarlah salah seorang dari
dua orang kembar bersaudara itu.
"Maaf, aku sangat sibuk hari ini. Engkau hanya boleh mengajukan satu
pertanyaan saja. Tidak boleh lebih." katanya. Kemudian Abu Nawas
menghampiri orang itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan cara
berbisik pula kepada Abu Nawas. Abu Nawas mengucapkan terima kasih dan
segera mohon diri.
"Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan." kata Abu Nawas mantap
kepada kawan-kawannya.
"Bagaimana kau bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan?
Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selalu
berkata benar atau yang selalu berkata bohong?" tanya salah seorang dari
mereka.
"Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri." kata Abu
Nawas.
Karena masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan. "Tadi aku
bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan yang
mana yang menuju hutan yang indah?" Bila jalan yang benar itu sebelah kanan
dan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akan
menjawab: Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara Kembarnya akan
mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong. Bila
orang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab: jalan
sebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah
kiri sebab saudara kembarnya selalu berkata benar.


Martabat Nafsu (3) MULHAMAH

Nafsu MULHAMAH Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwa-mah.Nafsu mulhamah ini ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/ tariqat/ amalan guru lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah s.a.w.Kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau khuatir-khuatir syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari malaikat atau Allah.
Firman Allah:
"Demi nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya(nafsu)
Makam nafsu ini juga dikenali dengan nafsu samiah. Pada pringkat ini amalan baiknya sudah mengatasi amalan kejahatannya. Sifat mazmumah telah diganti dengan mahmudah. Sikap beibadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi.
Pada penyesalan pada peringakat lawwamah tadi terus bersebati di dalam jiwa. Isyarat lawwamah sentiasa subur. Sesungguhnya taubat orang peringkat mulhamah ini adalah "taubatan nasuha" . Bukan shaj di mulut tetapi hakiki.
Dalam kehidupan sudah terbina satu skap yang baik,tabah menghadapi dugaan, bila terlintas sesuatu yang ke arah maksiat cuba-cuba memohon kepada perlindungan dari Allah.

Firman Allah:
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa , bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketiak itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan."
Sabda Rasulullah S.a.w:
"Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin"
Zikir pada tahap ini telah menyerap kedalam lubuk hatinya bukan sekadar berlewa-lewa dibibir sahaja lagi. Malah sudah menerima hakikat nikmat zikir dan zauk. Bila disebur nama Allah rindunya sangat besar, berderau darahnya dan gementar tubuhnya tanpa disengajakan.
Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka apabila sahaja disebut nama Allah, nescaya gementarlah seluruh hati mereka"
Perasaan ini terus menjalar sehingga bertemu kekasihnya.

Antara sifat-sifat yang bernafsu mulhamah:
1. Sifat-sifat ketenangan,lapang dada dan tidak putus asa.
2. Tak sayangkan harta
3. Qanaah.
4. Berilmu laduni
5. Merendah diri/ tawwadu'
6. Taubat hakiki
7. Sabar hakiki
8. Tahan ujian dan menanggung kesusahan


Mereka pada tahap ini mulai masuk ke sempadan maqam wali yakni kerapkali mulai mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali kepada sifat yang tidak baik masih ada. Kebanyakan orang cepat terhijab pada masa ini kerana terlalu asyik dengan anugerah Allah padahal itu hanyalah ujian semata-mata.

Dalam konteks ilmu pula mereka bukan sahaja menguasai ilmu qalam malah sudah dapat menguasai ilmu ghaib menerusi tiga cara laduni yaitu nur, cara tajalli dan cara laduni di peringakat sir. Yang dimaksudkan dengan laduni peringkat sir ialah menerusi telinga batin yang terletak ditengah-tengah kepala yang biasanya dipanggil bahagian tanaffas. Suara yang diterima amat jelas sekali. Tak ubah seperti mendengar suara telefon. Pada masa yang sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu walaupun masa menerima laduni sir itu ada kawan berbual. Biasanya suara ghaib itu adalah waliyulah atau ambia yang merupaka guru-guru ghaib yang bertugas mengajar ilmu ghaib pada mereka yang diperingkat mulhamah. Tapi perlu ingat guru murysid zahir kita tetap guru. Malah Guru mursyid kita sebenarnya telah berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru-guru ghaib ini. Sebab tu kalau tak ada murysid kita akan terpedaya dengan syaitan dan jin yang menyamar. Pembukaan telinga batin ini pada awalnya berlaku seakan suatu bisikan suara yang dapat dibahagian dalam anak telinga, dimana pada permulaannya merasa berdesing. Kemudian barulah dapat dengar jelas.
Zikir tetap meningkat. Pada peringkat inilah Allah berfirman:
"Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah sahajalah hati menjadi tenteram".

