Thursday, August 5, 2010

Sufi Road : Tanda-tanda Akhir Zaman

Orang-orang Badui Bersaing Membangun Gedung Tinggi

Dalam sebuah hadis yang terkenal tentang Jibril, ‘Umar ibn al-Khaththâb meriwayatkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw. dan bertanya kepadanya mengenai makna Islam, Iman, dan Ihsan. Nabi saw. menjawab:
Islam adalah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji bagi yang mampu melaksanakan perjalanannya … Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk. … Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Lebih lanjut Jibril bertanya, “Kapan akan datang Hari Kiamat?” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Jibril berkata, “Beri tahu aku tanda-tandanya!”
Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi saw. memberikan gambaran yang sangat jelas dan meyakinkan tentang apa yang beliau lihat terjadi pada masa sekarang.
… dan kalian akan menyaksikan para penggembala badui yang tak beralas kaki, telanjang, dan melarat saling berlomba membangun gedung yang menjulang.

Tidak beralas kaki dan telanjang (hanya menutupi bagian tubuh yang paling pribadi) menunjukkan bahwa para penggembala itu tidak berasal dari negeri yang beriklim dingin, tetapi dari negeri beriklim panas. Menurut para ulama, Nabi saw. tengah menggambarkan masyarakat Arab badui yang berasal dari kawasan-gurun Najd, sebelah timur Hijaz.
Wilayah Hijaz (alias Arab bagian barat, di mana Mekah, Madinah, dan Jedah berada) memiliki kota-kota besar dan dulu menjadi pusat kebudayaan Islam (tidak bernuansa badui). Sementara wilayah Najd meliputi kota-kota seperti Riyad, Dahran, Damam, Khobar, dan kawasan Teluk. Sebelum ditemukan minyak bumi, orang-orang Najd tinggal di tenda-tenda. Hingga saat ini, budaya badui di kawasan itu masih kuat, seperti terlihat dari kesenangan penduduknya melakukan rekreasi gurun dan menginap di tenda-tenda. Dan Nabi saw. mengatakan bahwa pada akhir zaman, orang-orang badui Najd yang bertelanjang kaki dan badan akan berkompetisi mendirikan gedung-gedung tinggi.Al-Nawâwî menjelaskan, “Orang-orang badui gurun dan yang serumpun hidup dalam kemiskinan. Suatu ketika mereka akan menjadi kaya raya dan mendirikan bangunan-bangunan tinggi untuk mempertontonkan kekayaan mereka.”


Al-Thabrânî meriwayatkan dari Abû Hamzah dari Ibn ‘Abbâs dari Nabi, “Salah satu tanda berubahnya agama adalah munculnya orang miskin yang pandai bicara dan masuk ke istana-istana megah di kota besar.”



Al-Qurthûbî mengatakan, “Yang dimaksudkan di sini adalah prediksi tentang kondisi suatu masyarakat yang sudah terbalik, di mana orang-orang dari kawasan gurun akan mengambil alih kendali kepemimpinan dan menguasai seluruh wilayah dengan kekerasan. Mereka menjadi sangat kaya dan perhatian utama mereka adalah menegakkan gedung-gedung nan menjulang dan membangga-banggakannya.”
Ketika menerangkan hadis tersebut, Ibn Hajar berkata, “Setiap orang berusaha membangun gedung yang lebih tinggi dari gedung yang sudah ada.” Ahmad meriwayatkan dari Abû ‘Âmir bahwa orang-orang yang membangun gedung-gedung tinggi itu terus menambah ketinggian gedung mereka (Musnad, 4:129). Maksudnya, jika ada orang yang membangun gedung tiga lantai, orang berikutnya akan membangun gedung empat lantai, dan orang berikutnya akan membangun gedung lima lantai, dan seterusnya. Dan kini, gedung-gedung pencakar langit sudah mencapai lebih dari 100 lantai.

Dalam hadis lain, Nabi mengatakan, “Barang siapa membangun gedung lebih dari sepuluh meter, ia akan mendengar seruan dari langit, ‘Hai musuh Allah! Mau ke mana engkau dengan gedungmu itu?’” Diriwayatkan dari Anas oleh al-Thabrânî, sebagaimana terdapat dalam al-Suyûthî, al-Jâmi‘ al-Shaghîr (hadis ke-8569), dan al-Munawî, Faydh al-Qadîr.

