Jalan orang-orang sufi..
Pecinta menuju makrifatullah
Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah.
Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel
Profil Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah didirikan di tegalrejo magelang 20 rojab 1377 / 10 Oktober 1957.
TOKOH PENDIRI: KH. Abdul Wahab Hasbullah KH. Bisri Syamsuri KH. Dr. Idham Cholid KH. Masykur KH. Muslih
TUJUAN ORGANISASI -Mengusahakan berlakunya syari’at Islam dhohir batin dengan berhaluan ahlussunah wal-jamaah yang berpegang dari salah satu madzhab empat. -Mempergiat dan meningkatkan amal sholeh dhohir dan batin menurut ajaran Ulama’ Sholihin dengan Bai’ah Shohihah. -mengadakan dan menyelenggarkan pengajian khushushi / tawaj-juhan (majaalasatudzdzikri) dan nasril ulumunnafi’ah. STRUKTUR ORGANISASI
Di tingkat pusat dinamakan Idaroh Aliyyah Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.
Di tingkat propinsi dinamakan Idaroh Wustha Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.
di tingkat kabupaten/ kodya dinamakan Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahsliyyah
Di tingkat kecamatan dinamakan Idaroh Ghusniyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.
Di tingkat desa dinamakan Idaroh Sa’afiyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.
HUBUNGAN KERJA SAMA
Hubungan silaturrahim untuk memperkuat tali persaudaraan antar Mursyid (Muqaddam) Khalifah, Badal dan Muridin Muridah.
Mengadakan pertemuan dan musyawarah kerja antar Idaroh dan para Kholifah.
KEGIATAN POKOK
Menyiarkan dan mempergiat ajaran Islam terutama mu’taqot islam menurut faham ahlussunah wal-jama’ah (al asy’ariyyah wal ma’turidiyyah) dengan bijaksana.
Mengembangkan ma’rifat billah, dan mentarbiyyah (mendidik) tercapainya akhlaqul karimah kepada umat.
Mempererat dan memperkuat hubungan serta persatuan para Guru Mursyid, Khalifah, dan Muridin Muridat.
Mengusahakan tercapainya asy syariatul ghorro’ wath-thariqatil baidlo’ yakni syariat islam dan thariqah muttasil sanaduha bir-rosulillahi SAW.
Meningkatkan amar ma’ruf nahi munkar kepada ummat dengan cara hikmah dan mau’idhoh hasanah.
Thoriqoh merupakan salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan Beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal Thoriqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang ini. Thoriqoh adalah suatu praktek perbuatan untuk membersihkan hati dan membersihkan relung-relung dari karatnya kelalaian dan salah pahamnya kebutuhan. Relung-relung hati itu tidak bisa suci (bersih) kecuali dengan dzikir (ingat) kepada Allah dengan cara tertentu. Oleh karena itu wajib bagi setiap mu’min (orang Islam) setelah mengetahui ‘aqidatul ‘awam (50 sifat ; wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan para Rasulnya) dan pekerjaan-pekerjaan harian yang disyari'atkan Allah SWT., berupa sholat yang meliputi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang membatalkannya, zakat, puasa, dan haji untuk meningkatkan diri dan memasuki thoriqoh dzikir dengan cara khusus/tertentu. KH. Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Yahya Sejarah Introspeksi arti tashawuf meliputi misi, visi, pertumbuhan, faktor pendorong kemunculan, dan posisinya sebagai bagian dari epistimologi. Ada beberapa definisi tashawuf, antara lain didefinisikan sebagai bukan gerak lahir dan bukan pengetahuan, tetapi kebijakan. Al-Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa tashawuf adalah penyerahan diri pada Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa tashawuf adalah makan sedikit demi mencari kedamaian dalam zat Allah dan menarik diri dari khalayak.
Kalau anda terus membaca definisi-definisi tashawuf yang ada, anda bisa terjebak dalam satu pojok: tashawuf, kalau begitu, sama dengan zuhud; tashawuf berarti lapar. Ada yang mengatakan bahwa, agar anda tidak cepat dimasuki setan, anda harus mengosongkan perut sehingga mudah mengendalikan diri. Akan tetapi, ada juga yang secara berseloroh mengatakan, justru perut harus diisi agar setan tidak bisa masuk. Ada yang menyimpulkan bahwa tashawuf pada intinya adalah zuhud. Tashawuf seolah-olah hanya terkait dengan akhirat, tidak dengan dunia; reaksinya pada dunia adalah negatif dan mengharuskan hidup miskin. Adakah tashawuf memang demikian? Tampaknya, kita harus berkunjung ke sarang para sufi. Sebab, belajar tashawuf hanya mendengar saja, sama artinya dengan tidak belajar; seperti halnya ketika anda belajar mengemudi mobil hanya melalui ceramah saja tanpa praktik.
Definisi-definisi di atas, tidak menjelaskan tashawuf yang sebenarnya. Definisi tersebut hanya petunjuk saja. Tujuan tashawuf tidak akan dapat dipahami dan dijelaskan dengan persepsi apapun, filosofis maupun yang lain. Hanya kearifan hati yang mampu memahami sebagian dari banyak seginya. Diperlukan suatu pengalaman rohani yang tidak bergantung pada metode-metode indra ataupun pemikiran.
Fazlur Rahman , seorang guru besar ilmu Keislaman di Universitas Chicago Amerika Serikat, berkata, : ”Timbulnya tashawuf dalam Islam bukan sesuatu yang aneh, bahkan menurut saya, ˜wajib". Kurang keislamannya bila seseorang tidak mengambil tashawuf, kira-kira demikian. Nabi kita, sebelum menjadi Rasulpun, adalah seorang sufi. Beliau hidup sederhana, memikirkan kebenaran, merenungkan alam, dan bertapa (Uzlah).
Fazlur Rahman mengatakan bahwa permulaan gerakan sufi berhubungan dengan satu kelompok muslim yang senang melakukan pertapaan. Mereka senang membaca al-Quran dengan cara menangis. Mereka juga senang bercerita. Cerita-cerita mereka sangat mempengaruhi para pendengarnya. Akan tetapi, yang penting di sini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya adalah seorang sufi. Demikian juga halnya para sahabat beliau. Hanya saja, waktu itu belum dikenal yang namanya tashawuf. Urutan Riyadhah-nya belum dikodifikasikan dan belum dibuat rumusan-rumusan.
Sekarang, tashawuf sudah menjadi berbagai tarekat, metode-metodenya sudah begitu teratur. Di zaman Rasul dan Sahabat, tashawuf belum seperti sekarang. Namun, pada esensinya, mereka sama dengan para sufi zaman-zaman selanjutnya.
Banyak orang belum begitu paham tentang apa itu tashawuf dan apa itu tarekat. Konsekuensinya, kalau anda ingin mengambil tashallallahu ‘alaihi wa sallamuf, pasti anda mengambil tarekat. Sebab, pengamalan tashawuf ada dalam berbagai tarekat.
Bila tashawuf hanya diartikan sebagai banyak berpuasa, tidak mau diajak korupsi, atau hanya diartikan sebagai suatu sikap keilmuan, orang tidak perlu ikut tarekat. Akan tetapi, bila tashawuf sudah mencapai pengertian riyadhah (latihan dengan menempuh berbagai tingkatan tertentu), orang harus mengambil tarekat. Harus ada bentuknya, apa pun namanya, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, dan sebagainya.
Hal ini penting bila anda menghadapi anggapan orang yang mengatakan bahwa tarekat atau tashawuf bukan ajaran Islam atau bid’ah. Anda dapat mengatakan bahwa, sebelum menjadi Rasul pun, Nabi Muhammad adalah seorang sufi. Para sahabat yang tinggal di shuffah pun tidak diusir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat lain untuk membantu memberi makan mereka.