Sufi Road :Tauhid dan Marifatullah

Menurut Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari, siapapun yang merenung secara
mendalam akan menyadari bahwa semua makhluk sebenarnya menauhidkan Allah SWT lewat tarikan nafas yang halus. Jika tidak, pasti mereka akan mendapat siksa. Pada setiap zarah, mulai dari ukuran sub-atomis (kuantum) sampai atomis, yang terdapat di alam semesta terdapat rahasia nama-nama Allah. Dengan rahasia tersebut, semuanya memahami dan mengakui keesaan Allah. Allah SWT telah berfirman,

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari (QS 13:15).

Jadi, semua makhluk mentauhidkan Allah dalam semua kedudukan sesuai dengan rububiyah Tuhan serta sesuai dengan bentuk-bentuk ubudiyah yang telah ditentukan dalam mengaktualisasikan tauhid mereka. Lebih lanjut Syeikh
mengatakan bahwa sebagian ahli makrifat berpendapat bahwa orang yang bertasbih sebenarnya bertasbih dengan rahasia kedalaman hakikat kesucian pikirannya dalam wilayah keajaiban alam malakut dan kelembutan alam jabarut.
Sementara sang salik, bertasbih dengan dzikirnya dalam lautan qolbu. Sang murid bertasbih dengan qolbunya dalam lautan pikiran. Sang Pecinta bertasbih dengan ruhnya dalam lautan kerinduan. Sang Arif bertasbih dengan sirr-nya dalam lautan alam gaib. Dan orang shiddiq bertasbih dengan kedalaman sirr-nya dalam rahasia cahaya yang suci yang beredar di antara berbagai makna Asmaasma dan Sifat-sifat-Nya disertai dengan keteguhan di dalam silih bergantinya waktu. Dan dia yang hamba Allah bertasbih dalam lautan pemurnian dengan
kerahasian sirr-al-Asrar dengan memandang-Nya, dalam kebaqaan-Nya.

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari [8] membagi tauhid dalam konteks makrifatullah menjadi empat samudera makrifat, berikut ini uraian untuk setiap tahapan ma’rifat tauhid dengan intepretasi pribadi, yaitu :
· Tauhid Af’al sebagai pengesaan terhadap Allah SWT dari segala macam perbuatan. Maka hanya dengan keyakinan dan penyaksian saja segala sesuatu yang terjadi di alam adalah berasal dari Allah SWT.
· Tauhid al-Asma adalah pengesaan Allah SWT atas segala nama. Ketika yang mewujud dinamai, maka semua penamaan pada dasarnya dikembalikan kepada Allah SWT. Allah sebagai Isim A’dham yang Mahaagung adalah asal dari semua nama-nama baik yang khayal maupun bukan. Karena dengan nama yang Maha Agung “Allah” inilah, Allah memperkenalkan dirinya.
· Tauhid As Sifat, adalah pengesaan Allah dari segala sifat. Dalam pengertian ini maka manusia dapat berada dalam maqam Tauhid as-Sifat dengan memandang dan memusyadahkan dengan mata hati dan dengan keyakinan bahwa segala sifat yang dapat melekat pada Dzat Allah, seperti Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), ‘Ilm (Mengetahui), Hayah (Hidup), Sama (mendengar), Basar (Melihat), dan Kalam (Berkata-kata) adalah benar sifat-sifat Allah. Sebab, hanya Allah lah yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Segala sifat yang dilekatkan kepada makhluk harus dipahami secara metaforis, dan bukan dalam konteks sesungguhnya sebagai suatu pinjaman.
· Tauhid az-Dzat berarti mengesakan Allah pada Dzat. Maqam Tauhid Az- Dzat menurut Syekh al-Banjari adalah maqam tertinggi yang, karenanya, menjadi terminal terakhir dari memandangan dan musyahadah kaum arifin. Dalam konteks demikian, maka cara mengesakan Allah pada Dzat adalah dengan memandang dengan matakepala dan matahati bahwasanya tiada
yang maujud di alam wujud ini melainkan Allah SWT Semata. Tauhid Af’al pada pengertian Syeikh al-Banjari akan banyak berbicara tentang kehendak Allah SWT yang maujud sebagai ikhtiar dan sunnatullah manusia yaitu takdir. Apakah kemudian takdir yang dialami seseorang disebut baik atau buruk, maka itulah kehendak Allah sesungguhnya yang terealisasikan kepada semua makhluk yang memiliki kehendak bebas untuk memilah dan memilih, dengan
pengetahuan terhadap aturan dan ketentuan yang sudah melekat padanya sebagai makhluk sintesis yang ditempatkan dalam suatu kontinuum ruang-waktu relatif. Tauhid Af’al adalah