Seorang ulama kontemporer dari Arab Saudi, al-Tuwayjirî, mengatakan bahwa makna dari ungkapan “yatathâwalûna fî al-bunyân” adalah bahwa jumlah lantai rumah makin bertambah dan dibangun secara bertingkat. “Itu sudah terjadi pada masa kita karena orang-orang badui meraup uang dari minyak di Teluk. Dan Allah tahu yang terbaik.” Ithâf al-Jamâ‘ah, 1:471. Kini, orang-orang di wilayah gurun sudah membangun gedung-gedung tinggi, dan itu merupakan jaminan janji Allah.


Selama 1400 tahun setelah hadis ini dikemukakan, belum ada gedung pencakar langit di negeri-negeri gurun. Lalu, pada 24 April 2000, gedung tertinggi di kawasan gurun didirikan, yaitu Faisaliah Building di Riyad dengan tinggi 269 meter (882 kaki). Namun, itu belum memenuhi prediksi Nabi saw. dalam hadis di muka, karena gedung Faisaliah kala itu adalah satu-satunya gedung pencakar langit di kawasan itu, dan belum ada persaingan. Pada tahun 2003, sebuah gedung pencakar langit dibangun di Riyad, yaitu Kingdom Centre yang direncanakan setinggi 300 meter (984 kaki), lebih tinggi dari gedung apa pun di Najd.

Pembangunan itu mempertegas hadis Nabi di muka, karena kini sudah ada persaingan membangun gedung tinggi di antara penduduk Najd. Apa yang disebutkan Nabi saw. 1400 tahun silam sebagai tanda akhir zaman, kini tampak di depan mata.

Keajaiban prediksi tersebut terlihat dari tipisnya kemungkinan terwujudnya prediksi itu. Secara logika, kita mungkin bisa meramalkan bahwa, di masa depan, para penguasa akan membangun gedung-gedung tinggi. Namun, Nabi saw. menjelaskan bahwa masyarakat miskin lagi primitif, penggembala badui yang bertelanjang kaki, tidak hanya akan membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga akan berlomba membangunnya. Orang-orang miskin yang sangat terbelakang itu suatu saat akan menjadi sedemikian kaya sehingga mereka mampu bersaing membangun gedung tinggi. Penglihatan ajaib Nabi saw. menjangkau nasib di masa depan bahwa kekayaan melimpah berkat minyak di wilayah Arab akan memungkinkan orang-orang badui Najd, yang telanjang dan miskin, untuk membuat gedung tinggi.

Tak seorang pun nabi yang pernah menyebutkan apa yang diramalkan Nabi Muhammad saw. 1400 tahun yang lalu. Beliau bahkan memberikan penjelasan akurat dengan rincian spesifik yang tidak sepenuhnya dipahami hingga terwujud pada masa sekarang. Nabi saw. telah menjelaskan apa yang akan terjadi pada akhir zaman sehingga mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut bisa menyadari posisinya dalam alur masa. Nabi saw. memperingatkan bahwa ketika orang-orang Arab badui berlomba membangun gedung tinggi di gurun, Hari Pembalasan semakin dekat. Orang-orang Islam tidak bisa lagi menunda-nunda berjuang menuju kesalehan, tetapi mereka harus meningkatkan ibadah dan menjadi teladan moral dengan mengikuti perilaku yang dicontohkan Nabi Suci saw.




Sufi Book : Who Are The Guide

Author: Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
ISBN: 978-1-930409-55-2
Pages: 206 pages


For 150 years, extremists have battled to obliterate spiritual practices and secret knowledge that has flowed through the veins of Islam for fifteen centuries. This book is the antidote, depicting ancient wisdom of guides of the Naqshbandi Sufi Order, passed only from master to disciple. Following Banquet for the Soul (2008), the first volume of Grandshaykh Abd Allah’s Notes Series,Who are the Guides? outlines a spiritual discipline that generates the mind/body/spirit dynamic we crave, in a shallow world dominated by texting, Facebook, and Twitter.

Grandshaykh’s explanations are directed to those seekers who understand the Sufi Way, who have accompanied saints for a long time, who are willing to open their minds and hearts to the intense love of Allah, His Messenger and the spiritual guides, and who seek Oneness with them. Deep spiritual secrets are revealed: of how Creation flows from the Light of Sayyidina Muhammad, the treasures of our divine worship, and how to accelerate our progress on the Path. Who are the Guides?devotes particular attention to the hierarchy and characteristics of the four levels of murshid (spiritual guide): tabarrûk, tazkîyyah, tasfîyyah, and tarbîyyah. Details of the responsibilities, specific powers, and miracles of Sultan al-Awlîyâ, the Ghawth, and the fiveaqtâb (the qutbs) are also defined. Who are the Guides? provides a unique organizational chart, if you will, of the most powerful guides and how to access them, and is a brilliant addition to anytasawwuf-based library.

