Tuesday, August 31, 2010

Sufi Book : The Naqshbandi Sufi Tradition

Guidebook of Daily Practices and Devotions
Penulis: Syekh Muhammad Hisyam Kabbani
QSISBN 1-930409-22-2, Paperback. 352 pp.

One of the distinguished schools of Islamic spiritual discipline, the Naqshbandi Sufi Order has a long and illustrious history from the first days of Islam. Led by the shaykhs of the Golden Chain-inheritors of spiritual knowledge from Prophet Muhammad-the Naqshbandi Order has always played a central, pivotal role in the life of people in the Muslim world and survived the turmoil and tribulations of the past century to remain one of the few authentic mystical traditions maintaining a living link with its ancient past. The extraordinary vision of the Naqshbandi Saints was manifest in their establishment of fixed devotions and daily practices firmly rooted in the Qur'an and Sunnah of the Prophet.

These practices have enabled devout seekers to awaken certainty of belief and to attain stations of nearness to the Divine Presence. The renewed prominence of this order at the turn of the 21st century, due to the indefatigable striving of Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani, signals an impending change to our society in which aspirants to Divine Service will be granted to transcend the bounds of the physical senses in order to fulfill the unexplored potential in each human heart. The Naqshbandi Devotions are a source of light and energy, an oasis in a worldly desert. Through the manifestations of Divine Blessings bestowed on the practitioners of these magnificent rites, they will be granted the power of magnanimous healing, by which they seek to cure the hearts of mankind darkened by the gloom of spiritual poverty and materialism. We pray that each person who picks up this book of devotions with sincere intention to observe any of its efficacious practices will receive a portion of the blessings and manifestations bestowed on the greatest saints of earlier times



Salah satu mazhab spiritual Islam terkemuka, yaitu Tarekat Sufi Naqsybandi mempunyai sejarah yang panjang dan termashyur sejak periode awal Islam. Dipimpin oleh para Syekh dari Mata Rantai Emas—yang merupakan para pewaris pengetahuan spiritual Nabi SAW dan para awliya—Tarekat Naqsybandi selalu memerankan peranan penting sebagai poros utama dalam kehidupan di dunia Muslim dan telah berhasil bertahan dalam menghadapi gejolak dan berbagai permasalahan di abad yang lalu untuk menjadi salah satu dari sedikit tradisi mistis yang autentik, yang tetap mempertahankan silsilah dengan masa lalunya. Visi spiritual yang istimewa dari para wali Naqsybandi ini termanifestasi dalam pengabdian mereka yang teguh dan praktik-praktik ibadah harian yang berakar dengan kuat pada Alquran dan Sunah Nabi SAW. Praktik-praktik ibadah ini sanggup membangkitkan keyakinan yang kuat dari para pencari (saalik) yang tulus untuk mencapai maqam kedekatan dengan Hadirat Ilahi. Kebangkitan kembali tarekat ini pada abad ke-21, atas usaha yang tidak kenal lelah dari Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, mengisyaratkan adanya perubahan yang segera terjadi di masyarakat kita, di mana para pengikutnya akan dianugerahkan kemampuan untuk menembus batas-batas indera fisik guna memenuhi potensi-potensi yang belum pernah terjamah dalam setiap hati manusia. Peribadatan menurut tata cara Naqsybandi adalah sebuah sumber cahaya dan energi, laksana sebuah oasis di gurun pasir duniawi. Melalui manifestasi Berkah Ilahiah yang dianugerahkan kepada para pengikut ritual mulia ini, mereka akan dianugerahi kekuatan penyembuhan hati, yang dengan itu mereka dapat menyembuhkan hati manusia yang menjadi gelap karena materialisme dan kedangkalan spiritual. Kami berdoa agar setiap orang yang membeli buku tuntunan ibadah ini dengan niat yang tulus untuk melakukan setiap praktik-praktik ibadah di dalamnya akan menerima sebagian dari rahmat dan manifestasi yang telah dianugerahkan kepada para wali besar di masa-masa yang lalu

Kitab Kimyatusy- Sya'adah - Imam Al-Ghazali (5)

MENGENAL AKHIRAT
Semua orang-orang yang percaya dengan Al-Qur'an dan Hadis mengetahui tentang kebahagiaan di Surga dan keazaban di Neraka yang akan dirasakan di Akhirat kelak.
Tetapi banyak orang yang tidak mengetahui adanya Surga dan Neraka Ruhaniah.
Berkenaan Surga Ruhaniah ini, Alloh pernah berfirman kepada Nabinya :
"mata tidak pernah melihat, telinga tidak pernah mendengar, dan hati tidak pernah berfikir tentang hal-hal yang disediakan bagi orang-orang yang sholeh."
Dalam hati orang-orang yang diberi Nur (cahaya) oleh Alloh s.w.t, ada satu pintu yang terbuka menghadap kepada hakikat-hakikat Alam Keruhaniaan, dan dengan itu ia tahu rasa pengalaman sebenarnya, bukan omong-omong kosong saja atau kepercayaan yang turun-menurun, berkenaan apa yang mendatangkan kerusakan dan apa yng mendatangkan kebahagiaan dalam Jiwa (ruh) sebagaimana terangnya dan pastinya dokter-dokter mengetahui apa yang menyebabkan sakit dan apa yang menyebabkan kesehatan pada tubuh.
Dia tahu bahwa mengenal Alloh dan ibadat itu adalah obat penawar, dan jahat serta dosa itu adalah racun bisa kepada ruh.
Banyak orang, bahkan orang-orang "Alim", karena membabi buta mencela pendapat orang lain, tidak yakin sebenarnya dalam kepercayaan mereka tentang kebahagiaan dan azab ruh di Akhirat nanti. Tetapi orang yang penuh keyakinan tanpa diganggui oleh perasangka akan mencapai keyakinan penuh dalam hal ini.

Manusia ada dua jiwa (Ruh) yaitu Ruh Kehewanan dan Ruh Insan (Ruh Keruhanian). Ruh Keruhanian ini adalah tabiatnya bersifat malaikat. Tempat duduk Ruh kehewanan ialah hati. Dari hati itu ruh ini keluar seperti uap halus dan meliputi semua anggota tubuh, yang memberi dan penglihatan kepada mata, dia mendengar kepada telinga, dan dia pada tiap-tiap anggota yang lain untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Ruh ini bolehlah diibaratkan sebagai lampu rumah dalam sebuah rumah. Cahayanya menyinari dinding rumah itu. Hati itu ibarat sumbu lampu tersebut. Apabila minyak terputus karena sebab-sebab tertentu, maka padamlah lampu itu. Demikianlah juga matinya ruh binatang (ruh kehewanan) itu.

Berlainan dengan Ruh Keruhanian. Ruh Keruhanian itu tidak boleh dipecah-pecah atau dibagikan-bagikan. Dengan ruh inilah manusia mengenal Tuhannya. Bolehlah dikatakan bahwa Ruh Keruhanian ini adalah penunggang ruh kehewanan itu. Meskipun Ruh kehewanan mati dan hancur binasa, namun Ruh Keruhanian itu tetap hidup dan tidak binasa. Ruh keruhanian ini ibarat penunggang yang telah turun dari kudanya atau ibarat pemburu yang telah hilang senjatanya, apabila seseorang itu meninggal dunia. Kuda dan senjata itu diberi kepada ruh manusia itu supaya dengan itu ia dapat memburu dan menangkap Cinta dan Makrifat kepada Alloh. Jika buruan tadi telah ditangkap, maka tidaklah ada sesal dan duka lagi. Sebaliknya suka dan puas hatilah ia dan dapatlah ia meletakkan senjata dan kuda keletihan itu ke tepi Berhubung dengan hal ini,
Nabi pernah dan bersabda :
"Mati itu adalah hadiah dari Alloh kepada orang-orang mukmin."
Tetapi sayang sekali, seribu kali sayang bagi ruh yang kehilangan kuda dan senjata sebelum ia dapat menangkap barang buruan itu. Tidaklah terkira lagi sesal dan dukanya.
Kita akan terangkan lebih lanjut bagaimana berbedanya Ruh Insan atau Ruh Keruhanian itu dari tubuh dan anggotanya. Anggota tubuh mungkin lumpuh dan tidak berkerja lagi. Tetapi ruh tidak rusak apa-apa. Begitu juga tubuh sekarang ini, tidak lagi tubuh kita semasa bayi dahulu, bahkan berbeda langsung. Tetapi keperibadian kita sekarang adalah serupa dengan keperibadian kita di masa bayi dahulu.
Nampaklah kepada kita betapa kekalnya ruh itu meskipun tubuh telah hancur binasa.
Ruh ini kekal bersama dengan sifat-sifatnya yang tidak bersangkutan dengan tubuh seperti Cinta kepada Alloh dan Makrifat Alloh.
Inilah yang dimaksud oleh Al-Quran :
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (Mujaadilah:22)


Tetapi jika kita meninggal dunia tidak membawa ilmu atau pengenalan tentang Alloh (makrifat) dan sebaliknya mati dalam Jahil tentang Alloh, di mana Jahil itu adalah satu dari sifat penting juga, maka teruslah kita dalam kegelapan ruh dan azab sengsara. Sebab itu Al-Quran ada menyatakan:

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ( Al -Israil:72)

Sebab Ruh lnsan kembali ke Alam Tinggi itu ialah karena asalnya di sana dan tabiatnya bersifat kemalaikatan. Ruh Insan itu dihantar ke alam rendah atau dunia ini, berlawanan dengan kehendaknya, dengan tujuan mencari pengetahuan dan pengalaman, seperti firman Alloh dalam Al-Qur'an :

Kami berfirman: "
Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Al Baqoroh:38)

dan firman Alloh lagi :
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Al-Hijr:29)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tempat asal Ruh Insan itu ialah dari Alam Tinggi sana .
Kesehatan Ruh Kehewanan atas keseimbangan bagian-bagian. Apabila keseimbangan ini telah cacat, maka dapat diperbaiki dengan obat-obat yang sesuai. Maka begitu jugalah kesehatan Ruh Insan , ia terdiri ada keseimbangan akhlak.
Ke seimbangan akhlak ini dipelihara dan diperbaiki. Dengan arahan-arahan kesusilaan (akhlak) dan ajaran akhlak.
Berkenaan wujudnya Ruh Insan ini di akhirat kelak, maka kita telah tahu bahwa Ruh Insan itu adalah tidak terikat kepada tubuh. Segala bantahan terhadap wujudnya ruh ini selepas mati adalah berdasarkan pada prasangka, ia terpaksa mendapatkan semula tubuhnya yang di dunia dulu yang telah hancur menjadi tanah. Setengah orang menyangka Ruh Insan itu binasa setelah mati, kemudian diwujudkan dan dihidupkan semula. Tetapi ini adalah berlawanan dengan Akal dan juga Al-Qur'an. Akal membuktikan bahwa mati itu tidak membinasakan hakikat seseorang itu dan Al-Qur'an mengatakan :
"Janganlah kamu berkira-kira bahwa orang-orang yang mati (gugur) di jalan Alloh mati, bahkan mereka itu hidup di sisi TuhanNya dengan mendapat rezeki" (Al-Imran:169)

Tidak ada satu perkataan pun yang tersebut dalam hukum berkenaan orang-orang yang mati itu telah binasa, dan orang itu baik atau jahat, bahkan Nabi SAW. pernah bertanya kepada Ruh orang-orang kafir yang terbunuh, apakah mereka telah menjumpai hukum yang baginda katakan kepada mereka itu, benar atau bohong. Apabila sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada baginda apakah faedahnya bertanya kepada mereka yang telah mati, baginda menjawab :
"Mereka mendengar kata-kataku lebih jelas dari kamu mendengarnya".