Ajaran tawakal dalam al-Quran mendorong timbulnya tashawuf yang bercirikan zuhud. Tawakal adalah penyerahan diri. Pentingnya pengalaman spiritual yang ditekankan dalam al-Quran juga memberikan pengaruh bagi timbulnya tashawuf. Menurut Fazlur Rahman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar diperintah oleh Allah menjadi Rasul tatkala beliau menyaksikan sesuatu melalui pengalaman-pengalaman spiritual. Jadi, kesadaran kerasulan justru dimulai dari pengalaman spiritual. Fazlur Rahman melihat ayat-ayat yang berisi hal-hal spiritual umumnya sebagai ayat-ayat yang diturunkan di Mekah. jarang dijumpai ayat-ayat Madaniyah yang berisi pentingnya pengalaman-pengalaman spiritual.
Menurut Rahman, kenyataan ini mengharuskan adanya dasar-dasar keyakinan dari dorongan pengalaman spiritual terlebih dulu yang kelak menjadi landasan bagi pembangunan umat Islam di Madinah.
Berkaitan dengan hal di atas, kita bisa membuat analogi, kalau anda mau jadi presiden atau ketua RW, misalnya, anda tentu harus mempunyai landasan yang kuat untuk pekerjaan itu. Kalau tidak, anda bisa oleng , kira-kira demikian. Pengalaman spiritual termasuk sikap tawakal dan hidup sederhana , bermuara dari zuhud. Faktor paling dominan yang menyebabkan timbulnnya gerakan tashawuf adalah ajaran zuhud dalam Islam. gampangnya, zuhud berarti hidup sederhana.
Perkembangan tashawuf mempunyai makna yang khusus ketika muncul guru-guru sufi. Pada tahap pertama, berjalanlah tashawuf dalam arti zuhud dan ibadah-ibadah sunnah. Hal ini terjadi kira-kira sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tahap kedua, muncul guru-guru sufi yang sudah mencapai tingkatan tinggi. Mereka mengajarkan wirid dan tarekatnya.
Sebelum masa al-Ghazali pun, jenis-jenis tarekat sudah ada. Lalu ada perkembangan sangat berarti di zaman al-Ghazali yang berjalan cukup panjang. Pada masa itu, tashawuf sudah berbeda dari sebelumnya, karena sudah bercampur dengan filsafat.
Di kalangan Syi’ah, tradisi tashawuf kuat sekali, disertai dengan filsafat dan fikih ortodoks yang kokoh. Pikiran Syi’ah memang agak ganjil. Fikih Syi’ah kadang-kadang tampak rasional dan kadang-kadang tampak kaku sekali. Filsafat mereka juga kadang-kadang rasional sekali dan kadang justeru bercampur dengan irfan sehingga tidak tampak lagi ciri rasionalnya.
Kesimpulannya, bahwasanya tashawuf memang sudah ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun saat itu belum dimodifikasi seperti pada saat ini. Jadi, bagi siapapun yang tidak sepaham dengan doktrin tashawuf, apalagi sampai berkata tashawuf bidah, berarti dia tidak membaca dan memetik intisari sejarah yang penuh hikmah dan arti.
NICOSIA, Cyprus: Pope Benedict XVI has met with a Muslim leader Syeikh Muhammad Nazim Al Haqqani on his pilgrimage to Cyprus, part of efforts to talk to both sides of the decades-old conflict on the island divided between ethnic Greeks and Turks. The pope did not travel to northern Cyprus, which has been occupied by Turkey since 1974, but the Vatican said he was interested in meeting Muslim representatives. The brief meeting Saturday afternoon came as the pope was walking in a procession to a Mass at a church near the Green Line separating the two sides. Vatican spokesman the Rev. Federico Lombardi said Benedict stopped to greet the 88-year-old Sheik Nazim and that the encounter was "short but very nice." Lombardi said the Muslim leader and the 83-year-old Benedict joked about their ages. THIS IS A BREAKING NEWS UPDATE. Check back soon for further information. AP's earlier story is below. NICOSIA, Cyprus (AP) — Pope Benedict XVI appealed Saturday for support for embattled Christian communities in the Middle East, calling them a vital force for peace in the region. Benedict's three-day pilgrimage to Cyprus is part of preparations for a crisis summit of Middle East bishops in Rome in October. Many bishops from the region have traveled to Cyprus to see Benedict and receive a working paper for the summit that will be made public Sunday. War and harsh economic conditions have led to the exodus of thousands of Christians from the Holy Land, Iraq and elsewhere in recent years. Meeting with Orthodox Christian Archbishop Chrysostomos II, Benedict said the continuing conflict in the Middle East "must be a source of concern to all of Christ's followers." "No one can remain indifferent to the need to support in every way possible the Christians of that troubled region, so that its ancient churches can live in peace and flourish," Benedict said. Benedict has walked a careful diplomatic path since arriving Friday on this divided eastern Mediterranean island. Cyprus was ethnically split in 1974 when Turkey invaded after a coup by supporters of union with Greece. Turkish Cypriots declared an independent republic in the north in 1983, but only Turkey recognizes it, and it maintains 35,000 troops there. Shortly after Benedict's arrival, the Cypriot archbishop launched a harsh attack against Turkey, accusing it of ethnic cleansing and of aiming to take over the entire island. Benedict has not responded directly to the Greek Cypriot leaders. On Saturday, he called for a "just settlement" of outstanding issues. President Dimitris Christofias kept it up Saturday when Benedict visited him at the presidential palace in the divided capital. He urged the international community to put its larger geopolitical interests aside and pressure Turkey to reach an accord reunifying the island. Christofias and Turkish Cypriot leader Dervis Eroglu last month resumed long-running peace talks after a two-month pause. While Benedict has no plans to visit northern Cyprus, his spokesman said it is likely the pope will meet with a Muslim delegation. In addressing members of Cyprus' tiny Catholic community, he stressed the importance of interreligious dialogue for the Catholic community, a reference to the overwhelmingly Muslim Turkish Cypriots. "Only by patient work can mutual trust be built, the burden of history overcome, and the political and cultural differences between peoples become a motive to work fore deeper understanding," Benedict said. Associated Press writer Menelaos Hadjicostis contributed to this report from Nicosia.
Berikut link video pertemuan Mawlana Syaikh Nazim dengan Paus Benediktus XVI.
Maulana: And this area is my home, just here. Behind this my house, I am growing. Subhanallah. One day I am meeting His Holiness to be here, that is most surprising event. Mashaallah, mashaallah.
Benedikt XVI.: God bless you. Give my grettings to all brothers and sisters … God bless you.
Kiai Achmad Qusyairi sebagai figur ulama yang berasal dari Glenmore, yang dikenal sebagai Kiai Achmad, Kiai Sepoh (dalam bahasa Madura) atau Kiai Sepuh (dalam bahasa Jawa). Kiai Ahmad Qusyairi sebenarnya datang dari jauh. Beliau lahir di Lasem (Sumbergirang) Sabtu Pon 11 Sya’ban 1311 H atau 17 Pebruari 1894 M. Beliau adalah putra keempat dari 23 orang bersaudara. Ayahanda beliau, KH. Muhammad Shiddiq, dikaruniai 23 anak dari tiga orang istri: Nyai Maimunah (Masmunah?), Nyai Zaqiyah (Siti Maryam?) dan Nyai Siti Mardhiyah. Dengan Nyai Maimunah beliau dianugerahi tujuh anak, dengan Nyai Zaqiyah dikaruniai sembilan anak dan dengan Nyai Siti Mardhiyah tujuh anak. Kiai Achmad Qusyairi adalah putra beliau dari istri pertama. Kisah Lailatul Qadar
Kiai Ahmad Qusyairi sebenarnya datang dari jauh. Beliau lahir di Lasem (Sumbergirang) Sabtu Pon 11 Sya’ban 1311 H atau 17 Pebruari 1894 M. Beliau adalah putra keempat dari 23 orang bersaudara. Ayahanda beliau, KH. Muhammad Shiddiq, dikaruniai 23 anak dari tiga orang istri: Nyai Maimunah (Masmunah?), Nyai Zaqiyah (Siti Maryam?) dan Nyai Siti Mardhiyah. Dengan Nyai Maimunah beliau dianugerahi tujuh anak, dengan Nyai Zaqiyah dikaruniai sembilan anak dan dengan Nyai Siti Mardhiyah tujuh anak. Kiai Achmad Qusyairi adalah putra beliau dari istri pertama.
