Thursday, September 29, 2011

Sufi Road : Oriental Art and Sufi Music

Berikut adalah musik sufi oriental yang ada didaerah timur tengah dan asia selatan..

Selengkapnya...

Wednesday, September 28, 2011

Sufi Road : Tasawuf diantara Pemuji dan Pengelak

Tanya Jawab dengan Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa
pula keistimewaanya?
Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana
dalilnya bagi orang-orang yang memujinya?

Jawab:

Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara
menyeluruh.

Dengan penjelasan yang lebih luas ini, sekiranya dapat membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.

Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.

Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal, perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula. Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya
bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.

Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya) atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula
orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.

Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari
kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:

"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut
pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan
kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah
dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat
dengan-Nya."

Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:

"Semua orang yang menyembah Allah karena takut
akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku
tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku
cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."

Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham
bersatunya hamba dengan Allah).

Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, "Saya adalah Tuhan."

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.

Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli
(kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.

Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya,
menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha,dan lain-lainnya.

Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagaiberikut:

"Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang
mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan,
dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah
Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai
sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi
hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana
sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda',
Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."

Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri darigodaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.

Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.

Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur,an:

"Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat
besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165).

"... Allah mencintai mereka dan mereka punnmencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54).

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4).

Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai masalah zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa, muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama.

Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi. Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit
jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.

Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: "Ilmu tasawuf itu, kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.

Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi."

Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut:

1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh
hati dari Tuhanku (Allah)."

Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah saw.

2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.

3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif.

Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan:

"... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..."(Q.s. Al-Qashash: 77).

Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti
benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.

Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya.

Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H.), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'"

Al-Junaid pun berkata:

"Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan
menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh
dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita
(tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan
As-Sunnah."

Abu Khafs berkata:

"Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala
sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah,
serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan
wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk
golongan kaum tasawuf."

Abu Yazid Al-Basthami berkata:

"Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan
kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang
harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan
seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."

Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, "Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf?"

Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,

"Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua,
yaitu:

Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam
mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah
dan di luar Sunnah Nabi saw.

Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam
memberikan pujian dan menganggap mereka paling
baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi
saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah
bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan
pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha
orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam
kondisi yang prima di antara mereka, ada yang
cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang
ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang
terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya;
ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang
saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min
ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara
kedua sikap tadi)."

Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa, melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.

Masih banyak lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.

Wallaahu A'lam.

---------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Selengkapnya...

Sufi Road : Hadit Arba'in (5)

HADITS KELIMA

Terjemah hadits:
Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).

Kandungan Hadist :
1. Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya.
2. Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syari’at.
3. Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’(mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebihlebihan dan mengada-ada.
4. Agama Islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya.
Selengkapnya...

Monday, September 26, 2011

Debat antara Ibn `Athâ` Allah al-Iskandari dan Ibn Taymîyah


Di sadur dari buku Tasawuf dan Ihsan, Syeikh Hisyam Kabbani

Salah seorang imam sufi besar yang juga dikenal sebagai muhadis, pendakwah dan ahli fikih mazhab Maliki, adalah ‘Abd al-Fadhl Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari (w. 709H). Beliau adalah pengarang dari sejumlah karya penting, di antaranya:
• Al-Hikam (Kumpulan Hikmah)
• Miftâh al-Falâh (Kunci Kesuksesan)
• Al-Qashd al-Mujarrad fî Ma`rifat al-Ismil-mufrad (Tujuan Murni dari Pengetahuan tentang Nama yang Esa)
• Tâj al-`Arûs al-Hâwî li Tahdzîb al-Nufûs (Mahkota Pengantin yang Berisi Disiplin Jiwa)
• `Unwân al-Taufîq fî Adâb al-Tharîq (Tanda Keberhasilan dari Disiplin Jalan Sufi)
• Al-lathâ’if fî Manâqib Abi al-`Abbâs al-Mursi wa Syaikhihi Abi al-Hasani (Hal-hal Tersembunyi dari Kehidupan Suci ‘Abd al-Abbâs al-Mursi dan Gurunya ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili), sebuah biografi, dan yang lain-lainnya.

Beliau adalah murid dari ‘Abd al-Abbâs al-Mursi (w. 686H) dan pengganti kedua dari sufi pendiri, yaitu Imam ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili.
Ibn ‘Athâ’ Allah menentang Ibn Taymîyah karena sikap keterlaluannya dalam menyerang kaum sufi yang tidak bersepakat dengannya. Meskipun beliau tidak pernah secara terang-terangan menyebutkan nama Ibn Taymîyah, tapi jelas sekali bahwa beliaulah yang dimaksud tatkala beliau mengatakan, dalam kitabnya Lathâ’if, bahwa Allah telah memberi ujian kepada kaum sufi melalui apa yang ia istilahkan dengan “para ulama ilmu lahir”174 Halaman-halaman berikut memuat terjemahan pertama ke dalam bahasa Inggris tentang kisah peristiwa bersejarah yang terjadi di antara keduanya.

Berikut Teks Perdebatan dari Ushul al-Wushûl oleh Muhammad Zaki Ibrahim :

Ibn Katsîr, Ibn al-Atsîr, dan para pengarang biografi dan kamus biografi lainnya telah meriwayatkan perdebatan bersejarah yang otentik ini.175 Kisah ini memberikan suatu gambaran tentang etika perdebatan di antara orang-orang yang berilmu. Kisah ini mendokumentasikan kontroversi antara suatu pribadi yang sangat penting dalam tasawuf, yaitu Syeh Ahmad Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari, dan seorang tokoh yang sama pentingnya yang mewakili gerakan “Salafi”, yaitu Syeh Ahmad Ibn `’Abd al-Halîm Ibn Taymîyah. Perdebatan terjadi pada zaman Mamlûk di Mesir di bawah pemerintahan Muhammad Ibn Qalawun (al-Mâlik al-Nâshir).

Kesaksian Ibn Taymîyah terhadap Ibn ‘Athâ’ Allah

Syeh Ibn Taymîyah dipenjara di Iskandariah (Aleksandria), dan tatkala Sultan mengampuninya, beliau pulang ke Kairo. Pada waktu salat maghrib beliau datang ke mesjid al-Azhar yang salat maghribnya diimami oleh Syekh Ahmad Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari. Setelah salat, Ibn ‘Athâ’ Allah kaget menemukan bahwa Ibn Taymîyah telah melakukan salat di belakangnya. Dengan memberi salam kepada beliau sambil tersenyum, syekh sufi ini menyambut dengan ramah kedatangan Ibn Taymîyah di Kairo, sambil mengatakan, “Assalamu`alaikum.” Kemudian Ibn ‘Athâ’ Allah mulai berbincang dengan tamu yang ilmuwan ini.
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Biasanya, saya melaksanakan salat Maghrib di Mesjid Imam Husain dan salat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana rencana Tuhan bekerja sendiri! Allah telah menentukan agar saya menjadi orang yang pertama mengucapkan salam kepada Anda (setelah kepulangan Anda kembali ke Kairo). Katakanlah kepada saya, wahai fakih, apakah Anda mencelaku atas apa yang terjadi?”
Ibn Taymîyah: “Saya tahu Anda tidak bermaksud buruk pada saya, akan tetapi perbedaan pandangan di antara kita masih ada. Bagaimanapun juga, siapapun yang telah berbuat buruk pada saya, sejak hari ini dan seterusnya, saya akan membebaskannya dari kesalahan apa pun dalam urusan ini.”
Ibn `Atha` Allah: “Apa yang Anda ketahui tentang saya, wahai Syekh Ibn Taymîyah?”

Mengenai Tawasul
Ibn Taymîyah: “Saya mengetahui Anda sebagai orang yang saleh dan cermat, beilmu banyak sekali, punya integritas dan jujur dalam bicara. Saya bersaksi bahwa saya tidak menemukan seorangpun yang seperti Anda baik di Mesir atau pun di Siria yang lebih mencintai Allah atau pun lebih meluruhkan diri di dalam-Nya atau lebih taat dalam mengemban apa yang Dia perintahkan dan menjauhkan diri dari apa yang Dia larang. Meskipun demikian, kita masih memiliki perbedaan pandangan. Apa yang Anda ketahui tentang saya? Apakah Anda menyatakan bahwa saya telah sesat tatkala saya mengingkari keabsahan meminta bantuan kepada seseorang selain Allah (istighâtsah)?”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Sesungguhnyalah, wahai kawanku yang baik, Anda mengetahui bahwa istighâtsah atau meminta pertolongan itu sama saja dengan tawasul atau meminta disampaikan kepada Allah dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw. adalah satu-satunya orang yang bantuannya diminta karena beliaulah perantara kita dan beliaulah satu-satunya orang yang syafaatnya kita cari.”
Ibn Taymîyah: “Dalam hal ini, saya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh sunah Nabi saw. dalam syariah. Karena telah diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih, “Aku telah diberi kemampuan untuk memberi syafaat.”176 Saya juga telah menghimpun firman-firman Allah dalam ayat-ayat Alquran, “Mudah-mudahan Tuhanmu akan mengangkatmu (wahai Nabi) ke kedudukan yang terpuji” (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 79) dengan arti bahwa “kedudukan yang terpuji” itu adalah syafaat. Lebih jauh, tatkala ibu dari Amir al-Mukminin Ali meninggal, Nabi saw. berdoa kepada Allah di kuburannya dan berkata: Yâ Allah yang Mahahidup dan tidak pernah meninggal, yang mempercepat dan menetapkan kematian, ampunilah dosa-dosa dari ibuku Fatîmah binti Asad, luaskanlah tempat yang ia masuki melalui syafaatku, Nabi-Mu, dan nabi-nabi yang sebelumku. Karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih di antara yang pengasih.”177
“Ini adalah syafaat yang dimiliki oleh Nabi saw. Adapun menyangkut minta bantuan kepada seseorang selain dari Allah, maka ini bernada pemberhalaan; karena Nabi saw. memerintahkan saudara sepupunya Abdullah Ibn Abbâs agar tidak meminta tolong kepada siapapun selain kepada Allah.”178
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Semoga Allah memberimu kesejahteraan, wahai fakih. Berkenaan dengan nasihat yang diberikan oleh Nabi saw. kepada sepupunya Ibn Abbâs, beliau menginginkan agar ia mendekati Allah tidak melalui hubungan kekeluargaannya kepada Nabi saw, tapi melalui ilmunya.”
“Sehubungan dengan pemahamanmu tentang istighâtsah sebagai meminta bantuan kepada seseorang selain Allah yang merupakan kemusyrikan, saya bertanya kepada Anda, Adakah seorang Muslim yang memiliki keimanan yang kuat dan percaya kepada Allah dan Nabi-Nya saw. yang berfikir bahwa ada seseorang selain Allah yang memiliki kekuatan sendiri atas berbagai peristiwa dan sanggup mengubah apa yang telah Dia kehendaki berkenaan dengan peristiwa-peristiwa itu? Adakah seorang mukmin sejati yang percaya bahwa ada seseorang yang dapat memberi balasan baik kepadanya atas perbuatan baiknya dan menghukumnya atas perbuatan buruknya selain Allah?”
“Di samping ini semua, kita haruslah beranggapan bahwa ada ungkapan-ungkapan yang tidak boleh ditangkap maknanya sekedar dalam arti harfiahnya saja. Hal ini bukanlah karena takut membuat sekutu bagi Allah dan untuk menghindari penyebab terjadinya pemberhalaan. Karena siapapun yang meminta bantuan dari Nabi saw. hanyalah meminta kekuatan syafaat beliau di sisi Allah seperti halnya tatkala Anda sendiri mengatakan, “Makanan ini memenuhi seleraku.” Apakah makanan itu sendiri yang memenuhi selera Anda? Ataukah yang sebenarnya adalah bahwa Allahlah yang memenuhi seleramu melalui makanan?”
“Adapun tentang pernyataanmu bahwa Allah telah melarang kaum Muslim berdoa kepada seseorang selain Dia sendiri dalam rangka meminta tolong, apakah Anda benar-benar telah melihat ada seorang Muslim berdoa kepada selain Allah? Ayat yang Anda sebutkan dari Alquran diturunkan berkenaan dengan para penyembah berhala dan orang-orang yang biasa berdoa kepada tuhan-tuhan palsu mereka dan mengesampingkan Allah. Sebaliknya, satu-satunya cara kaum Muslim meminta bantuan kepada Nabi saw. adalah dalam arti tawasul atau menjadikannya sebagai perantara, dengan dasar hak istimewa yang telah beliau terima dari Allah (bi haqqihî `inda Allâh), dan tasyaffu` atau meminta pertolongan, berdasarkan atas kekuatan pengaruh yang dianugrahkan oleh Allah kepada beliau.”
“Adapun berkenaan dengan pernyataan Anda bahwa istighâtsah atau meminta pertolongan adalah dilarang dalam syariah karena dapat menggiring pada pemberhalaan dan kemusyrikan, apabila ini persoalannya, maka kita harus juga melarang anggur karena menjadi bahan untuk membuat arak, dan harus mengebiri orang-orang yang tak menikah karena kalau tidak maka membiarkan penyebab terjadinya hubungan di luar nikah dan perzinaan di muka bumi.”