Ada juga orang-orang Sufi yang dibukakan hijab bagi mereka. Maka nampaklah oleh mereka syurga dan neraka, dalam keadaan mereka itu tidak sadar diri. Setelah mereka sedar semula, muka mereka menunjukkan apa yang mereka lihat itu, apakah syurga atau neraka. Jika muka mereka menunjukkan tanda-tanda gembira dan senang, maka itulah tanda mereka telah melihat syurga. Jika mereka seperti orang ketakutan dan cemas, itulah tanda mereka melihat neraka. Tetapi pandangan seperti ini tidaklah perlu untuk membuktikan apa yang akan terjadi itu kepada tiap-tiap orang yang berfikir, yaitu apabila mati telah melepaskan inderanya pergi dan segalanya hilang kecuali peribadinya saja yang tinggal dan jika semasa di dunia ini ia sangat terikat kepada benda yang dipandang oleh indera saja seperti isteri, anak, harta-benda, tanah, uang ringgit, dan sebagainya, maka tentu sekali ia akan terazab apabila semua itu telah hilang darinya.

Sebaliknya jika ia semampunya memalingkan mukanya dari segala benda di dunia dan menumpukan Cinta kepada Alloh Taala, maka jadilah mati itu sebagai cara melepaskan diri dari tanggapan dan kaitan dunia, dan teruslah ia berpadu dengan Alloh yang diCintainya. Sebab itulah Nabi SAW. pernah bersabda,
"Mati itu ialah jaminan yang menyambungkan sahabat dengan sahabat".

dan sabda beliau lagi :
"Dunia ini syurga bagi orang kafir, tetapi penjara bagi orang mukmin".
Sebaliknya pula, Azab sengsara yang dirasakan oleh Ruh itu setelah mati adalah berpuncak dari terlalu kasih kepada dunia.
Nabi pernah mengatakan bahwa tiap-tiap orang kafir setelah mati akan diazab oleh 99 ekor ular. Tiap-tiap seekor ada sembilan kepala.
Ada juga orang yang bodoh. Mereka menggali kubur orang kafir dan melihat tidakpun ada ular di situ. Mereka tidak sedar bahwa ular itu berada dalam Ruh si Kafir dan ular itu telah ada di situ bahkan sebelum ia mati lagi, kerena ular itu adalah sebenarnya sifat-sifat jahat mereka sendiri. Diperlambangkan yaitu sifat-sifat dengki, benci, menafiq, sombong, penipu dan lain-lain. Semua itu secara langsung atau tidak langsung adalah karena terlampau Kasih Kepada Dunia. Itulah akibat mereka yang digambarkan oleh Al-Qur'an dengan:

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (An Nahl:22)
Jika ular itu hal di luar diri mereka, bolehlah mereka lepas dari siksaan itu barang sebentar, tetapi sebenarnya ular itu ialah sifat-sifat mereka sendiri. Bagaimana mereka hendak melepaskan diri ???
Kita ibaratkan demikian, Katalah seorang yang menjual hamba perempuan tanpa mengetahui bagaimana kasihnya ia kepada si hamba itu hinggalah hamba itu telah jauh darinya. Lama kelamaan, cintanya itu bertambah hebat dan kuat benar hingga maulah ia menyiksa dirinya. Cinta itu menyiksanya seperti seekor ular yang telah menggigitnya hingga pingsan, dan kemudian coba menghujamkan dirinya ke dalam api atau terjun ke air untuk lari dari siksaan itu.
Demikianlah misalnya akibat kasih kepada dunia dan bagi mereka yang ada berperasaan itu selalu, tidak sadar hinggalah ia meninggal dunia. Maka kemudian itu siksaan rindu dam birahi yang sia-sia bertambah hebat hingga ia lebih suka menukarkannya dengan berapa banyak pun ular dan kala.
Oleh karena itu, tiap-tiap orang berbuat dosa membawa bersamanya ke akhirat alat-alat penyiksaannya sendiri.
Al-qur'an ada menerangkan :

" dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, ". (Al-Takatsur:07)

dan firman Alloh Taala lagi;

"
Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir " (Al-Taubah:49)
Dia (Alloh) tidak berkata;
"Akan meliputi mereka". karena liputan itu telah pun ada sekarang juga.
Mungkin ada orang yang membantah; "Jika demikian keadaannya, siapakah yang akan dapat melepaskan diri dari neraka, karena sedikit sebanyak manusia itu pasti ada neraka di dunia?

Kami menjawab:
Ada juga orang, khususnya Faqir. Mereka ini melaksanakan kaitan cintanya kepada dunia. Walaupun begitu, ada juga orang yang beristeri, beranak, berumah-tangga dan lain-lain lagi, walaupun mereka ada kaitan dengan semua itu, namun Cinta mereka terhadap Alloh tidak ada tandingan dan mereka lebih Cinta kepada Alloh melebihi dari yang lain.

Mereka ini adalah seperti orang yang ada berumah-tangga di sebuah bandar yang dicintainya. Tetapi apabila Raja atau Pemerintah memberinya jabatan untuk bertugas di bandar yang lain, dia rela berpindah ke bandar itu karena jabatan itu lebih dicintai dari rumah-tangganya di bandar itu. banyak Ambiya' dan Aulia yang sedemikian ini.
Sebagian besar pula manusia yang ada sedikit Cinta kepada Alloh, tetapi sangat cinta kepada dunia. Maka dengan itu mereka terpaksalah menerima azab di akhirat sebelum mereka dibersihkan dari karat-karat cinta kepada dunia itu. Ramai orang yang mengaku Cinta kepada Alloh, tetapi seseorang itu harus menilainya dan menguji dirinya dengan memerhatikan kemanakah cenderung lebih berat kalau perintah Alloh bertentangan dengan kehendak nafsunya?

Orang yang mengatakan Cinta kepada Alloh tetapi tidak dapat menahan dirinya darinya dan tidak patuh kepada Alloh, maka orang itu sebenarnya berbicara bohong.
Kita telah perhatikan di atas bahwa satu jenis Neraka Keruhanian ialah berpisah secara paksa dari keduniaan dengan keadaan itu sangat terkait dan terikat dengan keduniaan itu. Banyak pula orang yang membawa dalam diri mereka, kuman-kuman neraka seperti ini tanpa mereka sadari.
Di akhirat kelak, mereka akan merasa diri mereka seperti Raja yang diturunkan dari takhta kerajaan dan dijadikan alat gelak ketawa orang ramai, pada hal sebelum ini mereka hidup dengan mewah dan senang senang.

Jenis Neraka Keruhanian yang kedua ialah Malu, yaitu apabila manusia itu tersadar dan melihat keadaan perbuatan yang dilakukan dalam keadaan hakiki yang sebenarnya tanpa selindung lagi. Orang yang membuat fitnah akan melihat dirinya dalam bentuk orang yang memakan daging saudaranya sendiri, dan orang yang iri dengki seperti yang melempar batu kepada tembok dan batu itu mental ke belakang lalu mengenai mata anaknya sendiri.

Jenis neraka seperti ini, yaitu Malu, bolehlah dilambangkan dengan ibarat berikut. Katakanlah seorang Raja merayai perkawinan anak lelakinya. Di waktu petang, orang muda itu pergi bersama sahabatnya berjalan-jalan dan tidak lama kemudian kembali ke Istana (dalam keadaan mabuk) . Dia masuk ke sebuah Dewan di mana api (lilin) sedang menyala. Ia berbaring. Disangkanya ia berbaring dekat isterinya. Besoknya, apabila ia sadar semula, terperanjatlah ia apabila dilihatnya dirinya berada dalam Rumah Mayat orang-orang Majusi. Tempat berbaringannya itu ialah keranda mayat itu dan bentuk orang yang disangkakan isterinya itu ialah sebenarnya mayat seorang perempuan tua yang mulai busuk dan keriput. Ia pun keluar dari Rumah Mayat itu dengan pakaian yang kotor dan rupa yang lusuh. Alangkah malunya ia berjumpa dengan ayahnya, Raja itu bersama dengan pengiring-pengiringnya. Demikianlah gambaran Malu yang dirasakan di akhirat kelak oleh mereka yang di dunia ini tamak dan sombong dan menumpukan seluruh jiwa raga kepada apa yang mereka sangka sebagai keindahan dan kenikmatan.

Nereka Keruhanian Yang Ketiga ialah sesal dan putus asa dan gagal mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.
Manusia dijadikan untuk Mencerminkan Cahaya Makrifat Alloh. Tetapi jika ia kembali ke akhirat dengan jiwanya penuh mabuk dan karat hawa nafsu, maka gagal lah ia mencapai tujuan hidupnya di dunia ini. Sesal atau putus asanya boleh digambarkan demikian.

Katalah seseorang melewatii hutan yang gelap bersama kawan-kawannya. Di sana sini terlihat kilauan cahaya batu yang berwarna-warni. Kawannya memungut batu itu dan menasihatnya supaya berbuat demikian juga. Kawannya berkata, "Batu ini sangat mahal harganya di tempat yang kita akan pergi sana ". Tetapi beliau mentertawakan mereka dan mengatakan mereka bodoh karena mengharapkan keuntungan yang sia-sia yang belum tentu lagi. Dia pun terus berjalan. Akhirnya mereka pun keluarlah dari hutan yang gelap itu setelah berjalan beberapa lama. Mereka dapati batu itu sebenarnya batu Delima, Intan Berlian dan sangat bernilai dan berharga. Alangkah sesal dan putus asanya ia karena tidak mahu mengutip batu-batu itu dahulu. Begitulah ibaratnya orang yang sesal di akhirat kelak karena semasa mereka hidup di dunia ini mereka lalai dan tidak berusaha untuk mendapatkan intan permata kebajikan dan perbendaharaan agama.