Samudera Pengenalan, di samudera inilah salik sebagai pencari wasiat Allah harus mendekat ke pintu ampunan Allah untuk bertobat dan menyucikan dirinya, menyibakkan pagar-pagar awal dirinya dengan ketaatan kepada-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pada-Nya, mendekat

kepada-Nya untuk menauhidkan-Nya, beramal untuk-Nya agar memperoleh ridha-Nya. Kalau saya proyeksikan ke dalam sistem qolbu yang diulas sebelumnya mempunyai tujuh karakteristik dominan, maka di Samudera Af’al inilah seorang salik harus berjuang untuk me-metamorfosis-kan qolbunya dari dominasi nafs ammarah, menuju lawammah, menuju mulhammah, dan mencapai ketenangan dengan nafs muthmainnah.

Dalam Samudera Asma-asma, maka hijab-hijab tersingkap dengan masingmasing derajat dan keadaannya. Ia yang menyingkapkan, sedikit demi sedikit akan semakin melathifahkan dirinya ke dalam kelathifahan Yang Maha Qudus memasuki medan ruh ilahiah-nya (dominasi qolbu oleh ruh yang mengenal Tuhan). Samudera Asma-asma adalah Samudera Munajat dan Permohonan, difirmankan oleh Allah SWT bahwa “Dan bagi Allah itu beberapa Nama yang aik (al-Asma al-Husna) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu (QS 7:180).” Di samudera inilah salik akan diuji dengan khauf dan raja, keikhlasan, keridhaan, kefakiran, kezuhudan, dan keadaan-keadaan ruhaniah lainnya.

Di tepian Samudera Asma-asma adalah lautan kerinduan yang berkilauan karena pendar-pendar cahaya rahmat dan kasih sayang Allah. Di Lautan Kerinduan atau Lautan Kasih Sayang atau Lautan Cinta Ilahi, sinar kemilau cahaya Sang Kekasih menciptakan riak-riak gelombang yang menghalus dengan cepat, menciptakan kerinduan-kerinduan ke dalam rahasia terdalam. Lautan Kerinduan adalah pintu memasuki hamparan Samudera Kerahasiaan.

Tauhid as-Sifat adalah Samudera Kerahasiaan atau Samudera Peniadaan karena di samudera inilah semua makhluk diharuskan untuk menafikan semua atribut kediriannya sebagai makhluk, semua hasrat dan keinginan, kerinduan yang tersisa dan apa pun yang melekat pada makhluk tak lebih dari suatu anugerah dan hidayah kasih sayang-Nya semata, maka apa yang tersisa dari Lautan Kerinduan atau Lautan

Cinta Ilahi adalah penafian diri. Apa yang melekat pada semua makhluk adalah manifestasi dari rahmat dan kasih sayang-Nya yang dilimpahkan, sebagai piranti ilahiah yang dipinjamkan dan akan dikembalikan kepada-Nya. Siapa yang kemudian menyalahgunakan semua pinjaman Allah ini, maka ia harus mempertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Qolbu yang didominasi merahasiaan ilahiah didominasi kerahasiaan sirr dengan suluh cahaya kemurnian yang
menyemburat dari kemilau yang membutakan dari samudera yang paling rahasia sirr al–asrar yakni Samudera Pemurnian dari Tauhid Az-Dzat.