Buku dapat dibeli di Perpustakaan Yayasan Haqqani Indonesia, seharga Rp.150.000

Sumber : http://perpushaqqani.blogspot.com

Wednesday, August 4, 2010

Sufi Road : Rumi Love and Ecstasy Poems

Berikut ini adalah kumpulan puisi cinta dan ekstase Mawlana Rumi, Dia berbicara tentang soerang kekasih dan kekasinya yang mencintai dan dicintai. Yang memiliki hubungan menjadi sama, dan kedua menjadi satu.

The minute I heard my first love story,
I started looking for you, not knowing
how blind that was.
Lovers don't finally meet somewhere,
they're in each other all along.
From Essential Rumi
by Coleman Barks

Love is from the infinite, and will remain until eternity.
The seeker of love escapes the chains of birth and death.
Tomorrow, when resurrection comes,
The heart that is not in love will fail the test.
From Thief of Sleep
by Shahram Shiva

When I am with you, we stay up all night,
When you're not here, I can't get to sleep.
Praise God for these two insomnias!
And the difference between them.
From Essential Rumi
by Coleman Barks

Suddenly the drunken sweetheart appeared out of my door.
She drank a cup of ruby wine and sat by my side.
Seeing and holding the lockets of her hair
My face became all eyes, and my eyes all hands.
From Thief of Sleep
by Shahram Shiva


I have phrases and whole pages memorized,
but nothing can be told of love.
You must wait until you and I
are living together.
In the conversation we'll have
then...be patient...then.
From Essential Rumi
by Coleman Barks



A Smile and A Gentleness
There is a smile and a gentleness
inside. When I learned the name
and address of that, I went to where
you sell perfume. I begged you not
to trouble me so with longing. Come
out and play! Flirt more naturally.
Teach me how to kiss. On the ground
a spread blanket, flame that's caught
and burning well, cumin seeds browning,
I am inside all of this with my soul.
From Essential Rumi
by Coleman Barks

When the sweet glance of my true love caught my eyes,

Like alchemy, it transformed my copper-like soul.
I searched for Him with a thousand hands,
He stretched out His arms and clutched my feet.
From Thief of Sleep
by Shahram Shiva

With the Beloved's water of life, no illness remains

In the Beloved's rose garden of union, no thorn remains.
They say there is a window from one heart to another
How can there be a window where no wall remains?
From Thief of Sleep
by Shahram Shiva

Let the lover be disgraceful, crazy,

absentminded. Someone sober
will worry about things going badly.
let the lover be.
From Essential Rumi
by Coleman Barks

When your chest is free of your limiting ego,
Then you will see the ageless Beloved.
You can not see yourself without a mirror;
Look at the Beloved, He is the brightest mirror.

The Freshness

When it's cold and raining,
you are more beautiful.
And the snow brings me
even closer to your lips.
The inner secret, that which was never born,
you are that freshness, and I am with you now.

I can't explain the goings,
or the comings. You enter suddenly,
and I am nowhere again.
Inside the majesty.
From Soul of Rumi
by Coleman Barks

Some Kiss We Want

There is some kiss we want with
uur whole lives, the touch of
spirit on the body. Seawater
begs the pearl to break its shell.
And the lily, how passionately
it needs some wild darling! At
night, I open the window and ask
the moon to come and press its
face against mine. Breathe into
me. Close the language- door and
open the love window. The moon
won't use the door, only the window



Sufi Road : Keramat Awlia Allah


Melihat dalil-dalil karomah para wali
Keberadaan keramat para wali telah ditetapkan dalam al Qur’an, Sunnah Rasul Saw, serta atsar shahabat dan orang-orang setelah mereka, sampai zaman sekarang ini. Keberadaannya juga diakui oleh mayoritas ulama ahli sunnah yang terdiri dari para ahli fikih, para ahli hadits, para ahli usul dan para syaikh tasawuf yang karangan-karangan mereka banyak berbicaratentangnya. Selain itu, keberadaanya juga telah dibuktikan dengan kejadian-kejadian nyata di berbagai masa. Dengan demikian, karamah tetap (terbukti) secara mutawatir maknawi, meskipun rinciannya diriwayatkan secara ahad (sendiri-sendiri). Keramat tidak dingkari, kecuali oleh ahli bid’ah dan kesesatan yang imannya kepada Allah, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya lemah