Pada komentar terakhir ini kedua syekh ini tertawa. Kemudian Ibn ‘Athâ’ Allah melanjutkan,
“Saya tahu benar keluasan yang mencakup segala hal dan pandangan ke depan dari mazhab fikih yang didirikan oleh guru Anda Imam Ahmad, dan mengetahui kemenyeluruhan dari teori fikihmu sendiri dan mengenai prinsip sadd al-dzarâ’i` (mencegah penyebab keburukan) demikian pula masalah kewajiban moral yang harus dirasakan oleh seseorang yang berkecakapan dalam fikih Anda. Akan tetapi saya menyadari juga bahwa pengetahuan Anda mengenai bahasa menuntut agar supaya Anda mencari makna yang tesembunyi dari kata-kata yang sering tersembunyi di balik arti zhahirnya.
Adapun bagi kaum sufi, makna tersembunyi dari kata-kata tersebut adalah bagaikan roh, sedangkan kata-kata itu sendiri adalah bagaikan tubuh. Anda harus menembus jauh ke dalam apa yang ada di balik wujud verbal itu untuk menangkap realitas yang lebih dalam dari roh kata-kata itu.
Sekarang Anda telah menemukan dasar untuk menjatuhkan keputusan yang menentang Ibn ‘Arabî dalam kitabnya Fushûsh al-Hikam, suatu naskah yang sudah dirusak oleh para penentangnya, bukan saja dengan hal-hal yang tidak pernah beliau katakan, tapi juga dengan pernyataan-pernyataan yang bahkan tidak mungkin beliau pernah berniat mengatakannya (melihat sifat khas dari keislaman beliau). Tatkala Syekh al-Islâm al-’Izz Ibn ‘Abd al-Salâm memahami dan menganalisis apa yang benar-benar dikatakan oleh Syekh Ibn ‘Arabî, beliau mengerti dan memahami makna sesungguhnya dari ucapan-ucapan simboliknya itu, beliau meminta ampunan Allah karena pendapatnya terdahulu tentang al-Syekh dan mengakui bahwa Muhyiddin Ibn ‘Arabî adalah seorang Imam Islam.
Adapun tentang pernyataan al-Syâdzili yang menentang Ibn ‘Arabî, Anda seharusnya tahu bahwa ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili bukanlah beliau sendiri yang mengatakannya, tetapi salah seorang di antara murid-murid tarekat Syâdziliyyah. Lebih jauh, dalam membuat pernyataan ini, murid tersebut sedang memperbincangkan sebagian dari pengikut Syâdziliyyah. Dengan demikian, kata-kata beliau diambil dalam bentuk yang tidak beliau maksudkan.
Bagaimana pendapatmu tentang Amîr al-Mukminîn Ali Ibn Abi Thâlib, semoga Allah meridhainya?”

Ibn Taymîyah: “Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.”179 Ali Ibn Abi Thâlib adalah seorang mujjhid yang tidak pernah maju ke medan perang kecuali kembali dengan kemenangan. Ulama atau fakih manakah setelah beliau yang berjuang di jalan Allah dengan menggunakan lidah, pena, dan pedangnya pada saat yang sama? Beliau adalah seorang sahabat Nabi saw. yang paling ulung. Kata-katanya merupakan lampu penerang yang menerangiku di seluruh perjalanan hidupku setelah Alquran dan Sunah. Ah! Dia adalah orang yang selalu kekurangan perbekalan dan jauh perjalanannya.”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Sekarang, apakah Imam Ali meminta orang-orang untuk menyatakan keberfihakan kepadanya dalam suatu golongan? Karena golongan ini telah menyatakan bahwa malaikat Jibril telah melakukan kesalahan dengan memberikan wahyu kepada Muhammad saw. dan bukannya kepada Ali! Atau apakah beliau meminta mereka menyatakan bahwa Allah telah menitis ke dalam tubuhnya, maka al-Imampun menjadi tuhan? Atau Tidakkah beliau memerangi dan membunuh mereka dan memberikan fatwa bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?”
Ibn Taymîyah: “Atas dasar fatwa inilah, saya pergi memerangi mereka di gunung-gunung Siria selama lebih dari sepuluh tahun.”

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Dan Imam Ahmad—semoga Allah meridhainya—mempertanyakan tindakan-tindakan sebagian pengikutnya sendiri yang suka berpatroli, menghancurkan tong-tong minuman keras (di toko-toko penjual minuman keras milik orang Nasrani atau di mana saja mereka menemukannya, menumpahkan isinya di jalan-jalan, memukul perempuan-perempuan penyanyi, dan melawan orang-orang di jalanan. Semuanya ini mereka lakukan atas nama menegakkan yang baik dan mencegah yang dilarang (amar ma`ruf dan nahyi munkar). Meskipun demikian, Imam Ahmad tidak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan memarahi orang-orang yang semacam mereka itu. Akibatnya, para pengikut beliau ini, dipukuli, dimasukkan ke panjara dan diarak sambil dinaikkan diatas punggung keledai dengan muka menghadap ke ekor.
Sekarang, apakah Imam Ahmad sendiri bertanggung jawab atas perilaku buruk yang masih terus dilakukan oleh para pengikut Hanbali yang paling buruk dan kejam itu sampai masa kita sekarang ini, atas nama amar ma`ruf nahyi munkar?
Semua ini berarti bahwa Syekh Muhyiddîn Ibn ‘Arabî tidaklah bersalah sehubungan dengan para pengikutnya yang membebaskan orang-orang dari kewajiban-kewajiban agama, baik syariah atau pun akhlak dan dari melakukan perbuatan yang dilarang. Apakah Anda tidak melihat hal ini?”

IbnTaymîyah: “Akan tetapi di mana mereka berada sehubungan dengan Allah? Di antara kaum sufi ada orang-orang yang menyatakan bahwa tatkala Nabi saw. memberi kabar gembira kepada orang-orang miskin bahwa mereka akan masuk ke dalam surga sebelum orang orang-orang kaya, orang-orang miskin itu merasakan kegembiraan yang meluap-luap dan mulai merobek-robek pakaiannya; pada saat itu, Malaikat Jibril turun dari langit dan mengatakan kepada Nabi saw. bahwa Allah telah mencari bagian hak-Nya di antara robekan-robekan pakaian ini; dan malaikat Jibrilpun membawa salah satu di antaranya dan menggantungkannya pada `arasy Allah. Karena alasan inilah, menurut pengakuan mereka, kaum sufi mengenakan pakaian yang bertambal-tambal dan menyebut diri mereka sebagai fukara atau ‘kaum fakir!’”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Tidak semua orang sufi mengenakan pakaian yang bertambal-tambal. Inilah saya yang ada di depan Anda: apa yang tidak Anda setujui dengan penampilan saya ini?”
Ibn Taymîyah: “Anda termasuk di antara ahli syariah dan mengajar di al-Azhar.”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Al-Ghazâlî adalah Imam, baik dalam hukum-hukum agama atau pun dalam tasawuf. Beliau memecahkan aturan-aturan hukum, baik menyangkut Sunah dan Syariah dengan semangat seorang sufi. Dan dengan menerapkan metode ini beliau telah sanggup menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita mengetahui bahwa tasawuf mengakui bahwa apa yang ternoda tidak ada tempatnya di dalam agama dan bahwa kesucianlah yang menjadi ciri dari keberimanan. Seorang sufi yang benar dan sejati haruslah menyemai di dalam hatinya keimanan yang telah diakui oleh kaum Muslim Suni.

Dua abad yang lalu fenomena sufi palsu sendiri pernah muncul yang ditentang keras dan ditolak oleh Anda sendiri. Ada sekelompok orang yang mencoba mengurangi pelaksanaan ibadah dan kewajiban-kewajiban agama lainnya, meringankan puasa dan menganggap kecil ibadah salat. Mereka menghambur secara liar ke dalam arena kemalasan dan ketakpedulian yang sangat luas, sambil menyatakan bahwa mereka telah terbebaskan dari belenggu penyembahan Tuhan. Tidak puas dengan perbuatan-perbuatannya yang buruk, mereka mengaku telah mengakrabi hakekat yang paling luar biasa dan keadaan-keadaan mistis sebagaimana digambarkan oleh Imam Qusyayrî sendiri di dalam kitabnya yang terkenal Risâlah, yang beliau arahkan untuk menentang mereka ini. Beliau juga menuliskan secara mendetail apa yang dapat membangun jalan menuju Allah, yang berisi tentang keharusan untuk berpegang secara kokoh pada Alquran dan Sunah.