Di tingkatan Tauhid az-Dzat segala sesuatu tiada selain Dia, inilah Samudera
Penghambaan atau Samudera Pemurnian/Tanpa Warna sebagai tingkatan
ruhaniah tertinggi dengan totalitas tanpa sambungan. Suatu tingkatan tanpa
nama, karena semua sifat, semua nama, dan semua af’al sudah tidak ada.

Bahkan dalam tingkat kehambaan ini, semua deskripsi tentang ketauhidan hanya
dapat dilakukan oleh Allah Yang Mandiri, “Mengenal Allah dengan Allah”. Inilah
maqam Nabi Muhammad SAW, maqam tanpa tapal batas, maqam Kebingungankebingunan
Ilahiah. Maqam dimana semua yang baru termusnahkan dalam kedekatan yang hakiki sebagai kedekatan bukan dalam pengertian ruang dan waktu, tempat dan posisi. Di maqam ini pula semua kebingungan, semua peniadaan, termurnikan kembali sebagai yang menyaksikan dengan pra eksistensinya. Ketika salik termurnikan di Samudera Penghambaan, maka ia terbaqakan didalam-Nya. Eksistensinya adalah eksistensi sebagai hamba Allah semata. Maka, di Samudera Penghambaan ini menangislah semua hati yang terdominasi rahasia yang paling rahasia (sirr al-asrar),

Aku menangis bukan karena cintaku pada-Mu dan cinta-Mu padaku,
atau kerinduan yang menggelegak dan bergejolak yang tak mampu
kutanggung dan ungkapkan.
Tapi, aku menangis karena aku tak akan pernah mampu merengkuh-Mu.
Engkau sudah nyatakan Diri-Mu Sendiri bahwa “semua makhluk akan
musnah kalau Engkau tampakkan wajah-Mu.”
Engkau katakan juga, “Tidak ada yang serupa dengan-Mu.”
Lantas, bagaimanakah aku tanpa-Mu,
Padahal sudah kuhancurleburkan diriku karena-Mu.
Aku menangis karena aku tak kan pernah bisa menyatu dengan-Mu.
Sebab,
Diri-Mu hanya tersingkap oleh diriMu Sendiri
Dia-Mu hanya tersingkap oleh DiaMu Sendiri
Engkau-Mu hanya tersingkap oleh EngkauMu Sendiri,
Sebab,
Engkau Yang Mandiri adalah Engkau Yang Sendiri
Engkau Yang Sendiri adalah Engkau Yang Tak Perlu Kekasih
Engkau Yang Esa adalah Engkau Yang Esa
Engkau Yang Satu adalah Engkau Yang Satu.
Maka dalam ketenangan kemilau membutakan Samudera PemurnianMu,
biarkan aku memandangMu dengan cintaMu,
menjadi sekedar hambaMu dengan ridhaMu,
seperti Muhammad yang menjadi Abdullah KekasihMu.


Penguraian tauhid yang dilakukan oleh Syekh al-Banjari memang didasarkan
pada langkah-langkah penempuhan suluk yang lebih sistematis. Oleh karena,
pentauhidan sebenarnya adalah rahasia dan ruh dari makrifat, maka dalam
setiap tingkatan yang diuraikan menjadi Tauhid Af’al, Asma-asma, Sifat-sifat dan
Dzat, sang salik diharapkan dapat merasakan dan menyaksikan tauhid yang
lebih formal maupun khusus, yang diperoleh dari melayari keempat Samudera
Tauhid tersebut. Hasil akhirnya , kalau tidak ada penyimpangan yang sangat
mendasar, sebenarnya serupa dengan pengalaman makrifat para sufi lainnya
yakni pengertian bahwa ujung dari makrifat semata-mata adalah mentauhidkan
Allah sebagai Yang Maha Esa dengan penyaksian dan keimanan yang lebih
mantap sebagai hamba Allah.

sumber : Tauhid : Ruh Makrifat Hamba Allah

Marhaban Ya Ramadhan

Bismillahirrohmanihhohim.. Marhaban ya Syahri Ramadhan..
Selamat menunaikan ibadah puasa..
semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita di ramadhan ini
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahraramadan
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-nur
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-fuqara'
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-du`a'i wa al-wuquf
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-ihsan
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-fawzi wa al-falah
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-da`wati wa al-irshad
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-masabiha wa al-qanadil
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-mala'ikati wa al-salam
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-mutheerati wa al-asabb
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-ajri wa al-jaza'
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-sa`ada
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-wasli wa al-wisal
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-qur'an
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-ijtima`
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-tawbati wa al-ruju`
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-fuqara'i wa al-du`afa'
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-`usat
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-munajati wa al-tasbih
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-tarawiha wa al-qiyam
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-khaza'ini wa al-kunuz
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-iftari wa al-suhur
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-du`afa'
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-sabri wa al-siyam
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-miftah
• marhaban ahlan wa sahlan ya shahr al-wadadi wa al-mahabba
• marhaban ahlan wa sahlan ya sayyid al-shuhur
• lam na`rif qadraka wa lam nahfaz hurmataka ya shahr al-ghufran