Perjalanan Insan melalui dunia ini bolehlah di-bahagi-bahagikan kepada empat peringkat :
Peringkat Nafsu,
Peringkat Percobaan,
Peringkat Naluri dan
Peringkat Berakal.


Dalam Peringkat Pertama, manusia itu adalah ibarat keledai. Meskipun ia ada penglihatan, tetapi tidak ada ingatan. Ia terus membakar dirinya berkali-kali ke dalam api lampu yang sama itu juga.
Dalam Peringkat Kedua, ia adalah ibarat anjing , apabila dipukul sekali akan lari apabila melihat kayu selepas itu.
Dalam Peringkat Ketiga, manusia itu ibarat kuda atau biri-biri. Kedua-duanya akan lari secara naluri, apabila melihat singa atau serigala, karena haiwan itu adalah musuhnya semula jadi. Tetapi meeka tidak lari apabila melihat unta atau lembu, meskipun binatang-binatang itu lebih besar dari tubuhnya.
Dalam Peringkat Keempat, manusia itu melampaui perbatasan binatang dan boleh sedikit sebanyak melihat ke hari depan dan mempersiapkan untuk hari yang akan datang.

Pergerakannya mula-mula bolehlah diumpamakan seperti berjalan di atas tanah, kemudian mengembara atas lautan dalam kapal, kemudian ia mengenal hakikat-hakikat hingga dapat berjalan di atas air lait. Di atas peringkat itu ada satu taraf lagi yang diketahui oleh Ambiya dan Aulia Alloh, kemajuan mereka diibaratkan sebagai burung terbang.
Oleh yang demikian, manusia dapat wujud dalam beberapa peringkat dari binatang hingga ke Malaikat. Di sini juga terletak bahayanya, yaitu mungkin terjatuh ke taraf yang paling bawah dan rendah. Dalam Al-Qur'an ada tercantum,

" Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh ". (Al-ahzab:72)

Binatang dan Malaikat tidak dapat merubah peringkat atau pangkat yang ditetapkan kepada mereka, tetapi manusia boleh turun ke tempat atau peringkat yang paling bawah, atau pun naik ke peringkat Malaikat. Inilah maksud "beban" yang dimaksudkan itu. Kebanyakan manusia memilih tempat dalam dua peringkat yang bawah seperti tersebut dahulu. Tempat yang tetap selalunya tidak disukai oleh orang yang mengembara.
Kebanyakan mereka dalam peringkat atau kelas yang bawah itu karena tidak ada kepercayaan yang penuh dan tetap tentang hari Akhirat itu. Kata mereka, Neraka itu adalah rekaan orang-orang Agama saja untuk menakut-nakutkan orang ramai, dan mereka pandang hina terhadap orang-orang Agama. Untuk bertengkar dengan mereka ini tidaklah berguna. Cukuplah bertanya kepada mereka demikian untuk membuat mereka merenung sebentarnya,
"Adakah kamu anggap 124, 000 orang Nabi dan juga Aulia Alloh itu semuanya percaya dengan Hari Akhirat itu semuanya salah dan kamu itu saja yang betul?".

Jika ia menjawab, "Ya, saya percaya sebagaimana percaya saya dua itu lebih dari satu. Saya penuh yakin tidak ada Ruh dan tidak ada bahagia dan hidup sengsara di Hari Akhirat".
Maka orang seperti itu tidak ada harapan lagi. Biarkanlah mereka di situ. Kenanglah nasihat Al-Qur'an;

" Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka, dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya " (Al-Kahfi:57)
Tetapi sekiranya orang itu berkata bahwa hidup di Akhirat itu adalah satu kemungkinan tetapi doktrin(kepercayaan) itu penuh dengan keraguan dan kesulitan. Maka tidaklah mungkin untuk membuat keputusan sama ada hal itu betul atau tidak. Maka bolehlah dikatakan kepadanya,

"Lebih baik kamu fikirkan. Kalau kamu lapar hendak makan dan tiba-tiba ada orang berkata kepadamu dalam makanan itu ada racun yang diludahkan oleh seekor ular yang bisa. Kamu mungkin enggan memakan makanan itu dan kamu rasa lebih baik tahankan saja lapar itu, meskipun orang yang berkata itu mungkin berbohong atau melawak saja".
Atau pun katalah kamu sedang sakit dan seorang pembuat Azimat berkata :
"Beri saya uang dan saya boleh tuliskan satu Azimat untuk kamu gantung pada leher dan Azimat itu akan menyembuhkan sakitmu".
Mungkin kamu memberi orang itu uang untuk membuat Azimat itu dengan harapan mendapat faedah dari Azimat itu. Atau jika seorang ahli Nujum berkata :
"Apabila bulan masuk ke falak bintang yang tertentu, minumlah sekian-sekian obat, maka sembuhlah kamu".
Meskipun tidak percaya dengan Ilmu Nujum, namun kamu mungkin mencobanya dengan harapan supaya disembuhkan.
Tidakkah kamu berfikir bahwa adalah lebih baik bergantung kepada perkataan para Ambiya', Auliya' dan orang-orang Sholeh itu tentang Hari Akhirat itu lebih baik daripada percaya akepada penulis Azimat atau Ahli Nujum?

Ada orang yang belayar dalam kapal menembus lautan yang penuh ombak gelombang yang menelan manusia semata-mata dengan tujuan untuk mendapat keuntungan yang sedikit, kenapa pula kamu tidak kamu berkorban sedikit pun di dunia ini karena untuk kebahgiaan yang abadi di Akhirat kelak?
Pernah Sayyidina Ali berkata kepada seorang Kafir; " Jika pendapat kamu betul, kedua kita akan merugilah di Akhirat kelak, tetapi jika kami betul, maka terlepaslah kami dan kamulah yang akan menderita".
Beliau berkata demikian bukan karena beliau ragu-ragu, tetapi semata-mata untuk menyadarkan orang Kafir itu.
Dari apa yang kita baca di atas itu, maka tahulah kita bahwa tugas utama hidup manusia di dunia ini ialah untuk membuat persediaan bagi Akhirat. Walaupun seorang itu ragu kehidupan di Akhirat itu, Akal mencadangkan supaya orang itu bertindak seolah-olah ianya ada, memandangkan hal-hal besar yang akan ditempuh kelak. Selamat sejahteralah mereka yang menurut ajaran Alloh dan RasulNya.

Risalatul Murid Habib Abdullah al Haddad (11 - 13)

i.Sembahyang Tahajjud DiTengahmalam
ii.Memelihara Sholat Lima Waktu
iii.Roh Ibadat


Sembahyang Tahajjud DiTengahmalam
Adakan waktu untuk kita bangun bertahajjud ditengahmalam, sebab malam itu adalah waktu seorang hamba berkhalwat dengan tuannya. Oleh itu hendaklah kita memperbanyak tadharru’dan istighfar ditengahmalam. Jangan lupa bermunajat kepada Tuhan kita dengan bahasa yang
merendah diri dan berserah diri dengan hati yang penuh yakin tentang kelemahan dan ketidakupayaandiri. Awas, jangan sekali-kali diabaikan bangun ditengahmalam. Jangan sampaiwaktu berjaga malam itu tiba melainkan kamu segera bangun serta berzikir kepada Allah swt.
Keterangan:
“Alhamdulillah, syukur pada Allah Taala yang telah menjadikan malam supaya manusia dapat istirahatkan badan setelah mencari rezki pada siang hari didunia supaya dapat menyehatkan badan untuk meneruskan pencarian rezkiNya yang telah ditaburkan oleh Para Malaikat pada malam hari berikutnya dan keesokan hari.
Subhanallah, Maha Suci Allah, yang telah menjadikan malam itu juga sebagai majlis khas untuk para hambaNya yang menginginkan bantuan, perlingungan, pertolongan, keselamatan,kesejahteraan, keampunan dan keridhaanNya dari segala gangguan dunia dan keselamatan akhirat sesudah menjalan kewajipan-kewajipan sebagai manusia. Dimana Dia dengan sifat kasih sayangNya telah membentangkan permaidani sambil menunggu hambaNya datang untuk mendengar permohonan dengan menghadapkan wajahnya kepada wajahNya yang suci.


Setiap malam tanpa henti dan tanpa jemu, diturunkan rahmat dariNya dan Dia memberi, membahagikan dan menurunkan pada sesiapa yang menginginkan bantuan, perlingungan, pertolongan, keselamatan, kesejahteraan, keampunan dan keridhaanNya hanya duduk dipermaidani yang sudah dibentangkan olehNya dengan menundukkan muka, merendahkan suara kepada Kebesaran dan KeagunganNya dengan di iringi kesedaran sifat Kasih SayangNya, sambil meluahkan segala ketidakmampuan dan kelemahan diri untuk menjalankan kewajipan-kewajipan ketaatan dan menjauhkan diri dari segala perkara maksiat danlaranganNya dengan tidak menceburkan diri dalam perbuatan bida’ah dan juga berserah diri kepadaNya. Dimanakah boleh dapat pemberian yang sebesar begini? Pada hal, Dia yang menunggu, kita yang lalai.

Dia hendak membahagi, kita tidak mahu menerima. Kita yang buta mata hati dan berdetik soalan dari hati, Kenapa? Nak buat apa? Aku penat! Akumengantuk. Besok nak kerja. Besok ada rancangan dengan famili. Besok ada meeting besar,Besok meeting penentuan, mungkin aku boleh jadi kaya, Besok nak jumpa kawan. Sekarang aku bersama kawan-kawan. Sekarang aku bersama kaum kerabat dan banyak-banyak lagisoalan yang akan dikeluarkan oleh hawa nafsu. Mungkin itu yang akan tercetus dari lubuk hati kamu. Semua perkara yang jahat adab ini dapat dengan mudah lakukan. Macam adaloceng (alarm) memberitahu akan urusan-urusan yang wajib ditepati. Daifnya kita. Lemahnya diri dan tebal punya bodoh. Mudah-mudahan tidak.