Mengingat keterbatasan sumber, tak banyak yang bisa diungkap dari masa kecil Kiai Achmad. Tetapi yang pasti, sejak usia dini beliau sudah dikirim ke pesantren oleh ayahandanya. Beliau berpindah dari satu pondok ke pondok lainnya. Antara lain, pernah menimba ilmu di Langitan (Tuban), di Kajen (Pati) semasih diasuh Kiai Khozin, dan Semarang (Kiai Umar). Tetapi yang paling fenomenal adalah belajar beliau di Bangkalan, yakni di pondok Syaikhuna KH. Kholil. Kiai Kholil adalah ulama besar. Seorang waliyullah. Ada yang menyebut, beliau adalah wali kutub. Banyak santri beliau yang menjadi wali dan kiai besar. Kepada beliaulah ayahanda KH. Muhammad Shiddiq menimba ilmu dan amaliyah. Kemudian, setelah berkeluarga, beliau mengirimkan putra-putranya di sana, termasuk Kiai Achmad Qusyairi. Kelak, Kiai Achmad Qusyairi juga menitipkan putra sulung beliau, KH. Ridlwan, untuk mengais ilmu dari barokah dari sang wali kutub.
Menurut KH. Hasan Abdillah Glenmore, Kiai Achmad Qusyairi nyantri kepada Kiai Kholil saat masih remaja (pasca baligh). Suatu kali, di bulan Ramadhan, Kiai Kholil menyuruh para santri supaya tidak tidur di malam hari. Katanya, “Ayo cari Lailatul Qadar.” Maksudnya, mereka disuruh beribadah malam supaya mendapat barokah dari malam yang sangat mulia itu.
Kiai Achmad Qusyairi termasuk di antara santri yang juga mencari Lailatul Qadar. Tetapi beliau salah sangka. Beliau mengira, Lailatul Qadar itu benda kongkret. Malam itu beliau mencarinya ke sana kemari namun hasilnya, tentu saja, nihil. Pulang ke pesantren beliau dilanda kecapekan, lantas tertidur pulas.
Pada dini hari, Kiai Kholil berkeliling pesantren. Tujuanya, untuk mengawasi para santri. Tiba-tiba beliau melihat seberkas cahaya pada tubuh kecil seorang santri. Beliau mendekati sosok kecil itu lantas mengikat ujung sarungnya (dibikin simpul mati), sebagai tanda. Paginya, seusai salat subuh, beliau membuat pengumuman. “Ayo, siapa yang di sarungnya ada tali simpul?”
Tak ada santri yang menjawab. Si empunya simpul pun tak menjawab karena takut. Dia merasa bersalah karena tidur pulas tadi malam, padahal disuruh begadang.
“Kalau tak ada yang mau mengaku, ya sudah!” kata Kiai Kholil dengan nada keras. Dengan takut-takut seorang santri yang masih kecil mengacungkan jarinya. “Saya,” katanya. Ternyata dia santri bernama Achmad Qusyairi.
Marahkah Kiai Kholil, yang dikenal berperangai keras itu? Tidak. Beliau justru berkata, “Mulai sekarang para santri tak usah mengaji padaku. Cukup kepada Achmad Qusyairi.”
Kita tidak tahu persis (para sumber kita juga tidak tahu) apakah setelah kejadian itu beliau langsung pulang. Tetapi kami menduga beliau tidak langsung pulang. Beliau masih terus menimba ilmu hingga beberapa tahun.
Menikah
Ketika Kiai Achmad masih kecil, ayahanda beliau berpindah ke Jember. Konon, kepindahan itu dikarenakan isyarat dari Rasulullah s.a.w. melalui mimpi. Mimpi itu mengisyaratkan supaya beliau berpindah ke timur untuk berdakwah. Jember pun menjadi pilihan karena itulah yang diperintahkan oleh KH. Kholil Bangkalan, guru beliau. “Kiai Shiddiq jembar,” katanya saat santrinya itu singgah dalam perjalanan ke timur.
Kebetulan Jember saat itu merupakan daerah gersang dari sisi dakwah. Penduduknya masih banyak yang tidak beragama atau beragama Hindu-Budha. (baca: “Biografi Mbah Shiddiq” oleh Afton Ilman) Di kota ini ada seorang saudagar kaya bernama H. Alwi. Dia memiliki lima buah pabrik selep beras dan 35 rumah besar. Dia sangat akrab dengan Kiai Shiddiq. Bahkan, tanah tempat berdirinya pesantren serta rumah Kiai Shiddiq di Talangsari adalah hasil waqaf dari H. Alwi.
H. Alwi rupanya menyimpan kesan mendalam kepada pemuda Achmad Qusyairi, putra kiai yang dikaguminya itu. Begitu terkesannya sehingga dia menuruti apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Misalnya, seperti dituturkan Kiai Hasan Abdillah, pemuda Achmad Qusyairi menyarankan kepada H. Alwi supaya mengeluarkan zakat mal untuk hartanya yang berlimpah itu. “Ini harus dizakati,” katanya. “Baik,” jawab si saudagar.
H. Alwi tidak hanya mengamini, tapi juga menyerahkan soal perhitungan zakatnya kepada Kiai Achmad, dan Kiai Achmad menjalankan tugas itu dengan baik setiap tahunnya.
Alhasil, keduanya sudah seperti anggota keluarga. Seperti bapak dan anak. Guna lebih melanggengkan hubungan keluarga tersebut, H. Alwi meminang pemuda Achmad Qusyairi untuk menjadi menantunya. Tetapi manusia hanya bisa berencana, dan Allah yang menentukan. Pemuda Achmad Qusyairi urung jadi menantu H. Alwi karena dijodohkan ayahandanya dengan putri KH. Yasin bin Rois Pasuruan. Bagaimana ceritanya? Begini. Kiai Shiddiq, abah beliau, telah menjalin hubungan pertemanan dengan Habib Alwi bin Segaf As-Segaf Pasuruan melalui hubungan dagang. Keduanya memang sama-sama pedagang, tapi juga sama-sama wali. Dari Habib Alwi, Kiai Shiddiq mengenal Kiai Yasin bin Rois, seorang kiai besar pengasuh Pesantren Salafiyah yang terletak di desa Kebonsari, Pasuruan. Suatu kali, ketika Kiai Shiddiq bersama pemuda Achmad Qusyairi mengunjungi Habib Alwi, sang Habib menawarkan untuk menjodohkan putra Kiai Shiddiq itu dengan putri Kiai Yasin. Kiai Shiddiq menyatakan setuju. Kiai Yasin juga sepakat. Singkat cerita, pemuda Achmad Qusyairi dinikahkan dengan Fatmah binti Kiai Yasin bin Rais.
Akan halnya H. Alwi, tentu saja dia merasa kaget. Dia lalu menuntut kepada Kiai Achmad supaya mencarikan ganti beliau. Kiai Achmad menawarkan iparnya, Kiai Muhammad bin Yasin. H. Alwi merasa cocok, begitu pula di pihak pria. Maka dilangsungkanlah pernikahan antara Kiai Muhammad dan putri H. Alwi.
Malu
Kiai Achmad menikah dalam usia 19-20 tahun. Beliau merasa malu karena istri beliau, yang usianya lebih tua satu tahun, sudah hafal seluruh Al-Quran. Selama ini Kiai Achmad memang tidak pernah menghafalkan Al-Quran. Waktunya habis untuk menimba dan menimba ilmu.