Para Imam dalam tasawuf menginginkan dapat sampai pada hakikat sebenarnya bukan hanya melalui bukti-bukti rasional yang ditelisik oleh pikiran manusia yang masih mungkin mengandung kesalahan sebagaimana halnya mengandung kebenaran, tapi melalui penyucian hati dan pembersihan ego melalui serangkaian latihan spiritual. Mereka membuang ketertarikan pada kehidupan dunia ini, karena sebagai hamba Allah yang benar tidaklah akan menyibukkan diri dengan hal-hal lain selain cinta kepada Allah dan Nabi-Nya saw. Inilah tingkatan tertinggi dari kesibukan hidup dan satu hal yang dapat menjadikan seorang hamba saleh, sehat, dan bahagia. Ini adalah pekerjaan yang dapat memperbaiki hal-hal yang telah merusak penciptaan manusia, seperti cinta pada uang dan ambisi menjadi orang yang terpandang di tengah masyarakat. Meskipun demikian, itu adalah tingkatan kesibukan yang tidak akan terbangun dengan apa pun selain dengan perjuangan spiritual yang ditujukan demi Allah semata.
Wahai kawanku yang penuh ilmu, menafsirkan nash-nash secara literal, atau menurut arti harfiahnya kadang-kadang membuat seseorang jatuh dalam kesalahan. Literalismelah yang telah menyebabkan Anda menghakimi Ibn ‘Arabî yang merupakan salah seorang Imam dalam keimanan dan dikenal dengan kesalehannya yang begitu mendalam. Anda telah memahami apa yang beliau tulis dari bentuk luarnya saja; padahal orang-orang sufi adalah tokoh-tokoh kesusasteraan yang akrab sekali dengan makna-makna yang sangat dalam, bahasa balâghah (hiperbolik) yang menunjukkan kesadaran spiritual yang tinggi dan kata-kata yang menyampaikan rahasia-rahasia alam gaib.”

Ibn Taymîyah: “Argumen ini justru melawan Anda, bukan menguatkan Anda. Karena tatkala Imam al-Qusyayrî melihat pengikut-pengikutnya menyimpang dari jalan Allah, beliau maju untuk memperbaiki mereka. Apa yang dilakukan oleh para syekh sufi pada masa kita sekarang ini? Saya hanya meminta agar para sufi itu mengikuti jalan yang dipraktekkan oleh para pendahulu (Salaf) Anda yang saleh dan agung ini, oleh para zâhid (penghindar kehidupan duniawi) di antara para sahabat, para tabiin dan tabi-tabiin yang mengikuti langkah-langkah yang terbaik dari mereka!
Siapa saja yang bertindak di jalan ini saya menghargai mereka setinggi-tingginya dan menganggap mereka sebagai imam dalam agama. Adapun berkenaan dengan bidah-bidah yang tak ada jaminan kebenarannya dan memasukkan gagasan-gagasan dari para penyembah berhala seperti para filsuf Yunani dan penganut Budha India, atau ide-ide bahwa manusia dapat mewujud Allah (hulûl) atau mencapai kesatuan dengan-Nya (ittihâd), atau teori bahwa semua yang ada adalah satu dalam ke-‘ada’-annya (wihdat al-wujûd) dan hal-hal lain yang seperti itu, yang diserukan oleh syekh Anda itu kepada orang-orang: nyata-nyata ini ketidakbertuhanan dan kekufuran.”

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Ibn ‘Arabî adalah salah seorang ahli fikih terbesar yang mengikuti mazhab Dâwûd al-Zhâhiri setelah Ibn Hazm al-Andalûsi, yang sangat dekat dengan ushul fikih Anda, wahai Hanbaliyah! Akan tetapi meskipun Ibn ‘Arabî adalah seorang Zahiri (yaitu kaum Literalisme dalam menetapkan hukum Islam), metode yang beliau terapkan dalam memahami hakikat tertinggi (al-haqîqah) adalah menyelusuri makna-makna spiritual yang tersembunyi (tharîq al-bâthin), yakni, menyucikan diri-batiniah (tathhîr al-bâthin).180 Meskipun demikian, tidak semua pengikut makna batin itu sama.
Agar Anda tidak salah dan lupa, coba baca kembali karya Ibn ‘Arabî dengan pemahaman yang jernih terhadap kata-kata simbolis dan ilhamnya. Anda akan mendapatkan sangat banyak persamaannya dengan al-Qusyayrî. Beliau telah mengambil jalannya dalam tasawuf di bawah payung Alquran dan Sunah sebagaimana halnya Hujjat al-Islam, Syekh al-Ghazâlî, yang mengadakan perdebatan tentang perbedaan-perbedaan doktrin dalam masalah akidah dan ibadah tapi beliau menganggapnya sebagai pekerjaan yang tidak mengandung nilai dan manfaat. Beliau mengundang orang-orang agar menyaksikan bahwa cinta kepada Allah merupakan jalan bagi seorang hamba yang sejati untuk mencapai iman.

Apakah Anda memiliki sesuatu yang dapat Anda tuduhkan dalah hal ini, wahai fakih? Ataukah Anda lebih suka persengketaan faham di antara para ahli fikih? Imam Malik ra. pernah memberikan peringatan keras terhadap pertengkaran dalam masalah keimanan seperti ini dan pernah mengatakan, ‘Tatkala seseorang masuk ke dalam adu argumen berkenaan dengan masalah-masalah keimanan, hal itu akan merongrong keimanannya.’ Demikian juga al-Ghazâlî pernah mengatakan: “Cara yang paling cepat untuk mendekati Allah adalah melalui hati, bukan tubuh. Saya tidak memaksudkan dengan hati tersebut daging ini yang begitu jelas dalam penglihatan, pendengaran, pandangan dan perabaan. Tapi, yang saya maksudkan adalah rahasia yang paling dalam dari Allah sendiri Yang Mahatinggi dan Mahaagung yang tidak kentara dalam pandangan dan rabaan.

Sesungguhnya, kaum Suni sendirilah yang menyebut syekh sufi al-Ghazâlî sebagai ‘Hujjat al-Islâm,’181 dan tidak ada seorangpun yang berani menyangkal pandangan-pandangannya bahkan tatkala ada salah seorang ulama yang berlebihan memuji-muji kitabnya sampai-sampai ia mengatakan, ‘Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn hampir mendekati Alquran.’182
“Mengamalkan kewajiban-kewajiban agama (taklîf) dalam pandangan Ibn ‘Arabî dan Ibn al-Farîd adalah ibadah di mana mihrab, atau ceruk dalam salat, yang menunjukkan arah salatnya, adalah aspek bathinnya, bukan sekedar bentuk ritual luarnya saja. Apa baiknya Anda berdiri dan duduk dalam salat apabila hatimu didiami oleh sesuatu yang selain dari Allah. Allah memuji orang-orang, tatkala Dia berfirman, “Mereka orang-orang yang khusyuk dalam salatnya” (Q.S. al-Mu’minûn [23]: 2) dan Dia mencela orang-orang tatkala Dia berfirman, “Yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan dalam salatnya” (Q.S. al-Mâ’ûn [107]: 5). Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn ‘Arabî tatkala beliau mengatakan, “Ibadah adalah mihrabnya hati, yaitu sisi batin dari salat, bukan sisi luarnya.”

Seorang Muslim tidak dapat sampai pada ilmu keyakinan (`ilm al-yaqîn) atau keyakinan itu sendiri (`ain al-yaqîn) yang disebutkan oleh Alquran apabila tidak mengosongkan hatinya dari apa saja yang mengganggunya dalam bentuk idaman-idaman duniawi dan tidak memusatkan dirinya pada perenungan batiniah. Setelah itu barulah benih-benih yang ditebarkan oleh Hakikat Ilahiah akan mengisi hatinya, dan dari sanalah sumber makanannya akan bersemi.
Seorang sufi sejati bukanlah orang yang mencari rizki dari meminta-minta sedekah kepada orang-orang. Sufi sejati adalah yang membangunkan hati dan rohaninya menuju fanâ’ (peluruhan diri) di dalam Allah dengan cara menaatinya. Barang kali Ibn ‘Arabî telah menyebabkan para ahli fikih bangkit menentangnya karena beliau telah melecehankan mereka atas pekerjaan mereka yang beradu argumen dan bertengkar dalam masalah-masalah keimanan, kasus-kasus hukum suatu tindakan, dan situasi hukum yang mungkin terjadi, sementara beliau melihat betapa sering hal tersebut mengganggu mereka dari menyucikan hati. Beliau menamakan mereka itu dengan ‘para ahli hukum tentang haid’ Semoga Allah melindungi Anda agar tidak termasuk di antara mereka! Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibn ‘Arabî: ‘Siapa saja yang membangun imannya semata melalui bukti-bukti yang terang dan argumen-argumen nalar, artinya ia telah membangun iman di atas sesuatu yang tidak mungkin dijadikan pegangan, karena ia telah tercemari oleh segala yang negatif dari tuduhan-tuduhan yang terus-menerus. Keyakinan (al-yaqîn) tidak lahir dari bukti-bukti hasil pemikiran tapi keluar dari kedalaman hati.’ Pernahkah Anda membaca perbincangan yang sebersih dan semanis ini?”
Ibn Taymîyah: “Anda telah berbicara dengan baik hanya kalau guru Anda memang mengatakan sebagaimana yang Anda katakan, karena dengan demikian beliau sangat jauh dari kekufuran. Akan tetapi apa yang telah beliau katakan, menurut pendapatku, tidak dapat mendukung makna yang telah Anda berikan,
Selengkapnya...

Saturday, September 24, 2011

Rabi'ah Al-Adawiyah “Aku adalah Miliknya”

Ketenaran Rabi'ah Al-Adawiyah sebagai wanita sufi menimbulkan hormat dan sekaligus kekaguman pada semua kalangan. Banyak kalangan ingin menikahinya, tetapi semua ditolaknya. "Aku adalah milik-Nya' jawabnya.

Selama hidupnya, Rabi'ah Al-Adawiyah, wanita sufi dari Bashrah, tidak pernah menikah. Ketenarannya sebagai wanita sufi menimbulkan hormat dan sekaligus ke kaguman pada semua kalangan. Karena itulah, Gubernur Bashrah kala itu, Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi berkeinginan untuk menikahinya, tapi ditolak Rabiah. Rabiah mengatakan, “ Seandainya engkau memberikanku seluruh warisan hartamu, tidak mungkin aku emmalingkan perhatianku dari Allah kepadamu, hatta sekejap mata sekalipun”
Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi adalah gubernur yang kaya raya. De ngan kekayaan yang melimpah ruah ini dia meminta tolong kepada para ulama dan umara untuk mencarikan istri yang cocok, yang dapat membuatnya menjaga dengan amanah harta bendanya.
Orang-orang yang dimintai saran itu memberikan saran bahwa istri yang memenuhi syarat itu adalah Rabi'ah Al-Adawiyah.Namun, begitu lamaran itu disampaikan kepada Rabi'ah, ia mengirim surat kepada sang gubernur:
Persis seperti halnya kezuhudan (zuhud) di dunia ini adalah sumber kesenangan dan kenikmatan jasmani, maka begitu pulalah perhatian pada dunia menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan. Singkirkanlah kekayaanmu di dunia ini untuk kehidupan akhirat nanti. Bersikaplah amanah kepada dirimu sendiri sekarang ini. Jangan biarkan orang lain mengelola dan membagi-bagikan harta kekayaanmu kelak. Berpuasalah dan kehidupan. Berbukalah dengan kematian.
Akan halnya diriku, seandainya Allah memberiku sebanyak apa yang engkau berikan, atau bahkan lebih dan itu, aku tidak mungkin memalingkan perhatian ku dari-Nya barang sekejap pun.