Sebenarnya kita dihadang olehNya (tak dapat melihat hakikatnya)! Dengan tidak ada
kefahaman itu maka kita diberatkan lagi oleh hawa nafsu dan syaitan. Maka dengan itu wahai setiap murid, adakan masa (mengetepikan masa) untuk bangun bertahajjud ditengahmalam untuk duduk dipermaidani yang telah dibentangkan dan beribadahlah, mengakulah dirimu menghendaki bantuan, perlindungan dan pertolongan dan merayulah kepadaNya sekuat tenaga dan berserah diri kepadaNya, bukan dengan cara berpekik-pekik, jangan salah faham. Asyik salah faham yang diikuti, tak paham, tak nak Tanya. Bodoh lagi, bila nak keluar dari tong kebodohan! Asyik malu nak tanya konon, sebenarnya rasa sudah pandai. Masyallah.Nauzubillah. Jangan abaikan dirimu terlena oleh peluhkan hawa (bukan pelukan dunia) yang mengaysikkan.

Jangan waktu malam datang kamu masih dipembaringan atau dilalaikan oleh
makhluknya. Bangunlah dan berzikirlah kepadaNya”.

Memelihara Sembahyang Lima Waktu
Hendaklah para murid mengambil berat dalam mendirikan sembahyang lima waktu dengan
menyempurnakan berdirinya, bacaanya, khusyu’nya, ruku’nya, sujudnya dan seterusnya
terhadap rukun-rukun dan sunnat-sunnatnya. Sebelum memulakan sembahyang hendaklah
kamu ingat didalam hati bahwa kamu akan berhadapan dengan Tuhan yang Maha Mulia dan
Maha Agung. Ingat, jangan sekali-kali kamu bermunajat kepada Raja dari sekelian raja dan
Pembesar dari sekalian pembesar dengan hati yang lalai, terlena didalam awang-awangan
kealpaan dan waswas, menerawang didalam lapangan angan-angan dan pemikiran keduniaan,
kelak kamu akan dimurkai Allah Taala dan dihalau dari pintu menuju kepadaNya. Rasulullah
saw bersadba;
“Apabila seorang hamba berdiri untuk menunaikan sembahyang, maka Allah Taala akan
memerhatikan gerak-gerinya. Apabila sihamba menoleh kebelakang. Allah Taala akan berkata kepadanya: Hai anak Adam! Engkau telah menoleh kepada siapa yang lebih baik lagi bagimu daripadaKu! Jika ia menoleh lagi, Allah Taala akan berkata sekali lagi seperti yang tersebut tadi.Jika ia menoleh kali ketiga, maka Allah Taala akan memalingkan perhatianNya dari orang itu”


Kalau orang yang menoleh dengan wajahnya yang zahir saja, Allah Taala telah memalingkan perhatian daripadanya, apatah lagi jika ia memalingkan hatinya didalam sembahyang kepada urusan-urusan keduniaan dan keindahannya, tentulah lebih-lebih lagi. Allah Taala tidak melihat kepada tubuh badan manusia dan perkara-perkara yang zahir akan tetapi Diamemandang hati manusia dan batinnya.
Keterangan:“Dalam Bab ini, Habib Abdullah AlHaddad menyuruh setiap salik dan setiap murid wajib
mengambil berat dalam mendirikan sembahyang lima waktu yang difardhukan oleh Allah
Taala kerana ini adalah tanda tanda bagi mereka yang beriman seperti berikut;
1. Kewajipan sembahyang diwajibkan keatas setiap manusia yang sudah baligh atau sudah
mengalami mimpi, cukup umurnya dan dapat membezakan mana yang baik dan mana yang
buruk. Kewajipan ini akan gugur bila seseorang yang mengalami keuzuran, gila dan nyayuk.
Bila tidak ada keuzuran yang disebutkan tadi maka kewajipan sembahyang tidak boleh
ditinggalkan. Kalau ditinggalkan maka hukumnya berdosa.

2. Pengucapan dua kalimat syahadat hendaklah dilafazkan kerana pengucapan (ikrar) kepada
Allah Taala iaitu pengakuan jauh didalam hatinya bahwa Allah adalah Tuhannya dan
pengakuan bahwa Muhammad adalah RasulNya. Bererti bila seseorang yang sudah baligh
dan membuat pengucapan syahadat maka kewajipan sholat dilaksanakan pada dirinya.
Sekiranya dia tidak membuat pengucapan pada dua kalimat syahadat itu walaupun dia sudah
mencapai usia baligh maka haram untuk dirinya mendirikan sholat kerana tidak ada
pengakuan dari dirinya.

3. Sholat adalah tanda seseorang yang mengamalkan perintah Tuhannya sekaligus
menunjukkan perbezaan antara orang yang hanya mengaku beriman dan yang tidak beriman.
Yang bertopeng dan yang tidak bertopeng. Yang mengaku beragama Islam pada hal tidak.
Yang hanya memakai nama Islam tetapi tidak mengamalkan ajaran Islam dan tidak patuh
pada perintah dan menjauhi larangNya. Maka berdosalah dia kepada Tuhannya.

4. Sholat adalah batas pemisah antara seseorang yang beriman pada Allah dan RasulNya dan
seseorang yang tidak mendirikan sholat mereka termasuk dalam kumpulan musyrik dan fasiq.
Perbezaan yang sangat ketara dan jauhkan dirimu dari mereka yang dicapkan oleh Allah
Taala dan RasulNya sebagai orang yang musyrik dan fasiq kalau nak selamat didunia dan
diakhirat.

5. Sempurnakan segala Rukun Sholat dan Sunnat-sunnatnya. Kalau tak tahu dan tak faham,
pergi belajar. Kerana untuk menyempurnakan qiyam (berdiri), rukuk dan sujud dan segala
sunnat-sunnat boleh dipelajari melalui bab rukun-rukun sholat dan sunnat-sunnat sholat.

6. Harus mengambil berat tentang bacaan surah-surahnya dengan tartil dan mengetahui
maknanya. Kerana dapat membantu dirinya untuk mendapatkan khusyu’.

7. Sebelum menginjakkan kaki kesejadah hendaklah kamu tanamkan dalam hati bahwa dirimu
akan berhadapan dengan Allah Taala Yang Maha Mulia, Maha Agung (Besar) dan Maha
Pengasih dan Penyayang.

8. Jangan berdoa pada Allah dengan hati yang lalai, hati yang tidak tertumpu pada
kebesaranNya. Tekankan selalu didalam sembahyang bahwa Dia Maha Melihat dan Maha
Mendengar bilamana kamu berada didalam hati yang lalai. Amalkan selalu cara ini.

9. Jauhkan dirimu bila berhadapan denganNya dari was-was. Kerana was-was itu adalah
tiupan dari syaitan yang tidak mahu kamu menumpukan perhatian kamu padaNya.

10. Jangan ikutkan pikiran kamu yang melayang pada angan-angan dan memikirkan dunia
(dalam sholat, ingat apa nak buat lepas sholat) ini juga adalah hembusan dari syaitan.

11. Ingat, bilamana kamu menunaikan sholat, Allah Taala akan memerhatikan segala gerakgerikamu. Jangan bermain dengan tubuh badanmu! Kalau kamu menoleh kebelakang
(bermaksud; hilang berhatian kamu sampai ketiga kali, maka Allah akan memalingkan
perhatianNya dari kamu).
Ingat!Jauhkan dirimu dari segala yang disebutkan diatas supaya kamu tidak mendapat kemurkaan (kemarahan) Allah Taala dan dihalaunya diri kamu dari pintu (bermaksud ingat) menujukepadaNya.

Roh Ibadat
Ketahuilah, bahwa roh semua ibadat dan maksudnya, ialah menghadirkan diri dihadirat Allah
swt. Barangsiapa yang mengerjakan ibadat yang kosong dari menghadirkan diri, maka ibadat itu sia-sia dan tiada berguna. Perumpaan orang yang tiada menghadirkan diri dihadirat Allah Taala didalam peribadatannya, samalah seperti seorang yang menghadiahkan kepada seorang Maharaja barang yang rosak, ataupun sebuat peti yang kosong tiada berisi apa-apa. Bukankah sepatutnya orang ini mendapat siksa dan tidak diberi balasan terhadap hadiahnya?
Keterangan:
“Bab ini tersangat penting bagi semua muslimin, murid dan salik kerana ia berkaitan dengan Ibu Ibadah. Maka perkara ini tidak boleh diambil mudah atau diperkecilkan atau tidak dihiraukan maka akibatnya semua ibadahnya menjadi rosak dan tidak diterima oleh Allah Taala. Segala perbuatan ibadah ketaatan, pengabdian dan segala amal-amal kebajikan akan menjadi sia-sia belaka tetapi apa yang didapati hanya penat lelah dan sangkaan yang salah kerana menganggap diterima ibadahnya.

Maka maksud Roh Ibadat dari Habib Abdullah Alwi Al-Haddad ialah menghadirkan diri
dihadirat Allah Taala. Maksud menghadirkan diri adalah berhadapan dan menumpukan
perhatian kepada Allah dimana bukan saja berhadapan dengan hati tetapi dengan jiwa dan raga dimana terbagi didalam 3 bahagian seperti berikut:

Ketaatan, Pengabdian dan Amal Kebajikan:
1. Ketaatan; Dilaksanakan dalam menuruti segala perintah dan menjauhi segala larangan
dari Allah Taala seperti; sholat, puasa, zakat dan haji. Ini yang katakan ketaatan dan
beruntunglah bagi sesiapa yang dapat melaksanakannya dengan baik.

2. Pengabdian; Dilaksanakan dalam penghambaan terhadap Allah Taala. Iaitu melayani
segala suruhan dan menjauhi segala larangan Tuan (Tuhan)nya itulah kerja sihamba. Kalau
tidak dapat melayan kehendak Tuan, bukan hamba namanya.

3. Amal Kebajikan; Dilaksanakan dalam perkara-perkara sunnah yang dibawa dan
ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat beliau dan para salaf seperti, sholat
sunnat, puasa sunnat, berzikir, berdoa, membaca AlQuran dan segala perkara yang
berhubungan diantara manusia dan manusia.

Beruntunglah bagi sesiapa yang dapat melaksanakan dengan baik dan dengan sempurna akan
ketiga-tiga perkara diatas dan amat rugilah bagi sesiapa yang tidak melaksanakan atau
melaksanakan dengan tidak baik dan dengan tidak sempurna.
Ketahuilah; ketiga-tiga perkara itu wajib disertakan dengan kehadiran diri (hati) jika
menginginkan keridhaan dari Allah Taala.