Rasa malu tadi melecut beliau. Setahun setelah pernikahan, beliau berangkat ke kota suci Mekah guna menghafalkan Al-Quran di sana. Alhamdulillah, dalam waktu tiga bulan beliau berhasil menghafalkan 30 juz Al-Quran. Pulang ke Indonesia, beberapa kali beliau kembali ke Mekah untuk beribadah haji dan menimba ilmu. Suatu kali, beliau sedang berada di Mekah. Tiba-tiba Perang Dunia I meletus. Beliau tidak bisa pulang. Apa boleh buat. Beliau pun bermukim di tanah suci itu selama lima tahun. Di sana beliau menjalin hubungan dengan Syekh. Lima tahun kemudian, sepulang dari sana, beliau menjadi badal (wakil atau agen) dari syekh tersebut.
Syekh adalah julukan bagi orang-orang yang bertindak sebagai host atau rumah bagi para jamaah haji. Mereka mengorganisasikan perjalanan ibadah haji para jamaah selama di tanah suci, sejak kedatangan hingga kepulangan mereka serta menyediakan akomodasi dan berbagai fasilitas yang diperlukan. Para syekh itu memiliki wakil atau agen di Indonesia, yang disebut Badal Syekh. Peran Badal Syekh ini mirip dengan yang dijalankan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) sekarang: dari mencari jamaah, mendaftarkan mereka di Jakarta (segala dokumen haji kala itu harus diurus di kantor pusat di ibukota), dan mengurus keberangkatan mereka.
Lebih kurang, itulah pula yang dilakukan oleh Kiai Achmad. Para calon jamaah haji mendaftar kepada beliau, lalu beliau mengurus segala keperluan mereka dan mengantar mereka hingga ke kapal. Para calon jamaah haji itu, yang datang dari berbagai desa di kota dan kabupaten Pasuruan, berkumpul di Pesantren Salafiyah. Dari sana mereka naik dokar ke Pelabuhan Pasuruan. Karena kapal yang mengangkut mereka tidak bisa sandar di tepian, maka dari pelabuhan mereka diangkut dengan perahu kecil ke tengah laut.
Kiai Achmad biasanya ikut naik pula ke perahu kecil itu, guna memastikan tiada masalah pada para calon jamaah tersebut: entah itu soal tiket ataupun soal berbagai dokumen perjalanan. Terkadang, menurut Kiai Hasan Abdillah, beliau tidak hanya mengantar sampai ke kapal, tapi juga sampai ke Mekah. Pasalnya, kapten kapal yang terkesan oleh penampilan dan bahasa Belanda beliau, lalu mengajak beliau untuk ikut ke Jeddah, tanpa paspor.
Di samping menjadi Badal Syekh, beliau juga membuka usaha di bidang peralatan dokar. Tepatnya, beliau menjual suku cadang dan peralatan dokar. Adapun tokonya terletak di selatan Masjid Agung Pasuruan, dan diberi nama “Pasoeroeansche Dokar Handel”.
Beliau juga mengajar. Cukup banyak pengajian yang beliau gelar, baik di lingkungan pondok Pesantren Salafiyah maupun di luarnya. Entah itu di kota Pasuruan maupun di luar kota, seperti di desa Winongan (Kabupaten Pasuruan) dan kota Gresik.
Selama di Pasuruan beliau tinggal di lingkungan pondok pesantren Salafiyah. Tepatnya di sayap kiri rumah mertua beliau, Kiai Yasin. Adalah Kiai Yasin yang menyuruh beliau supaya membangun “sayap” tersebut, yang menempel di rumah sang mertua. Kemudian pada dasawarsa 1930-an, beliau membangun rumah di sebelah kanan rumah Kiai Yasin, yakni rumah yang kelak ditempati oleh menantu beliau, KH. Hamid.
Menurut KH. Hasan Abdillah, Kiai Achmad merupakan menantu yang disayang oleh Kiai Yasin. Maklum, antara keduanya ada kesamaan prinsip. Beliau tidak hanya disuruh membangun rumah yang menempel pada rumah Kiai Yasin, tapi juga dipercaya untuk mengajar di pondok. Peran sebagai pengajar dan pengurus pondok terus beliau pegang sepeninggal mertua beliau dan tongkat estafeta kepengasuhan pondok berpindah ke KH. Muhammad bin Yasin, putra Kiai Yasin.
Tetapi beliau tidak hanya mengajar di lingkungan pesantren. Beliau juga mengajar di tempat-tempat lain, seperti di Winongan (Kabupaten Pasuruan), Gresik, Madura dan lain-lain. Belakangan, seperti dituturkan KH. Abdur Rohman Ahmad, beliau tidak mengajar lagi di Gresik, tetapi orang-orang Gresik yang datang ke Pesantren Salafiyah Pasuruan untuk mengikuti pengajian beliau.
Dicalonkan Jadi Bupati
Sekitar tahun 1945-1946 beliau berpindah tempat tinggal: dari Pasuruan ke Kabupaten Jember. Tepatnya di Jatian, sebuah desa pedalaman, sekitar 15 km. sebelah timur kota Jember. Mengapa berhijrah?
Ada dua versi. Versi pertama diungkapkan oleh Kiai Hasan Abdillah. Katanya, Kiai Achmad berhijrah karena enggan dicalonkan menjadi bupati Pasuruan. Kala itu para kiai se-Pasuruan yang berkumpul di Masjid Agung Pasuruan sepakat menunjuk Kiai Achmad sebagai calon bupati.
Versi kedua diungkapkan oleh Ibu Nyai Hajjah Zainab, istri Kiai Achmad. Kepada al-faqir Nyai Zainab mengutip kata-kata Kiai Achmad bahwa beliau berpindah ke Jatian karena dikejar-kejar oleh Belanda. “Jatian itu kan desa pelosok, jadi cocok untuk tempat sembunyi,” ujar Nyai Zainab.
Tentang pencalonan Kiai Achmad sebagai bupati, ada pula kesaksian dari KH. Abdur Rahman Ahmad. “Aku juga mendengar waktu itu Abah dicalonkan di masjid karena Abah masih keturunan Mbah Surga Surgi,” ucapnya. Kiai Abdur Rahman saat itu masih menjadi seorang pemuda tanggung berusia sekitar 14-15 tahun. Kalau Kiai Abdur Rahman yang masih muda mendengar kabar tersebut, berarti kabar itu sudah menjadi pembicaraan umum. Dan karena sudah menjadi konsumsi umum, sangat wajar bila ada tambahan bumbu-bumbu, seperti bumbu bahwa Kiai Achmad adalah keturunan Mbah Surga Surgi (trah ningrat yang menurunkan para bupati Pasuruan), padahal tidak.
Sayang, alfaqir tidak mendapatkan data tertulis mengenai pencalonan tadi. Pertama, karena pencalonan itu merupakan keputusan ulama, bukan sesuatu yang diputuskan instansi formal. Kami menduga, para ulama kala itu belum memiliki tradisi mengarsipkan hasil-hasil rapat mereka. Kedua, kondisi saat itu begitu kacau, sehingga kalaupun ada, dokumen itu bisa jadi hilang.