Saturday, August 7, 2010

Prinsip Thariqah Naqsybandi (1-2)

‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani mengemukakan butiran-butiran renungan berikut yang kini dianggap sebagai Prinsip Thariqah Sufi Naqsybandi:


1. Bernafas Secara Sadar (“Hosh dar dam”)
Hosh berarti “pikir”. Dar berarti “dalam”. Dam berarti “nafas”. Artinya, berdasarkan ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q.s), bahwa”
“Pencari/pejalan/murid yang bijak harus melindungi nafasnya dari kealpaan, menarik dan menghembuskan nafas, dengan itu menjaga kalbunya selalu berada dalam Hadirat Allah; dan dia harus menghidupkan nafasnya dengan pengabdian dan penghambaan dan mempersembahkan penghambaan tersebut kepada Tuhan-nya penuh dengan kehidupan/kegairahan, karena setiap nafas yang ditarik dan dihembuskan dengan Kehadirat itu adalah hidup dan terhubung dengan Hadirat Illahi. Setiap nafas yang ditarik dan dihembuskan dengan kecerobohan adalah mati, terputus dari Hadirat Illahi.”

Ubaidullah al-Ahrar (q.s) berkata, “Misi paling penting bagi para pencari (saalik) dalam Thariqah ini adalah untuk melindungi nafasnya, dan dia yang tidak bisa menjaga nafasnya, baginya akan dikatakan, ‘dia telah kehilangan dirinya.’ “

Shah Naqsyband (q.s) berkata, “Thariqah ini dibangun di atas nafas. Sehingga merupakan suatu keharusan bagi setiap orang untuk melindungi nafasnya pada waktu menarik dan menghembuskan dan selanjutnya, untuk melindungi nafasnya dalam interval (jangka waktu) antara menarik dan menghembuskan nafas.”

Syaikh Abul Janab Najmuddin al-Kubra mengatakan dalam bukunya, Fawatih al-Jamal, “Dzikir mengalir dalam setiap tubuh makhluk hidup oleh keharusan bernafas -bahkan tanpa berniat sekali pun- sebagai satu tanda kepatuhan, yang merupakan bagian dari penciptaan mereka.


Melalui nafas, bunyi huruf “Ha” dari Asmaul Husna Allah dibuat dalam setiap tarikan dan hembusan nafas dan itu adalah sebuah tanda Dzat Tidak Terlihat dalam melayani penitik beratan Ke-Unik-an Allah. Jadi sangatlah penting untuk selalu menghadirkan nafas, supaya merasakan Dzat Sang Pencipta.”

Nama ‘Allah’ yang melingkupi 99 buah Nama-nama dan Atribut-atribut terdiri dari 4 huruf, yaitu Alif, Lam, Lam dan Hah (ALLAH). Kaum Sufi menyebutkan bahwa kemutlakan Dzat tidak nampak dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa diekspresikan oleh huruf terakhir yang dihidupkan oleh Alif, yaitu “Ha.” Huruf ini mewakili Kemutlakan Dia yang Tidak Nampak (Ghayb al-Huwiyya al-Mutlaqa lillah 'azza wa jall). Lam pertama adalah untuk identifikasi (ta’rif) dan Lam kedua adalah untuk penitik beratan (mubalagha).