Langkah-langkah yang mudah untuk menghadirkan diri didalam ketaatan, pengabdian dan
amal kebajikan seperti berikut;
Untuk ketaatan yang paling penting ialah KEHADIRAN DIRI (HATI) dimana tanpanya maka
perlaksanaan ketaatan ditolak dan tidak berguna. Ambillah langkah-langkah seperti;
a) Faham akan segala rukun sholat, dimana letaknya sah dan batalnya. Dimana wajib
dan dimana sunnat dan pelaksanaannya.
b) Memohon keizinan dariNya supaya dapat melaksanakan perintah suruhannya dengan
baik sebelum sholat.
c) Berabdab dengan baik dan menyakinkan diri kamu akan berhadapan kepada
wajahNya. Seperti kamu berhadapan dengan seorang raja dunia atau orang mulia
samada bersangkut pada dunia ataupun akhirat. Maka berhadapan denganNya
haruslah lebih-lebih lagi.
d) Menanamkan keyakinan bahwa Dia melihat (memperhatikan perbuatan kamu yang
zahir batin) dan mendengar segala apa yang keluar dari lidah dan hati kamu.
e) Tanamkan keyakinan bahwa Allah Melihat dan Mendengar (sekiranya kamu lemah
didalam menghadapkan hati dan wajah kamu).
f) Mengangkat takbir dengan penuh khusyu’ disertakan dengan menzahirkan kaabah
(bagi sesiapa yang lemah keyakinannya bahwa Allah Melihat dan Mendengar) dengan
perasaan merendahkan diri kepada Kebesaran dan KeagunganNya.
g) Hendaklah memahami takbiratul ihram akan maknanya yang sebenar.
h) Memahami makna surah-surah yang dibaca dan wajib memahami makna surah
fatihah.
i) Membaca tahiyat awal dan akhir dengan penuh kesedaran dan memberi salam kepada
Nabi Muhammad saw dengan seikhlas-ikhlasnya dengan menghadapkan hati kamu ke
maqamnya.
j) Semasa rukun sujud hendaklah bermohon padanya dan membuat pengakuan
kepadaNya dengan ikhlas.
k) Memberi salam dengan merasai akan terpisahnya diri kamu dan kembali ke dunia.
Begitulah langkah-langkah yang sederhana yang harus diterapkan semasa mendirikan
ketaatan didalam sholat bagi setiap muslimin.

Jangan sekali-kali kamu tidak menghadirkan hati dan jiwa raga kepadaNya kerana perbuatan kamu itu akan mengundang akan KemarahanNya dan boleh mendapat bencana di dunia ini kemudian diakhirat kelak dikeranakan kamu tidak beradab bila berhadapan denganNya tetapiboleh beradab dengan makhluknya terutama manusia.
Sekiranya fikiran kamu melayang sebentar maka lekas-lekas menanamkan keyakinan bahwa
Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar”.



Monday, August 30, 2010

Hikam Al Hadad : Hikmat llahi pada Penciptaan Hal-Hal yang Berlawanan

[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Adakalanya seseorang yang lemah bashirah1-nya memandang kepada alam ini lalu melihat berbagai hal yang saling berlawanan. Seperti adanya cahaya dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan, perbaikan dan perusakan, manfaat dan mudarat, dan lain sebagainya. Mungkin ia membisikkan dalam hatinya atau menggambarkan dalam angan-angannya bahwa seandainya dalam alam ini hanya ada cahaya, kebaikan, perbaikan, dan manfaat saja, niscaya akan lebih utama dan lebih baik. Mungkin pula akan timbul protes atau sanggahan dari orang itu terhadap Allah Swt.

karena telah menciptakan sifat-sifat dan keadaan yang berlawanan dengan itu semua. Ia mengira bahwa ke-wujud2-an hal-hal itu semuanya tak ada artinya dan penciptaannya pun tidak ada hikmahnya. Itu hanya menunjukkan kejahilan, kebodohan, dan kelengahan dari orang yang berangan-angan tersebut. Sebab, Allah Swt. (bagi-Nya segala puji) adalah yang paling bijak di antara para bijak bestari. Dialah Tuhan yang memiliki ilmu yang mutlak, tak terbatas, yang melingkungi segala sesuatu dari segenap arahnya. Dialah yang paling kuasa di antara semua yang kuasa, paling pengasih di antara semua pengasih. Dalam suatu atsar3 disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya Akulah Allah, tiada tuhan melainkan Aku. Telah Kuciptakan kebaikan dan kejahatan dan Kuciptakan masing-masing ahlinya bagi keduanya. Berbahagialah ia yang Kuciptakan untuk menjadi ahli kebaikan dan Kumunculkan kebaikan dari sisinya. Celakalah ia yang Kuciptakan untuk menjadi ahli kejahatan dan Kumunculkan kejahatan dari dalam dirinya. Kemudian, celakalah bagi siapa yang berkata, "mengapa, bagaimana". (Atsar ini dikutip dengan maknanya.)
Oleh sebab itu, orang yang mengatakan, "mengapa, bagaimana, dan seandainya", pada saat ia melihat hal-hal yang tidak ia ketahui alasannya dan tidak ia capai makna hikmahnya yang terkandung di dalamnya, dapat dinyatakan sebagai seorang yang menyanggah kebijaksanaan Allah dan melawan-Nya dalam tadbir4-Nya. Ketahuilah bahwa kewujudan alam ini yang disertai dengan adanya berbagai hal di dalamnya, yang saling berlawanan dan berlainan, adalah kewujudan yang paling sempuma dan paling baik.

Tiada sesuatu yang mencerminkan kebijakan dan mendatangkan kebaikan lebih besar daripadanya apabila dikaitkan dengan tujuan penciptaan alam dan sasaran yang hendak dicapai dengannya. Camkanlah hal ini.
Tak dapat dimungkiri bahwa alam ini dalam kewujudannya berada pada salah satu di antara empat keadaan:
1. Tetap seperti keadaannya sekarang, yakni dengan segala keberlawanan atau kontradiksi yang maujud kini.
2. Yang ada di dalamnya hanyalah kebaikan murni dan kemanfaatan semata-mata.
3. Yang ada di dalamnya hanyalah kejahatan dan kemudaratan semata-mata.
4. Tidak terwujudnya alam ini sama sekali.

Hanya empat keadaan ini saja, tidak ada kelimanya yang dapat dibayangkan dalam pikiran. Adapun seandainya alam ini dalam keadaan 'adam (tidak ada sama sekali, non existence), maka tidak akan dapat disebut sebagai sesuatu, tidak ada hakikat pada dirinya, dan oleh sebab itu tidak ada artinya sama sekali. Adapun seandainya yang ada di alam ini hanya kebaikan murni semata-mata, niscaya ia akan lumpuh disebabkan hikmah-hikmah dan maslahat segala sesuatunya akan menjadi batal dengan sendirinya. Alam seperti itu hanya berupa setengah kewujudan, dan dengan demikian takkan tercapai tujuannya yang memang dikehendaki dan diciptakan untuknya.

Adapun seandainya yang ada dalam alam ini hanyalah kejahatan dan kemudaratan semata-mata, niscaya ia tak ada gunanya dan tidak perlu ada.

Dari hasil pembahasan di atas dapat diketahui bahwa kondisi yang dapat disaksikan di alam sekarang adalah yang paling baik, paling sempuma, paling utama, dan paling patut. Dari uraian kami itu pula dapat dipahami makna persoalan yang disebutkan oleh Hujjatul-Islam Imam Al-Ghazali.rhm pada bagian tentang Tauhid dalam kitab Ulum Al-Din yang disimpulkannya dengan ungkapan:
"Tidak mungkin terwujud yang lebih indah (atau lebih sempurna) daripada yang telah terwujud."

Ucapan Imam Al-Ghazali.rhm itu mengandung kebenaran, dapat diterima baik, dan tak ada keberatan padanya. Meskipun demikian, tampaknya beliau (rahimahullah) agak berlebih-lebihan dalam penganalisisan dan penyimpulan masalah tersebut, sedangkan ruang untuk bahasannya terlalu sempit, sehingga susunan kalimatnya kurang mampu menjangkau makna sebenamya yang hendak dituju. Sebagai akibatnya, timbul kemusykilan dan ketidakjelasan. Adapun yang dimaksud oleh Imam Al-Ghazali memang benar, begitu pula maksud yang dikehendakinya amat mulia, meski juga pelik. Seperti itu pula yang dapat dikatakan mengenai masalah-masalah pelik lainnya. Jika seorang 'alim yang 'arif hendak menyampaikan pemahamannya kepada siapa yang bukan ahlinya, masalah tersebut akan bertambah tidak jelas dan musykil, dan jadilah si 'alim sasaran kecaman orang-orang yang tidak termasuk ahli dalam ilmu tersebut atau kurang mantap pijakan keilmuannya.

Ketahuilah pula bahwa dalam kewujudan alam ini, seperti apa adanya, terkandung berbagai petunjuk mengenai nama-nama Allah (al-asma' al-husna) dan sifat-sifat-Nya yang pengetahuan tentang itu semua tidak akan sempuma kecuali dengan keberadaan alam seperti keadaannya kini. Cahaya, sebagai contoh, tidak mungkin dikenali dengan selayaknya kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengannya, yakni kegelapan. Kebaikan, tidak mungkin dikenali kecuali dengan lawannya, yakni kejahatan. Demikian pula tentang perbaikan dan perusakan, manfaat dan mudarat, sehat dan sakit, dan segala sesuatu lainnya yang saling berlawanan dan berlainan.

Perhatikan baik-baik uraian kami dalam pasal ini. Sebab, ia termasuk di antara hikmah yang tinggi dan hakikat nan lembut, yang untuk menjelaskannya secara sempurna membutuhkan ucapan yang banyak dan uraian yang panjang. Sungguh Allah mengetahui yang benar dan menunjuki jalan yang lurus.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
1. Bashirah ; akal, mata hati, kesadaran batin .
2. Wujud ; adanya sesuatu, sesuatu yang berupa, eksistensi.
3. 'Atsar ; peninggalan, bekas. Yang dimaksudkan disini, ucapan dari Nabi Saw, para sahabat atau ulama dan hukama pada masa lalu.
4. Tadbir ; pengaturan.
5. Maujud ; benar-bener ada, sesuatu yang nyata.



Sufi Road : Makam Para Nabi (2)

qabr_shariff_of_prophet_ayub(as)oman

tomb_of_prophet_samiul(as)



qabr_shariff_of_prophet_samiul(as)

tomb_of_prophet_noha


Tomb_of_prophet_salih(as)


qabr_shariff_of_prophet_salih(as)

qabr_shariff_of_prophet_lut(as)_hebron_palestine

qabr_shariff_of_prophet_sheesh(as)iraq

qabr_shariff_of_prophet_shoaib(as)

qabr_shariff_of_prophet_yahya(as)

Sufi Road : Mengenal Fisik Rasulullah

Saat seseorang memandang fisik Rasulullah saw., ia segera merasakan bahwa ia sedang
berada di depan keindahan yang meng-agumkan dan tak ada duanya. Penampilan yang
mencerminkan ke-percayaan yang mutlak dan tak terbatas. Berikut ini adalah pendapat
yang disepakati oleh mereka yang bertemu dan melihat langsung Rasulullah saw,
mudah2an menambah kerinduan dan kecintaan kita pada rasulullah.