Toh sejarawan Pasuruan dari P3GI, yang juga penulis buku “Hari Jadi Kota Pasuruan”, Untung Sutjahjo, tidak menepis kemungkinan adanya rapat demikian. Berikut ini kutipan kata-katanya kepada alfaqir:
“Adanya rapat untuk mengajukan seorang calon adipati sangat mungkin terjadi. Lebih-lebih, hubungan umaro-ulama sangat erat kala itu. Masjidnya adalah masjid Kiai Kanjeng. Masjid Agung adalah tempat membahas pula persoalan pemerintahan tertentu. Tetapi saya menduga, rapat itu diadakan secara sembunyi-sembunyi. Sebab, kondisi Pasuruan (dan di kota-kota lain) pada 1945 kacau sekali. Tidak aman. Belanda, pasca-terusirnya Jepang, sangat ketat mengawasi setiap gerakan atau perkumpulan. Karena itu, rapat mungkin diadakan sembunyi-sembunyi. Dan karena diadakan secara sembunyi-sembunyi, sangat boleh jadi dokumennya tidak ada. Pencalonan itu mungkin saja membuat marah Belanda. Jadi, sangat pantas kalau KH. Ahmad Qusyairi dicari oleh Belanda.” (Dalam catatan sejarah, Adipati R. Rumenggung Ario memerintah mulai 1936 hingga 1945. Selanjutnya, tampuk kepemimpinan berpindah kepada Adipati R. Soedjono. Berarti pada 1945 memang terjadi suksesi kepemimpinan, entah karena desakan rakyat ataukah karena masa baktinya telah berakhir.
Tetapi kalau kita perhatikan, masa bakti para adipati tidak sama. Kepemimpinan R. Tumenggun, misalnya, berlangsung selama 9 tahun, sedang adipati sebelumnya, R.A.A. Harsono, hanya memerintah selama tiga tahun.) Mengenai seberapa kacaunya Pasuruan (dan kota-kota lain) pada saat itu, hal itu bisa kita simak pada penuturan Soetjipto, seorang veteran perang yang tinggal di Jalan Mawar Pasuruan. Dia lahir tanggal 2 Pebruari 1925:
“Saya dulu sekolah di HIS Bangilan, dekat alun-alun kota Pasuruan. Lalu meneruskan di MILO Probolinggo. Karena di Pasuruan tidak ada MILO. Baru lima bulan sekolah, pecah perang.
Pada saat proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, kita tidak tahu menahu. Baru setelah itu ada pemberitahuan. Lalu pemerintah membentuk tentara. Saya ikut. Saya menjadi kepala.
Pada saat itu, khususnya ketika Belanda hendak mendarat di Surabaya, orang-orang tergerak untuk menjadi tentara. Terbentuklah pasukan-pasukan. Ada tentara reguler (TNI). Ada pula tentara nonreguler. Tentara kedua ini terbentuk begitu saja. Tidak teratur. Saya pernah mendengar (mungkin salah mungkin benar), KH. Ahmad Qusyairi memimpin pasukan. Namun, jangan bayangkan pasukan itu ada barisannya. Itu tidak teratur. Kalau ada serangan, pemimpin itulah yang mengkomando.
Tetapi saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Wong saya golongannya lain. (Beliau golongan santri, Soetjipto bukan santri, sehingga bukan satu komunitas.) Orang-orang berangkat sendiri-sendiri ke Surabaya. Tanpa komando, tanpa koordinasi. Dari Pasuruan, Jember, Probolinggo, Malang, Mojokerto dan lain-lain. Banyak dari mereka yang mati. Mereka adalah orang-orang yang berani mati.
Dalam pasukan itu ada dua macam. Orang bodoh tapi berani nyerang dengan segala risiko. Ada yang pintar, tidak berani nyerang. Mereka memakai perhitungan. Pada saat Jepang datang, orang Belanda sudah habis di pasuruan. Gemente dikuasai. Pabrik-pabrik gula dikuasai semua oleh orang Jawa. Tapi mereka tidak tahu caranya memenej yang benar.
Pada pascaproklamasi, orang-orang berangkat ke Surabaya. Yakni untuk membendung Belanda yang hendak kembali. Terus terang, kita kalah terus. Kita terus mundur. Kita terdesak ke Sidoarjo. Lalu terdesak lagi ke Porong. Lalu ke Pandaan. Terjadi pertempuran hebat. Kita terus mundur, hingga Belanda berhasil masuk ke Malang. Kami pernah ke Purwodadi untuk menyerang Belanda, dan dengan tujuan memutus kabel telpon Malang-Surabaya. Tapi keburu diserang lewat udara. Dibombardir pesawat. Rupanya ada mata-mata.
Pada akhirnya Pasuruan juga dikuasai Belanda. Banyak Belanda di sini. Pasuruan dikuasai oleh KNIL. Sebenarnya juga banyak cecunguk-cecunguk Belanda. Mereka orang Jawa tapi hatinya Belanda. Mereka merasa enak di bawah Belanda.
Nah, kalau pada siang hari Pasuruan dikuasai KNIL, malam hari dikuasai pribumi. Tentara gerilya. Hampir semua orang bergerilya. Ada Belanda lewat diserang, dibunuh. Ada cecunguk Belanda, dibunuh. Pernah ada Pak Carik, hendak membeli kambing. Ketemu teman-teman, dia digeledah, ditemukan korek api dengan bendera merah-putih-hijau, langsung dia dibunuh. Ada Pak Lurah, punya kambing 12 ekor. Tiga ekor diambil, disembelih, kepalanya dikasihkan ke saya. Kondisinya memang kacau.
Nah, pada malam hari itu kita bergerilya. Kita serang kantor polisi. Sebab, banyak polisi yang hatinya Belanda, meski orang Jawa. Kita serang kantor-kantor lain. Bahkan juga kepala desa atau aparat lain yang dianggap antek Belanda. Terkadang kita membakar.
Kalau Kiai Ahmad Qusyairi dicalonkan menjadi bupati, itu bisa saja terjadi. Sebab, waktu itu kita memang hendak menguasai semua. Kita tidak bisa berperang. Senjata kita juga apa adanya. Ada pula senjata api, tapi tidak banyak. Kita bikin pasukan maling untuk mencuri senjata milik Belanda.”
Yang hendak dikatakan ialah, pada saat itu terjadi kekacauan yang luar biasa. Di samping itu, ketika orang-orang mengetahui adanya proklamasi kemerdekaan, dan mereka melihat orang-orang Jepang berkemas, bukan mustahil Pasuruan juga mengalami eforia sebagaimana yang meluas di berbagai daerah. Yakni eforia yang, sebagaimana kita saksikan pada saat munculnya fajar reformasi dulu, memicu suatu semangat untuk menjebol segala yang ada dan menggantinya dengan yang baru sama sekali. Seperti dilaporkan di sejumlah daerah (seperti di Tegal), orang-orang beramai-ramai mendongkel penguasa lama yang dianggap berbau penjajah (meski dia sendiri orang pribumi) dan menggantinya dengan orang baru. Pasuruan mungkin saja mengalami hal serupa.
Pertanyaannya, mengapa Kiai Achmad Qusyairi? Tampaknya beliau dipandang memiliki dua macam kompetensi sekaligus: ahli ilmu agama dan sekaligus mumpuni di bidang umum. Paling tidak, mereka menilainya dari kemampuan beliau berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan Jepang. Beliau juga cukup fasih berbahasa Indonesia. Beliau sudah akrab dengan cara-cara yang cukup modern dipandang dari ukuran saat itu. Misalnya, berkomunikasi lisan dan tulis (lewat surat) dengan kapten kapal (yang semuanya orang Belanda tulen), para pejabat pemerintahan kolonial dan lain-lain. Beliau juga piawai menyusun untaian kata-kata indah dalam bentuk buku, risalah (karangan singkat) dan surat undangan -- termasuk dalam bahasa Indonesia. Bahkan, di zaman “sedini” itu, beliau sudah memiliki kartu pos khusus dengan kop usaha atau toko peralatan dokar beliau. Tak kalah pentingnya ialah, beliau sudah biasa mengurus pemberangkatan haji, yang tidak hanya memerlukan keahlian khusus di bidang manajemen dan administrasi, tetapi juga juga mobilitas yang tinggi serta kemampuan lobi serta kedekatan dengan pejabat-pejabat pusat. Makanya, tidak heran jika beliau pernah diminta oleh Jepang untuk menjadi penghulu, tetapi beliau menolak. Bisa saja pencalonan itu membuat marah orang-orang Belanda. Itulah sebabnya, beliau termasuk orang yang dicari-cari oleh Belanda.