Kepada orang lain yang bertanya ke-padanya mengapa ia tidak menikah, Rabi'ah berkali-kali menjawab, "Ikatan perkawinan berkenaan hanya dengan wujud. Akan tetapi, adakah wujud dalam diriku? Aku bukanlah milik diriku sendiri. Aku adalah milik-Nya."

Kisah di atas mungkin berkenaan dengan Hasan Al-Bashri, sufi dari Bashrah, dekat Baghdad. Hasan pernah bertanya kepada Rabi'ah ihwal apakah ia ingin bersuami.
Rabi'ah menjawab, "Ikatan perkawin¬an hanya sebatas pada wujud. Akan tetapi, di sini wujud itu tidak ada. Aku tidak mengetahui diriku sendiri. Melalui Dia-lah aku ada, dan di bawah bayang-bayang kehendak dan kemauan-Nya saja-lah aku mawujud. Suami dicari dari-Nya."
"Bagaimana engkau mencapai ke-dudukan (maqam) ini?" tanya Hasan.
"Dengan melenyapkan segenap pencapaianku dalam diri-Nya."
"Lalu, bagaimana engkau menge-tahui-Nya?"
"Engkau mengetahui 'bagaimana',' jawabnya, "sementara aku mengetahui tanpa 'bagaimana'."

Dalam beberapa kisah disebutkan, Hasan Bashri sendiri sangat mencintai Rabi'ah. Namun tidak ada keberanian untuk melamamya. Dan akhirnya mereka terlibat dalam suatu persahabatan tetapi mesra yang didasarkan karena Allah SWT semata-mata, bukan karena hawa nafsu.
Sebuah anekdot menggambarkan bagaimana status "teman tapi mesra" antara Hasan dan Rabi'ah:

Seminggu sekali, Hasan Al-Bashri mengadakan pertemuan dan ia me-nyampaikan khutbah. Setlap kali naik mimbar, ia selalu mencari Rabi'ah. Dan jika tidak melihatnya, ia tidak mau berkhutbah.
Orang-orang mengatakan, "Begitu banyak orang panting dan terkemuka berkumpul di sini, ada apa gerangan jika wanita tua berhijab itu tidak datang ke sini?"
Hasan menjawab, "Anggur yang di-peruntukkan buat gajah tidak bisa di-tuangkan ke dalam dada semut."
Setiap kali majelis pertemuan itu se-makin hangat dan bersemangat karena mendengar kata-katanya, Hasan Al-Bashri akan berpaling kepada Rabi'ah dan berkata, "Duhai, meskipun tersembunyi di balik hijab, segenap hasrat dan gairah ini timbul hanya dari bara api da¬lam qalbumu."
Persahabatan mesra kedua sufi itu juga tertihat dalam pengakuan Hasan Al-Bashri berikut, "Kuhabiskan siang dan malam hari bersama Rabi'ah dengan mendiskusikan thariqah dan haqiqah, tetapi aku maupun Rabi'ah tidak pemah merasa bahwa salah seorang di antara kami adalah pria dan yang lainnya wanita. Hanya saja, ketika aku meninggalkannya, kudapati diriku dalam keadaan sangat memerlukan dan miskin, sementara kulihat Rabi'ah benar-benar dalam keadaan ikhlas."

"Aku akan Menikah jika..
Di kala lain, orang-orang juga ber-tanya kepada Rabi'ah, "Mengapa engkau tidak menikah?"
la menjawab, "Aku khawatir akan tiga hal. Jika kalian sanggup membebaskanku dari kekhawatiranku itu, aku akan menikah.
Pertama, di saat sekarang, akankah keimananku cukup untuk menyelamatkanku? Kedua, akankah buku amalanku diberikan kepadaku di tangan kiriku atau tangan kananku? Ketiga, di saat itu ketika sekelompok orang dipanggii maju di sebelah kiri dan digiring ke neraka, dan sekelompok orang di sebelah kanan dipanggii serta digiring masuk ke surga, dalam kelompok mana aku termasuk?"
Orang-orang itu terbengong, Ten-tang masalah itu, kami tidak tahu."
"Dengan ketakutan seperti ini, apa-kah aku bisa menikah?" kata Rabi'ah.

Sekendi Madu Putih
Tidak hanya seorang gubemur kaya raya yang terpesona dengan Rabi'ah, seorang ulama juga kesengsem dengan akhlaq sufi wanita yang hidupnya penuh amai ibadah itu.
Menurut Abdul Wahid Zayd, Rabi'ah sering kali menghadiri majelis Samit Ajlan. Amalan-amalan ibadahnya yang terkenal menyebabkan Abdul Wahid ingin menikahinya.
"Aku ungkapkan keinginanku kepada Samit Ajlan," tutur Abdul Wahid, "yang mengungkapkan keinginanku kepada Samit Ajlan, yang mengatakan bahwa bahwa ia akan mencoba menyampaikan pinanganku kepada Rabi'ah."
Abdul Wahid meninggalkan Samit dan berusaha menemui Rabi'ah sendiri.
Ketika sudah berhadapan dengan Rabi'ah, justru Abdul Wahid mendapatkan pertanyaan, "Nafsu mana, wahai sang pria, yang engkau lihat dalam diriku yang menyebabkanmu rindu kepada-ku?"
Pertanyaan itu mengejutkan Abdul Wahid, sebab ia yakin bahwa berita pinangannya belum sampai kepada wanita sufi tersebut.
Kemudian Rabi'ah mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa, "Ya Allah, kirimkan kepada kami sekendi madu putih untuk jamuan makan kami."
Segera saja sebuah kendi, yang belum pemah disaksikan Abdul Wahid sebelumnya, muncul dari tempat yang tidak diketahui asal-usulnya.
"Wahai Abdul Wahid," serunya, "jika engkau ingln madu yang sama sekali bukan berasal dari lebah mana pun, atau belum pemah dirasakan oleh makhluk mana pun, ulurkan tanganmu dan berbukalah sendiri."
Abdul Wahid sangat ketakutan untuk mengulurkan tangannya, betapapun dia ingin berusaha.
Rabi'ah kemudian meminta dia dan rombongannya meninggalkannya.
Dengan segera Abdul Wahid dan rombongannya pun pergi.

"Pandanglah Sang Pencipta"
Rabi'ah tidak hanya dicintai kaum pria, tetapi juga kaum wanita. Cinta di sini bukan cinta hawa nafsu, tetapi cinta untuk mengabdi dan meneladani sebagaimana yang diamalkannya.
Seorang wanita pemah mengaku kepada Rabi'ah, "Demi Allah, aku mencin-taimu."
Rabi'ah menjawab, "Patuhilah dan taatilah Allah, yang demi diri-Nya engkau mencintaiku."
Salah seorang wanita shalihah yang mengabdi dan berkhidmat kepada Rabi'ah adalah Abdah binti Abu Syuwail. Banyak riwayat hidup Rabi'ah, khusus-nya yang berada di dalam rumah, ber-sumber dari dirinya.
Ada juga beberapa santri wanita yang berkhidmat kepada Rabi'ah, se-bagaimana petikan kisah berikut ini:
Pada suatu hari yang indah di musim semi, Rabi'ah menyendiri di kamar tempat ia berkhalwat, dan tidak bermaksud keluar.
Kemudian, salah seorang santri wanitanya berkata, "Wahai Ibu, keluarlah dan lihatlah karya-karya Sang Pencipta."
"Lebih baik masuklah," jawab Rabi'ah, "dan pandanglah Sang Pencipta itu sendiri. Merenungkan-Nya membuatku tidak sempat lagi memandang ciptaan-Nya."

Sumber : Al Kisah
Selengkapnya...

Thursday, September 22, 2011

Kisah Karomah Habib Sholeh bin Mukhsin Al Hamid Tanggul

Habib Soleh Bin Muhsin Al Hamid, Beliau adalah Seorang wali qhutub yang lebih dikenal Dengan nama habib Sholeh Tanggul, Berasal dari Hadramaut dan pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di daerah tanggul Jember Jawa timur.
Mengisahkan tentang Habib Sholeh Tanggul tidak bisa lepas dari peristiwa yang mempertemukan dirinya dengan Nabi Khidir AS. Kala itu, layaknya pemuda keturunan Arab lainnya, orang masih memanggilnya Yik, kependekan dari kata Sayyid, yang artinya Tuan, sebuah gelar untuk keturunan Rasulullah.

Suatu ketika Yik Sholeh sedang menuju stasiun Kereta Api Tanggul yang letaknya memang dekat dengan rumahnya. Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta uang. Yik Sholeh yang sebenarnya membawa sepuluh rupiah menjawab tidak ada, karena hanya itu yang dimiliki. Pengemis itupun pergi, tetapi kemudian datang dan minta uang lagi. Karena dijawab tidak ada, ia pergi lagi, tetapi lalu datang untuk ketiga kalinya. Ketika didapati jawaban yang sama, orang itu berkata, “Yang sepuluh rupiah di saku kamu?” seketika Yik Sholeh meresakan ada yang aneh. Lalu ia menjabat tangan pengemis itu. Ketika berjabat tangan, jempol si pengemis terasa lembut seperti tak bertulang. Keadaan seperti itu, menurut beberapa kitab klasik, adalah ciri fisik nabi Khidir. Tangannyapun dipegang erat-erat oleh Yik Sholeh, sambil berkata, “Anda pasti Nabi Khidir, maka mohon doakan saya.” Sang pengemispun berdoa, lalu pergi sambil berpesan bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu.

Tak lama kemudian, turun dari kereta api seorang yang berpakaian serba hitam dan meminta Yik Sholeh untuk menunjukkan rumah Habib Sholeh. Karena di sekitar sana tidak ada yang nama Habib Sholeh, dijawab tidak ada. Karena orang itu menekankan ada, Yik Sholeh menjawab, “Di daerah sini tidak ada yang nama Habib Sholeh, yang ada Sholeh, ya saya sendiri ini, “Kalau begitu andalah yang saya cari,” jawab orang itu lalu pergi, membuat Yik Sholeh tercengang.

Sejak itu, rumah Habib Sholeh selalu ramai dikunjungi orang, mujlai sekedar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari tanggul, tetapi juga luar Jawa bahkan luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain. Mantan wakil Presiden Adam malik adalah satu dari sekian pejabat yang sering sowan kerumahnya. Satu bukti kemasyhuran beliau, jika Habib Sholeh ke Jakarta, penjemputnya sangat banyak, melebihi penjemputan Presiden,” ujar KH. Abdillah yang mengenal dengan baik Habib Sholeh
---------------------------------------------------------------------------------
KH.Ahmad Qusyairi bin Shiddiq, mertua Kyai Abdul Hamid Pasuruan adalah sahabat karib Habib Sholeh. Dulunya Habib Sholeh sering mengikuti pengajian KH. Ahmad Qusyairi di Tanggul, tetapi setelah tanda-tanda kewalian Habib Sholeh mulai menampak, KH. Qusyairilah yang mengaji kepada Habib Sholeh.