Ad-Darimi dan al-Baihaqi mentakhrij bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Aku melihat Nabi saw. pada malam bulan purnama, dan ketika aku bandingkan antara
wajah Nabi saw. dan indahnya bulan, say a dapati wajah Nabi saw. lebih indah
dibandingkan rembulan.”


At-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata,
“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah saw.. Seakan-akan
mentari bersinar dari wajah beliau. Aku tidak pernah dapati seseorang yang lebih cepat jalannya dibandingkan beliau, seakan-akan bumi melipat sendiri tubuhnya saat beliau berjalan. Ketika aku ikut berjihad, aku lihat beliau tidak pernah berlindung di balik perisai.”

Bukhari-Muslim meriwayatkan bahwa al-Barra berkata,
“Rasulullah saw. mempunyai pundak yang lebar, rambutnya mencapai ujung telinga,
dan tidak pernah ada orangyang lebih indah dipandang dibandingkan beliau.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia pernah diminta untuk menceritakan
tentang Rasulullah saw. kepada kami, kemudian ia menjawab,
Beliau memiliki wajah yang putih dan berseri.”

Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata,
“Rasulullah saw. memiliki dua kaki yang kokoh dan tegap, dan wajah yang indah, yang
belum pernah kutemukan wajah seindah itu sebelumnya.”


Abu Musa Madini meriwayatkan dalam kitab ashShahabah bahwa Amad bin Abad al-
Hadhrami berkata,
“Aku melihat Rasulullah saw., dan tidak pernah melihat wajah seindah itu sebelumnya
maupun sesudahnya.”

Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata,
“Aku tidak pernah temukan orangyang lebih berani, dermawan, dan lebih bersinar
wajahnya, dibandingkan Rasulullah saw..”

Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Mahrasy Kahti berkata,
“Rasulullah saw. mengambil umrah darijiranah, pada malam hari. Dan, ketika soya
melihat bagian belakang tubuh beliau, say a seperti melihat perakyang menyala.”

Abdullah bin Imam Ahmad serta al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata,
“Rasulullah saw. bukanlah orangyang tubuhnya tinggi menjulang.Jika berjalan bersama
rombongan, beliau tampak menonjol. Wajahnya putih, kepalanyabesar, alis matanya
panjang dan hitam, danjika ada keringat yang menetes dari wajah beliau, akan tampak
seperti mutiara. Aku tidak pernah melihat wajah seindah wajah beliau, sebelumnya atau
setelahnya.”

Deskripsi tentang Rasulullah saw. yang diberikan oleh Hindun bin Abi Halah,
Tubuh Rasulullah saw. menampakkan pribadiyang agung. Wajahnya bersinar seperti
bulan purnama. Kepalanya besar. Rambutnya keras. Kuliatnya putih ke-merahan.
Keningnya luas. Alisnya tebal.Jika marah, keningnya meneteskan keringat. Hidungnya
mancung. Tubuhnya diliputi cahaya. Orangyang tidak memperhatikan dengan saksama
menyangkanya amat tinggi.Jenggotnya tebal. Matanya hitam. Kedua pipinya tirus.
Mulutnya lebar. Giginya indah. Memiliki bulu halus di atas perut. Lehernya amat halus.
Tubuhnya sedang. Sedikit gemuk dan tegap, dengan perut dan dada yang seimbang.
Dadanya bidang. Kedua pergelangan tangannya panjang. Telapak tangannya luas.
Kedua kaki dan tangannya kekar. Jari-jarinya panjang. Jalannya tegap, seperti sedang
turun dari ketinggian. Jika menoleh, dengan seluruh tubuhnya. Pandangannya selalu
tertunduk he tanah, danjarang sekali mendongakkan matanya he langit....”

Jika Rasulullah menyentuh seseorang, orang itu akan merasakan ketenangan yang
mengagumkan, dan perasaan ketinggian ruhani yang menakjubkan. Ahmad
meriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata,
Suatu ketika akujatuh sakit di Mekah. Kemudian Rasulullah saw. menjenguk,
meietakkan tangan beliau di kening, dan mengusap wajah, dada, sertaperutku. Hingga
saat ini, aku masih merasakan sentuhan tangan beliau dijantung.”

Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Suatu ketika Rasulullah saw. mengusap mukaku dengan tangannya. Aku dapati tangan
beliau demikian sejuknya dan berbau wangi. Seakan-akan tangan tersebut baru
dikeluarkan dari kantong kesturi.”


Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Anas r.a. berkata,
Aku belum pernah menemui sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan
Rasulullah saw. Dan, belum pernah mencium bau misik atau minyak anbar yang lebih
harum dari Rasulullah saw..”


Penampilan beliau memberikan sugesti kepada orang yang melihatnya bahwa orang
tersebut sedang berdiri di hadapan seorang nabi. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa
Abdullah bin Salam berkata,
“Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku menemui beliau. Ketika aku melihat wajah
beliau, aku segera mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta.”

Abu Ramtsah Tamimi berkata,
“Aku mendatangi Nabi saw. bersama anakku. Ketika aku melihat beliau, hatiku langsung
berkata, ‘Orang ini pastilah nabi Allah.’”

Abdullah bin Rawahah berkata tentang Rasulullah saw,
Seandainya tidak ada ayat-ayat penjelas pun, yang menerangkan beliau sebagai rasul,
niscaya penampilan dan tubuh beliau sudah cukup menjadi keterangan itu.”


Ini adalah sebagian riwayatyang menjelaskan tentang tubuh Rasulullah saw.. Semua
keagungan postur tubuh beliau itu kami ceritakan kembali, sehingga kita dapat
menangkap dengan jelas kepribadian Rasulullah saw. dari segala seginya.

Sumber : Ar Rasul Said Hawwa


Doa Lailatul Qadar



Artinya: "Ya Allah Engkau adalah Maha pemaaf Lagi Maha Mulia. Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah dosa-dosaku. "

Penjelasan:
Doa ini baik sekali dibaca pada malam lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang ada pada bulan Ramadhan. Imam Turudzî dari 'Aisyah r.a. meriwayatkan, bahwa suatu ketika 'Aisyah menghadap Rasulullah Saw. dan berkata: "Ya Rasulullah, apabila aku menemukan lailatul qadar, bacaan apa yang harus aku baca?" Rasulullah menjawab:"Bacalah: Allâhumma Innaka 'Afuwwun Karim."


Wirid Imam Nawawi

Berikut sy masukkan wirid Imam Nawawi. Wirid ini sangat baik untuk diamalkan setiap harinya.





Sunday, August 29, 2010

Kisah hikmah Kiyai Kholil

K.H MUHAMMAD KHOLIL (MBAH KHOLIL) BANGKALAN . MADURA
Narasumber : KH. Imam Bukhori ( Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Kholil ), Bangkalan
(Dari buku Biografi K.H Muhammad Kholil)

Membetulkan Arah Kiblat
Kiai Muntaha, mantu Kiai Kholil, yang terkenal alim itu membangun masjid di pesantrennya, dan pembangunan masjid tersebut hampir rampung. Sebagai seorang alim, Kiai Muntaha membangun dengan rencana yang matang sesuai dengan tuntunan syariat. Begitu juga dengan tata letak dan posisi masjid yang tepat mengarah ke kiblat. Menurut Kiai Muntaha, masjid yang hampir rampung itu sudah sedemikian tepat, sehingga tinggal menunggu peresmiannya saja sebagai masjid kebanggaan pesantren.
Suatu hari, masjid yang hampir rampung itu dilihat oleh Kiai Kholil, menurut pandangan Kiai Kholil, ternyata masjid itu terdapat kesalahan dalam posisi kiblat.
"Muntaha, arah kiblat masjidmu ini masih belum tepat, ubahlah!" ucap Kiai Kholil mengingatkan mantunya yang alim itu. Sebagai seorang alim, sebagai kiai alim, Kiai Muntaha tidak percaya begitu saja. Beberapa argumen diajukan kepada Kiai Kholil untuk memperkuat pendiriannya yang selama ini sudah dianggapnya benar, melihat mantunya tidak ada-ada tanda-tanda menerima nasehatnya, Kiai Kholil tersenyum sambil berjalan ke arah masjid. Sementara Kiai Muntaha mengikuti di belakangnya. Sesampainya di ruang pengimaman, Kiai Kholil mengambil kayu kecil kemudian melubangi dinding tembok arah kiblat.

"Muntaha, coba kau lihat lubang ini, bagaimana posisi arah kiblatmu?" panggil Kiai Kholil sambil memperhatikan mantunya bergegas mendekatkan matanya ke lubang itu, betapa kagetnya Kiai Muntaha setelah melihat dinding itu. Tak diduganya, lubang yang kecil itu ternyata Ka'bah yang berada di Makkah dapat dilihat dengan jelas dihadapannya. Kiai Muntaha tidak percaya, digosok-gosokan matanya dan dilihatnya sekali lagi lubang itu, dan ternyata Ka'bah yang di Makkah malah semakin jelas. Maka, sadarlah Kiai Muntaha, ternyata arah kiblat Masjid yang diyakininya benar selama ini terdapat kesalahan. Arah kiblat masjid yang dibangunnya, ternyata terlalu miring ke kanan. Kiai Kholil benar, sejak saat itu, Kiai Muntaha mau mengubah arah kiblat masjidnya sesuai dengan arah yang dilihat dalam lubang tadi.

Mengetahui Pikiran Kiai Noer
Ketika Kholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban. Kholil seperti biasanya ikut jama'ah sholat yang memang keharusan para santri. Di tengah kekhusukan jama'ah sholat, tiba-tiba kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Noer. Dengan kening berkerut, kiai bertanya:
"Kholil, kenapa waktu sholat tadi, kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu itu meengganggu kekhusukan sholat dan sholat kamu tidak syah?!" Kholil menjawab dengan tenang, "Maaf, begini Kiai, waktu sholat tadi saya sedang melihat Kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul, karena itu saya tertawa. Sholat kok mengaduk-aduk nasi. Salahkah yang saya lihat itu, kiai?" Jawab Kholil muda dengan mantap dan sopan.