Dengan demikian, kedua faktor tadi sama benarnya untuk menjelaskan kepindahan beliau dari Pasuruan ke Jatian. Walaupun demikian, seperti dikatakan oleh Kiai Hasan Abdillah, beliau menolak menjadi bupati karena beliau adalah orang yang tidak mengagulkan jabatan, bukan karena takut Belanda.
Dan itu, kami kira, benar. Sebab, sebelumnya beliau telah menolak tawaran jabatan penghulu dari Jepang. Beliau juga menolak tawaran duduk di jajajaran pengurus NU karena merasa diri tidak pantas.
Hijrah Lagi
Selama tinggal di Jatian, beliau menggelar pengajian. Pengajian ini diikuti baik oleh orang-orang Jatian maupun dari luar. Di antara orang luar Jatian yang rajin mengikuti pengajian beliau ialah H. Abdul Azhim dan H. Sholeh, keduanya berasal dari Glenmore, Banyuwangi.
Mereka di Glenmore terbilang saudagar kaya. Waktu itu Glenmore adalah daerah yang gersang dari segi siraman rohani. Daerah yang keras karena di sana banyak preman. Kemaksiatan merajalela, termasuk yang biasa disebut sebagai Mo Limo (5-M): madat (mabuk-mabukan), madon (zina), main (judi), maling (mencuri), mateni (membunuh). Sementara itu, jumlah guru agamanya tidak banyak. Ada seorang guru agama di sana yang konon masih suka bermain sabung ayam.
Itulah, maka H. Abdul Azhim dan H. Sholeh berinisiatif untuk menawari Kiai Achmad pindah ke Glenmore. Ternyata gayung bersambut. Beliau mengiyakan tawaran tersebut. Satu setengah tahun setelah bermukim di Jatian, beliau melakukan hijrah lagi, yaitu ke Glenmore.
Mula-mula beliau tinggal di rumah H. Abdul Azhim yang terletak di sebelah barat pasar. Lalu beliau membeli rumah di timur pasar. Tak lama kemudian rumah itu dijual, dan hasil penjualannya dipakai membeli rumah di Kalibaru. Beliau sendiri menempati rumah pemberian H. Mustahal, yang terletak sekitar 200 meter sebelah selatan rumah yang dijual tadi. Rumah ini menjadi tempat tinggal permanen beliau hingga akhir hayat beliau.
Akan halnya keberadaan beliau di Glenmore, sungguh tak mudah. Setelah melewati masa “bulan madu”, mulailah beliau menapak jalan menanjak. Beliau difitnah. Seperti dituturkan oleh Abdusy Syakur (70 tahun), warga Magelenan, Glenmore, suatu kali Pak Syarqowi datang, mengatakan bahwa beliau jadi omongan orang. “Sudah biar saja, orang kalau dibicarakan itu, dosanya habis,” kata beliau. Lalu beliau masuk ke dalam rumah, dan kembali membawa uang. “Ini berikan pada orang-orang yang membicarakan aku. Terima kasih, karena telah menghabiskan dosaku.”
Memang beliau menjadi bahan omongan orang banyak. Dan itu ada provokatornya, kata Kiai Abdillah. Provokator ini menghasut orang. “Jangan ke Kiai Achmad Qusyairi,” katanya di hadapan orang banyak dalam acara tahlilan. Fitnah itu begitu menghebat hingga Kiai Hasan, yang masih muda kala itu, tidak tahan. Dia sudah mau marah. Dia melaporkan hal itu pada Kiai Hamid, kakak iparnya. “Anu Lah, wong Glenmore iku gak nyucuk karo ilmune Abah (Orang-orang Glenmore tidak dapat menjangkau ilmu KH. Achmad),” kata Kiai Hamid kepada Kiai Abdillah. Beliau juga menyarankan supaya Kiai Achmad kembali ke Pasuruan.
Kiai Abdillah juga membatin, “Biar Abah ke Pasuruan saja, orang-orang aku yang hadapi.” Tetapi beliau bersikukup tetap tinggal di Glenmore. “Biar saja aku difitnah. Aku lebih suka dicela orang daripada dipuji,” ujar beliau. Di tengah terpaan badai yang hebat itu, beliau tetap bertahan. Beliau mengemong masyarakat. Sedikit demi sedikit beliau memperbaiki keadaan. Beliau mendirikan musalla di utara rumah beliau (1948). Di musalla ini dan di rumah beliau, beliau menggelar pengajian. Para ustaz dan kiai di Glenmore mengaji pada beliau. Orang-orang awam juga. Ada yang dari Glenmore, ada pula dari luar Glenmore.
Tetapi, tentu saja, tidak hanya lewat pengajian beliau mengemong dan mendidik masyarakat, tapi juga lewat keteladanan dan nasihat-nasihat. Terkadang beliau marah. Seperti marah beliau kepada Cak Arik kala pemuda ini masih bermain layang-layang padahal waktu salat Jumat tinggal beberapa menit lagi. Glenmore pun, pelan tapi pasti, beringsut. Citranya berubah. Dari desa Mo Limo, desa yang tidak aman dan penuh kerawanan, menjadi desa santri yang damai dan aman. Orang-orang yang dulunya dikenal sebagai perampok, pembunuh, ahli menggoda istri orang – pendeknya para jagoan dan preman – berubah penampilan menjadi santri setia beliau yang alim.
Dan dengan sendirinya pula, fitnah yang pernah merebak hebat, lambat laun mereda. Omongan-omongan miring mengenai beliau menghilang, dan orang-orang yang dulunya menjadi pemfitnah dan penghasut berubah menjadi para santri yang taat beragama dan bersikap takzhim pada beliau. Ternyata, segala fitnah dan hasutan itu dikarenakan kesalah-pahaman belaka. Sekarang, orang telah mengerti. Berkat kesabaran dan konsistensi beliau dalam menjaga syariat, lambat laun mereka menjadi semakin tahu. Coba, seandainya beliau mundur sebelum berjuang, mungkin Glenmore tidak banyak berubah. Jadi, alangkah besarnya manfaat kesabaran dalam perjuangan. Dan benarlah firman Allah:
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami beriman,” sedang mereka tidak diuji?
Wafat
Dalam usia senja beliau, sekitar tahun 1970, berkali-kali beliau mengatakan ingin wafat di tanah suci Mekah. Hal itu beliau ucapkan dalam banyak kesempatan di hadapan orang banyak. Kebetulan ketika hendak berangkat menunaikan ibadah haji pada 1971 beliau dilanda sakit.
Maka dari itulah, ketika beliau berangkat ke tanah suci dengan menumpang kapal laut, banyak orang yang waswas. Walaupun beliau sempat dinyatakan sehat oleh dokter pada hari-hari menjelang keberangkatan, sesampai di Mekah beliau menderita sakit keras. Begitu parahnya sehingga beliau hanya tergolek di tempat tidur. Ibu Nyai Zainab, yang menyertai beliau, dengan teladen meladeni segala kebutuhan beliau. Termasuk, maaf, menceboki beliau karena beliau benar-benar tidak bisa bangun dari pembaringan. Tak heran jika sempat terbetik perasaan khawatir di hati Ibu Nyai tersebut, “Bagaimana kalau aku ditinggal sendirian di sini?” Betapa beratnya bagi Bu Nyai yang tak pernah keluar dari rumah itu berada dan pulang sendirian dari negeri orang.
Alhamdulillah, beberapa hari menjelang pulang, Kiai Achmad berangsur sehat. Allah Maha berkehendak. Beliau pun pulang ke tanah air menyertai istri beliau dalam keadaan sehat wal afiat. Para anggota keluarga, handai tolan dan para santri yang sempat khawatir merasa lega.
Tetapi beliau tidak lama menyertai beliau. Pada tahun berikutnya di bulan Syawal, saat berada di Gresik, beliau jatuh di kamar mandi. Ternyata kejatuhan itu membawa pengaruh yang besar pada kesehatan beliau. Beliau langsung jatuh sakit dan tidak bisa bangun dari pembaringan.