1. Sumber Al Qur’an
a. Ashabul Kahfi, Cerita Ashabul Kahfi yang tertidur panjang dalam keadaan hidup dan selamat dari bencana selama 309 tahun, dan Allah menjaga mereka dari panasnya matahari. Allah berfirman, “Dan engkau akan melihat ketika matahari terbit, dia condong dari gua mereka ke sebelah kanan. Dan ketika matahari itu terbenam, dia menjauhi mereka ke sebelah kiri.” (QS. al Kahfi : 17)
“Dan engkau mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur. Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” (QS. al Kahfi : 18)


b. Kisah Maryam, yang menggoyang pohon kurma yang kering. Seketika itu juga pohon tersebut menjadi rindang dan berjatuhanlah kurma yang sudah masak di luar musimnya. “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam : 25). Apa yang diceritakan Allah dalam al Qur’an kepada kita bahwa setiap kali Zakaria masuk ke mihrab Maryam, dia menemukan rezeki di dalamnya, padahal tidak ada yang masuk ke situ selain dia. Lalu dia berkata, “Wahai Maryam, dari manakah engkau memperoleh ini?” Maryam menjawab, “Ini semua dari Allah.” Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia temukan makanan di sisinya. Lalu dia berkata, “Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan)” ini? Maryam menjawab, “Makanan ini dari sisi Allah.” (Ali Imran : 37).


c. Asif bin Barkhiya, bersama Sulaiman as., sebagaimana dikatakan oleh mayoritas mufasirin, “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari kitab, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. an Nahl : 40). Maka dia pun membawa singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina sebelum mata berkedip.

2. Sumber As Sunnah
1) Kisah Juraij al Abid yang berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian. Ini adalah Hadits shahih yang dikeluakan oleh Bukhari dan Muslim dalam Ash Shahihain.
2) Kisah seorang anak laki-laki yang berbicara ketika masih dalam buaian.

3) Kisah tiga orang laki-laki yang masuk ke dalam gua dan bergesernya batu besar yang sebelumnya menutupi pintu gua tersebut. Hadits ini yang disepakati keshahihannya. 4) Kisah lembu yang berbicara dengan pemiliknya. Hadits ini adalah hadits shahih yang masyhur.

3. Sumber Atsar Para Shahabat
1) Kisah Abu Bakar ra. bersama para tamunya tentang bertambah banyaknya makanan. Sampai setelah mereka selesai makan, makanan tersebut menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari.
2) Kisah Umar ra. ketika dia berada di atas mimbar di Madinah dan dia memanggil panglima yang sedang berada di Persia, “Wahai Sariah, naik gunung, naik gunung !” ini adalah hadits hasan.
3) Kisah Utsman ra. bersama seorang laki-laki yang datang kepadanya, lalu Utsman memberi tahu tentang apa yang terjadi ketika dia sedang dalam perjalanan melihat seorang perempuan asing.
4) Kisah Ali ibn Abi Thalib yang mampu mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sudah mati, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Baihaqi.
5) Kisah Abbad ibn Basyar dan Asid ibn Hadhir ketika tongkat salah seorang di antara mereka mengeluarkan cahaya sewaktu mereka keluar dari kediaman Rasulullah Saw pada malam yang gelap. Ini adalah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Bukhari.
6) Kisah Khabib ra. dan syetandan angguryang ada di tangannya. Dia memakannya di luar musimnya. Ini adalah hadits shahih.
7) Kisah Sa’ad dan Said ra. ketika masing-masing dari keduanya memohon azab atas orang yang telah berdusta atasnya. Doa tersebut lalu dikabulkan. Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.
8) Kisah Abur al Alla’ ibn al Hadhrami yang membelah laut di atas kudanya, dan air muncul berkat doanya. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat al Qubra.
9) Kisah Khalid ibn Walid ra. ketika meminum racun. Kisah ini dikeluarkan oleh Baihaqi, Abu Nuaim, Thabrani dan Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih.
10) Jari-jari tangan Hamzah al Aslami yang bercahaya ketika malam gelap gulita. Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari.
11) Kisah Ummu Aiman dan bagaimana dia kehausan ketika hijrah, lalu turun kepadanya ember dari langit, dan dia pun minum. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam al Hilyah.
12) Kisah seorang shahabat yang bisa mendengarkan suara orang yang membaca surah al Mulk dari kuburan setelah tenda dipasang di atasnya. Kisah ini diriwayatkan oleh Tirmidzi.
13) Bertasbihnya piring pesar yang dipakai untuk makan oleh Salman al Farisi dan Abu Darda ra. Dan mereka berdua mendengar tasbih tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim. 14) Kisah Safinah ra. budak laki-laki Rasulullah dan seekor singa. Kisah ini diriwayatkan oleh Hakim dalam al Mustadrak dan Abu Nuaim dalam al Hilyah.
Ini hanyalah sebagian kecil dari banyak kejadian tentang keramat para shahabat Rasulullah Saw kemudian, keramat juga banyak terjadi pada para wali di masa tabiin dan para pengikut tabiin sampai saat sekarang ini, sehingga sangat sulit untuk dihitung jumlahnya.