Kiai Muhammad Noer terkejut. Kholil benar, Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya, Kiai Muhammad Noer duduk dengan tenang sambil menerawang lurus ke depan, serta merta berbicara kepada santri kholil: "Kau benar anakku, saat mengimami sholat tadi perut saya memang sedang lapar. Yang terbayang dalam pikiran saya saat itu, memang hanya nasi, anakku," ucap Kiai Muhammad Noer secara jujur. Sejak kejadian itu kelebihan Kholil akhirnya menyebar. Bukan hanya terbatas di pesantren Langitan, tetapi juga sampai ke pesantren lain di sekitarnya. Karena itu, setiap kiai yang akan ditimba ilmunya oleh Kholil muda, maka para kiai itu selalu mengistimewakannya. Didatangi Macan
Pada suatu hari di bulan syawal, Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santri-santrinya. "Anak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok ini" kata Kiai Kholil agak serius.

Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu, sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditunggu-tunggu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren seorang pemuda kurus tidak seberapa tinggi bertubuh kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah Kiai Kholil, lalu mengucap salam "Assalamu'alauikum" ucapnya agak pelan dan sangat sopan.

Mendengar salam itu, bukannya jawaban salam yang diterima, tetapi kiai malah berteriak memanggil santrinya, hei... santri semua, ada macan...macan...ayo kita kepung. Jangan sampai masuk pondok" seru Kiai Kholil bak seorang komandan di medan perang.
Mendengar teriakan Kiai, kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa saja yang ada, pedang, celurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke Kiai Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya pemuda itu mencoba datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren langsung disong-song dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya, baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau.

Secara tidak diduga, tengah malam, Kiai Kholil datang dan membangunkannya, karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Kiai Kholil, setelah berbasa-basi dengan seribu alasan, baru pemuda itu lega setelah resmi diterima sebagai santri Kiai Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab Hasbullah. Seorang kiai yang sangat alim, jagoan berdebat dan pembaharu pemikiran. Kehadiran KH. Wahab Hasbullah dimana-mana selalu berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan bagaikan seekor macan, seperti yang disyaratkan Kiai Kholil.
Ketinggalan Kapal Laut

Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu satu-satunya angkutan yang menuju Makkah. Semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya :
"Pak tolong, saya belikan anggur, saya ingin sekali" ucap istrinya dengan memelas.
"Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur". Jawab suaminya dengan bergegas keluar dari kapal.
Setelah suaminya keluar mencari anggur di sekitar anjungan kapal, nampaknya tidak ditemuai pedagang anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar. Untuk memenuhi permintaan istrinya tercinta. Dan, meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga, betapa gembiranya sang suami mendapatkan anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal laut untuk menemui istrinya. Namun betapa terkejutnya sesampai ke anjungan kapal. Pandangannya menerawang ke arah kapal yang akan ditumpangi. Semakin lama kapal tersebut semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Ia duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.
Di saat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasehat: "Datanglah kamu kepada Kiai Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu!" ucapnya dengan tenang.
"Kiai Kholil?" pikirnya.
"Siapa dia?, Apa ia mesti harus kesana, bisakah dia menolong ketertinggalan saya dari kapal?" begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
"Segeralah ke Kiai Kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami, Insyaallah." Lanjut orang itu menutup pembicaraan. Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Kiai Kholil, langsung disambut dan ditanya:
"Ada keperluan apa?"
Lalu, sang suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Kiai Kholil. Tiba-tiba Kiai berkata :
"Lho...ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan, sana ... pergi".
Lalu suami itu kembali dengan tangan hampa.
Sesampainya di pelabuhan, dia bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Kiai Kholil. Orang tersebut bertanya: Bagaimana? Sudah ketemu Kiai Kholil?
"Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan." Katanya dengan nada putus asa.
"Kembali lagi, kembali lagi temui Kiai Kholil!" ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu. Maka sang suami yang malang itu pun kembali lagi ke Kiai Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ketiga kalinya, Kiai Kholil berucap, "Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan".
"Terimakasih Kiai" kata sang suami melihat secercah harapan.
"Tapi ada syaratnya" ucap Kiai Kholil.
"Saya akan penuhi semua syaratnya." Jawab orang itu dengan bersungguh-sungguh.
Lalu Kiai berpesan : "Setelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampeyan ceritakan pada orang lain, kecuali saya sudah meninggal, apakah sampeyan sanggup?" pesan dan tanya Kiai seraya menatap tajam.
"Sanggup Kiai, "jawabnya spontan.
"Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu. Pejamkan matamu rapat-rapat" kata Kiai Kholil.
Lalu, sang suami melaksanakan perintah Kiai dengan patuh, setelah beberapa menit berlalu dibukanya matanya dengan pelan-pelan. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang dihadapannya, ia sedang berada di atas kapal laut yang sedang berjalan. Takjub, heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Digosok-gosokkan matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di atas kapal. Segara ia ditemui isterinya di salah satu ruang kapal.
"Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali" dengan senyuman penuh arti seakan tidak terjadi apa-apa. Dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal. Padahal, sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami, sekali dalam hidupnya. Terbayang wajah Kiai Kholil. Dia baru menyadari bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa

Santri Mimpi Dengan Wanita
Pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah. Dalam benaknya tentu pagi itu ia tidak bisa sholat subuh berjamaah. Ketidakikutsertaan Bahar sholat subuh berjamaah bukan karena malas. Tetapi disebabkan halangan junub, semalaman Bahar bermimpi tidur dengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil , istri gurunya.
Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar sambil membawa sebilah pedang seraya berucap: "santri kurang ajar..., santri kurang ajar..."
Para santri yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu. Subuh itu Bahar memang tidak ikut shalat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid.

Seusai sholat subuh berjamaah Kiai Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya: Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?" ucap Kiai Kholil nada menyelidik.
Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh ke kanan kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir, ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah Bahar, kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam kepada Bahar seraya berkata:
"Bahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka kamu harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini," perintah Kiai Kholil (Petok adalah sejenis pisau kecil dipakai untuk menyabit rumput) . Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali. Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik.
"Alhamdulillah, sudah selesai Kiai," ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati.
"Kalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis," perintah Kiai kepada Bahar.
Sekali lagi santri Bahar dengan patuh dan gembira menerima hukuman dari Kiai Kholil. Setelah Bahar menerima hukuman yang kedua, santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap:
"Hei santri, semua ilmuku sudah dicuri orang ini," ucap Kiai Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar dan Kiai Kholil pun memintanya untuk pulang kampung halamannya.
Memang benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu, menjadi Kiai yang alim, yang memimpin sebuah pondok besar di Jawa Timur. Kiai yang beruntung itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Kiai Kholil Masuk Penjara
Beberapa pelarian pejuang kemerdekaan dari Jawa bersembunyi di pesantren Kiai Kholil. Kompeni Belanda, rupanya mencium kabar itu. Tentara Belanda berupaya keras untuk menangkap pejuang kemerdekaan yang bersembunyi itu. Rencana penangkapan diupayakan secepat mungkin. Setelah yakin bersembunyi di pesantren, tentara Belanda memasuki pesantren Kiai Kholil. Seluruh pojok pesantren digrebek. Ternyata tidak menemukan apa-apa. Hal itu membuat kompeni marah besar, karena kejengkelannya akhirnya mereka membawa pimpinan pesantren, yaitu Kiai Kholil untuk ditahan. Dengan siasat ini, mereka berharap dengan ditahannya Kiai Kholil, para pejuang segera menyerahkan diri.

Ketika Kiai Kholil dimasukkan ke dalam tahanan, maka beberapa peristiwa ganjil mulai muncul. Hal ini membuat susah penjajah Belanda. Mula-mula ketika Kiai Kholil masuk ke dalam tahanan, semua pintu tahanan tidak bisa ditutup. Dengan demikian, pintu tahanan dalam keadaan terbuka terus-menerus. Kompeni Belanda harus berjaga siang dan malam secara terus-menerus. Sebab, jika tidak maka tahanan bisa melarikan diri. Pada hari berikutnya, sejak Kiai Kholil ditahan, ribuan orang dari Madura dan Jawa berdatangan untuk menjenguk dan mengirim makanan ke Kiai Kholil. Kejadian ini membuat kompeni merasa kewalahan mengatur orang sebanyak itu. Silih berganti setiap hari terus-menerus. Akhirnya, kompeni membuat larangan berkunjung ke Kiai Kholil. Pelarangan itu ternyata tidak menyelesaikan masalah. Masyarakat justru datang setiap harinya semakin banyak.

Para pengunjung yang bermaksud berkunjung ke Kiai Kholil bergerombol di sekitar rumah tahanan. Bahkan banyak yang minta ditahan bersama Kiai Kholil. Sikap nekad para pengunjung Kiai Kholil ini jelas membuat Belanda makin kewalahan. Kompeni merasa khawatir, kalau dibiarkan berlarut-larut suasana akan semakin parah. Akhirnya, daripada pusing memikirkan hal yang sulit dimengerti oleh akal itu, kompeni Belanda melepaskan Kiai Kholil begitu saja.

Setelah kompeni mengeluarkan Kiai Kholil dari penjara, baru semua kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Demikian juga dengan pintu penjara sudah bisa ditutup kembali serta para pengunjung yang berjubel disekitar penjara kembali pulang kerumahnya masing-masing.

Residen Belanda
Suatu hari residen Belanda yang ditempatkan di Bangkalan mendapat suatu surat yang cukup mengejutkan dari pemerintah kolonial Belanda di Jakarta. Surat tersebut berisi tentang pemberhentian dirinya sebagai residen di Bangkalan. Padahal, jabatan itu masih diinginkan dalam beberapa saat. Residen ini sangat berbeda dengan residen Belanda lainnya. Hati nurani residen ini tidak pernah menyetujui adanya penjajahan oleh negaranya. Untuk mempertahankan posisinya, residen Belanda yang bersimpati kepada Indonesia ini mau berkorban apa saja asalkan tetap memangku jabatan di Bangkalan. Kebetulan sang residen mendengar kabar bahwa di Bangkalan ada orang yang pandai dan sakti mandraguna. Tanpa pikir panjang lagi, sang residen segera pergi menemui orang yang diharapkan kiranya dapat membantu mewujudkan keinginannya itu.

Maka, berangkatlah sang residen itu ke Kiai Kholil dengan ditemani beberapa koleganya. Sesampainya di kediaman Kiai Kholil, sang residen Belanda langsung menyampaikan hajatnya itu. Kiai Kholil tahu siapa yang dihadapinya itu, lalu dijawab dengan santai seraya berucap:
"Tuan selamat....selamat, selamat," ucapnya dengan senyum yang khas, Residen Belanda merasa puas dengan jawaban Kiai Kholil dan setelah itu berpamitan pulang.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, sang residen menerima surat dari pemerintah Belanda yang isinya pencabutan kembali surat keputusan pemberhentian atas dirinya. Betapa senangnya menerima surat itu. Dengan demikian, dirinya masih tetap memangku jabatan di daerah Bangkalan.