Suatu saat, KH. Qusyairi sowan kepada rumah Habib Sholeh. Tidak seperti biasa, sambutan Habib Sholeh begitu hangat, sampai dipeluknya erat-erat sang Kyai. Habib pun menyembelih seekor kambing khusus untuk menjamu sang teman karib. Disela-sela bercengkrama, Habib mengatakan bahwa itu terakhir kali yang ia lakukan. Ternyata beberapa hari kemudian KH. Qusyairi wafat di kediamannya di Pasuruan.

Tersebutlah seorang jenderal yang konon pernah mendapat hadiah pulpen dari Presiden AS D. Esenhower. Suatu ketika pulpen itu raib saat dibawa ajudannya kepasar (kecopetan). Karuan saja sang ajudan kalang kabut kehilangan barang yang sangat dicintai oleh sang Jenderal dan takut mendapat hukuman, sehingga disarankan oleh seorang kenalannya agar minta tolong ke Habib Sholeh.

Sampai di sana, Habib menyuruhnya mencari ke pasar Tanggul. Sekalipun aneh, dituruti saja, dan ternyata pulpen itu tidak ditemukan. Habib menyuruh lagi, lagi-lagi tidak ditemukan. Karena memaksa, Habib masuk kedalam kamarnya, dan tak lama kemudian keluar dengan menjulurkan sebuah Pulpen. “Apa seperti ini pulpen itu? Sang ajudan tertegun, karena ternyata itulah pulpen sang jenderal yang sudah pindah ke genggaman pencopet.

Nama Habib Sholeh kian terkenal dan harum. Kisah-kisah yang menuturkan karamah beliau tak terhitung. Tetapi perlu dicatat, karamah hanyalah suatu indikasi kewalian seseorang. Kelebihan itu dapat dicapai setelah melalui proses panjang yaitu pelaksanaan ajaran Islam secara Kaffah. Dan itu dilakukan secara konsekwen dan terus menerus (istiqamah), sampai dikatakan bahwa Istiqamah itu lebih mulia dari seribu karamah.

Tengok saja komitmen Habib terhadap nilai-nilai keislaman, termasuk kepeduliannya terhadap fakir miskin, janda dan anak yatim, menjadi juru damai ketika ada perselisihan. Beliau dikenal karena akhlak mulianya, tidak pernah menyakiti hati orang lain, bahkan berusaha menyenangkan hati mereka, sampai-sampai dikenal tidak pernah menolak permintaan orang. Siapapun yang bertamu akan dijamu sebaik mungkin. Habib Sholeh sering menimba sendiri air sumur untuk mandi dan wudu para tamunya.

Maka buah yang didapat, seperti ketika Habib Ahmad Al-Hamid pernah berkata kepada baliau, kenapa Allah selalu mengabulkan doanya. Habib Sholeh menjawab, “Bagaimana tidak? Sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat-Nya Murka.”
-----------------------------------------------------------------------------

Suatu hari datanglah seorang wanita dari Swiss kepada Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid. Wanita Swiss tersebut sebelumnya bermimpi aneh. Di dalam mimpinya ia ketemu dengan seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Habib Sholeh dari Tanggul Jember Indonesia.

Tanpa banyak berpikir, si wanita pun menurut dan langsung terbang dari Swiss menuju Indonesia, ke Tanggul, sebuah tempat yang namanya asing baginya. Ternyata ia mempunyai persoalan rumit. Empat hari lagi ia akan menikah dengan seorang pria yang ia cintai. Tetapi malang, pria tersebut ternyata digaet oleh seorang perempuan jalang. Maka rencana pernikahan pun terancam batal.

Di tengah-tengah kegalauannya itulah, di suatu malam, ia bermimpi didatangi seseorang yang kemudianmemperkenalkan dirinya sebagai Habib Sholeh yang katanya beralamat di Tanggul, Jember, Indonesia. Kepadanya dikatakan, Habib Sholeh itu dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Itulah yang membuatnya penasaran dan ingin segera mencari tahu dan menemui seorang Habib seperti dimaksud dalam mimpinya.
Tak disangka, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, ia pun tak mendapatkan kesulitan yang berarti. Setelah bertanya ke petugas bandara tentang siapa gerangan Habib Sholeh Tanggul, ternyata salah seorang di antara petugas ada yang tahu dan bersedia mengantarnya.
Di sana ia terkejut. Ternyata ia betul-betul melihat orang yang sama persis dengan yang dilihatnya dalam mimpi. Tak lain tak bukan, dialah Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid. Pada saat itu kebetulan sedang banyak tamu. Setelah memperkenalkan diri, tak lama kemudian, ia dipersilahkan masuk dan berganti pakaian. Sebab ia orang Eropa yang biasa dengan pakaian bebas. Setelah itu, ia pun dipersilahkan mengutarakan maksud kedatangannya.
Tidak lama ia bertamu di kediaman Habib Sholeh. Sebab setelah itu, sang Habib menyuruhnya segera bertolak ke Swiss. Kepadanya dikatakan “Segeralah pulang ke Swiss. Nanti setibanya kamu disana, calon suamimu akan menangis di depan pintu rumahmu sambil mengakui kesalahannya dan memohon maaf kepadamu.” Tanpa banyak tanya lagi, wanita itu pun segera bertolak menuju Swiss.

Lama tak terdengar kabar, beberapa bulan kemudian, wanita tersebut datang kembali. Namun dengan keadaan yang berbeda. Ternyata apa yang dikatakan oleh Habib Sholeh kepadanya pada kunjungannya yang pertama menjadi kenyataan. Kini ia telah hidup bahagia sebagai sepasang suami istri. Kepada Habib Sholeh ia berucap terima kasih. Dan ia pun menawarkan apa saja yang Habib Sholeh minta, semuanya akan ia penuhi. Tetapi sebagai seorang waliyullah, Habib Sholeh tak mengharapkan imbalan apapun, melainkan ikhlas karena Allah semata.

‘Hanya saja, kalau boleh saya meminta.” Ujar sang Habib, “dan tidak ada sama sekali paksaan……kalau kamu berkenan, saya meminta kamu memeluk islam.” Alhamdulillah, dengan penuh kesadaran serta keikhlasan, wanita tersebut beserta suaminya memeluk agama Islam.
--------------------------------------------------------------------------

Pada saat Adam Malik ( mantan Menteri Luar Negeri ) menjabat sebagai Kepala Kantor Berita Antara; suatu saat lewat Lembaga yang dipimpinnya, beliau mengungkap keterlibatan Menlu Soebandrio, yang saat itu dikenal sebagai tokoh berfaham ajaran komunis. Karuan saja, berita-berita yang dimuat itu membuat Soebandrio dan jajarannya kalang kabut karena merasa terpojokkan. Ia marah besar dan mengancam Adam Malik.

Mendapat ancaman tersebut, Adam Malik pun berusaha mencari perlindungan. Maka datanglah ia kepada Habib Sholeh Al-Hamid di Tanggul, Jember. Adam Malik menceritakan latar belakang persoalannya. Mendengar pengaduan itu, Habib Sholeh Tanggul hanya tersenyum. Beliau berkata : “Jangan takut terhadap ancamannya. Nanti kamu yang akan menggantikan kedudukannya.”

Alhamdulillah, waktu pun berjalan dan Adam Malik selamat dari ancaman Soebandrio dan gerombongan komunis lainnya. Dan sesuai dengan ramalan Habib Sholeh, setelah Soeharto menjabat Presiden, giliran Adam Malik yang menjabat menteri luar negeri.

Kisah serupa terjadi sekitar 30 tahun yang lalu. Alwi Shihab mantan menteri luar negeri di era presiden K.H. Abdurrahman Wahid, pernah datang ke kediaman Habib Sholeh Tanggul. Pada masa itu, ia datang diantar oleh ayahandanya. Keperluannya mohon doa restu untuk belajar ke luar negeri. Tujuannya belajar ke Amerika di Harvard University.
Pada kesempatan itu, Alwi Shihab mengutarakan apa yang menjadi problemnya. Antara lain, ia tidak punya biaya yang cukup untuk mengurus visa dan paspor. Mendengar keluhan Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menyarankan agar Alwi Shihab mandi di ke dua sumur yang terdapat di sekitar kediamannya.

Alwi Shihab pun mandi mandi di ke dua sumur tersebut. Setelah itu, kepada Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menasehati agar ia datang ke Adam Malik yang saat itu menjabat Menlu. Kontan, Alwi Shihab mengatakan kekhatirannya karena Ia hanya rakyat biasa, bagaimana bisa bertemu dengan seorang menteri?

Mendengar kekhawatiran Alwi Shihab, akhirnya Habib Sholeh menasehatinya agar tidak takut, seraya menyuruhnya supaya menemui Adam Malik dengan membawa surat darinya, “Bawa surat saya ini. Jangan takut pada Adam Malik, kelak kamu akan menjadi seperti Adam Malik.” Kata Habib Sholeh Tanggul. Ternyata di kemudian hari, ucapan Habib Sholeh menjadi sebuah kenyataan, Alwi Shihab menjadi Menteri di Era Presiden Gus Dur.

Sumber :habaib.net
Selengkapnya...

Tuesday, September 20, 2011

Sufi Road : Tabaruk (1)

Mengambil berkah / Tabaruk adalah salah satu yang menjadi pertannyaan belakangan ini.. bolehkah mengambil berkah dari bekas-bekas para solihin .. ?

Tabaruk adalah mengambil berkah, dari benda, baju, debu, air liur, airmata, keringat, atau apa saja dari tubuh shalihin atau benda yg disentuh oleh mereka.
Secara harfiah, tabarruk berarti mencari keberkahan dari sesuatu {atsr: benda-benda peninggalan) yang pernah dimiiiki atau disentuh oleh orang suci. Allah sendiri menganjurkan tabaruk dengan menyebutkan beberapa contoh tabaruk yang dilakukan para nabi-Nya. Misalnya, Dia menyebutkan tabaruk Nabi Yakub melalui benda peninggalan putranya, Yusuf a.s., dan tabaruk Bani Israil melalui benda-benda peninggalan keluarga Musa dan Harun a.s. Kita juga mendapati banyak dalil tentang tabaruk para sahabat dan tabiin melalui Nabi saw. dan orang-orang saleh.
Allah berfirman:
Pergilah kamu dengan membawa gamisku ini, lalu letakkanlah ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kcmbali; dan bawa-lah keluargamu scmuanya kepadaku." Talkala kafilah itu lelah keluar, ayah mereka berkata: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf .... Talkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, diletakkannya baju gamis itu ke wajah Yakub, lalu ia dapat melihat kembali.
Berkata Yakub: "Tidakkah kukatakan kepadamu bahwa aku mengetahui dan Allah apa yang tidak kamu kelahui. (Q.S. Yusuf [12): 93-96).


Dan, dalam surah al-Baqarah ayal 248, Dia berfirman:
Dan Nabi mereka mengalakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja adalah kembalinya labul kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dart Tuhanmu dan sisa pe-ninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikal. Sesungguhnya pada yang demikian itu lerdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman"


Sementara dalam Islam, kita mengenal tradisi tabaruk melalui benda-benda peninggalan pribadi Nabi saw. Berikut ini beberapa riwayat tentang tabaruk dengan atsar Nabi saw.