Sebagian orang barangkali bertanya, “Kenapa keramat yang ada pada shahabat yang lebih sedikit daripada keramat yang ada pada para wali yang muncul setelah mereka?” Dalam ath Thabaqat, Tajuddin dalam as Subki menjawab pertanyaan ini dengan berkata, jawabannya adalah jawaban Ahmad ibn Hambal ketika ditanya tentang hal tersebut. Dia berkata, para shahabat adalah orang-orang yang telah kuat imannya. Oleh karena itu, mereka tidak memerlukan sesuatu untuk menguatkan iman mereka. Sementara orang-orang selain shahabat, iman mereka masih lemah dan belum sampai pada tingkat iman para shahabat. Oleh karena itu, iman mereka dikuatkan dengan keramat yang diberikan kepada mereka. (Yusuf an Nabhani, Jami’u Karamat al Auliya’, jilid I, hlm.20)

Sumber : Wasiat Sufi (Drs. K. Ahmad Mufid)

Tuesday, August 3, 2010

Risalatul Murid Habib Abullah al Haddad (5 - 7)

Memelihara Hati
Setiap murid (baik suka atau tidak, sekiranya dia mengakui dirinya sebagai seorang murid yang menuntut) harus berusaha memelihara hatinya daripada rasa Was Was, Cita Cita Kosong(suka berangan angan) dan apa saja yang datang dalam fikirannya yang kotor.
Pintu hati setiap murid harus didirikan sesuai dengan dibangunkannya dinding supaya dapatmengawasi sesuatu yang datang menghampirinya. Sekiranya tidak ada persiapan batas dan dan dinding pada diri setiap murid, mana mungkin dapat dilihat gejala gejala yang disebutkan diatas tadi masuk dan merusakkan diri murid itu.
Apabila hati sudah rusak akan menjadi susah untuk mengeluarkan penyakit yang sudah
berselaput didalamnya. Sepertinya dari usia muda sudah banyak melalaikan tanggungjawab sebagai hamba tuhan dengan tidak menjalankan kewajipan dan menjauhi laranganNya.
Pastinya gejala gejala itu sudah melekat seakan-akan sudah dipatri. Kerana itulah setiap murid harus sentiasa membersihkan hatinya yang menjadi tempat pandangan Tuhan supaya hati tidak tertarik pada pujukkan hawa nafsu dan syahwat keduniaan.
Murid murid harus memelihara hatinya dan harus mengenali musuh-musuhnya supaya tidak
melangkah masuk kesempadan dan dinding yang telah dibangunkan, tidak masuk kerumahnya,dimana boleh membawanya jauh dari Allah swt. Tanpa mengenali musuh-musuhnya manamungkin dapat menghalang dari serangan mereka?