Melindungi nafasmu dari kecerobohan akan menuntunmu kepada Hadirat-Nya secara utuh, dan Hadirat-Nya yang utuh tersebut akan menuntunmu kepada Penglihatan utuh, dan Penglihatan utuh akan menuntunmu ke Perwujudan (tajalli) dari 99 Asmaul Husna Allah. Allah akan menuntunmu ke Perwujudan (tajalli) 99 Nama-nama dan Atribut-atribut-Nya dan seluruh Atribut-Nya yang lain, karena dikatakan, ‘Atribu-atribut Allah adalah sebanyak nafas ummat manusia.”
Ini harus diketahui oleh semua orang bahwa menyelamatkan nafas dari kecerobohan adalah suatu yang sulit bagi para saalik. Oleh karena itu mereka harus melindunginya dengan mencari pengampunan (istighfar) karena mencari pengampunan akan menyucikan dan mempersiapkan para saalik untuk Perwujudan (tajalli) Sesungguhnya dari Allah yang berada dimana-mana.



2. Perhatikan Langkahmu (“Nazar bar qadam”)
Artinya bahwa para saalik sewaktu berjalan hendaknya harus menjaga pandangan tertuju kepada kakinya. Kemana pun kakinya melangkah, pandangan mata harus tetap disana. Dia tidak diperkenankan untuk melemparkan pandangan ke sana sini, melirik ke kanan atau kiri atau ke depannya, karena pemandangan yang tidak perlu akan menutupi kalbu. Kebanyakan tabir di kalbu diciptakan oleh gambar-gambar yang ditransmisikan dari mata ke pikiran selama menjalani kehidupan sehari-harimu. Hal ini dapat saja mengangggu kalbu dengan guncangan karena berbagai jenis keinginan yang sudah tercetak di dalam pikiran. Bayangan-bayangan ini seperti tabir yang menutupi kalbu.

Bayangan ini menghadang Cahaya Hadirat Illahiah. Inilah mengapa para wali Sufi tidak membolehkan pengikut mereka -yang sudah membersihkan kalbu melalui dzikir yang berkesinambungan- untuk melihat selain dari kaki mereka. Kalbu mereka laksana cermin yang memantulkan dan menerima setiap gambar dengan mudahnya. Gambar ini akan menyimpangkan mereka dan membawa berbagai kotoran ke kalbu mereka. Jadi para saalik diperintahkan untuk merendahkan pandangan agar tidak diserbu oleh anak-anak panah setan.

Merendagkan pandangan juga merupakan suatu tanda kerendahan hati (tawadhu’); orang yang bangga dan sombong tidak pernah melihat ke kaki mereka sendiri. Itu juga satu indikasi bahwa seseorang yang mengikuti jejak langkah Sang Nabi , yang ketika berjalan tidak pernah melihat ke kanan atau kiri tapi terbiasa hanya melihat kakinya, bergerak dengan tegas dan mantap ke arah tujuannya. Ini juga suatu tanda dari ketinggian maqam bila seorang saalik tidak pernah melihat kecuali ke arah Tuhan-nya. Seperti orang yang ingin mencapai tujuannya dengan cepat, begitu juga dengan para pencari Hadirat Illahiah Allah yang bergerak dengan cepat, tidak melihat ke kanan atau kirinya, tidak juga melihat keinginan-keingian duniawi, tapi hanya melihat Hadirat Illahiah.

Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi (q.s) mengatakan dalam surat yang ke 295 dari Maktubat beliau:
“Pandangan mendahului langkah dan langkah mengikuti pandangan. Mi’raj (perjalanan mendaki) ke tingkatan yang lebih tinggi pertama-tama oleh Penglihatan, diikuti Langkah. Ketika Langkah mencapai tingkatan Ketinggian Pandangan, kemudian Pandangan akan dinaikkan ke tingkat berikutnya, dan karenanya Langkah akan mengikutinya secara bergilir. Kemudian Pandangan akan diangkat ke tempat yang lebih tinggi lagi dan Langkah akan mengikutinya secara bergilir. Dan begitulah seterusnya hingga Pandangan meraih sebuah tingkat Kesempurnaan dan ke arah itulah Langkah akan ditarik. Kita katakan, ‘Bila Langkah mengikuti Pandangan, murid sudah mencapai tingkat Kesiapan dalam mendekati Jejak Langkah Sang Nabi . Maka Jejak Langkah Sang Nabi disebut juga sebagai Awal atau Sejatinya semua langkah.”
Shah Naqsyband (q.s) mengatakan, “Jika kami melihat kesalahan-kesalahan teman kita, maka kita akan ditinggalkan tanpa teman, karena tidak seorang pun yang sempurna.”

Sumber : Naqsybandi sufi order
www.nurmuhammad.com