I. Tabaruk dengan rambut dan kuku Nabi saw.
Mengenai hal ini kita menemukan banyak riwayat, misalnya yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:
Utsman ibn Abdullah ibn Mawhab berkata, "keluargaku menyuruhku menemui Ummu Salamah membawa segelas air. Ummu Salamah mengeluarkan sebuah botol perak berisi beberapa helai rambut Nabi saw., yang ia pergunakan ketika ada seseorang yang berada di bawah pengaruh jahat atau sakit. Biasanya mereka mengirimkan segelas air yang kemudian ke dalamnya dicelupkan rambut ini {untuk diminum). Kami biasa melihat botol perak itu; aku melihat di dalamnya beberapa helai rambut pirang.
Masih menurut al-Bukhari, Anas berkata, "Ketika Nabi saw. mencukur rambutnya (setelah ibadah haji), Abu Thalhah menjadi orang pertama yang mengambil rambutnya."
Sementara dari riwayat Muslim, Anas berkata, "Nabi saw. melempar batu dalam jumrah, kemudian menyembelih hewan korban, lalu memerintahkan tukang cukur untuk mencukur
rambutnya pada bagian kanan terlebih dahulu, kemudian beliau mulai memberikan rambut itu kepada umat."

Anas berkata, "Thalhahlah yang membagi-bagi rambut itu"
Dan menurut Ahmad, Thalhah berkata, "Ketika Nabi saw. mencukur rambutnya di Mina, beliau memberiku rambut itu dari bagian kepala sebelah kanan seraya bersabda: 'Anas, bawalah rambut ini ke Ummu Sulaym (ibunda Anas). Ketika para sahabat melihat apa yang diberikan Nabi saw. kepadaku, mereka mulai berebut mengambil rambut itu dari bagian kiri kepala, dan setiap orang mendapatkan bagiannya."
Ibn al-Sakan meriwayatkan melalui Shafwan ibn Hubairah dari ayahnya, dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas ibn Malik ber¬kata kepadanya (menjelang kematiannya), "Inilah sehelai rambut Rasulullah saw. Aku ingin kau meletakkannya di bawah lidahku (setelah aku mati)." Tsabit melanjutkan, "Aku meletakkannya di bawah lidahnya, dan ia dimakamkan bersama rambut itu."

Abu Bakar berkata, "Aku melihat Khalid (ibn al-Walid) meminta gombak Nabi saw. dan mendapatkannya. Ia pernah meletakkannya di dekat matanya dan kemudian menciumnya." Dikisahkan bahwa ia meletakkannya dalam qalansuwah (penutup kepala yang diikat serban)-nya dan setiap kali berperang ia selalu memenangkannya. Diriwayatkan oleh Ibn Hajar dalam karyanya, Ishabah: Ibn Abi Zaid al-Qairawani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata, "Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qalansuwah yang di dalamnya disimpan beberapa helai rambut Nabi saw., dan itulah yang dipakainya dalam Perang Yarmuk."

Ibn Sirin (seorang tabiin) berkata, "Sehelai rambut Nabi saw. yang kumiliki jauh lebih berharga daripada perak dan emas dan dari dunia beserta segata isinya." (diriwayatkan oleh al-Bukhari, al-Baihaqi).

Dari Anas RA bahwa Ummu Sulaim membuka kotak kecilnya, lantas mengelap keringat Nabi SAW ke dalamnya, kemudian memerasnya ke dalam botol-botolnya.
Nabi SAW bertanya,."Apa yang kamu lakukan, hai Ummu Sulaim?"
Ummu Sulaim menjawab, "WahaiRasulullah, kami mengharapkan keberkahannya bagi anak-anak kecil kami." HR Muslim (2331)

Dinyataan dalam rlwayat bahwa ketika Anas menghadap kematian, dia berwasiat agar keringat itu dicampur dengan hanuth (jenis minyak wangi untuk jenazah). Dan begitu dia wafat minyak wangi itu pun diberi keringat beliau tersebut - HR Al-Bukhari (5992)

Anas mengatakan, "Aku melihat Rasulullah SAW dan tukang cukur rambut yang sedang mencukur beliau, sernentara sahabat-sahabat beliau mengelilingi beliau. Mereka tidak menghendaki ada sehelai rambut pun yang jatuh kecuali di tangan seseorang." - HR Muslim (2325).
Para sahabat RA senantiasa menjaga rambut Nabi SAW untuk keperluan tabaruk dan permohonan syafa'at.

Dari Abu Juhaifah RA, ia mengata¬kan, "Aku menemui Nabi SAW yang saat itu sedang berada di Kubah Merah yang terbuat dari kulit. Aku melihat Bilal mengambilkan air wudhu Nabi SAW semen tara orang-orang dengan sigap menadahi air wudhu Itu. Orang yang mendapatkan tadahan air wudhu membasuhkannya pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mendapatkan tadahan air wudhu mengambil dari basahan air wu-dhu yang didapatkan oleh sahabatnya. Maksudnya untuk mendapatkan keberkahan dan syafa'at."

Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Juhaifah RA darinya, Nabi SAW meminta diambilkan secawan air lantas membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut lalu menuangkannya. Kemudian beliau bersabda kepada Abu Musa RA dan Abu Juhaifah RA, "Minumlah kalian berdua darinya, dan tuangkanlah pada wajah dan leher kalian berdua." - HR Al-Bukhari (185). Ini adalah perintah dari Rasulullah SAW agar melakukan tabaruk pada bekas-bekas beliau.

Dari Ja'far bin Muhammad RA, ia mengatakan, "Saat mereka memandikan jenazah Nabi SAW setelah beliau wafat, ada air yang terhimpun di kelopak mata beliau. Ketika itu All RA mengisap nya sedikit demi sedikit." - HR Ahmad (1:267). Maksudnya, ia mengisap air itu lantaran keberkahan-keberkahan Nabi SAW.

Diriwayatkan, Muawiyah memiliki beberapa potongan kuku Nabi SAW. Ketika menghadapi kematian, ia berwasiat agar kuku-kuku itu ditumbuk sampai halus lantas diletakkan di mata dan mulutnya. Muawiyah berkata kepada para sahabat, "Lakukanlah itu kepadaku, dan biarkan-lah antara aku dan Allah Arhamurrahi-min. -Tahdzib aLAsma' wa al-Lughat, karya An-Nawawi (2: 407).

Diriwayatkan, Anas berwasiat agar di bawah lidahnya diberi sehelai rambut Rasulullah SAW. Wasiatnya ini pun di-lakukan - Al-lshabah ft Tamyiz ash-Shahabah, karya Ibnu Hajar (1:127).

Hikmah bertabaruk dengan bekas orang-orang shalih
Seorang bijak menyebutkan, hikmah tabaruk dengan bekas orang-orang shalih dan tempat-tempat mereka serta apa-apa yang berhubungan dengan me¬reka adalah lantaran tempat-tempat me¬reka berkaitan dengan pakaian mereka, pakaian mereka mencakup badan me¬reka, badan mereka mencakup hati me¬reka, dan hati mereka berada dalam ke-hadiran Tuhan mereka.

Jika Allah melimpahkan berbagai curahan anugerah ketuhanan ke dalam hati mereka, keberkahannya menjalar kepada apa-apa yang berkaitan dengan-nya dan kepada apa-apa yang berada di sekitamya. Seperti dinyatakan dalam firman Allah SWT, "(Samiri berkata) lalu aku mengambil segenggam dari bekas utusan itu." - QS Thaha (20): 96. Mak¬sudnya, dari bekas telapak kaki kuda utusan itu (malaikat) sebagaimana yang dipaparkan dalam sejumlah tafsir - Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, karya Al-Qurthubi (7:251), dan Tafsir Ibnu Katsir (3: 220).

Tabaruk adalah Tawasul
Tabaruk dengan bekas orang-orang shalih adalah hakikat tawasul dengan diri, dan ini dibolehkan, bahkan dianjurkan dalam syari'at. Sebab, ini berarti seorang hamba menggapai wasilah atau perantara kepada Allah untuk mencapai tujuan-tujuannya. Tentu saja, dengan demikian, perantara itu sesuatu atau seseorang yang telah ditetapkan memiliki keutamaan di sisi-Nya.

Mengapa tabaruk dibolehkan, bahkan dianjurkan dalam syari'at?
Dinyatakan boleh dan dianjurkan, karena bertabaruknya mereka, yaitu para sahabat, pada seluruh aktivitas me¬reka itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Adapun pernyataan bah-wa tabaruk ini merupakan perbuatan yang sia-sia tanpa makna, tidak pula berfaedah bagi mereka yang melaku-kannya, sungguh jauh kemungkinannya para sahabat melakukan perbuatan yang tiada arti sama sekali, dan jauh kemungkinannya Rasulullah SAW me-netapkan perbuatan yang tiada arti itu. Jadi, pasti mereka mempunyai tujuan yang benar dan maksud yang mereka kehendaki, yaitu menggapai berkah, syafa'at, dan rahmat dari Allah SWT lan¬taran keutamaan bekas-bekas yang mulia itu di sisi-Nya.
IY,


sumber: Buku : Seribu Satu Jawaban Masalah-masalah Aqidah

Buku : Syafaat, Tawasul dan TAbaruk
Selengkapnya...

Saturday, September 17, 2011

Mengapa Perlu Bertariqah

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya yang terhormat, apakah setiap muslim lebih baik menjadi jama'ah thariqah? Apakah, dengan cara menjadi jama'ah thariqah, seseorang dapat lebih tenang dan mantap dalam mengamal-kan tuntunan agama, karena dianggap merujuk pada ajaran Nabi Muhammad SAW melalui bimbingan seorang mursyid? Demikian pertanyaan dan saya. Amin ya rabbal alamin.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Busman Ependi Lamongan, Jawa Timur


Wa alaikumussalam wr. wb.
Dalam Al-Quran ada ayat yang artinya, "Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31).
Ketika ayat inl turun, seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, bilamana aku menjadi mukmin sesungguhnya?
Baginda Nabi SAW menjawab, "Apa-bila engkau mencintai Allah. Mencintai Rasul-Nya. Berikutnya mengikuti sunnah-sunnahnya, dan mencintai orang yang di-cintai Allah dan Rasul-Nya. Dan keimanan mereka itu bertingkat-tingkat menurut tingkatan kecintaan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW mengulangi kalimat yang terakhir sampai tiga kali. Lalu beliau kembali bersabda, "Kadar bobot iman se¬seorang tergantung pada kecintaannya kepadaku. Sebaliknya kadar kekafiran seseorang juga tergantung pada kebenci-annya kepadaku."
Jadi, kalau kecintaannya kepada Rasulullah SAW bertambah, kecintaan dan keimananya kepada Allah SWT pun akan ber¬tambah. Bertambah dalam arti bersinar, bercahaya, dan semakin menerangi hidupnya.
Demikianlah Allah SWT mengajarkan kepada kita cara mencintaiNya. Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tidak bias dipisahkan. Kalau seseorang mencin¬tai Allah, la juga mencintai Nabi-Nya. la akan menjalankan sunnah serta mencintai orang yang dicintaj Rasul-Nya.
Siapakah orang-orang yang dicintai Rasul-Nya? Tidak lain adalah para pewaris
nya, yaitupara ulama, orang-orang shalih, termasuk para mursyid. Merekalah yang senantiasa menapaki jejak Rasulullah SAW, mengikuti sunnah-sunnahnya.
Sementara itu, keimanan terbentuk secara terbimbing. Nah, di situlah peran para mursyid. Melalui bimbingannya, kita meningkatkan tauhid dan ma'rifat kita kepada Allah SWT.
Lalu, bagaimana dengan orangyang tidakberthariqah? Sebelumnya, perlu di-ketahui bahwa orang yang ingin bertha-riqah, teriebih dahulu harus memahami syari'at dan mefaksanakannya. Artinya, kewajiban-kewajiban yang harus dimengerti oleh setiap individu sudah dipahaminya. Di antaranya, memahami hak Allah SWT dan hak para rasul.
Setelah mengenal Allah SWT dan Rasul-Nya, kita meyakini apa yang di-sampaikannya. Seperti rukun Islam, yaitu membaca syahadat, mengerjakan shalat, melaksanakan puasa, berzakat bag! yang cukup syaratnya, serta naik haji bagi yang mampu. Begitu juga kita mengetahui arkanui iman (rukun Iman) serta beberapa tuntunan Islam lalnnya, seperti shalat, wudhu', dan Iain-Iain.