Keterangan:
Perhatian harus di tekankan seperti berikut:
17 Petunjuk Jalan Thariqat
1. “Memelihara hati dari sifat sifat dendam khusumat, sifat hasad dengki, sifat suka
menipu dan sifat suka membelit terhadap kaum Muslimin.
2. Jangan sekali-kali suka pada sangkaan buruk terhadap sesiapapun dari kaum
Mu’minin. Sebaiknya ditujukan hatinya untuk menasihati kaum Muslimin, bersifat
pengasih dan sentiasa bersangka baik kepada semua orang. Sifat begini sangat susah
untuk diamalkan kerana sentiasa melihat akan kelemahan orang lain khususnya
seperguruan. Hanya dia INGAT dia yang faham dan suka ketawakan rakan
seperguruan dan orang lain.
3. Segala kebaikan yang disukai harus disukai untuk orang lain. Jangan halang orang
lain untuk dapat membuat kebaikan.
4. Setiap murid harus mengetahui bahwa hati mempunyai berbagai penyakit-penyakit
yang lebih berat, lebik buruk dan lebih busuk dari maksiat-maksiat pancaindera. Oleh
kerana ada penyakit itulah maka murid tidak boleh menerima makrifatullah (mengenal
Allah) akan kecintaanNya melainkan di hapuskan habis-habisan penyakit itu. Contoh
penyakit yang bahaya ini ialah sifat membesarkan diri atau bongkak, riya’ dan hasad
dengki. Bila ada sifat membesar diri menandakan kurang akal (kefahaman tak ada / tak
faham) dan jahil. Siapa yang membesarkan diri, tidak ada rasa kebimbangan sekiranya
dia meninggi diri terhadap orang lain dengan apa yang Allah kurniakan kelebihankelebihanNya
kelak Allah akan merampas semula segala kurniaNya disebabkan
kelakuan dan perbuatannya yang buruk yang ingin MENCUBA MENANDINGI KUASA
TUHAN dalam Sifat KebesaranNya. Manakala sifat riya’ pula suka menunjuk-nunjuk
menandakan hatinya kosong daripada sifat suka membesarkan Allah dan suka
mengagungkan Allah kerana amal yang dibuatnya hanya pura pura saja. Dia merasa
kurang puas amalnya jika diketahui oleh Tuhan Rabbul Alamin saja. Jadi kena tunjuk
pada orang lain yang dia tu Alim, Wara, ada Ilmu dan tempat orang menanyakan
fatwa.
5. Selain dari itu, harus setiap murid menjaga pancainderanya seperti mata, jangan
melihat apa-apa yang haram, yang shubhat, apa yang boleh menaikkan syahwat.
Mulut, jangan banyak cakap. Sebaliknya banyak diamkan diri. Banyakkan membaca
Quran, Zikir dan berdoa. Jaga mulut daripada terkeluar perkataan-perkataan yang
kotor dan boleh menjatuhkan maruah kaum muslim dan bukan muslim. Telinga, jangan
mendengar cerita-cerita bohong, cerita kosong, cerita menaruh harapan dan lain-lain.
Jadikan telinga suka mendengar bacaan Quran, Zikir, dan Berdoa. Suka mendengar
nasihat-nasihat dan lain-lain. Tangan, jagalah tangan daripada mengambil barang
kepunyaan orang lain tanpa izin. Jangan nak tunjuk kuat dengan tangan, asyik nak
tumbuk orang aje hingga lupa tumbukkan dari Tuhan tak nampak. Jadikan tangan itu
suka kepada kebajikan, mengambil wudhu, mengambil Quran, mengambil Tasbih dan
lain-lain. Kaki, jadikan kaki suka dan redha ke masjid, ketempat kuliah, menziarah
ulama, menziarah orang sakit, menziarah kubur dan lain-lain. Masyallah. Banyak
sangatlah.
6. Setiap murid hendaklah berzuhud didunia. Sekiranya tidak mampu berzuhud didunia
hendaklah menuntut dunia (mintak) dari Pemilik dunia itu sendiri; iaitu Allah swt.
Semua hati manusia berada didalam genggaman Tuhan.
18 Petunjuk Jalan Thariqat
7. Jauhkan, buang sifat hasad kerana sifat hasad jelas menentang kekuasaan Allah Taala
dan membantah akan kudratNya dalam kerajaanNya. Allah swt menganugerahkan
nikmatNya kepada setiap hambaNya dan sudah semestinya atas kehendakNya.
Sekiranya setiap hamba khususnya murid memilih sesuatu yang bertentangan dengan
apa yang dipilihkan oleh Allah swt itu menandakan sihamba sudah melakukan kurang
ajar terhadap Allah swt dan wajib mendapat kemurkaanNya.
8. Tidak baik memeram dengki terhadap sesiapa yang bersaing dengannya dalam sesuatu
tujuan ataupun yang pernah membantunya dalam sesuatu urusan.
9. Harus menanamkan rasa cinta terhadap saudara saudaranya didalam hati serta
berusaha dengan zahirnya mengajak dan mengumpul mereka supaya belajar agama
untuk menuju ke jalan Allah dan berlumba lumba dalam mentaatiNya.
10. Jauhkan pada Cintakan Dunia kerana itu ada Pokok Segala Bencana sebagaimana
tersebut didalam sebuah hadis. “Jika hati terselamat dari penyakit cintakan dunia,
niscaya ia menjadi putih dan bersih, baik dan bercahaya; dan ketika itu sesuailah
untuk menerima limpahan cahaya dari Allah swt dan mudahlah baginya untuk
menyingkap (menangkap) rahasia-rahasia Tuhan”.


Mencegah Seluruh Anggota Dari Maksiat
Panduan selanjutnya diharuskan setiap murid untuk berusaha mencegah dirinya dan seluruh
anggota dari melakukan maksiat dan dosa. Setiap anggota harus digesa (diajak bersama) untuk
mengerjakan ketaataan semata-mata kepada dan kerana Allah Taala dan tidak mengerakkan
diri dan anggota untuk melakukan sesuatu melainkan perkara itu boleh dan mendatangkan
manfaat pada dirinya di Hari Akhirat.