Sejak peristiwa itu, Kiai Kholil diberi kebebasan melewati seluruh daerah Bangkalan. Bahkan Kiai Kholil bisa menaiki dokar seenaknya melewati daerah terlarang di karesidenan Bangkalan tanpa ada yang merintanginya. Baik residen maupun aparat Belanda semua menaruh hormat kepada Kiai Kholil. Seorang Kiai. Yang dianggap memiliki kesaktian yang luas biasa.

Santri Pencuri Pepaya
Pada suatu hari, seorang santri berjalan-jalan di sekitar pondok pesantren kedemangan. Kebetulan di dalam pesantren terdapat pohon pepaya yang buahnya sudah matang-matang kepunyaan kiai. Entah karena lapar atau pepaya sedemikian merangsang seleranya, santri itu nekad bermaksud mencuri pepaya tersebut. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, merasa dirinya aman maka dipanjatlah pohoh pepaya yang paling banyak buahnya. Kemudian dipetiknya satu persatu buah pepaya yang matang-matang itu. Setelah cukup banyak santri itu kemudian turun secara perlahan-lahan.

Baru saja kakinya menginjak tanah, ternyata sudah diketahui oleh beberapa santri, tak ayal lagi santri yang mencuri pepaya itu dilaporkan kepada Kiai Kholil. Kiai marah besar kepada santri itu. Setelah itu disuruhnya dia memakan pepaya itu sampai habis, dan akhirnya diusir dari pondok pesantren. Tak lama setelah kejadian itu , santri yang diusir karena mencuri pepaya itu ternyata menjadi Kiai besar yang alim. Kealiman dan ketenaran kiai tersebut sampai kepada pesantren kedemangan. Mendengar berita menarik itu, beberapa santri ingin mengikuti jejaknya. Pada suatu hari, beberapa santri mencoba mencuri pepaya di pesantren. Dengan harapan agar dimarahi kiai. Begitu turun dari pohon pepaya. Kontan saja petugas santri memergokinya. Maka peristiwa itu dilaporkan kepada Kiai Kholil. Setelah melihat beberapa saat kepada santri yang mencuri pepaya itu, seraya Kiai mengucap :
"Ya sudah, biarlah" kata Kiai Kholil dengan nada datar tanpa ada marah tanpa ada pengusiran.
"Wah, celaka saya tidak bisa menjadi kiai," desah santri pencuri pepaya sambil menangis menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya.

Orang Arab Dan Macan Tutul
Suatu hari menjelang sholat maghrib, seperti biasanya, Kiai Kholil mengimami jamaah sholat berjamaah bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba beliau kedatangan tamu orang berbangsa Arab, orang Madura menyebutnya Habib.
Seusai melaksanakan sholat Kiai Kholil menemui tamu-tamunya termasuk orang arab yang baru datang yang mengetahui kefasihan bahasa Arab. Habib tadi menghampiri Kiai Kholil sambil berucap :
" Kiai . . . ,bacaan Al Fatihah (antum) kurang fasih", tegur sang habib.
"O . . . begitu", jawab Kiai Kholil tenang.
Setelah berbasa-basi, beberapa saat, habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksakan sholat maghrib. "Tempat wudlu ada disebelah masjid itu. Habib, Silahkan ambil wudlu disana", ucap Kiai sambil menunjukan arah tempat wudlu. Baru saja selesai berwudlu, tiba-tiba habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan Bahasa Arabnya yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun habib mengucapkan bahasa arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul , namun macan itu tidak pergi juga.

Mendengar ribut-ribut disekitar tempat wudlu, Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh.
Dengan kejadian ini, habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.

Tongkat Kiai Kholil dan Sumber Mata Air
Pada suatu hari. Kiai Kholil berjalan kearah selatan Bangkalan. Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lubang bekas tancapan Kiai Kholil, memancar sumber air yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar, sumber air tersebut akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum dan mandi. Lebih dari itu, sumber mata airnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kolam yang bersejarah itu, sampai sekarang masih ada.

Howang-Howing Jadi Kaya
Suatu hari, seorang Tionghoa bernama Koh Bun Fat sowan ke Kiai Kholil. Dia bermaksud untuk meminta pertolongan kepada Kiai Kholil agar bisa terkabul hajatnya.
"Kiai, saya minta didoakan agar cepat kaya. Saya sudah bosan hidup miskin", kata Koh Bun Fat dengan penuh harap.
Melihat permintaan Koh Bun Fat itu, kiai lantas memberi isyarat menyuruh mendekat. Setelah Koh Bun Fat dihadapan Kiai Kholil, tiba-tiba Kiai Kholil menarik tangan Koh Bun Fat dan memegangnya erat-erat seraya berucap :
"Saafu lisanatan. Howang-howang, hoing-hoing, Pak Wang, Howang Noang tur cetur, salang kacetur, sugih..... sugih..... sugih.....", suara Kiai Kholil dalam bahasa yang tidak dimengerti.
Setelah mendapat doa dari Kiai Kholil itu, Koh Bun Fat benar-benar berubah kehidupannya, dari orang miskin menjadi kaya.


Obat Aneh
Di daerah Bangkalan banyak terdapat binatang- binatang menyengat yang suka berkeliaran, termasuk kalajengking yang sangat ganas. Binatang ini akan bertambah banyak bilamana musim hujan tiba, apalagi di malam hari. Pada suatu malam, salah seorang warga Bangkalan disengat kalajengking. Bisa kalajengking membuat bengkak bagian- bagian tubuhnya. Beberapa pengobatan telah dilakukan namun hasilnya sia-sia. Ia hampir putus asa, sampai pada akhirnya, ada seseorang yang menyarankan agar pergi menemui Kiai Kholil.
Akhirnya diputuskan untuk menemui Kiai Kholil. "Kiai Kholil, saya disengat kala jengking. Tolong obati saya", ujarnya sambil memelas.
"Kesini!" kata Kiai Kholil.
Lalu dilihatnya bekas sengatan yang telah membengkak itu kemudian dipegangnya seraya berucap dengan dalam bahasa Madura : "Palak-Pokeh,.... palak-pokeh,....beres, beres", ucap Kiai Kholil sambil menepuk-nepuk bekas sengatan kalajengking. Maka seketika itu, orang itu sembuh, dan melihat hasil pengobatan dengan kesan lucu itu, orang yang menyaksikan di sekitarnya tidak dapat menahan tawanya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil meninggalkan ruangan itu (sumber informasi : KH. Amin Imron, cucu Kiai Kholil Bangkalan).

Rumah Miring
Pada suatu hari, Kiai Kholil mendapat undangan di pelosok Bangkalan . Hari jadi yang ditentukan pun tiba. Para undangan yang berasal dari berbagai daerah berdatangan. Semua tamu ditempatkan di ruang tamu yang cukup besar.
Walaupun para tamu sudah datang semua, acara nampaknya belum ada tanda-tanda dimulai. Menit demi menit berlalu beberapa orang tampaknya gelisah. Kenapa acara kok belum dimulai. Padahal, menurut jadwal mestinya sudah dimulai. Tuan rumah tampak mondar-mandir, gelisah. Sesekali melihat ke jalan sesekali menunduk. Tampaknya menunggu kehadiran seseorang.
Menunggu acara belum dimulai si fulan tidak sabar lagi. Fulan yang dikenal sebagai jagoan di daerah itu, berdiri lalu berkata :
"Siapa sih yang ditunggu-tunggu kok belum dimulai? Kata si jagoan sambil membentak.
Bersamaan dengan itu datang sebuah dokar, siapa lagi kalau bukan Kiai Kholil yang ditunggu-tunggu.
"Assalamu'alaikum", ucap Kiai Kholil sambil menginjakkan kakinya ke lantai tangga paling bawah rumah besar itu.
Bersamaan dengan injakan kaki Kiai Kholil, gemparlah semua undangan yang hadir. Serta-merta rumah menjadi miring. Para undangan tercekam tidak berani menatap Kiai Kholil. Si fulan yang terkenal jagoan itu ketakutan, nyalinya menjadi kecil melihat kejadian yang selama hidup baru dialami saat itu.
Setelah beberapa saat kejadian itu berlangsung kiai mengangkat kakinya. Seketika itu, rumah yang miring menjadi tegak seperti sedia kala. Maka berhamburanlah para undangan yang menyambut dan menyalami Kiai Kholil.
Akhirnya fulan yang jagoan itu menjadi sadar, bahwa dirinya kalah. Dirinya terlalu sombong sampai begitu meremehkan seorang ulama seperti Kiai Kholil. Fulan lalu menyongsong Kiai Kholil dan meminta maaf. Kiai Kholil memaafkan, bahkan mendoakan. Do'a Kiai Kholil terkabul, Fulan yang dulu seorang jagoan yang ditakuti di daerah itu, akhirnya menjadi seorang yang alim. Bahkan, kini si fulan menjadi panutan masyarakat daerah itu. Sumber : http://ceritaulama.blogspot.com




Kyai Kholil bangkalan (madura)

KH Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiyai Hamim bin Kiyai Abdul Karim bin Kiyai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiyai Abdullah bin Sayid Sulaiman.
Sayid Sulaiman
adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Ayahnya adalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra.

KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrahatau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langasung oleh ayah Beliau menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya.

Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Belia mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran
Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, KHMuhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani(Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani i. Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa). Kh.Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH.Hasym Asy’ari,Kh.Wahab Hasbullah dan KH.Muhammad Dahlan namum Ulama-ulama Dahulu punya kebiasaan Memanggil Guru sesama Rekannya, Dan Kh.Muhammad KHolil yang Dituakan dan dimuliakan diantara mereka.

Sewaktu berada di Mekah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Kh.Muhammad Khalil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.
karena Kiyai Muhammad Khalil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu lainnya.

Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiyai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. Kh. Muhammad Khalil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggungjawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sedar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.

Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus peratus memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya Kiyai Muhammad Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda kerana dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaana lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri .

Kh.Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, menge-rahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.
Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.
Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.

Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.
Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,” cerita kh Ghozi.

Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju.
Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.

”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” papar kh Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.
di antara sekian banyak murid Kh Muhammad Khalil al-Maduri yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah Kh Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama / NU) Kiyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); Kiyai Haji Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar); Kiyai Haji Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda Kiyai Haji Ali Ma’shum), Kiyai Haji Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).

Kh. Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang lanjut 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masihi.