Namun Anda harus tahu, orangyang menempuh jalan kepada Allah SWT secara sendirian tentu berbeda dengan orang yang menempuh jalan kepada Allah SWTbersama-sama dengan orang lain, yaitu mursyid.
Kalau mau menuju Makkah, sebagai satu contoh, seseorang yang belum mengenal Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah tentu berbeda dengan orang yang datang ke dua tem-pat tersebut dengan disertai pembimbing atau mursyid.
Orang yang tidak mengenal sama sekalikedua tempatitu, karena meyakini berdasarkan informasi dan kemampuan-nya, sah-sah saja. Namun orang yang disertai pembimbing akan lebih runtut dan sempurna, karena si pembimbing tadi sudah berpengalaman dan akan mengantar ke rukun Yamani, sumur zamzam, maqam Ibrahim, dan Iain-Iain. Meski seseorang itu sudah sampai di Ka'bah, kalau tidak tahu rukun zamani, la tidak akan mampu memulai thawaf, karena tidak tahu bagaimana memulai-nya. Itulah perbedaannya.

>> Majalah Alkisah
Selengkapnya...

Sufi Road ; Menghadirkan Allah dalam Hati

Langit tak dapat menampung-Ku,
bumipun tidak dapat memuat-Ku,
begitupula ruang di antara keduanya.
Hanya hati orang berimanlah
yang dapat meliputi-Ku.
Hadis Kudsi


Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumiddin, menuturkan bahwa suatu hari Imam 'Ali Zain al-'Abidin berwudu hendak salat. Tubuhnya bergetar. Orang-orang bertanya, “Apa yang menimpa Anda?" Imam menjawab, "Engkau tidak tahu di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri." Hatinya dipenuhi rasa takut yang luar biasa karena ia akan mene-mui Allah Swt. di dalam salatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan hatinya berguncang keras.
Dalam kitab Futuhat Makkiyyah, karya Ibn 'Arabi, juga diceritakan pelbagai kisah tentang orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf pada gurunya.
“Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi la berkata, "Semalam aku khatamkan Alquran dalam salat malamku." Gurunya berkomentar, "Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu." Esok harinya, pemuda itu mengeluh, "Ya Ustad, tadi malam aku tidak sanggup menyelesaikan Alquran lebih dari setengahnya." Gurunya menjawab, "Kalau begi¬tu, nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan di hadapan¬mu para sahabat Nabi yang mendengarkan Alquran itu langsung dari Rasulullah saw." Keesokan harinya, pemuda itu berkata, "Ya Ustad, semalam aku tak sanggup menye¬lesaikan lebih dari sepertiga Alquran."
"Nanti malam," kata gurunya, "bacalah Alquran dengan menghadirkan Rasu¬lullah saw. di hadapanmu, yang kepadanya Alquran itu diturunkan." Esok paginya pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan satu juz saja. Itu pun dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam, bacalah Alquran itu dengan menghadirkan Jibril a.s., yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al¬quran kepada Rasulullah saw."
Esoknya pemuda itu ber¬cerita bahwa ia tidak sanggup menyelesaikan satu juz pun dari Alquran. Gurunya lalu berkata, "Nanti kalau membaca Alquran, hadirkan Allah Swt. di hadapanmu. Karena se-betulnya yang mendengar bacaan Alquran itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan kepadamu."
Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab, "Aku tidak bisa menyelesaikan bahkan al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyydka na'budu, wa iyydka nasta'in, lidahku kelu. Bibirku tak sanggup melafalkannya, karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucap¬kan, Tuhan, kepada-Mu aku beribadah,' tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memperhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyydka na'budu wa iyydka nasta¬'in" Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Sebetulnya yang diceritakan oleh guru tadi kepada muridnya adalah ara memperoleh hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah SWT dihadapan kita. Hal itu membutuhkan olah rohani (ryadhoh) terlebih dahulu. Maka , dapat dipahami mengapa didalam tarekat, seseorang harus menghadirkan guru didalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya sebuah latihan dan jalan karena sangatlah sulit bagi kita untuk menghadirkan Allah SWT.
Selengkapnya...

Tuesday, September 13, 2011

Sufi Road : Dzikir Qolbu

Dzikir kalbu disebut juga dzikir tersembunyi, dzikr khafi, yaitu zikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata.
Zikir ini hanya memenuhi kalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya napas. Keluar masuknya napas yang dibarengi dengan kesadaran akan kehadiran Allah merupakan pertanda bahwa kalbu itu hidup dan berkomunikasi langsung dengan Allah. Sebaliknya, orang yang lupa mengingat Allah menunjukkan kalbunya mati, karena tidak ada komunikasi dengan Yang Mahahidup. Dalam literatur sufisme di Barat, zikir kalbu sering dilukiskan sebagai living presence—hidup dengan merasakan kehadiran Tuhan. Di dalam Alquran, Yang Mahahidup itu digambarkan sebagai Cahaya langit dan bumi. Maka, ketika tidak ada hubungan dengan sumber cahaya itu, kalbu pun tidak mendapat pancaran ca¬haya, sehingga gelap dan mati.

Alquran menggunakan istilah qalb (hati) sebanyak 132 kali. Makna dasar kata ini adalah membalik kembali, pergi maju-mundur, berubah, bolak-balik, naik-turun, mengalami perubahan. Rasulullah saw. mengatakan bahwa qalb— karena sifat berubah-ubahnya—bagaikan selembar bulu di gurun pasir; angin membolak-baliknya dari atas ke bawah. Salah satu istri Nabi meriwayatkan bahwa dia sering berdoa, " Wahai Dia Yang membuat hati berubah-ubah, tetapkan hatiku pada agama-Mu!" Pendek-nya, qalb bukan sesuatu yang konstan, melainkan bisa mengalami pasang-surut dan berubah-ubah dari satu ke-adaan ke keadaan yang lain.


Imam Jafar al-Shadiq menye-butkan perubahan hati itu ada empat.
Pertama, hati yang tinggi. Tingginya hati ini ketika zikir kepada Allah Swt. Kalau orang senantiasa berzikir kepada Allah, hatinya akan naik ke tempat yang tingi.
Kedua, hati yang terbuka. Hati ini diperoleh apabila kita rida kepada Allah Swt.
Ketiga, hati yang rendah, yang terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah,
Keempat, adalah hati yang mati atau hati yang berhenti. Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah SWT sama sekali
Oleh karena itu, untuk menjaga agar hati kita selalu hidup, maka ingatlah kepada Allah SWT. Dzkir kalbu mempunyai dampak yang jelas dalam meneguhkan hati (qolbuO agar memiliki keyakinan, kekuatan dan kemantapan iman kepada Allah serta melahirkan perbuatan yang baik amal sshaleh dalam hubugnan vertikal kepada Allah maupun hubungan horizontal dengan sesama manusia
Mereka itu adalah orang-orang yang beriman, yang hati-nya menjadi tenteram dengan mengingat (dzikr) Tuhan. Ingatlah, hanya dengan mengingat Tuhan sajalah maka hati menjadi tenteram (Q.S. al-Ra'd [13]: 28).

Allah meneguhkan keimanan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (al-qawl al-tsabit) dalam kehidupan dunia dan akbirat, dan Allah menyesatkan orang yang berbuat aniaya. Dan Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Makna "ucapan yang teguh" (al-qawl al-tsdbit) adalah kalimah thayyibah atau zikir yang menghunjam di dalam kalbu. la seperti sebuah pohon, akar tunjangnya menghunjam ke bumi sedangkan dahan, ranting, dan dedaunannya menjulang ke langit, sebagaimana digambarkan pada Q.b. Ibrahim [14]: 24.

Iman tumbuh di dalam hati,sementara petiunjuk mengalihkan hati menuju arah yang benar. Dengan cara yang sama, hati adalah pusat keraguan (Q.S At-Taubah (9);45), penyangkalan (Q.S An-Nahlu (16);22), kekafiran dan penyelewengan dari jalan yang lurus. Disinilah setan mengarahkan perhatiannya, berusaha menanamkan kesesatan.
Dzikir kalbu berfungsi sebagai benteng pertahanan dari dalam untuk membendung bisikan setan yang bersumpah akan menggoda manusia dari berbagai penjuru.

Iblis berkata, "Ya Allah, karena Engkau telah menghukumku sesat, aku benar-benar akan menghalanghalangi mereka (manusia) dari jalan yang lurus. Kemudian akan mendatangi mereka dari depan, belakang, sebelah kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mayoritas mereka bersyukur" (Q.S. al-A'raf [7]: 16-17).

Nabi berkata, "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah, maka aku khawatir bahwa dia akan memasukkan kejahatan dalam hatimu" (Bukhari, bab al-Kbalq, 11).
Alquran juga menegaskan bahwa zikir bermanfaat bagi kehidupan orang yang beriman, dan bahwa zikir menen-teramkan hati dan pikiran (Q.S. al-Ra'd: 28).

Hakim al-Tirmidzi, seorang sufi dari Termez, Uzbekistan, sebagai-mana dikutip oleh Abu Nu'aim al-Ashfahani dalam kitab Hilyab al-Auliya\ menggambarkan hubungan zikir dengan ketenteraman hati sebagai berikut:
Dengan mengingat Allah [yang diresapkan ke dalam kalbu], hati seseorang akan menjadi lembut. Sebaliknya, hati yang lupa kepada Allah dan dipenuhi oleh rekaman tentang [berbagai dorongan nafsu] dan kelezatan hidup semata, akan menjadi keras dan kering. Kalbu seseorang tidak berbeda dengan sebatang pohon. Pohon akan segar, rimbun dan penuh dengan dedaunan yang menyejukkan apabila ia menyerap air yang cukup. Apabila sebatang pohon tumbuh di tempat yang tidak berair, maka dahan dan ranting pohon itu akan kering kerontang dan dedaun-annya pun akan berguguran. Demikian pula hati kita. Zikir merupakan mata air kehidupan. Hati yang kosong dari zikir kepada Allah berarti kekurangan mata air ke¬hidupan. Hati akan kering, gersang, keras, dan penuh dengan bara hawa nafsu dan syahwat, dan akhirnya men¬jadi enggan berbakti kepada Allah. Jika terus dibiarkan, hati akan pecah berkeping-keping; yang hanya pantas menjadi bara api neraka. Sebenamya, kelembutan hati dan ketenteramannya merupakan rahmat Allah. Allah-lah yang memantulkan cahaya kedalam hati seseorang karena dzikir kepada Allah dengan kasih sayangnya.