Keterangan:
“Dari panduan dan nasihat-nasihat yang lalu, dimana setiap salik dan murid harus mengikuti
panduan dan nasihat itu sekiranya niat dan tujuan si salik dan murid itu benar, semata-mata
inginkan Allah Taala. Maka dari tajuk diatas itu tidak akan ada sesuatu yang boleh mencegah
atau menghalang si salik dan murid yang sudah dan akan mengambil dan melaksanakan
panduan dan nasihat dari Imam Habib Abdullah Bin Alwi AlHaddad.
Oleh kerana niat dan tujuan si salik itu benar maka dengan dorongan kemauan iaitu rahsia
ketuhanan yang sudah dicampakkan kedalam hati si salik dan murid maka selaras (kena) pada
niat dan tujuan si salik dan murid maka tumbuhlah pergerakkan dan perbuatan untuk
membersihkan diri si salik dan murid dengan segera.

Sangat menyedikan perkara ini tidak akan boleh berlaku pada murid di mana dorongan
kemauan_rahsia ketuhanan yang dilimpahkan pada mereka tidak selaras (tidak kena / tidak
tepat) oleh kerana niat dan tujuan si salik dan murid itu tidak benar dan bohong belaka.
Hanya mereka yang benar niatannya akan mengambil panduan dan garisan ini didalam
menjalankan perlaksanaan tersebut. Benarlah kata Imam Habib Abdullah bahwa, dorongan
kemauan_rahsia ketuhanan diberikan oleh Allah kepada yang dipilihNya tetapi hanya mereka
sahaja yang tidak mahu menerima pemberian Allah Taala. Tidak mahu berusaha dengan
sekuat tenaga, tidak mahu istiqamah dalam pelaksanaan. Asyik nak cepat aje. Lekas bosan,
lekat penat, suka menangguhkan dan melambatkan.

Melihat dorongan batin itu satu perkara yang kecil yang tidak ada harga yang diberikan oleh
Allah Taala. Alasan-alasan itu menunjukkan bahwa niatan dan tujuannya tidak benar yang
berkuasa pada diri murid sebenarnya ialah Iblis dan Syaitan kerana mereka lebih senang
mengikuti nasihat mereka daripada nasihat Imam Habib Abdullah AlHaddad. Maka yang
sebenar benar si salik dan murid yang menjalankan panduan dan nasihat nasihat itulah
yang dikatakan oleh Imam Habib Abdullah AlHaddad, hamba yang DIUTAMAKAN oleh
Allah Taala. Untuk tidak mengajak diri dan anggota dari melakukan sesuatu yang tidak
mendatang kemanfaatan didunia dan akhirat, lihatlah pada niat dan tujuan yang ditanamkan.
Hanya itulah jalan yang ada. Selain berdoa . . .”

Bencana Lisan
Setiap murid murid harus bersungguh sungguh dalam memelihara lisan (lidah) mereka kerana
bentuk lisan itu kecil akan tetapi bencananya sangat berat sekali.
Keterangan:
“Langkah seterusnya bagi murid-murid hendaknya menjaga lidah yang zahir dan lidah yang
batin daripada mengeluarkan kata-kata yang hina, kata-kata yang mendatangkan dosa dan
kata-kata yang tidak mendatangkan faedah.
Ikutilah langkah panduan seterusnya;

1. Kita mempunyai dua lidah. Yang Zahir terletak dimulut dan Yang Batin letaknya didalam
hati. Setiap kali didalam permulaan percakapan baik pada zahir mahupun batin, hendaklah
kita berfikir dahulu samada percakapan itu baik atau tidak disisi Allah. Adakah percakapan
itu akan menjatuhkan maruah pada orang yang ditujukan percakapan? Perlukah untuk
bercakap dan untuk apa dan apa faedahnya?
2. Tahanlah lidah daripada bercakap bohong (hanya ingin menunjukkan diri yang betul dan
benar, menutup perkara yang sebenar dan lain-lain), tahan lidah dari mengumpat (bercerita
pasal orang lain terutama kesalahan orang lain).
3. Hindarilah segala percakapan yang dilarang oleh agama.
4. Menjaga diri dari mengeluarkan percakapan yang cabul dan kotor.
5. Jalan sekali-kali melibatkan diri dalam perkara-perkara yang tidak ada kena mengena
dengan diri sendiri (jangan suka memasang telinga pada perbualan orang lain) walaupun
perbuatan itu tidak haram, namun akan mengeraskan hati dan mensia-siakan waktu tanpa
faedah.
6. Jangan mengerakkan lidah kecuali membaca AlQuran, Berzikir, Berdoa, Menyampaikan
nasihat kepada saudara yang Muslim, Menyuruh berbuat ma’ruf (baik) dan mencegah berbuat
munkar (jahat).
7. Menyuruh sesuatu hajat keduniaan yang akan membantunya untuk kepentingan akhiratnya.
8. Hindarilah lidah menjadi ‘munafiq’; sekiranya susah untuk menjadi orang yang menjaga
amanah, lebih baik ‘DIAM’.
20 Petunjuk Jalan Thariqat
Nabi saw pernah bersabda; “Setiap percakapan anak Adam dikira atasnya, kecuali berzikir
kepada Allah ataupun menyuruh berbuat ma’ruf (baik) dan melarang berbuat munkar (jahat)”.