Beliau kemudian dibawa ke Pasuruan, dan menempati rumah Kiai Hamid, yakni rumah yang dulu beliau tinggali. Seminggu berada di sana, beliau dilanda koma. Dan pada tanggal 22 Syawal 1392 H. bertepatan dengan 28 November 1972 M beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 81 tahun, meninggalkan 15 putra dan putrid, sejumlah cucu dan dua orang istri: Ibu Nyai Hajjah Halimah dan Ibu Nyai Hajjah Zainab. Dengan diantar ribuan pelayat, beliau dikebumikan di kompleks pemakaman di belakang Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan.
Beliau pun menjadi yang terakhir dari tiga serangkai yang wafat dalam waktu tiga bulan berturut-turut. Yang pertama adalah KH. Achmad Sahal Pasuruan pada bulan Sya’ban, lalu KH. Ma’shum Lasem pada bulan Ramadhan, dan beliau sendiri wafat pada bulan Syawal.
Hamid Ahmad, putra terakhir dari KH. Achmad Qusyairi b. Shiddiq
Untuk menjawab, tarekat apakah yang diikuti Kyai Hamid? Tentu bukanlah persoalan mudah untuk menjawab. Kesulitan ini muncul karena memang tidak ada data yang valid yang mengarah pada jawaban tersebut. Dalam berbagai riwayat yang didapat dari ahli keluarga, kerabat, para santri dan sumber-sumber yang lain pun hanya bersifat spekulasi karena banyaknya ikhtilaf pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Kyai tidak menjadi punya tarekat, alias tidak menjadi pengikut tarekat manapun. Kedua Kyai Hamid bertarekat Alawiyah. Dan ketiga, Kyai Hamid bertarekat Syadziliyah. Syari’at, Tarekat dan Ma’rifat Tarekat secara lughowi berasal dari Bahasa Arab Thoriqoh yang bearti jalan. Sebuah istilah dalam ilmu tasawuf sebagai salah satu tahapan dalam ajaran Islam yang harus dilalui seorang muslim setelah derajat syari’ah dan sebelum haqiqat. Ia merupakan salah satu jalan menuju Allah atau wushul (sampai) kepada Allah. Syekh Abu Bakr bin Muhammad al-Makki mengatakan, tarekat adalah mengambil yang paling hati-hati bagi diri dalam setiap amal perbuatan, seperti wara’, optimis kepada Allah (‘azimah) dan olah rohani (riyadlah). Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili mengatakan bahwa thariqat ini adalah kekuatan kesabaran, ketakwaan, kewara’an, keyakinan dan hidayah. Tujuan utamanya adalah wushul (sampai) pada derajat haqiqah. Yaitu wushulnya seorang salik (orang yang melakukan pengembaraan rohani) pada tingkatan ma’rifat billah dan musyahadah nur tajalli (menyaksikan Allah SWT) dalam hati-Nya. Sehingga terbuka segala hijab (halangan) antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Dengan demikian tarekat sebenarnya merupakan amaliyah yang dilakukan oleh seorang salik melalui maqamat (tingkatan-tingkatan) tarekat, seperti wara’, qona’ah, ikhlas, syukur, sabar, zuhud, muroqobah, shidq, khusyu’, tawadlu’, yakin, hingga pada maqamat tertinggi, yaitu ridlo. Rutinitas yang ditekankan dalam ajaran tarekat ini adalah melakukan ketaatan, membersihkan hati, mengamalkan akhlak hati dan memperbanyak dzikir terhadap Allah.
Tarekat dan Mursyid Pada mulanya tarekat merupakan amaliyah yang menekankan pentingnya ketaatan pd Allah, membersihkan hati, mengamalkan akhlak (hati) dan memperbanyak dzikir terhadap Allah. Namun dalam kenyataanya dalam tradisi tasawuf, peran seorang guru (syekh) mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual (maqamat) ketika seorang salik mengamalkan ajaran tarekat.
Kadang keberadaan dan urgensi seorang Mursyid dan wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf sebagai aktifitas individu dan personal. Mereka merasa mampu menembus jalan hati dan lautan rohani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara yang mereka yakini, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah (Syari’at). Sehingga mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.
Namun, dalam kenyataannya pandangan seperti ini hanya bisa diterima secara teoritis belaka. Sebab dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan mereka hanya akan mendapat kegagalan. Bukti-bukti sejarah kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para salafuna sholih yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Sebut saja Ibnu Athaillah as-Sakandari, Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali yang pada pengembaraannya akhirnya mereka harus menyerah pada kehampaan spiritual. Hingga ending pengembaraan itu dapat mereka dapatkan ketika bertemu seorang guru Mursyid. Salafuna sholih tersebut akhirnya memberikan kesaksian, bahwa seseorang dengan kehebatan ilmu agamanya pun, tidak akan mampu menempuh jalan sufi (suluk), kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid.
Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu” yang hakikatnya lahir dari amaliah dan lahiriyah. Manakala hati dan pengembaraan rohani menuju ma’rifat billah merupakan lautan misteri yang penuh dengan rahasia dan bahkan tipudaya.
Pada sisi lain dalam alam metafisika sufi, seorang salik yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, maka dia tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan jin. Sehingga jalan ma’rifat itu tidak bisa ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional (Syari’ah) saja, kecuali yang akan dia raih hanyalah Ilmul Yaqin belaka, bukan Haqqul Yaqin. Oleh sebab dapat dimengerti apabila kaum sufi mengatakan: “Barangsiapa (menempuh jalan Allah) tanpa mempunyai seorang guru (syekh), maka gurunya adalah syetan”.
Dengan urgensi seorang mursyid dalam tarekat ini maka tarekat bukan lagi menjadi satu tingkatan amaliyah dalam ajaran Islam yang harus dilalui seseorang, tetapi telah berkembang menjadi institusi yang menjadi pengikat antara seorang syekh mursyid dengan murid-muridnya dan dengan berbagai amalan, awrad dan dzikirnya. Amalan, awrad dan dzikir inilah yang membedakan antara tarekat satu dengan lainnya. Sebab inti dari tarekat adalah satu, yaitu wushul pada Allah atau sampai pada derajat haqiqat dan ma’rifat billah.
Waliyullah, Mursyid dan Tarekat
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang wali yang dapat memberi petunjuk kepadanya”. (Q.S. al-Kahfi; )
Wushul merupakan tujuan utama dalam maqamat, dan merupakan tingkatan tertinggi dalam tarekat. Berdasarkan ayat di atas, ia tidak akan dapat diperoleh tanpa kehadiran seorang waliyan mursyidan, yaitu syekh yang mempunyai kemampuan kamil dalam membimbing para muridnya.
Para wali sendiri memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana mereka ditempatkan dalam wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil yang mampu membimbing para salikin menjadi seorang hamba yang paripurna dengan kekuatan ma’rifat billah secara utuh.
Siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam taat ubudiyahnya, dalam dan tajam mata hatinya, dan luas lautan rohaninya serta tidak berkubang dalam kemaksiatan. Suatu tingkatan paripurna yang hanya Allah saja yang berhak menentukan. Firman Allah:
“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.”
Waliyullah adalah seseorang yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah tingkat excellent. Ia hanya bisa dicapai apabila seseorang mampu menembus berbagai hijab hati yang menghalanginya untuk musyahadah kepada Tuhannya dan sampai pada nur tajalli. Karena itulah, kehadiran seorang mursyid kamil mukammil, seorang waliyan mursyidan dan tarekat pegangan adalah mutlak bagi kelahiran seorang waliyullah, apapun hirarki yang dimilikinya.
Seorang mursyid yang memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas, mempunyai pengetahuan yang benar, himmah yang luhur, perilaku ruhani yang diridhai serta mata hati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi. Tak lain dalam hal ini Kyai Hamid yang menurut Gus Mus, bukanlah wali tiban. “Wali Tiban” kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kyai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’.