Uraian Hakim At Tirmidzi ini merupakan penjabaran dari firman Allah SWT :
Apakah orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima al-Islam, kemudian mendapat pancaran cahaya dari Tuhannya sama dengan orang-orang yang hatinya membatu? Maka malapetaka besar bagi mereka yang hatinya membatu [karena engganj berzikir kepada Allah, Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Q.S.ai-Zumar [29]: 22).

Barangsiapa yang [hatinya] berpaling dan zikir kepada Allah Yang Maha Pengasih, Kami sertakan setan kepada-nya, sehingga setan itu menjadi teman dekatnya. (Q.S. al- Zukhruf [431: 36). |

Dzikir kalbu (khafi), menurut kaum sufi, mem-punyai efek-efeknya sendiri yang mencerahkan: ia menyulut api kerinduan kepada Allah, membina kecintaan kepada Allah dalam hati, melahirkan perenungan, melahirkan ekstase dalam diam, menimbulkan ketidaksukaan untuk terjerembab dan tenggelam dalam urusan-urusan duniawi, serta memungkinkan dzakir (pezikir) lebih mengutamakan Allah Swt. ketimbang segala sesuatu selain-Nya.

> Dzikir Sufi, Dr. Asep Usman Ismail
Selengkapnya...

Sufi Road : Qasidah Ilahi Nasaluka

Berikut adalah Qasidah ILAAHI NASALUKA dikarang oleh Al Habib Abu Bakar Al Adni.
Qasedah ini adalah sebuah doa dan tawasul yang mempunyai banyak fadhilah bagi yang membacanya.









Selengkapnya...

Sufi Road : Syaikh Yusuf An Nabhani ra.

Yusuf lahir pada 1265 H (1849 M). Nama lengkapnya adalah Nasiruddin Yusuf bin Ismail An Nabhani, keturunan Bani Nabhan, salah satu suku Arab Badui yang tinggal di Desa Ijzim, sebuah desa di bagian utara Palestina, daerah hukum kota Haifa yang termasuk wilayah Akka, Beirut.

Ia menghafal Alquran dengan berguru kepada ayahnya sendiri, Ismail bin Yusuf, seorang syaikh berusia 80 tahun yang hafidz serta selalu mengkhatamkan Alquran setiap tiga hari sekali.

Selesai mengkhatamkan hafalan Alquran, Yusuf disekolahkan orang tuanya ke Al Azhar, dan mulai bergabung pada Sabtu awal Muharram 1283 H (1866 M). Ia tekun belajar dan menggali ilmu dengan baik dari imam-imam besar dan ulama-ulama umat yang kritis dan ahli ilmu syariah dan bahasa Arab dari empat imam madzhab.Wirid beliau adalah membaca Al Qur-an setiap tiga hari sekali beliau khatam ,malah kemudian seminggu bisa khatam tiga kali. Disamping itu juga beliau berdzikir, mengajar ilmu, mengarang kitab-kitab yang banyak dan 'ibadah-'ibadah lain. Beliau ahli membaca solawat dan mahabbah Rasulullah Saw. Ini terbukti dengan kitab-kitab karangannya yang banyak mengenai membaca solawat dan qosidah-qosidah yang ampuh berisi pujian beliau kepada Nabi sampai beliau mendapat gelar Muhibbun Nabiy /Al Mutafdnift hubbin Nabiy Saw. (sirna /tenggelam dalam cinta Nabi Saw.).

Yusuf al-Nabhani mempunyai guru-guru dan imam-imam ternama di Al-Azhar. Di antaranya adalah:

1.Syaikh Yusuf al-Barqawi al-Hanbali, syaikh pilihan dari mazhab Hanbali
2. Syaikh Abdul Qadir al-Rafi'i al-Hanafi al Tharabulusi, syaikh pilihan dari masyarakat Syawam
3. Syaikh Abdurrahman al-Syarbini al-Syafi`i
4. Syaikh Syamsuddin al-Ambabi al-Syafi'i, satu-satunya syaikh pada masanya yang mendapat julukan Hujjatul Ilmi dan guru besar Universitas Al-Azhar pada masa itu. Dan gurunya ini, Yusuf al-Nabhani belajar Syarah Kitab al-Ghayah wa al-Tagrib fi Fighi al-Syafi`iyyah karya Ibnu Qasim dan Al-Khathib al-Syarbini, dan kitab-kitab lainnya dalam waktu 2 tahun.
5. Syaikh Abdul Hadi Naja al-Ibyari (wafat tahun 1305 H.)
6. Syaikh Hasan al-'Adwi al-Maliki (wafat tahun 1298 H.)
7. Syaikh Ahmad al-Ajhuri al-Dharir al-Syafi`i (wafat tahun 1293 H.)
8. Syaikh Ibrahim al-Zuru al-Khalili al-Syafi'i (wafat tahun 1287 H.)
9. Syaikh al-Mu'ammar Sayyid Muhammad Damanhuri al-Syafi`i (wafat tahun 1286 H.)
10. Syaikh Ibrahim al-Saga al-Syafi'i (wafat tahun 1298 H) Darinya, Yusuf al-Nabhani mempelajari kitab Syarah al-Tahrir dan Manhaj karya Syaikh Zakaria al-Anshari al-Syafi`i, berikut catatan pinggir kedua kitab tersebut, selama tiga tahun, hingga Al-Nabhani dianugerahi ijazah sebagai pertanda atas kapasitas dan posisi keilmuannya.

Karya-karya Yusuf al-Nabhani ada sekitar 75 kitab, antara lain :
1) Al Anwar al Muhammadiah Mukhtasar al Mawahib al Ladunniah.
2) Al Syarf al Muabbad li Ali Muhammad.
3) Wasail Wusul ila Syamail al Rasul.
4) Al Ahadith al Arbain fi Fadhail Sayyid al Mursalin.
5) Al Ahadith al Arbain min Amthal Afsoh al Alamin.
6) Afdhal al Salawat ala Sayyid al Sadaat.
7) Saadah al Darain fi al Solat ala Sayyid al Kaunain.
8) Salawat al Thana’ ala Sayyid al Anbiya’.
9) Hujjatullah ala al A’lamin fi Mu’jizah Sayyid al Mursalin .
10) Al Hamziah al Alfiyah yang dinamakan Taybah al Gharra’ fi Madhi Sayyid al Anbiya’.
11) Saadah al Maad fi Muwazanah Banat Sua’d.
12) Al Nazam al Badi’ fi Maulid al Syafi’
13) Al Qaul al Haq fi Madhi Sayyid al Khalq
14) Khulasaah al Kalam fi Tarjih Din al Islam.
15) Risalah fi Mithal al Na’li al Syarif

• Kitabnya solawat seperti kitab Sa'adatud Daroin, Afdholus Solawat, Jami'us Solawat dan lainnya. Kitab-kitab ini semua adalah berisi kumpulan solawat-solawat yang ampuh dari ciptaan para Wali agung yang belum pernah dikumpulkan dalam kitab semacam ini. Membaca solawat adalah merupakan wasilah yang terdekat untuk menuju kepada Alloh Swt.
• Kitab Jami'u karomatil Auliya' terdiri dari dua jilid yang tebal. Dalam kitab ini beliau menuturkan nama-nama para Auliya' beserta keramat-keramatnya yang jumlahnya lebih dari sepuluh ribu keramat yang dimiliki oleh kurang lebih seribu empat ratus Wali mulai dari para Sahabat, para Tabi'in dan seterusnya ke bawah. Sebelum kitab ini belum ada kitab yang bisa mengumpulkan yang sampai sekian banyaknya para Auliya' dan keramatnya.

Ada seorang yang soleh ahli 'ibadah dan wara bertempat di Madinah, berkata : aku punya keanehan : aku telah terbiasa dan sering sekali bermimpi ketemu Rasulullah Saw. Kemudian pernah terputus sementara waktu tidak bertemu Rasulullah lalu aku menjadi sangat susah. Akhirnya aku bisa berimpi ketemu dengan Rasulullah lagi dan aku bertanya : apakah yang menghalang-halangi antara aku dan engkau ya Rosulalah? Kemudian Rasulullah menjawab: bagaimana kamu akan bisa melihat aku sedangkan di rumahmu ada sebuah kitab yang pengarangnya mencela dan mencaci maki tkepada kekasihku Yusuf an Nabhaniy. Setelah pagi maka kitab aku bakar, kemudian setelah itu aku kembali seperti biasanya bermimpi Rasulullah . Kitab tadi namanya Nailul amaniy fir roddi 'alan Nabhany isinya adalah menentang karena kecenderung fanatik golongan salah penafsiran.

Kemudian kitab Syawahidul Haq. Di dalam kitab ini beliau panjang lebar membicarakan tentang istighotsah, tawassul dan ziarah ke makam Nabi, makam para Auliya' dan Sholihin dan menolak perbuatan bid'ah dan orang-orang yang ingkar dan melarang bertawassul dan ziarah kubur terutama kefahaman-kefahaman menurut Ibnu Taimiyyah dan para penerus pengikutnya.
Sangat jelas sekali diuraikan beserta dalil-dalil dan segala uraian dan cerita sejarahnya mereka. Kitab ini sangat penting sebagai benteng dan pedoman kefahaman kita pada umumnya kaum ahlus sunnah wal jama'ah agar kita tidak mudah terpengaruh dan ikut-ikutan dengan mereka orang-orang yang anti bermadzhab, anti bertawassul, anti ziarah kubur dan lam-lain dari pada kebid'ahan-kebid'ahan mereka.

Kemudian kitab Irsyadul Hayaro.. Di dalam kitab ini beliau menerangkan dengan jelas tentang ketidak baikan dan bahayanya anak-anak orang Islam memasuki sekolah-sekolahan orang Nasrani.
Dan kitab-kitab susunan beliau lainnya semua tercatat ada 46 kitab dan kebanyakan tebal-tebal, bahkan ada yang mengatakan semua meocapai 100 kitab yang penting isinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan karomah beliau yang luar biasa dalam mengarang kitab-kitab tersebut.
Beliau memperbanyak iqomah di Madinah al Munawwaroh. Nur 'ibadah-nya dan mengagungkannya sunnatur Rosul terlihat terang pada wajah beliau.
Beliau wafat di kota Baerut pada usia 85 tahun dalam keadaan sehat dan kondisi yang giat dan gigih dalam beramal, beribadah dengan semua amalan dzikirnya.








Selengkapnya...