Monday, August 2, 2010

Sufi road: Mengenai Wali Allah dan Tanda-tandanya

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”

Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti menang. (QS. al Maidah : 56)

Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam. Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali para malaikat.


Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar, jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana. Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku disebut dengan sebutan (nama) mereka.

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.

Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran.

Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.

Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang rapi penuh dengan kesesuaian.

Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman, sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.

Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab (siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus. Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.

Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)

Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kewalian itu.


Sumber : Wasiat Sufi (Drs. K. Ahmad Mufid)

Download Sholawat dan fahilahnya أفضل الصلوات على سيد السادات

Afdhalush Sholawat 'Ala Saidis Sadaat (Solawat-Solawat Yang Terbaik Ke Atas Penghulu Segala Penghulu ) disusun oleh al-'Allamah Al-Qadhi Asy-Syeikh Yusuf bin Isma'il An-Nabhani Asy-Syafi'i. Saya telah meriwayatkan kitab ini daripada Asy-Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin Al-Maliki. Untuk muat turun kitab Afdhalush Sholawat lengkap ('Arab) :- Download
01. Solawat Ibrahimiyah :- Download
02. Solawat Al-Imam An-Nawawi :-
Download
03. Solawat Ibn Hajar Al-Haitami :-
Download
04. Solawat Yang Diajarkan Oleh Jibril :-
Download
05 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Ruwaifi’ ibn Tsabit Al-Ansori :-
Download
06 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Al-Imam Al-Fakihani :-
Download
07 Solawat Yang Kelebihannya Telah Diberitahu Oleh Jibril :-
Download
08 Solawat Untuk Mendapat Syafa'ah :-
Download
09 Solawat Sebagai Ganti Sedekah atau Zakat :-
Download
10 Solawat Yang Diriwayatkan Daripada Nabi Ilyas dan Nabi Khidir :-
Download
11 Solawat Agar Diampuni Dosa :-
Download
12 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Al-Imam As-Suja'i :-
Download
13 Solawat Untuk Dibaca Pada Hari Jumaat :-
Download
14 Solawat Untuk Mencapai 30 Hajat Di Dunia dan 70 Hajat Di Akhirat :-
Download
15 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Sa'id ibn 'Atorid :-
Download
16 Solawat Yang Dibaca Oleh Ahlul Bait :-
Download
17 Solawat Al-Imam Sayyidina 'Ali Karramallahu wajhah :-
Download
18 Solawat Yang Telah Diriwayatkan Oleh Ibn Mas'ud :-
Download
19 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Ibn 'Umar :-
Download
20 Solawat Yang Diriwayatkan Oleh Al-Imam Ghazali :-
Download
21 Solawat Yang Dibaca Pada Hari Jumaat Sebanyak Tujuh Kali :-
Download
22 Solawat Untuk Dapat Meneguk Dengan Gelas Dari Telaga An-Nabi :-
Muat
23.Solawat Berdasarkan Tasbih Juwairiyyah Isteri Kepada An-Nabi :- Download
24 Solawat Yang Pernah Diceritakan Oleh Abul 'Abbas Ahmad Al-Hajiri :-
Download
25 Solawat Asy-Syeikh Abu 'Abdillah ibn An-Nu'man :-
Download
26 Solawat Munjiyyah (Penyelamat) :-
Download
27 Solawat Nur Al-Qiyamah :-
Download
28 & 29 Solawat Al-Imam Asy-Syafi'i :-
Download
30 Solawat Asy-Syeikh Abu Hasan Al-Karkhi :-
Download
31 Solawat Sultan Al-Auliya 'Abdul Qadir Al-Jilani :-
Download
32 Solawat Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali :-
Download
33 Solawat Asy-Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i :-
Download
34 & 35 Solawat Asy-Syeikh Ahmad Al-Badawi :-
Download

Sumber : http://www.alraufi.blogspot.com/