Tarekat dan Kyai Hamid
Untuk menjawab, tarekat apakah yang diikuti Kyai Hamid? Tentu bukanlah persoalan mudah untuk menjawab. Kesulitan ini muncul karena memang tidak ada data yang valid yang mengarah pada jawaban tersebut. Dalam berbagai riwayat yang didapat dari ahli keluarga, kerabat, para santri dan sumber-sumber yang lain pun hanya bersifat spekulasi karena banyaknya ikhtilaf pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Kyai tidak menjadi punya tarekat, alias tidak menjadi pengikut tarekat manapun. Data ini di dapat dari ahli keluarga dan kerabat beliau yang tidak pernah mendengar Kyai Hamid pernah “dawuh” atau mengakui tentang tarekat yang beliau anut.
Namun asumsi ini tentu sulit diterima melihat maqam wilayah dan ketinggian karamah yang beliau punyai semasa hidupnya. Begitu pula dengan tingginya kualitas maqamat tarekat yang beliau jalani. Suatu tingkatan yang hanya dapat diperoleh apabila seseorang mampu melalui lautan hati dan hamparan sara’ir dengan amaliyah tarekat yang amat mumpuni sehingga beliau sampai pada derajat ma’rifat billah. Hingga, adalah mustahil apabila beliau mendapatkan semua itu tanpa kehadiran seorang guru mursyid tarekat, atau bahkan seorang waliyan mursyidan.
Sikap diam beliau yang tidak pernah mengatakan siapa guru mursyid dan apa tarekat beliau memang cukup beralasan jika dikembalikan kepada otoritas beliau sebagai seorang waliyullah. Sebab, otoritas sebagai seorang wali adalah bagian dari ketentuan Allah yang ditentukan dengan batasan-batasan tugas tertentu. Sehingga, adalah sebuah pantangan apabila beliau melakukan pengakuan dan penyebaran tarekat, karena itu bukan menjadi otoritasnya. Hanya seorang mursyid tarekat saja yang berhak menyandang wewenang itu. Dari sini pula dapat kita mengerti, mengapa kita juga tidak pernah mendapat data valid, apa tarekat hadratus syekh Kyai Shiddiq, Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Wahab Hasbullah, hingga Ra Kholil Bangkalan.
Pendapat kedua mengatakan bahwa tarekat Kyai Hamid adalah tarekat Alawiyah. Indikasi ini diperoleh dari pengamatan para santri beliau yang menyandarkan praktik amaliyah tarekat dan zikir beliau yang banyak mengambil dari tarekat ini. Seperti diketahui, tarekat Alawiyah yang didirikan oleh Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir, seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M ini tidak menekankan segi-segi riyadlah atau olah rohani dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid.
Keunikan dari tarekat ini adalah tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah dari Syaikh mursyid jika ingin mengamalkan tarekat. Tarekat ini merupakan jalan tengah antara tarekat Syadziliyah yang menekankan riyadlah qulub atau olah hati, dan tarekat Ghazaliyah yang menekankan riyadlah al-‘abdan bil a’mal atau olah fisik. Ada dua wirid utama yang diajarkan tarekat ini, yakni al-wird al-lathif dan ratib al-haddad. Dua wirid yang diajarkan oleh Kyai Hamid dan diwariskan hingga sekarang kepada para santri dan keluarganya.
Indikasi lain yang menguatkan adalah karena Kyai Hamid semenjak tinggal di Pasuruan sudah berguru kepada Habib Ja’far bin Syaikhon as-Seggaf. Salah seorang ulama besar dan waliyullah di kota Pasuruan yang bertarekat Alawiyah. Sebab seperti diketahui, tarekat ini dinamakan alawy –selain disandarkan pada pendirinya, Imam Alawi al-Muhajir,- adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sadat yang berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan adalah dari para Sayyid. Dan mereka jugalah yang banyak menyebarkan tarekat ini di Indonesia sebagaimana dilakukan oleh Habib Ja’far as-Seggaff.
Tidak diketahui pasti apakah Habib Ja’far bin Syaikhon as-Seggaff adalah seorang ulama sekaligus guru (Syaikh) mursyid atau bukan. Tapi melihat karakter tarekat Alawiyah yang mudah dipraktikkan oleh siapapun dan awrad dan dzikirnya yang boleh dilakukan siapapun tanpa bimbingan seorang mursyid dan bai’at talqin, maka indikasi bahwa Kyai Hamid bertarekat Alawiyah dapat dibenarkan. Sebab selain Kyai Hamid berasal dari keluarga sadat, semenjak berguru kepada Habib Ja’far bin Syaikhon, Kyai Hamid mulai mengistiqamahkan diri dengan para santri serta keluarganya untuk mengamalkan al-wird al-lathif dan ratib al-haddad.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa tarekat Kyai Hamid adalah Syadziliyah. Sebab menurut sebuah sumber, sebenarnya beliau ketika mondok ke Termas selain belajar ilmu-ilmu agama dibawah asuhan KH. Dimyathi beliau juga sudah mengikat bai’at kepada Syekh Abdurrozaq bin Abdullah at-Termasi. Seorang wali mursyid tarekat Syadziliyah terkemuka pada masa itu di Termas. Mengapa beliau tidak menetap di pondok Syekh Abdurrozaq? Tentu karena pondok tarekat bukanlah pondok berasrama seperti pondok yang mempelajari ilmu agama layaknya pondok Termas. Tapi pondok yang hanya untuk melayani para santri yang meminta bimbingan suluk dan tarekat dari sang Mursyid saja.
Tarekat Syadziliyah yang disandarkan kepada nama pendirinya, Syekh Abu al-Hasan as-Syadzili merupakan tarekat yang menekankan riyadlah qulub atau olah hati pada setiap individu dengan melalui dzikir sirri (qalbi) dan beberapa awrad dan hizib yang digubah oleh al-Syadzili. Ajaran tarekatnya amat dipengaruhi oleh kitab Ihya’ Ulumiddin al-Ghozali yang menekankan amaliyah dalam bertasawuf dan Qut al-Qulub al-Makki yang menekankan kekuatan hati. Aturan, prinsip dan pokok cara menjalankan tarekat ini kemudian dikodifikasikan oleh Ibn ‘Atho’illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam.
Ciri-ciri tarekat Syadziliyah yang menekankan dzikir sirri dan kekuatan riyadlah hati secara individu ini memperkuat dugaan Kyai Hamid memang menjadi pengikutnya. Sebab, dugaan itu diperkuat dengan data-data fakta bahwa semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama Kyai Hamid) sudah banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Indikasi lain adalah dari ketertarikan Kyai Hamid semenjak muda untuk mempelajari kitab Ihya’ Ulumiddin. Bahkan kepada Habib Ja’far bin Syaikhon as-Seggaff pun beliau mengaji Ihya’ sampai berkali-kali. Ucapkan-ucapan beliau kepada para santrinya yang menceritakan kekagumannya dan menekankan pentingnya mempelajari karya monumental tasawuf al-Ghozali, Ihya’ Ulumiddin, juga merupakan bukti lain yang menguatkan dugaan tersebut.
Ibrah Kyai Hamid dan Tarekat
Namun terlepas dari paparan di atas, apakah Kyai Hamid bertarekat Alawiyah, Syadziliyah, atau bahkan mungkin tidak bertarekat sama sekali –seperti yang tersebut di atas- bukanlah masalah mendasar dalam hal ini. Sebab semua itu hanyalah sebuah asumsi yang didasarkan atas indikasi-indikasi yang relatif dan bahkan mungkin tidak valid.
Yang jelas, Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan. Setidaknya -dari sirah Kyai Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an, kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.
Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.
Wallahu A’lam bi al-Showab.
*Penulis adalah guru di Madrasah Salafiyah Pasuruan